Terima kasih. Semoga suka. Love You All.
Wijaya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk putih yang melingkar di pinggangnya dan digulung hingga menjadi pendek di atas lutut. Pria itu berjalan mendekati Amira.“Kenapa tidak berpakain dulu? Bagaimana jika ada yang datang dan melihat kamu?” Amira menatap tajam pada Wijaya.“Pakaianku masih ada di koper.” Wijaya mengambil koper yang diletakkan di samping sofa.“Tidak usah khawatir. Pintu sudah aku kunci. Tidak akan ada yang datang karena tidak ada lagi jadwal kunjungan dokter dan perawat.” Wijaya tersenyum. “Hah! Pria ini benar-benar aneh. Dia berubah dengan cepat. Membingungkan.”Amira memperhatikan Wijaya yang pergi membawa koper ke samping lemari. Pria itu berganti pakaian.“Dia sangat harus,” ucap Amira merebahkan tubuhnya ke sofa.“Apa bisa pulang malam ini? Aku sudah pulih.” Amira menunggu Wijaya selesai ganti pakain.“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Wijaya kembali pada Amira.“Apa bisa pulang malam ini?” Amira balik bertanya.“Kenapa mau pulang mala mini?” Dua orang
Amira menepuk tangan Wijaya yang terus berada di atas perutnya. Pria itu benar-benar tidur dengan nyenyak tanpa bergerak sedikit pun. Dia bahkan mampu tidak mengubah posisinya dari awal hingga pagi hari.“Pak, bangun. Sudah pagi.” Amira mengangkat tangan kekar dari atas perutnya.“Panggil sayang baru aku bangau.” Wijaya kembali memeluk Amira.“Sayang, bangun dan pulang,” tegas Amira kesal. Dia sudah lelah berbagi tempat tidur yang sempit.“Apa kamu mengusirku?” bisik Wijaya di telinga Amira.“Hari sudah pagi. Anda akan terlambat pergi ke kantor,” tegas Amira.“Mm.” Wijaya mencium pipi Amira dan turun dari kasur.“Aku akan langsung pulang. Tidak bisa menemani kamu sarapan. Perawat akan datang untuk menjaga dan merawat kamu.” Wijaya masuk ke kamar mandi untuk mandi. Bibi sudah mempersiapkan baju kerja unutk pria itu sehingga dia bisa bersiap lebih cepat.“Hm.” Amira duduk di tepi kasur. Dia menunggu Wijaya selesai mandi.“Aku akan langsung ke kantor dan tidak pulang ke rumah,” ucap Wijay
Wijaya mengawasi pergerakan Luna melalui cctv dan laporan dari Dody serta penjaga. Pria itu sesekali melihat jam di dinding.“Aku harus menghubungi Amira. Ponsel dia tertinggal di kamarnya dan tidak aku bawa ikut serta. Untunglah.” Wijaya melakukan panggilan.“Halo, Amira.” Wijaya langsung menyapa ketika panggilan di terim.“Ya. Ada apa?” tanya Amira.“Apa harus ada alasan untuku menghubungi kamu?” Wijaya balik bertanya.“Hah!” Amira benar-benar serba salah untuk memulai percakapan di ponsel dengan Wijaya.“Apa kamu sudah makan? Apa dokter sudah datang? Apa obat sudah diminum?” tanya Wijaya. “Sudah. Aku akan pulang sekarang,” jawab Amira.“Apa?” Wijaya yang awal duduk tenang di kursi segera beranjak. Pria itu melihat jam yang baru menunjukkan pukul sepuluh pagi dan dia akan rapat.“Tetaplah di rumah sakit hingga aku selesai rapat,” tegas Wijaya.“Aku mau pulang dan bertemu dengan Keano. Aku sudah sehat,” balas Amira.“Apa?” Wijaya melihat Luna kembali ke ruanganya.“Aku hubungi lagi.”
Wijaya Kusuma berdiri tegak di depan Luna. Dia menatap istrinya dengan tatapan penuh benci dan amarah. Pria itu tidak suka dibentak apalagi diperintah oleh orang yang tidak penting baginya.“Jangan membuatku muak melihat kamu! Aku tidak peduli harus rugi dengan menghancurkan karier kamu dan pernikahan kita,” tegas Wijaya Kusuma.“Hari ini. Menjauhlah dariku karena aku tidak kamu melihat kamu!” Wijaya Kusuma menatap tajam pada Luna yang berdiri tepat di depannya. Wanita itu harus meremas ujung gaunya karena ketakutan dan gugup. Dia tidak pernah melihat suaminya semarah itu.“Maaf,” ucap Luna pelan.“Pergilah! Terserah kamu mau kemana asal tidak muncul di hadapanku!” Wijaya keluar dari ruangan. Dia langsung masuk ke dalam lift yang mengantarkan dirinya pada lobby hotel.“Pak Wijaya sendirian. Di mana ibu Luna?” Para karyawan benar-benar memperhatikan bos tampan dan dingin mereka.“Pak Wijaya benar-benar selalu bersama Amira ketika datang dan pergi di kantor.” Para wanita benar-benar sang
Wijaya menatap Amira. Dia masih belum mendapat jawaban dari istri keduanya. Wanita yang telah membuatnya jatuh cinta. Janda tanpa anak dan menjadi ibu susu putranya.“Apa aku tidak tampan?” tanya Wijaya.“Anda sangat tampan,” jawab Amira menarik tangannya.“Aku mau melihat menu makan malam,” ucap Amira.“Tidak perlu dilihat. Semua sudah disiapkan bibi. Kita akan makan malam berdua.” Wijaya duduk. Dia menarik tubuh Amira sehingga beradai di atas pangkuannya. “Ah!” Amira selalu dibuat terkejut oleh Wijaya.“Malam ini milikku.” Wijaya tersenyum. Dia menatap Amira dari jarak yang sangat dekat. Pria itu memperhatikan bibir merah yang merekah.“Tidak.” Amira menggeleng cepat. Dia ingin turun dari pangkuan Wijaya, tetapi tangan pria itu menguncinya.“Apa yang kamu pikirkan? Aku hanya mau kita tidur biasa saja dan tidak akan melakukan apa pun. Itu saja,” tegas Wijaya.“Baiklah,” ucap Amira pelan.“Bukankah pasangan suami istri pun bisa hanya tidur dan berpelukan saja?” tanya Wijaya menatap Am
Amira selalu bangun lebih awal. Dia mempersiapkan semua keperluan dan kebutuhan dari Wijaya serta Keano. Wanita itu bergerak sangat cepat dan telaten. Membuka semua gorden dan jendela. Merapikan dan membersihkan ruang kamar yang luas.“Kenapa kamu sangat buru-buru?” Wijaya membuka mata dengan malas. Dia tersenyum pada Amira yang sedang menyiapkan baju kerja pria itu.“Siapa yang buru-buru? Sekarang sudah pukul enam. Anda mandilah dulu. Setelah itu aku dan Keano.” Amira berdiri di depan Wijaya.“Aku mau mandi berdua dengan kamu.” Wijaya menarik tangan Amira hingga wanita itu jatuh ke pelukannya.“Ahh!” Amira terkejut. Tangnnya mendarat di dada bidang Wijaya. Wajah mereka begitu dekat hingga hidung yang hanya berjarak beberapa senti meter saja.“Salah satu dari kita harus menjaga Keano,” ucap Amira.“Mandi bertiga.” Wijaya tersenyum.“Tidak.” Amira berusaha turun dari tubuh Wijaya, tetapi dia tidak bisa bergerak sama sekali kareni tangan yang kekar melingkar di pinggangnya.“Kenapa tidak
Mobil Wijaya berhenti di tempat parkir. Pria itu turun bersama dengan Amira. Dia menunggu sang sekretaris agar bisa berjalan berdampingan. Hal yang sangat berbeda ketika dengan Luna.“Coba kalian lihat! Pak Wijaya menunggu Amira.” Para pegawai yang berada di bagian depan langsung melihat pada Wijaya dan Amira. “Benar.” Beberapa pasang mata memperhatikan Amira dan Wijaya yang berjalan bersama masuk ke dalam gedung perusahaan.“Kenapa Pak Wijaya lebih perhatian dengan Amira dari pada Bu Luna?” Mereka melihat Wijaya dan Amira yang tampak dekat. Mereka masuk ke dalam lift khusus.“Kenapa aku merasa semua orang memperhatikan kita?” tanya Amira ketika pintu lift tertutup.“Perasaan kamu saja,” jawab Wijaya terlihat tidak peduli. Pria itu berdiri tegak di samping Amira.“Hm. Aku rasa mereka juga bisik-bisik,” ucap Amira.“Aku akan melarang karyawan berbisik. Jika mereka melanggar akan dipecat,” tegas Wijaya.“Ah. Tidak perlu.” Amira tersenyum.“Jika kamu merasa rishi. Aku bisa membuat aturan
Luna yang senang karena panggilan diterima Wijaya tersenyum bahagia. Dia tidak tahu bahwa itu dilakukan oleh Amira.“Sayang,” sapa Luna bersemangat dan tidak ada jawaban. Dia hanya mendengarkan keheningan.“Sayang, kamu di mana? Apa di kantor?” tanya Luna kegirangan. Bella dan Dira menatap wanita itu. Mereka pun menunggu jawaban yang sama.“Halo, Sayang.” Luna meliha layar ponsel yang sudah dimatikan.“Ada apa?” tanya Bella.“Dia menerima panggilanku, tetapi tidak ada suara dan dimatikan. Apa ponselnya rusak atau gangguan jaringan?” Luna menatap pada Bella.“Ponsel rusak tidak mungkin untuk sekelas Wijaya. Gangguan jaringan. Sekarang jaringan cukup bagus.” Bella melihat ponselnya.“Mungkin Wijaya berada di tempat yang sulit jaringan,” ucap Luna menghibur diri.“Di mana tempat seperti itu? Apa Wijaya ke luar kota atau ke pulau tertentu?” tanya Bella yang selalu berpikir logis.“Tidak. Wijaya selalu berada di kota. Perusahaan dan proyeknya pun berada di kawasan padat penduduk yang memili
Wijaya benar-benar fokus pada keluarganya. Dia hidup begitu tenang dan bahagia hingga melupakan musuh-musuh yang sudah dilepaskannya. Pria itu berpikir terlalu banyak dosa sehingga membuat istrinya dalam bahaya karena karmanya di masa lalu.“Aku sudah memaafkan semua orang. Aku juga membebaskan musuh-musuh yang aku penjara.” Wijaya menatap Amira yang sedang terlelap di dalam tidurnya. Mereka sudah pulang ke rumah.Dua bayi kembar berada di dalam keranjang bayi. Keano dan Devano pun berada di atas kasur mereka yang telah disiapkan. Ruangan kamar yang luas itu cukup menampung banyak orang.“Apa yang aku inginkan sudah menjadi nyata. Dua putra yang cerdas dari kami berdua dan sepasang bayi kembar.” Wijaya melihat anak-anaknya.“Aku sudah memiliki segalanya. Tidak kekurangan apa pun. Aku benar-benar bahagia.” Wijaya mencium dahi anak-anaknya dan mematikan lampu. Dia naik ke tempat tidur dan memeluk Amira.“Sayang.” Amira merasakan tangan yang memeluk pinggangnya.“Ya. Tidurlah,” bisik Wij
Keano dan Devano berlari masuk ke dalam kamar Amira. Dua anak kecil itu berteriak menyapa ibu mereka. “Mama!” Keano naik ke tempat tidur dan mencium pipi Amira. “Mama, bangun!” Devano menangis. Dia memeluk tubuh Amira.Tangis bayi kembar pun semakin kuat. Dokter dan tim memberikan ruang untuk anak-anak Amira dan suaminya.“Amira! Bangun!” Wijaya mengusap tangan Amira. “Mama! Bangun! Aku akan membenci adik!” teriak Keano.“Mama. Aku sayang Mama. Bangunlah!” Devano menggoyang tubuh Amira.Amira melihat Keano dan Devano berlari kepadanya. Dua anak lelaki itu menarik tangan dengan kuat dan terus berteriak.“Keano. Devano.” Amira tersenyum melihat dua putra yang telah dia besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang.“Mama kembali!” Keano dan Devano sekuat tenaga menarik tangan Amira menjauh dari gadis kecil yang berusaha membawa ibunya pergi bersamanya.“Kamu menjauh!” Keano mendorong gadis kecil hingga terjatuh dan menghilang.“Tidak!” Amira berteriak dan terbangun dari tidurnya.“Hah!
Andika benar-benar tidak bisa masuk rumah sakit. Apalagi mendekati ruangan Amira. Sasarannya adalah anak-anak yang sudah pergi ke sekolah. Pria itu memiliki kesempatan ke tempat belajar Devano dan Keano.“Aku tahu. Keano dan Devano sekolah di sini.” Andika telah mengirim orang untuk menyelidiki dan mencari tahu putranya. Dia benar-benar menjadi gembel di jalanan. Berpindah tempat untuk bersembunyi. Pria itu tidak punya apa-apa lagi selain harta orang tuanya. “Apa yang Anda lakukan di sini?” tanya petugas keamanan kepada Andika yang menunnggu di depan gerbang sekolah. “Aku mau melihat anakku,” jawab Andika.“Siapa anak kamu? Semua yang sekolah di sini adalah orang kaya dari kalangan atas. Tidak mungkin kamu mampu,” ucap petugas.“Anakku ikut mantan istriku yang kaya sehingga bisa sekolah di sini,” tegas Andika.“Artinya kamu tidak ada hubungan lagi dengan anak yang ikut mantan istri. Sebaiknya pergi!” Petugas mendorong tubuh Andika hingga jatuh ke rumput.Mobil mewah yang membawa Kean
Keano berada di ruang kerja Wijaya. Anak kecil itu membongkar computer kerja papanya. Dia memeriksa semua untuk mendapatkan semua informasi tentang kehidupan mamanya.“Apa yang kamu cari?” tanya Devano. “Aku selesai.” Keano turun dari kursi milik Wijaya dan keluar dari ruang kerja dengan tidak lupa menutup serta mengunci pintu.“Kamu tidak akan membuat papa bangkrut kan?” tanya Devano mengikuti Keano ke kamar mereka.“Itu tidak mungkin.” Keano memidah data ke komputernya.“Aku hanya mau melihat catatan kesehatan mama,” ucap Keano.“Ini jadwal dari dokter. Program hamil yang sudah direncanakan, tetapi mama masih menolak,” jelas Keano.“Mama pernah keguguran,” ucap Keano. “Apa kamu mengerti?” Keano menoleh pada Devano yang hanya diam saja.“Tentu saja, tetapi untuk apa kamu mencari tahu tentang kesehatan mama?” tanya Devano.“Papa sudah lama ingin mama hamil lagi, tetapi ditolak mama dan menunggu kita lebih besar sehingga program pun ditunda. Aku tahu, mama takut untuk hamil dan melahi
Dua bayi kembar berada di dalam tabung kaca. Amira di ruang ICU. Wanita itu masih belum sadarkan diri. Dia mendapatkan tranfusi darah dari sang suami dan orang-orang pilihan. “Amira, kenapa kamu belum bangun?” Wijaya menggenggam tangan Amira. Wanita itu terlelap dalam tidur yang panjang. “Amira, kita punya putri kecil yang cantik dan putra tampa. Sekarang anak kita sudah empat. Kamu tidak usah hamil lagi. Ini yang terakhir.” Wijaya tampak kesal sehingga dia tidak juga menggendong sepasang bayi kembarnya. “Aku yang terus memaksa kamu untuk hamil dan melahirkan. Aku tidak tahu bahwa ini yang akan terjadi. Maafkan aku Amira. Aku salah. Tidak seharusnya aku meminta kamu hamil anak kita. Devano dan Keano sudah cukup.” Wijaya mencium tangan Amira. Pria itu sangat ingin anak dari mereka berdua karena Devano dan Keano berbeda. Mereka saudara beda ibu dan ayah. “Tuk tuk.” Pintu kaca diketuk jari-jari kecil sehingga Wijaya segera menoleh. Dia mendapatkan tatapan tajam dari Keano dan raut sed
Wijaya yang duduk di sudut ruangan mendengarkan tangis bayi yang cukup kuat. Pria yang tampak gugup itu tersenyum tipis. Dia melihat sepasang tangan dan kaki yang telanjang bergerak-gerak.“Kenapa situasi ini sangat menyakitkan? Aku harus bahagia, tetapi juga sedih. Rasanya dadaku sakit sekali. Ini tidak sama ketika Luna melahirkan Keano.” Wijaya meremas dadanya. Dia tidak berani mendekat. Tubuh pria itu terasa sangat lemas dan tidak bertenaga. Dia ingin hanya bisa melihat Amira yang diam dan membeku. “Wijaya, selamat. Kamu punya sepasang bayi kembar yang sehat.” Dokter Ibra mendekati Wijaya. “Apa?” Wijaya tersenyum. Dia melihat bayi yang digendong Ibra dan perawat.“Ya.” Wijaya mengangguk.“Kami akan membersihkannya,” ucap perawat.“Bagaimana dengan Amira?” tanya Wijaya.“Dok, jantung pasien tidak stabil. Dia mengalami pendarahan hebat,” ucap dokter yang sedang menutup perut Amira.Tempat tidur dan sepray telah dibasahi oleh darah Amira yang terus keluar dengan derasnya. Tubuhnya be
Mobil melaju dengan kecepatan standar. Amira terus berada dalam pelukan Wijaya. Wanita itu benar-benar gugup. Rasa khawatir dan takut telah mengurung dirinya dalam trauma kelahiran Devano dan juga keguguran yang pernah dialaminya. “Sayang, tolong kuatkan dan tenangkan diri kamu. Kamu sudah sangat kuat selama ini.” Wijaya memegang pipi Amira.“Mm.” Amira mengangguk dan memeluk Wijaya.“Tidak apa-apa, Sayang. Kita akan segera bertemu dengan anak-anak kita.” Wijaya berusaha tersenyum untuk memberikan kekuatan kepada Amira.“Kita sampai, Pak.” Leon segera membuka pintu mobil. “Kenapa bisa seperti ini?” Ibra sudah menunggu di depan pintu bersama tim dokter dan perawat.“Ayo, Sayang.” Wijaya membantu Amira naik ke tempat tidur. Pria itu pun kesulitan untuk menggendong istrinya yang sedang hamil besar anak kembar mereka. “Sayang, aku takut.” Amira memegang kuat tangan Wijaya.“Tidak ada yang perlu ditakutkan, Sayang. Aku akan terus berada di sisi kamu.” Wijaya mengikuti tempat tidur yang t
Wijaya selalu menyempatkan diri untuk bermain bersama anak dan istrinya di sela-sela kesibukannya. Pria itu sudah tidak pernah lagi pergi ke penjara. Dia hampir tidak mengurus kehidupan Luna lagi. Lelaki yang hanya fokus untuk keluarga.“Pak, besok Anda sudah harus membawa Nyonya ke rumah sakit,” ucap Leon.“Benar. Amira akan melahirkan.” Wijaya tersenyum.“Besok siang kamu siapkan semuanya dan pastikan aman. Aku dan Amira akan pergi ke rumah sakit. anak-anak juga akan ikut,” jelas Wijaya. “Baik, Pak. Saya sudah mempersiapkan semuanya jauh hari,” ucap Leon.“Bagus.” Wijaya melihat panggilan masuk dari dokter Ibra. “Halo, Ibra. Ada apa?” tanya Wijaya. “Aku harap kamu tidak lupa,” jawab dokter Ibra. “Tentu saja. Besok siang aku akan membawa Amira,” tegas Wijaya. “Ya. Kami sudah mempersiapkan semuanya. Rumah khusus untuk kamu dan keluarga.” Dokter Ibra tersenyum. Wijaya telah memesan satu Gedung untuk dia dan keluarganya layak rumah sendiri.“Aku tahu itu. Terima kasih,” ucap Wijaya.
Andika berusaha mencari Cantika dan keluarga. Pria itu benar-benar akan menjadi gila karena secara tiba-tiba kehilangan segalanya. “Andika, apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak pergi ke kantor?” tanya Marni kepada Andika yang mondar mandir di ruang tengah dengan gelisah.“Ma, aku sudah hancur, Ma. Cantika masih hidup dan sekarang mengambil semua milikku.” Andika memegang tangan Marni.“Apa?” Marni terkejut.“Apa maksud kamu?” tanya Marni menatap Andika.“Cantika sudah sembuh, Ma. Dia memiliki bukti kejahatan diriku sehingga para pemegang saham menarik aset mereka,” jelas Andika mengacak rambutnya. Pria itu tampak kacau. “Apa? Bagaimana bisa?” Marni pun ikut panik.“Ma, mungkin sekarang Cantika belum melaporkan aku ke kantor polisi, tetapi tidak tahu ke depannya. Kita harus mencari bantuan,” ucap Andika.“Kamu harus tenang. Sekarang hubungi papa kamu. Kita harus menemukan Solusi yang tepat.” Marni mengeluarkan ponsel dan menghubungi suaminya. “Kenapa tidak diangkat?” Marni mencoba men