Share

67. Yesi Lagi

Author: Reyn
last update Last Updated: 2025-01-01 18:12:14
Hari peluncuran produk baru milik perusahaan Rafif akhirnya tiba. Iklan-iklan yang menampilkan wajah Yesi kini menghiasi seluruh layar kaca.

Peluncuran produk baru milik Rafif terbilang cukup sukses, sehingga malam ini Rafif secara khusus mengadakan makan malam bersama seluruh timnya. Termasuk Yesi sebagai bintang iklannya.

“Cheers!” ujar Rafif mengangkat sebuah gelas minuman.

“Cheers!” sahut tim Rafif menyambut baik uluran Rafif.

Mereka lalu menghabiskan malam bersama, sambil merasakan euforia keberhasilan peluncuran produk.

“Rafif!” panggil Yesi yang sedikit mabuk.

“Hai! Kamu mabuk?” tanya Rafif.

“Sepertinya begitu, bisakah kamu antar aku pulang malam ini?” tanya Yesi.

“Boleh!” jawab Rafif lalu meraih pinggang Yesi yang telah terhuyung ke arahnya.

Yesi lalu mengalungkan lengannya pada leher Rafif dan berjalan berdampingan dengannya.

“Aku pergi dulu!” pamit Rafif pada Tomi.

“Pak Rafif kenapa? Sekarang kayaknya kok berubah!” ujar Sherly salah satu tim Rafif.

Tomi menggeleng, “entah!” j
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Jodoh di Tangan Kakek   68. Mimpi

    Alea menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam.Malam ini Rafif benar-benar telah membuatnya keluar dari batas rasa sabar yang bisa dia toleransi.Lagi-lagi Rafif menyebut nama Yesi di hadapannya. Alea sendiri melihat dengan matanya, bahwa Yesi dengan berani meninggalkan bekas bibirnya di pipi Rafif.Jika Alea terus membiarkannya, mungkin lama-lama Yesi akan menjadi lebih berani. Namun Alea juga tidak tahu harus berbuat apa.“Mas, kapan kamu akan sadar dan mengingat semuanya?” gumam Alea.“Mama!” suara Zayn terdengar memanggilnya.Alea bergegas menghampirinya.“Sayang, kok kamu bangun?” tanya Alea pada Zayn.Lalu Zayn memeluk Alea dan meminta Alea untuk menggendongnya.“Sayang, tidur lagi yuk! Sudah malam,” ajak Alea. Lalu membawa Zayn tidur di dalam pelukan Alea.Zayn seolah-olah mengerti apa yang sedang dirasakan Alea. Dia menatap mamanya dengan hangat, lalu tangannya menempel pada pipi Alea.Tatapan mata Zayn seolah berkata “mama kuat!”.Alea menatap dan mengusap wajah imut Zay

    Last Updated : 2025-01-01
  • Jodoh di Tangan Kakek   69. Ingatan dan Cinta

    Angin pantai berhembus menerpa wajah Alea, rambutnya yang tergerai ikut terbang bersama angin. Wajah putihnya yang cantik mendadak kemerahan karena paparan sinar matahari.Senyum Alea begitu menawan, membuat Rafif tidak bisa menahan diri untuk melangkah mendekati Alea yang sedang menemani putranya bermain di tepi pantai.“Sayang,” panggil Rafif sambil memeluk Alea dari belakang, dia tidak mengerti mengapa begitu mudah mengucapkannya di depan Alea. Seolah ada bisikan yang membimbingnya untuk melakukan hal itu.“Mas!” pekik Alea kaget, lalu berbalik menatap suaminya.Tatapan mereka bertemu, ada rasa pilu yang mendalam di sorot mata Alea. Namun secercah harapan muncul, tatkala kata sayang terucap begitu saja dari bibir Rafif.Alea mengira jika ingatan suaminya tiba-tiba kembali.“Oh, sorry Al!” ucap Rafif saat tersadar.“Mas, kamu gak apa-apa?” tanya Alea seraya menyentuh pipi Rafif. Alea menangkap sebuah kebingungan dalam ekspresi Rafif.“E-ee, gak apa-apa!” jawab Rafif lalu menyentuh ta

    Last Updated : 2025-01-02
  • Jodoh di Tangan Kakek   70. Kenangan yang Hilang

    “Hai Rafif!” sambut Yesi saat melihat kedatangan Rafif.Yesi pagi-pagi sekali sudah sampai di kantor Rafif untuk sengaja menemuinya.“Kenapa kamu disini sepagi ini? Bukankah kontrak kerja kita sudah selesai?” tanya Rafif.“Gak apa-apa! Aku cuma pengen ketemu aja,” jawab Yesi santai.”Sorry Yes, tapi aku punya banyak pekerjaan menunggu.” Ujar Rafif.Yesi merasakan kembali sikap dingin Rafif, setelah sebelumnya Rafif begitu ramah padanya. Kini, Rafif telah kembali seperti semula.“Aku cuma mau bilang makasih, kemarin kamu udah anterin aku pulang,” ujar Yesi.“Oke. Sama-sama!” jawab Rafif seperlunya.“Nanti siang, ayo makan bersama!” Yesi seperti tidak kehabisan akal untuk mengganggu Rafif.“Aku sibuk Yes!” jawab Rafif singkat.“Sibuk apa? Sampai kemarin kamu masih menyempatkan waktu untuk makan bersamaku. Kenapa sekarang berubah?” tanya Yesi.Rafif sengaja mengabaikan pertanyaan Yesi.“Apa istrimu melarang kamu untuk makan denganku? Cih! Dasar wanita pencemburu,” ujar Yesi.“Kamu gak ber

    Last Updated : 2025-01-02
  • Jodoh di Tangan Kakek   71. Jatuh Cinta Lagi

    Ingatan Rafif tentang Alea yang hilang, kini mulai diisi dengan kenangan-kenangan baru.Setiap hari Rafif berusaha untuk menerima kehadiran Alea dan Zayn di hidupnya, setiap hari juga perasaannya mulai tumbuh untuk Alea.Sementara itu Alea, juga perlahan melupakan luka-luka yang diterimanya akibat kecelakaan Rafif. Kini dia hanya harus menerima takdirnya dan menjalani sisa hidupnya bersama Rafif.Dia tidak lagi mengungkit masa lalunya dengan Rafif, yang dia butuhkan sekarang hanyalah melihat Rafif tetap hidup dan ada disampingnya setiap hari.Hubungan Rafif dan Alea memang belum bisa seperti sebelumnya, masih banyak rasa canggung dan keraguan di antara mereka.Meskipun Rafif tahu kalau status mereka suami istri, dia tidak berani sekedar mengecup kening Alea. Padahal sebelum Rafif kehilangan ingatannya, itu adalah hal favorit yang bisa dia lakukan setiap hari.Semua seperti dimulai kembali dari nol.“Mas tolong ambilkan handuk!” teriak Alea di pintu kamar mandi, dia lupa membawanya masu

    Last Updated : 2025-01-03
  • Jodoh di Tangan Kakek   72. Alea Menghilang

    Seiring berjalannya waktu, kehidupan rumah tangga Rafif dan Alea kini semakin harmonis.Meskipun ingatan Rafif belum kembali, Alea tidak pernah lagi mempermasalahkannya. Sebab kini Rafif telah kembali mencintai dirinya dan Zayn.Siang ini, Rafif dengan sengaja cuti dari pekerjaannya hanya untuk menemani Alea berbelanja perlengkapan bayi kedua mereka.Alea tentu sangat senang dengan sikap manis Rafif ini.Setelah memasuki sebuah mall, Alea dengan bergandengan tangan bersama Rafif memasuki sebuah toko perlengkapan bayi.Toko tersebut cukup ramai siang ini, membuat Alea dan Rafif sedikit berdesak-desakan.Setelah mendapatkan tempat yang lebih leluasa, Alea dan Rafif langsung sibuk memilih berbagai macam barang untuk persiapan menyambut kelahiran buah hati mereka.Saat tengah asyik memilih barang, ponsel Rafif berdering.“Sayang, aku jawab telepon Tomi dulu!” ujar Rafif.“Oke mas,” jawab Alea.Lalu Rafif pergi ke tempat sepi dan menjawab telepon Tomi.Rafif berbincang di telepon cukup lama

    Last Updated : 2025-01-03
  • Jodoh di Tangan Kakek   73. Pencarian

    Rafif terbangun di sebuah ruangan, yang baru diketahui ternyata itu adalah sebuah ruangan di kantor Wira.Wira tahu pencariannya tidak akan mudah, makanya dia mengajak Rafif bersama yang lainnya untuk menunggu dikantornya, sementara Wira mengerahkan tim untuk mulai bertindak.Banyak orang yang diturunkan Wira yang dibagi ke beberapa wilayah, mereka diperintahkan untuk menyisir setiap daerah demi mencari keberadaan Alea.“Jika sampai jam 7 malam ini kalian tidak menemukannya, maka wilayah pencarian kita perluas keluar daerah!” titah Wira.Tanpa menunggu lama, semua orang mulai bergerak mencari keberadaan Alea.“Azfar!” panggil Rafif pada Azfar saat dia terbangun.Azfar terkejut, Rafif memanggil namanya berarti Rafif sudah mengingat banyak hal tentang mereka.Azfar lalu bergegas mengambilkan Rafif segelas air.“Minum dulu!” ujar Azfar.Rafif menerima air itu lalu meminumnya.“Kita harus temukan Alea secepatnya!” ujar Rafif.“Iya, kita sedang mengusahakannya. Tenanglah dulu!” jawab Azfar.

    Last Updated : 2025-01-03
  • Jodoh di Tangan Kakek   74. Dugaan

    Setelah sampai tepat didepan rumah itu, Rafif menendang pintu dengan keras, lalu seketika pintu itu terbuka.Dan ternyata rumah itu kosong, tidak ada benda apapun apalagi keberadaan manusia.Rafif bersama dengan Azfar mencoba menelusuri rumah itu lebih dalam, namun mereka tidak menemukan apapun di setiap ruangan yang ada.Kesabaran Rafif mulai hilang, hatinya dipenuhi dengan ketakutan dan emosinya mulai menguasai dirinya.“Br*ngsek!” umpat Rafif.“Tenanglah! Ayo kembali dulu,” ajak Azfar.Saat melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu, ponsel Rafif kembali berdering.“Hahaha! Apa kau menemukan sesuatu disana? Sayang sekali kau tidak berhasil menemukan keberadaan kami!” ucap pria itu.“Kau br*ngsek! Tunggu saja aku benar-benar akan memb*nuhmu!” umpat Rafif di telepon.Setelah menutup telepon itu Rafif meminta Wira memastikan apakah mobil sewaan milik Dino masih ada ditempatnya. Lalu meminta melacak keberadaan Dino melalui nomor telepon yang baru saja menghubunginya.Benar saja ternyata

    Last Updated : 2025-01-04
  • Jodoh di Tangan Kakek   75. Negosiasi

    “Aku tak merebutnya darimu! Aku memang terlahir sebagai jodoh Rafif, jadi kau tidak perlu repot-repot melakukan apapun untuk menghancurkan kami. Karena hanya akan sia-sia!” ucap Alea pelan namun menusuk ke hati Yesi.Kalimat Alea benar-benar menohok di hati Yesi. Dia semakin merasa geram dan seketika ingin menyakiti Alea dengan tangannya sendiri.“Kurang ajar kau! Tunggu saja apa yang akan ku perbuat pada kalian!” bentak Yesi di telepon.Setelahnya, Alea mengabaikan perkataan Yesi lalu hendak mengembalikan ponsel pada pria itu.Namun saat Alea berbalik, tiba-tiba saja…‘brug!’ suara pintu dibanting dengan keras dan seketika itu Alea melihat kedatangan Rafif di ambang pintu.“Mas!” Alea langsung terduduk karena senang akhirnya Rafif menemukannya.Pria yang bernama Dino itu terkejut karena ternyata Rafif bergerak sangat cepat sehingga menemukan mereka dengan mudah.Karena merasa terancam, Dino mengeluarkan sebuah belati dari saku bajunya dan menyandera tubuh Alea dengan pisau tepat didep

    Last Updated : 2025-01-04

Latest chapter

  • Jodoh di Tangan Kakek   128. Akhir

    “Good morning sayang,” bisik Rafif di telinga Alea.Perlahan Alea membuka matanya. Hal yang pertama kali dia lihat tentu saja suaminya, Rafif.Alea tersenyum teramat manis, membuat rasa cinta selalu mekar di hati Rafif setiap harinya, meskipun pernikahan mereka telah berlangsung bertahun-tahun.“Anak-anak dimana?” tanya Alea.“Di luar, ayo kesana!” ajak Rafif.Alea mengangguk kemudian bangkit dari tempat tidurnya.“Ternyata sudah siang ya?” tanya Alea melihat jendela kamarnya sudah terbuka dan cahaya matahari masuk menerobos melalui celah-celah gorden yang tertiup angin.Lalu, Alea berjalan mendekati jendela dan menyibak kain gorden yang menghalangi pandangannya.Di depan sana, terdapat hamparan pasir yang luas serta deburan ombak yang suaranya terdengar syahdu dari jendela kamar Alea.Pemandangan indah yang selalu Alea nikmati setiap pagi.Disinilah dia dan Rafif tinggal sekarang, sebuah mansion mewah yang terletak di sebuah pulau yang dikelilingi pepohonan rindang. Dan mansion mereka

  • Jodoh di Tangan Kakek   127. Drama Pagi

    Siang harinya, ayah sudah benar-benar pulang dari rumah sakit.Kejadian salah diagnosa yang sempat membuat terkejut kini hanya berlalu begitu saja. Sebab ketakutan mereka pada akhirnya tidak terjadi.Ayah hanya memerlukan pemeriksaan secara rutin dan mengkonsumsi obat yang disarankan agar kesehatannya bisa kembali seperti sedia kala.Hal ini tentu saja membuat bunda dan Rafif sangat lega. Ini artinya mereka bisa melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.Siang itu, semua urusan di rumah sakit telah selesai dan ayah bisa langsung kembali ke rumah.Bersamaan dengan itu, Zayn bersama dengan mama dan papa ternyata tiba di rumah ayah setelah menempuh perjalanan dari Puncak.“Papa!” panggil Zayn senang melihat Rafif yang baru saja menutup pintu mobil.“Nak!” sahut Rafif, kemudian menangkap Zayn di pelukannya.“Tadi di perjalanan ada yang terus menangis loh!” ucap mama.“Oh ya? Kenapa dia terus menangis oma?” tanya Rafif.“Sstt oma!” sahut Zayn.Rafif sontak tertawa mendengar Zayn yang

  • Jodoh di Tangan Kakek   126. Salah Diagnosa

    “Kondisi om Eddo saat ini cukup stabil dan sama sekali tidak berbahaya, juga jelas bukan karena penyakit jantung. Aku secara pribadi minta maaf karena diagnosa awal yang salah. Tapi, beliau tetap membutuhkan perawatan ekstra,” jelas Azfar pada bunda dan Rafif di ruangannya.“Memang apa yang sebenarnya terjadi?” tanya bunda.“Setelah melalui pemindaian CT Scan tadi aku menemukan sebuah gumpalan di pembuluh darah otak, ini yang menyebabkan om Eddo memejamkan matanya terus menerus.” Jawab Azfar.“Jadi, ayah tidak pingsan?” tanya Rafif.“Tidak, beliau hanya tertidur,” jawab Azfar.“Kondisi ini termasuk salah satu gejala stroke, beruntung beliau bisa langsung mendapatkan penanganan.” Jelas Azfar lagi.“Hhhh,” Rafif dan bunda bernapas dengan lega.“Lalu apa perawatan terbaik yang harus dilakukan?” tanya Rafif.“Besok kita lakukan test lab, setelah hasilnya keluar baru bisa diputuskan,” jawab Azfar.“Tapi apakah jantungnya benar-benar tidak masalah?” tanya bunda.“Sejauh ini, tidak ada tante

  • Jodoh di Tangan Kakek   125. Musibah 2

    “Mas! Ayah..” ucap Alea yang terengah-engah karena berlari.“Ayah kenapa?” tanya Rafif berdiri kemudian menghampiri Alea dan memegang kedua pundaknya. Dia melihat dengan jelas kalau Alea berlari terburu-buru, sehingga dia tidak memakai alas kaki.“Tadi ayah mengeluh dadanya sakit, lalu tiba-tiba ayah pingsan,” jelas Alea.“Apa?” tanya Rafif.Dokter yang juga mendengarnya segera berlari menuju ke ruangan ayah, begitu juga bunda yang baru saja merasa lega mendengar kondisi ayah, tiba-tiba kembali merasakan ketakutan yang begitu nyata.Rafif langsung menoleh ke arah bunda yang masih duduk di kursi depan meja dokter.Bunda hanya terdiam, tidak menangis, terlihat tenang, namun Rafif tahu dibaliknya ada ketakutan yang sangat dahsyat.“Sayang, pakai sandalku! Kamu tolong temani bunda ya, aku mau lihat keadaan ayah,” ucap Rafif.“Baik mas,” ucap Alea, kemudian menerima sandal milik Rafif dan menghampiri bunda.Sementara itu Rafif berlari kencang menyusul dokter yang sedang menangani ayahnya.

  • Jodoh di Tangan Kakek   124. Musibah

    Pasca merayakan ulang tahun Cindy, Alea dan Rafif yang baru saja memasuki kamar Villa untuk beristirahat, menerima sebuah telepon.Rafif yang baru saja merebahkan dirinya di tempat tidur mendengar ponselnya berdering, dia lalu bergegas melihat siapa penelepon tengah malam ini.Baru saja dia akan mengumpat karena merasa terganggu, dia urungkan saat melihat siapa yang menelepon.“Ada apa menelepon jam segini?” gumam Rafif.Perasaan yang semula tenang, mendadak menjadi penuh dengan kekhawatiran.“Halo bunda,” ujar Rafif.Alea yang berbaring disampingnya ikut berdiri sambil merasa heran karena ini hampir tengah malam.Hal yang pertama Rafif dengar adalah tangisan bunda, membuat ketakutan hinggap di sekujur tubuh Rafif.“Ada apa bunda?” tanya Rafif.“Ayahmu tidak sadarkan diri,” ucap bunda lirih.“Apa?” tanya Rafif terkejut.“Sekarang di rumah sakit,” jawab mama lemah.“Oke, aku kesana sekarang.” Jawab Rafif.Sebenarnya Rafif dipenuhi dengan keterkejutan, tetapi berusaha untuk tetap tenang

  • Jodoh di Tangan Kakek   123. Selamat Merayakan

    Cindy terbelalak sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.Bagaimana tidak terkejut? Kedatangannya disambut meriah oleh semua orang yang sangat dia kenal, seluruh keluarganya berkumpul termasuk ibu, bapak dan adik-adiknya dari Surabaya pun turut hadir.“Kalian juga disini? Kapan datang?” tanya Cindy pada keluarganya dan memeluknya satu persatu.“Tadi siang, Azfar juga yang jemput kita di bandara!” jawab bapak.“Jadi kamu bukan ke rumah sakit tadi siang?” tanya Cindy pada Azfar.“Untuk apa ke rumah sakit di akhir pekan?” Azfar balik bertanya.Sontak saja Cindy merasa jengkel karena merasa dikerjai.Jadi, siang tadi saat Azfar menerima telepon. Itu adalah telepon dari Bayu yang mengabari kalau dia dan keluarga sudah sampai di bandara.Azfar bergegas pergi menjemput mertua dna adik iparnya yang kemudian dia antarkan ke rumah mama untuk kemudian pergi ke puncak, tempat dimana mereka berada sekarang.Setelah Cindy menyapa keluarganya, dia juga menyapa mama, papa, Alea, Rafif lengkap den

  • Jodoh di Tangan Kakek   122. Badai telah Berlalu

    Butuh berbulan-bulan sampai Cindy bisa sembuh dan kembali seperti semula. Berdamai dengan diri sendiri dan menjadikan hal yang sudah berlalu sebagai pelajaran yang sangat berharga.Sekarang, Aksa sudah berusia 6 bulan waktu dimana dia mulai MPASI.“Besok Aksa sudah mulai MPASI, anterin aku belanja bahan makanan yuk?” ajak Cindy pada Azfar.“Boleh sayang,” jawab Azfar.“Sekalian kita ajak Aksa main di luar, kayaknya enak bersantai di taman. Biar dia gak jenuh,” ujar Cindy.“Hm, boleh!” jawab Azfar lagi sambil menemani Aksa bermain.“Kok cuma bilang boleh aja?” tanya Cindy.Saat hendak menjawab pertanyaan Cindy, ponsel Azfar berdering.“Maaf sayang, aku ada telepon sebentar.” Jawab Azfar sambil beranjak menjauh dari Cindy.“Telepon siapa? Kenapa harus menghindar?” gumam Cindy.Tapi Cindy tidak peduli, dia memilih sibuk bersama Aksa.“Sayang, belanjanya kita tunda dulu sampai sore ya? Aku ada telepon mendesak dari rumah sakit, ada hal yang harus diselesaikan,” ujar Azfar setelah kembali

  • Jodoh di Tangan Kakek   121. Healing

    “Selain itu, apa lagi yang kamu rasakan?” tanya dokter Mery.Cindy menarik napas perlahan, dia juga membenahi duduknya untuk mencari kenyamanan.“Saya sering merasa takut tidak bisa memenuhi kebutuhan anak saya, dokter,” ucapnya pelan.Dokter Mery mendekati Cindy dan menyentuh tangannya, Azfar menjauh sedikit dan mempersilahkan dokter Mery mendekat.“Sebagai seorang ibu, tentu kita selalu menginginkan yang terbaik untuk anak kita. Tetapi, jangan terlalu memaksakan diri. Tidak semua hal bisa dilakukan sendiri, kamu harus membuka diri pada orang sekitarmu. Kalau kamu butuh bantuan, mintalah pada orang terdekat. Termasuk pada suamimu, atau suamimu selama ini tidak pernah membantumu?” tanya dokter Mery.Cindy menggeleng cepat, dengan kesadaran penuh dia menjawab, “dia sudah sangat membantu dok, saya saja yang selalu mengabaikannya. Saya selalu merasa anak saya tidak boleh disentuh siapapun, termasuk oleh ayahnya sendiri. Hanya saya yang boleh mengurusnya,”Dokter Mery tersenyum hangat sem

  • Jodoh di Tangan Kakek   120. Baby Blues 2

    Keesokan harinya, Azfar kembali mencoba mengajak Cindy keluar rumah untuk sejenak beristirahat dari kegiatannya sebagai istri dan ibu.Tetapi lagi-lagi Azfar menerima penolakan dari Cindy.“Aku gak mau!” ujar Cindy saat menyusui Aksa.“Sebentar aja sayang,” bujuk Azfar.“Kalau gak mau ya gak mau! Kamu main aja sendiri!” jawab Cindy ketus.Azfar merasa, emosi Cindy kian hari kian tidak stabil, dia lebih mudah marah dari sebelumnya. Dia juga semakin jarang bicara, membuat Azfar merasa serba salah.“Tapi kamu gak baik-baik aja!” ucap Azfar dengan nada yang sedikit tinggi.“Siapa maksud kamu? Aku baik-baik saja kok!” sahut Cindy.Azfar semakin kehilangan kesabarannya, sudah seperti ini Cindy bahkan tidak menyadarinya.Dia menarik napas perlahan, kemudian menatap Aksa yang masih menempel pada Cindy. Azfar tertegun melihat Aksa yang berusia 2 bulan, tetapi belum menunjukan kenaikan berat badan yang stabil. Dia masih terlihat sangat kecil.Azfar tentu tahu ini disebabkan karena Cindy terlalu

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status