Home / Fantasi / Tiga Mayat Satu Takdir / Bab 19: Jebakan di Bawah Senja

Share

Bab 19: Jebakan di Bawah Senja

Author: Pok Jang
last update Last Updated: 2025-03-11 00:15:28

Sungai mengalir pelan di bawah langit senja yang memudar, kilauan jingga di permukaannya perlahan digantikan oleh bayang-bayang malam yang merayap. Pepohonan di pinggir sungai berdiri diam, daun-daunnya bergoyang pelan ditiup angin, menciptakan gemerisik halus yang bercampur dengan deru napas Kael dan kelompoknya.

Mereka bersembunyi di balik semak dan akar pohon yang menjalar, tubuh mereka merunduk rendah, napas mereka tertahan dalam kewaspadaan. Ilusi Sarah berdiri di tepi api unggun yang belum dinyalakan—bayangan Kael, Murphy, Sarah, dan Laila duduk santai, sempurna namun rapuh, hanya bertahan lima menit sebelum menghilang.

Kael menggenggam energi **Racun Tiga Mayat**, jari-jarinya bergetar dengan kabut hijau kehitaman yang siap meluncur, matanya tajam menatap ke arah hutan. Laila menutup matanya, telinganya yang peka mendengarkan setiap suara—derap kuda dan langkah kaki Pemburu Crimson yang mendekat dari kejauhan, semakin jelas di pendengaran supernya yan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 20: Bayang-Bayang yang Tak Pernah Menjauh

    Sungai mengalir perlahan di bawah langit malam yang gelap pekat. Permukaannya memantulkan bintang-bintang samar, meski tertutup awan tipis yang melintas. Udara di sekitar terasa berat, masih menyimpan aroma darah dan energi emas yang hangus, bercampur dengan bau tanah basah serta lumut di tepi sungai. Di tanah berlumpur, tiga mayat Pemburu Crimson tergeletak tak bernyawa. Mantel merah tua mereka robek, basah oleh darah yang mulai mengering, menciptakan pemandangan yang suram.Kael berdiri di atas salah satu mayat itu. Napasnya tersengal, dan tangannya masih bergetar, sisa energi hijau kehitaman dari **Racun Tiga Mayat** perlahan memudar dari kulitnya. Cahaya bulan redup menyentuh wajahnya, menonjolkan garis-garis tegang di rahangnya, sementara matanya menyiratkan campuran kekhawatiran dan tekad yang membara."Kita tak boleh biarkan jejak ini membawa lebih banyak dari mereka," gumam Kael dengan suara rendah namun penuh ketegasan. Ia berlutut di samping may

    Last Updated : 2025-03-12
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 21: Gerbang Nexus yang Megah

    Gerbong sederhana itu bergoyang pelan sebelum akhirnya berhenti di tepi jalan berbatu yang lebar. Roda kayunya diam setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Di depan mereka, gerbang besar kota Nexus menjulang megah, dikelilingi dinding batu hitam mengilap yang diperkuat dengan sihir. Dinding itu begitu tinggi hingga menutup sebagian langit malam. Menara ramping berdiri di kedua sisi gerbang, masing-masing dihiasi kristal energi sihir biru besar yang bersinar lembut, memancarkan dengungan halus yang terasa hingga ke tulang.Udara di sekitar penuh dengan aroma logam bercampur energi sihir, diselingi bau asap dari tungku pandai besi dan wangi roti panggang dari pasar malam di dalam kota. Di atas, kapal terbang bertenaga sihir melayang perlahan, baling-balingnya berdengung lembut. Di jalanan, monster tunggangan unik seperti naga kecil berbulu logam dan kuda bersisik kristal berjalan di antara kerumunan penyihir yang sibuk.Kael melompat turun dari gerbong,

    Last Updated : 2025-03-12
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 22: Bisikan di Nexus

    Penginapan kecil itu terasa hangat di pagi hari. Aroma roti panggang dan sup sayuran menguar dari dapur, bercampur dengan bau kayu tua serta lilin yang meleleh di meja-meja usang. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui jendela berdebu, menciptakan siluet lembut di ruangan utama. Di sudut ruangan, Kael dan kelompoknya duduk bersama, menikmati sarapan pertama mereka yang layak setelah hari-hari penuh ketegangan. Roti segar yang lembut dan sup hangat perlahan mengusir dingin yang masih tersisa di tubuh mereka, memberi sedikit kenyamanan meski hanya sementara.Kael duduk dengan tudung mantelnya ditarik rendah, matanya tajam mengamati setiap sudut ruangan. Percakapan para pedagang dan penyihir yang memenuhi penginapan menjadi latar suara yang samar namun penuh informasi. Sarah dan Laila duduk berdekatan, tetap dalam penyamaran kristal mereka. Rambut cokelat tua dan merah kecokelatan membuat mereka tampak seperti pelancong biasa, namun telinga mereka siaga menangkap bi

    Last Updated : 2025-03-12
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 23: Gerbang Akademi Baseus

    Malam perlahan memudar di Nexus, langit gelap digantikan oleh cahaya pagi yang lembut, menyelinap di antara awan tipis yang bergerak cepat. Bunyi pesawat terbang energi sihir menggema di udara, baling-balingnya berdengung pelan saat melintas di atas kota, meninggalkan jejak kilauan kristal biru. Monster tunggangan terbang—naga kecil berbulu logam dan burung raksasa bersisik kristal—mengeluarkan suara menderu dan berdecit, menambah hiruk-pikuk kota yang ramai. Jalanan Nexus dipenuhi pedagang yang berteriak menawarkan ramuan, murid-murid penyihir yang berjalan dengan mantel megah, dan aroma logam cair bercampur rempah-rempah yang terbawa angin. Kael berdiri di kamar penginapan kecil, mantel tuanya ditarik rendah menutupi wajahnya. Matanya tajam menatap kelompoknya yang bersiap. Sarah dan Laila, dengan penyamaran kristal mereka—rambut cokelat tua dan merah kecokelatan—memeriksa bekal di karung tua. Wajah mereka penuh kewaspadaan meski ada sedikit rasa takjub pada kota yang kini mereka

    Last Updated : 2025-03-13
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 24: Hutan Ilusi Aldos

    Lorong-lorong Akademi Baseus terasa seperti labirin yang tak berujung, dinding batu putihnya diukir dengan simbol sihir kuno yang berkilau samar di bawah cahaya kristal biru yang tertanam di langit-langit. Udara dingin dan bau samar tinta tua mengisi setiap sudut, bercampur dengan suara langkah mereka yang bergema pelan di lantai marmer mengilap. Kael memimpin kelompoknya, mantel tuanya ditarik rendah menutupi wajah, matanya tajam melirik ke setiap bayangan yang bergerak di sekitar. Sarah dan Laila mengikuti dengan penyamaran kristal mereka—rambut cokelat tua dan merah kecokelatan—langkah mereka hati-hati, sementara Murphy menutup barisan, tangannya siap di pedang emasnya, wajahnya yang disamarkan tetap tegang. Rivan, murid senior berlencana ungu, berjalan di depan dengan langkah cepat, mantelnya biru tua berkibar pelan. Ia membawa mereka melalui lorong-lorong yang berbelok tak terduga, melewati ruang-ruang kelas kosong dan perpustakaan kecil yang penuh buku tua, membuat Kael sema

    Last Updated : 2025-03-13
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 25: Rahasia Buku Kuno

    Ruangan kecil di dalam rumah kayu Profesor Aldos terasa hangat dan penuh misteri, dindingnya dilapisi rak-rak kayu tua yang penuh dengan buku-buku kuno, gulungan perkamen, dan botol-botol ramuan yang berkilau samar. Lampu kristal kuning di langit-langit memancarkan cahaya lembut, menerangi meja kayu besar di tengah ruangan tempat Kael dan kelompoknya duduk. Aroma kayu bakar dan tinta tua mengisi udara, bercampur dengan bau samar ramuan yang mendidih di sudut. Profesor Aldos berdiri di depan mereka, tubuhnya tinggi kurus dengan mantel biru tua berlencana emas, rambut peraknya terikat rapi, dan matanya biru cerah penuh kebijaksanaan. Phoenix kecil di pundaknya berkedip pelan, bulu apinya menari seperti nyala lilin. Kael duduk di kursi kayu yang berderit, mantel tuanya terlepas kini memperlihatkan wajahnya yang tegang, matanya tajam menatap Aldos. Sarah dan Laila duduk di sisinya, penyamaran kristal mereka dilepas, rambut pirang dan cokelat gelap mereka kembali terlihat, wajah merek

    Last Updated : 2025-03-13
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 26: Pencarian di Perpustakaan Baseus

    Ruangan kecil Profesor Aldos terasa semakin sesak dengan aroma tinta tua dan kayu bakar, lampu kristal kuning di langit-langit memancarkan cahaya hangat yang menerangi buku kuno di meja kayu besar. Kael duduk dengan tangan mengepal di atas meja, matanya tajam menatap buku itu, ukiran enam penyihir kuno mengelilingi batu bersinar tampak hidup di bawah cahaya. Sarah dan Laila duduk di sisinya, wajah mereka penuh harapan bercampur kelelahan, sementara Murphy bersandar di dinding, pedangnya bergoyang pelan di pinggangnya, matanya cokelat dari penyamaran kristal melirik ke Aldos yang berdiri dengan mantel biru tua berlencana emas. "Kita harus temukan enam token itu," kata Kael, suaranya tegas meski ada nada frustrasi di dalamnya. "Baseus adalah akademi pertama—kalau ada satu di sini, kita harus mulai dari sini. Tapi..." Ia berhenti, matanya menyipit ke arah buku. "Kita tak tahu bentuknya seperti apa." Aldos mengangguk, jari kurusnya mengetuk sampul buku. "Itu masalahnya," katanya, suar

    Last Updated : 2025-03-14
  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 27: Bayang-Bayang Phoenix

    Ruangan kecil Profesor Aldos terasa tegang, udara hangat dari lampu kristal kuning bercampur aroma tinta tua dan kayu bakar yang kini terasa dingin di kulit Kael. Ia berdiri di dekat meja kayu besar, tangannya mengepal di atas buku kuno, matanya biru penuh kejutan saat kata-kata terakhir Aldos tentang Ruang Bawah Tanah Terlarang bergema di pikirannya. Sarah dan Laila duduk di sisinya, wajah mereka pucat namun penuh tekad, sementara Murphy bersandar di dinding, pedangnya bergoyang pelan di pinggangnya, matanya cokelat dari penyamaran kristal menatap ke arah pintu yang baru saja Aldos tinggalkan. Tiba-tiba, bunyi nyaring phoenix memecah keheningan, getarannya mengguncang dinding kayu dan buku-buku di rak. Kael berlari ke jendela kecil, matanya melebar saat melihat ke luar. Phoenix kecil yang biasanya bertengger di pundak Aldos kini membesar menjadi raksasa beberapa meter panjangnya, sayap apinya membentang lebar dengan nyala merah dan emas yang menyala terang di langit malam. Bulu-bu

    Last Updated : 2025-03-14

Latest chapter

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 71: Tawaran di Bawah Cahaya Senja

    Angin malam berdesir lembut di Teluk Senja, melepaskan aroma garam laut yang berpadu dengan asap ikan bakar dari perapian desa petualang yang terlihat jauh di kejauhan. Cahaya bulan yang lembut memantulkan sinarnya di permukaan air, menciptakan kilauan perak yang bergetar pelan seiring ombak kecil yang menyapu tepi dermaga. Lyra melangkah anggun di dek kapal mewahnya; rambut hitamnya terurai dari ikatan, melambai tertiup angin. Dengan gerakan tangan yang anggun, ia mengundang kelompok Kael menuju meja panjang yang megah di tengah dek. Sup ikan mengepul dalam mangkuk kristal; uapnya menyebarkan aroma rempah laut yang menggoda. Roti panggang keemasan tersusun rapi dalam keranjang anyaman, sementara buah-buahan segar—anggur ungu dan jeruk berkilau—tercermin di bawah cahaya lampu minyak yang bergoyang pelan, menggantung pada tiang-tiang kayu yang dipoles mengilap. Pelayan-pelayan berpakaian seragam hitam bergerak senyap, menyajikan piring dan sendok perak dengan ketepatan terampil. Dent

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 70: Pertemuan di Teluk Senja

    Kael berdiri di sudut restoran kecil di Nexus, tangannya menggenggam surat dari Lyra. Matanya yang biru menatap kelompoknya yang berkumpul di sekitar meja kayu usang. Kabut ketidakpastian tentang Aldos menyelimuti pikiran mereka—Profesor itu hilang, diselamatkan oleh sosok misterius dari Ordo Cahaya, namun jejaknya lenyap. “Aku rasa kita harus menemui Lyra,” kata Kael pelan, suaranya teguh. “Kami tak punya petunjuk tentang Aldos, dan dia mungkin tahu sesuatu.” Sarah mengangguk, jari-jarinya menyentuh mangkuk sup dingin. “Dia pernah membantu kita—aku setuju.” Murphy melirik kereta kristal maglev di kejauhan. “Lebih baik daripada kita berkeliaran tanpa arah.” Laila, sambil memeluk karung tempat Molly bersembunyi, mengangguk kecil. Getaran soniknya membentuk suara halus: “Ly… ra… bantu?” Keputusan diambil dengan cepat. Teluk Senja, dua puluh kilometer dari Nexus, bukan perjalanan singkat. Transportasi umum seperti kapal terbang sihir atau kereta kristal terlalu berisiko dengan mata-

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 69: Jejak di Bayang dan Panggilan Lyra

    Lorong rahasia di bawah Akademi Baseus membentang dalam kegelapan pekat, udara dingin bercampur aroma tanah basah dan batu tua menusuk hidung mereka seiring langkah hati-hati yang diambil. Cahaya samar dari lumut yang menempel di dinding kasar hanya mampu menerangi beberapa meter ke depan, meninggalkan cabang-cabang lorong dalam bayang-bayang yang tampak bergerak, seolah menyimpan rahasia yang enggan terucap. Kael berjalan di depan, mantel panjangnya bergoyang pelan tertiup angin bawah tanah. Tangannya tetap siaga di saku tempat Racun Tiga Mayat tersimpan, bersiap menghadapi ancaman yang bisa muncul kapan saja. Teknik Windstep yang dikuasainya membuat langkahnya nyaris tak bersuara, debu di lantai batu pun tak terusik. Di belakangnya, Sarah, Murphy, dan Laila mengikuti dengan langkah lebih berat. Derit pelan dari sepatu mereka bergema di lorong sempit itu. "Kita harus tetap waspada," bisik Kael, suaranya rendah namun tegas. "Ada kemungkinan kelompok lain bersembunyi di sini, menungg

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 68: Terobosan dan Bayang Kekhawatiran

    Malam melingkupi rumah kayu Aldos dengan sunyi yang tebal, bayang-bayang hutan ilusi bergoyang pelan di luar jendela, diterangi cahaya bulan yang temaram. Di dalam ruangan kecil berdinding simbol sihir kuno, energi ungu dan emas masih menderu, mengelilingi Kael dan Murphy dalam pusaran liar yang bergetar hingga ke lantai kayu. Sarah dan Laila, yang menunggu di ruangan utama, duduk di dekat meja tua, sepiring roti kering dan semangkuk sup sederhana terhidang di antara mereka. Cahaya lilin memantul lembut di wajah mereka, sementara buku teknik dari Aldos terbuka di pangkuan masing-masing, halaman-halaman kertas tua berderit saat dibalik. Sarah menyeruput supnya, matanya ungu melirik bukunya sesekali. “Aku rasa ini bisa bantu aku lihat lebih jauh,” katanya pelan, suaranya rendah namun penuh rasa ingin tahu. Laila mengangguk, matanya cokelat besar memandang bukunya dengan fokus, jari-jarinya menyentuh kertas seolah menyerap setiap kata tentang frekuensi sonik. Mereka makan dalam kehe

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 67: Bayang Phoenix dan Rahasia Ungu

    Di dalam ruangan kecil berdinding simbol sihir kuno, energi terus menderu, benang-benang ungu dan emas berkilauan mengelilingi Kael dan Murphy dalam gelombang liar yang perlahan mencari keseimbangan. Sementara itu, di luar, Profesor Aldos berdiri di tengah ruangan utama rumahnya, jubah hitamnya bergoyang pelan tertiup angin yang menyelinap melalui celah-celah kayu. Dia melirik Sarah dan Laila, yang tengah memegang buku teknik yang baru diberikannya, lalu menghela napas. “Aku harus pergi sekarang—dewan Nexus menunggu,” katanya, suaranya dalam dan serak. “Kalian baca dulu buku itu, aku tak akan lama.” Sarah mengangguk, jari-jarinya menyentuh sampul bukunya. “Aku akan mulai dari sini,” ujarnya pelan, matanya ungu menyala samar penuh minat. Laila memandang bukunya dengan mata cokelat besar, tangannya bergerak lembut membukanya, tapi sebelum mereka bisa tenggelam dalam bacaannya, kegaduhan tiba-tiba menggema dari luar—suara kepakan sayap yang tajam bercampur cicitan panik Molly dan peki

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 66: Lorong Rahasia dan Terobosan Master

    Lorong rahasia di bawah Akademi Baseus menyambut Kael dan kelompoknya dengan udara dingin yang membawa aroma tanah basah dan batu tua. Cahaya samar dari dinding berlumut hanya mampu menerangi beberapa langkah di depan, sementara kegelapan menyelimuti lorong-lorong bercabang yang tampak tak berujung. Labirin itu terasa hidup, bergetar pelan seolah memiliki napas sendiri, siap menyesatkan siapa saja yang tak memiliki pengalaman atau kemampuan untuk menemukan jalan keluar. Kael melangkah di depan, matanya biru menyipit mencoba menembus bayang-bayang yang tebal. “Lorong ini terlalu banyak,” katanya pelan, suaranya rendah namun teguh. “Kalau kami salah pilih, mungkin tak pernah keluar.” Sarah mengangguk di sisinya, Mata Sihir-nya menyala samar, energi ungu berkilau di pupilnya saat memindai dinding-dinding berliku. “Aku rasa ini bukan labirin biasa—ada sesuatu yang mengacaunya,” ujarnya, nadanya tenang namun penuh kewaspadaan. Untungnya, tupai bersayap yang kini dinamai Molly oleh Sophia

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 65: Pintu Rahasia dan Bayang Merah

    Sinar matahari pagi perlahan menyelinap melalui celah-celah kanopi hutan belakang Akademi Baseus, membawa kehangatan tipis yang menyapu aroma lumut basah dan getah pohon di sekitar Kael dan kelompoknya. Angin lembut berdesir di antara daun-daun raksasa, mengisi keheningan dengan suara samar, namun ada ketegangan halus yang menggantung di udara—seolah hutan ini menahan napas, menyimpan rahasia yang menanti saatnya terbongkar. Kael berdiri di dekat lubang sempit yang baru saja digali tupai bersayap, matanya biru menyipit penuh rasa ingin tahu. Lubang itu terselip di balik lumut tebal yang menyelimuti akar pohon besar, terlalu kecil untuk dilalui, namun ada daya tarik misterius yang membuatnya sulit berpaling. “Aku ingin masuk ke laluan ini,” katanya pelan, suaranya rendah namun teguh, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang yang lain. “Tapi lubangnya kecil sekali—bagaimana caranya?” Sarah berlutut di sisinya, jari-jarinya menyentuh lumut dingin yang licin, Mata Sihir-nya menyala samar

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 64: Makhluk Hutan dan Jalan Rahasia

    Sinar matahari pagi perlahan menyelinap melalui celah-celah kanopi hutan belakang Akademi Baseus, membawa kehangatan tipis yang menyapu aroma tanah basah dan daun kering di bawah langkah Kael dan kelompoknya. Udara terasa segar setelah malam panjang di desa buronan, dan desiran daun yang tertiup angin lembut mengisi keheningan di antara mereka. Desa itu kini jauh tertinggal, tersembunyi di lembah kecil, warga-warganya kembali ke rutinitas petani sederhana—kedok yang menyamarkan kekuatan mental emas mereka. Menyadari bahwa mereka berada di wilayah hutan belakang Akademi Baseus, meski perjalanan ke akademi masih jauh, Kael merasakan harapan baru di depan. Dia melangkah di depan, mantelnya bergoyang ringan tertiup angin, matanya yang biru memindai hutan dengan hati-hati. “Kami sudah dekat Baseus sekarang,” katanya, suaranya rendah namun teguh, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang yang lain. “Tapi kami harus lebih kuat sebelum sampai—musuh takkan menunggu.” Sarah melangkah di sisi

  • Tiga Mayat Satu Takdir    Bab 63: Desa Buronan dan Jejak Akademi

    Udara malam di desa kecil itu masih terasa berat, membawa aroma darah kering dan kayu terbakar yang tersisa dari pertempuran sebelumnya. Cahaya bulan sabit tipis menyelinap melalui celah-celah rumah kayu, menerangi warga desa yang berdiri di tengah mayat musuh, mata mereka emas bersinar penuh curiga menatap Kael dan kelompoknya. Kael melangkah maju, tangannya terangkat menunjukkan tak ada ancaman, suaranya tenang meski ada getar canggung dari pertemuan tak terduga ini. “Kami sedang dalam misi Akademi,” jelasnya, matanya biru bertemu tatapan wanita petani yang masih memegang pisau berdarah. “Profesor Aldos meminta kami istirahat di desa ini sebelum lanjutkan misi—kami lihat kedua kelompok itu dalam perjalanan, dan memilih datang malam ini agar tak bentrok dengan mereka. Tapi sepertinya, seperti biasa, sesuatu yang tak diinginkan selalu terjadi jika mereka ada di suatu tempat.” Wanita itu menurunkan pisaunya perlahan, napasnya lega meski tatapannya tetap tajam. Pria tua dengan k

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status