Home / Rumah Tangga / Mutiara Untuk Abang / Chapter 71 - Chapter 80

All Chapters of Mutiara Untuk Abang: Chapter 71 - Chapter 80

90 Chapters

Bab 71 Dua Saudara

"Wedhokan asu!! Balekke!"Mutiara berjengit lantas mengernyit. Ia bukan terkejut dengan bentakan dan hardikan kasar itu. Bukan, sebab ia sudah terbiasa mendengar umpatan itu. Ia sudah terbiasa mungkin sejak ia bayi mendengar kata-kata kasar itu.Bukan itu yang membuat Mutiara terkejut.Penampakan Bagas-lah yang membuatnya terkejut. Bagas bukan cuma mabuk, Bagas sedang sakaw. Tubuhnya yang gemetar, muntah, matanya merah berair dan berkeringat banyak lebih menarik perhatian Mutiara.Naluri Mutiara sebagai dokter menariknya untuk mendekati Bagas dan memegang dahi laki-laki itu, tapi sergapan Bagas yang masih kuat membuat Mutiara limbung.Semua wanita di dapur yang menyaksikan itu berteriak. "Nduk Muti...""Kowe sopo? Kowe sopo wani-wanine demok aku? Wedhokan asu! Balekke hapeku! Kuwi nggonaku!!" Bagas menggeram kasar dan lantang, meski tersendat-sendat. (Kamu siapa? Kamu siapa berani-beraninya menyentuhku? Perempuan asu! Kembalikan ponselku! Itu punyaku!)Tangannya menarik kasar baju bagi
last updateLast Updated : 2024-06-04
Read more

Bab 72

Apa yang dirasakan Mutiara setelah raungan sirine itu menghilang membawa tubuh saudaranya yang sakaw?Jawabannya, tidak ada. Tidak ada perasaan apapun. Mutiara termangu memandang iring-iringan itu tetapi pikirannya tidak mengikuti kemana bergeraknya ambulance dan sedan polisi itu.Tidak ada keterkejutan meski hari ini ia baru mengetahuinya bahwa Bagas adalah seorang pecandu.Bahwa baru hari ini ia mengatahui kalau Bagas juga pernah dipenjara karena mencuri.Baru hari ini juga ia mengetahui keburukan yang ternyata berusaha disembunyikan oleh almarhum Mbahe tentang seorang Bagas. Tapi Mutiara seolah sudah bisa menerkanya, bahwa tabiat itu memang susah diubah.Dan ternyata semakin memburuk dari hari ke hari, tahun ke tahun.Mutiara menghela napas panjang setelah ambulance dan mobil polisi menghilang dari pandangan. Napas berat seperti sebuah keputus asaan. Diperkuat dengan mimik kosong yang menatap jauh ke depan.Semua orang menyangka Mutiara pasti syok karena keadaan Bagas yang ternyata
last updateLast Updated : 2024-07-04
Read more

Bab 73

"Ruang operasi dua sudah siap, Dok." Ujar residen yang mengawasi Motaz. Napasnya terengah karena mengejar waktu.Hematoma yang dialami Motaz rupanya merupakan hematoma subdural yang bisa menyebabkan anuerisme yang berbahaya. Dan semuanya baik dokter serta tenaga medis lainnya maupun pasien sendiri seperti berlomba dengan bom waktu.Operasi harus dilaksanakan segera dengan tindakan yang akurat dan cepat dan tentu saja aman demi keselamatan pasien, kalau tidak..Kalau tidak... ya, Tuhan yang menentukan."Thanks. Aku akan bersiap. Kamu ikut? Atau residen yang lain?" Jawab si dokter. Menutup sebuah map di meja perawat lantas berdiri. Tangannya meraih jas yang tadi ia letakkan di punggung kursi."Saya ikut. Saya mau tau tentang hematoma lebih dalam. Pasti ada gejala lain sebelumnya sebelum terjadi benturan itu.""Ayo jalan. Aku jelaskan sambil jalan."Si residen mengikut di belakang tergopoh menyamakan langkah dokter pembimbingnya yang berjalan cepat. Selalu cepat. Hampir semua perawat, do
last updateLast Updated : 2024-07-04
Read more

Bab 74 Pertemuan Itu...

Bagus memukul-mukul kepalanya yang terasa sangat berat. Lalu sempoyongan berdiri memaksakan kakinya agar kuat berdiri. Menuju pintu keluar rahasia para member gelap di gedung itu.Semua orang sudah tidak ada. Tapi sesaat lalu ia jelas mendengar samar-samar suara Bejo membangunkannya dengan menyebut-nyebut nama Bagas. Lantas kemana semua orang? Kemana Bejo?Tempat itu sangat gelap, kepalanya yang pusing dan atas matanya berdenyut-denyut semakin terasa pening ketika ia memaksakan berjalan di tempat segelap itu.Setelah ia berhasil keluar dari tempat itu, matanya menangkap sosok Bejo masih berdiri di sebelah motornya sembari menatapi ponsel satu kali pakai miliknya.Bejo mendongak memandangnya dengan wajah kesal dan muak. Rautnya jelas menunjukkan kalau Bejo ingin sekali menghabisinya.Rahang Bejo mengetat, lalu menghela napas berat dan memasukkan ponselnya dengan kasar ke dalam saku bajunya sendiri."Ayo, tak goncengke. Awedewe ra oleh suwe-suwe neng kene." Kata Bejo sambil naik ke ata
last updateLast Updated : 2024-07-05
Read more

Bab 75 Malam Menyakitkan

Mutiara berlari sambil memegangi mulutnya. Mualnya tak tertahankan memancing Nunik yang berada di dapur saat itu reflek mengikutinya."Muti.. Ada apa, Nduk? Kamu kenapa?" Ujarnya berlari kecil di belakang Mutiara.Ia tak memperhatikan seorang Bagus yang juga mengikuti di belakang saat itu. Tak sadar dengan tampilan Bagus yang berantakan serta membawa bau menyengat. Campuran alkohol dengan bau badan karena tiga hari tak mandi.Sementara Bagus mengikuti langkah Nunik yang tergesa, ia terpaku kemudian. Menghentikan langkahnya dan membelalak. Apa ia tak salah dengar?Muti?Maksudnya Mutiara, anak kecil yang dulu hanya bisa membuat istrinya kesusahan sampai akhirnya meninggal?Bagus terbengong mendapati Nunik menyusul Mutiara sambil memanggil-manggil wanita itu. Ia jelas tak salah dengar. Pantas saja Lastri terlihat lebih muda dan segar. Juga memakai kerudung itu, terlihat semakin cantik.Ia pikir demikian. Ia pikir Mutiara adalah Lastri sewaktu masih muda.Perlahan, Bagus mendapatkan kesa
last updateLast Updated : 2024-07-09
Read more

Bab 76 Malam Menyakitkan (2)

Malam berjalan semakin larut bersama serangga-serangga malam yang semakin nyaring. Mutiara sudah dibawa ke rumah sakit ditemani Bulek Nunik, Ayu dan satu tetangga depan rumah mendiang Mbah Sugi.Sementara acara selamatan sekaligus do'a bersama untuk mendiang Mbah Sugi diambil alih oleh Budhe Lami dan juga suami Nunik.Acara itu semakin terasa senyap dan muram. Semua orang memilih bungkam karena mengerti akan kesedihan mendalam yang terjadi di rumah itu.Perlakuan Bagus terhadap anak kandung perempuannya sendiri memang diluar nalar. Tak jauh beda dengan cara memperlakukan ibu dan istrinya. bagus sangat berubah dengan Bagus yang dulu. Entah mengapa, Bagus lebih beringas dan sensitif dengan semua tingkah laku para wanita di rumah itu.Selama acara itu berlangsung sampai semua orang pulang ke rumah masing-masing, tidak ada yang berani bertanya bagaimana kornologi kejadiannya.Bukankah semua sudah hapal?Pasti yakin semua sudah tau entah bagaimana kronologinya satu yang pasti, dan sudah di
last updateLast Updated : 2024-07-19
Read more

Bab 77 Utusan

Ibu Catherine berdiri dari duduknya lantas menyambut Aini dan merangkul wanita itu. Menangis tersedu menumpahkan segala cemas dan rasa sakitnya sebagai ibu kepada sesama wanita lainnya yang dianggapnya mengerti akan perasaan itu. Beberapa menit berlalu bersama isak tangis Bu Catherine dan Aini. Sementara Pak Ali kembali mondar-mandir di depan operasi. Meski direktur rumah sakit itu sudah turun langsung dan memantau operasi yang berjalan pada Motaz, tetapi hati setiap orang tua pasti tetap resah. Apalagi riwayat kehilangan seorang anak masih menghantui Pak Ali dan istrinya. "Bagaimana dengan Motaz, Bu?" Tanya Aini kembali sebab pertanyaannya sebelumnya belum terjawab. "Hematoma. Kamu tau hematoma?" Aini menggeleng. Ibu Chaterine mengerjap memandang lorong kosong di sebelah kirinya. Lorong itu mengingatkannya saat beliau menemani mendiang Nicho berjuang melawan cancer-nya. "Aku nggak mau kehilangan anakku lagi, Aini." Lirihnya. Suaranya amat lirih tapi di tempat sesepi itu, suara
last updateLast Updated : 2024-07-19
Read more

Bab 78 Aini dan Ayu

Semalam tadi, Mutiara sadar setelah pingsan hampir 7 jam lamanya.Melenguh lantas tersengal merasakan perutnya seperti ditindih batu besar.Saat matanya terbuka, Mutiara mendapati Bulek Nunik tertidur di samping kirinya, sementara Ayu masih memainkan ponselnya duduk di kursi di sudut ruangan dekat jendela.Mutiara sudah dipindahkan ke ruang rawat kelas satu yang mana kelas satu di rumah sakit itu tidak seperti kelas satu di rumah sakit besar lainnya yang memiliki ruangan sendiri serta bed tunggal untuk satu pasien.Kelas satu itu masih diisi dua brankar untuk dua pasien. Dengan gorden tipis sebagai sekat pemisah brankar. Satu kipas angin yang telah berdebu, juga satu kursi tunggu di masing-masing pasien.Beruntungnya, malam itu hanya Mutiara pasien satu-satunya yang mengisi ruangan itu. Hingga Ayu masih bisa menggunakan bed satunya untuk beristirahat. Tetapi, ketika Mutiara membuka mata, Ayu masih sibuk dengan ponselnya."Mbak.. Mbak udah sadar." Ayu segera beranjak mendekati brankar.
last updateLast Updated : 2024-07-23
Read more

Bab 79 Kondisi Mutiara

Ayu meninggalkan Aini sendirian duduk di terasnya cukup lama.Aini yang merasa kebingungan dan canggung, hanya bisa celingukan ke samping kanan dan kirinya. Beberapa orang yang lewat menatap asing ke arahnya mencoba menyapa.Mereka mungkin tahu dari plat mobil yang terparkir di dekat gapura, bahwa wanita itu mungkin adalah kolega Mutiara.Mereka menyapa. Mengangguk pada Aini dan Aini membalas dengan anggukan canggung.Orang di desa memang ramah-ramah, pikirnya.Setelah menjawab sapaan dengan anggukan, Aini kembali melongok ke dalam mencari Ayu.Begitu seterusnya sampai beberapa saat lamanya.Sudah hampir setengah jam Ayu di dalam, Aini mulai resah. Takut sengaja dikerjai atau malah ditipu si gadis muda itu.Aini berdiri dari duduknya. Ragu tetapi melangkah mendekati pintu masuk. "Permisiiii.." Seru Aini di depan pintu.Tidak ada jawaban."Permisiii.." Ulangnya lagi. Detik itu juga Ayu menyibak tirai ruang tengah, keluar membawa nampan berisi segelas air sirup dingin dan setoples cemi
last updateLast Updated : 2024-07-24
Read more

Bab 80 Pindah Ke Jerman?

"Mbak turut berduka cita, Muti.." Ucap Aini setelah keduanya sudah tenang.Aini, Budhe Wijayanti dan juga Bulek Nunik sempat panik karena Mutiara kesulitan bernapas. Menangis menangis membuatnya semakin sulit mengatur napasnya sendiri meski sudah memakai bantuan ventilator.Mutiara mengangguk. Air matanya kembali menetes. Ia ingin sekali bertanya banyak pada Aini, bukan hanya ingin tapi ia harus bertanya tentang suaminya.Mutiara merasakan sesuatu yang aneh karena Aini datang sendirian. Perasaannya semakin tak karuan menduga-duga apa yang sesang terjadi. Pun Aini tak membahas sedikitpun tentang Motaz maupun keluarganya sejak tadi. Hal itu menambah kecurigaan Mutiara, dan sulit sekali diungkapkan. "Ibu Aini, bisa ikut saya sebentar?" Tanya Bulek Nunik. Aini bukan tak sadar dengan tatapan Mutiara sejak tadi. Hanya saja ia berusaha sengaja menghindari pembahasan soal Motaz. Menyampaikan keadaan Motaz kepada istrinya yang sedang kacau pun rasanya kurang pantas dan kurang bersimpat
last updateLast Updated : 2024-07-26
Read more
PREV
1
...
456789
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status