Matt termenung di dalam kamarnya. Sejak menyelamatkan Henry, ia hanya membaringkan adik bungsunya di atas tempat tidur dalam kamar. Setelahnya ia membiarkan Bianca yang merawat Henry, sementara dirinya memilih kembali ke kamar.
Apa yang dikatakan oleh Arion benar-benar mengganggu pikirannya. Sekuat tenaga ia berusaha untuk menggali kembali kenangannya sewaktu masih menjadi manusia. Tetapi, tak sedikit pun ia ingat. Seolah ingatan itu sudah hilang karena berlalu beratus-ratus tahun lamanya atau karena sengaja dihapus oleh John.
Matt tidak tahu jawaban dan kenyataan yang benar seperti apa. Dia tak ingin percaya pada Arion tapi sampai detik ini dirinya sendiri memang lupa bagaimana cara orang tuanya meninggal. Yang dia tahu hanyalah cerita dari John bahwa lelaki itu menyelamatkan dirinya saat kecelakaan mobil dan tak sempat menyelamatkan kedua orang tua Matt.
Tak beberapa lama, terdengar pintu kamar Matt yang terbuka. Seorang gadis masuk ke dalam dan langsung berja
Rain berpindah tempat dari rumahnya menjadi ke sebuah tempat yang asing dan begitu gelap. Di sampingnya ada Selena yang duduk di sebuah kursi kayu, tangannya berlipat rapi di atas meja. Hanya ada satu lampu gantung yang rendah persis di atas meja.“Ini di mana?” tanya Rain yang masih kebingungan dan melihat kiri kanannya. Gelap. Tak ada siapa pun kecuali seorang lelaki setengah baya yang duduk berhadapan dengan mereka.“Tenanglah,” kata lelaki itu dengan suara berat.Rain memicingkan mata dan berusaha menangkap siapa lelaki itu. Meski sudah melihat wajah keriput dengan rambut memutih karena uban, tetap saja dia tidak mengenali.“Kamu siapa? Kenapa tiba-tiba aku ada di sini? Apa sebenarnya yang telah terjadi?” cecar Rain dengan beberapa pertanyaan.“Aku … Stefan,” ujar beliau.Rain mengernyit dan berusaha mengenali nama tersebut. “Stefan?” ulangnya.“Beliau kakek
Stefan tampak sangat serius mengobati luka di tubuh John. Ia cukup mendekatkan telapak tangannya di atas luka-luka itu dan ajaibnya, luka menganga langsung tertutup dengan sendirinya. Satu persatu ia melakukan hal yang sama sehingga semuanya habis tertutup dan tubuh John menjadi sempurna kembali.Bianca yang terus menggenggam erat tangan Matt terus memerhatikan apa yang dilakukan Stefan, begitu pula dengan Rain. Sementara Selena masih belum ada di rumah itu. Stefan tidak memberitahu ada di mana kekasihnya sekarang. Walau pun sangat cemas, ia tak ingin bertanya lebih lanjut pada Stefan. Cukup lelaki tua itu menyebutkan bahwa Selena baik-baik saja, maka hatinya sedikit tenang.Hampir satu jam Stefan mengobati John kemudian beralih pada Henry. Tidak perlu memakan waktu lama untuk menyadarkan Henry kembali. Ia hanya memegang dada anak muda yang terbaring di atas tempat tidur dan seolah mentrafser energi yang dimilikinya, Henry langsung membuka matanya kemudian.
Beberapa jam sebelumnya.Selena berlari mengejar Henry yang dengan gegabah menuju rumah Arion dengan niat membunuh. Ia harus menyelamatkan Henry yang dilanda rasa benci, emosi dan murka pada vampir jahat itu. Harus menjelaskan dan menenangkan adik bungsunya agar tidak berlaku bodoh sekarang.“Henry, stop!” bisik Selena, berusaha memeperingati Henry lewat telepati persaudaraan mereka. Tetapi, sia-siap saja. Henry tak mungkin mendengar sekarang.Sial! maki Selena dalam hati dan mempercepat langkahnya.Sambil terus berlari dengan kecepatan angin, tiba-tiba saja Selena mendengar suara seseorang yang berbisik tepat di samping telinganya.“Berhenti!” seru suara yang didengar Selena. Anehnya gadis itu benar-benar menghentikan langkahnya seketika dan berdiri terpaku tak dapat bergerak di posisinya.“Siapa kamu?!” tanya Selena dengan nada tinggi, sementara netranya memindai sekitar untuk mencari tahu sumber suara.
Dalam sekejap mata, Rain langsung menghampiri Arion dengan tangan sudah mencekik leher lelaki di hadapannya. Matanya yang merah menyala karena begitu marah ketika sang kekasih disentuh oleh Arion, membuat dirinya benar-benar ingin menghabisi Arion detik ini juga.“Kau akan mati di tanganku, bajingan!” desis Rain sambil menatap tajam kedua bola mata Arion.Sementara Arion sendiri hanya bisa menendang-nendang udara ketika tubuhnya diangkat oleh Rain hanya dengan satu tangan. Sebuah kejutan yang membuatnya tidak menyangka bahwa sejak awal bertemu dengan Rain, hanya lelaki itu yang mampu menandingi dirinya.“Percuma kau berontak! Tak akan mungkin kau lepas dariku,” kata Rain dengan senyum seringainya. Kedua gigi taring panjangnya mencuat.“Ekh!! Eekhh!” Arion terus mencoba melepaskan cekikan yang dilakukan oleh Rain. Ia juga mencoba meraih kepala Rain agar bisa melawan, tetapi tak bisa.Arion tidak tahu bahwa dirinya
“Hentikan semuanya … aku tidak ingin melihat pertarungan apapun lagi sekarang!” tegas Selena.Baik Rain maupun Arion langsung terdiam. Mereka hanya memerhatikan Selena yang mneurunkan kedua kakinya ke lantai dan berjalan mendekati mereka berdua. Tatapan dingin gadis itu membuat mereka tidak bisa membaca apa yang tengah dipikirkannya.“Selena,” kata Rain sembari meraih tangan Selena dan memegang dengan kedua tangannya. “Kamu baik-baik saja?” tanya dia sekali lagi.Selena hanya menatap sepintas pada Rain kemudian mengalihkan pandangan pada Arion yang menghadiahinya dengan senyuman. Lantas, Selena tidak membalas senyuman itu. Dia berjongkok kemudian melayangkan telapak tangannya hingga mengenai pipi Arion. Plak!Rain terkejut melihat apa yang dilakukan Selena. Ia menarik tangan kekasihnya agar kembali berdiri. Sementara Arion hanya berdecih sambil memegang pipinya yang ditampar Selena.“Apa yang kau lak
Rain tercenung sesaat setelah Stefan pamit pulang. Dia tidak bertanya kemana lelaki itu akan pulang. Apakah kembali ke rumah Arion atau memiliki rumah yang lain dan hanya tinggal sendirian.Lelaki itu berdiri di depan rumah dan melihat bulan yang masih menampakkan dirinya walau sudah pukul empat subuh. Sambil mengantongi kedua tangannya, ia terus kepikiran apa yang dikatakan oleh Stefan tentang Selena dan Arion.“Rain,” sapa Selena dari ambang pintu.Rain memutar tubuhnya dan melihat kekasihnya yang tak berubah sedikit pun sikapnya. “Ya?” jawab Rain tak lupa dengan senyumannya.“Sedang apa kamu di sini?” tanya Selena menghampiri Rain dan segera menautkan jemarinya ke jari Rain lalu mengecup lembut bibir lelaki itu.Rain membalas ciuman itu sepintas kemudian melepaskan. “Aku sedang menenangkan pikiran,” jawab Rain tak berbohong.Kening Selena langsung mengernyit. Matanya menatap netra biru langi
Bianca memeluk Matt dengan penuh kasih dan kepedulian yang besar. Ia mendengar cerita masa lalu Matt dari mulut lelaki itu sendiri. Dirinya tidak percaya bahwa Matt tidak mendapatkan kasih sayang sedikit pun dari kedua orang tuanya sendiri.“Masa lalu letaknya di belakang. Tak perlu kita mengingat hal bisa menyakiti hati kita,” bisik Bianca sambil mengelus lengan Matt.Lelaki itu hanya menganggukkan kepala. Ia paham bahwa tak boleh berlarut pada kejadian yang sudah terjadi selama beberapa ratus tahun lamanya. Akan tetapi, dia hanya menyayangkan perlakuan orang tuanya kepada dirinya sendiri. Sebagai anak tunggal, seharusnya dia disayangi. Bukan malah ingin dimanfaatkan seolah bukan darah daging sendiri.“Aku tidak menyesal karena ayah tak menyelamatkan mereka,” lirih Matt.Bianca yang melingkarkan tangannya di lengan Matt sembari menyandarkan kepala di bahu lelaki itu, hanya mengangguk membenarkan. “Mereka sudah mendapatkan ba
Bukan Rain yang berjalan mendekati Selena, melainkan Arion. Sama seperti Selena sebelumnya, Rain juga sangat terkejut dengan kehadiran Arion yang tiba-tiba saja berjalan melewati dirinya. Pertanyaannya juga sama seperti Selena, bagaimana bisa Arion ada di sekolah.“Selamat pagi, Selena,” sapa Arion dengan senyumnya.Selena bergeming. Matanya menatap tajam Arion lalu bertanya, “Apa yang kau lakukan di sini?”“Aku?” tanya Arion sambil memegang dadanya. Ekspresinya yang sangat innocent itu membuat Selena muak.Melihat kehadiran Arion yang mendekati Selena, detik itu juga Matt, Henry, Bianca dan John menghampiri. Mereka memasang wajah tenang tapi terus waspada.Arion melihat John dan Henry yang tampak sehat dan baik-baik saja. Sekilas dia merasa aneh karena jarang ada yang bisa selamat dari serangannya kecuali orang itu benar-benar memiliki kekuatan hebat.“Oh, hai … selamat pagi, Kakak.” Ar