Semua Bab RANJANG PANAS KAKAK IPAR: Bab 111 - Bab 120

132 Bab

Bab 111. Makan Malam

Gama menatap tajam ke arah Bara, pamannya yang nampak santai saja. Paman macam apa yang berlaku seperti saingan. Gama jelas harus berhati-hati akan itu. Pria membentengi dirinya sendiri untuk melindungi diri dan juga Zoya. "Mas..." "Menurutlah apa kataku Sayang! Dia tidak memiliki etika dalam menyambut tamu. Kamu harus bisa membedakan itu!" sahut Gama yang tak ingin ucapannya dibantah. Zoya pun mengangguk berusaha untuk mengerti. "Nek, aku ke sini karena undangan dari Nenek," ucap Gama pada Nenek yang terkesan menegaskan setelah kedatangan mereka seperti tidak diharapkan oleh salah satu keluarga Atmanegara. Nenek nampak prihatin dengan situasi sekarang ini. Mungkin inginnya semua keluarga baik-baik saja. Hanya saja pertemuan Bara dan Gama sebelumnya yang sudah ada perdebatan membuat mereka jadi kurang akur. "Makasih, Nak. Nenek sangat senang sekali kalian mau menyempatkan diri datang ke rumah ini. Jangan sungkan! Ini rumah kamu juga dan kelak akan menjadi rumah milik ka
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-13
Baca selengkapnya

Bab 112. AIB

"Mas sudah! Jangan membahas masalah pribadi Gama. Semua memiliki masa lalu yang tidak perlu diungkit-ungkit. Kita tidak tau alasan dari mereka itu apa dan apa yang terjadi sebenarnya. Jadi jangan membuat Ibu berpikir buruk pada mereka." "Loh aku mengatakan yang sesungguhnya. Memang benar, kalau kamu tidak percaya, maka tanyakan pada mereka. Mereka tidak akan menyangkal jika mereka adalah mantan ipar." "Mas ya ampun, sudah! Tidak enak pada mereka. Kamu ini kenapa?" Santi terlihat gemas sekali pada Bara. Ya bagaimana tidak jika sikap Bara seperti sedang membuka aib seseorang secara terang-terangan seperti itu sedangkan orang itu sangat sulit untuk mau datang dan ini perdana. Zoya melirik Bara yang terlihat cuek saja. Ya Tuhan kenapa Zoya pun ikut gemas jadinya. Bisa-bisanya orang itu membuka semuanya di saat makan malam. perdana untuk Gama. "Kamu itu kalau dikasih tau malah nyalahin aku. Aku cuma mengatakan faktanya agar Ibu dan kamu tau." "Lantas salahnya mereka dimana
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-13
Baca selengkapnya

Bab 113. Aku Suka, Baby

"Paham Sayang, tapi dia seolah meremehkan kita dengan apa yang telah terjadi. Dia membuat nenek berpikir jika aku dan kamu mencurangi Zein." "Dan kamu mempermasalahkan itu, Mas? Yang aku tau kamu cuek. Mengapa sekarang kamu begitu kepikiran? Apa kamu takut nenek jadi membencimu?" cecar Zoya. Tatapan Zoya begitu lekat pada Gama dan tak ingin sedikit pun kehilangan ekspresi dari Gama yang sedang sangat tak terima akan apa yang Bara lakukan padanya. "Bukan karena nenek juga, hanya aku tidak suka jika karena itu dia juga menjelekkan kamu. Jika hanya aku saja aku tidak masalah tapi karena dia juga menjelekkan kamu maka aku tidak terima. Punya kekuatan apa dia melawanku? Jika bukan karena nenek sudah aku patahkan lehernya." Hari ini bukan hanya lelah fisik tapi juga lelah hati. Dilanjut dengan keesokan harinya yang cukup sibuk hingga rasanya penat sekali. Namun pulang kantor mereka memutuskan untuk tetap fitting pakaian pengantin. Khususnya Zoya karena Gama tinggal menurut saja
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-14
Baca selengkapnya

Bab 114. Horny

Jangan salahkan Gama jika sudah seperti ini, salah Zoya yang terlalu seksi. Zoya pun segera berbalik dan melangkah mendekati pelayan tadi yang sedang merapikan gaun sebelumnya. "Mbak aku mau yang ini saja." "Baik, Bu Zoya. Akan saya bantu membukanya kembali dan mengemasnya. Tadi sudah sangat pas ya, Bu. Sudah tidak ada lagi yang harus dirombak. Sudah cantik dan juga anggun. Jika ada kendala di hari H maka akan kami bantu." "Oke, Mbak. Oh ya nanti untuk jasnya yang kira-kira serasi dengan gaun itu ada kan ya Mbak," kata Zoya. Dia sedikit mengabaikan Gama yang sudah memintanya untuk segera menyelesaikan semuanya karena menurut Zoya, selagi sudah ada di tempat ini, maka jas Gama pun sekalian saja. Perkara horny tak mungkin menggagalkan semuanya. "Baik akan saya ambilkan dulu Bu Zoya. Silahkan anda bisa menunggu di sana!" "Iya." Zoya pun melangkah mendekati Gama yang ternyata memperhatikannya sejak tadi. Dari tatapan pria itu begitu sangat menginginkan sekali. Zoya
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-15
Baca selengkapnya

Bab 115. Tidak Tahan, Mas.

Kalau sudah begini bagaimana bisa kabur. Sedikit saja dia lepas dari tangan Gama itu adalah bonus. Mana masih ada tamu walaupun sudah tidak deras, tapi tetap saja tidak boleh sampai dilibas di saat seperti ini. "Mas aku masih halangan loh," ucap Zoya mengingatkan. "Banyak cara menuju pelepasan Sayang," bisik Gama di telinga Zoya yang kemudian memberikan kecupan-kecupan kecil di sana yang membuat Zoya merasa tubuhnya seperti tersengat listrik. "Tapi kamu menyiksaku, Mas!" kata Zoya kemudian mengigit bibir bawahnya. Zoya menahan sesuatu yang membuat gairahnya pun terpancing. Ini yang Zoya tidak suka. Di saat sedang ada tamu tapi diminta untuk memenuhi inginnya Gama yang akan memancing nafsu dirinya juga. Belum lagi dia yang tidak bisa melakukan pelepasan seperti yang Gama rasakan. Semakin tersiksa saja tubuhnya dibuat oleh Gama hingga rasanya ingin menjerit angkat tangan. "Setelah selesai akan aku buat kamu merasakan itu, Sayang. Turuti dulu ingin ku sekarang!" pinta Ga
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-16
Baca selengkapnya

Bab 116. Suami Mesum

Zoya jelas sudah pro dengan yang beginian. Sudah tak perlu lagi diajari dan diarahkan. Sudah sangat pandai membuat orang mendesah nikmat. "Aghhh Sayang kamu pintar sekali." Entah sudah berapa kali Gama mengerang tak tertahan. Zoya mampu membuat Gama pun menggila karena hisapan dan gerakan wanita itu yang Sejak tadi membuat Gama tak henti meracau. Sampai dimana pria itu pun tak tahan dan menumpahkan cairan kental di mulut Zoya. Tentu saja hal itu membuat Zoya menatap sengit ke arah Gama. Kebiasaan mengotori wajah orang! Namun melihat wajahnya kotor dengan cairan putih kental ini, justru membuat Gama senang. Lihat saja pria itu nampak cengengesan dan terlihat sangat lega sekali. Wajah Gama seketika cerah seperti selesai melepaskan beban berat dalam hidup. Memang pelepasan berpengaruh sekali untuk pria itu. Jangankan dua hari, setiap hari pun Gama mau. Zoya benar-benar harus memenuhi inginnya si bayi besar yang memang kalau sudah minta harus segera dituruti. "Mas kamu tu
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-16
Baca selengkapnya

Bab 117. Kemustahilan

Malam yang syahdu di saat sepasang suami istri dilanda kasmaran. Zoya menerima suapan demi suapan yang diberikan oleh Gama. Malam ini Gama seolah ingin memanjakannya. Senangnya saat diri diratukan oleh suami tercinta. Tak banyak inginnya Zoya tapi menjadi yang utama adalah impiannya. "Kamu juga makan, Mas!" kata Zoya saat melihat Gama yang begitu fokus padanya. Piring pria itu pun masih kosong sedangkan Zoya tadi dilarang melayaninya. "Lihat kamu aja aku kenyang, Sayang." Gama memang paling bisa membuat Zoya tersenyum. "Gombalan maut yang bikin aku gemas dengarnya. Mas kapan kira-kira kita ke rumah nenek lagi? Kalau kita main ke sana, aku mau buatkan nenek makanan. Pasti nenek suka. Aku lihat nenek itu baik dan tidak muluk-muluk. Aku lihat juga meskipun kaya tapi tidak banyak inginnya." "Mungkin karena sudah sepuh," ujar Gama. "Ya karena sudah sepuh, terkadang akan kembali ke mode anak kecil yang rewel, tapi ini nggak. Aku suka dengan nenek. Beliau baik sekali." "M
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-17
Baca selengkapnya

Bab 118. Menarik

Gama dan Zoya tiba di rumah besar itu disambut dengan keluarga Atmanegara, khususnya Sena yang sudah berdandan cantik. Kedua alis Zoya terangkat menatap Sena yang terlihat menarik. "Ada apa dengannya? Apa sengaja?" gumam Zoya hingga membuat Gama menoleh ke arahnya. "Ada apa, Sayang?" tanya Gama lirih. "Nggak, Mas. Ini orang kenapa terlihat cantik sekali. Apa itu untuk menyambut kedatangan kamu?" Zoya mendongak menatap Gama yang kemudian melirik Sena. Tajam Gama menatap wanita itu yang terlihat semakin meresahkan sekali. Sena melangkah dengan begitu menggoda. Padahal di depan wanita itu ada ibunya yang menyambut kedatangan mereka. "Silahkan masuk, Nak! Gama, Zoya, ayo masuk, Nak!" ajak Santi yang kemudian Zoya dan Gama mengangguk mengiyakan. Keduanya pun segera masuk dengan Gama yang meraih tangan Zoya. Mereka saling berpegangan tangan sampai berhenti di ruang tengah. "Nenek mana, Bi?" tanya Gama dengan kedua mata menyapu pandang pada seluruh ruangan. Tak terlihat Nenek
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-17
Baca selengkapnya

Bab 119. Keras Kepala

Zoya pun hanya bisa menggelengkan kepala tanpa mengatakan apa-apa. Dia tau Bi Santi juga sudah sangat bingung dengan Sena. Jadi tak perlu lagi dia mempertanyakan ada apa pada wanita itu hingga begitu membedakan anatara dia dan Gama. Ini sudah sangat jelas membuktikan jika Sena sedang mencari perhatian suaminya. Sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan mengingat Gama juga tidak menghiraukan tapi kok ya kesal lihatnya. Ada saja yang Sena lakukan untuk menarik perhatian dari Gama. "Di minum, Mas!" ujar Sena tanpa menggubris pertanyaan Bi Santi dan juga tatapan dari Zoya. Sena malah bersikap semakin manis pada Gama membuat Zoya menatap jengah ke arah wanita itu. "Ada saja yang menggoda. Nggak di mana nggak di mana suamiku selalu menjadi incaran kaum hawa," batin Zoya. "Kamu mau Sayang? Minum saja kopiku kalau mau. Aku tadi kebetulan sudah minum? Apa kamu lupa ? Kamu yang membuatkannya untukku," ucap Gama dengan senyuman yang berbeda dan tatapan penuh arti. Zoya pun memperha
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-19
Baca selengkapnya

Bab 120. Tanda Tangan

Zoya mengulum senyum melihat ekspresi dari Sena yang kesal padanya. Salah siapa jadi orang susah diatur. Emosi pun gampang sekali terpancing. Zoya kemudian meraih tangan Gama. Dia mendongak menatap Gama yang meliriknya. "Nakal!" ucap Gama dengan tatapan gemas ke arah Zoya. "Dia sangat menggemaskan, Mas." Zoya terkekeh lirih setelah itu dan Gama pun menggelengkan kepala mendengar penuturannya. Keduanya pun mengikuti langkah Bi Santi yanga kini sudah membuka salah satu pintu kamar yang mana itu adalah kamar Nenek. Mereka pun ikut masuk setelah Bi Santi mempersilahkannya dan ternyata benar, Nenek sudah bangun. Entah sejak kapan beliau menunggu. "Nek... " "Gama, Zoya, sini Nak! Akhirnya datang. Maaf jika Nenek merepotkan kalian. Kalian pasti sedang sangat sibuk sekali dan menyempatkan untuk datang kesini. Maaf ya Nak! Nenek belum tenang jika belum bertemu dan berbicara sesuatu pada kalian." Belum-belum nenek sudah mengatakan tujuan beliau sampai meminta maaf pada Gama
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-20
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
91011121314
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status