Sang dokter tercengang bukan main. Dari sana mereka berdua mulai berpikir kalau itu hanya bulu harimau tua yang tinggal lama di dalam hutan.
“Tidak mungkin, mana ada Rubah hidup di sini?” keluh si dokter.
“Kami juga terkejut bukan main, Dok. Rasanya mustahil melihat ini,” sahut si wanita itu merunduk.
Sang dokter semakin berpikir, sedangkan si perawat semakin tak percaya, “Aneh sekali, bukan?” keluhnya menggerutu.
***
Kampus Arkeologi yang masih disibukkan dengan gosip yang mulai beredar, sedangkan masalah perubahan sifat dan kelakuan Nevan berbanding seribu.
Perubahan itu membuat orang lain merundung kecemasan membuas di antara pemikiran mereka.
“Kurasa dia sudah dirasuki oleh iblis yang tinggal dalam hutan kemarin,” bisik dari salah satu gadis bersama dengan para kawan-kawannya.
“Kurasa benar,” sahut kawannya.
Nevan masih melewati para wanita yang berbisik demikian, sedangkan mereka yang berdiri sambil menatap dirinya malah menjauhi Nevan sambil mengucilnya dengan ketus.
“Dasar manusia aneh!”
“Kerasukan setan hutan kali!”
Sambung menyambung dari para wanita penggosip sedikit membuat ia semakin menggeram.
Namun, naluri jiwa lemahnya mencoba meredam demi kenyamanan untuk tinggal. Nevan yang tak kuasa menahan rasa malu sekaligus risih, ia pun memasuki ruang perpustakaan yang ada di sebelah jalannya.
Melihat para orang-orang yang sibuk membaca buku, mereka pun sontak menghindar dirinya tanpa memasang wajah ramah.
Salah satu pria sengaja menabraknya dengan kuat.
Brak!
Tubuh Nevan tersenggol, tetapi malah beralih ke lain arah.
“Eh, sangaja!” ketus si pemuda itu.
Nevan meliriknya dengan tatapan tajam, pria yang menabraknya adalah orang yang sama saat ia berada di luar.
“Hemm, huuft!” dengusnya sambil menatap punggung si pemuda gangster kampus itu.
Sembari menyingkirkan diri di dalam ruang perpustakaan yang mulai agak sepi. Felix dan Bellona mengikuti jalannya hingga bersembunyi di balik lemari buku-buku.
Gerak-gerik mereka mulai mengacaukan indera penciumannya.
Akan tetapi, Felix dan Bellona sempat bernapas lega di balik dinding lemari tinggi. Nevan menaikkan alisnya, lalu menyelinap dengan cepat ke arah keduanya bersembunyi.
“Haaa, kok Nevan nakutin banget sih? Apa iya dia kesambet gitu?” keluh Bellona membungkuk.
“Ah, entahlah! Yang penting kita cari tahu dulu,” putus Felix.
Sontak mata Bellona terkinjat akibat sosok Nevan sudah di depan matanya.
“Hah?!!” sergahnya.
“Apa? Apa?” tanya Felix kebingungan.
Telunjuk Bellona menunjuk ke arah belakang punggung Felix yang sudah berdiri dengan tegak.
“Nevan,” sebutnya.
“Hah?!”
Felix membalikkan badannya, sedangkan Bellona mulai menegakkan pandangannya.
“Nevan??” sapa Felix terheran.
Nevan masih terdiam dengan tatapan dingin, “Apa yang kalian bicarakan?” tanyanya mengernyitkan dahi.
“Ka-kami hanya ingin melihat keadaanmu,” keluh Bellona sedikit gelisah.
Nevan menyipitkan matanya. Segera ia meraih pipi Bellona dengan kuat, lalu menatapnya dengan sorotan mata yang begitu tajam. Felix terpelangah dengan aksi berani Nevan seakan memperlihatkan sisi kasarnya.
“Ha, Nevan, lu ngapain??” cegah Felix memegang tangan Nevan.
Nevan melempar tangan yang sempat mengenai lengannya, ia pun menepis tangan Felix dengan kasar. Tubuh Felix terlempar ke badan lemari, “Aw!” keluhnya.
Bellona kini berada pada genggaman kuat Nevan, “Jangan mengintaiku!” cegahnya.
Tiba-tiba, Nevan melepaskan genggamannya dari pipi Bellona, menyilaukan matanya hingga membuatnya tersungkur lepas dari hadapan Bellona. Nevan menutupi matanya dengan lengan kiri sembari mencoba melawan namun gagal.
Bellona merasa bingung akibat tingkah Nevan yang begitu aneh, hingga ia mencoba mendekati Nevan untuk memegangi lengannya. Namun, Felix menghentikan aksi liar Bellona yang begitu berani.
“Jangan!” cegah Felix merampas lengan Bellona.
Nevan tersudut sambil menahan silau lagi sakit setelah menyakiti Bellona. Akhirnya, dengan gesit ia pun pergi meninggalkan lokasi ruang perpustakaan. Pelariannya sedikit melambat hingga ke luar dari pintu.
“Kenapa sih dia?” pikir Bellona bingung.
“Kayaknya ada yang aneh darinya, kita harus cari tahu,” putus Felix menatap Bellona.
“Ya, lu benar! Kita harus cari tahu apa yang udah ngerasuk dirinya,” tegas Bellona.
Keduanya saling memegang janji untuk berusaha mendekati Nevan agar mengetahui apa yang merasuki tubuhnya, sehingga membuat suatu perbedaan yang sangat menyimpang dari sifat aslinya.
***
Dari ujung lorong kampus, Nevan berlari dengan seorang diri sambil memegangi kepala kirinya. Masih terasa hangat sekaligus menyilaukan ketika ia mengingat kejadian untuk menyakiti Bellona dengan kasar.
“Ada apa dengannya?” gumam Nevan, yang sebenarnya sosok Cho Ye Joon berbicara.
Namun, langkahnya berhenti ketika kawanan gangster berdiri di depannya dengan membawa beberapa alat pemukul besi dan kayu. Kelima pemuda berdiri saling berdampingan untuk menghadang jalannya Nevan.
Nevan menghentikan langkahnya sambil mendongakkan dagu ke depan dengan mata mendelik lebar.
“Hahaha, akhirnya lu nggak bisa kabur!” sebut salah satu pria yang ada di depan.
Pria yang sama saat menyerangnya, seorang ketua geng kampus yang paling berkuasa. Selangkah demi selangkah, Nevan mulai menjulurkan telapak tangannya ke depan.
“Berhenti!” ucap Nevan, merunduk lalu mendongak perlahan ke depan.
“Heh! Lu pikir bakal kabur habis ini?!”
“Serang, Bro!” perintah si ketua geng.
Berwajah nakal lagi bengis, para pemuda garang itu memajukan langkahnya untuk menyerang Nevan dengan sadis tanpa aba-aba berikutnya.
Nevan mendelik terkejut, segera menyorotkan matanya ke masing-masing para geng satu persatu.
Gerakan seakan mulai cepat, pandangannya fokus lalu menghindar dari penyerangan kelima pemuda gangster tersebut.
Nevan meraih satu persatu pentungan kayu dan besi dengan memutar badannya, lalu melemparinya ke atas lantai. Sontak, semua terheran kepadanya setelah alat pemukul telah dirampas cepat oleh Nevan.
“Hah??!”
“Makhluk apa tu?!” ucap dari salah kawannya.
Keempat pria itu pun melarikan diri, meninggalkan ketua seorang diri. Nevan memajukan langkahnya sembari memperlihatkan mata merah, lalu menatap si ketua geng dengan tajam dan lurus ke dua bola matanya.
Sontak, si ketua geng terdiam mematung seakan tak menyadari apa yang sedang terjadi. Nevan pun menghindari dirinya tanpa harus melawan si ketua.
Setelah melewati si ketua, pemuda itu terkinjat dan mulai menyadari seakan lupa apa yang harus ia lakukan. Nevan melirik dari balik punggungnya dengan segaris senyuman licik lagi nakal.
“Lho, kenapa gue di sini?!”
Pemuda itu menggusar-gusar kepalanya secara kebingungan.
***
Malam gelap mulai menghantui seluruh aura mistis yang menyengat amis darah. Suasana kesunyian mulai membuat Cho Ye Joon mulai beraksi dengan ketangkasannya. Masih berada dalam tubuh Nevan, ia pun berlari dengan cepat menuju sebuah rumah yang ada di tepi jalan.
Terlihat si ketua geng yang masih tertidur lelap. Nevan memasuki ruang kamarnya sembari memiringkan senyuman.
“Heh! Kau akan menerima akibatnya,” gumam Nevan dengan geram.
Mengepalkan tangannya, lalu menghempaskan tubuh si pemuda itu dengan kasar ke ujung dinding kamar.
Bruk!
“Aaaah!!!”
Tubuh si ketua geng itu terhempas keras, hingga melukai dirinya, meninggalkan bercak darah ke dinding bawah.
“Aku harus mencari jalan keluar,” gumam Nevan sambil meninggalkan lokasi kejadian.
Wajib taruh ke dalam rak setelah baca bagian dari cerita ini, karena apa? Semua butuh proses untuk menjadi cerita yang apik dan tertata rapi. Semua yang saya tulis demi kenyaman si pembaca yang utama. Dibutuhkan suatu dukungan dari penambahan kea rah dan juga review tentang isi dari cerita. Maka dari itu, sangatlah diharapkan untuk menjadi bagian terindah untuk kisah ini.
Follow juga I* @Rossy_stories.
Biar kamu bisa mengetahui segala karya milik Rossystories.
Tak lupa kuucapkan kata terima kasih sebanyak-banyaknya atas waktu yang diluangkan hanya dari membaca cerita recehku ini. Semoga sehat selalu dan berlimpah rezeki!
WAJIB VOTE CERITA INI SETELAH BACA!!!
Karena apa? Untuk kemajuan novel berasal dari jemari kalian dari hanya menekan tombol VOTE PADA CERITA INI.Maka dari itu, sangat dimohonkan untuk memberi VOTE setelah baca, ya.Terima kasih telah menjadi pembaca setia cerita ini, semoga sehat selalu.Kekekalan malam menjadi aura kuat bagi si pencari nafsu kelam. Aroma darah, jantung, hati yang siap menjadi santapan adalah sosok buas lagi menyeramkan. Namun, Cho Ye Joon membiarkan pemuda sekampusnya itu tersungkur lemah di bawah lantai. Sementara itu, Nevan membawa malam itu penuh dengan kebencian lagi mendendam asa. Jiwa yang meronta-ronta pasti akan menggeliat di ujung ubun-ubun kepala. “Aaaaah!!!” “Mama, cepat ke sini! Lihat kakak, lihat kakak, Ma!!” Nevan melirik pandangan sinisnya ke balik punggung yang sudah menjauh dari tembok pembatas dirinya. Di ujung pagar rumah, ia memiringkan senyum lalu bergegas gesit ke ujung jalanan. Suasana malam itu pun menjadi sejarah bagi si pemuda ketua gangster kampus yang menjadi sasaran makhluk asing lagi menyeramkan. Tidak ada yang tahu dengan aksi bejatnya bahwa ia telah melempar tubuh dengan tangan kemarahannya. Sebuah jeritan telah meramaikan suasana. Wiu! Wiu! Wiu! Ambulans beradu di jalanan setelah kejadian naas tertimpa pada seo
“A-apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Nevan meredam pusing kepala. Tubuhnya seakan perlahan berhenti dari detik merasakan perih, sedangkan hujan pun berhenti dalam sekejap. Bellona melihat situasi yang terlihat di luar jendela sudah tidak menunjukkan rintik hujan yang turun. Kini, Bellona hendak mendekati sosok Nevan dengan wujud Gumiho yang sudah perlahan menghilang. Namun, Felix menarik lengan Bellona untuk melarangnya mendekati sosok makhluk yang mengerikan itu. Felix menggelengkan kepalanya, “Jangan, Bel!” Bellona melepaskan perlahan tangan Felix dari lengannya, lalu berbalik untuk mendekati Nevan yang masih belum jelas kalau dia dirasuki atau memang wujud dari Rubah ekor sembilan itu sendiri. Nevan menatap tegang mata Bellona yang seakan mendekati dirinya. Nevan hendak meluruskan pandangan ke dua bola matanya untuk menembus rasa lupa. Namun, ia tak berhasil melakukannya. “Kenapa ini tidak berhasil?” gumamnya dalam hati. Bellona berdiri sangat dekat dengan Nevan tanpa a
“Aku yakin, kamu bisa menahan semua emosi dalam jiwa Gumihomu itu agar tidak menunjukkan emosi tinggi,” ujar Bellona meyakinkannya. Nevan masih terngiang dengan kata-kata terakhir dari sang kekasihnya. Jiwa Gumiho dalam dirinya begitu terbawa emosi jahat, sedangkan ia berusaha menahan untuk melawan roh jahat tersebut. Cho Ye Joon mulai membisikkan sesuatu ke dalam batin Nevan, “Bunuh saja mereka! Mereka bahkan pernah meremehkanmu.” “Jangan ragu-ragu, Bodoh!” Cho Ye Joon semakin merasuki jiwa lemahnya dari Nevan. Namun, rasa sakit itu menahannya saat Felix memekik ke arah mereka. “Woi!!” pekik Felix. “Apa lo?!” ucap salah satu pria songong. “Aku tidak boleh menyakiti mereka, tidak boleh terjadi,” gumamnya dalam hati untuk melawan Cho Ye Joon. Rintihan itu bahkan menusuk jantung Nevan seketika. Para Mahasiswa lainnya malah tidak jadi menindas Nevan secara brutal. Malah berpindah menjadi tatapan bingung kepada perubahan Nevan yang tiba-tiba meringis aneh. “Lho, kenapa Nevan?” tun
Wanita itu terus membuntuti langkah Nevan hingga ke depan ruangan, sedangkan salah satu anggota gangster menghentikan dirinya tepat di sudut dinding.“Woi, ini dia orang aneh tadi?” sebut si anggota geng.“Eh, elu kenapa? Gue mau ke kelas,” kelit Nevan menghindar.Akan tetapi.“Woi!! Elu nyadar nggak?! Nevan ini kemarin hanya kesurupan setan hutan, buktinya dia udah nolongi gue dari cowok nyebelin,” bentak si gadis berambut ikal dengan kuncir kudanya.Ketiga kawanan geng tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh si gadis tentang Nevan yang akhirnya menunjukkan belas kasihnya.“Eh, benerkan yang dibilang dia? Aku nggak bohong kan?” sebut Nevan dengan nada berbeda.Semua orang malah tercenung dengan perubahan Nevan yang kembali dengan wujud aslinya. Namun, ketiga komplotan itu bahkan tidak menyadari bahwa Nevan yang sesungguhnya ada d
Nevan yang masih berdiri dengan sejuta kebingungannya itu, hendak mengeluarkan energi jahat dari dalam tubuhnya. “Nevan, jangan! Elu cuma sebagai bahan umpan,” ungkap Erin meronta-ronta dari genggaman Dio. Nevan yang seakan melihat para temannya hanya mematung bisu. Sementara itu, Bellona dan Felix yang hendak keluar dari gerbang malah dihentikan secara spontan oleh si dosen baru itu. “Ah, hampir saja!” sergah Bellona yang hampir menabrak lagi. Si dosen itu menyipitkan matanya sambil menatap kedua mata Bellona dengan penuh sorotan tajamnya. Tiba-tiba, waktu seakan berhenti bergerak. “Akhirnya aku menemukan dirimu!” sebut si dosen sambil memegangi tangan Bellona. Mengusap telapak tangan sebelah kirinya hingga mengeluarkan cahaya kekuningan layaknya butir cahaya Gumiho. “Kau akan dilindungi oleh kelereng rubah dan kekuatanku agar bisa menghindari dari serangan tiba-tiba,” lontar si dosen melihat semua tanpa gerakan. Semua pepohonan, manusia, bahkan semua yang terlihat olehnya me
Sore menemani keduanya mengiringi langkah pertama. Nevan yang menunjukkan sisi romantisme pada sang kekasih, akhirnya sebuah kisah kembali terlihat. Nevan meraih tangan Bellona dengan perlahan. Sontak, Bellona terpengah akibat genggaman tangan dari Nevan di antara perjalanan mereka. Masih di sisi taman kampus yang mulai menunjukkan sisi redup dari cahaya Mentari. “Makasih, Bellona,” lirih Nevan di antara langkahnya. Keduanya masih berjalan dengan santai. “Kok bilang makasih?” tanya Bellona khawatir. “Aku sempet nyakitin kamu, pikiranku seakan nggak bisa ngebedainnya,” ujar Nevan merundukkan pandangannya. “Aku bakal nganterin kamu balik,” putus Nevan melirik Bellona yang masih malu-malu. Keduanya berhenti dan saling menatap di pinggir jalanan, dimana matahari hendak pergi dalam hitungan menit. “Hari udah makin malem, sebaiknya kita balik aja yuk!” pungkas Bellona membuyarkan tatapan Nevan. “Hm, oke!” sahut Nevan mengangguk mantap. Suasana kisah cinta mereka mulai terlihat bers
Malam yang menjadi pemburu iblis dan para kejahatan kasat mata terus menyelinap ke tabir-tabir dunia gaib. Wujud Siluman dalam tubuh pemuda tampan itu terus memantau santapan untuk kekuatan barunya.Derap kaki melayang mengudara tanpa jejak kaki yang tertinggal di segala arah. Namun, energi spiritual begitu tenggelam dalam semilirnya angin menerpa.Di ujung bulu-bulu kuduk seakan berdiri tegak dengan aura dingin yang menyengat.Entakan kaki mulai terdengar di ujung daun telinga. Tepat di tengah malam di antara rembulan redup yang bersembunyi di balik awan-awan pelan.Sosok Gumiho tampan menyerupai wujud asli rupanya telah merajalela tubuh Nevan.“Cari sumber kekuatanmu! Cari jantung segar yang masih kuat.”Bisikan dalam jiwanya menghantui pikiran dan tekad. Nevan yang menyerupai sosok makhluk halus dengan cakar panjang lagi membutakan dirinya. Siluman rubah itu telah menjadi isu mitos yang terus menggema.Grrrr!Ger
#Happy readingIkuti terus kisah menariknya. Bellona yang masih mengayun kaki panjangnya terus mengiringi tepi jalanan. Tiba-tiba langkahnya terhenti begitu saja ketika terjadi satu kejanggalan yang ada pada dirinya. Tangannya meraba pakaian dan beberapa dari penampilan yang agak aneh.Memegangi tubuh yang seakan tidak biasa. Matanya seketika menjelengar ke depan jalanan kalau ia masih menggunakan Piyama tidurnya.“Aaaah! Tidaaaak!!” teriak Bellona melengking di tengah jalan.Tanpa busana yang layak, sandal jepit, rambut yang masih diikat agak berantakan. Ia pun hampir melupakan malu yang mengiringi pelarian paginya.“Eh, Neng Bellona mau ke mana aja nih pagi-pagi? Lagi olahraga ya, Neng?” tanya dari salah satu ibu-ibu, dengan menjinjing bungkusan belanjaan.Raut Bellona benar-benar memalukan ketika orang-orang yang tidak biasa melihat dirinya ada pada penampilan rumahan.
#Happy reading. Kembali ke kota Depok. Sekumpulan teman bersama-sama kembali. Nevan menduduki kursi paling ujung bersama ketiga rekannya. Di sampingnya, Bellona melirik pelan ke wajahnya. “Kamu nggak apa-apa?” tanya Bellona. Nevan menggelengkan kepalanya. Mereka tiba-tiba turun dengan tanpa rasa sadar kalau perkotaan menjadi gelap kehitaman. Satu per satu menerawang gulungan awan yang menutupi langit kala itu. Nevan mulai melirik Kim Dae Jung dengan sorotan mata aneh lagi curiga. Kemudian cahaya putih terang mendatangi mereka, dimana orang-orang telah menjauh semua karena takut. Namun mereka masih berada di sana. Nevan, Bellona, Felix, dan Kim Dae Jung sendiri. Apsara itu kembali di depan mata. Sosok makhluk kayangan itu berdiri menyambut kepulangan mereka. Menatap lurus mengarah Nevan. “Kau harus melawan musuhmu di malam ini juga. Kita tidak punya waktu, kecuali kau ak
Pelarian mereka setelah menjauh dari ketiga musuh. Nevan dan Kim Dae Jung mulai memberhentikan diri di ujung pemukiman warga. Setelah bertemu banyak orang, mereka tampak lelah sekaligus gelisah. “Sepertinya kita sudah lebih aman,” tutur Nevan. Kim Dae Jung meranggul kepala, sembari melepaskan lengan Felix bersama dengan tindakan Nevan. Bellona dan Felix yang merasakan kelelahan akhirnya membungkuk sambil memegang kuat ransel besar. “Kau tidak kenapa-kenapa kan?” tanya Nevan khawatir. Bellona memegangi lutut sambil meringis kelelahan, tetapi kepalanya menggeleng. “Nggak apa-apa, Van. Aku nggak apa-apa,” sahutnya. Nevan memegangi lengan kekasihnya, membantunya bangkit dengan tegak. “Gimana kalo kita cari kos-an saja?” usul Felix. “Ide bagus!” sahut Nevan. “Kalian pergilah, aku harus membuang aroma tubuh kalian agar Go Jo Woo dan iblis itu tidak bisa menemu
Makhluk kayangan itu memperlihatkan dirinya dengan baju putih panjang. Rambut putih dengan mata bersinar cerah. Menatap lurus ke hadapan Nevan yang sekaligus menyatu dengan gumiho dari masa lalu tersebut.“Untuk apa kalian memanggilku kemari?” tanya Apsara mengerutkan kening.“Kami membutuhkan bantuanmu,” pinta Nevan mendongakkan wajahnya.Di balik dua sisi Nevan berada. Bellona dan Felix mulai terpelangah. Ketiganya mulai beranjak setelah berdekam merunduk ke hadapan Apsara tersebut.Malam yang redup ini mempertemukan mereka pada kejutan menakjubkan. Nevan mulai menegakkan tubuhnya, membusungkan dada ke depan pandangan. Tangannya mulai menunjuk dirinya sendiri.“Di dalam tubuhku ini ada dua jiwa yang menyatu,” ungkap Nevan.“Lalu, apa kalian ingin memintaku agar mengeluarkan kalian dari satu tubuh?” tanggap Apsara.Nevan
Sebuah gua yang jauh dari pemukiman warga. Akan tetapi, ditutupi oleh dedaunan menghijau dan lebat. Nevan mulai mendekati mulut gua bersama kedua temannya. Langkah pertama mereka tiba di tempat yang mereka inginkan. “Kita harus nemuin sumber Apsara itu,” putus Nevan. Felix dan Bellona pun mengikuti langkah Nevan memasuki gua tersebut. Di antara kegelapan gua menyelimuti kesepian mereka. Penglihatan mulai meredup. Akhirnya, cahaya senter terbias menyorot ke jalanan gua. “Van, apa lo yakin?” tanya Felix ragu. “Ini bukan keputusan gue, tapi si Cho Ye Joon,” sebut Nevan membalikkan badan. Wajahnya dipenuhi dengan segala rahasia yang segera terbuka. Kembali menelusuri ruangan gua yang gelap. Dipenuhi dengan kelelawar bergelantungan sekaligus berterbangan. Nevan mulai berhenti di sudut dinding ruangan. Tangannya menggenggam lonceng emas diarahkan ke depan pandangan. K
Ransel, sepatu boots hitam mengilap, dua pria menggunakan celana Tactical, satu wanita menggunakan celana denim. Dari arah bawah terlihat langkah saling menyatu dalam kebersamaan mengiringi jalan. Mulai terpampang jelas dari arah balik punggung baju kemeja berwarna kelabu di tengah. Dua pria menutupi posisi wanita di tengah. Menggunakan langkah santai mereka sembari memegangi ransel tebal. Angin melambai pesona anak muda tampan dan cantik. Sampai pada penampilan wajah-wajah mereka bertiga. Bellona melebarkan senyuman mengiringi langkah. Nevan meraih tangan Bellona dan saling menatap. Sementara Felix menari bersamaan langkah mereka. Seruan angin menyentuh pipi secara lembut. Menyentuh lebih hangat melihat pasangan yang saling menjalin hubungan terbaik mereka. Berhenti di penghujung jalan. Tak beberapa lama bus pun berhenti perlahan. Nevan melirik satu per satu orang yang ada di
Suasana yang telah diperlihatkan dengan jelas di depan pandangan batinnya. Nevan melewati malam setelah mengadakan ritual sesaat. Kini, ia pun bergegas perlahan layaknya manusia normal kembali.Nevan berhenti di sudut jalan perkotaan. Terbias lampu jalanan mengiringi langkah menyelinap di antara wajah cerianya.Rona berkilauan gemerlapnya redup malam. Dirinya mengelilingi pandangan ke seluruh pandangan mata. Seisi perkotaan menemaninya pada tujuan yang sudah ditemukan.Kedua tangannya mengepal bulat. “Go Jo Woo, kau memang cerdik dan licik!” geramnya memandangi kegeraman di kala malam menyelimuti.Langkahnya kembali tergerak menuju kepulangan. Di sisi pertemuan yang menjadi kisah akhir dari musuhnya.Senyuman miring dengan tatapan sinisnya. “Heuh! Kau pikir akan menang?” sebutnya meledek. Nadanya terdengar menyeru semangat. Menutupi malam menjadi kesenduan ke
Kedua jiwa saling mengobrol, meresapi perasaan mereka masing-masing. Dari hubungan yang pernah terjalin indah dan sempurna. Seakan runtuh, terbuai oleh satu pertanyaan kebimbangan. Wajah itu lebih terlihat menegang. Ketika mulut telah melebar, kini giliran rahangnya mengatup perlahan. Cho Ye Joon meruntuhkan segala pandangan setelah mendengar lontaran kata Nevan. Mungkin, hati lebih sensitif dari sebuah penglihatan. Perasaan sungguh lebih tertekan dengan sangat mendorong keinginan. Raga hanya menampung segala beban kekuatan. Namun, mereka tak lagi melangkah akibat sebuah lara. “Kau benar!” sahut Cho Ye Joon melusuh. “Aku mengerti,” timpal Nevan. “Kau mungkin satu raga denganku. Walau kita berbeda, kurasa kita memiliki tujuan dan kisah yang sama,” lirih Nevan merunduk lesu. “Kim Dae Jung, aku ingin bicara dengannya.” Kepalanya seakan terbawa oleh pemikiran yang jauh. Bah
Tubuh Nevan yang terjengkang di atas lantai jalan tepat di depan gerbang rumah Felix. Kedua temannya hanya menatap keheranan kenapa tubuh sekuat Nevan bisa saja jatuh pingsan. Yang tidak masuk akal terjadi. Keduanya saling menatap. Tanpa harus menunggu lama lagi, Bellona segera meraih lengan Nevan untuk membantu posisi terbaring segera terbawa. Tanpa harus ada tekanan apapun, Felix pun turut membantu. Namun, Bellona merasakan hal aneh yang bereaksi dari dalam tubuhnya. Spontan ia merasakan hal sedemikian rupanya perubahan. Kedua tangannya yang sempat menyentuh lengan Nevan kini runtuh. Terlepas dari lengan Nevan, sehingga tubuh Nevan kembali jatuh. “Aaaargh!” ringisnya dengan ekspresi yang menyakitkan. Felix menatap curiga dari perubahan tubuh Bellona. Keningnya berkerutan mellihat yang baru saja terjadi. “Bel, e lo kenapa?” tanyanya terheran. Be
Nevan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah batu giok berwarna hijau tampak biasa, tetapi lebih bersinar dari umumnya. Dalam genggaman Nevan, ia pun menunjukkannya ke depan Felix berada.“Kita cuma butuh nyatuin batu ini sama jam antik itu. Di dalam tempat itu akan memperkuat kekuatan dari dalam batu supaya bisa membuka lorong waktu sekaligus ngeluarin gumiho dari tubuh gue,” ungkap Nevan kepada Felix.Tatapan Felix masih saja memperhatika ke arah batu yang ditunjukkan oleh Nevan. Dia kembali menutupi batu tersebut dengan genggaman tangannya.Sementara Felix mendongakkan wajah menatap rupa dari sahabatnya.“Gue pasti akan bersiap!” tegas Felix meranggul sekali.*** Dari dunia yang berbeda. Dari alam yang menyatukan energi dua elemen yang tidak bisa disatukan. Satu dunia