Ini sudah larut malam, Dave yang masih menghawatirkan sistem keamanan di rumah ini, akhirnya memutuskan untuk keluar dan memeriksa. "Aku sudah memberi tahu tuan Kyle, beliau dan tuan Dante berkata akan memperbaiki sistem keamanan di sini begitu kembali, tapi sebelum mereka datang, aku, sebagai pengawal satu-satunya nyonya Jeany, harus bersiap siaga," ucap Dave dengan penuh tekad untuk menjaga Jeany sampai akhir. Ini bukan kekhawatiran tanpa alasan, tapi, Dave sendiri mendengar dari bosnya, Kyle, bahwa akhir-akhir ini ada orang yang terus secara diam-diam sedang mengawasi Jeany. "Sejauh ini memang tidak ada yang terjadi, tapi siapa yang tahu masa depan?"Dave bergumam sendiri, dia yang sekarang mendedikasikan diri untuk hidup sebagai pengawal Jeany, merasa tak boleh lengah sedikit pun. Itu karena Dave mendengar dari Kyle ada rumor bahwa musuh lama tuan Dante Richardo, kini muncul kembali. Meski belum diketahui kebenarannya apakah yang mengintai Jeany beberapa hari terakhir ini an
"A-apa ini?"Jeany memandang ponselnya dengan mata bergetar. Pesan yang dikirim oleh nomor yang tadi menghubungi dirinya membuat Jeany tentu saja sangat ketakutan. [Siapa kamu? Apakah kamu salah satu komplotan penculik itu?! ] Jeany mengetik pesan, bertanya dengan gelisah saat membalas chat tak dikenal tersebut. [Bukan. Aku di pihakmu, jadi percaya padaku. Ikuti arahan dari ku dengan tenang.] Membaca pesan balasan dari nomor itu, bukannya tenang tapi pikiran Jeany justru semakin kusut, dia menjambak pelan rambutnya untuk menyalurkan rasa frustrasi. Siapa dia? Sangat mencurigakan! [Aku tidak percaya padamu. Katakan saja di mana Richard sekarang, aku akan membebaskannya dari penculikan meskipun harus membayar tebusan yang sangat banyak! ] Pesan dari Jeany tersebut sayangnya tak dibalas oleh nomor misterius yang tadi menghubungi dirinya. "Ugh, aku harus bagaimana?"Jeany terduduk dengan lemas di pinggir ranjang. Uang berapa pun tak masalah asal suaminya, Richard, selamat. Dia t
"Cih. Sial."Ken menganggap orang yang ditelepon Jeany lebih menyebalkan daripada polisi, karena saat ini wanita itu sedang menelepon temannya. Raisa. "Damn! Bos besar melarang wanita itu dekat-dekat istri bos. Kalau sampai dia ikut campur urusan ini, semuanya akan kacau!" Ken bergumam panik. Tak ingin masalah menjadi rumit karena campur tangan orang luar, tanpa berpikir panjang Ken pun lantas keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah Jeany dengan tergesa-gesa. "Nyonya.... "Ken memanggil Jeany dengan cemas, sambil tangannya terulur ke arah ponsel Jeany, mencegah wanita itu berbicara apa pun pada temannya. "Hah?"Jeany yang tak pernah bertemu Ken sebelumnya dan tak tahu bahwa dia orang Richard, langsung panik saat pria tinggi dengan setelan serba hitam itu berjalan cepat ke arahnya. "S-siapa kamu?" Jeany mundur satu langkah dengan panik, tapi Ken tak memberinya kesempatan untuk bereaksi lebih jauh. "Permisi," ucap Ken. Tangannya yang panjang segera merebut ponsel di tangan J
Ken berteriak saat beberapa senjata api mengarah padanya. Seperti tak ragu untuk menghabisi nyawa Ken di tempat. Ken yang kalah jumlah dan sudah terluka, berteriak dengan panik. "Apakah ini perintah tuan Dante Richardo?" tanya Ken sambil menahan rasa sakit karena luka tembak. Dia yang tak ingin mati konyol, jika memang orang-orang ini suruhan Richard, merasa harus menjelaskan kesalahpahaman jika memang mereka orang-orang bawahan Richard yang lain. Yang tidak dia kenal. Mendengar pertanyaan tersebut, orang yang berdiri di depan Ken dan mengarahkan senjatanya pada kepala Ken, menggeleng sambil tertawa sinis. "Bukan. Kami adalah bawahan seseorang yang sudah menunggu hal ini sejak lama. Kamu begitu bodoh dengan pergi sendirian seperti ini membawa perempuan itu." Mendengar itu, kening Ken berkerut, tapi dia tak bisa berkutik saat satu kakinya ditembak lagi seperti pecundang sambil menatap tubuh Jeany yang dipindahkan ke mobil orang-orang tak dikenal itu. Ken tidak membawa senjata ap
Richard merasa frustasi saat jaraknya masih begitu jauh dengan lokasi Jeany, hanya bisa mengandalkan Dave sekarang. "Secepatnya datang ke lokasi dan kepung mereka! Kalau mereka mencoba membunuh salah satu anggota kita, habisi di tempat," titah Richard kepada seluruh tim yang bergerak menuju lokasi mobil penculik Jeany. Semua tim menjawab siap dengan serempak dan Richard kembali fokus mengemudi untuk segera sampai ke lokasi tempat Dave berada dengan Jeany. Para penculik itu sepertinya tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Di mana mereka berhadapan dengan Richard, pria yang bahkan mengerahkan seluruh tim khusus yang dia miliki hanya untuk mengambil kembali istrinya. ***Sementara itu, Dave yang paling pertama menemukan lokasi mobil penculik Jeany, segera menghentikan mereka. "Berhenti! Serahkan kembali nyonya Jeany padaku!" seru Dave seraya mengacungkan pistol yang dia bawa. Dua mobil dengan delapan orang-orang berpakaian serba hitam keluar, mereka tertawa terbahak-bahak saat
Richard dengan mulus membawa Jeany menuju vilanya, saking mulusnya bahkan mereka bisa sampai di vila itu dengan cepat. Sayangnya, meski sudah sampai di vila, Jeany belum juga sadar dari pengaruh obat bius. "Hah, sial. Kapan dia bangun? Ken nggak ngasih dia obat yang aneh-aneh, kan?" desah Richard, yang saat ini membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang, lalu mendekat ke arah hidung dan mulut Jeany untuk mencium bau mencurigakan apakah ada racun atau semacamnya."Hmm, sepertinya aman."Setelah memastikan bahwa tidak ada racun atau apa pun, Richard yang bosan menunggu Jeany bangun, akhirnya menghabiskan waktu dengan mendandani sang istri, mengganti baju wanita cantik itu dengan lingerie warna hitam yang Jayden beli di luar negeri. "Cantik," gumam Richard, saat melihat tubuh seksi istrinya yang kini hanya terbalut lingerie seksi berwarna hitam, yang hanya menutup puncak buah dada dan sedikit area intimnya. Membuat penampilan Jeany benar-benar menggoda. "Aaah, kenapa kamu masih sela
Jeany bergumam dengan gelisah, memandang sekeliling untuk mencari jalan keluar dari rumah besar dengan taman indah ini. "Rumah... apa ini?"Jeany memandang sekeliling dengan putus asa. Itu karena rumah ini dikelilingi pagar yang sangat tinggi jadi tak mungkin untuk Jeany menyelinap keluar. Mau tak mau dia harus mencari pintu keluar rumah ini dan segera kabur. Jeany memandang semua makanan di meja sekali lagi. Makanan-makanan itu begitu menggugah selera, sehingga tanpa sadar Jeany menelan ludah. "Aku lapar.... "Dia berkata sambil memegangi perutnya. Tadi saking paniknya gara-gara mendapat telepon bahwa suaminya diculik, Jeany sampai melewatkan makan siang. Dan sekarang sudah senja, perutnya keroncongan. Dia berjalan mendekat untuk melihat semua makanan lezat itu dari dekat, saat tiba-tiba seseorang memeluk dirinya dari belakang. "S-siapa...!"Jeany tentu saja langsung berteriak dengan panik, mencoba melepaskan diri saat merasakan pelukan tiba-tiba dari seorang pria di belakang
“Aku ingin melakukannya di sini.”Richard menjawab dengan tegas. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.Keinginan Richard sudah dalam keadaan dimana dia tidak bisa menunda-nunda lagi. Apalagi saat melihat istrinya yang begitu menggoda seperti sekarang, siapa yang akan tahan? Mata Jeany yang terkejut saat mendengar jawaban suaminya, bergetar.“Yah, ini bahkan bukan kamar tidur. Kita hanya perlu beberapa langkah untuk sampai ke sana. Jadi, kenapa kamu tidak bisa menahannya sedikit lagi, Rich? Cuma beberapa langkah aja, kumohon?"Jeany mencoba membujuk. Saat Richard melihat Jeany ragu-ragu untuk bercinta di taman yang luas dan indah ini, matanya menyipit.“Oke, baiklah, kalau kamu mengizinkan aku melayanimu, aku akan bersabar sampai kita pergi ke kamar tidur," jawab Richard akhirnya. "Ya? M-maksudnya?"Jeany tak mengerti apa yang dikatakan suaminya. Meski begitu, yang jelas, Richard saat ini tampak sedikit gila.“Ya. Jadi, kalau kamu membiarkan aku memakanmu, aku akan berhenti men
"Astaga, Rion. Aku baru pulang dari bulan madu dan kamu sudah datang ke sini? Tolong beri aku waktu semalam dan besok aku pastikan akan bekerja lagi." Kyle mendesah dengan ekspresi yang sengaja dilebih-lebihkan saat melihat sekretarisnya itu sudah mengunjungi rumahnya, saat dia baru beberapa jam pulang dari bulan madu. Kyle membuka lebar pintu rumahnya, rumah baru yang dia tinggali bersama Luana, dan mempersilakan Rion untuk masuk. "Tuan Muda, saya datang bukan untuk membicarakan pekerjaan, meski Anda memperpanjang bulan madu Anda tanpa mengonfirmasikan dulu kepada saya sehingga saya harus kerja lembur," jawab Rion dengan tenang. Sindirannya tersebut membuat Kyle nyengir lebar. Bulan madu Kyle memang dijadwalkan hanya selama satu minggu, tapi karena dia sedang tergila-gila kepada tubuh Luana seperti seorang remaja yang baru mengenal cinta, dengan kurang bertanggung jawabnya, Kyle menambah hari bulan madu menjadi dua minggu. Akibat tindakannya tersebut—yang juga sengaja
"Terima kasih banyak," ucap Kyle seraya mengecup kening istrinya yang sudah separuh tertidur. Begitu berhasil melakukan malam pertama dan melihat Luana menikmati aktivitas tersebut, Kyle tak bisa berhenti. Kyle lega saat tahu bahwa cairan kental miliknya ternyata kini sudah tidak membahayakan Luana, mungkin karena sekarang Luana adalah manusia setengah vampir sehingga tubuhnya mempunyai kekebalan dan bisa menerima dengan baik cairan kental milik Kyle di dalam tubuhnya. Dia seperti menggila karena menahan terlalu lama sehingga malam itu tidak cukup hanya sekali, tapi Kyle terus melakukannya berkali-kali, sampai Luana kelelahan dan jatuh tertidur. "Terima kasih banyak sudah melayaniku dengan baik. Maaf, kamu pasti kelelahan." Kyle terlihat menyesal menatap wajah Luana yang sudah terlelap, membenahi rambutnya sehingga rapi kembali. Dari dulu Luana ini seperti candu bagi Kyle, sekali dia masuk, dia tidak bisa berhenti, dan malam ini pria itu menggila. Namun, melihat
"mmmmh!" Luana tidak mengangguk tapi Kyle merasakan pahanya yang mengenang saat jemari pria itu membelai bagian dalam milik Luana. "Jangan takut. Aku janji nggak akan sakit kali ini. Kalo kamu tegang, kamu nggak akan bisa menikmatinya dan mungkin malam pertama kita akan gagal, kamu harus rileks untuk bisa menikmati ini, Sayang." Kyle memeluknya erat-erat dengan wajah penuh kasih. Di percobaan pertama dulu mungkin dia terlalu terburu-buru sehingga ketika belum masuk sepenuhnya, Luana menolak karena sakit. Kyle berjanji akan memperlakukan istrinya itu dengan sangat lembut, sehingga gadis itu bisa merasakanpengalaman yang indah tentang pernikahan dan malam pertama. Kyle tidak ingin memaksakan dirinya pada Luana merasa belum siap. Dia ingin menikmati malam yang penuh gairah bersama istri tercintanya tersebut. Kyle dengan lemah lembut memeluk pinggulnya dan mereka pun saling berpelukan. Tangannya dengan lembut meluncur turun ke punggungnya, tetapi dia tidak mencoba untuk meng
Luana yang duduk dan sudah mulai bisa menenangkan dirinya, mencoba menjawab semua kebingungan Gio tersebut. "Begini, aku akan menjelaskannya padamu, Kak." Gio merasa sedikit tertohok saat Luana memanggil dirinya kakak, berbeda dengan Luana yang suka mendapatkan kakak baru, Gio yang masih menaruh hati padanya tentu merasa itu adalah sebuah hal yang tidak mengenakkan. Luana membuka mulutnya dan mulai bicara, tapi Kyle segera menginterupsi, "Kalo kamu masih shock, biar aku saja yang menjelaskan padanya, Sayang," sela Kyle sembari menepuk lembut puncak kepala Luana sebelum menoleh kepada Gio yang kebingungan. Luana akhirnya mengangguk dan mengatakan kepada Kyle supaya membantu Gio untuk memahami apa yang sedang terjadi ini. Kyle mendekat kepada Gio dan mulai berkata dengan suara pelan seraya memandang ke para tamu undangan yang mulai kembali ke tempat masing-masing. "Setelah Luana menjadi setengah vampir dengan darah ayahmu yang mengalir di dalam tubuhnya, Luana pun mewar
Kyle menarik gadis mungil itu ke dalam pelukannya, menaruh dagunya di atas kepala gadis yang kini bergelung di pelukannya tersebut. "Dia tersenyum lebar karena berpikir akan berhasil melenyapkan dirimu, Luana. Kamu nggak perlu bersimpati kepada orang seperti dia, Sayang," jawab Kyle seraya menggelengkan kepala. Akhir tragis yang seperti itu sangatlah cocok untuk Jasmine, dia masih ingat bagaimana perempuan itu terus berusaha melenyapkan Luana dan memisahkan hubungan mereka. Seandainya Kyle tahu bahwa si wanita tak tahu diri itu masih berusaha menyingkirkan Luana dari kehidupan ini, maka siang itu, dia pasti akan menghabisi nyawanya langsung, tanpa peduli jika harus berhadapan dengan sidang komite succubus. "Narmun, untunglah kali ini Luana lagi-lagi lepas dari maut, meskipun mereka berdua harus terus waspada di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup keduanya. Jasmine memang pengganggu!" Luana membenamkan kepalanya di dada Kyle yang hangat, tempat ya
"Luana!" Secara spontan, Gio berteriak, menyibak kerumunan orang untuk segera melihat bagaimana keadaan Luana. Apakah sudah terlambat baginya untuk menyelamatkan gadis itu?! Sial, sial. Kenapa dulu dia memberi Jasmine racun yang bisa membunuh siapa pun dalam beberapa detik saja karena ganasnya racun tersebut?! Gio benar-benar menyesal, dia tak ingin berakhir seperti ini. Tidak! Luana tidak boleh mati di tangan Jasmine seperti ini! Kenapa tadi dia terlambat memahami ucapan Jasmine? Gadis itu bilang kalau datang ke pesta ini untuk melihat tontonan menarik, apakah maksudnya itu melihat kematian Luana karena meminum racun yang dia berikan? Gio tidak menyangka akan kecolongan seperti ini. Luana... apa yang harus dia katakan kepada Kyle jika nanti Jasmine buka suara bahwa racun itu dari dirinya? Pertarungan besar tak akan bisa dihindarkan antara dirinya dan Kyle. Hal itu tidak boleh terjadi, jika memang Jasmine berhasil membunuh Luana, dia tidak boleh memboco
Pesta pernikahan Luana dan Kyle dilaksanakan di sebuah ruangan megah dengan hiasan mewah yang membuat semua orang terpana. Mereka yang datang ke pesta itu langsung tahu bahwa ini adalah pesta pernikahan yang pantas untuk seorang pemilik Zeus Group yang kaya raya tersebut. Pesta itu diadakan secara privat dengan keamanan tingkat tinggi. Gio yang disuruh ayahnya untuk hadir di pesta pernikahan 'adiknya' itu, memilih untuk tak bergabung dalam keramaian pesta dan berdiri di pojok sambil menyesap anggur di tangan. Gio tak habis pikir kenapa ayahnya memaksa dia untuk datang ke pesta ini, padahal tahu bahwa vampir muda itu belum sepenuhnya move on dari Luana. Setelah berhasil menyelamatkan Luana dari pembekuan jantung yang mengakibatkan kematiannya, Kyle memaafkan Gio dan tidak meminta dirinya untuk dikurung dalam bukit kematian lagi. Gio berpikir bahwa hidupnya akan tenang dengan dia benar-benar menjauh dari apa pun yang berhubungan dengan Luana dan mulai merelakan dirinya. Na
Dia pasti sudah gila. Rion mengusap wajahnya dengan kasar lalu membuka mulut untuk membatalkan ucapannya beberapa waktu lalu. Astaga, apakah dia kehilangan akal dengan mengajak Leanna sebagai pasangan pura-pura di pernikahan Kyle? "Lupakan hal itu, aku harus segera pergi karena banyak yang musti aku urus," ralat Rion sembari bangkit dari duduknya. "Aku mau." Jawaban dari Leanna, membuat Rion urung melangkah pergi, dia berbalik dan menoleh dengan penuh tanda tanya pada gadis yang kini juga ikut berdiri tersebut. "Tolong jadilah pasanganku di pesta pernikahan Kyle, meski pura-pura, itu nggak papa daripada aku harus menanggung malu dengan datang sendiri di pernikahan mantan," lanjut Leanna dengan penuh tekad. Rion masih tak menjawab, dia benar-benar tidak serius saat mengucapkan hal tadi, murni karena rasa kasihan pada gadis yang tidak hanya kehilangan fantasi cinta pertamanya tapi juga ditinggal menikah. Rion menarik napas panjang, harusnya dia tidak memakai perasaan ket
"Apakah kamu menghawatirkan hal itu, Luana?" Luana menatap Kyle dengan kebingungan, mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil dan memandang pria yang berdiri diam dengan kening berkerut itu. "Kenapa kamu bertanya seperti itu, Kyle? Tentu saja aku mengharap restu dari ayahmu juga, ia akan menjadi mertuaku dan dia ayah kandungmu." Luana menjawab dengan mata menyipit karena heran dengan keanehan di wajah Kyle saat Luana menyebut tentang ayahnya. "Dia nggak pantas mendapatkan kehormatan itu darimu, Luana," desis Kyle dengan tangan terkepal, menahan marah. Bagaimana mungkin orang yang sudah berkali-kali ikut konspirasi untuk menyingkirkan Luana dari sisi Kyle, berhak mendapatkan kehormatan untuk dimintai restu oleh Luana? Dia saja tak sudi untuk melihat ayahnya lagi, jika bukan karena formalitas dan nama baik perusahaan, Kyle mungkin tak akan mengundang ayahnya dalam pesta pernikahan yang dia gelar. Sebenarnya Kyle berencana untuk mengadakan pesta privat, tapi se-privat