Home / Fantasi / Tiga Mayat Satu Takdir / Bab 4: Jalan Tanpa Kembali

Share

Bab 4: Jalan Tanpa Kembali

Author: Pok Jang
last update Last Updated: 2024-12-30 16:28:06

Hutan purba semakin gelap seiring perjalanan mereka. Pepohonan raksasa menjulang tinggi, dahan-dahannya saling bersilangan, menciptakan kanopi alami yang hampir sepenuhnya menutupi cahaya bulan. Aroma tanah basah dan dedaunan membusuk memenuhi udara, membalut setiap langkah mereka dalam rasa dingin dan waspada. Suara-suara hutan malam, dari desau angin hingga suara makhluk tak terlihat, semakin menambah suasana yang mencekam.

Kael berjalan di depan dengan langkah mantap, mata birunya tajam mencermati setiap detail di sekeliling. Setiap suara mengisyaratkan sesuatu, setiap bayangan yang bergerak membuatnya waspada. Sarah dan Laila mengikuti di belakangnya, tangan mereka saling menggenggam, sementara Murphy menjaga bagian belakang, mengantisipasi ancaman tak terduga.

"Kita sudah terlalu dalam ke hutan ini," gumam Murphy pelan, suaranya seolah takut mengganggu ketenangan malam. Energi emas samar menyelubungi dirinya, siap memberikan perlindungan. "Aku tidak ingat ada jalur seperti ini di peta."

Kael meliriknya dari atas bahunya, mata birunya berkilau dalam kegelapan, dengan semburat hijau hitam dari sihirnya yang unik. "Karena jalur ini hanya digunakan dalam keadaan darurat. Ayahku pernah menunjukkan jalan ini dulu—jalur yang tidak akan pernah dicatat di buku mana pun. Tapi jangan berharap ada tanda yang mudah dikenali."

Murphy mengangguk kecil, meski masih gelisah. “Berarti kita juga tidak bisa memastikan apa yang menunggu di depan,” tambahnya, menunjukkan kekhawatiran mendalam.

Sarah berhenti sejenak di belakang mereka, menggenggam tangan Laila erat, lebih sebagai penghiburan daripada sekadar ikatan persaudaraan. Dia memejamkan mata, energi ungu memancar dari matanya saat dia memfokuskan kekuatan Mata Sihir untuk mencari ancaman di sekitar. Namun, yang dia lihat bukan bahaya langsung, melainkan kilasan masa lalu menghampirinya.

Dia melihat sosok wanita yang sangat ia cintai, ibunya, Eliana, berjalan tergesa-gesa di jalur yang sama, mata ibunya dipenuhi kecemasan dan tekad. Di sekelilingnya, hutan tampak lebih cerah, seolah alam menyambutnya. Eliana tampak tidak merasa terancam, berbeda dengan mereka saat ini. Namun, kilasan itu bergeser, sosok Eliana tertutup kabut, hingga hanya bayangannya yang tersisa, menggambarkan perjalanan pahit yang harus dihadapi.

Sarah membuka matanya dengan napas tertahan. “Kael,” panggilnya pelan namun tegas, berusaha tidak menambah ketegangan.

Kael menghentikan langkahnya, berbalik menantang tatapan Sarah. “Apa yang kau lihat?”

Sarah ragu sejenak, menimbang kata-katanya hati-hati. “Ibu pernah melewati jalur ini. Tapi… ada sesuatu yang salah. Kabut itu…” Dia menggigit bibirnya, tidak yakin bagaimana menyampaikan perasaan mendalam yang memenuhi jiwanya.

Kael mengangguk, matanya penuh konsentrasi. “Jika Ibu pernah melewati jalur ini, berarti ada sesuatu yang menunggu di depan. Kita harus bersiap.”

Murphy meraih pegangan pedangnya, energi sihir emas mulai memancar lebih jelas, pedangnya seolah menjadi perisai yang menyelimuti mereka. “Aku tidak suka kata ‘kabut’. Itu biasanya bukan pertanda baik.”

Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati-hati, namun suasana hutan berubah. Udara semakin dingin, dan kabut menyelimuti lantai hutan, naik perlahan hingga mencapai lutut. Kabut terlihat aneh, seolah memiliki kehidupan sendiri, menyebar dengan cara yang tidak wajar dan angkuh.

“Ini aneh,” gumam Kael, wajahnya serius. Energi hijau kehitaman di sekelilingnya bercampur dengan cahaya ungu samar. “Kabut tidak seharusnya setebal ini di area ini. Seharusnya kita bisa melihat jalan… tanpa kabut ini.”

Sarah menatap kosong ke depan, tetapi kekuatan Mata Sihir-nya menangkap pergerakan tak wajar. Bayangan samar melintas di antara pepohonan, jauh lebih cepat daripada yang bisa ditangkap oleh mata normal, cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri.

“Kita tidak sendiri,” bisik Sarah, suaranya serak, seperti angin gemetar pada malam dingin, membuat semua berhenti sejenak, menghadapi ketidakpastian yang melingkupi mereka.

Kael memperhatikan sekeliling dengan seksama, tangannya siap membentuk Racun Melemahkan. Mereka harus bertindak cepat. “Sarah, kau lihat berapa banyak?” tanyanya.

Sarah menggeleng perlahan, kecemasan merayap di wajahnya. “Aku tidak yakin. Tapi mereka ada di mana-mana. Rasanya seolah kita dikelilingi,” jawabnya, suaranya mendesah penuh resah.

Murphy maju ke samping Kael, memegang pedangnya dengan kedua tangan, merasakan ketegangan menyelubungi mereka. “Ini bukan kabut biasa. Ini terasa seperti… sihir. Sihir jahat.”

Kael mengangguk setuju. “Ordo Umbra. Mereka sudah sampai di sini. Ini bukan kebetulan. Mereka ingin kita terjebak.”

Laila, yang selama ini menarik lengan Sarah, kini menunjukkan ketegasan tak biasa. Jari-jarinya bergerak cepat, menandakan betapa seriusnya situasi ini di pikirannya. "Kita harus pergi sekarang. Ini jebakan. Kita tidak bisa terus melawan berita buruk selamanya," katanya bergetar, mencurahkan pikiran yang terbawa oleh instingnya, sembari energi ungu samar mulai bergetar di sekelilingnya.

Sarah menerjemahkan dengan nada cemas, dan Kael segera memberikan anggukan tegas. “Ikuti aku. Jangan berpisah apapun yang terjadi, tidak peduli apa yang menghalangi kita,” instruksinya, menyadari ini bukan saatnya untuk ragu.

Ketika mereka bergerak maju dengan hati-hati, suara langkah lain terdengar samar di sekitar mereka. Bunyi langkah itu bukan langkah kaki mereka sendiri; suara berat dan teratur bergema di antara pepohonan.

“Kanan,” bisik Murphy tiba-tiba, matanya menangkap gerakan di sudut pandangnya. Mengayunkan pedangnya ke arah suara itu, siap menghadapi apapun yang mendekat. Namun, dia hanya mengenai udara kosong.

Kael merasakan tekanan energi sihir mendekat, mengisi kegelapan dengan kehadiran yang tidak menyenangkan. Dia memutar tubuhnya, melancarkan Racun Halusinasi ke udara, menciptakan kabut ungu bercampur kabut alami. Bayangan-bayangan di sekitar mereka menjadi kabur, seolah batas antara kenyataan dan ilusi mulai blur.

Namun serangan datang cepat. Sebuah panah sihir gelap melesat dari kabut, hampir mengenai Kael jika dia tidak segera melompat menggunakan Windstep, mendengar suara panah itu melesak ke belakangnya.

“Di depan!” seru Sarah, menunjuk ke arah kanan dengan keseriusan tak terduga, matanya bersinar dengan cahaya ungu, tanda kekuatan sihirnya.

Kael menangkap penglihatan dua sosok berjubah hitam muncul dari kabut, wajah mereka tersembunyi di balik topeng logam. “Ordo Umbra,” gumamnya, mengangkat tangan melancarkan Racun Melemahkan, sihir menghancurkan mengalir dari dalam dirinya.

Murphy menerjang salah satu dari mereka, pedangnya menyala dengan energi sihir emas yang membara. Pertarungan terjadi cepat, suara dentingan logam dan ledakan sihir menggema di antara kabut yang bergulung. Suara benturan logam, campuran erangan dan teriakan, memecah keheningan malam yang mencekam.

Namun, salah satu penyihir mendekati Sarah dan Laila. Dengan satu gerakan angkuh, dia mengayunkan gelombang energi gelap ke arah mereka.

Laila, yang sebelumnya bersembunyi di belakang Sarah, mendadak maju dengan keberanian yang tiba-tiba bersinar. Energi ungu samar bergetar di sekelilingnya saat dia membuka mulut, dan meskipun bisu, kekuatan soniknya muncul sebagai gelombang energi yang mengguncang udara. Serangan sihir penyihir meledak di udara, tubuhnya terlontar mundur oleh kekuatan Laila, membuat Sarah terperanjat.

Sarah memeluk Laila erat-erat, matanya melebar karena kagum dan terkejut sekaligus. “Kau hebat,” bisiknya, meskipun suaranya dipenuhi kecemasan, berusaha menembus rasa ketakutan dalam hati mereka.

Setelah pertempuran singkat, Kael dan Murphy berhasil mengalahkan para penyihir. Namun, kabut masih menyelimuti mereka, menandakan ancaman belum sepenuhnya hilang. Hawa dingin semakin menyengat, dan mereka tahu ini bukan akhir dari perjalanan.

“Kita harus bergerak lebih cepat,” kata Murphy, menghela napas berat, wajahnya menunjukkan kelelahan. “Mereka tahu kita ada di sini. Ini adalah permainan kucing dan tikus yang belum ada ujungnya.”

Kael mengangguk, matanya tetap tajam menatap jalan di depan. “Tidak ada waktu untuk berhenti. Sarah, Laila, tetap di belakangku. Murphy, kau jaga belakang. Kita tidak bisa mencari tahu betapa berbahayanya jalan ini lebih dalam lagi.”

Sarah mengangguk, sementara Laila menatap Kael dengan ekspresi penuh keyakinan, jari-jarinya bergerak perlahan menandakan kebersamaan mereka. "Kita akan baik-baik saja. Kami sudah melewati yang terburuk," ia berusaha menghibur mereka.

Kael membalas dengan senyuman kecil, meskipun dia tahu di dalam hatinya perjalanan ini akan semakin berbahaya seiring dengan kedalaman hutan.

Dengan langkah hati-hati, mereka melanjutkan perjalanan melalui kabut, meninggalkan bayangan pertempuran di belakang. Di kejauhan, suara-suara aneh bergema, seperti bisikan menyeru lebih dalam ke jantung hutan misterius ini.

Dan Kael tahu, ini baru permulaan dari apa yang akan mereka hadapi. Kabut hanyalah bagian kecil dari ancaman besar yang menunggu di ujung jalan. Kegelapan mengintai, dan mereka harus bersatu untuk menghadapi apapun yang akan datang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 5: Jejak yang Hilang

    Kabut mulai menipis ketika langit perlahan-lahan memucat, menandai datangnya fajar. Namun, suasana di dalam hutan purba tetap suram, seolah waktu dan ruang terperangkap dalam kegelapan yang sulit dihapus.Kael memimpin rombongan dengan langkah hati-hati, matanya tajam mengawasi setiap gerakan di sekitar mereka, setiap goyangan ranting dan suara lembut dari dedaunan yang tersentuh angin. Meski Ordo Umbra sementara berhasil dikalahkan, ketegangan masih membungkus kelompok kecil itu, seperti jaring tak terlihat yang mengikat mereka dalam ketidakpastian.“Seharusnya kita sudah keluar dari jalur ini,” gumam Murphy, suaranya penuh kelelahan. Ia melihat sekeliling, mencoba mengenali sesuatu yang familiar di antara pepohonan besar dan akar-akar yang menjalar, seolah mencari bayang-bayang yang selalu hilang. “Tapi semua terlihat sama.”Kael berhenti sejenak di depan, membalikkan tubuhnya dengan langkah tenang. “Mereka tahu jalur ini,” katanya dengan nada serius, menekankan setiap kata. “Mereka

    Last Updated : 2024-12-30
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 6: Pertempuran di Lingkaran Sihir

    Kabut pagi mulai memudar, membiarkan sinar matahari yang malu-malu membias di balik awan kelabu. Namun, suasana tetap suram, seolah dunia terjebak dalam penantian akan sesuatu yang mengerikan. Lingkaran sihir berkilau dengan cahaya biru, memancarkan kilauan misterius, berdenyut seperti detak jantung yang tak wajar, mengeluarkan aura energi gelap yang menyelimuti udara dengan perasaan berat dan mencekik.Kael dan Murphy, bersembunyi hati-hati di balik semak-semak lebat, mengawasi ritual yang semakin mendekati puncaknya di area terbuka di bawah mereka.Sementara itu, di atas bukit kecil, Sarah dan Laila tetap dalam posisi tenang namun waspada. Sarah, dengan Mata Sihir yang aktif, memindai sekeliling dengan ketelitian luar biasa, mengamati ancaman yang mungkin tidak bisa dilihat oleh Kael dan Murphy. Napasnya teratur, tetapi ketegangan di bahunya mencerminkan betapa seriusnya situasi ini. Di sampingnya, Laila menggenggam erat ujung jubah Sarah, mencari ketenangan dalam kehangatan dan keh

    Last Updated : 2025-03-05
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 7: Jejak Masa Lalu

    Cahaya pagi merayap perlahan di antara celah-celah pohon hutan purba. Kabut yang sebelumnya menyelimuti pandangan mulai terangkat, namun suasana tetap terasa dingin dan penuh kewaspadaan. Kael, Sarah, Laila, dan Murphy melangkah pelan, meninggalkan tempat pertempuran yang dipenuhi kekacauan di belakang mereka. Hutan ini, meskipun menunjukkan tanda-tanda kehidupan baru, masih tergerak oleh gema ketegangan yang baru saja mereka alami. Kael berjalan di depan, wajahnya dipenuhi konsentrasi dan ketegangan yang mendalam. Dalam pikirannya, ritual yang baru saja mereka gagalkan melingkar bak bayangan tak berujung, diiringi satu pertanyaan yang terus menghantuinya: apa sebenarnya yang sedang dipanggil oleh Ordo Umbra? “Kita perlu berhenti sebentar,” kata Murphy dari belakang, suaranya terdengar tersengal. Wajahnya basah oleh keringat, sementara tangan kanannya menekan luka kecil di lengannya. “Aku butuh waktu untuk mengatur napas. Dan mungkin... menjahit luka ini,” tambahnya, suaranya berget

    Last Updated : 2025-03-05
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 8: Desa Yang Diselimuti Kegelapan

    Langit hampir terbenam, mengecat cakrawala dengan warna merah keemasan yang memudar perlahan. Kael dan kelompoknya telah tiba di pinggir hutan purba, yang menyelimuti mereka dalam ketegangan dan kewaspadaan. Meskipun telah berjam-jam mereka berjalan dan tidak melihat pengejar dari Ordo Umbra, keheningan hutan itu semakin membuat mereka waspada."Ini aneh. Kita harus lebih berhati-hati meskipun sudah berada di pinggir hutan. Beberapa langkah lagi akan ada sebuah desa kecil tempat kita bisa bermalam, tanpa perlu tidur di hutan lagi," ucap Kael, sambil memperhatikan Sarah dan Laila yang tampak kelelahan. Kerut di alisnya menunjukkan kekhawatiran atas keselamatan mereka.Walaupun seharusnya mereka merasa lega karena tidak ada pengejar, aura aneh di tepi hutan membuat mereka lebih waspada daripada sebelumnya. Suasana tenang dan misterius seolah membangkitkan rasa takut yang terpendam di dalam diri masing-masing."Itu bagus, aku juga ingin tidur di tempat yang lebih nyaman. Aku harap mereka

    Last Updated : 2025-03-06
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 9: Aura Kegelapan yang Mendekati Desa

    Saat mereka memasuki lebih dalam lorong yang hanya diterangi oleh cahaya energi sihir Murphy yang keemasan di tangannya, mereka akhirnya melihat lampu minyak yang terpasang di dinding, menandakan bahwa ada orang di dalam. Namun, ketika mereka mencapai ujung lorong, mereka dihadapkan pada sebuah pintu tebal setinggi 3 meter lebih yang tertutup rapat."Apakah mereka mengorbankan harta desa mereka untuk menciptakan pintu sekuat ini? Kini, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita perlu menyapa mereka? Aku berharap mereka menyambut kita dengan baik..." ucap Murphy, bersandar lelah pada pintu."Tenang saja, aku mengenal kepala desa mereka. Tapi itu saat aku masih kecil; aku harap dia masih ingat padaku," balas Kael, yang terkejut melihat pintu yang sangat kokoh. Dia juga curiga, bagaimana warga desa bisa menghabiskan banyak uang untuk membuat pintu tersebut.Kael melihat Sarah dan Laila yang juga kelelahan dan merasa sedikit tidak nyaman, karena mereka sedang kelaparan. Lagi pula, mereka ti

    Last Updated : 2025-03-06
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 10: Pertarungan di Desa Kecil

    Ruangan bawah tanah yang sempit itu terasa semakin sesak, udara dipenuhi bau tajam belerang dan asap hitam yang berputar liar dari lampu api emas. Nyala emasnya berkedip-kedip, seolah berjuang melawan kegelapan yang merayap masuk, sementara asapnya membentuk bayang-bayang mengerikan yang menari di dinding batu. Warga desa yang berkerumun di sekitar lampu itu memandang dengan mata lebar penuh ketakutan, napas mereka tersengal dalam keheningan yang mencekam. "Kael, apa rencanamu?" tanya Paman Adrian, suaranya serak dan gemetar, meski ia berusaha teguh memegang tongkat kayunya yang sudah usang. Tangan tuanya tampak rapuh, namun matanya yang tertutup penutup mata memancarkan kilau harapan terakhir. "Ghoul itu... aku belum pernah melihat yang seperti ini. Kalau sampai masuk ke sini, kami semua tamat." Kael menoleh ke arah Paman Adrian, lalu ke kelompoknya. Cahaya ungu yang memancar dari dirinya, Sarah, dan Laila bercampur dengan energi emas Murphy, menciptakan kilauan samar yang menerobo

    Last Updated : 2025-03-07
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 11: Perlawanan di Dalam Sumur

    Udara dalam gudang yang bobrok terasa pekat, dipenuhi aroma busuk dari lendir ghoul yang merayap masuk ke dalam sumur. Suara licin dan mendesis dari gumpalan hitam itu menggema di antara kayu tua, menciptakan getaran kecil yang terasa hingga ke tulang. Kael berdiri di tepi sumur, napasnya terengah-engah, keringat membasahi dahinya yang tegang. Cahaya hijau kehitaman dari **Racun Tiga Mayat** yang dipegangnya berkelap-kelip, menerangi wajahnya yang penuh tekad bercampur kepanikan."Turun sekarang!" teriak Kael, suaranya menggema di ruang sempit. Ia melompat dengan **Windstep**, tubuhnya melayang ringan seolah ditarik angin, dan mendarat di dasar sumur dengan bunyi pelan. Sarah, Laila, dan Murphy mengikuti, tangga kayu berderit keras di bawah langkah terburu-buru mereka. Debu dan aroma tanah basah menyambut kedatangan mereka, tercampur dengan bau lendir yang semakin menyengat.Di ruang bawah tanah, suasana telah kacau. Lampu api emas di tengah ruangan menyala redup, asap hitamnya membu

    Last Updated : 2025-03-07
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 12: Bayang-Bayang di Pagi Hari

    Ruangan bawah tanah itu terasa hening setelah pertempuran yang brutal, hanya diisi oleh suara napas tersengal dan tetesan air yang jatuh dari dinding batu yang lembap. Lampu api emas di tengah ruangan masih menyala redup, asap hitamnya kini menipis, seolah kegelapan yang tadinya mengancam telah mundur untuk sementara.Bau busuk lendir ghoul masih membandel di udara, bercampur dengan aroma tanah dan keringat warga desa yang berkumpul dalam diam. Tubuh pria tua yang dirasuki ghoul tergeletak tak bernyawa di sudut, kulitnya pucat seperti lilin, meninggalkan luka emosional yang lebih dalam daripada pertarungan itu sendiri.Kael berdiri di tengah ruangan, tangannya masih gemetar karena kelelahan. Cahaya hijau kehitaman dari **Racun Tiga Mayat** perlahan memudar dari jemarinya, meninggalkan rasa dingin yang merayap di kulitnya. Ia melirik kelompoknya—Sarah yang duduk bersandar di dinding dengan mata setengah terpejam, Laila yang memeluk lututnya dengan wajah pucat, dan Murphy yang menyeka d

    Last Updated : 2025-03-08

Latest chapter

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 69: Jejak di Bayang dan Panggilan Lyra

    Lorong rahasia di bawah Akademi Baseus membentang dalam kegelapan pekat, udara dingin bercampur aroma tanah basah dan batu tua menusuk hidung mereka seiring langkah hati-hati yang diambil. Cahaya samar dari lumut yang menempel di dinding kasar hanya mampu menerangi beberapa meter ke depan, meninggalkan cabang-cabang lorong dalam bayang-bayang yang tampak bergerak, seolah menyimpan rahasia yang enggan terucap. Kael berjalan di depan, mantel panjangnya bergoyang pelan tertiup angin bawah tanah. Tangannya tetap siaga di saku tempat Racun Tiga Mayat tersimpan, bersiap menghadapi ancaman yang bisa muncul kapan saja. Teknik Windstep yang dikuasainya membuat langkahnya nyaris tak bersuara, debu di lantai batu pun tak terusik. Di belakangnya, Sarah, Murphy, dan Laila mengikuti dengan langkah lebih berat. Derit pelan dari sepatu mereka bergema di lorong sempit itu. "Kita harus tetap waspada," bisik Kael, suaranya rendah namun tegas. "Ada kemungkinan kelompok lain bersembunyi di sini, menungg

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 68: Terobosan dan Bayang Kekhawatiran

    Malam melingkupi rumah kayu Aldos dengan sunyi yang tebal, bayang-bayang hutan ilusi bergoyang pelan di luar jendela, diterangi cahaya bulan yang temaram. Di dalam ruangan kecil berdinding simbol sihir kuno, energi ungu dan emas masih menderu, mengelilingi Kael dan Murphy dalam pusaran liar yang bergetar hingga ke lantai kayu. Sarah dan Laila, yang menunggu di ruangan utama, duduk di dekat meja tua, sepiring roti kering dan semangkuk sup sederhana terhidang di antara mereka. Cahaya lilin memantul lembut di wajah mereka, sementara buku teknik dari Aldos terbuka di pangkuan masing-masing, halaman-halaman kertas tua berderit saat dibalik. Sarah menyeruput supnya, matanya ungu melirik bukunya sesekali. “Aku rasa ini bisa bantu aku lihat lebih jauh,” katanya pelan, suaranya rendah namun penuh rasa ingin tahu. Laila mengangguk, matanya cokelat besar memandang bukunya dengan fokus, jari-jarinya menyentuh kertas seolah menyerap setiap kata tentang frekuensi sonik. Mereka makan dalam kehe

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 67: Bayang Phoenix dan Rahasia Ungu

    Di dalam ruangan kecil berdinding simbol sihir kuno, energi terus menderu, benang-benang ungu dan emas berkilauan mengelilingi Kael dan Murphy dalam gelombang liar yang perlahan mencari keseimbangan. Sementara itu, di luar, Profesor Aldos berdiri di tengah ruangan utama rumahnya, jubah hitamnya bergoyang pelan tertiup angin yang menyelinap melalui celah-celah kayu. Dia melirik Sarah dan Laila, yang tengah memegang buku teknik yang baru diberikannya, lalu menghela napas. “Aku harus pergi sekarang—dewan Nexus menunggu,” katanya, suaranya dalam dan serak. “Kalian baca dulu buku itu, aku tak akan lama.” Sarah mengangguk, jari-jarinya menyentuh sampul bukunya. “Aku akan mulai dari sini,” ujarnya pelan, matanya ungu menyala samar penuh minat. Laila memandang bukunya dengan mata cokelat besar, tangannya bergerak lembut membukanya, tapi sebelum mereka bisa tenggelam dalam bacaannya, kegaduhan tiba-tiba menggema dari luar—suara kepakan sayap yang tajam bercampur cicitan panik Molly dan peki

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 66: Lorong Rahasia dan Terobosan Master

    Lorong rahasia di bawah Akademi Baseus menyambut Kael dan kelompoknya dengan udara dingin yang membawa aroma tanah basah dan batu tua. Cahaya samar dari dinding berlumut hanya mampu menerangi beberapa langkah di depan, sementara kegelapan menyelimuti lorong-lorong bercabang yang tampak tak berujung. Labirin itu terasa hidup, bergetar pelan seolah memiliki napas sendiri, siap menyesatkan siapa saja yang tak memiliki pengalaman atau kemampuan untuk menemukan jalan keluar. Kael melangkah di depan, matanya biru menyipit mencoba menembus bayang-bayang yang tebal. “Lorong ini terlalu banyak,” katanya pelan, suaranya rendah namun teguh. “Kalau kami salah pilih, mungkin tak pernah keluar.” Sarah mengangguk di sisinya, Mata Sihir-nya menyala samar, energi ungu berkilau di pupilnya saat memindai dinding-dinding berliku. “Aku rasa ini bukan labirin biasa—ada sesuatu yang mengacaunya,” ujarnya, nadanya tenang namun penuh kewaspadaan. Untungnya, tupai bersayap yang kini dinamai Molly oleh Sophia

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 65: Pintu Rahasia dan Bayang Merah

    Sinar matahari pagi perlahan menyelinap melalui celah-celah kanopi hutan belakang Akademi Baseus, membawa kehangatan tipis yang menyapu aroma lumut basah dan getah pohon di sekitar Kael dan kelompoknya. Angin lembut berdesir di antara daun-daun raksasa, mengisi keheningan dengan suara samar, namun ada ketegangan halus yang menggantung di udara—seolah hutan ini menahan napas, menyimpan rahasia yang menanti saatnya terbongkar. Kael berdiri di dekat lubang sempit yang baru saja digali tupai bersayap, matanya biru menyipit penuh rasa ingin tahu. Lubang itu terselip di balik lumut tebal yang menyelimuti akar pohon besar, terlalu kecil untuk dilalui, namun ada daya tarik misterius yang membuatnya sulit berpaling. “Aku ingin masuk ke laluan ini,” katanya pelan, suaranya rendah namun teguh, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang yang lain. “Tapi lubangnya kecil sekali—bagaimana caranya?” Sarah berlutut di sisinya, jari-jarinya menyentuh lumut dingin yang licin, Mata Sihir-nya menyala samar

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 64: Makhluk Hutan dan Jalan Rahasia

    Sinar matahari pagi perlahan menyelinap melalui celah-celah kanopi hutan belakang Akademi Baseus, membawa kehangatan tipis yang menyapu aroma tanah basah dan daun kering di bawah langkah Kael dan kelompoknya. Udara terasa segar setelah malam panjang di desa buronan, dan desiran daun yang tertiup angin lembut mengisi keheningan di antara mereka. Desa itu kini jauh tertinggal, tersembunyi di lembah kecil, warga-warganya kembali ke rutinitas petani sederhana—kedok yang menyamarkan kekuatan mental emas mereka. Menyadari bahwa mereka berada di wilayah hutan belakang Akademi Baseus, meski perjalanan ke akademi masih jauh, Kael merasakan harapan baru di depan. Dia melangkah di depan, mantelnya bergoyang ringan tertiup angin, matanya yang biru memindai hutan dengan hati-hati. “Kami sudah dekat Baseus sekarang,” katanya, suaranya rendah namun teguh, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang yang lain. “Tapi kami harus lebih kuat sebelum sampai—musuh takkan menunggu.” Sarah melangkah di sisi

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 63: Desa Buronan dan Jejak Akademi

    Udara malam di desa kecil itu masih terasa berat, membawa aroma darah kering dan kayu terbakar yang tersisa dari pertempuran sebelumnya. Cahaya bulan sabit tipis menyelinap melalui celah-celah rumah kayu, menerangi warga desa yang berdiri di tengah mayat musuh, mata mereka emas bersinar penuh curiga menatap Kael dan kelompoknya. Kael melangkah maju, tangannya terangkat menunjukkan tak ada ancaman, suaranya tenang meski ada getar canggung dari pertemuan tak terduga ini. “Kami sedang dalam misi Akademi,” jelasnya, matanya biru bertemu tatapan wanita petani yang masih memegang pisau berdarah. “Profesor Aldos meminta kami istirahat di desa ini sebelum lanjutkan misi—kami lihat kedua kelompok itu dalam perjalanan, dan memilih datang malam ini agar tak bentrok dengan mereka. Tapi sepertinya, seperti biasa, sesuatu yang tak diinginkan selalu terjadi jika mereka ada di suatu tempat.” Wanita itu menurunkan pisaunya perlahan, napasnya lega meski tatapannya tetap tajam. Pria tua dengan k

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 62: Bayang Sekutu dan Luka Musuh

    Malam di desa kecil itu berubah menjadi kekacauan berdarah, cahaya bulan sabit tipis memantul di genangan darah dan bilah senjata yang berkilau. Api obor berkobar liar, membakar udara dengan aroma kayu terbakar dan daging hangus, sementara jeritan pertempuran menggema di antara rumah-rumah kayu sederhana. Kael dan kelompoknya tetap bersembunyi di balik semak terakhir di tepi desa, matanya biru menyipit menatap warga desa yang bertarung ganas melawan Ordo Umbra dan pemburu Crimson. Kekuatan mental emas warga bersinar terang, kontras dengan mental ungu pemimpin kedua kelompok musuh yang berkobar penuh ancaman. Kael menggertakkan gigi, pikirannya berputar penuh kebingungan. “Kita bantu atau lari?” bisik Murphy di sisinya, pedangnya erat di tangan, nadanya tegang tapi siap bertindak. Sarah menatap Kael, matanya ungu menyala samar, “Mereka terlalu kuat—tapi kita tak tahu siapa yang benar di sini.” Laila mengisyaratkan keraguan dengan gerakan tangan cepat, sementara Sophia memandang deng

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 61: Desa yang Terselubung dan Pertempuran Malam

    Hutan Aethel membungkus reruntuhan kecil dalam kesunyian yang tegang, hanya dipecah oleh bisikan angin yang menyelinap melalui daun-daun lelet dan suara langkah musuh yang kini mendekati. Kael dan kelompoknya merapat di balik semak tebal, napas mereka ditahan, tubuh mereka menyatu dengan bayang-bayang pohon. Aroma logam tajam dari pemburu Crimson dan bau tinta kering bercampur darah dari Ordo Umbra memenuhi udara, menciptakan ketegangan yang nyaris terasa di kulit. Dua kelompok itu berdiri di dekat altar, hanya beberapa meter dari tempat persembunyian mereka, tapi tak saling bersekutu—mata mereka saling menatap penuh curiga. Pemimpin Ordo Umbra, wanita berambut putih pendek dengan mata dingin, melangkah maju, tangannya menyentuh altar dengan jemari pucat. “Desa itu punya jejak penyihir kuno—kita harus sampai ke sana sebelum mereka,” katanya, suaranya tajam seperti pisau, matanya melirik ke arah pemburu Crimson dengan jijik. Salah satu anak buahnya, pria bertubuh kurus dengan juba

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status