Olla, hanya melihat kepergian dari Rafly tanpa ada sepatah kata pun yang diucapkan ke Rafly. Olla segera merapikan meja makan akan tetapi dicegah oleh Tuan Mathias.
“Jangan kamu kerjakan itu, di rumah ini ada pelayan. Kamu istirahat saja. Oh, ya Olla, kakek mau keluar, kamu mau titip sesuatu?” Tanya Tuan Mathias. Olla menggelengkan kepala ke arah Tuan Mathias dan langsung menjawabnya. “Tidak, kakek,” jawab Olla singkat sembari tersenyum. Olla takut untuk meminta kepada pria sepuh itu karena mertuanya memandangnya tajam. Tuan Mathias pun tersenyum dan pergi dengan anaknya. Nyonya Monalisa mengantar suami dan mertuanya itu ke depan. Baru setelah itu dia kembali dan dia mendekati Olla. “Kamu, bersihkan rumah ini jangan ada yang kotor. Pulang nanti, saya akan periksa. Dan, kalian semua jangan ada yang membantunya, ingat itu!” tegas Nyonya Megumi. “Baik, Nyonya,” jawab Olla singkat. Olla mengiyakan perintah mertuanya dan para pelayan tidak ada yang berani membantu Olla. Nyonya Megumi segera pergi, dia terlihat terburu-buru masuk ke kamar dan tidak lama Nyonya Megumi keluar dengan tas. “Dengar, ya, jangan ada yang bantuin dia. Kerjakan pekerjaan kalian. Jika sampai ketahuan, saya akan pecat kalian!” ancam Nyonya Megumi. Pelayan hanya menganggukkan kepala. Mereka takut dengan ancaman sang majikan. Nyonya Megumi segera pergi keluar. Olla hanya tersenyum kecil ke arah pelayan. Olla melakukan apa yang diperintahkan oleh mertuanya. Semua pekerjaan yang dikerjakan oleh Olla sama seperti pekerjaan sebelum dirinya menikah dengan Rafly. Tidak ada satupun pelayan yang membantunya. Olla mengerjakan dengan sepenuh hati dan saat dia di halaman belakang rumah, supir Rafly yang bernama Pak Moen mendekatinya dan memanggilnya hingga membuat dirinya terkejut. “Astaga, Pak Moen, terkejut saya. Ada apa, Pak?” tanya Olla yang segera berdiri. “Permisi, Nona, maaf mengganggu. Anda diminta oleh Tuan untuk ke perusahaan. Katanya, Tuan mau ajak Anda makan siang,” ucap Pak Moen ke Olla. Olla menaikkan alisnya, dia tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh supir Rafly. Olla masih diam dan termenung mendengarnya. “Nona Olla, Nona,” panggil pak Moen. “Eh, maaf, Pak. Makan siang?” tanya Olla ke Pak Moen. Pak Moen menganggukkan kepala membenarkan apa yang Olla katakan. Dalam rangka apa dirinya diajak makan siang. Tidak mau berlama-lama, Olla segera bersiap. Olla takut jika Rafly marah karena terlalu lama menunggunya. Selesai bersiap, Olla segera masuk ke mobil menuju ke perusahaan. Beruntung, mertua Olla tidak ada di rumah jadi dia bisa ke perusahaan. Jika tidak, pasti dia dilarang untuk pergi sebelum pekerjaannya siap. Olla memandangi jalan raya yang ramai, gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi. Mobil masuk ke dalam halaman gedung yang cukup tinggi dan langsung ke parkiran. “Nona, kita sudah sampai,” ucap Pak Moen. Olla melihat dari dalam mobil perusahaan Rafly yang cukup besar dan dia baru pertama ke sini. Sejak menikah, dia dilarang ke perusahaan. Pintu dibuka oleh Pak Moen. Olla keluar dari mobil mengikuti Pak Moen ke ruangan Rafly dari pintu belakang. “Nona, silahkan ikut saya!” ajak Pak Moen agar Olla mengikutinya dan mempersilahkan Olla untuk masuk lebih dulu ke dalam lift yang akan mengantar mereka ke ruangan Rafly. Sesampainya, di lantai dimana ruang Rafly berada, Dion menyambutnya dan membawa Olla ke ruangan Rafly. Dion diberitahu kalau Olla sudah sampai oleh supir yang menjemputnya. Ketukan pintu dan sahutan dari dalam seketika membuat Olla merinding. “Silahkan masuk, kakak ipar,” ucap Dion dengan ramah. Dion tahu kalau Olla takut dengan Rafly. Wajahnya yang tadinya biasa saja, tiba-tiba pucat saat masuk ke ruangan Rafly. Wajar dia takut karena Rafly tidak menginginkan Olla. Olla tersenyum kecil ke arah Dion. “Terima kasih,” jawab Olla dengan ramah. Olla merasakan aura di ruangan suaminya sangat menakutkan dan dia menatap Rafly yang sibuk dengan berkasnya. Kacamata bertengger di hidung mancungnya. Olla tidak berani menatap Rafly lama-lama. Dia takut jika Rafly akan marah padanya. “Tuan, Nona Olla sudah datang. Silahkan, duduk Nona. Mau minum apa?” tanya Dion dengan sopan. “Tidak, saya sudah minum, terima kasih,” jawab Olla kembali dengan sopan dan suara yang lembut. Rafly melirik Dion dan Olla yang berinteraksi sangat intens. Rafly berdehem dan dia menyudahi kegiatannya dan segera mengambil amplop yang di meja dan melemparkan ke Olla. Olla yang dilempar oleh Rafly amplop coklat terkejut dan dia melihat amplop itu. Rafly menyandarkan punggungnya di kursi dan menatap Olla dengan tajam. “Ap-apa ini, Tuan?” tanya Olla ke Rafly. “Bisa baca?” tanya Rafly balik. Olla menganggukkan kepala dan mengambil amplop coklat yang tadi dilempar oleh Rafly. Dia tidak ingin bertanya terlalu panjang, lebih baik membacanya. Tatapan tajam bak belati membuat Olla langsung mengalihkan pandangannya dan dia membuka amplop dan membacanya satu persatu. Tiba di point keenam, Olla berhentikan sejenak dan karena penasaran maksudnya point ke enam, Olla memberanikan diri untuk melihat Rafly dan kali ini ketakutan itu hilang begitu saja. Rafly yang dipandang oleh Olla, menaikkan alisnya. Rafly heran kenapa Olla memandangnya. Sebaliknya, berbeda dengan Olla, ia ingin tahu kenapa Rafly membuat surat ini. “Ap-apa ini, Tuan?” tanya Olla dengan suara terbata-bata. “Surat pra nikah. Tanda tangan, cepat ” jawab Rafly. “Saya tidak mau. Kenapa, Anda kejam sekali, Tuan. Apa hati nurani Anda sudah mati?” tanya Olla dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca. Mendengar perkataan Olla, Rafly seketika murka, dia tidak terima dengan apa yang Olla katakan. Rafly memukul meja kerjanya dengan cukup keras. Olla terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Rafly. Olla mulai takut melihat reaksi Rafly yang marah dan murka padanya. Tapi, dia memberanikan diri untuk tetap memandang Rafly. “Apa yang kamu katakan tadi, Olla. Saya tidak punya hati nurani? Jaga ucapanmu, Olla!” bentak Rafly dengan suara keras dan napasnya naik turun. “Anda memang tidak punya hati, kenapa Anda lakukan ini pada saya. Apa salah saya?” tanya Olla balik. Olla meletakkan kembali surat itu ke hadapan Rafly. Dion hanya bisa diam, dia tidak berani untuk ikut campur. Ini urusan rumah tangga, tapi dia penasaran kenapa bisa Olla marah, apa dia tidak terima dengan isi surat itu. Rafly mengambil surat itu dan berpura-pura untuk membacanya. Rafly tersenyum menyeringai saat membaca poin yang ditambahkan. Inilah yang dia inginkan tadi. Tapi, asistennya tidak menambahkan. “Kenapa? Apa kamu tidak suka? Apa yang kamu harapkan dengan point ini, bukannya jika bercerai kamu tidak perlu memikirkan apapun. Apa kamu jatuh cinta padaku, Olla?" tanya Rafly tanpa rasa bersalah. "Tidak, memikirkan mereka? Jatuh cinta? Anda benar-benar tidak punya hati. Saya tidak pernah jatuh cinta dengan Anda. Kenapa Anda tega katakan itu, Tuan Rafly yang terhormat. Bagaimana kalau kakek tahu Anda melakukan ini ke saya? Apa Anda akan limpahkan semuanya kesalahan ini ke saya?" tanya Olla lagi. "Tutup mulutmu, Olla. Jangan bawa kakek dalam masalah ini. Dan jangan menggurui aku. Aku tahu apa yang terbaik buat aku dan kamu. Sekarang! Tanda tangan, cepat!" Bentak Rafly. Rafly tidak terima jika Olla protes dengan poin yang ditambahkan di surat perjanjian pra nikah itu.Olla menggelengkan kepala, dia tidak terima diperlakukan seperti itu. Poin itu membuat hatinya terluka. Kenapa melarang dia hamil. Sebenci itukah pria yang di depannya ini kepadanya? Dia yang sudah membuat dirinya seperti ini, tapi kenapa dia yang marah. Seharusnya, dialah yang marah kepada pria tidak punya hati ini. “Aku tidak akan tanda tangan. Ini sama saja, Anda kejam dan benar-benar tidak punya hati. Tapi, Anda jangan khawatir, saya tidak akan merayu Anda dan menggoda Anda, dan saya juga tidak akan berdekatan dengan Anda, apalagi jatuh cinta dengan Anda. Saya akan jaga jarak dengan Anda agar saya tidak hamil. Dan untuk harta, saya tidak akan sudi menerima satu sen pun dari Anda karena saya bukan pengemis. Saya akan pergi setelah Anda mendapatkan harta dari kakek. Jika tidak ada yang ingin Anda katakan, saya permisi,” ucap Olla yang segera pergi. Rafly yang melihat Olla pergi semakin murka. Dia tidak suka dibantah oleh siapapun. “Olla, dengar baik-baik. Saya tidak akan perna
Rafly menunjukkan amplop coklat yang tadi siang dia minta kepada Olla untuk tanda tangan. Olla memandang ke arah amplop coklat yang membuat dia mengingat kembali apa isi dari amplop tersebut. "Anda benar-benar tidak punya hati, Tuan Rafly. Anda kejam, tidak bisakah Anda menghapus perjanjian itu?" tanya Olla kembali. Rafly hanya diam dan menggelengkan kepala. Rafly tidak memperdulikan dengan penolakan Olla. Rafly tetap memberikannya dan melemparkan amplop tersebut hingga jatuh ke bawah. Rafly perlahan mendekati Olla. Rafly menatap Olla lekat tanpa rasa bersalah. Rafly bisa lihat dari sorot mata Olla ada rasa amarah, putus asa dan semua rasa bisa dia lihat di mata Olla, terlebih lagi rasa bencinya kepadanya, tapi Rafly tidak peduli sama sekali. "Tanda tangan," jawab Rafly singkat. Setelah mengucapkan itu, Rafly segera meninggalkan Olla. Dia keluar dari kamar dan tidak peduli dengan kondisi Olla saat ini.Olla masih berdiri di depan pintu, dia terpaku mendengar jawaban Rafly yang si
Olla menundukkan kepala saat ibu mertuanya menatap dirinya dengan tatapan mengintimidasi akan tetapi, Olla berusaha untuk tenang dan tersenyum. "Tidak perlu, kakek. Olla ingin di rumah saja. Lagipula, lagi Olla tidak terbiasa dengan perawatan yang seperti itu," jawab Olla yang akhirnya menjawab apa yang ditanyakan oleh Tuan Mathias. Tuan Mathias menoleh ke arah menantunya, dia ingin tahu apakah menantunya yang mengintimidasi cucunya itu itu. Nyonya Megumi tidak menyadari jika mertuanya menatap dirinya. Dia masih terus mengintimidasi Olla dan mendengar jawaban dari Olla dia senang dan tersenyum puas dengan jawaban Olla. Nyonya Megumi menoleh ke arah Tuan Mathias, karena dia ingin memberitahukan kalau Olla menolaknya bukan karena dia. Akan tetapi, saat Nyonya Megumi menoleh ke mertuanya, alangkah terkejutnya dia melihat sorot mata Tuan Mathias. Hingga dirinya, gugup dan jadi salah tingkah. "Ada apa, Daddy?" tanya Nyonya Molen yang raut wajahnya ketakutan. "Kenapa kamu tersenyum?
"Rafly, kenapa kamu tidak mengundang aku saat menikah? Apa kamu melupakan aku? Aku temanmu, tapi kamu melupakan aku. Jika bukan karena kakek, aku tidak akan tahu kamu menikah," ucap seseorang yang berjalan ke arah Rafly dan duduk telat di depannya. Edgar Emiliano, seorang pengusaha hotel dan dia juga teman masa kecil Rafly dan Edgar sama seperti Rafly, dia memiliki klan mafia yang sangat terkenal kejam. "Jangan dengarkan dia. Aku tidak pernah menikah. Kenapa kamu ke sini? Apa tidak dikejar FBI?" tanya Rafly menatap Edgar yang tersenyum mengejek ke arahnya.. "FBI? Mereka yang takut denganku. Lagipula, aku hanya ingin bertemu denganmu. Siapa yang kamu bunuh, Rafly?" tanya Edgar dengan serius. Rafly menaikkan alisnya, dia tidak tahu kemana arah pembicaraan sahabatnya ini. "Apa maksudmu?" tanya Rafly. Edgar men ondongkan tubuhnya ke Rafly dan dia tersenyum menyeringai ke Rafly hingga membuat Rafly kesal dengan Edgar. Rafly segera berdiri dari kursinya dan mengabaikan pertanyaan dar
Olla melihat kedatangan dari suaminya. Dia tidak menyangka kalau Rafly ada di sini. Olla gugup dan takut karena Rafly menatapnya dengan cukup tajam dan Olla juga melihat ada Dion serta satu pria yang Olla tidak tahu siapa. "Kalian siapa? Apa kalian kenal dia? Kalau kenal bagus, jadi saya minta ganti rugi dengan kalian. Lihat, dia sudah mengotori pakaianku. Lebih tepatnya mereka berdua yang membuat pakaianku seperti ini," jawab wanita tersebut menuju ke arah Olla dan juga pelayan yang saat ini menundukkan kepala.Keduanya tidak berani untuk menatap ke arah Rafly dan yang lainnya. Akan tetapi, pelayan yang menumpahkan makanan ke pakaian wanita itu angkat bicara. "Maaf, Tuan. Sebenarnya, saya yang salah. Saya tidak melihat Nona ini berdiri saya tidak sengaja menyenggol lengannya sehingga Nona ini terkejut hingga membuat nampan yang saya pegang jatuh, sekali lagi maaf," jawab pelayan tersebut mengakui kalau kesalahannya ada pada dia. Wanita tersebut tidak terima, baginya Olla juga sal
Dion segera membawa Olla pergi, dia tidak ingin menjadi tumbal dari tuannya. Jika tuannya itu marah maka dia harus tidur dengan si Bella, pelihara milik tuannya, walaupun si Bella tersebut jinak dengannya, tapi tetap saja semalaman tidur dengan si Bella akan membuat dia frustasi."Ayo, kakak kita lari. Sekarang, kita dalam bahaya kalau sampai suamimu marah, maka aku akan tidur dengan si Bella, bisa-bisa aku akan begadang selamanya eh semalaman," jawab Dion yang berlari mengejar Rafly yang sudah jauh meninggalkan mereka. Olla yang mendengarnya langsung terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Dion. Olla langsung bertanya ke Dion maksud dari perkataan Dion. "Apa maksudmu, Tuan, apa kamu tidak punya rumah, makanya tidur dengan Bella. Dan Bella itu siapa?" tanya Olla yang membuat Dion melotot."Apa maksudmu aku tidak punya rumah,kakak ipar? Aku punya rumah, siapa yang mengatakan aku tidak punya rumah? Suamimu itu tidak akan maafkan aku dan dia akan marah kepadaku karena kejadian ini. Apa
Nyonya Megumi terkejut melihat siapa yang datang. Dia langsung mendekati tamunya. Semua orang yang mengetahui siapa tamu dari Nyonya Megumi terkejut tapi mereka tidak bisa berkata-kata. "Aunty, apa kabar?" tanya seorang wanita yang merentangkan tangannya ke arah Nyonya Megumi untuk memeluk wanita paruh baya yang masih cantik itu. "Sayang, Aunty. Menantu Aunty yang paling cantik, apa kabar, Sayang?" tanya Nyonya Megumi dengan senyum bahagia melihat siapa yang datang ke rumahnya. Niken Wilona muncul di depannya. Wanita yang anggun, cantik dan dia juga seorang model papan atas. Siapa yang tidak mengenal Niken Wilona. "Aunty bisa saja. Oh, ya, dimana Rafly? Apa dia belum pulang. Aku sudah mengirim dia pesan untuk menjemput aku. Tapi, you now lah, Aunty bagaimana Rafly, dia sama sekali tidak membalas pesanku. Aku sedih sekali dengan sikap Aldrich padaku, Aunty," adu Niken dengan wajah sendu. Nyonya Megumi menghela napas. Dia tidak mengerti dengan sikap Rafly saat ini. Dia jug
Suasana di meja makan tidak ada yang berbicara. Sejak perkataan yang keluar dari mulut Tuan Mathias membuat semua orang terdiam. Termasuk, Niken dan Nyonya Megumi. Nyonya Megumi tidak bisa berkata-kata saat ini dia langsung bungkam dengan perkataan dari mertuanya itu. Tentu saja yang dikatakan oleh mertuanya itu menampar dirinya. "Olla, bagaimana dengan belanjamu hari ini? Apa menyenangkan?" tanya Tuan Mathias yang akhirnya membuka suara dan menanyakan kepergian dia ke mall dengan Megumi menantunya itu. Olla yang ditanya hanya bisa diam, dia bingung mau jawab apa. Dirinya tidak tahu apakah dia harus berkata jujur atau tidak. Rafly masih diam, dia tahu jika ibunya meninggalkan Olla di mall karena masalah yang Olla hadapi. "Jadi, kakek," jawab Olla singkat. Nyonya Megumi lega karena Olla jujur kepadanya dan tidak mengatakan apapun. "Banyak yang menyukai Olla. Mereka katakan Olla tidak perlu perawatan, dia sudah cantik alami. Aku jadi tersanjung dengan mereka."Nyonya Megumi menim
Olla menutup mulutnya, dia tidak menyangka kalau Rafly memberikan dirinya cincin yang sangat indah. Cincin bertatahkan batu zamrud yang berkilau dan ditaburi berlian dan swarovski. "Ini untukmu. Aku persembahkan kepadamu, sebagai tanda bahwa aku sangat mencintaimu seumur hidupku sampai maut memisahkan kita berdua," ucap Rafly dengan suara bergetar dan tatapan mata yang berkaca-kaca. Rafly mempersiapkan hadiah kepada Olla sebagai bentuk cintanya. Sebenarnya, cintanya ke Olla sangat besar dan dia tidak akan pernah bisa digantikan apapun. Tapi, cincin ini sebagai simbol sahaja untuk Olla agar mengingat dirinya yang tulus mencintai dirinya. "Kamu romantis sekali, Sayang. Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Aku benar-benar terharu. Aku mencintaimu juga, Sayang," balas Olla ke Rafly. Rafly tersenyum mendengar apa yang Olla katakan. Rafly segera memasangkan cincin ke Olla dan tidak lupa Rafly mengecup tangan Olla setelah memasangkan cincin tersebut. Olla menarik Rafly berdiri dan memelukn
Adrian tersadar dan dia diselamatkan. Adrian dilarikan ke rumah sakit tanpa sepengetahuan dari Rafly. Itu pemikiran Adrian tapi nyatanya, anak buah Rafly lah yang menyelamatkan Adrian atas perintah Rafli. Adrian dibawa ke rumah sakit dan diobati kenapa Rafly melakukan itu, karena Rafly melihat kalau Adrian menyelamatkan istrinya dengan tulus untuk itu dia diberikan kesempatan untuk menyelamatkan Adrian. Terlepas nantinya Adrian seperti apa dia tidak peduli. Dan sekarang semuanya sudah berakhir, nuklir sudah dibawa pergi oleh Rafly dan sahabatnya. Rafly segera kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Olla, sedangkan markas tersebut dihancurkan olehnya. "Ini sudah selesai, kita menang," ucap Keano saat melihat markas musuhnya dan markas musuh sahabatnya musnah. Tidak ada satu pun yang tersisa di markas musuh-musuh Rafly, semuanya terkubur di markas tersebut. Rafly saat ini berada di ruangan melihat kondisi Olla yang masih lemah. Ditemani oleh Nyonya Megumi. "Rafly, Mommy bersy
Simon berhadapan dengan Rafly dan setelah sekian bulan purnama akhirnya, keduanya saling berhadapan. "Akhirnya, kita bertemu, teman lama. Apa kamu sudah siapkan peti mati? Kalau sudah baguslah, aku sangat suka dan aku akan mempercepat kematianmu kalau begitu. Bagaimana, apakah kamu siap?" tanya Simon yang menantang Rafly. Rafly yang mendengar perkataan dari Simon tertawa. Dia tidak menyangka kalau musuhnya ini mengatakan itu. Sudah dipastikan kalau dia akan menghabisi musuhnya ini yang sudah menculik istri dan anaknya yang masih bayi terlebih lagi istrinya terluka karena musuhnya ini. "Aku sudah siapkan tapi untukmu, apakah kamu mau melihatnya? Jika mau, boleh, aku akan berikan. Tapi tunggu dulu, aku tidak akan memberikan peti mati itu untukmu. Kamu harus membayarnya terlebih dahulu, sekarang tunjukkan dimana nuklir itu kamu simpan. Tapi, sepertinya tidak perlu lah, biar aku yang mencarinya, coba lihat wajahnya ketakutan, sepertinya dia takut denganmu, Edgar. Apa kamu mau menghabis
"Rafly dengar dulu, bukan itu maksudnya. Dia berbohong. Aku tidak melukai pembantu itu eh maksudnya Olla. Bukan aku, Adrian yang melakukannya, sumpah Demi Tuhan. Bukan aku," jawab Niken yang mengatakan bukan dia yang melakukannya tapi Adrian. Niken menuduh Adrian pelakunya, tapi Rafly tidak peduli dia tahu kalau Adrian tidak berbohong dan dia juga tahu kalau yang dilakukan oleh Adrian untuk selamatkan dia tapi yang dia tidak sukai adalah Adrian menculik istri dan anaknya hingga istrinya seperti itu makanya dia menghukum Adrian sebagai balasan atas apa yang Adrian telah lakukan. "Benarkah? Dia pelakunya. Jadi, buat apa kamu di sini? Apa hubungan kamu dengan Simon dan Marcel. Apa kamu minta dia untuk menculik anak dan istriku, Niken?" tanya Rafly ke Niken dengan sorot mata tajam. Niken mundur ke belakang dia tidak mau berdekatan dengan Rafly dia takut sangat takut dan dia ingin menjauh dan melarikan diri tapi, sepertinya dia tidak bisa dan pada akhirnya, dia terkepung. Tepat di belak
Rafly akhirnya tiba di markas asli milik Simon dan Marcel. Dia tidak sedikitpun melepaskan anak buah dari Simon dan Marcel juga kedua orang yang sudah menculik Olla. Rafly ingin mendapatkan Olla kembali karena dia yakin saat ini Olla pasti ketakutan dan menunggu kedatangan dia. "Tunggulah, Sayang. Aku akan menjemputmu," gumam Rafly yang segera memakai topeng dan menghabisi seluruh anak buah dari Simon dan Marcel yang terus menembakinya. Rafly sama sekali tidak takut dengan serangan dari anak buah Simon dan Marcel, dia tetap menyerang dengan sangat barbar. Teman-teman Rafly melindungi Rafly untuk segera masuk ke dalam ruangan agar Rafly bisa menyelamatkan istrinya dan anaknya. "Aku akan melindungimu, Rafly. Kamu tetaplah tenang dan jangan takut, masuk saja aku ada di belakangmu," ucap Edgar yang mengatakan kepada Rafly untuk segera masuk dan mencari keberadaan Olla dan bayi kembar yang entah dimana keberadaannya.Rafly yang mendengar perkataan dari Edgar menganggukkan kepala, Rafly
Olla masih tidak beranjak dari tempat tidurnya, Olla masih menenangkan bayi kembarnya yang masih menangis. Dengan tenang dan tidak senandung kecil dari Olla, perlahan tangisan bayi tersebut mulai reda dan mereka kembali tertidur. Olla merasakan kepalanya sangat pusing dan pada akhirnya Olla yang tidak tahan menahan semua rasa sakitnya pingsan. Olla manusia biasa, dia bisa tidak tahan rasa sakit di bagian perutnya yang teramat sakit. Meihat Olla pingsan, Adrian semakin panik, dia mencoba untuk memeriksa Olla namun hanya periksa diluar tidak sampai menyeluruh. Badan Olla terasa panas dan itu sangat tinggi."Kapan dokter itu datang, apa masih lama?" tanya Adrian yang panik. "Sabarlah, mereka akan sampai. Kamu dokter harusnya tahu apa yang akan kamu lakukan," jawab Marcel yang meninggalkan Olla dan Adrian. Adrian mendengar perkataan Marcel kesal, dia marah karena Marcel cuek dengan Olla. Marcel seperti tidak peduli dengan Olla begitu juga Simon. Keduanya keluar meninggalkan Olla yang
Olla dipukul dan di tampar oleh Niken dengan cukup kuat hingga Olla harus terbangun dan dia masih dihajar oleh Niken tanpa belas kasihan padanya. Olla yang baru saja melahirkan merasakan sakit di perutnya. Sembari memegang perut dltujuannya untuk melindungi perutnya yang ditendang tanpa belas kasihan.Adrian segera mendekati Niken dan menarik Niken. Adrian tidak melihat Niken itu wanita atau tidak. Adrian membalas apa yang telah Niken lakukan ke Olla. Tindakan Adrian diperhatikan oleh Marcel dan Simon. Keduanya hanya memandang ke arah ketiganya tanpa ada niat untuk melerai. Olla menangis merasakan sakit di tubuhnya, terlebih lagi dirinya tidak bisa bergerak. Sesuatu yang dia rasakan keluar dari dalam tubuhnya mengalir ke paha dan kakinya. Olla menggelengkan kepala melihatnya. "Gila kamu, Niken. Kenapa kamu memukulnya, apa salah dia, berani-beraninya kamu melakukan itu kepadanya, tidak bisakah kamu sedikit saja berbelas kasihan dengannya!" teriak Adrian yang mencoba untuk membantu O
Olla hanya bisa meneteskan air matanya, dia tidak tahu harus berapa lama lagi dia di sini. Si kembar sudah tidak menangis, mereka kembali tertidur. Adrian kembali masuk ke ruangan di mana ada Niken dan Simon serta Marcel. Simon sudah mendapatkan aduan dari anak buahnya dan dia kesal dengan Adrian. "Masih bisa kamu datang ke sini setelah apa yang kamu lakukan dengan tahananku," protes Simon. Suara Simon terdengar dingin saat dia menatap Adrian. Simon kesal karena Adrian membuat ketidaknyamanan tawanannya. "Aku salah jika melihat dia?" tanya Adrian. Niken memandang ke arah Adrian dan Simon bergantian. Dia heran kenapa Simon marah dengan Adrian. "Apa yang sudah kamu lakukan? Apa kamu membuat masalah, tawanan apa yang dikatakan oleh Simon? Kamu membawa tawanan ke sini?" tanya Niken. Niken tidak tahu jika Olla ada di sini. Karena dia berpikir Olla dibawa ke tempat lain, nyatanya tidak. "Olla di sini," sahut Adrian. Niken membolakan matanya, tidak menyangka kalau Olla bisa di sini.
"Apa kabar Olla. Maaf kalau kamu harus dibawa ke sini. Aku ...." Adrian sejenak menghentikan ucapannya dan dia melangkahkan kakinya. Namun, tangan Olla mengangkat ke arah Adrian. Tatapan mata Olla tajam, dia tidak menyangka kalau Adrian dalang dari semua ini. Adrian terkejut melihat reaksi dari Olla yang menolak dirinya mendekatinya. "Olla, ka-kamu kenapa?" tanya Adrian yang bingung kenapa sikap Olla seperti itu. Biasanya, Olla tidak seperti itu dan dia sangat bersahabat tapi kini tidak. Adrian masih berdiri di depan pintu dia tidak berani mendekati Olla. Adrian melihat si kembar yang tertidur. Baru kali ini dia melihat si kembar. Mereka tampan dan lucu. "Anakmu lucu, akhirnya aku bisa melihat mereka. Waktu di dalam kandungan aku ingin melihat mereka bertiga, akhirnya aku bisa melihatnya. Bisa aku menyentuhnya?" tanya Adrian. Olla masih belum menjawab dia masih menatap ke arah Adrian. Kebencian memuncak di hatinya. Adrian yang dia anggap teman bisa-bisanya menculiknya dan si ke