"Apa ada hal baik yang terjadi?” tanya Marcell.Pagi ini, Marcell sedang sarapan bersama Lydia dan Adel. Namun, fokusnya terus tertuju pada Lydia yang tak berhenti tersenyum, bahkan entah kerasukan apa, wanita yang masih berstatus istrinya itu menyapanya dan Adel dengan ramah.Padahal, biasanya Lydia hanya diam dengan tampang dingin.“Hm?” sahut Lydia, diam sejenak.Pikirin Lydia masih dipenuhi oleh Damian yang semalam. Senyum pria itu, tatapannya, genggaman tangannya, dan tentu saja ciuman mereka sebagai pasangan.“Ah, hal baik. Ya, tentu saja ada,” jawab Lydia.“Tentang lukisanmu?”Lydia mengangguk, berbohong. Entah akan sekaget apa Marcell kalau tahu hal baik yang dia maksud adalah jadian dengan Damian.“Aku sudah selesai,” ujar Lydia lalu beranjak dari kursinya, dia lantas menatap Adel dengan senyum elegan. “Makanlah yang banyak, agar bayimu nggak kekurangan gizi.”Adel menggenggam alat makan erat-erat. Dia kesal mendengar kalimat Lydia yang entah mengapa seperti ejekan baginya, d
Alunan tenang piano musik klasik Nocturne in E Flat Major Op. 9 No. 2 karya Chopin menemani Lydia yang sedang melukis.Meski demikian, hasil lukisan Lydia menggambarkan kemarahan terpendam di balik raut datar dan tatapan dinginnya.Lukisan abstrak yang tak semua orang akan paham maknanya. Campuran warna merah, hitam, dan oranye dengan sapuan kasar dan tebal seolah warna-warna itu sedang berperang.Di bagian tengah lukisan, terdapat wajah yang tampak pecah dan terdistorsi, menggambarkan pengkhianatan yang selama ini dilakukan suaminya!“Sayang.....”Tanpa menoleh pun Lydia sudah tahu siapa yang memanggilnya ‘sayang’, dan siapa yang bisa masuk ke dalam paviliun belakang yang dikhususkan untuk tempat melukisnya? Tentu saja, siapa lagi kalau bukan Marcell, suaminya?Lydia menoleh, menatap pria yang berjalan mendekatinya dengan tampilan berantakan dan noda lipstik di bibir serta tubuh bagian lainnya. Belum lagi kiss mark di leher, seolah Marcell sedang pamer kalau dia baru saja ‘tidur’ de
Dengan wajah datar yang menyembunyikan kemarahannya, Lydia menginjak kuat sapu tangan miliknya di bawah sambil membayangkan dia menginjak Marcell dan Adel.Tatapan Lydia belum lepas dari Marcell, begitu tajam tanpa ada yang menyadarinya, seolah tatapan itu bisa membunuh Marcell seperti pedang tajam yang menghunus.‘Berapa lama lagi aku harus menahan penderitaan ini? Kapan aku bisa bebas?’ batin Lydia.Lydia menoleh, menatap jendela besar di samping. Dia ingin segera bebas dari keterikatan dengan Marcell dan membalas dendam, tapi tidak bisa. Ah, bukan tidak, melainkan belum.Dia kembali bersabar, seperti yang biasa dia lakukan selama dua tahun pernikahan, sabar menghadapi tingkah Marcell dan jal*ngnya yang menjijikkan.Lydia hendak melangkah ke kamar, tapi seoarang ART menghampirinya lalu mengambilkan sapu tangannya di lantai.“Ini sapu tangan Anda, Nyonya. Mau saya cuci atau bagaimana?” tanya ART tersebut dengan pandangan iba kepada Lydia, tentu saja dia tahu apa yang dialami oleh maj
Lydia melangkah memasuki galeri seni. Dress selutut berwarna putih tulang yang membalut tubuhnya mengayun anggun seiring dengan langkahnya.High heels yang dia kenakan mengetuk lantai marmer hingga menimbulkan bunyi. Meskipun tampak tenang di luar, sebenarnya di dalam hati, Lydia begitu berjegolak dikuasai emosi. Bagaimana tidak? Pagi tadi, lagi-lagi dia melihat sang suami bersama wanita j*langnya.Lydia berjalan menghampiri salah satu lukisan yang dipajang, lukisan itu adalah karyanya. Memiliki judul Metamorfosis Sunyi.“Cakep banget lukisannya,” puji seorang wanita, tanpa tahu kalau sang pelukis ada di sebelahnya.“Iya, indah loh. Ada bunga-bunga, itu maknanya apa, ya?” sahut wanita lain di sebelahnya.Lydia melirik sekilas. Mereka terlihat seperti masih mahasiswa, mungkin mengunjungi galeri seni untuk melihat-lihat saja, tanpa terlalu paham soal lukisan.Lydia turut menatap ke depan, ke lukisannya yang dipajang. Di kanvas berukuran besar itu menampilkan seorang wanita dengan mata t
“Tentu saja lukisannya yang indah, memangnya apa lagi kalau bukan lukisannya?” dusta Lydia.Padahal yang dia maksud indah adalah pria di dekatnya ini.Lydia memasang senyum anggun, senyum palsu yang sudah bertahun-tahun diasahnya dengan sempurna. Tanpa ragu, Lydia merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama, kemudian menyodorkannya kepada pria di hadapannya.“Saya seorang pelukis. Lukisan saya juga ada di sini,” ucapnya.Pria itu mengambil kartu nama Lydia, menatapnya sekilas lalu kembali mengamati wajah Lydia dengan ekspresi yang sulit diartikan.Lydia menahan napas untuk sesaat, jantungnya masih berdegup tak karuan.Lydia belum pernah merasa begitu terpikat oleh seorang pria seperti ini. Ada sesuatu tentang pria ini yang membuatnya bergidik, bukan karena takut, tetapi karena sesuatu yang lebih dalam dan sulit dijelaskan.Lydia mengamati pria itu. Barang-barang yang dikenakannya jelas bukan barang biasa.Sepatu kulit berkualitas tinggi yang harganya mencapai ratusan juta,
“Oke, Pa. Aku dan Lydia sudah sepakat, kami akan berusaha lebih keras agar bisa segera punya anak,” ujar Marcell.Sontak, Lydia melotot. Dia belum menyatakan setuju! Namun, pendapatnya mana mungkin digubris ‘kan?Lydia ingin tertawa miris. Setelah dinikahkan paksa, apa dia juga akan dipaksa hamil anak Marcell?Astaga, Lydia tidak bisa membayangkan, bahkan selama dua tahun ini, dia tidak pernah ‘tidur’ bersama Marcell.Ya, itu benar. Sejak malam pernikahan mereka, Lydia sempat menerima Marcell dan hendak pasrah jika diajak berhubungan badan. Namun, di hari itu, Lydia memergoki Marcell berselingkuh. Di hari pertama pernikahan mereka!Dia syok, dan mulai mengetahui tabiat buruk Marcell. Mulai saat itu, dia bertekad untuk tidak akan pernah membiarkan Marcell ‘tidur’ dengannya.Namun, tentu saja, orang tuanya dan orang tua Marcell tidak tahu tentang itu, soal mereka yang bahkan belum pernah ‘tidur’ bersama. Kalau tahu, mungkin dia yang akan dimarahi alih-alih Marcell.“Papa harap bisa mende
Baru saja Lydia mendapatkan ide agar Marcell tidak menyentuhnya malam ini.“Oke, aku setuju. Ayo kita ‘tidur’ bersama malam ini juga. Tapi ini pengalaman pertamaku dan aku gugup, bisa kita minum-minum dulu biar lebih rileks?”“Oke.”Lydia menghela napas lega ketika Marcell melepaskan tangannya. Rencananya adalah membuat Marcell tepar karena mabuk, dengan begitu mereka akan batal berhubungan badan.Marcell keluar kamar usai berganti pakaian. Tak lama, dia kembali dengan membawa sebotol vodka. Dia duduk di sebelah Lydia, bersama-sama di sofa panjang di kamar mereka.Lydia menerima gelas yang dituangkan cairan alkohol itu oleh Marcell. Mereka lantas mulai minum bersama.Sesekali Lydia melirik Marcell yang minum lebih cepat darinya. Memang toleransi alkohol Marcell lebih bagus darinya, Lydia pun hanya menyesap sedikit. Lagi pula, tujuannya membuat Marcell mabuk.“Sudah cukup rileks atau belum?” tanya Marcell.Lydia menggeleng. “Aku masih gugup, sebentar lagi. Kamu juga minumlah lagi.”Usa
Lydia pikir, Marcell mungkin tak akan sudi menyentuhnya kalau dia sudah disentuh oleh pria lain.“Perfect!”Lydia menatap cermin, menampilkan pantulan dirinya yang mengenakan dress seksi setengah paha, berbelahan dada rendah, dan punggungnya terbuka. Dress berwarna merah menyala, dia juga memakai make up tebal dengan lipstik berwarna merah.“Bukankah aku sudah seperti wanita nakal?” kata Lydia ke dirinya sendiri.Ini sungguh bukan dirinya, tapi Lydia ingin membangkang untuk malam ini, untuk pertama kalinya setelah dua tahun pernikahan mereka.Lydia mengenakan cardigan panjang untuk menutupi tubuh seksinya, kemudian ke basement untuk mengambil salah satu mobil Marcell.Lydia kemudikan mobil itu sendirian, membelah jalan raya di malam hari.Tiba di dalam sebuah night club, cahaya remang-remang dan musik yang memekakkan telinga menyambutnya. Lydia berkeliling sambil menatap sekitar, mencari seorang pria yang sekiranya bisa dia jadikan teman tidurnya malam ini.Belum ada pria yang menarik
"Apa ada hal baik yang terjadi?” tanya Marcell.Pagi ini, Marcell sedang sarapan bersama Lydia dan Adel. Namun, fokusnya terus tertuju pada Lydia yang tak berhenti tersenyum, bahkan entah kerasukan apa, wanita yang masih berstatus istrinya itu menyapanya dan Adel dengan ramah.Padahal, biasanya Lydia hanya diam dengan tampang dingin.“Hm?” sahut Lydia, diam sejenak.Pikirin Lydia masih dipenuhi oleh Damian yang semalam. Senyum pria itu, tatapannya, genggaman tangannya, dan tentu saja ciuman mereka sebagai pasangan.“Ah, hal baik. Ya, tentu saja ada,” jawab Lydia.“Tentang lukisanmu?”Lydia mengangguk, berbohong. Entah akan sekaget apa Marcell kalau tahu hal baik yang dia maksud adalah jadian dengan Damian.“Aku sudah selesai,” ujar Lydia lalu beranjak dari kursinya, dia lantas menatap Adel dengan senyum elegan. “Makanlah yang banyak, agar bayimu nggak kekurangan gizi.”Adel menggenggam alat makan erat-erat. Dia kesal mendengar kalimat Lydia yang entah mengapa seperti ejekan baginya, d
Suasana di dalam ruangan mendadak sunyi. Lydia menatap Damian dengan perasaan campur aduk. Dia merasa terkejut, tak percaya, dan jantungnya berdebar begitu cepat hingga dia khawatir Damian bisa mendengarnya.“Damian …” Lydia mengerjapkan mata. “Apa kamu serius?”Damian tidak menjawab dengan kata-kata, hanya menatap Lydia dengan intens.Tatapan itu … Lydia tak bisa mengabaikannya. Ada sesuatu yang berbeda di sana, bukan sekadar ketertarikan, tapi lebih dalam dari itu.Damian menyandarkan tubuhnya ke kursi, tangannya masih memegang segelas wine yang berisi sisa minuman yang belum disentuhnya lagi. Dia tidak main-main dengan ucapannya barusan.“Aku serius, Lydia. Aku ingin menambahkan satu poin dalam kontrak kita. Aku ingin ada kemungkinan bagi kita untuk memiliki hubungan romantis sungguhan, bukan sekadar akting.”Lydia merasa tubuhnya melemas. Ini terlalu mendadak. Dia bahkan masih memproses fakta bahwa Damian menyukainya.“Tapi …” Lydia terdiam sejenak. “Ini terlalu mendadak buatku. A
Damian tampak terguncang setelah meresapi perkataan Felix. Dia bahkan membuat Felix khawatir ketika akan pamit pulang.“Anda mau saya antar?” tawar Felix yang merasa tak tega.“Nggak,” tolak Damian.Di dalam mobil, Damian mengusap wajahnya dengan kasar.DIa tidak menyukai perasaan tidak pasti seperti ini. Selama ini, segala sesuatu dalam hidupnya berjalan sesuai rencana, terkontrol, logis, terstruktur. Dan mayoritas berkaitan dengan pekerjaan.Tapi, sosok Lydia… bagi Damian seperti badai. Masuk ke dalam hidupnya tanpa aba-aba, mengguncang segalanya, dan membuatnya merasa tidak menentu seperti sekarang.Di tempat tidurnya, apakah Damian bisa tidur nyenyak setelah mendapatkan pencerahan dari Felix? Oh, tentu saja, tidak. Dia malah semakin sulit tidur. Terjaga terus-menerus dan makin memikirkan Lydia.Damian menatap jam dindingnya, sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ini gila!Akhirnya, dia bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju dapur, dan menuangkan segelas whiskey. Dia menyesapn
Damian menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Seharusnya dia bisa tidur nyenyak setelah menghabiskan malam panas yang luar biasa dengan Lydia, tapi justru sebaliknya. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.Lydia. Wanita itulah penyebabnya.Nama Lydia terus berputar di benaknya dan di pikirannya. Wajahnya. Senyumnya. Cara dia bicara, cara dia melukis, cara dia menatapnya dengan raut serius. Dan tubuhnya yang terasa begitu pas di dalam pelukannya.Damian menghela napas, menatap tangannya. Dia masih teringat bagaimana rasanya menyentuh kulit Lydia. Hangat. Lembut. Menyebabkan kecanduan.Sialan!Dia bukan tipe pria yang terobsesi pada wanita. Tapi Lydia... wanita itu berbeda. Namun, mengapa harus istri Marcell?“Sepertinya aku mulai gila!” geram Damian pada dirinya sendiri.Tadi di pagi harinya usai ikut sarapan bersama Lydia, dia langsung pamit pulang. Dia tak sanggup berlama-lama lagi dengan Lydia, dia khawatir perasaan aneh ini berkembang semakin besar.Damian merasa bahwa
Hujan masih turun rintik-rintik ketika Damian dan Lydia berbaring di atas kasur dengan napas terengah usai pertempuran panas selama dua ronde.Angin dingin berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan sisa hujan yang menenangkan.Lydia terbaring di samping Damian, tubuhnya dibalut selimut. Dia menatap wajah pria itu dalam keheningan. Rambut Damian berantakan, matanya setengah terpejam, tapi tatapan mata birunya masih terfokus pada Lydia seakan ingin menghafal setiap detail wajahnya.Jemari Damian terangkat, menyentuh wajah Lydia dengan lembut. Ibu jarinya mengusap pipi wanita itu, turun ke sepanjang rahang, lalu berhenti di dagunya."You’re so pretty, Lydia," suara Damian terdengar rendah dan penuh kelembutan. "Saya masih nggak nyangka wanita sempurna sepertimu diselingkuhi."Lydia hanya diam. Tapi, dia merasa dadanya kembali berdebar hebat usai mendengar kalimat Damian yang seperti pujian baginya. Atau, itu memang benar pujian yang tulus?Astaga, rasanya pipi Lydia memanas. Dia sala
Damian mencium Lydia dengan tenang, tak terburu-buru, seakan menikmati setiap detik yang ada.Satu tangan Damian berada di pipi Lydia, sedangkan tangannya yang lain melingkar di pinggang wanita itu, menariknya lebih dekat.Lydia memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam cumbuan Damian yang memabukkan. Ditambah suasana yang sungguh mendukung dengan suara rintik hujan.Lydia mengerang saat Damian memperdalam ciuman. Napas Damian yang bercampur dengan wangi khas tubuh pria itu tercium, rasa bibir Damian yang bergerak semakin intens membuat Lydia berdebar hebat.Damian menjeda ciuman, menjauhkan bibirnya dari bibir Lydia, menarik diri sejenak. Dia menatap Lydia yang masih terpejam dengan napas memburu."Lydia," bisiknya pelan, suaranya terdengar serak.Lydia membuka matanya perlahan, tatapan mereka bertemu dalam keheningan hujan.“Aku … nggak bisa berhenti,” ujar Damian.Lydia belum sempat menyahut, dan Damian sudah lebih dulu menciumnya. Lebih dalam, dan lebih dalam lagi.Lydia
“Kenapa kamu bertanya begitu? Kamu mencurigaiku?” tebak Marcell tepat sasaran.Lydia nyaris panik, tapi untungnya dia bisa mengontrol ekspresinya dengan cepat.“Bukan begitu, Marcell. Aku hanya nggak mau kamu terlibat dan aku juga turut terseret, aku ingin kehidupanku tetap tenang.”Marcell membuang pandangan, dia menegak winenya cukup banyak.“Kamu tenang aja, aku nggak akan mengusik kehidupanmu di tempat kerja.”Setelah mengatakan itu, Marcell beranjak pergi dari sisi Lydia.Lydia diam, mengamati kepergian Marcell dengan rasa penasaran. Baginya, Marcell seperti menggantung jawaban, tak memberikan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan inti tadi. Kalau begini, dia malah curiga.“Nanti aku harus ceritakan ini ke Damian.”Lydia bergegas masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu agar tak ada yang masuk. Dia menelepon Damian, berniat memberi tahu tentang obrolannya dengan Marcell. Tapi, Damian tak mengangkat panggilannya.Lydia mencoba lagi, dan masih belum diangkat. Mungkin Damian sibuk?Ak
“Kamu bilang apa barusan? Saya nggak dengar jelas,” ujar mama Marcell.Lydia melirik Marcell yang sedang menatapnya tajam seolah mengode padanya untuk diam. Lydia hanya balas tersenyum tipis.“Bukan apa-apa, Ma. Hanya membicarakan makanannya enak,” dusta Lydia.Mama Marcell masih penasaran, karena sepertinya tadi Lydia bukan membicarakan soal itu. Tapi ya sudahlah, kembali ke topik utama.“Cukup pembahasan soal anak, Ma. Biar nanti aku dan Lydia memeriksakan kesehatan reproduksi kami ke rumah sakit,” ujar Marcell. Dia khawatir Lydia membocorkan soal Adel, jadi dia harus membela Lydia di sini kan?“Oke, mama tunggu kabar baiknya,” ujar mama Marcell.“Apa itu hal penting yang mau kalian bicarakan denganku?” tanya Marcell.“Bukan, nanti kita bicara berdua,” kata Papa Marcell.Lydia melirik sang papa mertua dengan sorot penasaran, apa hal pentingnya sampai mereka hanya akan bicara berdua? Sepertinya dia tak boleh tahu.Setelah makan malam bersama, Lydia tertahan di sofa, diajak mengobrol
Usai mengenakan pakaiannya, meskipun dengan terburu-buru, tapi tak lama setelahnya Damian kembali seperti biasa. Tetap berwajah datar dan tak ada raut panik sama sekali.Dia mendekati Lydia, menyentuh pundak wanita itu.“Tetaplah tenang, Lydia,” ucap Damian karena Lydia terlihat panik sejak tadi, tak berhenti bergerak gelisah.Lydia menoleh, menatap Damian yang tampak santai. Padahal ini gawat!“Bagaimana bisa aku bisa tetap tenang di saat seperti ini? Ada Marcell di luar! Aku harus menyembunyikan kamu di mana? Nggak mungkin di bawah kasur, terlalu sempit.”Lydia menatap kasur kecil yang tak mungkin muat jika tubuh besar Damian bersembunyi di bawahnya. Tapi tak ada tempat lain lagi, lemari besar yang kosong pun tak ada di sini.“Aku nggak harus bersembunyi, kamu bisa bicara dengan Marcell tanpa harus membuka pintu kan?” ujar Damian.“Benar juga.”Lydia mulai lebih tenang.“Lydia! Bukan pintunya! Sedang apa sampai lama sekali?” tanya Marcell dari luar.Untunglah tadi Lydia sudah sempat