"Arion tidak pernah menghargai hidup manusia. Dia membunuh tanpa memandang siapa orang itu. Ketika dia haus, maka dia akan berburu. Tak pernah merasa kasihan pada tangisan orang-orang yang akan dia habiskan darahnya. Sekejam itu," jelas John ketika berjalan menuju rumah bersama Rain dan Erika.
Mereka sudah berburu dan mendapatkan seekor beruang hitam besar yang cukup untuk dibagi berdua.
"Ya, tentu saja. Aku juga telah mengenalnya sangat lama. Dia begitu menikmati ketika menyakiti orang lain," imbuh Erika membenarkan.
"Bagaimana dengan nasib Selena? Apakah dia akan terjadi hal buruk padanya nanti?" tanya Rain yang masih sangat gelisah.
"Aku rasa dia tak akan berani menyakiti Selena karena … dia benar-benar mencintai Elle," simpul John sambil menoleh pada Rain yang sedih.
Rain tak dapat berkata apa-apa lagi. Dia sudah menemui jalan buntu rasanya. Untuk menemukan Selena saja
Sang fajar akhirnya menampakkan dirinya. Semburat cahaya indah menerpa bagian rumah besar Walter. Cahaya-cahaya itu masuk melalui lubang ventilasi dan jendela yang tak ditutup tirainya. Ingin rasanya detik ini Rain menangis karena sudah tak ada kesempatan untuk menolong kekasihnya. Akan tetapi dia sabar tentang statusnya yang bukan manusia lagi. Akhirnya ia hanya bisa beberapa kali mengusap kasar wajah sambil duduk di ruang tamu bersama Matt dan Bianca. Sementara John dan Erika ada di ruang kerja, mereka tampak serius mendiskusikan satu hal penting. "Apa Henry belum pulang juga?" tanya Bianca pada Matt dan Rain. Matt mengedikkan bahu. "Kupikir dia ada di rumah pacarnya." "Yang benar saja, Matt. Mana mungkin dia di rumah manusia itu!" kesal Bianca lalu bangkit dari du
Selena mengintip kembali keluar jendela. Ia memerhatikan bagian bawah sana. Memang sekarang dia berada di tempat yang tinggi, mungkin di lantai tiga menurut perkiraannya. Akan tetapi dia tidak menyangka kalau ternyata selama ini disekap di sebuah gereja tua yang bahkan pekarangannya saja tidak terawatt sama sekali.Apa ini gereja khusus untuk pernikahan para vampir? Tanya Selena dalam hatinya. Ia lalu membalikkan badan dan melihat Henry yang duduk termenung di atas tempat tidur. Entah apa yang dipikirkan lelaki itu.“Henry,” panggil Selena sembari berjalan mendekati adiknya.“Kenapa kita tidak kabur sekarang saja, Elle?” tanya Henry tidak mengerti.Sekali lagi Selena memberikan senyum pahit. Terus terang saja dari lubuk hati terdalamnya sangat ingin kembali ke rumah, bertemu dengan Rain lalu memeluk lelaki itu hingga dalam waktu yang sangat lama. Akan tetapi itu sama sekali tidak mungkin.“Aku tidak memiliki j
Tidak ada pilihan lagi bagi Selena sekarang. Hanya dalam hitungan detik, pintu gereja akan terbuka. Di sisinya ada Henry yang berdiri dengan tegap, memakai setelan jas yang sangat rapi. Raut wajahnya sedih dan tidak ada senyuman ceria seperti biasa. Bukan hanya Henry, Selena pun merasakan hal yang sama.Pintu di depannya masih tertutup rapat. Sayup-sayup Selena bisa mendengar suara kidung nyanyian dari paduan suara di dalam sana. Ia memejamkan mata sebentar dan berharap ini hanya mimpi. Ini tidak nyata. Semua hanya mimpi buruk dari ketakutannya selama ini. Akan tetapi, setelah matanya terbuka, ia tetap melihat hal yang sama di hadapannya. Yaitu, sebuah pintu kembar yang besar dan tinggi masih tertutup rapat.“Elle … masih ada waktu untuk berubah pikiran,” bisik Henry pada mempelai perempuan yang sedang menggandeng lengannya bersama sebuket bunga mawar hitam.“Kumohon jangan mengatakan hal itu lagi, Henry. Itu tidak mungkin untukku membat
Tidak ada yang bisa bergerak sekarang, baik Rain maupun yang lainnya. Mereka membeku ketika melihat Arion yang melangkah tenang menuju keluar gereja. Tidak ada yang tahu apakah upacara pernikahan sudah terjadi atau belum. Yang jelas dari ekspresi tenang Arion menunjukkan bahwa semuanya berjalan baik-baik saja.Rain mengepalkan tangannya ketika melihat Selena yang tak berdaya di belakang lelaki itu. Ingin sekali ia menyerang Arion secara membabi buta, akan tetapi kakinya masih saja terasa berat untuk melangkah. Bahkan bergerak saja dia tak bisa.“Selena,” lirih Rain dengan suara berbisik.Seperti mendengar panggilan dari Rain. Selena mengangkat wajahnya dan menatap nanar sang kekasih hati. Ia menggigit bibir bawah dengan kening mengernyit dan meringis. Bibirnya berucap satu kata nama Rain meski tak keluar suara apapun.“Apa tujuan kalian kesini ingin membawa mempelai perempuanku?” tanya Arion dengan tenang.“Serahkan Se
“Apa yang kau katakan?” tanya Rain yang mulai gelisah dengan kalimat bocoran dari Erika.Erika mendekati Rain. Menarik mundur lelaki itu agar menjauh dari Arion lalu ia sendiri menunduk untuk melihat wajah lelaki yang sekarang tersungkur ke tanah. “Arion … kau masih hidup?” tanya Erika dengan suara pelan.“Apa maksudmu, Erika?!” tuntut Rain yang ingin penjelasan lebih banyak. Ia belum bisa mencerna sepenuhnya maksud dari penyihir itu.Erika mengabaikan pertanyaan Rain hingga lelaki itu mengumpat kata fuck di belakangnya. Ia terus fokus pada Arion tanpa menyentuh lelaki itu. Ia hanya mengawasi mata Arion yang terpejam dengan lebam di mana-mana.“Arion,” panggilnya lagi dengan lirih.Arion membuka mata perlahan. Dia langsung melihat Erika yang begitu mencemaskannya. Namun, bukannya merasa terharu karena penyihir itu masih peduli, Arion malah bersikap menyebalkan. Ia berdecak sebal sambil berkata,
Semuanya menatap Erika dengan raut wajah tak percaya. Apa yang dikatakan Erika bisa mereka simpulkan bahwa sekarang penyihir itu bersiap mengorbankan dirinya sendiri.John tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Dirinya dan Arion langsung mendekati Erika dan membujuk gadis muda itu agar tidak melakukan hal bodoh seperti itu.“Erika, jangan lakukan itu!” kata John dengan wajah cemas. Dia menurunkan nada suaranya agar Erika bisa merasa aman sekarang. “Kita bisa bicarakan hal ini baik-baik.”Erika menatap John dengan mata berkaca-kaca. Ia menggelengkan kepalanya. “Aku yang membuat masalah ini, maka harus aku yang menyelesaikan semuanya.”“Erika!” seru Arion yang begitu ketakutan. Sorot mata yang sebelumnya begitu angkuh sekarang penuh dengan perasaan takut dan cemas. Melihat ujung belati sudah siap menancap jantung penyihir itu, Arion mengambil ancang-ancang untuk mengambil alih pisau tersebut.“Apa
Dalam gereja, semuanya duduk dengan tenang dan tanpa suara. Mereka bukan sedang melangsungkan pernikahan melainkan ingin membicarakan hal yang sangat serius.Di depan dekat altar yang seharusnya akan dijadikan tempat Arion dan Selena mengikrarkan janji suci, sekarang sudah duduk tiga orang dengan tiga belati di hadapan mereka. Arion, Selena dan Erika. Mereka memiliki satu belati yang diletakkan di atas meja.Sementara itu ada John yang bersilang tangan di dada menghadap mereka bertiga dengan ekspresi serius. Ia tak ingin bersikap lebih lembut sekarang. Tidak mungkin ada yang mendengarnya membujuk dengan kalimat lembut.“Apa maksudmu melakukan ini?” ketus Arion menatap John yang keningnya terus mengernyit dalam.“Kalian bertiga sudah memiliki pisau di depan kalian. Kalau kalian memang sangat ingin bunuh diri, silakan! Aku akan berusaha mengerti dan tak peduli pada keputusan bodoh itu!” kata John.Arion berdecih lalu tertawa s
Beberapa hari kemudian. Semua berjalan seperti biasa. Selena sudah tidak memiliki kutukan yang mengikatnya lagi. Ia bisa hidup dengan tenang bersama kekasih dan saudara-saudaranya. Sementara Arion tetap menjadi guru di SMA Valley dengan alasan dia akan mengambil hati Selena secara natural tanpa ada sihir atau apapun namanya.Semua kembali normal bagi Selena, namun tidak bagi Henry. Ia masih kehilangan Syilea yang melupakan kenangan tentang dirinya. Meski Arion sudah melenyapkan semua kemampuan sihirnya, tetap saja ingatan Syilea tidak kembali lagi.“Ini sangat aneh!” gerutu Henry ketika dia duduk dalam ruang guru saat jam pelajaran berakhir dan seluruh murid pulang ke rumah masing-masing.Henry menemui Arion yang begitu normal seperti manusia. Ia menjadi guru yang sangat baik. Sekarang saja dia sedang sibuk menilai tes para muridnya dan bersedia lembur di sekolah.“Apa? Tentang pacarmu?” tanya Arion dengan tenang dan terus mencoret
Setelah musim panas berakhir, maka masuklah musim paling syahdu yaitu musim gugur. Sisa hawa panas memang masih ada, namun angin pun sudah mulai berembus. Selena memakai kaos tipis yang dilapisi dengan mantel panjang berwarna merah favoritnya, Ia tampak begitu sangat cantik malam ini. Terlebih jeans panjang dengan sepatu ankle boot hitam membuatnya menjadi tampak sempurna.Sama seperti Selena, Bianca dan Erika pun juga memakai outfit yang sama meski beda warna dan hiasan baju lainnya. Mereka semua sudah siap untuk pergi ke festival musim gugur bersama dengan pasangan masing-masing.“Aku tidak memiliki pasangan. Lalu, nanti sama siapa setelah di sana?” tanya Erika kebingungan.“Jangan cemas. Kamu bisa bersamaku, Bianca atau Syilea.” Selena mencoba menenangkan Erika.“Aku tidak ingin mengganggu kesenangan kalian,” tolak Erika dengan segan.“Ah, begini saja … bagaimana kalau kita tidak usah berpencar? K
Syilea sangat terkejut dengan serangan ciuman dari Henry. Pupil matanya membulat sempurna tatkala sebuah memori ingatan melemparkannya ke suatu tempat yang aneh. Di mana ia melihat dirinya dan Henry yang sedang berciuman di ruang tamu rumahnya, pernyataan cinta dari Henry, hadiah bunga dan jalan-jalan malam di festival hingga akhirnya ia melihat seorang vampir yang berdiri di hadapannya dengan seringai menyeramkan beserta taring tajam.Jantung Syilea berdentam dengan sangat cepat ketika dia potongan memori ingatannya kembali seperti puzzle yang mulai tersusun hingga membentuk gambar sempurna.Satu detik … Dua detik … Tiga detik … Empat detik … Lima detik.Seketika pandangan Syilea menjadi samar bersamaan dengan Henry yang menarik mundur wajahnya. Dengan tatapan sayu, Syilea menatap Henry yang dikenalnya sebagai kekasihnya, bukan orang asing lagi.“Henry,” bisik Syilea dengan lirih.“Apa kamu sudah ingat
Keesokan harinya, Selena sudah bersiap menuju sekolah dijemput Rain seperti biasa. Seperti yang dikatakan Arion tadi malam, mulai hari ini dia tidak akan muncul lagi di hadapannya. Perpisahan tadi malam sudah cukup menguras emosinya hingga membuat Selena merasakan seperti ada duri tertancap di hatinya.“Kenapa aku merasa tidak rela untuk kehilangannya?” gumam Selena sambil berjalan menuju anak tangga.“Elle … berangkat dengan Rain?” tanya Bianca yang tiba-tiba saja berjalan di sisinya.“Ya.” Selena menjawab singkat.“Ada apa denganmu? Wajahmu terlihat linglung,” heran adiknya.“Bia … apa kamu tahu kalau Arion pergi?” tanya Selena akhirnya pada Bianca.“Iya, tau. Ayah sudah menceritakan pada kami semua tadi malam saat kamu dan dia pergi jalan-jalan,” jawab Bianca.“Kenapa kamu tidak sedih?”“Buat apa? Dia kan hanya pergi untuk
Masih di bar khusus para vampir. Selena tidak meminum apapun, ia hanya melihat Arion yang sudah menghabiskan empat gelas kecil berisi darah manusia.“Sepertinya kamu sudah terlalu lama menahan ini semua,” sindir Selena pada Arion yang meletakkan gelas terakhir di atas meja.“Maafkan aku. Tidak mudah untuk membuang kebiasaan,” jawab Arion yang memberi kode pada bartender untuk mengisi gelasnya lagi.“Setidaknya sekarang kamu sudah bersahabat dengan kata maaf,” jawab Selena tersenyum. “Setelah ini, kamu ingin membawaku kemana lagi?”“Pantai,” jawab Arion.Selena mengernyit dan bingung. “Pantai?” ulangnya.“Bukankan kamu sangat suka melihat laut?” tanya Arion.Selena mengangguk. Ia tak membantah tebakan Arion. “Ya. Aku suka.”“Laut akan terlihat indah bila dilihat saat malam hari,” lanjut Arion lalu kembali minum.&ld
Para gadis sudah tiba di rumah saat pukul delapan malam. Saat itulah mereka melihat para lelaki berkumpul di ruang keluarga. Ada John, Arion, Stefan, Henry dan Matt. Mereka tengah berbincang santai dan sesekali terdengar tawa karena joke yang dilontarkan oleh Arion.Selena tersenyum ketika melihat bagaimana Arion yang berdiri di depan mereka semua sambil membawakan sebuah lelucon seolah sedang melakukan stand up, lalu terdengar suara tawa Henry yang paling keras.“Hai, girls … sudah selesai bersenang-senangnya?” tanya Matt ketika sadar dengan kehadiran Bianca, Selena dan Erika.Bianca menghampiri Matt dan langsung duduk di pangkuan lelaki itu tanpa malu dilihat oleh John dan Stefan. Lagipula mereka adalah keluarga, bersikap romantis di depan keluarga bukan hal yang aneh, kan?“Ya … itu tadi adalah shopping paling menyenangkan,” ungkap Bianca dengan penuh semangat yang menggebu-gebu. Ia lalu melemparkan pandangan pada
Sambungan via telepon handphone antara Henry dan Syilea ….“Kenapa kamu baru tiba di rumah?” tanya Henry setelah teleponnya baru diangkat oleh gadis tersebut dan Syilea mengatakan bahwa dia baru saja sampai rumah.“Aku harus pergi ke rumah sakit untuk bertemu dengan ibu sebentar,” jawab Syilea jujur.Henry mengangguk paham. “Seharusnya kamu tidak perlu menolak tawaranku ketika ingin mengantarkanmu pulang,” sesalnya lagi.“Tidak apa-apa. Aku tidak ingin merepotkanmu. Kita hanya teman dan seharusnya aku harus tahu batasan,” jelas Syilea dengan bijaksana.“Kalau begitu … bagaimana jika seandainya kita bukan hanya sekedar teman?” pancing Henry.“Ma-maksudmu?” gagap Syilea mendengar hal yang bisa langsung dia asumsikan tentang hal lebih dari teman.“Ya, maksudku … seperti hubungan yang lebih dekat,” jawab Henry pelan. Dia sendiri merasa
Selena membawa Erika ke kamar yang akan ditinggali oleh gadis penyihir itu. Sengaja ia memilihkan kamar dengan kasur baru dengan alasan khusus untuk manusia.“Karena kamu membutuhkan tidur yang nyenyak daripada kami,” kata Selena saat mendapati Erika yang begitu sungkan.“Terima kasih,” ucap Erika dengan tulus.“Tapi … apa kamu tidak takut tinggal serumah dengan banyak vampir?” tanya Selena ragu.Erika hanya tersenyum penuh arti. “Bahkan sebelumnya aku pernah serumah dengan vampir yang sangat bengis dan haus darah manusia.”Selena mengerti siapa yang dimaksud oleh Erika. Tentu saja dia adalah Arion. Mereka memang pernah serumah dan bahkan bercinta karena memiliki hubungan khusus.Erika mulai mengeluarkan beberapa pakaiannya yang usang dan lusuh lalu membuka lemari. Selena mengernyit melihat pakaian penyihir itu. Baru dia sadari ada sesuatu yang memprihatinkan sekarang.“Erik
Rain dan Selena hari ini pulang sekolah sambil berjalan kaki. Ini sesuai permintaan Selena yang katanya rindu berjalan-jalan di tengah hutan sambil menuju rumahnya sendiri. John sudah menyampaikan pesan lewat Arion yang datang ke sekolah untuk menyuruh semua anaknya pulang ke rumah tepat waktu. Tidak ada yang boleh mampir ke suatu tempat apalagi pacaran kata Arion tadi. Dan tentu saja mendapat dengusan sebal dari Selena dan Bianca.“Memangnya ayah kenapa menyuruh kita langsung pulang?” tanya Selena pada Rain. Mereka berjalan sambil berpegangan tangan satu sama lain.Rain mengedikkan bahu. “Aku tidak tahu. Mungkin ayah kalian ingin mengumumkan sesuatu mungkin.”“Apa ayah akan menikah lagi?” tanya Selena dengan tatapan tak percaya.“Masa? Bukankah ayah kalian tidak dekat dengan siapapun juga,” heran Rain yang kurang percaya dengan kesimpulan tak masuk akal dari Selena.“Selama ini ayah paling pint
Keesokan harinya John dan Arion akhirnya memutuskan untuk menemui Stefan di kediamannya. Sebuah rumah kecil dengan dinding kayu di tengah hutan. Pagar kayu setinggi pinggang orang dewasa dan ada pohon di depannya. Bisa ditebak bahwa pohon tersebut adalah pohon cokelat yang tumbuh dengan suburnya. Stefan sengaja membangun rumah di samping pepohonan cokelat agar bisa bertahan hidup.Melihat kehadiran Arion dan John yang datang bersama-sama awalnya membuat Stefan sedikit kaget, namun pada akhirnya ia tersenyum dan mempersilakan dua anak adopsinya masuk ke dalam.Arion memerhatikan sekitar rumah yang begitu hangat meski tak terlalu besar. Beda dengan rumahnya yang mewah dan besar namun terasa dingin.Stefan memberikan dua gelas cokelat hitam panas pada dua lelaki yang dia sayangi. Lelaki tua itu tersenyum bijaksana dan terlihat jelas bagaimana ia senang melihat kehadiran kakak beradik itu. Melihat keakuran yang akhirnya terjalin di antara keduanya. Stefan benar-bena