Bab 3
Semua anggota keluarga menunjukkan raut wajah yang sama, cemas. Cemas akan keadaan kak maya didalam sana. Aku duduk di bangku tunggu panjang rumah sakit ditemani papa. Sedangkan mama dan kak vano sedang gelisah terlihat dari cara mereka mondar-mandir di depan ruangan kak maya di tangani. Ya, di depan ruang ICU kami semua menunggu dengan harap yang tinggi bahwa kak maya dan calon bayinya baik-baik saja. Aku menoleh ke arah papa, bagi sebagian orang sosok papa dalam keluarga adalah sosok yang terlampaui gengsi dalam mengungkapkan kasih sayang kepada anaknya tapi aku sangat yakin jauh dalam lubuk hatinya tersimpan cinta yang sangat besar untuk anak-anaknya. Itu terbukti saat aku mengamati sorot mata papa, ada gambaran kasih sayang yang luar biasa, kesedihan, kerinduan untuk memeluk anaknya yang sekarang sedang berjuang di dalam ruangan sana, dan kecemasan. Hingga tanpa sadar papa mengusap sudut matanya yang sudah berair.
Aku meraih tangan papa, sedikit menggenggam untuk menyalurkan kekuatan yang sebenarnya aku pun takut akan terjadi apa-apa pada kak maya. Papa menoleh mendapatiku tersenyum tipis kearahnya. Kami memang jarang terlihat bersama seperti kebanyakan anak dimanja sama papanya, ditemani kesana dan kesini, karena kami dari kecil sering di tinggal papa bekerja di luar kota.“Tenang Pa, Kak Maya pasti berjuang untuk kita. Dokter pasti mengupayakan yang terbaik untuk kak maya.”“Papa menyesal Del, dulu saat kalian masih kecil Papa sering meninggalkan kalian untuk bekerja di luar kota. Hingga sekarang Maya menikah kadang Papa enggan hanya sekedar mengunjunginya, itu semua karna ego Papa Del. Papa menyesal,” jelas papa panjang lebar sambil menangis. Baru kali ini aku melihat papa menangis karena anaknya.“Pa, kami tidak pernah menyesal mempunyai papa yang sangat mencintai kami. Kami paham semua yang Papa lakukan untuk keluarga kecil kita.”Tangan papa melepas genggaman tanganku dan terjulur membelai kepalaku. Demi Allah aku rindu saat-saat seperti ini, dulu aku terakhir kali saat kami SD. Aku berucap dalam hati, pa delina sangat sayang sama papa dan mama.Tangis papa makin lama makin tergugu, aku berusaha menenangkan. Mama mengambil duduk tepat disebelahku sambil mengusap air matanya dengan tisu yang tadi dibawanya. Kak vano masih berdiri termenung di depan pintu kaca bertuliskan ICU dengan tinta merah.Aku mendengar suara derap langkah beberapa orang dari lorong masuk ke ruang ini. Mataku menyipit demi melihat siapa yang datang, ketika mendekat barulah terlihat yang datang. Ada bunda dan ayahnya kak vano, kakaknya dan suaminya, dan dua orang yang membuatku terkejut. Tunggu, bukankah itu pak fikri dan bu firda? Kenapa meraka ikut dengan keluarga kak vano? Apa hubungannya?Belum selesai keterkejutanku, pintu ruangan ICU dibuka oleh dokter yang tadi menangani kak maya. Dia terlihat buru-buru. Langkahnya dicegat oleh kak vano.“Dok, bagaimana keadaan istri saya?” tanya kak vano.“Sebentar ya Pak, untuk saat ini pasien sedang kritis. Saya harus mengambil beberapa alat untuk dibawa ke mari. Mohon tetap tunggu di luar," jelas dokter tadi.Orang tua kak vano segera menghampirinya dan seperti memberikan kekuatan kepada anaknya. Aku ini kenapa harusnya aku memikirkan kak maya tapi kenapa malah aku sering memperhatikan kakak iparku diam-diam. Ya Allah, ini salah. Jangan sampai aku hanyut dalam fikiran-fikiran tentang masa lalu. Aku segera menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Di sebelah kananku pak fikri sudah duduk dengan santai, bisa-bisanya ini orang duduk di tengah-tengah aku dan papa. Sedangkan bu firda mengambil duduk tepat di samping mama. Berkali-kali aku melihat pak fikri dari sudut ekor mataku, dia sedang menatapku lama sekali. Aku tidak tahu apa yang ada dalam fikirannya ketika memandangku, yang jelas aku sedikit risih dipandang seperti itu. Inginku pelototi saja pak fikri ini andaikan tidak dalam situasi seperti ini.****
Aku sedang berada di kantin rumah sakit yang tentunya dengan pak fikri. Aku sempat ngotot untuk tidak ikut dengannya kalau saja tidak disuruh papa. Kami menikmati makanan dalam diam, pak fikri yang mungkin sedang berusaha mencari-cari topik pembicaraan dan aku yang memang enggan untuk berbicara. Bagiku tidak ada yang ingin aku bicarakan untuk saat ini, fikiranku masih terfokus untuk kak maya.
“Emmm Bu Delina, yang sabar ya. Yang tabah, Mbak Maya pasti baik-baik saja," ujar pak fikri memecah keheningan.“Iya, terima kasih Pak.”Kami pun diam lagi, karena tidak tau harus bicara apa lagi. Seketika aku teringat kejadian waktu pak fikri dan bu firda datang. Demi rasa penasaran aku mencoba menanyakan hal ini pada pak fikri. Aku pinggirkan piring makananku ke sisi meja sebelah kiri, dan segera meraih jus jeruk yang aku pesan. Setelah minum, aku mengelap mulut dengan tisu dan mulai untuk bertanya pada sosok laki-laki di hadapanku ini.“Pak Fikri, saya boleh menanyakan sesuatu?” Dia menatapku, dan berhenti memakan makananya.“Boleh Bu, dengan senang hati saya akan menjawabnya," senyumnya selalu terkembang ketika menanggapi semua pembicaraanku.“Kalau boleh tahu, hubungan Pak Fikri dengan keluarga kakak ipar saya apa ya?”
“Ohehehe rupanya Bu Delina penasaran ya kenapa tadi Tante Indri dan Om Surya datangnya bareng sama saya dan mama,” ucap pak fikri.“Iya,” jawabku singkat. Bukannya langsung menjawab to the point malah memperlambat jawab saja pak fikri ini. Lalu dia memindahkan piring makanannya berada diatas piringku tadi, dan mulai meminum minumannya dulu. Aku beri waktu dia untuk menyelesaikan ritual makannya baru dia bisa menjawab.“Mama saya dan Tante Indri itu masih kerabat, ya walaupun sudah agak jauh Bu," jelasnya.“Kerabat?” mataku menyipit mengulang pernyataan pak fikri. Aku mencoba mengingat waktu pernikahan kak maya dan kak vano lima tahun lalu. Aku rasa aku tidak menemukan pak fikri dan keluarganya datang saat resepsi pernikahan kak maya waktu itu.“Dulu waktu Mbak Maya dan Vano menikah saya dan keluarga berada di luar kota Bu, ada sesuatu urusan. Jadi saya tidak bisa hadir dalam resepsinya,” dia menjelaskan padaku seolah memahami apa yang baru saja aku pikirkan.“Oh begitu ya pak,” aku manggut-manggut mendengar penjelasannya.“Lalu, tadi kok bisa barengan kesininya pak?” lanjutku menanyakan kedatangannya di rumah sakit ini.“Tadi saya dan Mama memang lagi dirumah tante indri, terus beliau mendapatkan telpon dadi vano katanya mbak maya masuk rumah sakit setelah tadi pagi tujuh bulanan.”Tante Indri dan Om Surya memang tadi pagi ke rumah untuk ikut acara tujuh bulanan, tapi waktu tamu pulang mereka juga ikut pulang ke rumahnya. Pikiranku kalut lagi membayangkan keadaan kak maya.Semilir angin di kantin rumah sakit membelai ujung jilbabku, sedikit tenang ketika wajahku diterpa angin sore. Aku mengedarkan pandangan ke atas langit, menikmati warna senja. Hatiku bisa sedikit lega ketika memandang warna cerah diatas sana. Sungguh indah ciptaanmu Ya Allah dengan kuasamu. Seketika aku tersadar diri ini bukan apa-apa dibandingkan DIA Dzat Yang Maha Sempurna. Diri ini merasa kerdil karena diri ini hanya satu macam dari semua ciptaanNYA yang ada di alam semesta ini. Aku memejamkan mata sebentar untuk menikmati hawa sore hari di kantin rumah sakit dengan ditemani pak fikri yang dari tadi hanya duduk terpekur ditempatnya.****
Aku berjalan beriringan dengan pak fikri melewati koridor demi koridor rumah sakit menuju ruang ICU. “Bu Delina, nanti kalau Ibu mau pulang biar saya antar saja ya?” pinta pak fikri. Aku menghentikan langkah dan menatap pak fikri. “Maaf Pak, saya tidak akan pulang sebelum kakak saya sadar. Kalau Pak Fikri mau pulang silahkan pulang duluan.” Setelah berucap aku gegas segera berjalan melanjutkan langkah, meninggalkan pak fikri yang masih terdiam.Aku telah sampai di depan pintu ruang ICU, aku mendapati mama, papa, orang tua kak vano, dan bu firda semua duduk di kursi tunggu. Sedang kak vano tetap berada pada tempatnya sejak tadi sebelum aku ke kantin. Ya, persis di depan pintu ruangan. Aku mendekati kak vano mencoba mengajaknya berbicara, walau aku tahu kak vano selalu bersikap dingin pada adek iparnya.“Kak, yang sabar. Kak Maya pasti bisa melewati masa kritisnya. Kakak duduk dulu aja disana bareng semuanya, biar gantian Delina yang disini," ucapku.“Gak, kamu aja yang duduk. Aku disini saja,” jawabnya dingin. Sudah aku bilang kan dia selalu dingin dengan adek ipar. Padahal sebenarnya dia tahu kalau aku adalah adek tingkatnya waktu di kampus dulu.Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, munculah seorang dokter cantik dengan jilbab warna biru tua dan ditangannya sedang sibuk melepas sarung tangan medis.“Dok, bagaimana keadaan Istri saya? Dia baik-baik saja kan dok" kak vano langsung memburu dokter cantik tadi dengan pertanyaan.“Tenang dulu Pak, sabar," jawab dokter cantik tadi yang aku tahu bernama Dokter Anisa dari name tag yang tersemat di dada sebelah kanannya.“Begini pak, bu. Bu maya menderita kanker getah bening stadium empat," ucapnya. Keterangan dokter anisa bagai petir menyambar di seluruh anggota keluargaku. Ya Allah kak maya, hatiku serasa menjerit.“Yang saya sesalkan kenapa Bu Maya tidak dibawa periksa sejak dulu, sebelum semuanya fatal seperti ini?” dokter anisa menarik nafas sebentar sebelum akhirnya melanjutkan penjelasan.“Bu maya kalau tidak segera ditangani akan membahayakan nyawanya. Tapi, pihak keluarga harus tabah karena kami hanya bisa menyelamatkan satu nyawa. Ibunya atau bayinya. Maka dari itu saya memberi waktu ibu dan bapak itu memikirkan segala kebaikan untuk pasien dan calon bayinya. Nanti penanggung jawab silahkan datang ke ruangan saya untuk menandatangani berkas operasi. Kalau kami bisa akan kami selamatkan dua-duanya, tapi ini kemungkinan kecil bisa terjadi. Berdoa saja semoga ada mukjizat dari Allah,” jelasnya. Ucapan dokter yang panjang itu seakan berputar pada kepalaku. Dokter anisa melangkah menuju ruangannya sendiri seraya menepuk pelan pundakku sebagai kepeduliannya.Kak maya....Bab 4Semua yang berada di depan ruangan kak maya lemas seketika. Bagaimana tidak, kak maya yang selama ini bisa dibilang sehat walafiat tiba-tiba di vonis dokter sakit kanker getah bening.Aku hampir limbung kalau saja pak fikri tidak sigap menahan tubuhku. Aku melirik mama, keadaannya sama menangis tergugu di pelukan bu firda. Tak beda jauh dari mama, papa tubuhnya pun merosot ke lantai rumah sakit. Dan kak vano, untuk pertama kalinya aku melihatnya sesedih ini. Dia terduduk lemas di depan pintu kaca dengan tangan berada diatas kepala sambil meremas rambutnya sendiri. Menandakan bahwa dia sangat terpukul.Kak vano bangkit dari duduknya dan berjalan gontai kearah mama. Dia menjatuhkan diri dihadapan mama, bersimpuh di kaki mama. Dengan suara bergetar dia berkata.“Maafkan vano ma, vano yang salah. Andai saja vano lebih memperha
Bab 5Mama memeluk papa dengan erat, sambil mencoba menetralisir perasaan dalam dadanya yang kelihatan semakin menyesakkan. Beberapa kali mengatur nafas akhirnya mama mulai bicara.“Maya pa..,” mama mengulangi ucapannya dalam dekapan papa.“Iya ma, maya kenapa? Bilang sama papa pelan-pelan,” sahut papa dengan penuh kelembutan.“Maya minta semuanya mengikhlaskan maya, dan membiarkan anaknya hidup pa. Hu..hu..hu..” Tangis mama semakin menjadi.“Maya..,” gumam papa dengan nada lemas.Ya Allah kak maya, kenapa kamu mengambil keputusan ini kak? Kedua bahuku serasa ditimpa batu besar, ini berat sekali ujianMU Ya Allah. Mama menenggelamkan wajahnya dibahu papa, dan papa beberapa kali terlihat mengusap sudut matanya. Begitu pun tante indri dan om surya, mereka
Bab 6Aura ketegangan masih menyelimuti kami, dengan di dominasi kecemasan. Salah satu suster membuka pintu, dan melangkah ke arah kami mungkin akan memberikan informasi mengenai kak maya.“Mohon maaf, disini ada yang bernama Delina?” ucap suster tadi.Dahiku mengernyit, kenapa suster menanyakan aku?“Iya, saya sus. Ada apa ya?” jawabku.“Bu maya ingin bertemu dengan anda bu," ucapnya.“Baik sus.”Aku berpamitan pada mama dan papa, dan lansung mengikuti langkah suster masuk ke dalam ruangan, tapi batinku bertanya ada apa kak maya ingin bertemu denganku?Hatiku mencelus ketika melihat kondisi kak maya, inikah kakak cantikku? Raut wajah lemas dengan selang oksigen bersarang di hidungnya. Hatiku rasanya tak kuasa melihatnya, sakitnya sungguh luar
Bab 7Keesokan harinya aku meminta izin kepada dokter untuk pulang ditemani oleh pak fikri karena pemakaman kak maya dilaksanakan pagi ini. Hatiku tersentuh ketika pak fikri selalu ada untukku, memberi perhatian, menenangkan dan juga rela menemaniku semalaman di rumah sakit demi perkembangan si kecil yang ada di ruangan bayi.Setelah aku mendapatkan izin dari dokter dan beliau mengatakan bahwa kalau perkembangan sekecil apapun mengenai putri kak maya akan segera beliau informasikan. Aku berjalan beriringan dengan pak fikri menuju parkir di area basement rumah sakit. Keheningan menyelimuti kami, karena aku ingin segera pulang dan membantu mengurus pemakaman kak maya.Sesampainya di mobil, pak fikri segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Aku lebih memilih berkonsentrasi melihat jalanan, tapi aku bi
Bab 8Besoknya aku perlu memastikan dulu keadaan mama sebelum aku tinggal berangkat mengajar. Mama bersikeras menyuruhku berangkat ke sekolahan, supaya tidak kepikiran mak maya. Tapi justru aku yang takut mama masih kepikiran almarhumah anak cantiknya itu. Aku keluar dari kamar mama dan berpapasan dengan papa yang mau masuk kamar. Aku melirik jam dinding yang terletak di ruang tengah, jam menunjukkan pukul 06.15. Tumben papa jam segini masih memakai celana pendek dan kaus oblong, apa papa masih meliburkan diri dari kantor.“Pa, masih libur?” tanyaku yang spontan menghentikan langkah Papa.“Iya Del, Papa masih izin libur. Kasihan mamamu kalau Papa tinggal pasti sendirian, semalem mamamu mimpi almarhumah kakakmu del. Akhirnya dia nangis sampai mau shubuh,” jelas papa sambil
Bab 9Aku tetap menjalani hidup seperti biasa dua hari ini, seperti sore ini aku pulang mengajar menjelang senja. Aku selalu menikmati pemandangan senja dari motor yang aku kendarai. Tidak berhenti-berhenti untuk mengagumi ciptaanNYA yang sangat indah. Ketika di perempatan lampu merah ada sesuatu yang membuat hati ini terenyuh. Ada bocah perempuan kecil berumur sekitar sembilan tahun an sibuk menjajakan donat yang dia bawa dalam keranjang plastiknya, terlihat masih banyak donat. Aku melambaikan tangan padanya, menyuruhnya mendekat kearahku selagi lampu merah masih menyala.“Mau donat kak?” tawarnya menatapku, aku menatap lampu merah sekali lagi ternyata sudah mau lampu hijau.“Dek, tunggu kakak di seberang jalan sana ya. Ini sudah mau lampu hijau, nanti kakak beli donatny
Bab 10Pagi ini kami sekeluarga berangkat ke rumah sakit untuk membawa alea pulang. Kami berangkat menggunakan mobil papa. Rasanya bahagia Allah telah mengabulkan doa-doa kami semua untuk kesehatan alea. Karena hanya alea kenang-kenangan dari almarhumah kak maya yang bisa kami lihat setiap saat. Papa mengendarai mobil dengan tenang karena suasana jalanan yang lumayan lenggang. Aku libur karena hari ini tidak ada jadwalku mengajar, jadi aku bisa sekalian menjemput alea. Aku masih ingat kemarin waktu aku ke rumah sakit mata alea sudah terbuka, dia menatapku lama seolah mengajak bicara. Mama menolehku dari kursi depan karena beliau tahu dari tadi aku tersenyum. Itu membuatnya menggelengkan kepala karenaku.Di setiap perempatan lampu merah aku selalu celingukan menoleh kanan dan kiri, berharap bertemu dengan sifa. Tapi sepertinya anak itu tidak ada, ap
Bab 11Setelah dari kamar mandi aku bergegas untuk membuka bingkisan dari tante indri. Ternyata sebuah kerudung berwarna putih polos dengan sedikit payet di tepinya, bagus sekali. Aku menemukan notes kecil didalam paper bag, ada-ada saja tante indri ini.Nak Delina,Pakai kerudung ini saat prosesi Akad Nikah dengan Vano ya. Ini kerudung yang Tante pakai dulu saat Akad Nikah dengan Om kamu.Ohya, mulai sekarang biasakan manggil Tante dengan sebutan Bunda dan Om dengan sebutan Ayah ya Nak. Karena kamu calon menantu Bunda.Salam hangat,IndrigianaAku memeluk kerudung putih tadi dengan rasa yang sangat terharu. Aku merasakan begitu besar pengharapan tante indri dengan pernikahan ini. Aku merapikan kerudung dan menaruhnya di lemari pakaian berjajar dengan baju pengantin sederhana yang telah aku pesan beberapa h
Bab 20“Alea mandi dulu ya, Nak. Biar makin cantik,” ucapku pada Alea yang terlihat menghisap jempolnya.Pukul 08.30 aku telah selesai memandikan Alea dan aku sendiri juga sudah mandi. Aku membawa Alea ke teras dengan baby strollernya, bibir mungilnya terlihat mengecap-ngecap sesuatu. Aroma khas bayi pun menguar ketika aku mendorong baby strollernya.Sampai teras aku menaruh baby stroller di dekat kursi dan aku mengambil selang air, beberapa tanaman tanpa hampir mengering. Mungkin Mas Vano tidak sempat melakukan ini semua, pikirku. Dengan telaten tanganku mulai membersihkan daun-daun yang rontok dan aku menyapunya.“Wah, rajin sekali, Bu,” ucap seorang ibu yang mengagetkanku. Aku menoleh ke arah sumber suara ternyata Bu Sri yang aku temui di tempat penjual sayur tadi pagi.“Iya Bu S
Bab 19Aku menaruh Alea pada baby stroller dan merapikan bajunya. Dia terlihat memainkan mulutnya sendiri dan menggenggam ujung bajunya, menggemaskan sekali kamu Nak, pikirku."Anak mama tiduran di sini dulu ya, Mama mau makan sebentar ya, Nak," ucapku sambil mendorong baby stroller mendekati meja makan.Aku mendudukkan diriku di kursi lalu mulai memakan nasi yang tadi sudah aku ambil. Satu suapan, dua suapan masuk dalam mulut tapi aku termenung memikirkan Mas Vano lagi. Beberapa waktu lalu sudah teralihkan tapi malah sekarang kepikiran lagi saat aku menyantap masakanku yang harusnya ini juga dinikmati oleh lidah Mas Vano."Kenapa Mas? Kenapa kamu tidak bisa menghargai usahaku sedikit saja," ucapku sendirian dengan terus menyuap nasi pada mulutku.Beberapa saat kemudian ponsel yang aku kantongi be
Bab 18Aku berjalan gontai menuju kamar utama dengan sesekali tanganku masih menyusut air mata yang terus menetes. Kenapa mas Vano sama sekali belum menerimaku di rumah ini. Terdengar tangis Alea nyaring di telinga ketika aku hampir menyentuh gagang pintu. Lalu aku segera membuka pintu, anakku terlihat menangis dengan keras seolah ikut merasakan sesak yang ada di hati mamanya.Alea masih terus saja menangis ketika aku mengganti popoknya yang sudah basah. Lalu aku menggendongnya dengan penuh kelembutan dan menimang-nimangnya supaya tangisnya terhenti. Aku membawa Alea keluar kamar, tak lupa aku meraih ponselku yang tergeletak di atas nakas mungkin saja nanti aku ingin menghubungi seseorang.Langkahku terus saja menuju dapur dengan menggendong Alea, aku meraih satu panci agak besar yang ada di rak lalu aku isi air dan merebusnya untuk air mandinya Alea. Tak lupa aku mengambil satu panci lagi yang kecil untuk aku gunakan merebus air guna membuat susunya A
Bab 17 Tepat pukul 21.00 aku mendengar deru mobil masuk ke dalam halaman rumah. Aku yang tadi sempat merebahkan diri di samping Alea gegas turun dari ranjang. Tanganku menyalakan sakelar lampu ruang tengah tamu. Aku berjalan perlahan sambil memijit kepalaku yang terasa agak pening. Aku menuju pintu depan supaya mas Vano tidak terlalu lama menunggu. Terdengar ketukan dari pintu depan, aku segera membukanya. Mas Vano langsung masuk ke dalam rumah setelah pintu berhasil terbuka dan mengucap salam. Aku menutup pintu kembali dan menguncinya lalu ikut masuk ke dalam di mana mas Vano berada. Terlihat dia sedang duduk di ruang tengah sambil mengendurkan dasi miliknya. Aku berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk suamiku. Aku sedikit heran, dia pulang malam tapi kenapa bau parfum mas Vano masih sangat menyengat. Namun di sisi lain dia terlihat seperti kelelahan. Aku mempercepat gerakanku membuat teh hangat. Setelah selesai aku segera membawa
Bab 16Jam dinding menunjukkan pukul 04.00 ketika aku membuka mata. Aku merenggangkan otot sejenak dan melirik Alea yang masih berbaring dengan tenang. Aku menurunkan kakiku dari ranjang, mataku memandang sekeliling kamar tapi tidak aku temukan kak Vano berada di dalam kamar. Aku beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan menunaikan sholat subuh.Alea terlihat menggeliat pelan saat aku telah selesai melipat mukena. Aku menenangkannya sebentar supaya tertidur lagi. Ku rasakan dia tenang kembali, aku menggeser badanku pelan-pelan untuk turun dari pembaringan. Aku membuka handle pintu dengan sangat pelan agar Alea tidak terganggu tidurnya dan mencari keberadaan kak Vano.Mataku membelalak melihat suamiku tidur dengan menyandar pada sofa ruang tengah, di depannya terdapat tumpukan kertas berkas mahasiswanya.“Kak Vano,” ucapku membangunkannya dengan menyentuh ujung sikunya.“Kak,” aku mengulangi ucapanku.
Bab 15Cahaya mentari pagi menerobos masuk ke dalam kamar melalui jendela yang sudah terbuka. Aku menyipitkan mata dan mengerjap menyadari ini sudah pagi. Aku melirik sofa tempat kak Vano tidur semalam, kosong. Bantal dan selimutnya sudah tertata rapi di ranjang. Ke mana dia, kenapa dia tidak membangunkanku. Aku menyibakkan selimut lalu merapikannya, dan segera mandi.Lima belas menit kemudian aku selesai dan mematut diriku di cermin. Aku memakai daster berbahan kaos dengan lengan sepanjang siku dan panjang di bawah lutut. Aku terbiasa memakai daster ketika di rumah, toh tak apa karena yang melihat hanya keluargaku sendiri. Aku membuka pintu kamar untuk membantu mama di dapur. Ketika melewati ruang makan ternyata sudah tertata rapi makanan yang sudah disiapkan mama untuk sarapan pagi ini. Aku bangun kesiangan, sungguh tak sadar ketika pagi menyapa. Mungkin ini juga efek acara kemarin yang melelahkan dan beberapa kejadian yang membuatku berpikir keras.Aku mela
Bab 14Pembicaraan mama dan Sifa terhenti saat ada pelayan yang membawakan makanan untuk kami. Aku memesan tiga porsi nasi padang dengan lauk ikan mujair dan juga tiga gelas es teh manis. Kami menikmati makan dalam diam. Tapi sedari tadi aku melihat mama juga tengah memandang Sifa dengan dalam. Ada apa sebenarnya? Apa ada hubungannya dengan ibunya Sifa? Karena pada saat Sifa menyebutkan nama ibunya beliau terlihat kaget. Teka teki apa lagi ini. Aku berencana untuk mengantar Sifa pulang sampai rumahnya supaya semua jelas.Setelah kami bertiga selesai makan aku memesankan makanan untuk Sifa biar dibawa pulang buat ibunya. Aku melirik mama dari meja kasir, beliau tampak memperhatikan Sifa dengan menatap dalam. Aku membayar dan kembali ke meja dengan membawa bungkusan nasi untuk Sifa. Kami segera keluar menuju parkir.“Sifa, kakak anter sampai ke rumah ya?” Pintaku padanya.“Gak usah kak, aku jalan kaki aja terima kasih,” ucapnya.
Bab 13Setelah beberapa saat termenung memikirkan raut wajah konyolku baru saja, aku dikagetkan dengan suara tangis alea. Dia mengompol ternyata, aku segera mencari popok yang bersih di keranjang dan mengganti popok anak cantikku ini. Aku berpikir alea adalah malaikat kecil bagiku, dia begitu mengerti keadaan sekitar. Bahkan dia mungkin bisa memahami bahwa mama kandungnya sudah lebih dulu meninggalkannya. Aku menggendongnya dan aku timang pelan-pelan agar tangisnya reda. Apa kak vano tidak merasakan kalau anaknya menangis di kamar ini, dia seperti terlihat menghindari anaknya sendiri. Aku tahu mungkin kak vano masih di selimuti bayang-bayang kak maya, tapi apa harus alea juga yang menanggungnya?Aku melangkah keluar kamar untuk menemui mama dengan menggendong alea yang sudah berhenti menangis. Aku berjalan ke arah dapur mencari mama ternyata tidak ada, papa juga tidak ada. Aku putar arah melangkah ke luar rumah mungkin mama di teras sore-sore begini. Tapi ketika di teras
Bab 12Akad nikah berjalan dengan lancar, serangkaian acara yang digelar pun semua lancar. Tampak mama dan papa sangat bahagia dengan cucu mereka ada di gendongan mama. Alea sepertinya sudah mengerti bahwa hari ini adalah hari bersejarah untuk mama keduanya, sehingga dari tadi pagi dia tampak anteng, tidak rewel sedikit pun walau pun keadaan sekitar lumayan ramai. Aku menatap ayah dan bunda, mertuaku itu tampak bahagia sekali. Pandanganku terhenti pada kak vano yang sedang mengobrol di pojok ruangan bersama beberapa kerabat tampak begitu tampan di mataku, tapi raut keterpaksaannya nampak sekali di wajahnya. Aku ingin berbicara berdua setelah dengannya setelah ini.Beberapa rekan guru terlihat berdatangan walau mereka sedikit telat. Mereka terlihat ikut larut dalam kebahagiaan ini. Aku sengaja melakukan akad nikah di har