Home / Fantasi / Tiga Mayat Satu Takdir / Bab 12: Bayang-Bayang di Pagi Hari

Share

Bab 12: Bayang-Bayang di Pagi Hari

Author: Pok Jang
last update Last Updated: 2025-03-08 00:15:20

Ruangan bawah tanah itu terasa hening setelah pertempuran yang brutal, hanya diisi oleh suara napas tersengal dan tetesan air yang jatuh dari dinding batu yang lembap. Lampu api emas di tengah ruangan masih menyala redup, asap hitamnya kini menipis, seolah kegelapan yang tadinya mengancam telah mundur untuk sementara.

Bau busuk lendir ghoul masih membandel di udara, bercampur dengan aroma tanah dan keringat warga desa yang berkumpul dalam diam. Tubuh pria tua yang dirasuki ghoul tergeletak tak bernyawa di sudut, kulitnya pucat seperti lilin, meninggalkan luka emosional yang lebih dalam daripada pertarungan itu sendiri.

Kael berdiri di tengah ruangan, tangannya masih gemetar karena kelelahan. Cahaya hijau kehitaman dari **Racun Tiga Mayat** perlahan memudar dari jemarinya, meninggalkan rasa dingin yang merayap di kulitnya. Ia melirik kelompoknya—Sarah yang duduk bersandar di dinding dengan mata setengah terpejam, Laila yang memeluk lututnya dengan wajah pucat, dan Murphy yang menyeka d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 13: Bayang-Bayang di Jalan Raya

    Matahari pagi terbit perlahan di atas cakrawala, menerangi jalan tanah berdebu yang membentang di depan Kael dan kelompoknya. Angin sepoi-sepoi membawa aroma rumput kering serta tanah lembap dari hutan purba yang kini semakin menjauh di belakang mereka.Langkah mereka terasa berat; kaki mereka masih lemas setelah malam penuh pertempuran di desa kecil. Namun, tekad untuk mencapai Akademi Baseus mendorong mereka terus maju. Nexus, kota besar tempat akademi itu berdiri megah, masih jauh—beberapa kota kecil harus mereka lewati terlebih dahulu, dan perjalanan itu terasa seperti ujian ketahanan yang tiada akhir.Kael berjalan di depan, tangannya menggenggam erat permata hitam kecil yang ditemukan oleh Sarah, matanya tajam memindai sekeliling. Di belakangnya, Sarah dan Laila berbagi selimut tipis yang diberikan oleh warga desa; wajah mereka pucat, namun penuh semangat. Murphy menutup barisan, pedangnya bergoyang di pinggang, napasnya sedikit tersengal, tetapi ia tetap bersiul pelan untuk men

    Last Updated : 2025-03-08
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 14: Pertarungan di Tepi Sungai

    Api unggun berkobar redup, nyalanya bergoyang liar saat raungan wyvern mengguncang udara malam. Makhluk itu berdiri di tepi sungai, sayapnya yang compang-camping bergetar penuh amarah, dan taringnya berkilau dalam cahaya bulan yang samar. Cakarnya mengoyak tanah berlumpur, meninggalkan bekas dalam yang berbau asam menyengat, sementara mata kuningnya menyala dengan nafsu membunuh yang liar. Pedagang berteriak panik, Toman mendorong keluarganya ke belakang gerbong, sementara Kael berdiri teguh di depan kelompoknya, energi hijau kehitaman **Racun Tiga Mayat** menyala di tangannya, berpendar dengan semburat ungu yang mengerikan. "Sarah, Laila, mundur!" bisik Kael tajam, matanya melirik ke arah lima sosok pemburu yang berdiri tenang di sisi unggun, mantel cokelat tua mereka bergoyang pelan di angin malam. "Awasi mereka—jangan ikut bertarung dengan wyvern. Aku dan Murphy akan menangani ini." Sarah mengangguk cepat, tangannya menggenggam erat lengan Laila. Matanya berpendar ungu samar sa

    Last Updated : 2025-03-09
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 15: Rahasia di Balik Bayangan

    Pagi menyingsing dengan langit kelabu yang berat, awan tebal menggantung rendah di atas jalan tanah berdebu yang membentang di depan Kael dan kelompoknya. Udara terasa dingin dan lembap, membawa aroma samar rumput basah dan kayu bakar yang masih mengepul dari unggun semalam. Gerbong pedagang bergoyang pelan, roda kayunya berderit di atas batu kecil, sementara kuda-kuda mendengus lelet, seolah merasakan ketegangan yang menyelimuti kelompok itu. Pertarungan malam sebelumnya masih membekas—bau darah wyvern dan energi emas yang hangus terngiang di ingatan mereka, membuat setiap suara kecil dari semak di pinggir jalan terasa seperti ancaman. Kael duduk di tepi gerbong, tangannya memegang salah satu kristal sihir pengubah penampilan yang ia ambil dari Pemburu Crimson yang tewas. Cahaya biru samar dari kristal itu berkedip pelan di tangannya, hangat namun asing. Matanya yang tajam menatap benda itu dengan konsentrasi penuh, keningnya berkerut saat ia mencoba menyalurkan energi sihirnya ke

    Last Updated : 2025-03-09
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 16: Persiapan di Kota Kecil

    Penginapan kecil itu berdiri sederhana di tepi jalan berbatu, dinding kayunya sudah lapuk dan berderit ditiup angin pagi. Aroma roti panggang dan kayu bakar menguar dari dapur kecil di dalam, bercampur dengan bau debu dan keringat yang masih melekat pada pakaian Kael dan kelompoknya. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah-celah jendela yang retak, menerangi ruangan sempit tempat mereka duduk di meja kayu usang, penuh goresan dari tamu-tamu sebelumnya. Setelah malam penuh pertempuran dan ketegangan, penginapan ini terasa seperti tempat berlindung sementara, meski bayangan Pemburu Crimson masih mengintai di pikiran mereka. Kael duduk di sudut meja, tangannya memainkan salah satu kristal sihir pengubah penampilan yang tak bisa ia gunakan, matanya tajam menatap kelompoknya. Sarah dan Laila, yang masih mengenakan penyamaran dari kristal—rambut cokelat tua dan merah kecokelatan—duduk berdekatan, wajah mereka pucat tapi penuh tekad. Murphy, dengan janggut kecil dan rambut pirang dar

    Last Updated : 2025-03-10
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 17: Ketegangan di Jalan Berbatu

    Gerbong sederhana itu bergoyang pelan di jalan berbatu, roda kayunya berderit keras di bawah tekanan, sementara kuda-kuda mendengus dengan napas berat. Udara siang terasa panas dan kering, debu beterbangan di sekitar mereka, menempel di kulit dan pakaian yang sudah lusuh. Kael memegang tali kekang erat, jantungnya berdegup kencang saat suara derap kaki mendekat dari belakang. Ia melirik ke samping, matanya tajam menangkap kilatan jubah putih Ordo Cahaya yang kini mengelilingi gerbong mereka seperti bayang-bayang cahaya yang mencekam. Serigala kabut raksasa itu berhenti tepat di samping gerbong, bulu abu-abunya yang bergetar seperti asap berkibar di angin, dan matanya biru pucat menyala penuh kewaspadaan. Hidungnya mengendus udara dengan liar, mengeluarkan suara mendengus yang dalam dan menggetarkan, mendekati Kael yang duduk paling depan. Energi hijau kehitaman **Racun Tiga Mayat** di tubuhnya bergetar halus tanpa ia sadari, aura terlarang itu tampaknya menarik perhatian makhluk itu

    Last Updated : 2025-03-10
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 18: Bisikan di Pinggir Sungai

    Gerbong sederhana itu bergoyang pelan di jalan berbatu, roda kayunya berderit seiring langkah kuda-kuda tua yang mulai lelet. Matahari perlahan naik di langit, sinarnya hangat tapi pucat, menyelinap di antara awan tipis yang bergoyang di angin sepoi-sepoi. Udara terasa lebih segar sekarang, membawa aroma rumput kering dan bunga liar dari padang terbuka yang menggantikan hutan purba yang gelap. Kael duduk di depan, tangannya memegang tali kekang dengan santai tapi mata birunya tetap tajam, memindai setiap semak dan bukit kecil di kejauhan. Sarah dan Laila duduk di belakang, penyamaran kristal mereka masih aktif, sementara Murphy bersandar di sisi gerbong, pedangnya tersedia di pangkuannya, bersiul pelan untuk menjaga semangat. Perjalanan mereka berlangsung tenang selama beberapa hari, hanya berhenti untuk makan roti kering dan daging asin dari bekal, serta memberi istirahat pada kuda-kuda yang kelelahan. Mereka melewati desa-desa kecil di sepanjang jala

    Last Updated : 2025-03-11
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 19: Jebakan di Bawah Senja

    Sungai mengalir pelan di bawah langit senja yang memudar, kilauan jingga di permukaannya perlahan digantikan oleh bayang-bayang malam yang merayap. Pepohonan di pinggir sungai berdiri diam, daun-daunnya bergoyang pelan ditiup angin, menciptakan gemerisik halus yang bercampur dengan deru napas Kael dan kelompoknya. Mereka bersembunyi di balik semak dan akar pohon yang menjalar, tubuh mereka merunduk rendah, napas mereka tertahan dalam kewaspadaan. Ilusi Sarah berdiri di tepi api unggun yang belum dinyalakan—bayangan Kael, Murphy, Sarah, dan Laila duduk santai, sempurna namun rapuh, hanya bertahan lima menit sebelum menghilang. Kael menggenggam energi **Racun Tiga Mayat**, jari-jarinya bergetar dengan kabut hijau kehitaman yang siap meluncur, matanya tajam menatap ke arah hutan. Laila menutup matanya, telinganya yang peka mendengarkan setiap suara—derap kuda dan langkah kaki Pemburu Crimson yang mendekat dari kejauhan, semakin jelas di pendengaran supernya yan

    Last Updated : 2025-03-11
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 20: Bayang-Bayang yang Tak Pernah Menjauh

    Sungai mengalir perlahan di bawah langit malam yang gelap pekat. Permukaannya memantulkan bintang-bintang samar, meski tertutup awan tipis yang melintas. Udara di sekitar terasa berat, masih menyimpan aroma darah dan energi emas yang hangus, bercampur dengan bau tanah basah serta lumut di tepi sungai. Di tanah berlumpur, tiga mayat Pemburu Crimson tergeletak tak bernyawa. Mantel merah tua mereka robek, basah oleh darah yang mulai mengering, menciptakan pemandangan yang suram.Kael berdiri di atas salah satu mayat itu. Napasnya tersengal, dan tangannya masih bergetar, sisa energi hijau kehitaman dari **Racun Tiga Mayat** perlahan memudar dari kulitnya. Cahaya bulan redup menyentuh wajahnya, menonjolkan garis-garis tegang di rahangnya, sementara matanya menyiratkan campuran kekhawatiran dan tekad yang membara."Kita tak boleh biarkan jejak ini membawa lebih banyak dari mereka," gumam Kael dengan suara rendah namun penuh ketegasan. Ia berlutut di samping may

    Last Updated : 2025-03-12

Latest chapter

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 71: Tawaran di Bawah Cahaya Senja

    Angin malam berdesir lembut di Teluk Senja, melepaskan aroma garam laut yang berpadu dengan asap ikan bakar dari perapian desa petualang yang terlihat jauh di kejauhan. Cahaya bulan yang lembut memantulkan sinarnya di permukaan air, menciptakan kilauan perak yang bergetar pelan seiring ombak kecil yang menyapu tepi dermaga. Lyra melangkah anggun di dek kapal mewahnya; rambut hitamnya terurai dari ikatan, melambai tertiup angin. Dengan gerakan tangan yang anggun, ia mengundang kelompok Kael menuju meja panjang yang megah di tengah dek. Sup ikan mengepul dalam mangkuk kristal; uapnya menyebarkan aroma rempah laut yang menggoda. Roti panggang keemasan tersusun rapi dalam keranjang anyaman, sementara buah-buahan segar—anggur ungu dan jeruk berkilau—tercermin di bawah cahaya lampu minyak yang bergoyang pelan, menggantung pada tiang-tiang kayu yang dipoles mengilap. Pelayan-pelayan berpakaian seragam hitam bergerak senyap, menyajikan piring dan sendok perak dengan ketepatan terampil. Dent

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 70: Pertemuan di Teluk Senja

    Kael berdiri di sudut restoran kecil di Nexus, tangannya menggenggam surat dari Lyra. Matanya yang biru menatap kelompoknya yang berkumpul di sekitar meja kayu usang. Kabut ketidakpastian tentang Aldos menyelimuti pikiran mereka—Profesor itu hilang, diselamatkan oleh sosok misterius dari Ordo Cahaya, namun jejaknya lenyap. “Aku rasa kita harus menemui Lyra,” kata Kael pelan, suaranya teguh. “Kami tak punya petunjuk tentang Aldos, dan dia mungkin tahu sesuatu.” Sarah mengangguk, jari-jarinya menyentuh mangkuk sup dingin. “Dia pernah membantu kita—aku setuju.” Murphy melirik kereta kristal maglev di kejauhan. “Lebih baik daripada kita berkeliaran tanpa arah.” Laila, sambil memeluk karung tempat Molly bersembunyi, mengangguk kecil. Getaran soniknya membentuk suara halus: “Ly… ra… bantu?” Keputusan diambil dengan cepat. Teluk Senja, dua puluh kilometer dari Nexus, bukan perjalanan singkat. Transportasi umum seperti kapal terbang sihir atau kereta kristal terlalu berisiko dengan mata-

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 69: Jejak di Bayang dan Panggilan Lyra

    Lorong rahasia di bawah Akademi Baseus membentang dalam kegelapan pekat, udara dingin bercampur aroma tanah basah dan batu tua menusuk hidung mereka seiring langkah hati-hati yang diambil. Cahaya samar dari lumut yang menempel di dinding kasar hanya mampu menerangi beberapa meter ke depan, meninggalkan cabang-cabang lorong dalam bayang-bayang yang tampak bergerak, seolah menyimpan rahasia yang enggan terucap. Kael berjalan di depan, mantel panjangnya bergoyang pelan tertiup angin bawah tanah. Tangannya tetap siaga di saku tempat Racun Tiga Mayat tersimpan, bersiap menghadapi ancaman yang bisa muncul kapan saja. Teknik Windstep yang dikuasainya membuat langkahnya nyaris tak bersuara, debu di lantai batu pun tak terusik. Di belakangnya, Sarah, Murphy, dan Laila mengikuti dengan langkah lebih berat. Derit pelan dari sepatu mereka bergema di lorong sempit itu. "Kita harus tetap waspada," bisik Kael, suaranya rendah namun tegas. "Ada kemungkinan kelompok lain bersembunyi di sini, menungg

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 68: Terobosan dan Bayang Kekhawatiran

    Malam melingkupi rumah kayu Aldos dengan sunyi yang tebal, bayang-bayang hutan ilusi bergoyang pelan di luar jendela, diterangi cahaya bulan yang temaram. Di dalam ruangan kecil berdinding simbol sihir kuno, energi ungu dan emas masih menderu, mengelilingi Kael dan Murphy dalam pusaran liar yang bergetar hingga ke lantai kayu. Sarah dan Laila, yang menunggu di ruangan utama, duduk di dekat meja tua, sepiring roti kering dan semangkuk sup sederhana terhidang di antara mereka. Cahaya lilin memantul lembut di wajah mereka, sementara buku teknik dari Aldos terbuka di pangkuan masing-masing, halaman-halaman kertas tua berderit saat dibalik. Sarah menyeruput supnya, matanya ungu melirik bukunya sesekali. “Aku rasa ini bisa bantu aku lihat lebih jauh,” katanya pelan, suaranya rendah namun penuh rasa ingin tahu. Laila mengangguk, matanya cokelat besar memandang bukunya dengan fokus, jari-jarinya menyentuh kertas seolah menyerap setiap kata tentang frekuensi sonik. Mereka makan dalam kehe

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 67: Bayang Phoenix dan Rahasia Ungu

    Di dalam ruangan kecil berdinding simbol sihir kuno, energi terus menderu, benang-benang ungu dan emas berkilauan mengelilingi Kael dan Murphy dalam gelombang liar yang perlahan mencari keseimbangan. Sementara itu, di luar, Profesor Aldos berdiri di tengah ruangan utama rumahnya, jubah hitamnya bergoyang pelan tertiup angin yang menyelinap melalui celah-celah kayu. Dia melirik Sarah dan Laila, yang tengah memegang buku teknik yang baru diberikannya, lalu menghela napas. “Aku harus pergi sekarang—dewan Nexus menunggu,” katanya, suaranya dalam dan serak. “Kalian baca dulu buku itu, aku tak akan lama.” Sarah mengangguk, jari-jarinya menyentuh sampul bukunya. “Aku akan mulai dari sini,” ujarnya pelan, matanya ungu menyala samar penuh minat. Laila memandang bukunya dengan mata cokelat besar, tangannya bergerak lembut membukanya, tapi sebelum mereka bisa tenggelam dalam bacaannya, kegaduhan tiba-tiba menggema dari luar—suara kepakan sayap yang tajam bercampur cicitan panik Molly dan peki

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 66: Lorong Rahasia dan Terobosan Master

    Lorong rahasia di bawah Akademi Baseus menyambut Kael dan kelompoknya dengan udara dingin yang membawa aroma tanah basah dan batu tua. Cahaya samar dari dinding berlumut hanya mampu menerangi beberapa langkah di depan, sementara kegelapan menyelimuti lorong-lorong bercabang yang tampak tak berujung. Labirin itu terasa hidup, bergetar pelan seolah memiliki napas sendiri, siap menyesatkan siapa saja yang tak memiliki pengalaman atau kemampuan untuk menemukan jalan keluar. Kael melangkah di depan, matanya biru menyipit mencoba menembus bayang-bayang yang tebal. “Lorong ini terlalu banyak,” katanya pelan, suaranya rendah namun teguh. “Kalau kami salah pilih, mungkin tak pernah keluar.” Sarah mengangguk di sisinya, Mata Sihir-nya menyala samar, energi ungu berkilau di pupilnya saat memindai dinding-dinding berliku. “Aku rasa ini bukan labirin biasa—ada sesuatu yang mengacaunya,” ujarnya, nadanya tenang namun penuh kewaspadaan. Untungnya, tupai bersayap yang kini dinamai Molly oleh Sophia

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 65: Pintu Rahasia dan Bayang Merah

    Sinar matahari pagi perlahan menyelinap melalui celah-celah kanopi hutan belakang Akademi Baseus, membawa kehangatan tipis yang menyapu aroma lumut basah dan getah pohon di sekitar Kael dan kelompoknya. Angin lembut berdesir di antara daun-daun raksasa, mengisi keheningan dengan suara samar, namun ada ketegangan halus yang menggantung di udara—seolah hutan ini menahan napas, menyimpan rahasia yang menanti saatnya terbongkar. Kael berdiri di dekat lubang sempit yang baru saja digali tupai bersayap, matanya biru menyipit penuh rasa ingin tahu. Lubang itu terselip di balik lumut tebal yang menyelimuti akar pohon besar, terlalu kecil untuk dilalui, namun ada daya tarik misterius yang membuatnya sulit berpaling. “Aku ingin masuk ke laluan ini,” katanya pelan, suaranya rendah namun teguh, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang yang lain. “Tapi lubangnya kecil sekali—bagaimana caranya?” Sarah berlutut di sisinya, jari-jarinya menyentuh lumut dingin yang licin, Mata Sihir-nya menyala samar

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 64: Makhluk Hutan dan Jalan Rahasia

    Sinar matahari pagi perlahan menyelinap melalui celah-celah kanopi hutan belakang Akademi Baseus, membawa kehangatan tipis yang menyapu aroma tanah basah dan daun kering di bawah langkah Kael dan kelompoknya. Udara terasa segar setelah malam panjang di desa buronan, dan desiran daun yang tertiup angin lembut mengisi keheningan di antara mereka. Desa itu kini jauh tertinggal, tersembunyi di lembah kecil, warga-warganya kembali ke rutinitas petani sederhana—kedok yang menyamarkan kekuatan mental emas mereka. Menyadari bahwa mereka berada di wilayah hutan belakang Akademi Baseus, meski perjalanan ke akademi masih jauh, Kael merasakan harapan baru di depan. Dia melangkah di depan, mantelnya bergoyang ringan tertiup angin, matanya yang biru memindai hutan dengan hati-hati. “Kami sudah dekat Baseus sekarang,” katanya, suaranya rendah namun teguh, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang yang lain. “Tapi kami harus lebih kuat sebelum sampai—musuh takkan menunggu.” Sarah melangkah di sisi

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 63: Desa Buronan dan Jejak Akademi

    Udara malam di desa kecil itu masih terasa berat, membawa aroma darah kering dan kayu terbakar yang tersisa dari pertempuran sebelumnya. Cahaya bulan sabit tipis menyelinap melalui celah-celah rumah kayu, menerangi warga desa yang berdiri di tengah mayat musuh, mata mereka emas bersinar penuh curiga menatap Kael dan kelompoknya. Kael melangkah maju, tangannya terangkat menunjukkan tak ada ancaman, suaranya tenang meski ada getar canggung dari pertemuan tak terduga ini. “Kami sedang dalam misi Akademi,” jelasnya, matanya biru bertemu tatapan wanita petani yang masih memegang pisau berdarah. “Profesor Aldos meminta kami istirahat di desa ini sebelum lanjutkan misi—kami lihat kedua kelompok itu dalam perjalanan, dan memilih datang malam ini agar tak bentrok dengan mereka. Tapi sepertinya, seperti biasa, sesuatu yang tak diinginkan selalu terjadi jika mereka ada di suatu tempat.” Wanita itu menurunkan pisaunya perlahan, napasnya lega meski tatapannya tetap tajam. Pria tua dengan k

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status