Beberapa jam sebelumnya.
Selena berlari mengejar Henry yang dengan gegabah menuju rumah Arion dengan niat membunuh. Ia harus menyelamatkan Henry yang dilanda rasa benci, emosi dan murka pada vampir jahat itu. Harus menjelaskan dan menenangkan adik bungsunya agar tidak berlaku bodoh sekarang.
“Henry, stop!” bisik Selena, berusaha memeperingati Henry lewat telepati persaudaraan mereka. Tetapi, sia-siap saja. Henry tak mungkin mendengar sekarang.
Sial! maki Selena dalam hati dan mempercepat langkahnya.
Sambil terus berlari dengan kecepatan angin, tiba-tiba saja Selena mendengar suara seseorang yang berbisik tepat di samping telinganya.
“Berhenti!” seru suara yang didengar Selena. Anehnya gadis itu benar-benar menghentikan langkahnya seketika dan berdiri terpaku tak dapat bergerak di posisinya.
“Siapa kamu?!” tanya Selena dengan nada tinggi, sementara netranya memindai sekitar untuk mencari tahu sumber suara.<
Dalam sekejap mata, Rain langsung menghampiri Arion dengan tangan sudah mencekik leher lelaki di hadapannya. Matanya yang merah menyala karena begitu marah ketika sang kekasih disentuh oleh Arion, membuat dirinya benar-benar ingin menghabisi Arion detik ini juga.“Kau akan mati di tanganku, bajingan!” desis Rain sambil menatap tajam kedua bola mata Arion.Sementara Arion sendiri hanya bisa menendang-nendang udara ketika tubuhnya diangkat oleh Rain hanya dengan satu tangan. Sebuah kejutan yang membuatnya tidak menyangka bahwa sejak awal bertemu dengan Rain, hanya lelaki itu yang mampu menandingi dirinya.“Percuma kau berontak! Tak akan mungkin kau lepas dariku,” kata Rain dengan senyum seringainya. Kedua gigi taring panjangnya mencuat.“Ekh!! Eekhh!” Arion terus mencoba melepaskan cekikan yang dilakukan oleh Rain. Ia juga mencoba meraih kepala Rain agar bisa melawan, tetapi tak bisa.Arion tidak tahu bahwa dirinya
“Hentikan semuanya … aku tidak ingin melihat pertarungan apapun lagi sekarang!” tegas Selena.Baik Rain maupun Arion langsung terdiam. Mereka hanya memerhatikan Selena yang mneurunkan kedua kakinya ke lantai dan berjalan mendekati mereka berdua. Tatapan dingin gadis itu membuat mereka tidak bisa membaca apa yang tengah dipikirkannya.“Selena,” kata Rain sembari meraih tangan Selena dan memegang dengan kedua tangannya. “Kamu baik-baik saja?” tanya dia sekali lagi.Selena hanya menatap sepintas pada Rain kemudian mengalihkan pandangan pada Arion yang menghadiahinya dengan senyuman. Lantas, Selena tidak membalas senyuman itu. Dia berjongkok kemudian melayangkan telapak tangannya hingga mengenai pipi Arion. Plak!Rain terkejut melihat apa yang dilakukan Selena. Ia menarik tangan kekasihnya agar kembali berdiri. Sementara Arion hanya berdecih sambil memegang pipinya yang ditampar Selena.“Apa yang kau lak
Rain tercenung sesaat setelah Stefan pamit pulang. Dia tidak bertanya kemana lelaki itu akan pulang. Apakah kembali ke rumah Arion atau memiliki rumah yang lain dan hanya tinggal sendirian.Lelaki itu berdiri di depan rumah dan melihat bulan yang masih menampakkan dirinya walau sudah pukul empat subuh. Sambil mengantongi kedua tangannya, ia terus kepikiran apa yang dikatakan oleh Stefan tentang Selena dan Arion.“Rain,” sapa Selena dari ambang pintu.Rain memutar tubuhnya dan melihat kekasihnya yang tak berubah sedikit pun sikapnya. “Ya?” jawab Rain tak lupa dengan senyumannya.“Sedang apa kamu di sini?” tanya Selena menghampiri Rain dan segera menautkan jemarinya ke jari Rain lalu mengecup lembut bibir lelaki itu.Rain membalas ciuman itu sepintas kemudian melepaskan. “Aku sedang menenangkan pikiran,” jawab Rain tak berbohong.Kening Selena langsung mengernyit. Matanya menatap netra biru langi
Bianca memeluk Matt dengan penuh kasih dan kepedulian yang besar. Ia mendengar cerita masa lalu Matt dari mulut lelaki itu sendiri. Dirinya tidak percaya bahwa Matt tidak mendapatkan kasih sayang sedikit pun dari kedua orang tuanya sendiri.“Masa lalu letaknya di belakang. Tak perlu kita mengingat hal bisa menyakiti hati kita,” bisik Bianca sambil mengelus lengan Matt.Lelaki itu hanya menganggukkan kepala. Ia paham bahwa tak boleh berlarut pada kejadian yang sudah terjadi selama beberapa ratus tahun lamanya. Akan tetapi, dia hanya menyayangkan perlakuan orang tuanya kepada dirinya sendiri. Sebagai anak tunggal, seharusnya dia disayangi. Bukan malah ingin dimanfaatkan seolah bukan darah daging sendiri.“Aku tidak menyesal karena ayah tak menyelamatkan mereka,” lirih Matt.Bianca yang melingkarkan tangannya di lengan Matt sembari menyandarkan kepala di bahu lelaki itu, hanya mengangguk membenarkan. “Mereka sudah mendapatkan ba
Bukan Rain yang berjalan mendekati Selena, melainkan Arion. Sama seperti Selena sebelumnya, Rain juga sangat terkejut dengan kehadiran Arion yang tiba-tiba saja berjalan melewati dirinya. Pertanyaannya juga sama seperti Selena, bagaimana bisa Arion ada di sekolah.“Selamat pagi, Selena,” sapa Arion dengan senyumnya.Selena bergeming. Matanya menatap tajam Arion lalu bertanya, “Apa yang kau lakukan di sini?”“Aku?” tanya Arion sambil memegang dadanya. Ekspresinya yang sangat innocent itu membuat Selena muak.Melihat kehadiran Arion yang mendekati Selena, detik itu juga Matt, Henry, Bianca dan John menghampiri. Mereka memasang wajah tenang tapi terus waspada.Arion melihat John dan Henry yang tampak sehat dan baik-baik saja. Sekilas dia merasa aneh karena jarang ada yang bisa selamat dari serangannya kecuali orang itu benar-benar memiliki kekuatan hebat.“Oh, hai … selamat pagi, Kakak.” Ar
Henry dan Bianca yang satu kelas, sekarang duduk bersisian. Guru masih belum masuk sehingga mereka bisa mengobrol dengan berbisik.“Menurutmu, apa benar dia akan jadi guru kita?” bisik Bianca pada Henry.“Mungkin,” jawab Henry seraya mengeluarkan buku-buku dari dalam tas.Bianca tampak gelisah. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja hingga membuat suara. Sementara matanya menatap keluar jendela yang mengarah pada lapangan sekolah. “Kira-kira dia akan menjadi guru apa?” tanya Bianca lagi.Henry mengedikkan bahu. “Kenapa tidak kamu tanya saja tadi?” sindirnya dan berhasil mendapat satu pukulan pelan di lengannya.“Aku yakin kalau itu hanya alasan dia saja untuk menjadi guru di sekolah kita,” kata Bianca.Henry memutar bola mata dengan malas. “Semuanya juga tahu tujuannya hanya karena ingin mengganggu Selena. Kenapa kamu baru saja sadar?” gemas lelaki itu sambil melihat
Selena dan Rain kembali lagi berdiri di sebuah ruangan yang mana tempat itu pernah dikatakan Selena seperti harta karun karena menyimpan banyak sekali jenis buku lama. Berada di belakang sekolah dan semua orang mengira itu adalah gudang yang terbengkalai. Di sana juga lah mereka berdua pernah membuat momen manis saat Rain masih menjadi manusia. Kalau mengingat kembali hal itu, Selena selalu tersenyum sendiri karena perasaannya kembali hangat.Namun, sekarang mereka berada di sana bukan untuk mengukir kenangan manis. Melainkan mereka ingin membicarakan sesuatu hal yang sangat penting.Rain yang duduk di kursi, menyibukkan tangannya membuka lembaran demi lembaran buku usang. Dia seperti sedang menghindari kontak mata dengan pacarnya. Hal itu tentu saja membuat Selena semakin bingung.“Rain … kenapa kamu begitu dingin?” tanya Selena dengan lembut. “Kalau kamu marah karena kejadian tadi pagi … aku minta maaf,” ucapnya tulus.
“Selamat siang semuanya. Perkenalkan, saya Guru Sejarah kalian yang baru. Panggil saya Mr. Arion,” kata seorang lelaki yang berdiri di depan papan tulis putih sambil menghadap murid-murid di kelasnya.Hampir semua murid mengagumi betapa tampannya guru baru mereka. Ini adalah pertama kalinya mereka memiliki seorang guru yang memiliki visual tidak bosan dipandang. Tidak seperti guru-guru yang lainnya, rata-rata sudah berkeluarga bahkan ada beberapa juga guru senior laki-laki yang kepalanya sudah botak.Akan tetapi ada tiga orang yang sama sekali tidak terpana dan tak terkejut sama sekali dengan ketampanan guru baru tersebut. Siapa lagi kalau bukan Selena, Matt dan Rain. Berkebalikan dari murid yang lainnya menatap penuh kagum, tiga vampir muda itu menatap tajam Arion yang tengah berakting di depan sana.Matt bahkan diam-diam berdecih melihat Arion yang memainkan peran dengan sangat baik itu. “Dasar tidak tahu malu,” gerutunya.Rain m
Setelah musim panas berakhir, maka masuklah musim paling syahdu yaitu musim gugur. Sisa hawa panas memang masih ada, namun angin pun sudah mulai berembus. Selena memakai kaos tipis yang dilapisi dengan mantel panjang berwarna merah favoritnya, Ia tampak begitu sangat cantik malam ini. Terlebih jeans panjang dengan sepatu ankle boot hitam membuatnya menjadi tampak sempurna.Sama seperti Selena, Bianca dan Erika pun juga memakai outfit yang sama meski beda warna dan hiasan baju lainnya. Mereka semua sudah siap untuk pergi ke festival musim gugur bersama dengan pasangan masing-masing.“Aku tidak memiliki pasangan. Lalu, nanti sama siapa setelah di sana?” tanya Erika kebingungan.“Jangan cemas. Kamu bisa bersamaku, Bianca atau Syilea.” Selena mencoba menenangkan Erika.“Aku tidak ingin mengganggu kesenangan kalian,” tolak Erika dengan segan.“Ah, begini saja … bagaimana kalau kita tidak usah berpencar? K
Syilea sangat terkejut dengan serangan ciuman dari Henry. Pupil matanya membulat sempurna tatkala sebuah memori ingatan melemparkannya ke suatu tempat yang aneh. Di mana ia melihat dirinya dan Henry yang sedang berciuman di ruang tamu rumahnya, pernyataan cinta dari Henry, hadiah bunga dan jalan-jalan malam di festival hingga akhirnya ia melihat seorang vampir yang berdiri di hadapannya dengan seringai menyeramkan beserta taring tajam.Jantung Syilea berdentam dengan sangat cepat ketika dia potongan memori ingatannya kembali seperti puzzle yang mulai tersusun hingga membentuk gambar sempurna.Satu detik … Dua detik … Tiga detik … Empat detik … Lima detik.Seketika pandangan Syilea menjadi samar bersamaan dengan Henry yang menarik mundur wajahnya. Dengan tatapan sayu, Syilea menatap Henry yang dikenalnya sebagai kekasihnya, bukan orang asing lagi.“Henry,” bisik Syilea dengan lirih.“Apa kamu sudah ingat
Keesokan harinya, Selena sudah bersiap menuju sekolah dijemput Rain seperti biasa. Seperti yang dikatakan Arion tadi malam, mulai hari ini dia tidak akan muncul lagi di hadapannya. Perpisahan tadi malam sudah cukup menguras emosinya hingga membuat Selena merasakan seperti ada duri tertancap di hatinya.“Kenapa aku merasa tidak rela untuk kehilangannya?” gumam Selena sambil berjalan menuju anak tangga.“Elle … berangkat dengan Rain?” tanya Bianca yang tiba-tiba saja berjalan di sisinya.“Ya.” Selena menjawab singkat.“Ada apa denganmu? Wajahmu terlihat linglung,” heran adiknya.“Bia … apa kamu tahu kalau Arion pergi?” tanya Selena akhirnya pada Bianca.“Iya, tau. Ayah sudah menceritakan pada kami semua tadi malam saat kamu dan dia pergi jalan-jalan,” jawab Bianca.“Kenapa kamu tidak sedih?”“Buat apa? Dia kan hanya pergi untuk
Masih di bar khusus para vampir. Selena tidak meminum apapun, ia hanya melihat Arion yang sudah menghabiskan empat gelas kecil berisi darah manusia.“Sepertinya kamu sudah terlalu lama menahan ini semua,” sindir Selena pada Arion yang meletakkan gelas terakhir di atas meja.“Maafkan aku. Tidak mudah untuk membuang kebiasaan,” jawab Arion yang memberi kode pada bartender untuk mengisi gelasnya lagi.“Setidaknya sekarang kamu sudah bersahabat dengan kata maaf,” jawab Selena tersenyum. “Setelah ini, kamu ingin membawaku kemana lagi?”“Pantai,” jawab Arion.Selena mengernyit dan bingung. “Pantai?” ulangnya.“Bukankan kamu sangat suka melihat laut?” tanya Arion.Selena mengangguk. Ia tak membantah tebakan Arion. “Ya. Aku suka.”“Laut akan terlihat indah bila dilihat saat malam hari,” lanjut Arion lalu kembali minum.&ld
Para gadis sudah tiba di rumah saat pukul delapan malam. Saat itulah mereka melihat para lelaki berkumpul di ruang keluarga. Ada John, Arion, Stefan, Henry dan Matt. Mereka tengah berbincang santai dan sesekali terdengar tawa karena joke yang dilontarkan oleh Arion.Selena tersenyum ketika melihat bagaimana Arion yang berdiri di depan mereka semua sambil membawakan sebuah lelucon seolah sedang melakukan stand up, lalu terdengar suara tawa Henry yang paling keras.“Hai, girls … sudah selesai bersenang-senangnya?” tanya Matt ketika sadar dengan kehadiran Bianca, Selena dan Erika.Bianca menghampiri Matt dan langsung duduk di pangkuan lelaki itu tanpa malu dilihat oleh John dan Stefan. Lagipula mereka adalah keluarga, bersikap romantis di depan keluarga bukan hal yang aneh, kan?“Ya … itu tadi adalah shopping paling menyenangkan,” ungkap Bianca dengan penuh semangat yang menggebu-gebu. Ia lalu melemparkan pandangan pada
Sambungan via telepon handphone antara Henry dan Syilea ….“Kenapa kamu baru tiba di rumah?” tanya Henry setelah teleponnya baru diangkat oleh gadis tersebut dan Syilea mengatakan bahwa dia baru saja sampai rumah.“Aku harus pergi ke rumah sakit untuk bertemu dengan ibu sebentar,” jawab Syilea jujur.Henry mengangguk paham. “Seharusnya kamu tidak perlu menolak tawaranku ketika ingin mengantarkanmu pulang,” sesalnya lagi.“Tidak apa-apa. Aku tidak ingin merepotkanmu. Kita hanya teman dan seharusnya aku harus tahu batasan,” jelas Syilea dengan bijaksana.“Kalau begitu … bagaimana jika seandainya kita bukan hanya sekedar teman?” pancing Henry.“Ma-maksudmu?” gagap Syilea mendengar hal yang bisa langsung dia asumsikan tentang hal lebih dari teman.“Ya, maksudku … seperti hubungan yang lebih dekat,” jawab Henry pelan. Dia sendiri merasa
Selena membawa Erika ke kamar yang akan ditinggali oleh gadis penyihir itu. Sengaja ia memilihkan kamar dengan kasur baru dengan alasan khusus untuk manusia.“Karena kamu membutuhkan tidur yang nyenyak daripada kami,” kata Selena saat mendapati Erika yang begitu sungkan.“Terima kasih,” ucap Erika dengan tulus.“Tapi … apa kamu tidak takut tinggal serumah dengan banyak vampir?” tanya Selena ragu.Erika hanya tersenyum penuh arti. “Bahkan sebelumnya aku pernah serumah dengan vampir yang sangat bengis dan haus darah manusia.”Selena mengerti siapa yang dimaksud oleh Erika. Tentu saja dia adalah Arion. Mereka memang pernah serumah dan bahkan bercinta karena memiliki hubungan khusus.Erika mulai mengeluarkan beberapa pakaiannya yang usang dan lusuh lalu membuka lemari. Selena mengernyit melihat pakaian penyihir itu. Baru dia sadari ada sesuatu yang memprihatinkan sekarang.“Erik
Rain dan Selena hari ini pulang sekolah sambil berjalan kaki. Ini sesuai permintaan Selena yang katanya rindu berjalan-jalan di tengah hutan sambil menuju rumahnya sendiri. John sudah menyampaikan pesan lewat Arion yang datang ke sekolah untuk menyuruh semua anaknya pulang ke rumah tepat waktu. Tidak ada yang boleh mampir ke suatu tempat apalagi pacaran kata Arion tadi. Dan tentu saja mendapat dengusan sebal dari Selena dan Bianca.“Memangnya ayah kenapa menyuruh kita langsung pulang?” tanya Selena pada Rain. Mereka berjalan sambil berpegangan tangan satu sama lain.Rain mengedikkan bahu. “Aku tidak tahu. Mungkin ayah kalian ingin mengumumkan sesuatu mungkin.”“Apa ayah akan menikah lagi?” tanya Selena dengan tatapan tak percaya.“Masa? Bukankah ayah kalian tidak dekat dengan siapapun juga,” heran Rain yang kurang percaya dengan kesimpulan tak masuk akal dari Selena.“Selama ini ayah paling pint
Keesokan harinya John dan Arion akhirnya memutuskan untuk menemui Stefan di kediamannya. Sebuah rumah kecil dengan dinding kayu di tengah hutan. Pagar kayu setinggi pinggang orang dewasa dan ada pohon di depannya. Bisa ditebak bahwa pohon tersebut adalah pohon cokelat yang tumbuh dengan suburnya. Stefan sengaja membangun rumah di samping pepohonan cokelat agar bisa bertahan hidup.Melihat kehadiran Arion dan John yang datang bersama-sama awalnya membuat Stefan sedikit kaget, namun pada akhirnya ia tersenyum dan mempersilakan dua anak adopsinya masuk ke dalam.Arion memerhatikan sekitar rumah yang begitu hangat meski tak terlalu besar. Beda dengan rumahnya yang mewah dan besar namun terasa dingin.Stefan memberikan dua gelas cokelat hitam panas pada dua lelaki yang dia sayangi. Lelaki tua itu tersenyum bijaksana dan terlihat jelas bagaimana ia senang melihat kehadiran kakak beradik itu. Melihat keakuran yang akhirnya terjalin di antara keduanya. Stefan benar-bena