Cahaya pagi merayap perlahan di antara celah-celah pohon hutan purba. Kabut yang sebelumnya menyelimuti pandangan mulai terangkat, namun suasana tetap terasa dingin dan penuh kewaspadaan. Kael, Sarah, Laila, dan Murphy melangkah pelan, meninggalkan tempat pertempuran yang dipenuhi kekacauan di belakang mereka. Hutan ini, meskipun menunjukkan tanda-tanda kehidupan baru, masih tergerak oleh gema ketegangan yang baru saja mereka alami.
Kael berjalan di depan, wajahnya dipenuhi konsentrasi dan ketegangan yang mendalam. Dalam pikirannya, ritual yang baru saja mereka gagalkan melingkar bak bayangan tak berujung, diiringi satu pertanyaan yang terus menghantuinya: apa sebenarnya yang sedang dipanggil oleh Ordo Umbra? “Kita perlu berhenti sebentar,” kata Murphy dari belakang, suaranya terdengar tersengal. Wajahnya basah oleh keringat, sementara tangan kanannya menekan luka kecil di lengannya. “Aku butuh waktu untuk mengatur napas. Dan mungkin... menjahit luka ini,” tambahnya, suaranya bergetar penuh kesakitan. Kael melirik ke belakang, merasakan beban di hatinya untuk semua orang. Ia mengangguk. “Baik. Tapi tidak lama. Mereka mungkin masih ada di sekitar.” Dalam hati, Kael merasa harus melindungi semua orang di dekatnya, menjaga mereka dari ancaman yang mungkin tetap memburu mereka. Sarah bergegas membantu Murphy, membantunya duduk di atas akar pohon besar yang membentuk kursi alami, dikelilingi lapisan lumut dan dedaunan lembab. Sementara itu, Laila dengan sigap membuka tas kecil yang selalu dia bawa, merogoh ke dalamnya untuk mencari ramuan sederhana yang bisa membantu menyembuhkan luka Murphy. Gerakannya cepat dan terampil, mencampurkan ramuan untuk menghentikan pendarahan, meski tidak banyak bicara—ia lebih memilih beraksi daripada berbicara. Murphy tersenyum lemah ke arah Laila, meski rasa sakit masih tampak di wajahnya. “Kalau aku punya adik sepertimu, mungkin aku bisa selamat lebih sering.” Laila hanya tersenyum kecil, tangannya tetap sibuk mengolah ramuan. Dia menoleh ke Sarah, mengisyaratkan sesuatu dengan tangan yang gesit. Sarah, yang lebih terbiasa dengan bahasa tubuh Laila, menerjemahkan dengan suara lembut, “Laila bilang kau harus lebih hati-hati. Kami tidak selalu bisa menyelamatkanmu.” Murphy tertawa kecil, meski kesakitan masih membayangi wajahnya. “Pesan diterima. Aku akan berusaha lebih berhati-hati,” ucapnya bertekad, seolah mencoba meyakinkan diri sendiri. Kael menjauh sedikit, berusaha mencari tempat untuk mengawasi sekeliling mereka. Ia mendongak, memandangi pohon-pohon besar yang menjulang seperti raksasa diam yang menjaga hutan. Pikirannya melayang kembali ke masa lalu, ke hari-hari sebelum semuanya menjadi rumit dan berbahaya. Ia ingat ayahnya, Jarvis Aethel, seorang pemburu mahir yang selalu memimpin mereka melewati jalur tersembunyi di hutan ini. Jarvis selalu tenang, suaranya berat dan dapat memberikan rasa aman kepada anak-anaknya. Dia mengajarkan Kael cara membaca jejak, mengenali tanda bahaya, dan menggunakan hutan sebagai perlindungan dari ancaman. “Kau tidak hanya bersembunyi, Kael,” suara Jarvis terngiang dalam ingatannya, tegas penuh percaya diri. “Kau belajar menjadi bayangan yang tidak bisa disentuh musuh, pelajari cara mengalahkan mereka dengan kecerdikan.” Namun, kenangan itu tiba-tiba berubah gelap. Ia ingat malam ketika ayahnya pergi, meninggalkan mereka dengan janji bahwa ia akan kembali dengan solusi untuk penyakit ibunya. Kenyataan berbicara lain; Jarvis tidak pernah kembali. Desingan angin dan suara ranting patah seolah mengingatkan akan kehilangan itu, bergetar dalam hatinya. Kael mengepalkan tangannya, merasakan kemarahan dan rasa bersalah bercampur menjadi satu. Ia tidak tahu apakah ayahnya masih hidup, tetapi satu hal pasti: jawabannya ada di Batu Sihir, artefak misterius yang menjadi kunci untuk mengungkap kebenaran dan rahasia terpendam. Sarah mendekat, membuyarkan lamunan Kael dengan lembut. “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya, suaranya ramah namun menyiratkan kekhawatiran. Kael mengangguk singkat, meski dalam hatinya merasa hampa. “Aku hanya memikirkan... ayah,” jawabnya, suaranya dipenuhi kesedihan. Sarah mengangguk, meski wajahnya tetap tenang. “Aku juga sering memikirkannya. Tetapi sekarang kita harus fokus. Ritual itu—aku melihat sesuatu melalui Mata Sihir.” Ia menatap Kael, berusaha mencari cara untuk membangkitkan kewaspadaan mereka. Kael menoleh, alisnya terangkat penuh rasa ingin tahu. “Apa yang kau lihat?” tanyanya, suaranya penuh ketegangan. Sarah menutup matanya sejenak, mencoba mengingat dengan jelas. “Makhluk yang mereka coba panggil. Itu besar, seperti monster dari dimensi lain. Tapi ada yang aneh. Aku merasa seperti... ada sesuatu yang familiar tentang energinya,” jawabnya pelan, seakan masih menggali ingatan tersebut. “Familiar?” Kael mengerutkan kening, ketakutan bercampur rasa curiga. “Maksudmu apa?” “Aku tidak tahu,” jawab Sarah, membuka matanya kembali. “Tapi rasanya seperti energi itu... memiliki koneksi dengan Ordo Umbra. Aku tidak yakin bagaimana, tetapi aku merasa kita semakin dekat dengan sesuatu yang penting.” Wajahnya menunjukkan kekhawatiran, seakan intuisi ini bukan sekadar ilusi. Setelah beberapa saat, Murphy berdiri dengan susah payah, meski masih terlihat lemah. “Aku siap melanjutkan. Kita tidak bisa berlama-lama di sini,” ujarnya dengan napas terengah-engah. Semangat juangnya tak pernah pudar, meski luka-lukanya masih membayangi wajahnya. Kael mengangguk, lalu memandang Sarah dan Laila. “Kita harus menemukan jalur menuju Akademi Baseus. Professor Aldos mungkin bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.” Ia merasa terdesak untuk mendapatkan jawaban, meski setiap langkah membawa risiko yang tak terduga. “Kalau begitu kita harus bergegas,” kata Sarah. “Jika Ordo Umbra tahu kita menuju ke sana, mereka tidak akan tinggal diam.” Waktu semakin mendesak, dan keputusan harus diambil dengan cepat dan bijaksana. Dengan semangat baru yang mengalir, mereka melanjutkan perjalanan, mengikuti jalur sempit di antara pepohonan yang rapat. Namun, dalam hati Kael, ia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa mereka diawasi. Bayangan kegelapan menyelimuti mereka, menciptakan rasa tidak aman yang semakin mendalam. “Kael,” panggil Murphy pelan, suaranya membuat Kael terhenti. Kael berhenti, menoleh ke arahnya. “Ada apa?” tanyanya, merasakan adanya sesuatu yang mengganggu. Murphy menunjuk ke tanah dengan teliti. Jejak kaki besar terlihat di atas tanah lembap, jejak itu terlalu besar untuk manusia biasa, dan ukurannya menunjukkan bahwa makhluk yang membuatnya bukanlah makhluk jinak. Itu seakan memberikan gambaran gelap tentang apa yang telah mereka hadapi. “Mereka sudah memanggil sesuatu,” kata Murphy, suaranya suram. Kael merasakan ketegangan di dalam dadanya meningkat, seolah terperangkap dalam lingkaran ancaman yang semakin kuat. Kael menatap jejak itu, rahangnya mengeras. “Kita harus terus bergerak. Dan kali ini, kita harus lebih hati-hati.” Itu bukan sekadar perintah, tetapi janji untuk melindungi teman-temannya. Langit mulai mendung, menciptakan suasana yang semakin kelam. Hutan menjadi lebih sunyi, seolah semua makhluk hidup memilih bersembunyi dari ancaman yang tidak terlihat. Sarah yang berjalan di belakang mendadak berhenti sejenak, matanya yang buta menatap lurus ke depan, berusaha menangkap apa yang tidak bisa dilihat oleh yang lain. “Sarah?” panggil Kael, memperhatikan perubahan sikapnya. Sarah menggeleng pelan, mengikuti intuisi yang lebih tajam daripada yang lain. “Aku... merasakan sesuatu. Energi gelap. Itu bukan dari Ordo Umbra,” ujarnya, suaranya tenang namun tegang. Laila mendekat ke Sarah, gerakannya lincah. "Apa itu?" tanyanya dengan bahasa isyarat, penuh rasa ingin tahu. Sarah menggenggam tangan Laila dengan lembut, suaranya rendang saat dia berkata, “Aku tidak tahu. Tapi itu besar, dan itu mendekat.” Matanya terpaku ke arah hutan, seolah tertarik pada sesuatu yang lebih gelap. Kael melangkah mundur, mendekati mereka dengan kekhawatiran. “Semuanya tetap bersama. Kita tidak boleh ceroboh.” Murphy, tak mau ketinggalan, menghunus pedangnya, matanya memindai sekitar. “Apa pun itu, kita harus siap. Kalau mereka memanggil monster, itu pasti bukan sesuatu yang bisa kita abaikan.” Keberanian yang terpancar tetap menyala meskipun rasa takut menghampiri mereka. Dengan napas tertahan dan semua indera waspada, mereka melanjutkan perjalanan, menyadari ancaman yang mungkin hanya beberapa langkah di depan. Hutan purba ini, dengan segala misterinya, menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang bisa mereka bayangkan. Dan mereka harus siap menghadapi apapun yang datang berikutnya.Langit hampir terbenam, mengecat cakrawala dengan warna merah keemasan yang memudar perlahan. Kael dan kelompoknya telah tiba di pinggir hutan purba, yang menyelimuti mereka dalam ketegangan dan kewaspadaan. Meskipun telah berjam-jam mereka berjalan dan tidak melihat pengejar dari Ordo Umbra, keheningan hutan itu semakin membuat mereka waspada."Ini aneh. Kita harus lebih berhati-hati meskipun sudah berada di pinggir hutan. Beberapa langkah lagi akan ada sebuah desa kecil tempat kita bisa bermalam, tanpa perlu tidur di hutan lagi," ucap Kael, sambil memperhatikan Sarah dan Laila yang tampak kelelahan. Kerut di alisnya menunjukkan kekhawatiran atas keselamatan mereka.Walaupun seharusnya mereka merasa lega karena tidak ada pengejar, aura aneh di tepi hutan membuat mereka lebih waspada daripada sebelumnya. Suasana tenang dan misterius seolah membangkitkan rasa takut yang terpendam di dalam diri masing-masing."Itu bagus, aku juga ingin tidur di tempat yang lebih nyaman. Aku harap mereka
Saat mereka memasuki lebih dalam lorong yang hanya diterangi oleh cahaya energi sihir Murphy yang keemasan di tangannya, mereka akhirnya melihat lampu minyak yang terpasang di dinding, menandakan bahwa ada orang di dalam. Namun, ketika mereka mencapai ujung lorong, mereka dihadapkan pada sebuah pintu tebal setinggi 3 meter lebih yang tertutup rapat."Apakah mereka mengorbankan harta desa mereka untuk menciptakan pintu sekuat ini? Kini, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita perlu menyapa mereka? Aku berharap mereka menyambut kita dengan baik..." ucap Murphy, bersandar lelah pada pintu."Tenang saja, aku mengenal kepala desa mereka. Tapi itu saat aku masih kecil; aku harap dia masih ingat padaku," balas Kael, yang terkejut melihat pintu yang sangat kokoh. Dia juga curiga, bagaimana warga desa bisa menghabiskan banyak uang untuk membuat pintu tersebut.Kael melihat Sarah dan Laila yang juga kelelahan dan merasa sedikit tidak nyaman, karena mereka sedang kelaparan. Lagi pula, mereka ti
Ruangan bawah tanah yang sempit itu terasa semakin sesak, udara dipenuhi bau tajam belerang dan asap hitam yang berputar liar dari lampu api emas. Nyala emasnya berkedip-kedip, seolah berjuang melawan kegelapan yang merayap masuk, sementara asapnya membentuk bayang-bayang mengerikan yang menari di dinding batu. Warga desa yang berkerumun di sekitar lampu itu memandang dengan mata lebar penuh ketakutan, napas mereka tersengal dalam keheningan yang mencekam. "Kael, apa rencanamu?" tanya Paman Adrian, suaranya serak dan gemetar, meski ia berusaha teguh memegang tongkat kayunya yang sudah usang. Tangan tuanya tampak rapuh, namun matanya yang tertutup penutup mata memancarkan kilau harapan terakhir. "Ghoul itu... aku belum pernah melihat yang seperti ini. Kalau sampai masuk ke sini, kami semua tamat." Kael menoleh ke arah Paman Adrian, lalu ke kelompoknya. Cahaya ungu yang memancar dari dirinya, Sarah, dan Laila bercampur dengan energi emas Murphy, menciptakan kilauan samar yang menerobo
Udara dalam gudang yang bobrok terasa pekat, dipenuhi aroma busuk dari lendir ghoul yang merayap masuk ke dalam sumur. Suara licin dan mendesis dari gumpalan hitam itu menggema di antara kayu tua, menciptakan getaran kecil yang terasa hingga ke tulang. Kael berdiri di tepi sumur, napasnya terengah-engah, keringat membasahi dahinya yang tegang. Cahaya hijau kehitaman dari **Racun Tiga Mayat** yang dipegangnya berkelap-kelip, menerangi wajahnya yang penuh tekad bercampur kepanikan."Turun sekarang!" teriak Kael, suaranya menggema di ruang sempit. Ia melompat dengan **Windstep**, tubuhnya melayang ringan seolah ditarik angin, dan mendarat di dasar sumur dengan bunyi pelan. Sarah, Laila, dan Murphy mengikuti, tangga kayu berderit keras di bawah langkah terburu-buru mereka. Debu dan aroma tanah basah menyambut kedatangan mereka, tercampur dengan bau lendir yang semakin menyengat.Di ruang bawah tanah, suasana telah kacau. Lampu api emas di tengah ruangan menyala redup, asap hitamnya membu
Ruangan bawah tanah itu terasa hening setelah pertempuran yang brutal, hanya diisi oleh suara napas tersengal dan tetesan air yang jatuh dari dinding batu yang lembap. Lampu api emas di tengah ruangan masih menyala redup, asap hitamnya kini menipis, seolah kegelapan yang tadinya mengancam telah mundur untuk sementara.Bau busuk lendir ghoul masih membandel di udara, bercampur dengan aroma tanah dan keringat warga desa yang berkumpul dalam diam. Tubuh pria tua yang dirasuki ghoul tergeletak tak bernyawa di sudut, kulitnya pucat seperti lilin, meninggalkan luka emosional yang lebih dalam daripada pertarungan itu sendiri.Kael berdiri di tengah ruangan, tangannya masih gemetar karena kelelahan. Cahaya hijau kehitaman dari **Racun Tiga Mayat** perlahan memudar dari jemarinya, meninggalkan rasa dingin yang merayap di kulitnya. Ia melirik kelompoknya—Sarah yang duduk bersandar di dinding dengan mata setengah terpejam, Laila yang memeluk lututnya dengan wajah pucat, dan Murphy yang menyeka d
Matahari pagi terbit perlahan di atas cakrawala, menerangi jalan tanah berdebu yang membentang di depan Kael dan kelompoknya. Angin sepoi-sepoi membawa aroma rumput kering serta tanah lembap dari hutan purba yang kini semakin menjauh di belakang mereka.Langkah mereka terasa berat; kaki mereka masih lemas setelah malam penuh pertempuran di desa kecil. Namun, tekad untuk mencapai Akademi Baseus mendorong mereka terus maju. Nexus, kota besar tempat akademi itu berdiri megah, masih jauh—beberapa kota kecil harus mereka lewati terlebih dahulu, dan perjalanan itu terasa seperti ujian ketahanan yang tiada akhir.Kael berjalan di depan, tangannya menggenggam erat permata hitam kecil yang ditemukan oleh Sarah, matanya tajam memindai sekeliling. Di belakangnya, Sarah dan Laila berbagi selimut tipis yang diberikan oleh warga desa; wajah mereka pucat, namun penuh semangat. Murphy menutup barisan, pedangnya bergoyang di pinggang, napasnya sedikit tersengal, tetapi ia tetap bersiul pelan untuk men
Api unggun berkobar redup, nyalanya bergoyang liar saat raungan wyvern mengguncang udara malam. Makhluk itu berdiri di tepi sungai, sayapnya yang compang-camping bergetar penuh amarah, dan taringnya berkilau dalam cahaya bulan yang samar. Cakarnya mengoyak tanah berlumpur, meninggalkan bekas dalam yang berbau asam menyengat, sementara mata kuningnya menyala dengan nafsu membunuh yang liar. Pedagang berteriak panik, Toman mendorong keluarganya ke belakang gerbong, sementara Kael berdiri teguh di depan kelompoknya, energi hijau kehitaman **Racun Tiga Mayat** menyala di tangannya, berpendar dengan semburat ungu yang mengerikan. "Sarah, Laila, mundur!" bisik Kael tajam, matanya melirik ke arah lima sosok pemburu yang berdiri tenang di sisi unggun, mantel cokelat tua mereka bergoyang pelan di angin malam. "Awasi mereka—jangan ikut bertarung dengan wyvern. Aku dan Murphy akan menangani ini." Sarah mengangguk cepat, tangannya menggenggam erat lengan Laila. Matanya berpendar ungu samar sa
Pagi menyingsing dengan langit kelabu yang berat, awan tebal menggantung rendah di atas jalan tanah berdebu yang membentang di depan Kael dan kelompoknya. Udara terasa dingin dan lembap, membawa aroma samar rumput basah dan kayu bakar yang masih mengepul dari unggun semalam. Gerbong pedagang bergoyang pelan, roda kayunya berderit di atas batu kecil, sementara kuda-kuda mendengus lelet, seolah merasakan ketegangan yang menyelimuti kelompok itu. Pertarungan malam sebelumnya masih membekas—bau darah wyvern dan energi emas yang hangus terngiang di ingatan mereka, membuat setiap suara kecil dari semak di pinggir jalan terasa seperti ancaman. Kael duduk di tepi gerbong, tangannya memegang salah satu kristal sihir pengubah penampilan yang ia ambil dari Pemburu Crimson yang tewas. Cahaya biru samar dari kristal itu berkedip pelan di tangannya, hangat namun asing. Matanya yang tajam menatap benda itu dengan konsentrasi penuh, keningnya berkerut saat ia mencoba menyalurkan energi sihirnya ke
Lorong rahasia di bawah Akademi Baseus membentang dalam kegelapan pekat, udara dingin bercampur aroma tanah basah dan batu tua menusuk hidung mereka seiring langkah hati-hati yang diambil. Cahaya samar dari lumut yang menempel di dinding kasar hanya mampu menerangi beberapa meter ke depan, meninggalkan cabang-cabang lorong dalam bayang-bayang yang tampak bergerak, seolah menyimpan rahasia yang enggan terucap. Kael berjalan di depan, mantel panjangnya bergoyang pelan tertiup angin bawah tanah. Tangannya tetap siaga di saku tempat Racun Tiga Mayat tersimpan, bersiap menghadapi ancaman yang bisa muncul kapan saja. Teknik Windstep yang dikuasainya membuat langkahnya nyaris tak bersuara, debu di lantai batu pun tak terusik. Di belakangnya, Sarah, Murphy, dan Laila mengikuti dengan langkah lebih berat. Derit pelan dari sepatu mereka bergema di lorong sempit itu. "Kita harus tetap waspada," bisik Kael, suaranya rendah namun tegas. "Ada kemungkinan kelompok lain bersembunyi di sini, menungg
Malam melingkupi rumah kayu Aldos dengan sunyi yang tebal, bayang-bayang hutan ilusi bergoyang pelan di luar jendela, diterangi cahaya bulan yang temaram. Di dalam ruangan kecil berdinding simbol sihir kuno, energi ungu dan emas masih menderu, mengelilingi Kael dan Murphy dalam pusaran liar yang bergetar hingga ke lantai kayu. Sarah dan Laila, yang menunggu di ruangan utama, duduk di dekat meja tua, sepiring roti kering dan semangkuk sup sederhana terhidang di antara mereka. Cahaya lilin memantul lembut di wajah mereka, sementara buku teknik dari Aldos terbuka di pangkuan masing-masing, halaman-halaman kertas tua berderit saat dibalik. Sarah menyeruput supnya, matanya ungu melirik bukunya sesekali. “Aku rasa ini bisa bantu aku lihat lebih jauh,” katanya pelan, suaranya rendah namun penuh rasa ingin tahu. Laila mengangguk, matanya cokelat besar memandang bukunya dengan fokus, jari-jarinya menyentuh kertas seolah menyerap setiap kata tentang frekuensi sonik. Mereka makan dalam kehe
Di dalam ruangan kecil berdinding simbol sihir kuno, energi terus menderu, benang-benang ungu dan emas berkilauan mengelilingi Kael dan Murphy dalam gelombang liar yang perlahan mencari keseimbangan. Sementara itu, di luar, Profesor Aldos berdiri di tengah ruangan utama rumahnya, jubah hitamnya bergoyang pelan tertiup angin yang menyelinap melalui celah-celah kayu. Dia melirik Sarah dan Laila, yang tengah memegang buku teknik yang baru diberikannya, lalu menghela napas. “Aku harus pergi sekarang—dewan Nexus menunggu,” katanya, suaranya dalam dan serak. “Kalian baca dulu buku itu, aku tak akan lama.” Sarah mengangguk, jari-jarinya menyentuh sampul bukunya. “Aku akan mulai dari sini,” ujarnya pelan, matanya ungu menyala samar penuh minat. Laila memandang bukunya dengan mata cokelat besar, tangannya bergerak lembut membukanya, tapi sebelum mereka bisa tenggelam dalam bacaannya, kegaduhan tiba-tiba menggema dari luar—suara kepakan sayap yang tajam bercampur cicitan panik Molly dan peki
Lorong rahasia di bawah Akademi Baseus menyambut Kael dan kelompoknya dengan udara dingin yang membawa aroma tanah basah dan batu tua. Cahaya samar dari dinding berlumut hanya mampu menerangi beberapa langkah di depan, sementara kegelapan menyelimuti lorong-lorong bercabang yang tampak tak berujung. Labirin itu terasa hidup, bergetar pelan seolah memiliki napas sendiri, siap menyesatkan siapa saja yang tak memiliki pengalaman atau kemampuan untuk menemukan jalan keluar. Kael melangkah di depan, matanya biru menyipit mencoba menembus bayang-bayang yang tebal. “Lorong ini terlalu banyak,” katanya pelan, suaranya rendah namun teguh. “Kalau kami salah pilih, mungkin tak pernah keluar.” Sarah mengangguk di sisinya, Mata Sihir-nya menyala samar, energi ungu berkilau di pupilnya saat memindai dinding-dinding berliku. “Aku rasa ini bukan labirin biasa—ada sesuatu yang mengacaunya,” ujarnya, nadanya tenang namun penuh kewaspadaan. Untungnya, tupai bersayap yang kini dinamai Molly oleh Sophia
Sinar matahari pagi perlahan menyelinap melalui celah-celah kanopi hutan belakang Akademi Baseus, membawa kehangatan tipis yang menyapu aroma lumut basah dan getah pohon di sekitar Kael dan kelompoknya. Angin lembut berdesir di antara daun-daun raksasa, mengisi keheningan dengan suara samar, namun ada ketegangan halus yang menggantung di udara—seolah hutan ini menahan napas, menyimpan rahasia yang menanti saatnya terbongkar. Kael berdiri di dekat lubang sempit yang baru saja digali tupai bersayap, matanya biru menyipit penuh rasa ingin tahu. Lubang itu terselip di balik lumut tebal yang menyelimuti akar pohon besar, terlalu kecil untuk dilalui, namun ada daya tarik misterius yang membuatnya sulit berpaling. “Aku ingin masuk ke laluan ini,” katanya pelan, suaranya rendah namun teguh, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang yang lain. “Tapi lubangnya kecil sekali—bagaimana caranya?” Sarah berlutut di sisinya, jari-jarinya menyentuh lumut dingin yang licin, Mata Sihir-nya menyala samar
Sinar matahari pagi perlahan menyelinap melalui celah-celah kanopi hutan belakang Akademi Baseus, membawa kehangatan tipis yang menyapu aroma tanah basah dan daun kering di bawah langkah Kael dan kelompoknya. Udara terasa segar setelah malam panjang di desa buronan, dan desiran daun yang tertiup angin lembut mengisi keheningan di antara mereka. Desa itu kini jauh tertinggal, tersembunyi di lembah kecil, warga-warganya kembali ke rutinitas petani sederhana—kedok yang menyamarkan kekuatan mental emas mereka. Menyadari bahwa mereka berada di wilayah hutan belakang Akademi Baseus, meski perjalanan ke akademi masih jauh, Kael merasakan harapan baru di depan. Dia melangkah di depan, mantelnya bergoyang ringan tertiup angin, matanya yang biru memindai hutan dengan hati-hati. “Kami sudah dekat Baseus sekarang,” katanya, suaranya rendah namun teguh, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang yang lain. “Tapi kami harus lebih kuat sebelum sampai—musuh takkan menunggu.” Sarah melangkah di sisi
Udara malam di desa kecil itu masih terasa berat, membawa aroma darah kering dan kayu terbakar yang tersisa dari pertempuran sebelumnya. Cahaya bulan sabit tipis menyelinap melalui celah-celah rumah kayu, menerangi warga desa yang berdiri di tengah mayat musuh, mata mereka emas bersinar penuh curiga menatap Kael dan kelompoknya. Kael melangkah maju, tangannya terangkat menunjukkan tak ada ancaman, suaranya tenang meski ada getar canggung dari pertemuan tak terduga ini. “Kami sedang dalam misi Akademi,” jelasnya, matanya biru bertemu tatapan wanita petani yang masih memegang pisau berdarah. “Profesor Aldos meminta kami istirahat di desa ini sebelum lanjutkan misi—kami lihat kedua kelompok itu dalam perjalanan, dan memilih datang malam ini agar tak bentrok dengan mereka. Tapi sepertinya, seperti biasa, sesuatu yang tak diinginkan selalu terjadi jika mereka ada di suatu tempat.” Wanita itu menurunkan pisaunya perlahan, napasnya lega meski tatapannya tetap tajam. Pria tua dengan k
Malam di desa kecil itu berubah menjadi kekacauan berdarah, cahaya bulan sabit tipis memantul di genangan darah dan bilah senjata yang berkilau. Api obor berkobar liar, membakar udara dengan aroma kayu terbakar dan daging hangus, sementara jeritan pertempuran menggema di antara rumah-rumah kayu sederhana. Kael dan kelompoknya tetap bersembunyi di balik semak terakhir di tepi desa, matanya biru menyipit menatap warga desa yang bertarung ganas melawan Ordo Umbra dan pemburu Crimson. Kekuatan mental emas warga bersinar terang, kontras dengan mental ungu pemimpin kedua kelompok musuh yang berkobar penuh ancaman. Kael menggertakkan gigi, pikirannya berputar penuh kebingungan. “Kita bantu atau lari?” bisik Murphy di sisinya, pedangnya erat di tangan, nadanya tegang tapi siap bertindak. Sarah menatap Kael, matanya ungu menyala samar, “Mereka terlalu kuat—tapi kita tak tahu siapa yang benar di sini.” Laila mengisyaratkan keraguan dengan gerakan tangan cepat, sementara Sophia memandang deng
Hutan Aethel membungkus reruntuhan kecil dalam kesunyian yang tegang, hanya dipecah oleh bisikan angin yang menyelinap melalui daun-daun lelet dan suara langkah musuh yang kini mendekati. Kael dan kelompoknya merapat di balik semak tebal, napas mereka ditahan, tubuh mereka menyatu dengan bayang-bayang pohon. Aroma logam tajam dari pemburu Crimson dan bau tinta kering bercampur darah dari Ordo Umbra memenuhi udara, menciptakan ketegangan yang nyaris terasa di kulit. Dua kelompok itu berdiri di dekat altar, hanya beberapa meter dari tempat persembunyian mereka, tapi tak saling bersekutu—mata mereka saling menatap penuh curiga. Pemimpin Ordo Umbra, wanita berambut putih pendek dengan mata dingin, melangkah maju, tangannya menyentuh altar dengan jemari pucat. “Desa itu punya jejak penyihir kuno—kita harus sampai ke sana sebelum mereka,” katanya, suaranya tajam seperti pisau, matanya melirik ke arah pemburu Crimson dengan jijik. Salah satu anak buahnya, pria bertubuh kurus dengan juba