Home / Pernikahan / Wanita Simpanan CEO / [16] Jebakan Deolinda

Share

[16] Jebakan Deolinda

Author: Kim Meili
last update Last Updated: 2024-07-28 21:50:31
Bab 17_

“Apa yang kamu lakukan di kamarku, Deolinda!”

James menatap tajam ke arah sang istri. Rahangnya mengeras dengan tangan mengepal. Pagi tadi dia terbangun dengan kepala yang berat dan tubuh yang terasa lelah. Padahal dia tidak melakukan apa pun setelah pulang kerja dan ke rumah sang mama. James ingat betul dengan semua kejadian yang dilakukannya. Dia datang, makan dan ke kamar.

“Apa yang sudah kamu lakukan, Deolinda?” tanya James. Pasalnya dia baru merasa aneh setelah mengingat semuanya. Makanan sang mama yang baru dimakan beberapa suap dan membuat kepalanya pusing. Tubuhnya juga panas.

“Aku tidak melakukan apa pun, James. Aku hanya datang ke sini dan aku mandi di kamar kamu karena Mama bilang kamu mau datang. Itu sebabnya aku bersiap dan ingin menyambut kamu. Tapi ternyata kamu malah ---” Deolinda menghentikan penjelasan dan menatap James takut. Mulutnya juga langsung tertutup dengan rapat.

“Aku malah apa, Deolinda?” James masih menat
Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

  • Wanita Simpanan CEO   [17] Tawaran Kerjasama

    “Kamu sudah mau berangkat?” Qiana yang baru selesai sarapan dan siap bangkit pun berhenti. Dia menatap ke arah James yang baru saja datang. Matanya menyipit, memperhatikan sang suami yang berjalan mendekat. Tidak ada yang aneh dengan James, tetapi tatapannya semakin tajam saat pria itu semakin mendekat dengannya. Raut wajahnya menunjukkan ekspresi berpikir. “Kamu bisa tunggu aku sebentar, Qiana. Kita berangkat bersama. Aku akan mandi dulu,” ucap James. “Bukannya kamu dari rumah mamamu? Kenapa tidak mandi di sana? Selain itu, pakaian kamu sudah ganti. Kenapa masih belum mandi?” tanya Qiana dengan sorot mengamati. Matanya masih menyipit, berusaha mengingat sesuatu. Pasalnya dia ingat sekali jika sang suami pergi menggunakan kemeja putih. Saat ini pria itu menggunakan pakaian yang berbeda. James pun tidak mengenakan jas sama sekali. Mendapat pertanyaan itu, James diam. Biasanya Qiana tidak sebanyak ini bertanya. Wanita itu memilih diam dan menjawab sepe

    Last Updated : 2024-07-30
  • Wanita Simpanan CEO   [18] Mulai Beraksi

    Jessica terdiam. Pikirannya masih melayang, mengingat tawaran wanita asing yang baru saja menemuinya. Dia merasa aneh dengan Deolinda yang tiba-tiba mengajak bekerjasama. Apakah ini benar atau hanya jebakan semata? Pasalnya, Jessica tidak mengenal Deolinda. Darimana asal dan latar belakang, Jessica tidak mengetahui dengan jelas. Dia hanya bertemu dengan Deolinda sekali. Itu pun saat mereka bertabrakan beberapa hari yang lalu. Pintu apartemen terbuka. Jessica mengalihkan pandangan saat melihat Alvan datang. kedua sudut bibirnya tertarik, membentuk senyum manis dan dan segera bangkit. Jessica tidak menyiakan waktu dan segera mendekat ke arah Alvan berada. Sampai bau alkohol terasa begitu menyengat. “Alvan, kamu mabuk?” tanya Jessica saat mencium bau yang begitu menusuk. Entah berapa botol yang Alvan habiskan saat ini. Namun, Alvan yang tidak sepenuhnya sadar hanya diam. Dia menatap ke arah Jessica, menyipitkan mata dengan kening berkerut dalam, seakan tengah

    Last Updated : 2024-08-07
  • Wanita Simpanan CEO   [19] Apa Mulai Menyukaiku?

    Hening. Qiana sibuk berkutat dengan laptop meski hari sudah cukup larut. Beberapa kali dia menguap, merasakan kantuk yang teramat sangat. Sayangnya, Qiana tidak berencana untuk menutup mata dan mengistirahatkan otaknya meski hanya sejenak. Dalam pikirannya saat ini hanya ada jumlah pekerjaan yang harus diselesaikan. Besok adalah hari ulang tahun perusahaan. Beberapa hari ini dia sibuk dengan persiapan, melupakan beberapa tugas yang sudah seharusnya selesai. Itu sebabnya Qiana memilih mengambil lembur supaya semuanya selesai tepat waktu. Qiana mengambil cangkir di dekatnya yang ternyata sudah kosong. Qiana yang melihat pun membuang napas kasar. Padahal dia enggan bangkit, tetapi sekarang dia terpaksa mengambil air kembali. Dia pun bangkit, tetapi di waktu yang sama, seseorang meletakkan cangkir di sebelahnya. Qiana yang melihat pun mengalihkan pandangan, menatap ke arah sang pelaku. “Hari sudah malam, Nona. Anda belum ingin pulang?” Qiana yang menden

    Last Updated : 2024-08-11
  • Wanita Simpanan CEO   [20] Persiapan Pesta

    Hening. James hanya diam, menatap kolam di depannya dengan tatapan kosong. Pikirannya masih melayang, memikirkan mengenai apa yang Qiana ucapkan semalam. Padahal jelas wanita itu hanya mengigau, tetapi cukup mengganggu pikirannya. James bahkan mulai bertanya-tanya, apakah yang dikatakan Qiana benar? “James.” James yang tengah asyik melamun pun menghentikan pikirannya dan menatap ke asal suara. Di hadapannya, berdiri Qiana dengan pakaian formal. Istrinya tampak lebih cantik dari biasanya. Hingga dia menggelengkan kepala, mengalihkan pikiran yang sejak tadi melayang entah kemana. “Aku mau ke kantor dulu. Aku harus melihat persiapan di sana dan memastikan semua berjalan dengan baik,” ucap Qiana. “Aku rasa kamu tidak perlu ke sana, Qiana,” sahut James. Qiana mengerutkan kening saat mendapat larangan dan bertanya, “Kenapa?” Hening. Suasana menjadi begitu sunyi. James sendiri bingung, kenapa tiba-tiba melarang Qiana unt

    Last Updated : 2024-08-19
  • Wanita Simpanan CEO   [21] Apa Hubungan Mereka?

    “Kamu gak apa, Qiana?” Qiana yang melihat siapa yang menolongnya pun melebarkan kedua mata. Mulutnya setengah terbuka, merasa terkejut dengan apa yang terjadi. Sejenak, pikirannya melayang, bingung harus melakukan apa. Tapi hal tersebut hanya berlangsung sejenak karena setelahnya dia langsung bangkit dan menjauhkan tubuh. "Aku tadi cuma lewat dan lihat kamu mau jatuh. Jadi, aku cuman menolong," jelas Alvan. Qiana yang mendengar penjelasan itu pun menarik kedua sudut bibir, membentuk senyum terpaksa yang tampak begitu jelas. Dia berkata, "Iya. Terima kasih." Qiana pun kembali melangkahkan kaki. Dia enggan berlama-lama dengan Alvan. Pasalnya, kalau sampai Jessica melihatnya, dia yakin wanita itu pasti akan marah dan Qiana enggan mencari masalah. Hari ini dia hanya ingin tenang dalam menyelesaikan tugasnya. Dia juga tidak ingin kembali berselisih dengan Jessica. Namun, baru satu langkah Qiana berniat meninggalkan, Alvan sudah lebih dulu meraih pergelangan tangannya. Pria itu men

    Last Updated : 2024-08-22
  • Wanita Simpanan CEO   [22] Permintaan Cerai

    "Untuk apa kamu ke sini, Deolinda?"Deolinda yang melihat James berdiri di depannya pun langsung menghentikan langkah. Dengan tenang, dia mengangkat kedua bahu dan berkata, "Mama yang menyuruhku datang, James. Aku juga tidak tahu untuk apa.""Jangan membohongiku, Deolinda," ucap James kembali. Kali ini dengan suara penuh penekanan dan tatapan tajam.Namun, Deolinda yang melihat tidak merasakan apa pun. Dia malah semakin tenang dan memasang raut wajah memelas. Dia bahkan semakin mendekatkan tubuh dan menatap lekat."Kamu tidak percaya denganku, James?" tanya Deolinda. "Padahal kita sudah menikah lama, James. Tapi kamu masih meragukanku. Kamu juga sudah mengenalku cukup lama, tetapi masih tidak tahu seperti apa aku. Aku tidak mungkin datang ke sini kalau tidak disuruh Mama. Aku tidak mungkin melanggar laranganmu.""Selain itu, waktu kamu menyuruhku pulang tadi, aku sudah akan pulang. Tapi saat itu Mama datang dan mencegah. James, aku mengatakan yang sebenarnya. Ak—""Deolinda, bisa kamu

    Last Updated : 2024-08-23
  • Wanita Simpanan CEO   [23] Jangan Ganggu Dia

    “Untuk apa kamu ke sini lagi, James?” Qiana yang sedang berada di kursi rias pun hanya diam, menatap sang suami dari pantulan cermin. Wajahnya tidak menunjukkan apa pun. Sejak semalam, Qiana memutuskan untuk menjauh dari pria itu. Dia bahkan tidak segan meminta cerai dengan suaminya. Saat ini yang ada dipikiran Qiana hanyalah berpisah dan memulai hidup kembali. Dia tidak ingin menjadi istri kedua. Apa yang akan dikatakan tetangga kalau tahu mengenai dirinya yang menjadi simpanan? Keluarganya akan malu. Anaknya yang lahir pun akan mendapatkan cemoohan karena hal tersebut. Selain itu, Qiana enggan berpisah dengan anak dalam kandungannya. Meski semua terjadi tanpa kehendak dan keinginan darinya, tetapi tetap saja anak dalam kandunganya begitu berharga. Dia tidak akan memberikan kepada Deolinda. Namun, James yang mendapat tatapan dingin tersebut tidak berkomentar sama sekali. Dia tahu mengenai kesalahannya. Tidak seharusnya dia menyembunyikan pernikahannya, tetapi

    Last Updated : 2024-08-25
  • Wanita Simpanan CEO   [24] Membuat Perhitungan

    Qiana diam, duduk dengan pandangan kosong. Pikirannya masih melayang, memikirkan nasib yang begitu mempermainkannya. Dia yang harus hamil di luar nikah dan melakukan pernikahan dengan pria yang tidak dicintainya. Sekarang dia bahkan menjadi perusak rumah tangga orang lain, menjadi istri kedua dan seorang wanita simpanan. Bahkan dia harus menerima jika dirinya dibohongi oleh sang suami. Qiana menarik napas dalam dan membuang perlahan. Sejak semalam dia tidak merasakan tenang sama sekali. Tujuannya kali ini keluar untuk jalan-jalan pun hanya ingin menenangkan pikiran. Dia tidak ingin terus terpaku dengan satu masalah. Anaknya tidak tahu apa pun. Jadi, dia tidak ingin membuat anak dalam kandungannya merasa stress karena pikirannya. “Kamu sudah lama, Qiana?” Qiana yang mendengar pun mengalihkan pandangan. Manik matanya menatap ke arah wanita yang baru saja datang dan duduk tepat di depannya. “Maaf, tadi aku ada kerjaan lain,” ucap Emily.

    Last Updated : 2024-08-30

Latest chapter

  • Wanita Simpanan CEO   [74] Jalan-jalan Pagi

    Qiana membuang napas lirih. Pagi ini dia memilih berjalan-jalan di taman yang jauh dari rumahnya. Tidak lupa Qiana mengenakan masker, takut kalau ada yang mengenali dirinya. Dia takut kalau kejadian beberapa hari yang lalu membuat banyak orang mengenal dirinya. Ditambah dengan perutnya sudah sedikit lebih membesar, membuat Qiana mau tidak mau harus lebih giat dalam melakukan aktivitas. Padahal kalau dulu dia hanya akan berbaring cantik dan tidak melakukan apa pun.Qiana yang sudah berjalan beberapa putaran pun membuang napas lirih. Dia memilih untuk duduk di tanah dan menyelonjorkan kedua kaki. Manik matanya menatap sekitar. Ada beberapa ibu hamil juga yang tengah berjalan-jalan seperti dirinya. Bedanya, mereka ditemani suami. Sedangkan Qiana harus berjalan-jalan sendiri. Ada rasa iri setiap kali melihat pasangan yang begitu bahagia. Qiana juga menginginkan hal yang sama.Namun, Qiana harus cukup sadar diri. Dia tidak mungkin mendapatkan hal semacam itu. Kalau sampai dia mendapatkanny

  • Wanita Simpanan CEO   [73] Peringatan Awal

    Hening. Alvan dan James hanya diam. Keduanya duduk saling berhadapan, tetapi tidak ada yang membuka suara sama sekali. Keduanya seperti tengah asyik menikmati pikiran masing-masing. Hingga Alvan yang tidak sabar menunggu pun membuang napas lirih. Dia mendongakkan kepala, menatap ke arah James dan bertanya, “Kenapa kamu kesini, James?”James yang awalnya dia pun langsung mendongak. Sebenarnya dia tidak bermaksud untuk diam. Dia juga tidak takut dengan Alvan. Hanya saja, sejak tadi dia diam tengah memikirkan kalimat yang pas untuk melarang Alvan selain karena Qiana adalah istrinya. Dia ingin membuat Alvan takut dan menurut dengannya.“Tidak biasanya kamu datang ke rumahku,” imbuh Alvan karena tidak juga mendapat jawaban.James membuang napas lirih dan berkata, “Aku kesini karena aku melihat kamu bersama dengan Qiana beberapa hari yang lalu, Alvan.”Mendengar itu, Alvan terdiam sejenak. Dia merasa bahagia karena James yang ternyata terpancing dengan rencananya. Dia yakin, James pasti ten

  • Wanita Simpanan CEO   [72] Tamu tidak Diharapkan

    Alvan melangkah pelan, keluar dari mobil dan memasang wajah datar. Sorot matanya menunjukkan keseriusan. Tidak ada senyum yang terlintas di bibirnya. Bahkan beberapa sapaan dari karyawan tidak dibalasnya sama sekali. Hari ini mood-nya tidaklah baik, membuat Alvan tidak mau bersikap ramah dengan siapa pun.Alvan terus melangkahkan kaki, menuju ke arah lift yang akan membawa ke ruangannya. Mulutnya masih bungkam. Padahal biasanya dia masih mau menyapa para karyawan yang bersikap baik dengannya. Hingga pintu lift terbuka, membuat Alvan kembali melanjutkan langkah.Alvan segera memasuki ruangan, sesekali menatap ke arah sang sekretaris yang belum datang. Padahal sudah siang, tetapi sekretarisnya malah tidak berniat untuk bekerja sama sekali. Bahkan dia yang merupakan atasan malah jauh lebih dulu sampai di kantor. Hingga Alvan memasuki ruangan dan siap melangkah ke arah meja kerja.Namun, niatnya terhenti karena manik matanya melihat seseorang yang cukup dikenalnya. Menyadari kesabarannya

  • Wanita Simpanan CEO   [71] Perasaan yang Sedikit Berbeda

    “Kamu masih bekerja dengan James kan, Deolinda?” tanya Ishana.Deolinda yang hendak menyendok makanan pun menghentikannya. Dia menatap ke arah sang mertua dan menjawab, “Iya, Ma.”“Kamu harus memanfaatkan momen ini, Deolinda. Kalau dulu Qiana bisa mendekati James saat menjadi sekretarisnya, seharusnya kamu juga bisa. Kamu harus bisa menaklukan James dan membuat dia bertekuk lutut denganmu. Jangan biarkan wanita murahan itu mengalahkanmu,” ucap Ishana serius.Deolinda terdiam. Manik matanya menatap lekat ke arah sang mertua yang menurutnya tampak aneh. Biasanya Ishana tidak memaksanya seperti ini. Wanita itu lebih sering melakukan dengan cara yang santai. Kali ini, Deolinda menjadi heran. Dia pun meraih jemari sang mertua dna bertanya, “Mama sedang ada masalah?” Ishana yang ditanya pun membuang napas lirih. Dia menatap lekat ke arah sang menantu dan menggelengkan kepala. “Tidak sama sekali, Deolinda. Mama baik-baik saja,” jawab Ishana dengan santai.“Terus, kenapa tiba-tiba Mama mem

  • Wanita Simpanan CEO   [70] Sedikit Lebih Dekat

    Qiana menyembunyikan dalam wajahnya di dalam bantal. Dia merasakan kenyamanan saat mendekap benda yang selalu menemaninya tidur, tetapi entah kenapa kalau kali ini dia merasa jauh lebih nyaman. Dia seakan enggan meninggalkan tersebut dan malah mendekap semakin erat. Bau maskulin yang melekat membuat Qiana enggan meninggalkannya. Belum lagi elusan lembut di bagian punggung yang semakin menambah rasa nyamannya.Sejenak, Qiana menikmati semua hal tersebut. Dia bahkan terus mengusel masuk, berusaha mencari titik ternyaman yang enggan untuk ditinggalkan. Sampai dia yang mulai kembali meraih kesadarannya pun terdiam. Wanita itu mencoba mengingat semuanya. Dia yang tengah mendekap guling, tetapi kenapa merasakan elusan? Dengan cepat, Qiana membuka mata dan mendongakkan kepala. Tepat saat itu, Qiana melebarkan kedua mata.‘Astaga,’ batin Qiana.“Pagi,” sapa James.Qiana yang menyadari kalau sejak tadi bukan bantal guling yang didekap pun semakin diam. Mulutnya tertutup dengan raut wajah kaku.

  • Wanita Simpanan CEO   [69] Tidur di Kamar yang Sama

    Hening. Qiana hanya diam, menatap ke arah langit kamar dengan raut wajah berpikir. Dia masih mengingat semua ucapan James padanya. Ada perasaan berbeda setiap kali dia mengingatnya. Pasalnya dia tidak pernah mempercayai pria itu sama sekali. Qiana bahkan selalu bertingkah buruk dengan James, tetapi pria itu masih begitu percaya dengannya.Apakah menjauh dan memusuhi James bukanlah hal yang benar? Qiana mulai memikirkan hal tersebut. Dia mulai merasa kalau semua perlakuannya dengan sang suami adalah salah. Pikirannya benar-benar semakin kacau sejak beberapa menit yang lalu. Qiana merasa kalau dia tidak bisa berpikir dengan benar. Hingga pintu kamar mandi terbuka, membuat Qiana mengalihkan pandangan.Deg.Qiana yang melihat James sudah keluar kamar mandi pun hanya diam. Mulutnya setengah terbuka saat melihat sang suami yang tidak mengenakan pakaian. Kali ini James hanya menggunakan celana panjang dan membiarkan bagian dadanya terbuka. Otot yang terbentuk sempurna membuat Qiana menelan s

  • Wanita Simpanan CEO   [68] Memercayaimu Sepenuhnya

    Alvan turun dari mobil dan melangkah ke arah perusahaan. Hari ini dia cukup puas. Langkah pertamanya untuk memisahkan Qiana dan James pasti akan berhasil. Dia benar-benar begitu percaya diri dan yakin bisa mendapatkan Qiana lagi. Bagaimanapun dia pernah bersama dengan Qiana dan dia cukup tahu apa yang akan dilakukan untuk mendapatkan hati wanita itu.Alvan terus melangkah dan berhenti saat berada di depan lift. Dia menunggu, tetapi tidak terlalu lama, pintu terbuka. Dia pun segera masuk. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana dan memasang raut wajah sinis. Hingga pintu lift kembali terbuka, membuat Alvan segera keluar. Tujuannya kali ini ada ruang kerja yang terletak di ujung.Alvan yang sudah sampai di ruangan pun membuka dengan tenang sembari berkata, “Lihat saja. Aku pasti bisa mengalahkan egonya.”“Ego siapa?”Alvan menghentikan langkah dan langsung mengalihkan pandangan. Dia menatap ke asal suara, dimana Jessica sudah duduk di sofa. Wanita itu menyilangkan kaki. Kepalanya dimi

  • Wanita Simpanan CEO   [67] Bukti Perselingkuhan

    “Aww,” desis Alvan dengan wajah menahan sakit.Qiana yang mendengar hal itu pun menatap ke arah Alvan dengan wajah memelas. Dia merasa kasihan dengan pria yang baru saja mendapatkan tamparan dari sang mama. Padahal saat di dalam tadi dia pikir mamanya tidak akan melakukan hal semacam ini. Ya, Qiana tahu Alvan datang, tetapi tidak pernah terpikir kalau sang mama akan mengamuk dengannya. Bagaimanapun mamanya pernah sesayang itu dengan Alvan.“Maafin Mama ya, Alvan. Aku yakin, Mama gak sengaja tadi,” ucap Qiana. Dia benar-benar tidak enak hati atas semua yang dilakukan mamanya. Dia dan Alvan memang berpisah dengan cara yang buruk, tetapi dia sudah memaafkan semuanya. Dia sudah ikhlas dengan semua yang terjadi.Alvan yang mendengar pun tersenyum kecil dan menganggukkan kepala. Dia menyahut, “Gak masalah, Qiana. Aku juga tahu alasan Tante Siska marah. Dia pasti kesal karena anaknya dulu aku permainkan. Maaf untuk semua, Qiana.”Qiana hanya tersenyum tipis saat mendengar apa yang Alvan kata

  • Wanita Simpanan CEO   [66] Memilih Menurut

    Hening. James yang mendengar hal itu pun diam. Permintaan sang mama benar-benar sulit. Dia sendiri tidak yakin bisa melakukannya. Pasalnya dia begitu membenci Deolinda. Sedangkan Qiana juga membutuhkan dirinya. Dia tidak mungkin meninggalkan istrinya yang tengah mengandung. Kali ini, sang mama benar-benar memberikan keputusan yang menurutnya sulit.“Bagaimana, James? Kamu sepakat?” tanya Ishana dengan tatapan mengamati.Sejenak, James hanya diam dan tidak mengatakan apa pun. Dia memperhatikan sang mama lekat. Terlihat jelas sekali senyum sinis di bibir sang mama yang menandakan kemenangan. Hingga James yang sudah membuat keputusan membuang napas lirih dan berkata, “Aku bisa tinggal dengan Deolinda, memperlakukannya dengan baik. Tapi kalau aku tidak datang ke rumah Qiana, aku tidak bisa.”Seketika, kedua mata Ishana melebar. Rahangnya mengeras dengan kedua tangan mengepal. Tanpa sadar, dia bangkit dan berkata, “James, mama hanya meminta kamu tidak ke rumahnya lagi. Apa sesulit itu? Ter

DMCA.com Protection Status