Rafif terbangun di sebuah ruangan, yang baru diketahui ternyata itu adalah sebuah ruangan di kantor Wira.Wira tahu pencariannya tidak akan mudah, makanya dia mengajak Rafif bersama yang lainnya untuk menunggu dikantornya, sementara Wira mengerahkan tim untuk mulai bertindak.Banyak orang yang diturunkan Wira yang dibagi ke beberapa wilayah, mereka diperintahkan untuk menyisir setiap daerah demi mencari keberadaan Alea.“Jika sampai jam 7 malam ini kalian tidak menemukannya, maka wilayah pencarian kita perluas keluar daerah!” titah Wira.Tanpa menunggu lama, semua orang mulai bergerak mencari keberadaan Alea.“Azfar!” panggil Rafif pada Azfar saat dia terbangun.Azfar terkejut, Rafif memanggil namanya berarti Rafif sudah mengingat banyak hal tentang mereka.Azfar lalu bergegas mengambilkan Rafif segelas air.“Minum dulu!” ujar Azfar.Rafif menerima air itu lalu meminumnya.“Kita harus temukan Alea secepatnya!” ujar Rafif.“Iya, kita sedang mengusahakannya. Tenanglah dulu!” jawab Azfar.
Setelah sampai tepat didepan rumah itu, Rafif menendang pintu dengan keras, lalu seketika pintu itu terbuka.Dan ternyata rumah itu kosong, tidak ada benda apapun apalagi keberadaan manusia.Rafif bersama dengan Azfar mencoba menelusuri rumah itu lebih dalam, namun mereka tidak menemukan apapun di setiap ruangan yang ada.Kesabaran Rafif mulai hilang, hatinya dipenuhi dengan ketakutan dan emosinya mulai menguasai dirinya.“Br*ngsek!” umpat Rafif.“Tenanglah! Ayo kembali dulu,” ajak Azfar.Saat melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu, ponsel Rafif kembali berdering.“Hahaha! Apa kau menemukan sesuatu disana? Sayang sekali kau tidak berhasil menemukan keberadaan kami!” ucap pria itu.“Kau br*ngsek! Tunggu saja aku benar-benar akan memb*nuhmu!” umpat Rafif di telepon.Setelah menutup telepon itu Rafif meminta Wira memastikan apakah mobil sewaan milik Dino masih ada ditempatnya. Lalu meminta melacak keberadaan Dino melalui nomor telepon yang baru saja menghubunginya.Benar saja ternyata
“Aku tak merebutnya darimu! Aku memang terlahir sebagai jodoh Rafif, jadi kau tidak perlu repot-repot melakukan apapun untuk menghancurkan kami. Karena hanya akan sia-sia!” ucap Alea pelan namun menusuk ke hati Yesi.Kalimat Alea benar-benar menohok di hati Yesi. Dia semakin merasa geram dan seketika ingin menyakiti Alea dengan tangannya sendiri.“Kurang ajar kau! Tunggu saja apa yang akan ku perbuat pada kalian!” bentak Yesi di telepon.Setelahnya, Alea mengabaikan perkataan Yesi lalu hendak mengembalikan ponsel pada pria itu.Namun saat Alea berbalik, tiba-tiba saja…‘brug!’ suara pintu dibanting dengan keras dan seketika itu Alea melihat kedatangan Rafif di ambang pintu.“Mas!” Alea langsung terduduk karena senang akhirnya Rafif menemukannya.Pria yang bernama Dino itu terkejut karena ternyata Rafif bergerak sangat cepat sehingga menemukan mereka dengan mudah.Karena merasa terancam, Dino mengeluarkan sebuah belati dari saku bajunya dan menyandera tubuh Alea dengan pisau tepat didep
“Alea, sebaiknya kamu pulang bersama kakak ya?” usul Rafif pada Alea.“Iya, kamu terlalu kelelahan. Kasihan bayi kamu,” ujar Azfar.Alea menimbang perkataan suaminya dan kakaknya.“Zayn juga pasti sedang menunggumu. Pulanglah ke rumah mama dan minta kak Cindy untuk memeriksa bayi kita,” ujar Rafif lagi sambil mengelus lembut perut Alea.“Segeralah pulang jika sudah selesai, aku akan menunggumu,” ucap Alea.“Istirahatlah lebih dulu, tidak perlu menungguku. Aku akan pulang jika semuanya benar-benar selesai,” jawab Rafif.“Kamu hati-hati ya!” ujar Alea.“Iya sayang,” jawab Rafif lalu memeluk Alea sekilas dan mencium keningnya.Alea merasakan tatapan Rafif berbeda dari sebelumnya, banyak sekali kekhawatiran di mata Rafif. Dia juga terlihat sangat kelelahan.Jam 9 malam, Alea tiba di rumah dengan disambut mama.“Sayang, kamu kenapa?” mama menjerit tatkala melihat penampilan Alea yang berantakan. Ada bekas luka di leher dan pipi, rambutnya acak-acakan dan bajunya kotor.“Ceritanya panjang ma
Rafif tiba di rumah sekitar pukul 02.00 pagi, setelah menyelesaikan laporan di kantor polisi dan memberikan banyak bukti terkait penculikan Alea yang dilakukan oleh Yesi.Dia disambut Azfar yang memang sedang menunggunya untuk kembali.“Bagaimana? Apakah sudah selesai?” tanya Azfar.“Aku sudah membuat laporan dan menyerahkan semua bukti, kita tunggu sampai penyelidikan selesai,” jawab Rafif.“Aku minta polisi untuk menghukumnya seberat-beratnya, aku tidak akan menerima banding apapun,” sambung Rafif.“Syukurlah, semua sudah ditangani pihak kepolisian,” ujar Azfar sambil menepuk pundak adik iparnya.“Sayang, badan Alea panas banget!” ujar Cindy berlari menuruni tangga menghampiri Azfar. Dia tidak tahu kalau Rafif sudah tiba di rumah.Mendengar itu Rafif langsung berlari menuju kamarnya.Sesampainya di kamar, Rafif memeriksa keadaan Alea, dia mulai menyentuh keningnya. Alea sedang tertidur, namun suhu badannya naik sampai 39 derajat.“Panas sekali,” gumam Rafif.“Biar ku pasangkan infus!
Beberapa hari berlalu, kasus penculikan yang dilakukan oleh Yesi akhirnya selesai melalui putusan sidang. Yesi di jatuhi hukuman 4 tahun penjara dan denda sebesar 100 juta rupiah.Selain itu, fakta lain dari kejahatan Yesi adalah dia mengidap penyakit mental dan menggunakan obat-obatan terlarang sehingga mengakibatkan hukumannya ditambah 2 tahun untuk proses rehabilitasi. Sehingga total waktu hukuman yang di terima Yesi menjadi 6 tahun.Sementara Dino yang bertindak sebagai kaki tangan Yesi hanya diberikan hukuman selama 1 tahun penjara karena dia telah membantu proses penyelidikan dan dengan jujur mengakui kejahatannya.Tante Indri, yang ikut hadir dalam persidangan berteriak histeris saat hakim mengetuk palu setelah menyebutkan hukuman Yesi.Rafif cukup puas atas hasil dari persidangan ini, 6 tahun waktu yang sangat pantas untuk Yesi terima.Rafif menegaskan tidak akan ada banding atau menerima permohonan damai dari Yesi. Sebab Rafif telah benci dengan sikap Yesi karena berulang kali
Setelah keadaan kembali tenang, Rafif dan Alea menjalani hari-hari seperti biasanya.Kehamilan keduanya membuat Alea lebih lemah dari sebelumnya, keadaan yang jauh berbeda saat Alea mengandung Zayn dulu.Terlebih, Alea mengalami kejadian yang cukup membuatnya trauma di trimester akhir kehamilannya.Semenjak hari penculikan, keadaan Alea semakin memburuk setiap harinya, dia seperti kehilangan tenaganya, lemah tak berdaya.Sejauh apapun Alea berusaha untuk kuat, dia selalu merasa limbung dan lelah. Akhirnya selama sisa waktu penantiannya menuju kelahiran putra keduanya, Alea habiskan hanya di atas ranjang.“Mas, maaf ya aku merepotkan kamu terus,” ujar Alea setelah Rafif menyuapinya makan. Meskipun sulit untuk mencernanya, Rafif tetap memaksa Alea untuk makan sebab jika tidak, Alea akan benar-benar kehabisan tenaga.“Repot apanya sayang, ini sudah jadi kewajibanku untuk menjaga dan merawatmu,” jawab Rafif.“Tapi kali ini aku benar-benar tidak bisa apa-apa, rasanya tenagaku habis dan aku
Rafif memasuki rumah dengan langkah gontai, dia seperti telah kehilangan separuh nyawanya.Rafif tidak menyangka akan kehilangan orang tercintanya secepat ini. Hal yang sangat dia takuti sejak terakhir kali.Dia duduk di ruang tamu dengan mata sembab sehabis menangis. Pakaiannya yang serba hitam lusuh terkena guguran tanah kuburan.Rumah mertuanya kini dipadati oleh orang-orang yang turut berbela sungkawa.Banyak rekan dan keluarga jauh yang datang, mereka menyalami dan menguatkan Rafif satu per satu.“Turut berduka cita, kak Rafif! Semoga kamu diberikan ketabahan,” ujar Najwa dekat Alea. Mata Najwa juga sembab sehabis menangis.“Terima kasih,” jawab Rafif.Rafif masih berusaha tegar saat para tamu mendatanginya mengucapkan duka. Tetapi tatapan mata Rafif kosong karena dipenuhi dengan kabut duka yang mendalam.Bunda duduk bersamanya di sampingnya, sambil terus memegangi punggungnya mencoba memberikan kekuatan.“Istirahatlah, kamu sangat kelelahan. Kamu bahkan tidak tidur selama beberap
“Good morning sayang,” bisik Rafif di telinga Alea.Perlahan Alea membuka matanya. Hal yang pertama kali dia lihat tentu saja suaminya, Rafif.Alea tersenyum teramat manis, membuat rasa cinta selalu mekar di hati Rafif setiap harinya, meskipun pernikahan mereka telah berlangsung bertahun-tahun.“Anak-anak dimana?” tanya Alea.“Di luar, ayo kesana!” ajak Rafif.Alea mengangguk kemudian bangkit dari tempat tidurnya.“Ternyata sudah siang ya?” tanya Alea melihat jendela kamarnya sudah terbuka dan cahaya matahari masuk menerobos melalui celah-celah gorden yang tertiup angin.Lalu, Alea berjalan mendekati jendela dan menyibak kain gorden yang menghalangi pandangannya.Di depan sana, terdapat hamparan pasir yang luas serta deburan ombak yang suaranya terdengar syahdu dari jendela kamar Alea.Pemandangan indah yang selalu Alea nikmati setiap pagi.Disinilah dia dan Rafif tinggal sekarang, sebuah mansion mewah yang terletak di sebuah pulau yang dikelilingi pepohonan rindang. Dan mansion mereka
Siang harinya, ayah sudah benar-benar pulang dari rumah sakit.Kejadian salah diagnosa yang sempat membuat terkejut kini hanya berlalu begitu saja. Sebab ketakutan mereka pada akhirnya tidak terjadi.Ayah hanya memerlukan pemeriksaan secara rutin dan mengkonsumsi obat yang disarankan agar kesehatannya bisa kembali seperti sedia kala.Hal ini tentu saja membuat bunda dan Rafif sangat lega. Ini artinya mereka bisa melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.Siang itu, semua urusan di rumah sakit telah selesai dan ayah bisa langsung kembali ke rumah.Bersamaan dengan itu, Zayn bersama dengan mama dan papa ternyata tiba di rumah ayah setelah menempuh perjalanan dari Puncak.“Papa!” panggil Zayn senang melihat Rafif yang baru saja menutup pintu mobil.“Nak!” sahut Rafif, kemudian menangkap Zayn di pelukannya.“Tadi di perjalanan ada yang terus menangis loh!” ucap mama.“Oh ya? Kenapa dia terus menangis oma?” tanya Rafif.“Sstt oma!” sahut Zayn.Rafif sontak tertawa mendengar Zayn yang
“Kondisi om Eddo saat ini cukup stabil dan sama sekali tidak berbahaya, juga jelas bukan karena penyakit jantung. Aku secara pribadi minta maaf karena diagnosa awal yang salah. Tapi, beliau tetap membutuhkan perawatan ekstra,” jelas Azfar pada bunda dan Rafif di ruangannya.“Memang apa yang sebenarnya terjadi?” tanya bunda.“Setelah melalui pemindaian CT Scan tadi aku menemukan sebuah gumpalan di pembuluh darah otak, ini yang menyebabkan om Eddo memejamkan matanya terus menerus.” Jawab Azfar.“Jadi, ayah tidak pingsan?” tanya Rafif.“Tidak, beliau hanya tertidur,” jawab Azfar.“Kondisi ini termasuk salah satu gejala stroke, beruntung beliau bisa langsung mendapatkan penanganan.” Jelas Azfar lagi.“Hhhh,” Rafif dan bunda bernapas dengan lega.“Lalu apa perawatan terbaik yang harus dilakukan?” tanya Rafif.“Besok kita lakukan test lab, setelah hasilnya keluar baru bisa diputuskan,” jawab Azfar.“Tapi apakah jantungnya benar-benar tidak masalah?” tanya bunda.“Sejauh ini, tidak ada tante
“Mas! Ayah..” ucap Alea yang terengah-engah karena berlari.“Ayah kenapa?” tanya Rafif berdiri kemudian menghampiri Alea dan memegang kedua pundaknya. Dia melihat dengan jelas kalau Alea berlari terburu-buru, sehingga dia tidak memakai alas kaki.“Tadi ayah mengeluh dadanya sakit, lalu tiba-tiba ayah pingsan,” jelas Alea.“Apa?” tanya Rafif.Dokter yang juga mendengarnya segera berlari menuju ke ruangan ayah, begitu juga bunda yang baru saja merasa lega mendengar kondisi ayah, tiba-tiba kembali merasakan ketakutan yang begitu nyata.Rafif langsung menoleh ke arah bunda yang masih duduk di kursi depan meja dokter.Bunda hanya terdiam, tidak menangis, terlihat tenang, namun Rafif tahu dibaliknya ada ketakutan yang sangat dahsyat.“Sayang, pakai sandalku! Kamu tolong temani bunda ya, aku mau lihat keadaan ayah,” ucap Rafif.“Baik mas,” ucap Alea, kemudian menerima sandal milik Rafif dan menghampiri bunda.Sementara itu Rafif berlari kencang menyusul dokter yang sedang menangani ayahnya.
Pasca merayakan ulang tahun Cindy, Alea dan Rafif yang baru saja memasuki kamar Villa untuk beristirahat, menerima sebuah telepon.Rafif yang baru saja merebahkan dirinya di tempat tidur mendengar ponselnya berdering, dia lalu bergegas melihat siapa penelepon tengah malam ini.Baru saja dia akan mengumpat karena merasa terganggu, dia urungkan saat melihat siapa yang menelepon.“Ada apa menelepon jam segini?” gumam Rafif.Perasaan yang semula tenang, mendadak menjadi penuh dengan kekhawatiran.“Halo bunda,” ujar Rafif.Alea yang berbaring disampingnya ikut berdiri sambil merasa heran karena ini hampir tengah malam.Hal yang pertama Rafif dengar adalah tangisan bunda, membuat ketakutan hinggap di sekujur tubuh Rafif.“Ada apa bunda?” tanya Rafif.“Ayahmu tidak sadarkan diri,” ucap bunda lirih.“Apa?” tanya Rafif terkejut.“Sekarang di rumah sakit,” jawab mama lemah.“Oke, aku kesana sekarang.” Jawab Rafif.Sebenarnya Rafif dipenuhi dengan keterkejutan, tetapi berusaha untuk tetap tenang
Cindy terbelalak sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.Bagaimana tidak terkejut? Kedatangannya disambut meriah oleh semua orang yang sangat dia kenal, seluruh keluarganya berkumpul termasuk ibu, bapak dan adik-adiknya dari Surabaya pun turut hadir.“Kalian juga disini? Kapan datang?” tanya Cindy pada keluarganya dan memeluknya satu persatu.“Tadi siang, Azfar juga yang jemput kita di bandara!” jawab bapak.“Jadi kamu bukan ke rumah sakit tadi siang?” tanya Cindy pada Azfar.“Untuk apa ke rumah sakit di akhir pekan?” Azfar balik bertanya.Sontak saja Cindy merasa jengkel karena merasa dikerjai.Jadi, siang tadi saat Azfar menerima telepon. Itu adalah telepon dari Bayu yang mengabari kalau dia dan keluarga sudah sampai di bandara.Azfar bergegas pergi menjemput mertua dna adik iparnya yang kemudian dia antarkan ke rumah mama untuk kemudian pergi ke puncak, tempat dimana mereka berada sekarang.Setelah Cindy menyapa keluarganya, dia juga menyapa mama, papa, Alea, Rafif lengkap den
Butuh berbulan-bulan sampai Cindy bisa sembuh dan kembali seperti semula. Berdamai dengan diri sendiri dan menjadikan hal yang sudah berlalu sebagai pelajaran yang sangat berharga.Sekarang, Aksa sudah berusia 6 bulan waktu dimana dia mulai MPASI.“Besok Aksa sudah mulai MPASI, anterin aku belanja bahan makanan yuk?” ajak Cindy pada Azfar.“Boleh sayang,” jawab Azfar.“Sekalian kita ajak Aksa main di luar, kayaknya enak bersantai di taman. Biar dia gak jenuh,” ujar Cindy.“Hm, boleh!” jawab Azfar lagi sambil menemani Aksa bermain.“Kok cuma bilang boleh aja?” tanya Cindy.Saat hendak menjawab pertanyaan Cindy, ponsel Azfar berdering.“Maaf sayang, aku ada telepon sebentar.” Jawab Azfar sambil beranjak menjauh dari Cindy.“Telepon siapa? Kenapa harus menghindar?” gumam Cindy.Tapi Cindy tidak peduli, dia memilih sibuk bersama Aksa.“Sayang, belanjanya kita tunda dulu sampai sore ya? Aku ada telepon mendesak dari rumah sakit, ada hal yang harus diselesaikan,” ujar Azfar setelah kembali
“Selain itu, apa lagi yang kamu rasakan?” tanya dokter Mery.Cindy menarik napas perlahan, dia juga membenahi duduknya untuk mencari kenyamanan.“Saya sering merasa takut tidak bisa memenuhi kebutuhan anak saya, dokter,” ucapnya pelan.Dokter Mery mendekati Cindy dan menyentuh tangannya, Azfar menjauh sedikit dan mempersilahkan dokter Mery mendekat.“Sebagai seorang ibu, tentu kita selalu menginginkan yang terbaik untuk anak kita. Tetapi, jangan terlalu memaksakan diri. Tidak semua hal bisa dilakukan sendiri, kamu harus membuka diri pada orang sekitarmu. Kalau kamu butuh bantuan, mintalah pada orang terdekat. Termasuk pada suamimu, atau suamimu selama ini tidak pernah membantumu?” tanya dokter Mery.Cindy menggeleng cepat, dengan kesadaran penuh dia menjawab, “dia sudah sangat membantu dok, saya saja yang selalu mengabaikannya. Saya selalu merasa anak saya tidak boleh disentuh siapapun, termasuk oleh ayahnya sendiri. Hanya saya yang boleh mengurusnya,”Dokter Mery tersenyum hangat sem
Keesokan harinya, Azfar kembali mencoba mengajak Cindy keluar rumah untuk sejenak beristirahat dari kegiatannya sebagai istri dan ibu.Tetapi lagi-lagi Azfar menerima penolakan dari Cindy.“Aku gak mau!” ujar Cindy saat menyusui Aksa.“Sebentar aja sayang,” bujuk Azfar.“Kalau gak mau ya gak mau! Kamu main aja sendiri!” jawab Cindy ketus.Azfar merasa, emosi Cindy kian hari kian tidak stabil, dia lebih mudah marah dari sebelumnya. Dia juga semakin jarang bicara, membuat Azfar merasa serba salah.“Tapi kamu gak baik-baik aja!” ucap Azfar dengan nada yang sedikit tinggi.“Siapa maksud kamu? Aku baik-baik saja kok!” sahut Cindy.Azfar semakin kehilangan kesabarannya, sudah seperti ini Cindy bahkan tidak menyadarinya.Dia menarik napas perlahan, kemudian menatap Aksa yang masih menempel pada Cindy. Azfar tertegun melihat Aksa yang berusia 2 bulan, tetapi belum menunjukan kenaikan berat badan yang stabil. Dia masih terlihat sangat kecil.Azfar tentu tahu ini disebabkan karena Cindy terlalu