Maya datang untuk memenuhi perintah mama Indah, seperti kesepakatan kemarin saat di rumah sakit. Bryan semakin takut karena kekasihnya tak kunjung datang. Jika dihitung ini sudah lebih dari lima menit.
Karena waktu semakin bertambah dan kekasih Bryan yang tak kunjung datang, akhirnya Bryan terpaksa menikah dengan Maya. Pernikahan mereka pun segera dilangsungkan.***"Sini kamu!" sentak Bryan."A-aku?" Maya menunjuk dirinya sendiri."Iya kamu lah, siapa lagi? Di sini cuma ada kamu! Apa kamu buta sampai-sampai tidak bisa melihat kondisi disekitar kamu!" bentak Bryan."I-iya maaf, Ma-Mas,""Lancang sekali kamu memanggil ku dengan sebutan 'Mas'? Oh, ternyata kamu memang benar-benar percaya diri sekali ya? Dasar perempuan murahan!" Bryan terus mengeluarkan kalimat yang menyakiti hati Maya.Maya bingung dengan semua kalimat yang keluar dari mulut suaminya, Bryan. Apa salahnya jika dia memanggil Bryan dengan sebutan itu? Bukankah Bryan seorang lelaki dan lebih tua dari dirinya? Bukankah itu hal yang wajar?Maya terus berpikir dalam diamnya dan tak hanya itu, hati Maya pun sakit karena disebut perempuan murahan. Memangnya kapan Maya menjual diri?"Maaf, aku tidak pernah menjual diri jadi aku bukan perempuan murahan!" bantah Maya dengan suara lembut."Oh ya? Lalu tujuan kamu masuk ke dalam kehidupan keluarga aku apa? Bukankah untuk harta?" kalimat yang berisi tuduhan itu kembali menyakiti hati Maya.Maya memejamkan matanya sembari menahan perih di dadanya."Ti-tidak! Aku tidak punya tujuan apa pun, aku hanya...""Bryan! Hentikan omong kosong kamu itu!" teriak mama Indah."Hem, apa lagi si, Ma? Mau belain perempuan murahan ini sekarang? Mama sebenarnya dikasih apa sih sama dia? Bisa-bisanya Mama terus memihak ke dia!""Stop panggil dia perempuan murahan! Dia itu istri kamu sekarang, Bryan! Jadi mama mohon kamu terima dia dan sayangi dia mulai sekarang!" Mama Indah benar-benar dibuat naik darah oleh Bryan."Mana bisa? Memang dia perempuan murahan kok! Apa kata Mama? Terima dan sayang? Sama dia? Sampai mati pun aku nggak bakal terima kehadiran dia di sini apalagi jadi istri aku!" Maya pun pergi begitu saja meninggalkan mama Indah dan Bryan menggunakan kursi rodanya."Bryan!" Teriak Mama Indah yang ingin menyusul kepergian Kevin tapi ditahan oleh Maya."Ma, sudah jangan diteruskan lagi! Biarkan saja, Mas Bryan berkata apa pun semau dia. Karena pernikahan ini memang begitu mendadak, jadi jelas dia belum bisa menerima kehadiran aku sebagai istrinya."Mama Indah menghela napas panjang lalu tersenyum pada Maya. Beliau mengusap kepala Maya lembut.Perlakuan Mama Indah membuat Maya tertegun sejenak, ia juga begitu terharu karenanya. Ini adalah kali pertamanya ia mendapat perlakuan istimewa dari seorang wanita. Lebih tepatnya sosok ibu untuknya.'Jadi seperti ini rasanya punya seorang ibu? Baru diusap saja rasanya begitu hangat! Tidak masalah jika suami ku belum bisa menerima kehadiran ku bahkan membenci diriku akan tetapi, ibu mertua ku begitu menyayangi diriku! ' Maya membatin sembari menikmati momen itu."Maya, mama mau kasih kabar bahwa besok ayah kamu akan melakukan operasi. Jadi, kamu jangan khawatir dan merasa takut lagi ya! Sekarang yang terpenting adalah doa buat ayah kamu, semoga operasinya berjalan dengan lancar dan ayah kamu diberi kesembuhan!" ucap mama Indah pada Maya."Besok ayah operasi, Ma? Alhamdulillah, terima kasih banyak ya, Ma!" Sontak Maya langsung memeluk mama Indah karena begitu senangnya mendapat kabar baik itu."Sama-sama, sayang! Ya sudah, sekarang kamu ke kamar ganti pakaian, terus istirahat sejenak lalu kita makan malam bersama. Mama tunggu di ruang makan ya!" Mama Indah mengusap pipi Maya lalu pergi meninggalkannya di sana.Maya sangat bersyukur karena ayahnya akan segera dioperasi, ia juga sangat bersyukur karena telah bertemu dengan seseorang yang baik hati seperti mama Indah. Ya, meski suaminya jelas tidak menerima kehadirannya.Maya menarik napas panjang lalu memijakkan kakinya perlahan menuju kamar pribadinya bersama Bryan sang suami.Sementara itu di dalam sebuah kamar, Papa Putra dan Mama Indah tampak sedang mengobrol serius perihal anak semata wayangnya."Bagaimana, Ma? Bryan sudah mau menerima Maya sebagai istrinya kan?""Huh, tidak semudah itu, Pa! Papa tahu apa yang terjadi tadi waktu mama menemui mereka berdua?"Papa Putra mengubah posisi duduknya menjadi tegap dan siap menerima informasi dari mama Indah."Memang apa yang terjadi, Ma? Apa Bryan melakukan kesalahan?""Si Bryan terus memaki Maya, Pa! Masa dia bilang kalo Maya itu perempuan murahan. Pokoknya dia terus menuduh Maya yang enggak baik lah!" jawab Mama Indah dengan ekspresi kesalnya."Astaga anak itu! Mama yang sabar ya, semua butuh waktu dan proses. Mungkin saat ini Bryan belum bisa menerima Maya sepenuhnya tapi lambat laun pasti Bryan akan berubah kok, kita berdoa aja yang terbaik buat mereka berdua ya Ma!""Iya, Pa! Mama pengin mereka nantinya bisa saling menerima dan saling mencintai, menjadi keluarga yang utuh!""Iya,"Kembali lagi pada Maya yang sudah berada di dalam sebuah kamar. Di sana, Maya kebingungan, ini bukanlah kamarnya sendiri. Kamar yang begitu mewah, ia sungguh tidak tahu apa pun apa yang harus ia lakukan.Handuk? Pakaian? Yang mana lemari miliknya? Apa pakaian untuknya sudah tersedia? Jika belum, dia harus memakai apa nanti? Baju pengantin lagi?"Heh, perempuan murahan! Sedang apa kamu di sini? Jangan harap kamu bisa tidur satu ranjang denganku ya!" ucap Bryan sinis.Maya tersentak. Sedang apa di sini? Bukankah ini adalah kamarnya juga?"Mama menyuruhku untuk mandi dan berganti pakaian juga istirahat sejenak sebelum makan malam, Mas,""Akh, sebutan itu lagi! Sakit telinga ku mendengar itu! Dasar perempuan murahan!" Bryan kembali kesal dan memaki Maya."Memangnya aku harus memanggil dengan sebutan apa? Kamu kan memang suami ku, Mas! Kamu lelaki juga lebih tua dari umur ku!""Hih, terserah lah! Denger ya, jangan pernah sentuh apa pun yang ada di kamar ini! Itu adalah lemari milik calon istri ku jadi kamu jangan pernah menyentuhnya! Kamu juga jangan pernah naik ke ranjang itu jika aku tidak menyuruh! Satu hal lagi, kamu harus mengikuti semua perintahku! Kamu paham?" Bryan menunjukkan jarinya ke dahi Maya."I-iya, Mas, aku paham!" Maya memejamkan matanya kala jari itu menempel di dahinya."Bagus! O iya, saya muak melihat wajah kamu, jadi nanti kamu jangan ikut makan malam bersama! Dan lagi, jangan pernah mengadu pada Mama apalagi Papa soal ini! Jika di depan mereka, kamu harus terlihat baik-baik saja!" Bryan pergi begitu saja setelah puas dengan apa yang terlontar dari mulutnya."Ta-tapi, Mas?"BRAK!!!Bryan membanting pintu dengan begitu keras dan membuat Maya kaget bukan main."Akh, sakit sekali rasanya!" Maya memegangi dadanya yang terasa sesak dan sakit.Maya mendekat ke arah pintu dan mencoba membuka pintu dan ternyata,Ceklek! Ceklek!"Tidak bisa dibuka, Jangan-jangan?"***Waktu makan malam telah tiba. Semua berada di ruang makan kecuali Maya, anggota keluarga baru di dalam keluarga Putra.Mama Indah dan Papa Putra sempat saling pandang setelah kedatangan putranha yaitu Bryan yang hanya seorang diri. Mengapa Bryan tidak datang bersama Maya? Apa Maya masih beristirahat di kamarnya?"Bryan kok datang sendirian, Ma?" bisik Papa Putra."Entah, Pa, mungkin Maya masih di kamarnya?""Semoga saja, Bryan tidak melakukan kesalahan lagi, Ma?!"Mama Indah hanya mengangkat kedua bahunya untuk merespon ucapan Papa Putra."Malam, Ma, Pa!" sapa Bryan yang duduk dikursi rodanya."Malam," balas Mama Indah dan Papa Putra bersamaan.Kini, saatnya Papa Putra membuka suara perihal Maya yang tidak datang bersama Bryan."Ekhem! Bryan, istri kamu mana?"Bersambung...Selamat membaca dan ikuti terus kisahnya ya.New chapter =>Terima kasih."Ekhem! Bryan, istri kamu mana?" tanya papa Putra. "Di kamar, Pa!" jawab Bryan enteng. "Kenapa nggak bareng sama kamu?" tanya Papa Putra lagi dengan ekspresi penuh selidik. "Dia ketiduran mungkin!" jawab Bryan lalu mulai mengambil nasi untuk dirinya sendiri. Suasana hening sejenak. Bryan yang semula sibuk lalu berhenti dan mengamati keadaan sekitar, mengapa keadaan menjadi sepi tanpa suara. "Kenapa pada ngeliatin aku seperti itu? Enggak, Ma, Pa! Aku beneran nggak ngapa-ngapain dia kok, jangan berburuk sangka sama aku lah!" ucap Bryan yang terlihat begitu santai. Mama Indah dan Papa Putra kompak hanya mengangkat kedua bahu mereka masing-masing. Padahal kekeadaan yang sebenarnya adalah Maya tengah menderita saat ini. Di dalam kamar ia sedang kebingungan untuk meminta bantuan pada siapa? "Aku lelah, tetapi aku tidak boleh menyentuh apa pun. Lalu bagaimana caranya aku beristirahat? Bagaimana pula caraku mandi? Handuk saja tidak ada apalagi pakaian untuk ganti. Akh, perutku terasa
BRAK!!! "A-aku kenapa, Mas?" tanya Maya lirih. Bryan mendekat pada Maya. "Jangan pernah mengadu apa pun pada mama dan papa! Awas aja kalo kamu ngomong yang macam-macam! Apalagi soal kejadian yang semalam! " Bryan langsung meninggalkan Maya sendiri di dalam kamarkamar setelah mengeluarkan kalimat ancaman itu. Lagi dan lagi Maya menghela napas panjang. Baru juga siuman tetapi dirinya sudah mendapat ancaman dari suaminya. "Sabar, semua ini demi ayah. Aku pasti bisa lewati semua ini karena Tuhan tidak akan menguji hambanya di atas batas kemampuan hambanya kan? Ya, aku memang tidak pernah mengharapkan sebuah pernikahan yang seperti ini tapi mau bagaimana pun semua ini sudah terjadi. Mau tidak mau aku harus bisa menerima semuanya. Semoga perlahan suami ku bisa menerima kehadiran ku dan pernikahan kita berjalan sesuai semestinya. Aku sangat berharap akan hal itu karena aku tidak mau mengalami kegagalan dalam hal pernikahan." Maya terus bermonolog sendiri. Kepala Maya masih terasa berat
"Maya, mama sebenarnya sudah mencari tahu siapa kamu, rumah tinggal kamu, sekolah kamu dan keluarga kamu. Ya pokoknya semua yang berkaitan sama kamu lah. Terus mama juga tahu bahwa kamu baru saja lulus SMA kemarin kan? Nah, mama sama papa sudah sepakat untuk menyekolahkan kamu ke jenjang yang lebih tinggi. Bagaimana sayang, kamu mau kan?" ujar mama Indah pada Maya. Sekolah ke jenjang yang lebih tinggi? Jelas itu adalah impian Maya sedari kecil. Menjadi dokter adalah cita-citanya. Alasan Maya bercita-cita menjadi dokter adalah ayah dan ibunya. Melihat ayahnya yang sering sakit-sakitan juga ibunya yang meninggal karena kecelakaan tabrak lari. Karena penanganannya yang kurang cepat atau bisa dibilang terlambat, ibunya meninggal saat baru saja tiba di rumah sakit. Ibunya diduga kehabisan banyak darah karena benturan keras di bagian kepalanya. Maya begitu penasaran, bagaimana bisa mama mertuanya mendapat informasi tentang dirinya. "Bagaimana bisa, Mama tahu informasi tentang aku? Mama j
Mama Indah melepaskan pelukannya pada Maya. Ia tersenyum pada Maya. "Kamu kemarin gagal kan menjenguk ayah kamu gara-gara, Bryan?" tanya mama Indah. "Em, kemarin aku...""Udah, mama tahu kok kalo kemarin Bryan banyak mau. Dia nyuruh kamu ini itu kan? Jangan bohong sama mama, mama tahu kamu menutupi kelakuan Bryan sama mama. Sekarang kita ke rumah sakit ya, mama temani kamu nungguin ayah yang akan operasi nanti!" "Operasi? Ah iya, Maya sampe lupa soal operasi ayah, Ma. Tapi bukankah harusnya operasinya kemarin ya, Ma?" tanya Maya bingung. "Iya, tapi kemarin kebetulan dokter yang akan menangani operasi ayah kamu nggak ada, jadi operasinya dilakukan hari ini. Ayo siap-siap ke rumah sakit sekarang!" "Oh gitu, ya udah Maya ke kamar buat siap-siap dulu ya, Ma!" pamit Maya. "Iya, sayang!" Tiba-tiba saja, papa Putra datang menghampiri mama Indah. "Jadi ke rumah sakit kan, Ma?" tanya papa Putra. "Iya, Pa. Papa jadi ikut kan?" "Jadi kok, kebetulan Papa lagi nggak ada kerjaan juga dika
"Kamu ngedumel hah? Nggak ikhlas melayani suami?" Bryan membuka matanya kembali. Deg! "Ah, eng-enggak, Mas, bukan nggak ikhlas. Aku ikhlas kok, cuma heran aja sama sikap kamu, kenapa nggak langsung bilang aja dengan baik-baik gitu!" ucap Maya sedikit takut jika Bryan tetap marah. Bryan merubah posisinya menjadi duduk. Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Maya. Melihat Maya dari atas hingga bawah. Seperti sedang mencari sesuatu di sana. "Yah, aku rasa memang pantas jika kamu banyak disukai lelaki. Pasti tarifnya mahal kan?" Bryan memegang tangan Maya lalu menatap Maya dengan intens. Ucapan Bryan benar-benar menyakiti hati Maya kali ini. Setelah memaksa dirinya untuk melakukan pekerjaan yang perintahkan oleh Bryan lalu ia masih dituduh untuk hal yang tidak pernah ia lakukan. "Lepas! Dengarkan ini baik-baik ya, Mas! Aku bukan perempuan murahan! Aku juga tidak pernah melayani laki-laki manapun seperti yang kamu tuduhkan itu! Aku tidak pernah menjual diri pada siapa pun! Kamu menger
"A-ayah? Maksudnya apa, Pa, Ma?" Bola mata Bryan bergerak ke kanan dan ke kiri, melihat ke arah mama dan papanya. "Iya, ayahnya Maya habis melakukan operasi dan lagi proses pemulihan, Bryan. Ayah mertua kamu itu, nanti kamu ikut jengukin Beliau! Kemarin kamu ditanyain waktu Beliau habis operasi. Pokoknya kamu harus jaga sikap kamu di depan ayahnya Maya, jangan sampai kamu membuat Beliau kecewa!" ujar Papa Putra. "Oh begitu, ya udah nanti Bryan ikut dan ya, sebagai rasa hormat Bryan kepada orang yang lebih tua, Bryan bakal jaga sikap kok, Pa!" "Bagus lah, kalo gitu!" ***Bryan, Maya, mama Indah dan papa Putra telah sampai di rumah sakit. Ini pertama kalinya Bryan bertemu dengan ayah mertuanya. "Ayah, Maya datang lagi buat jenguk, Ayah!" ucap Maya dengan tersenyum. "Em, ayah juga senang kamu datang lagi, Nak!" ayah Doni juga tersenyum membalas Maya. "Bagaimana, Pak, sudah lebih baik dari kemarin?" tanya papa Putra. "Alhamdulillah, sudah lebih baik, Pak, kata Dokter besok siang
"Hah? Cucu?" Bryan dan Maya saling pandang. Mengapa mama Indah malah mengira jika mereka ingin pergi kencan atau bulan madu. "Bukan, Ma! Kita nanti mau jemput ayah dari rumah sakit, kan ayah nanti sudah boleh pulang, Ma!" ungkap Bryan. "Oh, kirain hehe. Ya sudah lah, gak apa-apa deh. Tapi nanti pergi bulan madu ya? Mama sama papa udah pengin gendong cucu loh. Eh tapi Maya mau kuliah lagi kan? Hem, gimana ya?" "Itu urusan gampang, Ma! Nanti kita pikirin masalah itu kok, jangan khawatir!" ucap Bryan. Maya melihat ke arah Bryan. Maya bingung apa yang Bryan maksud sebenarnya. Perihal bulan madu yang akan dibahas atau masalah Maya yang ingin berkuliah. "Baiklah, Mama tunggu kabar baiknya aja deh!" celetuk mama lalu tertawa kecil. "Hem, Mama ada-ada aja. Ya udah, Bryan udah selesai makan terus mau berangkat ke kantor sebentar sebelum jemput ayahnya Maya!" ujar Bryan. "Kamu tunggu aku di rumah ya! Aku ke kantor cuma sebentar aja kok!" pinta Bryan pada Maya. "Iya, Mas," "Semangat ke
Pagi-pagi sekali, Maya telah bangun dan menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan Bryan, apalagi sekarang Bryan telah kembali bekerja dengan rutin. "Aku udah siapin air untuk mandi kamu, Mas!" ucap Maya pada Bryan yang baru saja bangun. "Ya, aku akan mandi sekarang! Tolong ambilkan handuk milik ku!" pinta Bryan pada Maya. "Ya, sebentar ya, Mas!" Maya pun langsung pergi untuk mengambil handuk milik Bryan. Tak lama kemudian, Maya kembali membawa handuk lalu memberikannya pada Bryan. "Ini, Mas! Ayo aku bantu kamu mandi sekalian!" Maya pun mendorong kursi roda milik Bryan. "Apa karena kejadian dua hari ini, kamu jadi berpikir bahwa aku telah mencintai kamu? Sebenarnya aku masih belum bisa mencintai kamu tapi aku sudah mulai melakukan,-" "Iya, aku tahu itu kok, Mas!" Maya memotong ucapan Bryan. Maya membuang napas kasar. "Aku tidak berpikir seperti itu, tapi apa aku salah jika aku mengharapkan semua itu? Bagaimana pun juga kita sudah menjadi sepasang suami istri bukan? Aku juga pu
"Udah selesai belum, sayang?" tanya Bryan pada Maya. Maya menghela nafas lalu menghampiri Bryan. "Sudah kok," Maya tersenyum manis pada Bryan. "Ya ampun cantiknya, istri aku ini. Mau kemana sih?" goda Bryan. "Kan mau kencan sama ayang, hehe!" "Gemasnya! Ayo jalan!" Bryan menggandeng tangan Maya lalu mereka berjalan beriringan. Mama Indah dan Papa Putra tak henti-hentinya menatap pasangan yang lagi dilanda asmara itu. Sudah pasti mereka sangat terkejut melihat mereka berdua terlihat begitu mesra. Bryan dengan gagahnya menggandeng tangan Maya yang begitu cantik pagi ini. "Ma, Papa nggak salah lihat kan?" bisik papa Putra pada mama Indah dengan mata yang terus tertuju ke arah Bryan dan Maya. "Mama kira, Mama yang udah rabun, Pa. Ternyata, Papa juga melihat pemandangan itu?" sahut mama Indah lirih. "Memangnya, Mama sedang lihat apa?" tanya Papa Putra memastikan. "Lihat Pangeran dan Putri lagi jalan menuju kita. Oh tidak! Maksudnya, Bryan dan Maya yang begitu mesra, Pa!" jawab Ma
"Ada apa ya? Tiba-tiba perasaan ku tidak enak begini. Tiba-tiba juga langsung teringat dengan Maya. Seharusnya jam segini aku sudah tertidur karena pengaruh dari obat. Tapi aku malah belum bisa memejamkan mata. Sebenarnya ada apa dengan Maya? Atau jangan-jangan Maya sedang..." "Auw," Tiba-tiba saja, dada ayah Doni terasa sedikit sesak. Entah apa yang tengah terjadi pada ayah Doni saat ini. Apakah penyakitnya kembuh kembali atau hanya sesak biasa. Yang jelas, perasaan ayah Doni kini sulit dijelaskan. Pikirannya terus menuju pada putri semata wayangnya, Maya. ***Esok hari. Hari ini seharusnya Maya tengah bahagia karena acara kencan pertamanya di malam minggu. Namun, acara yang mereka rencanakan harus gagal setelah kejadian yang diciptakan oleh Bryan. Maya yang biasanya bangun pagi dan penuh semangat untuk menyambut pagi hari, kini terlihat lesu. Terduduk di pinggiran ranjang dengan wajah ditekuk, mata sembab karena kebanyakan menangis semalam. Weekend ini sungguh, Maya benar-benar
PRANG!!! Bryan membanting ponselnya ke meja makan yang terbuat dari kaca. Karena benturan yang keras, membuat meja kaca itu melantar. Namun, suara keras itu muncul karena ponsel Bryan juga mengenai piring di meja itu. Piring itu pecah sehingga mengeluarkan suara dan itu membuat Maya memutuskan untuk kembali ke ruang makan. "Mas Bryan?!" pekik Maya. Bryan langsung menoleh ke Maya. Dilihatnya Maya tengah berdiri tak jauh darinya. Dengan satu tangan menutup mulutnya. Bryan masih tidak sadar bahwa dirinya tengah berdiri tegak sekarang. Sedangkan Maya sungguh masih tak percaya dengan pemandangan yang ada di depannya ini. Maya berpikir apakah ini semua mimpi atau memang Bryan yang sengaja membohongi dirinya. "Kamu udah sembuh, Mas?" tanya Maya sembari berjalan mendekat pada Bryan. "Ah, a-aku?" Bryan seketika melihat dirinya sendiri dan sadar bahwa dirinya tengah berdiri tegak. "Kamu bohong sama aku, Mas tentang kebenaran ini?" tanya Maya lagi. "A-aku bisa jelasin soal ini, May!" Bry
Suasana hening seketika, mereka kembali melakukan kegiatan makan malam. Namun tiba-tiba saja, "Ma, apa benar dulu Mama yang suruh Rania untuk pergi ninggalin Bryan?" "Hah?" Seketika mama Indah dan papa Putra terkaget. Bagaimana bisa Bryan tiba-tiba membahas soal Rania dan bertanya semacam itu pada mamanya. Dan bukan hanya mama Indah dan papa Putra saja yang kaget, Maya juga ikut kaget sekaligus bingung. Maya bingung, siapa itu Rania sebenarnya. Apa begitu penting bagi Bryan, atau jangan-jangan Rania itu adalah mantan kekasih Bryan yang gagal menikah dengannya itu. "Kamu apa-apa sih, Bryan? Kamu tiba-tiba nanya kaya gitu ke mama, seolah-olah kalo mama adalah penyebab bubarnya hubungan kalian berdua!" cerca Mama Indah tak habis pikir dengan Bryan. "Ya, Bryan emang penasaran soal itu, Ma!" "Lagian kamu kok keterlaluan sih, bahas masalah mantan alias masa lalu di depan istri kamu yang jelas-jelas masa depan kamu sekarang sampe nanti!" omel Papa Putra pada Bryan yang juga kesal kare
'Kamu harus pergi dari sini sekarang juga! Karena anak ku tidak membutuhkan kamu di sini!' Rania. "SHIT!!!" Bryan mengusap wajahnya kasar. "Apa maksud dari semua ini? Dia tiba-tiba saja muncul di kehidupan ku lagi setelah menghilang begitu saja dan dia malah berusaha menjelek-jelekkan mama di depan ku. Terus maksud dia kirim seperti tadi itu apa? Apa maksud dia, itu adalah suruhan dari mama untuk dia? Tapi aku nggak percaya kalo seperti itu! Argh, gila lama-lama kalo begini!"Bryan menghapus pesan dari Rania. Lalu dia menyuruh supir untuk pergi ke tempat penjualan ponsel. Bryan memang berniat untuk membelikan ponsel untuk istrinya, Maya.Maya memang tidak memiliki ponsel selama ini. Bryan sempat penasaran karena tidak pernah melihat Maya memegang atau main ponsel di mana pun. Akhirnya Bryan bertanya dan memang benar jika Maya tidak pernah membeli ponsel sebelumnya. Sejak kejadian itu, Bryan semakin merasa bersalah karena pada awal-awal pernikahan dia selalu menuduh Maya yang tidak-
Bryan dan Leon sontak melihat ke arah sumber suara. "Astaga!!!""Kenapa pada kaget begitu? Kaya lihat hantu saja!" "Lah memang kaya hantu, Tiba-tiba nongol setelah lama menghilang tanpa pamit tanpa kabar!" cibir Leon. "Hem, aku bisa jelaskan semuanya, Bryan!" "Aku nggak peduli apa pun tentang kamu!" tegas Bryan. "Sayang, aku mohon dengerin aku dulu ya! Plis, sayang!" "Enggak ada yang perlu dijelaskan lagi, dan enggak ada lagi ada panggilan sayang!" Bryan kembali menegaskan kalimat itu pada perempuan yang ada di depannya itu. "A-apa maksudnya? Aku calon istri kamu loh, Bryan! Emang apa salahnya dengan panggilan sayang itu? Bukankah sejak dulu kamu senang dengan panggilan itu? Ayo lah, plis jangan seperti ini aku mohon!" Perempuan itu kembali memohon pada Bryan. "Apa lagi sih? Kita sudah tidak terikat dengan hubungan itu lagi! Semenjak kamu pergi dan nggak datang di hari dimana pernikahan kita seharusnya berlangsung. Kemana kamu selama ini, hah?" pekik Bryan. "Aku bisa jelasin
"Aih, Ma tadi Maya berantem sama siswa di kampusnya tahu?!" "Hah, apa?" Mama Indah kaget dan benar-benar tak percaya sama ucapan Bryan. "Dih, nggak percaya kan? Tuh tanya sama supir Bryan biar jelas!" cetus Bryan. "Hem, oke oke, nanti mama nanya sama supir kamu. Tapi kenapa kok bisa berantem?" tanya mama Indah penasaran. "Gara-gara ada yang hina Bryan, Ma! Sebenarnya Bryan ikut turun itu karena Bryan mau bertemu dengan salah satu dosen di sana, maksud Bryan itu biar ada yang mengawasi Maya gitu loh. Gini-gini, Bryan juga suami yang baik dan pengertian tahu, Ma!" cetus Bryan. "Oh ya ya, mama paham maksud kamu. Ikh tumben kamu pinter, gitu dong jadi anak mama yang baik. Kan jadi bangga kalo gini, coba aja kalo oon kaya dulu, beeeuh, mama rasanya pengin buang kamu ke laut tahu nggak sih? Kesel mama tuh, jadi agak nyesel punya anak kaya kamu!" oceh mama Indah. "Hem, tapi sekarang enggak kan? Bryan udah jadi anak yang baik, kan? Tapi menurut mama, Maya cinta nggak sih sama, Bryan?"
"BUGH!" Maya langsung menghajar salah satu siswa tersebut. Rasanya ia sungguh tak terima karena mereka telah menghina suaminya. Jika mereka hanya menghinanya, ia tak akan mempermasalahkan itu karena dari dulu juga ia sering dihina. "Aww! Apa-apaan kamu berani sekali menghajar ku? Aku laporkan juga kamu ke pihak kampus!" Siswa itu meringis kesakitan lalu tak terima dengan perlakuan Maya dan mengancam Maya untuk melaporkannya pada pihak kampus. "Laporin aja kalo berani! Aku nggak takut sama sekali!" Tanpa rasa takut, Maya justru menantang balik siswa tersebut. "Oke, awas aja kamu!" Siswa itu pun pergi begitu saja meninggalkan Maya, Bryan dan supir. "Dih, sok banget sih? Beraninya main lapor-lapor aja! Kalo berani tuh di ring! Adu skill! Dasar payah!" ejek Maya pada siswa itu. "Maya, kamu apa-apaan sih? Baru juga pertama kali masuk sekolah udah buat ulah saja!" omel Bryan. "Siapa yang buat ulah? Orang dia duluan yang mulai kok!" kilah Maya membela diri. "Kamu mau sekolah atau ma
Beberapa hari telah berlalu. Maya dan Bryan semakin dekat sesuai dengan perjanjian mereka tempo lalu. Maya akan terus mengurus Bryan hingga Bryan sembuh. Sedangkan Bryan akan menentukan pilihan apa yang akan diambil. Apakah akan bercerai atau tetap melanjutkan pernikahan mereka yang artinya dia harus menerima Maya sebagai istrinya. Keadaan Bryan semakin membaik, Maya, mama Indah dan papa Putra pun senang dan berharap Bryan bisa berjalan kembali seperti semula. Pagi ini, seperti biasa Bryan akan pergi ke kantor dan itu artinya Maya harus menyiapkan dan mengurus semua keperluan Bryan. "Mas, nanti aku sudah mulai masuk kuliah!" ucap Maya sembari merapikan dasi Bryan. "Ya sudah, memangnya aku harus apa?" respon Bryan terlihat cuek dan biasa saja. "Enggak harus apa-apa juga, aku cuma bilang aja sih!" balas Maya lalu dirinya bersiap untuk mandi. "Hem," Sepeninggalan Maya, Kevin terdiam. 'Aku harus menyembunyikan hal ini dari semuanya untuk sementara waktu. Aku belum siap jika nanti