All Chapters of Kubalas Perbuatan Keluarga Suamiku : Chapter 11 - Chapter 20

113 Chapters

Uang 50 ribu

“Kamu nggak ikut, Mas?” tanyaku. Aku lekas ternyata mas Ahmad nggak ikut pergi bersama dengan keluarganya. Dia terlihat tersenyum lalu aku pun duduk di sampingnya."Ikut ke mana?" "Kata tetangga tadi ibu sama Mbak Mita pergi jalan-jalan dengan mobil. Aku kira mas akan ikut," ucapku."Nggak lah, istriku sedang kerja masa aku enak enakan jalan-jalan. Mereka juga kan memang mau cari hiburan sedangkan aku cukup kamu jadi hiburan."Aku tersenyum. "Akhirnya, suamiku waras," kekehku.Mas Ahmad tersenyum. "Lagian kan memang aku nggak bisa jalan dengan baik. Yang ada nanti merepotkan mereka.""Ya nggak papa kalau memang mau refreshing di luar, Mas udah makan?" tanyaku. Melihat kondisi mas Ahmad yang belum juga sembuh-sembuh dari cedera kakinya membuat aku semakin tidak tega untuk menuntutnya banyak hal. Aku abaikan perasaan lelah ketika ditanyai oleh beberapa tetangga tentang kemampuan suamiku dalam mencari nafkah, bahkan adat dari beberapa mereka yang meremehkan kemampuan suamiku. Tuhan
last updateLast Updated : 2024-01-29
Read more

Diminta lagi

Saat aku memasuki rumah Mbak Mita, mendadak perut rasanya mual. Aroma dari busuknya sampah yang mungkin sudah berhari hari tak dibuang itu membuatku bergidik melihatnya. Aku melepas kerudungku, lalu menjadikannya sebagai masker. Kuikat agar menutupi hidung, juga agar baunya tak membuatku menyerah dengan pekerjaan ini. Kuangkat sampah dan membuangnya ke penampungan sampah belakang rumah. Aku juga melihat tumpukan baju kotor di kamar mandi.Tuhan, jika bukan untuk uang 50 ribu aku ogah membereskannya. Aku hanya meletakkan semua baju kotor itu di dalam keranjang. Tiga keranjang penuh baju baju kotor, aku letakkan di sisi mesin cuci. Aku juga membuang sisa sisa makanan yang sudah membusuk di wastafel. Astaga, manusia satu ini jorok sangat ternyata. Aku pun membersihkan semuanya dalam waktu 30 menit. Ruang tamu, ruang dapur dan juga kamar mandi. Hanya saja, aku tak mencuci pakaian mereka. Enak saja, loudry sebanyak itu juga biayanya lebih dari 50 ribu. Tentu saja tugasku hanya membereska
last updateLast Updated : 2024-01-29
Read more

ngelunjak

"Nina!"Pagi hari sekali saat aku baru saja selesai salat subuh suara Ibu sudah bergema mengisi seluruh ruangan di rumah ini. Aku cukup heran karena tidak biasanya ibu sepagi ini sudah bangun, bahkan biasanya sampai aku selesai masak pun itu masih terlelap di kamarnya."Ibumu, Mas. Udah tau tua tapi suaranya kayak toa," ucapku membuat Mas Ahmad tersenyum dan mengecup keningku setelah salat berjamaah bersama."Semoga kamu diberikan kesabaran seluas samudra dan keluasan rezeki setiap hari. Sabar ya?""Asal nggak diminta buat suburin lemak," kekehku sambil mencopot mukena dan melipatnya.Aku keluar menuju ke tempat di mana Ibu memanggilku. Di sana sudah ada Jani yang sedang menangis."Kenapa?" tanyaku pada Ibu dan Jani."Adikmu ini mau sekolah, katanya harus membayar buku dan ibu nggak punya duit. Ibu pinjam sih, 50 ribu" ucap ibu mertuaku."Loh, kemarin kan habis jalan-jalan sama anak kesayangan dan anak paling kaya di keluarga ibu. Kenapa nggak minta saja sama anak menantunya yang kaya
last updateLast Updated : 2024-01-30
Read more

orang nagih

Seperti biasanya, aku berjualan dari rumah ke rumah hingga titik terakhir di sekolah. Kali ini, sengaja aku berjalan dengan pelan agar di sekolah tak harus menyisakan banyak dagangan. Aku berharap hari ini jualanku laris, aku sudah tak sabar untuk membeli hape android yang mungkin bisa membantuku menelpon kakak di seberang desa agar tahu kabar masing masing.Nasib punya kakak laki laki semua. Aku nggak berani cerita nestapaku. Bang Hadi, Bang Cakra dan Bang Angga adalah kakak kakak yang sigap kapan saja akan mendatangi rumah mertuaku jika sampai aku diperlakukan tak baik di sini. Kami memang bukan orang kaya, tapi aku merasa semua saudaraku waras semua. Di antara kami semuanya saling tolong menolong, bahkan saat acara resepsi pernikahanku, semua yang membayar adalah abang abangku.“Mbak Nina,” panggil Bu Waluyo dengan terburu buru.“Iya, Bu. Mau beli sempol?” tanyaku antusias. Biasanya Bu Waluyo yang paling senang icip icip, meski hanya beli satu atau dua tusuk saja tapi sudah alhamdu
last updateLast Updated : 2024-01-30
Read more

cek cok

Aku mengintip dari jendela kamar dan melihat Mas Ahmad yang sedang diceramahi oleh tukang kredit yang gagal mendapatkan uang dari ibu. Aku tidak heran jika Ibu mendadak tidak ada di rumah karena ibu itu selalu bersembunyi jika tidak bisa membayar hutangnya. Untuk kali ini aku benar-benar mencoba untuk abai dan tidak ingin peduli dengan hutang-hutang ibuku karena semakin aku memberikan keringanan untuk membayar maka ibu akan selalu menindas ku dan meminta uang selalu kepadaku. Bukan aku pelit, tapi jika aku tidak pandai-pandai mengelola uang yang jumlahnya tidak seberapa itu pasti tidak akan cukup untuk makan kami dan juga biaya hidup kami ke depannya."Udah?" Tanyaku saat Mas Ahmad sudah kembali ke kamar dengan wajah yang seperti lipatan belum digosok. Lecek."Udah. Aku pikir Ibu ada di rumah loh tadi," ucap Mas Ahmad."Udah aku cari sampai ke dapur, sumur, kolong jembatan, kolong meja sampai kolong-kolong tikus, nggak ada. Apa mungkin Ibu digondol kolong Wewe?" tanyaku membuat Mas Ah
last updateLast Updated : 2024-01-31
Read more

tamu

Aku selesai meracik sempolan untuk jualanku besok pagi. Aku menaruhnya dalam kulkas, lalu masuk ke dalam kamar. Aku hanya melirik pada suamiku yang masih setia menemani ibunya yang masih saja awet merepet. Ya begitulah, Ibu mertuaku seperti tak ada rasa lelah mengomel setiap harinya. Saat diingatkan tentang bahayanya marah marah di usia tua, eh malah tambah marah. Dibilang aku nyumpahin orang tua itu bakalan kualat nantinya. Mas Ahmad terlihat lesu saat masuk ke dalam kamar. Aku pun sudah bersiap untuk mendengarkan keluhannya. Aku yang sudah paham watak suamiku, perlahan mendekat dan tersenyum padanya.“Angga aja televisi sedang salah sinyal dan channel. Mas baik wudhu, kita jamaah di masjid saja. Gimana?” tanyaku.“Di rumah saja lah, Mas lagi malas keluar rumah. Nggak mood, takutnya ucapan ke mana mana.”“Nggak usah dibikin bete sih, Mas. Ibu kan sudah biasa kayak gitu. Biasanya juga Mas yang nasehatin Nina kalau lagi badmood begini. Sekarang wudhu, Nina siapkan pakaiannya.”Mas A
last updateLast Updated : 2024-01-31
Read more

anak pancingan

"Lalu, untuk apa kamu ke sini lagi? Aku sudah beristri, kamu juga sudah bersuami bukan?" tanya suamiku. Aku berusaha untuk memperlambat langkahku bahkan berhenti sementara untuk mendengar apa yang menjadi jawaban dari wanita yang terdengar punya hubungan dengan suamiku itu. Penasaran membuatku menjadi wanita setengah kepo yang akhirnya tidak bisa menahan semua rasa yang ada di dalam dada. Entah Kenapa dadaku benar-benar berdebar cepat saat melihat wanita itu datang dan saat melihat obrolan dari semua orang yang ada di depan. seperti akan ada yang terjadi dan itu pasti akan sangat menegangkan jika begini.Cemburu, tentu saja. Apalagi suamiku terlihat sangat tidak biasa saat melihat wanita itu bahkan terkesan seperti mengingat kejadian masa lalu. Mencurigakan!"Suamiku menceraikanku saat ini, Mas. Mengusirku dari rumah karena mengira aku bukan hamil anaknya dan dia sudah menjatuhkan talak dariku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena yang aku kenal hanyalah Mas Ahmad.""Dia ingi
last updateLast Updated : 2024-02-01
Read more

bantuin

“Dek.”Mas Ahmad menyusulku. Aku masih menangis di balik bantal dan aku benar benar sedih dengan perlakuan Ibu mertuaku itu. Kurasakan belaian tangan Mas Ahmad dan aku berusaha untuk tidak terlihat mengalah dan baik baik saja meski di depan Mas Ahmad sekalipun.“Dek, aku dan Minah memang punya masa lalu. Tapi aku sudah tak ada apa apa sama dia. Aku juga sudah minta sama Ibu, kalau dia tetap di sini kita akan pergi dari rumah ini.”Mendengar ucapan Mas Ahmad, aku pun merasa lega. Akhirnya Mas Ahmad bisa tegas dengan keputusannya. Aku pun tak akan sudi satu atap dengan mantan suamiku. Meski di rumah Mbak Mita juga sedikit beresiko, tapi setidaknya aku bisa sedikit mengantisipasi.“Jangan marah sama Mas ya? Mas jadi bingung.”Mas Ahmad memelukku, mendekapku erat. Aku pun berbalik dan menatap manik mata suamiku yang tentu menyiratkan kekhawatiran.“Mas bentul betul mengusir wanita itu?” tanyaku dengan pelan.“Ya. Tadi aku tinggalkan setelah mengatakan hal itu. Semua tergantung bagaimana k
last updateLast Updated : 2024-02-01
Read more

Mantu Stress

"Mas yakin Kamu sengaja usil begini biar Ibu kesal dan membawa Minah untuk pulang kan?" Tanya Mas Ahmad saat kami akhirnya memutuskan duduk di belakang rumah Pak Darmaji. Aku sengaja mengajak Mas Ahmad untuk ngumpet terlebih dahulu. "Ya gimana lagi, wanita itu kegatelan dan ibu juga aneh karena seperti ingin membuat mas itu dekat sama dia. Mumpung Dia sedang berbaik hati menawarkan pekerjaan alangkah baiknya diterima saja. Siapa tahu habis mencabuti rumput di sana dia langsung lahiran dan pergi dari desa ini.""Istriku ini memang usilnya nggak ketulungan. saat kecil pasti kamu sangat tomboy ya?" Mas Ahmad terkekeh saat mengatakan hal ini. "Nggak juga, aku kalem dan tidak neko-neko. Sama persis saat lagi diajak ngamar sama suami sendiri," kekehku.Dari kejauhan aku melihat ibu dan Mina berjalan menuju ke rumah. Aku melihatnya dari belakang rumah dokter muji dan akhirnya aku pun tersenyum pada mas Ahmad."Kan? Aku bilang juga apa? Mana mungkin wanita itu dengan sukarela mau membantumu
last updateLast Updated : 2024-02-02
Read more

bau bau

Aroma masakan tercium dari radius terdekatku. Aku yang baru selesai sholat magrib berjamaan di masjid pun langsung penasaran dengan bau sedap dari dalam rumah. Aku mengucapkan salam bersama dengan Mas Ahmad dan terlihat Ibu sedang menikmati makanan lezat di atas meja.“Wuih, makan makan nih!” ucapku yang langsung duduk di samping Mbak Mita. Mata kakak iparku langsung menajam saat aku pura pura dekat dengannya. Padahal bukan karena ingin makan makanan yang ada di meja, hanya ingin terlihat akur saja dengan ibu mertua. Lelaki yang menjadi suamiku pun tersenyum. Dia yakin aku adalah wanita yang istimewa karena bisa sesabar itu membaurkan diri dengan keluarganya yang sangat sangat menyebalkan itu.“Dari siapa, Bu?” tanya Mas Ahmad.“Dari Minah, tadi dia belikan di kedai baru depan sana. Dia bilang kenal dengan pemiliknya, jadi banyak bonus dan dikasih kita semua. Minah memang wanita yang gaul dan nggak kampungan. Teman temannya pengusaha semua, makanya dapat kemurahan seperti ini,” puji
last updateLast Updated : 2024-02-02
Read more
PREV
123456
...
12
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status