บททั้งหมดของ Elang Taraka: Lahirnya Pendekar Terhebat: บทที่ 51 - บทที่ 60

64

Bab 51: Berita Baik vs Berita Buruk

Kedatangan Tumenggung Mahawira dan pasukannya makin menambah bahan bakar kobaran api semangat semua orang. Mereka siap mempersembahkan kesetiaan kepada Gusti Prabu Maheswara Kamandaka. Apapun taruhannya. Apalagi setelah terkuaknya jati diri Pimpinan mereka Kanjeng Senopati Ing Palaga mewarisi darah Naga Biru di dalam tubuhnya dari jalur sang Ibu. Tidak semua orang mengenal nama Sukmo Sentolo memang. Orang lebih mengenal nama Pendekar Naga Biru yang legendaris daripada nama aslinya, Sukmo Sentolo. Ditambah Elang juga mewarisi darah biru kebangsawanan Putra Gusti Prabu Kameswara. Kedudukannya kokoh di mata siapapun sebagai Gusti Pangeran Arya Elang Taraka yang sakti mandraguna.Betapa bungah hati Gusti Prabu mendapati kenyataan dua orang pilih tanding ini berada di sisinya. Jangkap sudah pimpinan militer yang memimpin pasukan untuk menyerang Bratasena.Sialnya, dalam menghadapi peperangan, tidak cukup dengan keterampilan fisik dan olah kanuragan ataupun semangat semata. Ada hal pentin
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-01-28
อ่านเพิ่มเติม

Bab 52: Dewa Cinta

Elang duduk di atas batu besar yang ada di pinggir sungai. Selepas mengantar pergi para Ksatria Jumantara sampai di batas desa, dia memilih duduk sendirian di tempat ini. Elang mencoba menenangkan diri. Hatinya porak-poranda. Dadanya sesak. Darah di tubuhnya mendidih. Sungguh, dia butuh sendiri. Menikmati gemericik air mengalir dari tanah yang permukaannya lebih tinggi jatuh membentur bebatuan di bawahnya. Desau angin yang menampar batang-batang bambu membuatnya saling berkeretak, meliuk-liuk ke kanan dan ke kiri. Kicauan burung-burung dan jangkrik yang mengerik. Semua suara seakan bersatu padu dengan irama khasnya masing-masing, hingga tercipta nyanyian semesta yang sedikit banyak membuat dadanya yang tadi terasa sesak jadi sedikit lebih lega. Elang memejamkan mata meresapi. Andai waktu bisa berputar ulang, dia pasti akan membuat keputusan yang berbeda. Dengan gagah berani, dia akan menyetujui keinginan Kenes Kirana untuk melamar gadis itu.“Aah, andai saja….” Tanpa sadar, dia mengg
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-01-29
อ่านเพิ่มเติม

Bab 53: Rindu Dendam

“Aku tidak setuju, Romo Prabu!” Kenes duduk di pembaringan dengan wajah mengeras penuh penolakan. Selepas Gusti Prabu menyampaikan terkait kedatangan Ksatria Jumantara, seakan ada segumpal kebahagiaan yang dirampas dari hidupnya. Ada sebuah nama yang kini telah bertahta di hatinya. Terlalu berat bagi Kenes untuk menjalani pertukaran antara ayahnya dengan Raja Jumantara. Apalah arti mendapatkan kembali tahta, jika setelah itu kebebasannya justru terenggut. Dia akan menjadi seorang putri tawanan yang dikirim ke Jumantara sebagai balas budi.“Cah Ayu, Pangeran Hadyan mencintaimu. Engkau hanya butuh sedikit waktu untuk membalas semua cintanya padamu,” tutur Gusti Ratu seraya mengelus punggung Kenes.“Cinta? Apa ibunda yakin?” Kenes tertawa getir. Sebagai seorang putri, tapi justru ujian hidupnya silih berganti. “Bukankah perhatian ini membuktikan kalau cinta Pangeran Hadyan tulus padamu? Melihat Romo sudah kehilangan tahta, mereka bersedia mengirim bantuan sebagai bukti ketulusan.” Gust
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-01-31
อ่านเพิ่มเติม

Bab 54: Persiapan

Apa yang dijanjikan Raja Jumantara telah sampai. Lima ratus kuda perang pilihan untuk prajurit kavaleri telah datang bersama perbekalan makanan, obat-obatan serta persenjataan. Bukan hanya itu saja, bahkan Pangeran Hadyan Ganendra secara pribadi membawa pasukan khusus untuk membantu calon ayah mertuanya merebut kembali tahta. Dengan dada membusung bangga, sang Pangeran menemui Gusti Prabu yang saat itu sedang ditemani Patih Arya Wursita.“Selamat datang, Pangeran Hadyan,” sambut Gusti Prabu bungah. Hubungan baik Jumantara dengan Damar Langit telah dijalin sejak dulu. Mereka berniat menguatkan ikatan persahabatan itu dengan pernikahan putra-putri mereka.“Gusti Prabu, saya bahagia sekali bisa menjadi bagian di dalam perang ini.” “Andika memang seorang Ksatria sejati, Pangeran. Seorang Ksatria pantang untuk menyerah. Lebih baik mati berkalang tanah membela harga diri, daripada hidup dalam penghinaan,” balas Gusti Prabu.“Kehancuran Bratasena hanya menunggu waktu. Tidak ada tempat di bu
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-02-01
อ่านเพิ่มเติม

Bab 55

Hanya tersisa pasukan elit yang sebagian besar didominasi penunggang kuda yang masih tinggal di Sekar Sari hari ini. Pasukan yang akan dipimpin oleh Elang ini melewati jalur utama menuju Kotaraja. Jalur paling dekat, tapi cukup berbahaya. Para penjahat durjana yang terdiri dari begal juga pendekar lembah hitam yang bengis dan kejam direkrut khusus oleh Bratasena untuk menghadapi pasukan yang akan ngeluruk Kotaraja.Dua pasukan lainnya telah berangkat beberapa hari sebelumnya sesuai dengan rencana. Hanya saja tetap saja ada yang berjalan tidak sesuai rencana. Di antaranya keberadaan Kenes Kirana. Harusnya, gadis itu berangkat bersama pasukan Tumenggung Mahawira. Namun, inilah yang terjadi kemudian. Kenes menolak mentah-mentah rencana itu. Dengan menggunakan alasan bahwa dia tidak bisa jauh-jauh dari tabib yang merawat dirinya. Maharesi Acarya Adiwilaga bergabung dengan pasukan Elang, maka Kenes juga harus berada di dalam pasukan yang sama. Tidak ada yang bisa membantah. Demikian juga G
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-02-04
อ่านเพิ่มเติม

Bab 56

Para begal dan pendekar dari lembah hitam telah siaga melakukan penyerangan begitu Elang dan pasukannya melewati hutan. Kejutan yang disiapkan Bratasena ini tidak main-main. Para begal dipersenjatai militer lengkap siap tempur. Dengan kekejaman alami yang telah mendarah daging dalam naluri penjahat, mereka tidak bisa dihadapi prajurit sembarangan. Ditambah lagi dengan kekuatan dari para pendekar lembah hitam, menjadikan kesombongan mereka terbang ke awang-awang.“Akhirnya tamu istimewa kita telah tiba, Teman-teman. Mari kita sambut dengan hidangan pembuka. Ha-ha-ha….” Gemuruh sorak-sorai seketika meramaikan hutan yang mencekam. Dari balik pepohonan hutan, sosok hitam bermunculan. Berjumlah tidak kurang dari lima ratus orang yang menghadang pasukan yang dipimpin Elang.“Mana Maheswara Kamandaka?! Kalau kamu sujud di bawah kakiku sekarang juga, aku pasti akan mengurungkan niat untuk membantai prajuritmu!” Seorang pria dengan mata sebelah kanannya ditutupi potongan kulit binatang berwarn
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-02-05
อ่านเพิ่มเติม

Bab 57

Hiruk pikuk pertempuran seketika menghilang. Hutan yang diliputi peperangan berubah hening seakan tak berpenghuni. Desau angin bahkan tak berani menunjukkan dirinya dikuasai ketakutan. Bukan hanya hewan-hewan penghuni Wono Daksino saja yang terpengaruh dengan suara seruling. Manusia yang mendengar alunan magis itu juga menjadi linglung. Seakan terenggut kesadarannya, mereka terjerembab di dalam mimpi buruk. Peniup seruling berperan sebagai penguasa mimpi bisa sesuka hati mempermainkan siapapun yang terjebak di dalamnya. Waktu seakan berhenti berputar. Tak ada yang bergerak, hanyut dalam halusinasi. Hanya tiga orang yang bisa keluar dari kebekuan sang Waktu.“Kita berjumpa lagi, Teman.” Jiwa semua orang telah dibelenggu di alam mimpi, ketika pria tua itu berhenti meniup seruling. Dengan wajah tanpa dosa, dia menyapa Maharesi Acarya Adiwilaga. Senyuman menghias di bibir keriputnya.“Setelah tujuh belas tahun berpisah, akhirnya kita bereuni kembali, Acarya. Harusnya, pertemuan kita akan
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-02-06
อ่านเพิ่มเติม

Bab 58

Angin berderu serupa tornado bergulung menerbangkan dedaunan kering. Pusaran itu terus bergerak seakan membentuk ruang untuk arena pertarungan tiga sosok yang ada di dalam sana. Tubuh-tubuh linglung yang sebelumnya terjebak dalam dunia mimpi perlahan mulai terbangun, dipaksa menyaksikan pertarungan yang akan terjadi.Maharesi Acarya berdiri dengan tenang di pinggir. Sementara Elang dan Toh Geni berhadapan layaknya pertemuan dua musuh bebuyutan.“Katakan padaku, apa alasanmu membunuh orang tuaku, Toh Geni?” Suara Elang terdengar tenang, kendati mengandung kemarahan yang begitu dalam. Toh Geni hanya menyeringai. Tak berniat memberi jawaban.“Kau berniat membunuhku, maka lakukan saja jika engkau mempunyai kemampuan!”Elang menyipitkan mata. Dua tangannya terkepal. Kemarahan makin berkobar, merasa diremehkan. “Maka akan aku penuhi keinginanmu.” Elang mulai menyerang. Tiap gerakannya menuju titik-titik mematikan lawan. Tak berniat memberi ampunan. Pria di depannya itu yang telah membuatny
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-02-10
อ่านเพิ่มเติม

Bab 59

Balairung Istana Damar Langit diliputi kesunyian beberapa saat lamanya. Jajaran pejabat istana tak ada yang berani mengangkat wajah. Jangankan bicara, mereka bahkan tidak berani mengeluarkan suara napas. Pedang yang terhunus di tangan Bratasena mengucurkan darah. Di tengah ruangan, tergeletak jasad prajurit telik sandi dengan leher digorok. Nasib sial yang menimpa prajurit malang itu terjadi sesaat setelah dia menyampaikan informasi kejadian di Hutan Larangan. Begal dan pendekar dari lembah hitam yang diberi tugas menghadang pasukan Maheswara Kamandaka telah kocar-kacir.“Aku tidak suka mendengar berita buruk. Kalian semua harus tahu itu!” Suara Bratasena menggelegar. Dadanya naik turun penuh gejolak kemarahan. Dia mempunyai harapan besar akan kemenangan garnisun yang mencegat di Hutan Larangan tersebut. Gerombolan begal yang dikenal bengis dan kejam itu diharapkan mampu memadamkan api pemberontakan Maheswara Kamandaka. Alih-alih berhasil meraih kemenangan, sebaliknya mereka justru d
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-02-11
อ่านเพิ่มเติม

Bab 60

Selepas keluar dari Hutan Larangan, pasukan elit yang dipimpin oleh Elang Taraka melanjutkan perjalanan keluar masuk desa menuju Kotaraja. Perjalanan dengan pasukan besar yang terdiri dari kavaleri dan infanteri tentunya memakan lebih banyak waktu. Alih-alih mempercepat, di sebuah tanah lapang yang luas mereka malah membentangkan tenda untuk istirahat. “Gusti Pangeran, bukankah ini akan menghabiskan terlalu banyak waktu?” Agra bertanya selepas usai mendirikan tenda untuk istirahat Kenes Kirana.“Kita akan menghadapi perang habis-habisan dengan Bratasena, Agra. Berperang dengan fisik kelelahan setelah perjalanan panjang tidak menguntungkan kita. Kami sudah memperhitungkan semua ini.” Merpati putih baru saja mengirimkan pesan. Pasukan Tumenggung Mahawira juga melakukan hal yang sama. Hanya Pangeran Hadyan yang berjalan lebih cepat. Agra manggut-manggut. Keberadaannya di tempat ini nantinya tidak terjun langsung dalam pertempuran. Sesuai keahliannya, Agra dan Mbok Sumi bertugas di tend
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-02-12
อ่านเพิ่มเติม
ก่อนหน้า
1234567
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status