Anya membenamkan wajahnya pada dada Kamarudin. Di dalam gendongan pria itu, satu tangannya mencengkram kaos yang Kamarudin kenakan.“Eh, mantunya Ibu udah turun.”“Din! Turunin!” Cicit Anya karena Kamarudin tak kunjung menurunkan dirinya. Sejujurnya ia merasa malu. Kamarudin memperlakukannya dengan sangat berlebihan. Kakinya hanya bengkak, bukan berarti ia tidak bisa berjalan sampai harus terus-terusan digendong.“Hem..”“Anya mau makan pake apa?” tanya Miranti. Ditangannya sudah tersedia piring kosong untuk sang menantu.“Anya ambil sendiri aja, Bu. Bisa kok.”“Biar saya yang ambilkan.” Ucap Kamarudin sembari memindahkan piring dari tangan ibunya ke tangannya. “Cumi tinta hitam, mau? atau ayam..” Kamarudin memperhatikan medu ayam yang asisten rumah tangga ibunya masak. “Bumbu apa Bu, namanya?”“Sambel kemangi. Nggak begitu pedes kok. Anya masih bisa makan.”“Anya doyan pedes, Bu.”“Iya, tapi nggak boleh sering-sering. Perut kamu nanti sakit,” lagi-lagi Kamarudin menyambar. “Pake cum
Last Updated : 2023-08-04 Read more