Share

Chapter 129

Author: Sya Reefah
last update Huling Na-update: 2025-01-31 23:58:35

Samuel duduk di tempat tidurnya, kedua kakinya berselanjaran santai di atas kasur yang empuk. Laptop terbuka di pangkuannya, cahaya layar memantul di wajahnya yang terlihat serius, sementara suasana kamar yang tenang menciptakan kesan hening di sekelilingnya.

Liliana menggelengkan kepala perlahan, matanya memandang putranya heran. Putranya itu tampak tenggelam dalam kesibukannya sendiri. Dia duduk diam, fokus pada dunianya sendiri.

“Mama benar-benar heran sama kamu,” katanya kesal sambil berkacak pinggang. “Baru juga pulang dari rumah sakit tapi masih saja kerja. Kamu tuh masih butuh banyak istirahat! Kondisi kamu masih belum pulih sepenuhnya.” Wajahnya tampak tegas, menunjukkan kekhawatiran dan keheranan yang tidak bisa dijelaskan.

Samuel menatap mamanya sekilas dengan senyum tipis di wajahnya. “Samuel sudah jauh lebih baik, Ma,” jawabnya dengan santai. Matanya kembali fokus pada layar laptop di depannya.

Langkah Liliana semakin dekat, wajahnya menunjukkan sedikit kekesalan. “Kamu
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Kaugnay na kabanata

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 130

    Meski hatinya berat melihat Samuel kesepian, dia tahu bahwa cinta tidak bisa dipaksakan, dan terkadang, cinta tak harus memiliki. Dia hanya bisa tetap ada di sampingnya, memberikan dukungan dengan cara yang sederhana, karena, terkadang hal yang paling dibutuhkan adalah kehadiran dan doa yang tulus dari orang terdekatt.Samuel menghela napas panjang, menyadari dirinya terlalu larut dalam pikirannya. Dia mengalihkan pandangannya pada Dave sebelum akhirnya bertanya dengan suara tenang namun tegas, "Bagaimana kondisi di kantor selama aku tidak ada?"Dave segera menjawab, "Semuanya berjalan seperti biasa, Tuan. Beberapa klien menanyakan Anda, tapi sudah ditangani. Tidak ada masalah besar."Samuel mengangguk pelan. "Baik. Aku akan segera kembali. Kau urus semuanya."Dave hanya mengangguk samar. Tak lama kemudian memberikan tablet pada Samuel. "Tuan, ada pembaruan dari klien utama kita. Blackwood Capital ingin laporan performa terbaru sebelum akhir pekan. Mereka menekan soal proyek investa

    Huling Na-update : 2025-02-01
  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 131

    Eva menatap Henry dengan serius, sorot matanya menunjukkan keteguhan. Suasana hening sejenak, dia menunggu jawaban Henry, memastikan perubahan sikap suaminya.Henry membalas tatapan Eva, memikirkan kata-kata yang tepat. Dia merasa kesal pada dirinya sendiri, tetapi juga gengsi untuk mengakui kesalahan secara langsung. Dengan ekspresi serius dan dengan nada ragu dia menjawab, "Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Aku … akan berusaha untuk melakukan yang terbaik kedepannya." Henry menatap Eva dengan sedikit gugup, berharap Eva bisa melihat bahwa dia benar-benar berniat berubah, meskipun sedikit malu mengakui kesalahannya.Eva terdiam sejenak setelah mendengar jawaban Henry, mencerna kata-kata itu dengan benar. Ada gurat keraguan di wajahnya, tetapi dia mencoba untuk tenang. Matanya menatap ke dalam mata Henry, memastikan jawaban itu benar adanya. “Baiklah, aku harap itu bukan hanya sekedar kata-kata, karena aku tidak bisa terus-terusan begini. Aku hanya memberimu satu kali kes

    Huling Na-update : 2025-02-02
  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 132 Hadiah Kecil

    Dengan rasa ragu Eva berucap, “Aku ….”Ucapan itu dibuat menggantung, membuat Henry menatapnya dalam diam. Ada sesuatu yang tak terungkap, sesuatu yang mengambang di antara mereka, tetapi Eva tampak ragu untuk melanjutkannya. “Apa yang ingin kau katakan?” Henry bertanya pelan, berusaha tak mendesak, tapi cukup tegas agar Eva merasa dia siap mendengarkan.Eva menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian, matanya tak bisa menatap langsung ke arah Henry. Beberapa detik kemudian dia menggeleng, mengurungkan niatnya. “Tidak apa-apa, lupakan saja.”Eva kembali fokus pada piring di depannya. Takut jika apa yang dia katakan nanti hanya menjadi angin lalu bagi Henry. Lebih baik dia diam saja daripada harus membuang tenaganya. Sementara Henry, dia bisa merasakan keraguan di wajah Eva. Dia menyadari bahwa istrinya itu belum siap untuk berbicara tentang apa yang mengganggunya.Dia mencoba memberikan ruang tanpa menekan. "Aku tahu kau sedang memikirkan banyak hal," katanya dengan suara

    Huling Na-update : 2025-02-04
  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 133

    Berlian kecil yang terdapat di kalung itu memancarkan setitik kilauan indah. Keindahan itu tampak sangat menyatu. Dia tak salah pilih, kalung itu benar-benar cocok di leher Eva. “Kenapa tiba-tiba sekali?” Eva menatap Henry dengan mata penuh kebingungan. “Apa kau ada maksud tertentu?” Henry sedikit terhenyak dengan pertanyaan Eva tampak mencurigainya. Dia menarik napas sejenak, berusaha untuk tidak terbawa perasaan. Meskipun sedikit terkejut, dia berusaha menjaga ketenangannya dan menatap Eva dengan lembut.“Hadiah itu untukmu, karena akhirnya kau bisa melihat lagi,” jawabnya dengan tenang sabar. Eva terdiam sejenak, matanya sedikit melebar. Dia memandang Henry dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan. Sudah bertahun-tahun mereka menikah, dan ini adalah pertama kalinya dia menerima hadiah dari Henry. Ada perasaan campur aduk yang muncul, terkejut, haru, dan sedikit bingung.Apa dia benar-benar berubah? Eva masih merasa tidak percaya. Akan tetapi sorot mata Henry tidak menunjukk

    Huling Na-update : 2025-02-05
  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 134

    Harrison Realty Partners. Pekerjaan yang menumpuk mulai berkurang, dan suasana di luar pun lebih sepi hari itu. Terkadang, kesibukan yang datang begitu mendalam membuat Henry merasa sesak, namun saat ini dia lebih bisa bernapas lega.Dia memeriksa beberapa dokumen di mejanya dengan tenang, tangannya sesekali menulis catatan di margin. Tentu saja, ada beberapa hal yang masih perlu ditindak lanjuti lebih matang, tetapi semuanya terasa lebih terkendali. Henry menikmati momen ini, waktu untuk menyusun langkah selanjutnya tanpa tergesa-gesa.Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk, dan suara Ryan terdengar dari luar, “Ini saya, Tuan."Tanpa menoleh Henry menjawab, "Masuklah."Pintu dibuka, dan Ryan memasuki ruangan dengan langkah ringan. Dia mengenakan jas hitam yang tampak rapi, meskipun hari itu tidak ada pertemuan penting yang mengharuskannya berpakaian seperti itu.“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” “Aku ingin berbicara mengenai bodyguard yang pernah kau utus saat di rumah sakit.” Henr

    Huling Na-update : 2025-02-06
  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 135

    The Underground Exchange, meski itu tempat tersembunyi, tempat itu tak pernah sepi. Semakin malam, tempat itu semakin ramai.Tempat itu tersembunyi dari pandangan publik dan sering digunakan untuk kegiatan tidak sah, tempat mencari informasi, dan pertemuan rahasia antar individu. Letaknya di bagian belakang klub, atau biasa disebut backroom. Dan tak semua orang memiliki akses untuk masuk. Seorang memakai jubah hitam tampak memasuki area tersebut dengan santai dan tenang. Dia adalah salah satu langganan di tempat tersebut. Dia duduk di salah satu bangku, di hadapannya terdapat seorang pria yang seperti sudah menunggunya. Dengan gerakan perlahan, tangannya membuka penutup di kepalanya. Orang itu adalah … Julia. Namun, orang di depannya itu terlihat biasa saja. Seakan mereka sudah terbiasa saling bertemu. “Selamat malam, Nona,” sapa orang di hadapannya. “Kau sudah mengamankan mobil itu?” Julia tidak mau berbasa-basi. Pria itu menjawab, “Semua sudah saya amankan, Nona.”Rupa-rupan

    Huling Na-update : 2025-02-07
  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 136

    Ekspresi Henry perlahan-lahan berubah, mata yang semula penuh kehangatan, dalam hitungan detik menjadi datar dan dingin. Eva menatap Harry dengan tenang, dia sudah terbiasa dengan ekspresi seperti itu. Tak ada kejutan atau kekagetan di wajahnya, hanya sekedar kebiasaan yang sudah mengakar. Dia menyadari bahwa ucapannya itu membuat Henry sensitif. Dia tak bermaksud mencari perkara, dia hanya ingin melihat bagaimana kondisi Samuel saat ini.Apakah pria itu baik-baik saja?Setelah operasi berlangsung, dia tak lagi melihat kehadiran Samuel di sana. Padahal, pria itu biasanya lebih antusias. Dia hanya ingin mengucapkan terima kasih, karena Samuel sudah banyak membantunya. “Aku rasa itu bukan pilihan yang tepat.” Suaranya terdengar lebih datar, meskipun dia berusaha untuk tidak menunjukkannya. “Aku hanya ingin menjenguknya dan berterima kasih. Dia sudah banyak membantuku selama ini.” Eva menjawab dengan tenang, tanpa rasa takut. Tik!Tik!Tik!Suasana hening seketika, hanya terdengar

    Huling Na-update : 2025-02-09
  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 137 Ikhlas Adalah Bentuk Cinta Luar Biasa

    “Kau sangat mencintainya, ‘kan?” Nyonya Rosie tidak terkejut. Ia bisa melihat perlakuan dan bagaimana tatapan Samuel selama ini. Wanita itu menjeda ucapannya sejenak, kemudian melanjutkan, “Tidak semua cinta harus memiliki, Anak Muda.”Samuel memandang Nyonya Rosie. Wajahnya menyimpan luka yang dia sembunyikan. Entah bagaimana wanita tua itu bisa tahu perasaan tanpa perlu menjelaskan panjang lebar. "Kadang, cinta sejati adalah tentang mengorbankan perasaan kita sendiri demi kebahagiaan orang yang kita cintai," lanjut Nyonya Rosie. "Aku pernah muda sepertimu.” Nyonya Rosie memulai untuk bercerita. "Dulu aku mencintai seseorang dengan seluruh hatiku. Tapi dia memilih orang lain.”“Benarkah, Nyonya?” kata Samuel, suaranya penuh keterkejutan. “Lalu, apa Anda menyesal sudah mencintainya, Nyonya?” tanyanya dengan penasaran.Nyonya Rosie menggeleng samar. “Tidak! Aku tidak pernah menyesal.” Dia tersenyum, mengenang kenangan yang jauh. “Aku bisa saja membencinya, atau berusaha memisahkan

    Huling Na-update : 2025-02-10

Pinakabagong kabanata

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 183

    “Itu ….” Dengan sekuat tenaga, Henry mengangkat kepala, mendekat, lalu menempelkan bibirnya di atas bibir Eva, memberikan ciuman yang lembut tanpa terburu-buru atau memaksa. Dia memberikan jeda satu detik. Namun, detik berikutnya dia sedikit menekan kepala Eva.Ciuman yang semula lembut itu perlahan semakin dalam. Eva yang mencoba mengimbangi irama Henry itu kini dibuat kuwalahan. Tangannya bergerak, mencengkeram baju yang dikenakan oleh Henry. Suasana di antara mereka semakin memanas, bukan sekedar hasrat, tetapi seperti pengakuan diam-diam tentang rindu yang tertahan, luka yang perlahan sembuh dalam pelukan. Ruangan itu hanya berisi helaan napas yang mulai tak beraturan, dan ciuman itu masih terus berlanjut, menghapus batas logika di antara keduanya. Henry melupakan kondisinya. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah, menciptakan momen bersama istrinya. Dia menginginkan lebih. Ciuman itu bergerak perlahan ke leher Eva. Namun, tidak lama ciumannya terhenti karena Eva menarik

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 182

    “Kenapa kau menempatkan Istrimu seperti seorang Penjahat yang tidak memiliki hati?” Eva melayangkan protesnya cepat. Henry terkekeh pelan, sedikit terhibur. Entah kenapa hati istrinya begitu sensitif sekarang. “Memeluk Istriku sendiri membuatku harus memohon. Aku heran, dunia apa yang sebenarnya kita jalani saat ini?” Henry menjawab dengan sindiran khasnya. “Kau benar-benar membiarkan Suamimu memohon?” Dia tak mau menghentikannya.Eva masih berpikir. Saat ini mereka di rumah sakit, bagaimana jika seseorang melihatnya? Pasti sangat memalukan. Henry memandang wajahnya dengan tatapan sayu. Dia tahu apa yang ada di pikiran istrinya. Dia mendengus. Sementara Eva menggigit bibir bawahnya, apakah dia harus menuruti permintaan Henry? Bagaimana jika ada yang tiba-tiba masuk? Henry masih menatapnya dengan raut sedikit cemberut, menunggu bagaimana reaksi Eva. “Sudahlah. Sebaiknya aku kembali tidur,” katanya dengan sedikit tidak suka dan pasrah. Henry mengembalikan posisi kepalanya menja

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 181

    Sophia juga merasakan kelegaan, karena akhirnya ada perkembangan keadaan Henry. Dia ikut menyimak setiap penjelasan yang dokter katakan. Dan ketika dokter keluar dari ruangan, dia berpesan pada Eva. “Sekarang sebaiknya kau istirahat dulu, kau sudah berjaga sampai hampir pagi.” Yang Eva rasakan saat ini adalah mengantuk, tetapi dia menggelengkan kepala. “Aku takut jika nanti Henry membutuhkan sesuatu. Sebaiknya kau lanjut istirahat.” Sophia mendengus. Ternyata Eva memiliki sikap sedikit keras. Dia hanya tidak ingin wanita itu juga tumbang. Dia kembali mengingatkan dengan nada sabarnya, “Perhatikan juga kondisimu, Eva. Bagaimana kalau nanti Henry terbangun tapi justru kau yang jatuh sakit?”Eva terdiam, merenungi perkataan Sophia. Yang dikatakan wanita itu memang benar. Matanya beralih ke arah Henry. Dia pun tersenyum ke arah Sophia, lalu mengangguk. “Baiklah. Aku akan tidur sebentar saja.” Sophia mengangguk tidak mempermasalahkan. “Tidurlah sekarang. Aku keluar sebentar memberit

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 180

    Suara pintu terbuka. Eva dan lainnya menoleh ke arah dokter yang baru saja keluar dari ruangan. “Bagaimana kondisi Suami saya sekarang, Dok?” Eva berharap akan ada kabar baik. Dengan suara tenang, Dokter itu menjelaskan, “Kami masih harus menunggu hasil laboratorium, Nyonya. Tapi, saya rasa, kondisinya sudah mulai membaik setelah mendapatkan penanganan pertama.” Akhirnya, Eva bisa bernapas sedikit lega sekarang. Setidaknya ada perkembangan dari kondisi Henry saat ini. Tuan Lawson menyahut, “Bisakah kalian mengeluarkan hasil itu dalam waktu singkat?”Dokter itu mengangguk pelan. “Akan kami usahakan, Tuan.”“Bisakah saya masuk ke dalam sekarang?” Rasa tidak sabar menggebu di dalam hatinya.“Silakan, Nyonya,” Setelah mendapat persetujuan, Eva masuk ke dalam ruangan. Dia bisa melihat pria yang biasanya sombong dan arogan itu masih terbaring lemah di sana. Wajah yang sebelumnya pucat, kini terlihat mulai kembali normal. Sementara Tuan Lawson dan Sophia masih berada di luar bersama de

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 179

    Ketika malam tiba, kapal-kapal berukuran kecil berhenti tepat di sebelah kapal pesiar yang mengangkut Henry dan rombongan lainnya. Sebab, rute mereka sudah tidak bisa berubah, dan tidak ada rute yang bisa dilewati kapal pesiar menuju ke pelabuhan terdekat. Tuan Lawson beserta istrinya dan Eva harus pindah ke kapal kecil itu untuk membawa Henry ke pelabuhan terdekat dan membawanya ke rumah sakit. Meski dia sudah mendapatkan penanganan medis, tak ada tanda-tanda sadar darinya. Tuan Lawson dan tim lainnya bergerak cepat dan memilih jalan lain. Kapal-kapal kecil itu mulai meluncur di atas permukaan air menuju pelabuhan sungai Basel, yang terletak di barat laut Swiss di tepi sungai Rhein, tepat di perbatasan Jerman dan Prancis. Eva masih setia di samping Henry dan menggenggam tangan itu. Dalam hatinya, dia tak henti mengucapkan doa untuk kesehatan suaminya. Matanya terpejam. Setiap detiknya dia berdoa.Tuhan … jika Engkau mendengarku, aku mohon bangunkan Suamiku dari kondisi kritisny

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 178

    Eva masih berada di samping Henry yang masih belum menunjukkan tanda-tanda sadar. Suasana di luar tampak sedikit riuh dan tegang setelah insiden. Kapal itu bukanlah milik pribadi, jadi, beberapa tamu mulai berbisik dan merasa was-was. Penjagaan ketat dilakukan di luar ruangan. Tim keamanan kapal menyisir setiap sudut dapur dan memeriksa semua bahan makanan yang digunakan. Para karyawan tidak diperbolehkan bergerak atau berpindah tempat sebelum pemeriksaan selesai. Sementara di sisi lain kapal, di koridor sepi yang jarang dijamah, seorang pria memakai jas silver berjalan perlahan dengan tenang. Pria itu menatap sekeliling, memastikan tidak ada yang mengikutinya. Di rasa aman, dia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, dan menekan nomor seseorang.“Halo, Nona.” Dia berbicara pelan.“....”“Racun bekerja sesuai yang diperkirakan. Tapi ….” Ucapannya terjeda sejenak. “Justru yang memakan bukanlah si wanita itu, Nona.”Dia terdiam sejenak, mendengarkan suara di balik telepon yang tidak t

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 177

    Semuanya panik. Eva segera mendekat mengguncang tubuh Henry, berharap pria itu bangun dan baik-baik saja. “Henry! Apa kau mendengarku?” Suasana menjadi tegang. Tuan Lawson berteriak dengan keras, “Panggil Dokter, cepat!”Para pelayan kapal berhamburan memanggil petugas medis yang ada di sana. Beberapa detik kemudian, petugas medis datang dengan perlengkapan darurat mereka. Salah satu dari mereka memeriksa denyut nadi Henry. Mereka memberikan pertolongan pertama, tapi Henry tetap tak sadarkn diri. Air mata Eva mulai mengalir deras membasahi pipi. Hatinya dikuasai dengan perasaan khawatir. Sementara Sophia berada di sampingnya, mencoba menenangkannya. Setelah pemeriksaan singkat, salah satu petugas medis itu mengungkapkan, “Kami mengidentifikasi ada zat berbahaya dalam makanan yang dikonsumsi, Tuan.” Dahi Lawson mengernyit. “Bagaimana bisa?”Semuanya terkejut, terutama Eva. Sementara Tuan Lawson bertanya-tanya dan merasa bersalah dengan kejadian ini. “Berikan penanganan untukny

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 176

    “Naik kapal?” Eva tampak mencerna ucapan Henry. “Bukankah kita sudah pernah melakukannya?”“Emm.” Henry memberi deheman kecil sambil mengangguk. “Tapi bukan kapal waktu kita di danau kemarin.”“Lalu?” Eva menatapnya dengan penuh penasaran.Henry mengangkat bahunya. “Yang aku dengar, kapal ini akan membawa kita ke beberapa negara,” jawabnya sambil sedikit berbisik.“Wah! Benarkah?” Eva terkagum. Henry mengangguk singkat. Sementara Eva, seperti biasa pikirannya akan dipenuhi oleh berbagai macam isi. Perjalanan seperti apa yang akan dia nikmati nanti? Dan seberapa banyak uang yang digelontorkan Tuan Lawson untuk liburan ini? Liburan itu terasa sangat mewah untuknya. Dan mengenai perkataan Henry, ini seperti bukan hanya sekedar liburan baginya. Ini terlalu mewah. Eva menatap sekeliling. Pandangannya terarah pada koper yang akan mereka bawa. Pantas saja koper-koper itu dikemas juga.Henry sedikit menggeser tubuhnya, sedikit menundukkan wajah dan kembali berkata pelan, nyaris berbisi

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 175 Cemburu

    Ckiit!Mobil itu berhenti mendadak hingga membuat ban-ban depannya berdecit di atas aspal. Seorang pria yang duduk di kursi pengemudi itu tampak kesal. Dengan wajah memerah, dia memukul setir dengan keras. “Sial!” Dia memandang ke arah cermin dengan raut marah, yang memperlihatkan kedua orang yang berada di lampu merah itu mulai meninggalkan area. Rencananya malam ini gagal. Kedua orang itu berhasil menghindar dari mobilnya. Tak berselang lama, dia kembali melajukan mobilnya dan berbelok ke arah lain. Namun dia berjanji jika dia akan kembali lagi. Sementara di dalam Rumah Makan, Henry menarik kursi untuk Eva duduk. Keadaannya masih dalam keterkejutan. Hal yang terjadi beberapa menit lalu masih teringat jelas di dalam kepalanya. Dia tidak melihat asal mobil itu, tapi tiba-tiba saja dia hampir terserempet, beruntungnya Henry segera menariknya untuk menepi. Henry menekuk kakinya, menyetarakan tinggi badannya dengan Eva. “Kau tidak apa-apa, ‘kan?” Tangannya membelai pipi Eva dengan

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status