Hari itu, Arka pulang ke rumah setelah semalam tidak kembali, karena menginap di rumah Dina. Perasaan bersalah yang mulai meresap semakin mendalam, terutama setiap kali ia melihat wajah Alea. Sejak beberapa hari terakhir, cemas dan rasa bersalah itu terus mengganggunya. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan semua ini kepada istrinya. Meskipun ia masih mencintainya, ia tahu bahwa setiap keputusan yang ia buat semakin mengarah pada kehancuran hubungan mereka. Setibanya di rumah, Arka memasukkan mobil ke halaman dengan langkah berat. Beban yang ia rasakan terasa lebih berat dari sebelumnya. Ia merasa terjebak, tidak tahu bagaimana harus menghadapi Alea. Meskipun Alea tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Arka bisa merasakan bahwa istrinya pasti sudah merasakan perbedaan dalam diri suaminya. Sejak beberapa kejadian terakhir, suasana di rumah terasa semakin tegang dan penuh kecanggungan. Seperti ada dinding yang memisahkan mereka, meskipun mereka tinggal satu atap. Alea sedang
Jam menunjukkan pukul 11, dan Alea mulai bersiap untuk pergi. Sejak pagi, ia merasa cemas ada perasaan aneh yang menyelimuti dirinya. Meskipun Arka telah mengajaknya makan siang bersama, ia tahu bahwa perasaan mereka tidak lagi seperti sebelumnya. Tapi, meskipun hati kecilnya merasakan adanya keraguan, ia memilih untuk tetap pergi. Ini adalah kesempatan untuk kembali terhubung, meski ia tahu jalan yang mereka tempuh tak akan mudah. Dengan langkah pelan, Alea melangkah ke kamar mandi untuk bersiap. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda yang sudah lama ia simpan di lemari. Tidak ada yang spesial, hanya pakaian yang membuatnya merasa nyaman dan sedikit percaya diri. Sesekali ia melirik ke jam dinding, memastikan waktu agar tidak terlambat. Sesuatu dalam dirinya berkata bahwa ini mungkin bisa menjadi langkah kecil menuju perbaikan. Setelah selesai berpakaian, Alea keluar dari kamar dan berjalan ke ruang tamu. Matanya sempat berkeliling mencari tas tangan kesayangannya, s
Randy tertegun saat melihat sosok yang begitu familiar berdiri di bawah kanopi. Apakah dia sedang menunggu hujan reda, atau mungkin menanti seseorang? Wajah Alea tampak pucat, dan tubuhnya terlihat rapuh, seolah anginpun bisa membuatnya jatuh. Di antara genangan air yang perlahan mengisi jalanan, Randy melangkah mendekat, ragu-ragu untuk menyapa, namun hatinya terasa tersentak begitu melihat Alea berdiri di sana, seolah menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. “Alea?” Suara Randy terdengar pelan, hampir seperti bisikan, namun ada kepastian dalam nada itu. Ia ingin memastikan bahwa ini benar-benar Alea yang ia kenal. Alea mengangguk perlahan, matanya yang basah berbicara lebih banyak daripada kata-kata yang terucap. Ia berusaha keras menahan air mata, tapi tidak bisa. Perasaan yang begitu berat dalam dadanya akhirnya meledak. Ia merasa malu, tapi perasaan itu terlalu besar untuk disembunyikan lebih lama. Randy menatapnya dengan kebingungannya yang dalam, seolah mencari jawa
Alea masuk ke dalam mobilnya dengan tubuh basah kuyup, namun yang membuatnya terhenti bukanlah hujan yang deras, melainkan hampa yang menguar di dadanya. Ponselnya terjatuh di kursi sampingnya, dan ia meraihnya dengan terburu-buru, seakan berharap ada kabar dari Arka yang bisa memberi sedikit pelipur lara. Namun layar ponselnya kosong. Hanya keheningan yang memenuhi ruang di dalam mobil, sepi yang terasa lebih pekat daripada hujan yang baru saja reda. Alea menangis, perasaan yang selama ini terkunci dalam dada, kini meledak. Randy, dengan pernyataan cinta yang ia dengar tadi, kini membuatnya berada di persimpangan yang tak bisa ia hindari. Apa yang harus ia lakukan dengan perasaan ini? Mengapa semuanya terasa begitu sulit? Mengapa, setelah semua yang terjadi, ia masih merasa begitu terhubung dengan seseorang yang kini bukan miliknya? Dengan gemetar, Alea menghidupkan mesin mobil. Ia ingin pergi jauh, melarikan diri dari rasa sakit, dari kenyataan yang ia tidak tahu harus bagaima
Sore itu, Alea terbangun dengan perasaan hampa yang masih membebani dadanya. Hujan yang reda tadi seakan meninggalkan jejak kesendirian yang dalam. Langit di luar jendela mulai memerah, menandakan senja datang menghampiri, namun keindahan langit yang memudar itu tidak bisa menghilangkan kekosongan yang menghinggap di hati Alea. Ia memandang ke luar jendela, seakan berharap angin atau hujan akan membawa jawab atas kegundahannya, namun tak ada yang datang. Hanya senja yang perlahan memudar, seperti perasaan yang semakin suram di dalam dirinya. Alea tahu, sekarang adalah waktunya untuk menjemput Raka di rumah ibunya, tempat di mana ia merasa bisa sedikit menghela napas dan mencoba melupakan beban yang ada. Namun, langkahnya terasa berat, seolah-olah setiap detik yang berlalu menambah beban dalam pikirannya. Pikirannya terputar-putar, terjebak antara perasaan kecewa kepada Arka yang terus menghantui, dan kata-kata Randy yang masih terngiang jelas di telinganya. Ia mencoba untuk tida
Alea menatap layar ponselnya yang terus bergetar di meja. Nama Arka muncul di sana, terang benderang, seolah memanggil-manggilnya untuk menjawab. Tetapi tangannya enggan bergerak. Ia hanya memandang layar itu, seperti menunggu sesuatu. Apa? Ia bahkan tidak tahu. Ada rasa bingung yang begitu dalam, seakan semua pilihan yang ada terasa salah. Perasaan itu begitu menguasai dirinya, hingga tubuhnya terasa berat, tak mampu untuk bergerak. "Haruskah aku menjawabnya? Apa yang akan ia katakan?" pikirnya. "Permintaan maaf? Janji-janji yang entah akan ia tepati atau tidak? Atau mungkin hanya pembicaraan basa-basi untuk memastikan aku baik-baik saja?" Alea menghela napas panjang, tangannya melingkar di sekeliling tubuhnya, mencoba memberikan kehangatan pada dirinya sendiri. "Apa ia benar-benar peduli? Apa ia menyadari betapa hancurnya aku setiap kali ia mengabaikan kebutuhanku? Tidak, Alea. Jangan jawab. Dia hanya akan membuat semuanya terasa semakin sulit. Dia akan berkata sesuatu yang me
Di pagi hari, Arka bangun dengan tubuh yang terasa berat, bukan karena kelelahan fisik, tetapi karena beban yang tak kunjung hilang dari pikirannya. Malam sebelumnya, ia terjaga sepanjang waktu, memikirkan setiap kata yang akan ia ucapkan jika bertemu dengan Alea. Ada kekhawatiran yang menggerogoti dirinya. Takut kehilangan lagi, takut jika segala yang telah ia coba bangun akan runtuh hanya karena kesalahannya yang terus berulang. Hari ini, ia tahu, ia harus menghadapi kenyataan. Apapun yang akan terjadi. Dengan perasaan cemas yang mencekam, Arka berbalik ke meja kerjanya dan memandang kalender di dinding. Hari ini adalah hari yang berbeda. Ia memutuskan untuk mengambil cuti dari pekerjaannya. Ini bukan soal pekerjaan lagi, pikirnya. Ini tentang keluarganya, tentang orang-orang yang benar-benar berarti dalam hidupnya. Sudah terlalu lama ia mengabaikan mereka demi pekerjaan dan ambisi pribadi. Ini saatnya untuk memperbaiki apa yang telah rusak, meskipun ia tahu bahwa jalan untuk
Arka duduk di ruang tamu, menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Ia merasa ada beban berat di dadanya, seperti ada sesuatu yang tak bisa ia lepaskan. Pembicaraannya dengan Alea tadi pagi masih menggema di kepalanya. Meski sudah mengatakan banyak hal, Arka tahu bahwa kata-katanya saja tidak cukup. Ia harus menunjukkan dengan tindakan bahwa ia benar-benar ingin berubah. Langkah pertama yang ia rencanakan adalah membawa Alea kembali ke rumah mereka. Tempat di mana semuanya dimulai, dan semoga, bisa diperbaiki. Sejak semalam, Arka merasa gelisah. Ia tahu, untuk bisa kembali bersama Alea, ia harus lebih dari sekadar berjanji. Ia harus membuktikan bahwa ia bisa menjadi suami yang lebih baik, lebih hadir, lebih peduli. Tetapi pada saat yang sama, ia juga tidak bisa mengabaikan rasa takut yang menghantuinya. Bagaimana jika Alea tidak mau lagi bersama? Bagaimana jika luka-luka yang ada terlalu dalam untuk sembuh? Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela, mencoba menenangkan
Arka baru saja keluar dari ruang pemeriksaan, berdiri hanya beberapa langkah dari Alea. Mata hitamnya tajam, menusuk tanpa perlu banyak kata. Sorotnya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kehadiran, sebuah peringatan yang tak perlu diucapkan.Randy mengerti pesan itu. Ia bisa merasakannya, bisa melihatnya dalam ekspresi Arka yang dingin dan penuh penguasaan.Dan entah kenapa, hal itu menusuknya lebih dalam daripada yang seharusnya.Di hadapannya, ada Alea, wanita yang ia cintai dengan sepenuh hati. Tetapi di sampingnya, berdiri pria yang memiliki ikatan lebih kuat dengannya. Ikatan yang tak bisa ia lawan, tak peduli seberapa besar keinginannya untuk tetap berada di sisi Alea.Ada perbedaan mendasar di antara mereka.Jika Alea terluka, Randy akan selalu datang untuknya. Tetapi Arka? Arka adalah luka itu sendiri. Luka yang menyakitkan, yang merobek, tetapi pada akhirnya, luka itu juga yang mengajarkan Alea cara untuk bertahan.Randy menelan ludah, lalu perlahan menundukkan k
Hari-hari berlalu, tetapi keheningan yang mencekik sejak perpisahannya dengan Randy masih mengurung Alea dalam kesedihan yang tak berujung. Ia meyakinkan dirinya bahwa ini adalah keputusan terbaik, tetapi hatinya tetap terasa hampa. Luka yang tak terlihat itu tetap ada, menyelimuti dadanya dengan perasaan kehilangan yang sulit diungkapkan.Namun, di tengah kekalutan itu, hidup kembali memberinya ujian yang lebih besar.Saat sedang berada di pusat terapi seni, ia merasakan ponselnya bergetar di atas meja. Awalnya, ia enggan mengangkatnya, tetapi ketika melihat nama sebuah rumah sakit yang muncul di layar, detak jantungnya langsung berdebar keras.Dengan tangan sedikit gemetar, ia menekan tombol jawab."Halo?""Apakah ini ibu dari Raka Wicaksana?" Suara seorang perawat terdengar di seberang sana.Jantung Alea mencelos. "Iya, saya ibunya. Ada apa dengan Raka?""Putra Anda mengalami kecelakaan. Kami membawanya ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Anda harus segera datang."Dunia Alea seke
Alea berdiri di depan cermin panjang di sudut galeri, menatap bayangannya sendiri seperti melihat seseorang yang tak lagi ia kenali.Cahaya lampu galeri yang temaram membentuk siluetnya, tubuh yang dulu ia banggakan kini tampak begitu rapuh. Matanya sembab, kelopak merah, jejak tangis yang terlalu lama ditahan membuat wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara memenuhi paru-parunya, seolah itu bisa menguatkannya.‘Ini yang terbaik,’ ia berbisik dalam hati. Ini yang seharusnya terjadi.Suara-suara itu masih menggema di telinganya."Dia janda, Randy. Dan dia punya anak. Apa kamu benar-benar sudah memikirkan ini?""Cinta saja tidak cukup."Alea menggigit bibir, mencoba menghalau perih yang tiba-tiba menyusup ke dadanya. Ia tahu sejak awal bahwa menjalin hubungan dengan Randy tidak akan mudah. Ia sadar ada batas yang mungkin tidak bisa mereka langkahi. Namun tetap saja, kata-kata itu terasa seperti palu yang menghantam hatinya berkali-kali.L
Di tengah keramaian pameran, Alea sibuk menjelaskan sebuah lukisan kepada beberapa pengunjung. Cahaya hangat dari lampu-lampu galeri memantulkan bayangan samar di lantai marmer, menciptakan atmosfer elegan yang kontras dengan kegelisahan yang perlahan menyusup ke dalam dirinya.Di sudut ruangan, Randy berdiri diam, memperhatikan Alea dengan senyum bangga. Ia kagum melihat bagaimana perempuan itu mampu menguasai ruangan, berbicara dengan percaya diri, dan membuat orang-orang terpukau dengan caranya bercerita tentang seni.Namun, suasana yang tenang itu berubah seketika saat dari arah pintu masuk, sepasang suami istri berpenampilan elegan melangkah masuk. Mereka tampak mencari seseorang, tatapan mereka menyapu ruangan dengan penuh tujuan.“Randy!” panggil wanita itu dengan nada ramah tetapi tegas.Randy menoleh. Wajahnya seketika berubah. Ada keterkejutan dalam matanya, diikuti dengan ketegangan halus yang sulit disembunyikan.“Ma, Pa?”Alea yang baru saja menyelesaikan penjelasannya ke
Arka menatapnya, matanya tajam seperti biasanya. “Perusahaan kami adalah salah satu sponsor acara ini,” jawabnya singkat, nada dinginnya terasa menusuk.“Dan kamu? Apa alasanmu ada di sini?”Randy mengangguk ringan, berusaha menjaga ketenangannya. “Aku datang untuk mendukung Alea,” jawabnya jujur, meskipun ia bisa merasakan atmosfir di antara mereka berubah tegang.Arka mengangkat alisnya sedikit, sebuah gerakan kecil yang menunjukkan ketidakpuasannya.“Mendukung Alea?” tanyanya, meskipun sebenarnya ia sudah tahu jawabannya. “Kamu sepertinya cukup sering ada di dekatnya akhir-akhir ini.”Randy tersenyum kecil, meskipun ia tahu ada pertanyaan terselubung di balik kata-kata itu. “Iya, aku memang sering di dekatnya. Karena aku peduli sama dia. Sama Raka juga.”Arka mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, berusaha mengendalikan emosi yang mulai muncul.“Raka?” ulangnya, nada suaranya semakin rendah. “Jadi, kamu pikir kamu cukup peduli untuk ada di kehidupan mereka?”Randy menatap Arka dengan
Alea menggeleng sambil tertawa kecil. “Jangan lebay.”“Tapi itu kenyataannya,” Randy bersikeras dengan senyum lebar. “Aku nggak bakal melewatkan momen penting dalam hidup kamu.”“Dan aku juga berharap dapat panduan khusus dari kamu. Siapa tahu ada cerita menarik di balik karya-karya itu.”Alea tertawa kecil. “Aku nggak bisa janji cerita semuanya. Banyak yang terlalu pribadi.”“Fair enough,” Randy mengangkat bahu sambil tersenyum. “Aku tetap nggak sabar buat datang dan lihat kamu bersinar di tempat kerja kamu.”Alea terdiam sejenak, memandangi Randy dengan rasa terima kasih yang sulit ia ungkapkan dengan kata-kata. “Makasih, Randy. Aku… aku senang kamu mau datang.”“Selalu, Alea,” jawab Randy lembut. “Aku di sini buat kamu dan Raka, kapan pun kamu butuh.”Malam itu berlanjut dengan percakapan ringan tentang pameran, tentang Raka, dan tentang seni yang membantu orang-orang menemukan diri mereka. Suasana apartemen Alea yang hangat, ditambah perhatian tulus dari Randy, membuat malam itu t
Nama itu menghantam Arka seperti petir di siang bolong.“Randy?” ulang Arka dengan suara lebih pelan, hampir berbisik. “Dia juga ada di Singapura?”“Iya,” jawab Risa di seberang telepon, nada suaranya hati-hati. “Dia sopan, dan aku bisa lihat dia sangat perhatian ke Alea dan Raka. Aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi ... aku pikir kamu berhak tahu.”Arka terdiam, mencoba mencerna kabar itu. Tangannya mengepal di sisi meja, napasnya tertahan, sementara matanya terpaku pada foto keluarga yang terpajang di dinding ruang kerjanya. Foto itu, yang menunjukkan dirinya, Alea, dan Raka dengan senyum lebar, kini terasa seperti kenangan dari dunia lain.“Terima kasih, Kak,” katanya akhirnya, suaranya kaku, hampir tanpa emosi.Risa menarik napas panjang di seberang. Ia tahu kabar ini akan mengguncang Arka, tetapi ia merasa tidak ada gunanya menyembunyikan kenyataan. “Arka, aku nggak bilang ini untuk bikin kamu merasa buruk. Aku cuma ingin kamu tahu kenyataannya, apa pun itu. Alea juga
Randy tidak langsung menjawab. Ia hanya menunggu, menatap Alea dengan kesabaran yang tak tergoyahkan.“Tapi …” lanjut Alea, menarik napas dalam-dalam. “Aku lelah terus berlari, Randy. Aku ingin mencoba. Aku ingin memberi kita kesempatan. Meski aku nggak tahu apa aku bisa berjalan secepat kamu.”Wajah Randy berubah cerah. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. “Alea, kamu nggak tahu betapa aku bersyukur dengar itu.”Namun, sebelum Randy bisa melanjutkan, Alea menoleh, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Tapi aku juga harus jujur, Randy. Perjalanan ini nggak akan mudah. Aku masih membawa luka yang belum sembuh sepenuhnya. Dan aku nggak mau kamu terluka karenanya.”Randy menggenggam tangan Alea, jemarinya hangat dan penuh ketulusan. “Alea, aku nggak peduli seberapa sulitnya. Aku di sini bukan untuk mencari kesempurnaan. Aku di sini untuk berjalan bersama kamu, setapak demi setapak, sesakit apa pun itu.”Air mata akhirnya jatuh di pipi Alea. Kata-kata Randy begitu sederhana, tetap
Randy tersenyum, lalu menjawab dengan nada lembut. “Aku ingin memastikan kamu benar-benar tahu kalau aku serius dengan perasaanku. Dan aku di sini bukan untuk terburu-buru. Aku di sini untuk jalanin ini sama-sama, dengan sabar, sampai kamu benar-benar yakin.”Kata-kata Randy membuat hati Alea bergetar. Ia tahu Randy tulus, dan itu membuat segalanya terasa lebih rumit. Alea duduk di sofa, memandangi Randy yang masih tersenyum hangat.“Randy … aku nggak tahu apa aku bisa kasih yang kamu butuhkan,” kata Alea pelan, nadanya dipenuhi keraguan.“Kamu nggak perlu kasih apa-apa, Alea,” jawab Randy cepat. “Cukup kasih aku kesempatan. Itu aja.”***Malam itu, setelah Randy pergi, Alea duduk di sofa kecilnya dengan perasaan campur aduk. Suasana apartemennya yang biasanya hangat kini terasa hening, seolah-olah menyerap semua kebingungan yang melingkupi pikirannya. Cangkir teh di tangannya sudah dingin, tetapi ia masih menggenggamnya erat, seolah mencari kehangatan yang tidak bisa ia temukan dalam