Tiga buah gumpalan tissue yang sudah gepeng tertindih kasur, akhirnya aku bersihkan dengan sapu.
Beberapa diataranya terdapat noda di permukaan tissue itu. Saking jijiknya, sampai cepat-cepat kubuang dalam sampah.
Nafasku tak karuan, keringat dingin mulai mengucur deras di tengkuk.
Dalam benakku terpikir, bagaimana bisa gumpalan tissue itu bersembunyi di sana. Di tempat yang tak semestinya. Benar-benar di luar nalar.
Seketika khayalanku menerawang jauh. Bisa saja tissue itu adalah milik Sita yang dibawanya dari rumah lalu disimpan dalam kantong celana hotpants-nya.
Kemudian ia memakainya untuk mengelap anggota tubuhnya yang basah oleh keringat, mengingat kamar itu tak ber-AC. Hanya kipas kecil saja yang menempel di dinding.
Atau kemungkinan lainnya yaitu ....
Ah, masa iya tissue itu untuk mengelap setelah aktivitas terlarang. Lalu dengan siapa? Mas Tedy, suamiku?
Kepalaku mulai pening, serasa berkunang-kunang pandanganku setelah memikirkan beberapa analogi yang kupaksakan dari dalam pikiran.
Ponsel berdering. Ternyata dari wali kelas Dio, sang guru memberitahukan padaku bahwa Dio pulang cepat hari ini. Dikarenakan ada rapat para guru di sekolah.
Dengan kesal aku meletakkan semua peralatan bersih-bersih itu. Berniat melepas kepenatan sejenak dengan mengajak Dio berjalan-jalan setelah menjemputnya.
Saat di depan rumah, aku menyalakan motor matic-ku. Tiba-tiba saja terlihat di balik kaca spion motor, Sita berlari dari dalam ke depan rumahnya. Sepertinya 'kekepoannya' sedang kumat.
Sadar akan hal itu, aku langsung menggeber motor dan langsung bergegas tancap gas.
Tampak dari kejauhan, Sita sedang berjalan keluar rumah dan menuju ke arah rumahku. Entah apa yang akan wanita gila itu perbuat.
Sesampainya di sekolah, Dio langsung menghambur di pelukanku. Bocah semata wayangku ini ialah satu-satunya pelipur lara diri ini. Mungkin tanpa kehadirannya hidupku akan terasa hampa.
Restoran fastfood kesukaan Dio terlihat masih sepi. Setelah memesan beberapa menu makanan, Dio bercerita sesuatu padaku.
"Ma, kemarin siapa sih yang dateng ke rumah?" Bocah laki-laki berponi itu kembali memainkan kakinya yang menggantung di kursi.
"Emm, emangnya kenapa, Sayang?"
"Nggak, Dio pikir itu Mama. Soalnya kok mondar mandir di dapur."
Deg! Jantung ini serasa mau lepas dari tempatnya. Mana mungkin si Sita mondar mandir ke dapur. Apa yang dilakukannya di dapur?
Hmm, apa dia mengambil tissue itu dari dapur? Bisa jadi!
"Ma, jangan ngelamun dong. Yee! Itu makanan kita udah dateng."
Aku menoleh ke arah Dio yang sedang menunjuk ke arah pramusaji yang membawa baki berisikan ayam krispi dan minuman susu coklat.
Dio girang sekali, ia memakannya dengan lahap. Sementara aku masih terngiang keanehan yang terjadi. Berharap ini semua di luar bayanganku. Semoga saja.
*
Aku menarik gagang pintu rumah, dan tiba-tiba sudah terbuka dengan sendirinya.
Siapakah yang sudah di dalam? Pasti tak lain dan tak bukan ialah Mas Tedy. Tapi, kenapa jam segini sudah pulang?
"Assalamu'alaikum!"
Pekikku dan Dio. Kami berdua memasuki rumah. Ternyata Mas Tedy sudah berada di rumah.
"Mas Tedy? Kok sudah pulang jam segini?"
Aku terkejut serta terheran melihat Mas Tedy duduk dengan santai sambil menonton televisi.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya singkat.
Mas Tedy tersenyum tipis dengan mulut yang penuh makanan ringan. Kakinya yang sedang menyilang di atas meja, ia turunkan. Kemudian berkata sesuatu yang jarang sekali aku dengarkan.
Dio memeluk papanya, begitupun Mas Tedy membalas pelukannya.
"Aku, bekerja demi kalian. Wajar saja toh kalo aku minta cuti atau libur. Sudah, jangan memancing perdebatan gini, Ma"
Mas Tedy lalu beranjak menuju kamarnya dengan Dio. Dengan sigap, aku menyusulnya dan menarik pergelangan tangannya.
"Sudahlah, Pa. Gitu aja ngambek. Nggak biasanya kamu suka ngambek gini. Ayo, sini-sini cerita kok bisa pulang cepet? Apa besok kamu libur?"
Aku menarik lengan suamiku, dan membimbingnya kembali duduk di sofa hangat itu.
Dio tampak kesal melihat kami berduaan, akhirnya ia masuk dalam kamarnya sendiri.
Kemudian dengan lembut aku menyuapkan beberapa keripik ke dalam mulut suamiku. Ia menurut dan mengunyahnya perlahan, tanpa ada sedikitpun rasa curiga padaku.
"Aku mengajukan cuti selama seminggu. Jadi tujuh hari ke depan, aku bisa bersantai di rumah. Kalau kamu mau menginap di rumah nenek Dio, boleh-boleh saja. Aku bisa tetap di rumah saja. Gimana menurutmu?"
Netraku mengerjap, tak biasanya Mas Tedy betah di rumah. Biasanya ia paling tak kuat bila berkutat di rumah terus-menerus. Benar, ini pasti ada apa-apanya.
Aku melempar senyum kecut pada Mas Tedy, kusadari apa yang telah ia katakan adalah blunder untuknya. Pelan-pelan aku harus memasang perangkap di rumah ini.
"Oh, tujuh hari ya, Pa. Baiklah, aku akan menginap di rumah orangtuaku selama tiga hari saja. Sisanya, ayo kita berlibur saja."
Tanganku masih mengelus betis Mas Tedy, meremas-remasnya dengan kuat. Setidaknya, hanya dengan itu aku bisa melampiaskan sedikit emosiku.
"Hemm, gitu ya?" Bola mata Mas Tedy menerawang ke langit-langit rumah. Ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang entah apa itu.
"Bagaimana, Pa. Tumben kamu mikirnya lama. Sudahlah, iyain aja. Lagian nggak mungkin aku tiga hari penuh ninggalin kamu sendiri di rumah. Kan aku juga kangen sama kamu, Pa."
Celotehku membuat Mas Tedy berbalik mengamatiku, dia melontarkan senyumnya yang datar.
"Pa, kemarin waktu aku tidur. Kamu ke mana?"
Mas Tedy terkesiap setelah mendengar pertanyaanku. Mimik wajahnya sangat mudah di baca, gelisah hingga memerah.
"E-emang kenapa, Ma?"
"Nggak. Sebenarnya kamu kenal gak sih ama Sita. Tetangga sebelah kita itu?"
"Emm, nggak lah, Ma. Aku nggak kenal kok. Lagian ngapain sih dia malam-malam tidur di rumah kita?"
"Ooh. Hati-hati saja dengan dia ya, Pa. Dia itu serigala berbulu domba," ungkapku sambil mengisyaratkan cakar serigala di jariku.
"Ah, Mama. Jangan berburuk sangka dulu. Dia sepertinya baik," sanggah Mas Tedy.
Kepalaku memanas mendengar ucapan suamiku. Sepertinya ia telah di rasuki iblis dari tubuh Sita.
Aku mengangguk-angguk lalu membuang muka. Menahan emosi yang hampir lepas dari tempatnya, kemudian mengelus-elus dada.
"Oke, nanti sore aku akan berkemas. Dan segera ke rumah orang tuaku. Sudah lama aku tak pulang."
"Baik, Sayang. Kamu mau di antar atau pulang sendiri?" tawar Mas Tedy. Sungguh suamiku kian bodoh juga setelah berkenalan dengan wanita bodoh sebelah rumah itu.
"Aku bisa naik motor sendiri. Lagian rumah ibu kan dekat."
Mas Tedy mengulurkan jempolnya kepadaku. Boleh saja ia membiarkanku sekarang. Tapi nanti malam lihat saja, apa yang aku lakukan di sini.
Bersambung...
Sampailah di rumah orang tuaku. Rumah masa kecilku dulu. Jarak dari rumahku ke sini tidaklah lebih dari lima kilometer, jadi bisa saja aku pulang sewaktu-waktu tanpa memberi tahu suamiku terlebih dahulu.Dio merasa bahagia bila menginap di sini. Karena ia sangat dimanja oleh kakek dan neneknya, begitupun sebaliknya. Orang tuaku selalu menanti-nanti kehadiran cucunya untuk menginap di sini."Della, Tedy mana? Kok nggak ikut?" tanya ibuku tiba-tiba mengagetkan lamunanku."Mm, anu Bu. Mas Tedy lagi nggak enak badan. Jadi tidak ikut," jawabku kikuk. Pikiranku buntuk tak bisa mencari alasan lain lagi."Lho, kok, ditinggal sendiri di rumah? Harusnya kamu ada di sana kalau si Tedy sakit, Del."Ibuku selalu mencemaskan menantunya itu, sedangkan aku sebagai anaknya hanya disuruh menurut kepada suami.
Tak kusangka ....Ternyata keadaan kamar itu kosong! Tak ada seorang pun di sana.Aneh sekali!Suara yang ditimbulkan itu ternyata hanyalah dari sebuah ponsel yang sedang memutar video 'film biru', dengan volume yang keras.Apa maksud ini semua? Ada apa ini? Kenapa ada ponsel di kamar ini. Lalu ponsel siapa itu?Ponsel 'Apel koyak' itu tampak familiar. Ah, seperti milik Mas Tedy? Tipe dan warnanya sama, hanya softcase-nya saja yang berbeda.Kumatikan video, lalu mengambil ponsel itu dan menyimpannya dalam tas. Ini adalah salah satu barang bukti dari misteri yang akhir-akhir ini membuatku berpikir keras siapa dalang di balik ini semua.Aku menyelinap dan melanjutkan penyelidikanku. Kini aku menuju kamar pribadi
["Halo, halo!"] Suara Mas Tedy di sana. Aku terdiam tak menjawabnya.Lalu panggilan itu putus ditutupnya. Sial! Bagaimana ini? Aku harus bisa mengungkap ini semua.Semakin lama, aku semakin lemas, perutku lapar dan berbunyi keroncongan. Akhirnya, kuputuskan untuk makan dahulu dengan membuat mie instan dari dapur. Setelah kenyang, aku kembali berbaring di sofa untuk memikirkan rencana apa yang mau kuperbuat.Mengingat aku sudah berpamitan untuk menginap di rumah Ibu, jadi mau tak mau sebelum Mas Tedy pulang, aku harus segera pergi dari sini.Kulihat dari tirai, rumah Sita gelap gulita. Hanya lampu teras yang menyala. Kira-kira dia ada di rumah atau sedang keluar bersama Mas Tedy tadi nggak ya?Karena penasaran, akhirnya aku putuskan untuk mengintipnya. Karena jendela dapur belakang rumah Sita belum
Lalu Mas Tedy tertawa. Seketika dari arah belakang, seseorang menyiramku air hingga basah kuyup."Aaarrgh!"Aku terkesiap. Netraku mengerjap cepat. Rupanya ini hanyalah mimpi. Sepertinya aku menyenggol laci hingga menumpahkan gelas plastik yang berisi air, hingga jatuh mengenai kepalaku.Huh, sungguh sial. Aku harus cepat-cepat bangun dan berganti pakaian.Ketika aku bangkit, Mas Tedy sedang tidur sambil mendengkur di atas ranjang. Dengkurannya sungguh keras, membuat kegaduhan kecil yang aku buat tak terdengar olehnya.Perlahan aku bergerak melewati tubuh Mas Tedy. Tiba-tiba, dia menggeliat dan mendapati diriku berada di atas tubuhnya. Ia langsung memelukku dengan mata masih terpejam. Aku masih terdiam, menunggu suamiku benar-benar terlelap kembali.Setelah beberapa menit, aku mencoba mengangkat pelan-pelan tangannya yang menindihku.
Lampu rumah Sita yang terang benderang, mendadak hampir setengahnya dipadamkan. Padahal, pria itu masih bertamu di rumah Sita. Wah, benar-benar menyeramkan, apa sebenarnya yang terjadi di sana?"Kamu lagi ngapain? Kok sampe ngintip segala kayak gitu?" tanya Mas Tedy, kepalanya ikutan nongol di bibir pintu."Sudahlah, Mas. Nggak usah ikut-ikutan deh. Aku aja yang ngerti. Intinya sekarang kamu jelasin padaku, ponsel siapa itu dan mengapa bisa sampai di kamar belakang? Titik!"Aku mengotot sampai hampir tersengal. Setelah meneguk air putih, aku bernafas lega kembali.Pandanganku fokus terarah pada wajah Mas Tedy. Ia merunduk tatkala aku mulai melotot padanya."Maaass! Woii! Jangan diem aja dong!" teriakku.Mas Tedy menghela napasnya. Seakan mau bicara serius padaku."Begini, ini bukan seperti yang kamu bayangk
🌱🌱🌱Sita membawa seorang pria yang tampak seumuran dengannya. Pria itu berpakaian rapi serta rambut yang klimis. Bau harum parfum keduanya menyeruak di penjuru ruangan."Kak Della, kenalin ini suamiku. Namanya Reino."Sita menyikut pria di sebelahnya, memberi isyarat agar berjabat tangan denganku. Aku masih tak percaya bila orang tersebut adalah benar suami Sita.Aku membalas jabatan si pria itu dengan senyum kaku. Agar si Sita menyadari bahwa kelakuannya masih salah di mataku."Sudah, tak usah berlama-lama. Mari kita langsung makan malam saja," tawar Mas Tedy.Anggukan serempak kedua tamuku itu sangat membuatku muak. Andai saja mereka tahu betapa menyebalkannya tetangga seperti dia, pasti mereka takkan berani menginjakkan kaki di sini."Ah, benar. Mari ke sebelah sini." Aku mempersilakan para tamuku menuju ke tempat
Kenapa Mas Tedy malah minta Sita dan suaminya ikut liburan? Ada apa gerangan?"Mas, sadar gak sih, yang kamu katakan itu?" tanyaku. Mas Tedy terdiam tak menjawab.Aku merebahkan diri dalam ranjang empuk, Mas Tedy ternyata sudah lebih dulu tertidur ternyata, pantas saja aku ajak ngobrol tak menyahut.Suara ponsel bergetar membangunkanku yang baru saja terpejam. Aku raih ponselku yang tergeletak di atas laci, tapi tak ada satupun panggilan atau notifikasi masuk.Ponsel siapa ini yang bergetar? Ah, pasti milik Mas Tedy. Terpaksa aku menunda dulu tidur malam ini, dan mencari-cari barang yang bergetar sedari tadi.Ponsel Mas Tedy ternyata tertindih badannya, haruskah aku mengambilnya?Tak lama aku mematung, duduk di atas ranjang. Menunggu Mas Tedy menggeliat dan merubah posisi tidurnya.Getaran sudah
🌱Tok! Tok! Tok!Terdengar sebuah ketukan yang berasal dari pintu rumahku. Aku mendengkus kesal. Rasanya baru beberapa menit mataku terpejam menyambut mimpi, sudah ada saja yang mengusiknya.Mas Tedy masih terlelap di sebelahku. Entah mengapa dia tidak terbangun mendengar suara gedoran keras di pintu rumah ini.Aku melangkah dengan gontai menuju sumber suara. Menahan rahang yang pegal karena terus-terusan menguap menahan kantuk yang tak tertahankan.Kemudian aku menghentikan jalanku sejenak tatkala bergidik setelah melirik jam dinding yang menempel di tembok.
Kenapa Mas Tedy malah minta Sita dan suaminya ikut liburan? Ada apa gerangan?"Mas, sadar gak sih, yang kamu katakan itu?" tanyaku. Mas Tedy terdiam tak menjawab.Aku merebahkan diri dalam ranjang empuk, Mas Tedy ternyata sudah lebih dulu tertidur ternyata, pantas saja aku ajak ngobrol tak menyahut.Suara ponsel bergetar membangunkanku yang baru saja terpejam. Aku raih ponselku yang tergeletak di atas laci, tapi tak ada satupun panggilan atau notifikasi masuk.Ponsel siapa ini yang bergetar? Ah, pasti milik Mas Tedy. Terpaksa aku menunda dulu tidur malam ini, dan mencari-cari barang yang bergetar sedari tadi.Ponsel Mas Tedy ternyata tertindih badannya, haruskah aku mengambilnya?Tak lama aku mematung, duduk di atas ranjang. Menunggu Mas Tedy menggeliat dan merubah posisi tidurnya.Getaran sudah
🌱🌱🌱Sita membawa seorang pria yang tampak seumuran dengannya. Pria itu berpakaian rapi serta rambut yang klimis. Bau harum parfum keduanya menyeruak di penjuru ruangan."Kak Della, kenalin ini suamiku. Namanya Reino."Sita menyikut pria di sebelahnya, memberi isyarat agar berjabat tangan denganku. Aku masih tak percaya bila orang tersebut adalah benar suami Sita.Aku membalas jabatan si pria itu dengan senyum kaku. Agar si Sita menyadari bahwa kelakuannya masih salah di mataku."Sudah, tak usah berlama-lama. Mari kita langsung makan malam saja," tawar Mas Tedy.Anggukan serempak kedua tamuku itu sangat membuatku muak. Andai saja mereka tahu betapa menyebalkannya tetangga seperti dia, pasti mereka takkan berani menginjakkan kaki di sini."Ah, benar. Mari ke sebelah sini." Aku mempersilakan para tamuku menuju ke tempat
Lampu rumah Sita yang terang benderang, mendadak hampir setengahnya dipadamkan. Padahal, pria itu masih bertamu di rumah Sita. Wah, benar-benar menyeramkan, apa sebenarnya yang terjadi di sana?"Kamu lagi ngapain? Kok sampe ngintip segala kayak gitu?" tanya Mas Tedy, kepalanya ikutan nongol di bibir pintu."Sudahlah, Mas. Nggak usah ikut-ikutan deh. Aku aja yang ngerti. Intinya sekarang kamu jelasin padaku, ponsel siapa itu dan mengapa bisa sampai di kamar belakang? Titik!"Aku mengotot sampai hampir tersengal. Setelah meneguk air putih, aku bernafas lega kembali.Pandanganku fokus terarah pada wajah Mas Tedy. Ia merunduk tatkala aku mulai melotot padanya."Maaass! Woii! Jangan diem aja dong!" teriakku.Mas Tedy menghela napasnya. Seakan mau bicara serius padaku."Begini, ini bukan seperti yang kamu bayangk
Lalu Mas Tedy tertawa. Seketika dari arah belakang, seseorang menyiramku air hingga basah kuyup."Aaarrgh!"Aku terkesiap. Netraku mengerjap cepat. Rupanya ini hanyalah mimpi. Sepertinya aku menyenggol laci hingga menumpahkan gelas plastik yang berisi air, hingga jatuh mengenai kepalaku.Huh, sungguh sial. Aku harus cepat-cepat bangun dan berganti pakaian.Ketika aku bangkit, Mas Tedy sedang tidur sambil mendengkur di atas ranjang. Dengkurannya sungguh keras, membuat kegaduhan kecil yang aku buat tak terdengar olehnya.Perlahan aku bergerak melewati tubuh Mas Tedy. Tiba-tiba, dia menggeliat dan mendapati diriku berada di atas tubuhnya. Ia langsung memelukku dengan mata masih terpejam. Aku masih terdiam, menunggu suamiku benar-benar terlelap kembali.Setelah beberapa menit, aku mencoba mengangkat pelan-pelan tangannya yang menindihku.
["Halo, halo!"] Suara Mas Tedy di sana. Aku terdiam tak menjawabnya.Lalu panggilan itu putus ditutupnya. Sial! Bagaimana ini? Aku harus bisa mengungkap ini semua.Semakin lama, aku semakin lemas, perutku lapar dan berbunyi keroncongan. Akhirnya, kuputuskan untuk makan dahulu dengan membuat mie instan dari dapur. Setelah kenyang, aku kembali berbaring di sofa untuk memikirkan rencana apa yang mau kuperbuat.Mengingat aku sudah berpamitan untuk menginap di rumah Ibu, jadi mau tak mau sebelum Mas Tedy pulang, aku harus segera pergi dari sini.Kulihat dari tirai, rumah Sita gelap gulita. Hanya lampu teras yang menyala. Kira-kira dia ada di rumah atau sedang keluar bersama Mas Tedy tadi nggak ya?Karena penasaran, akhirnya aku putuskan untuk mengintipnya. Karena jendela dapur belakang rumah Sita belum
Tak kusangka ....Ternyata keadaan kamar itu kosong! Tak ada seorang pun di sana.Aneh sekali!Suara yang ditimbulkan itu ternyata hanyalah dari sebuah ponsel yang sedang memutar video 'film biru', dengan volume yang keras.Apa maksud ini semua? Ada apa ini? Kenapa ada ponsel di kamar ini. Lalu ponsel siapa itu?Ponsel 'Apel koyak' itu tampak familiar. Ah, seperti milik Mas Tedy? Tipe dan warnanya sama, hanya softcase-nya saja yang berbeda.Kumatikan video, lalu mengambil ponsel itu dan menyimpannya dalam tas. Ini adalah salah satu barang bukti dari misteri yang akhir-akhir ini membuatku berpikir keras siapa dalang di balik ini semua.Aku menyelinap dan melanjutkan penyelidikanku. Kini aku menuju kamar pribadi
Sampailah di rumah orang tuaku. Rumah masa kecilku dulu. Jarak dari rumahku ke sini tidaklah lebih dari lima kilometer, jadi bisa saja aku pulang sewaktu-waktu tanpa memberi tahu suamiku terlebih dahulu.Dio merasa bahagia bila menginap di sini. Karena ia sangat dimanja oleh kakek dan neneknya, begitupun sebaliknya. Orang tuaku selalu menanti-nanti kehadiran cucunya untuk menginap di sini."Della, Tedy mana? Kok nggak ikut?" tanya ibuku tiba-tiba mengagetkan lamunanku."Mm, anu Bu. Mas Tedy lagi nggak enak badan. Jadi tidak ikut," jawabku kikuk. Pikiranku buntuk tak bisa mencari alasan lain lagi."Lho, kok, ditinggal sendiri di rumah? Harusnya kamu ada di sana kalau si Tedy sakit, Del."Ibuku selalu mencemaskan menantunya itu, sedangkan aku sebagai anaknya hanya disuruh menurut kepada suami.
Tiga buah gumpalan tissue yang sudah gepeng tertindih kasur, akhirnya aku bersihkan dengan sapu.Beberapa diataranya terdapat noda di permukaan tissue itu. Saking jijiknya, sampai cepat-cepat kubuang dalam sampah.Nafasku tak karuan, keringat dingin mulai mengucur deras di tengkuk.Dalam benakku terpikir, bagaimana bisa gumpalan tissue itu bersembunyi di sana. Di tempat yang tak semestinya. Benar-benar di luar nalar.Seketika khayalanku menerawang jauh. Bisa saja tissue itu adalah milik Sita yang dibawanya dari rumah lalu disimpan dalam kantong celana hotpants-nya.Kemudian ia memakainya untuk mengelap anggota tubuhnya yang basah oleh keringat, mengingat kamar itu tak ber-AC. Hanya kipas kecil saja yang menempel di dinding.Atau kemungkinan lainnya yaitu ....&nbs
Aku menelisik masuk ke kamar yang pintunya terbuka lebar. Aih, alangkah terkejutnya diriku mendapati Sita berada di sana. Ia tampak baru selesai keluar dari toilet yang ada di dalamnya."Hei, kamu! Masuk kamar orang tanpa ijin!" bentakku pada Sita yang berdiri di depan pintu toilet. Tampak ia sedang mengelap betisnya yang basah, tanpa rasa bersalah ia meringis padaku dengan wajah innocent-nya."Kamu habis ngapain itu, Sit? Kok, tahu kamar ini ada toiletnya?" imbuhku sambil berkacak pinggang."Emm, itu aku nebak sendiri, sih. Karena aku sudah kebelet buang air kecil. Tanpa kusadari masuk dalam kamarmu yang tampak bagus ini. Lalu, aku lihat ada toilet di dalamnya, akhirnya masuk, deh.""Ah, alasan aja kamu, Sit. Bilang aja kamu--."Mas Tedy tiba-tiba terbangun. Ia tertegun melihatku bersama wanita super sek