Akhir-akhir ini Rafif disibukan dengan berbagai pekerjaan.Dia sering pulang terlambat dan terkadang tidak pulang sama sekali.Sebagai CEO perusahaan, ini bukanlah hal yang asing. Makanya Alea harus selalu siap jika perhatian Rafif terbagi antara untuk dirinya dan pekerjaannya.Apalagi perusahaan Rafif yang sudah semakin besar dan memiliki cabang di berbagai Negara membuat Rafif harus sering melakukan perjalanan bisnis demi memastikan semuanya berjalan baik.Hari ini Rafif pulang ke rumah setelah seharian sibuk di kantornya. Dalam minggu ini dia tidak punya jadwal perjalanan, sehingga bisa memiliki banyak waktu untuk dihabiskan dengan Alea.“Mas, aku kayaknya pengen makan nasi padang!” ucap Alea begitu Rafif sampai dirumah.“Mama kamu kan punya restoran Padang, tinggal telepon aja,” jawab Rafif singkat.“Gak mau masakan Mama!” ujar Alea.“Terus?” tanya Rafif.“Pengen makan di Padang langsung!” sahut Alea.“Ya ampun Alea! Kok random banget sih?” tanya Rafif gemas.“Bawaan bayi mas! Ayol
Sepanjang perjalanan kembali ke Jakarta, Rafif dan Alea saling diam.Mereka sibuk dengan isi kepala masing-masing.Sampai akhirnya mereka tiba di rumah, Rafif langsung berganti pakaian dan berangkat ke kantor tanpa berpamitan pada Alea.Alea yang merasa lelah, membiarkan Rafif pergi begitu saja.Sementara Rafif langsung melanjutkan kesibukannya selama seharian penuh, tanpa mengabari Alea sebagaimana biasanya. Bukan tidak ingin, dia benar-benar tidak sempat.Jauh dalam lubuk hati Alea, dia menunggu Rafif menghubunginya untuk sekedar bertanya apakah dia sudah makan.Namun hingga sore tiba, satu pesanpun tidak muncul di ponsel Alea.Alea sempat berpikir, mungkin Rafif marah akibat sikap Alea di Padang kemarin.Alea juga tidak ingin membuat Rafif lelah, tapi dia juga tidak bisa memahami kenapa keinginannya seperti tidak ingin menerima penolakan sekalipun.Selain itu, mood nya akhir-akhir ini memang terasa kacau. Selain karena kehamilan yang sudah memasuki trimester akhir ditambah Rafif yan
Rafif kembali dalam dua hari sesuai dengan ucapannya, setelah memarkirkan mobilnya dia bergegas memasuki rumah dan mencari Alea.Saat tiba di kamar dia melihat Alea yang sedang fokus membaca sebuah buku dengan memakai headphone di kepalanya, sehingga tidak menyadari kedatangan Rafif.Rafif tersenyum melihat Alea.Dia menghampirinya dan melepaskan headphone Alea pelan.“Alea, aku rindu.”Alea menatap suaminya lekat. Terlihat wajah sayu disana, Alea tidak tahu tekanan seperti apa yang sedang dihadapi Rafif. Tapi dia mengerti, Rafif saat ini benar-benar sedang membutuhkannya.“Kamu sudah makan?” tanyanya lembut.Rafif menggeleng. Tubuhnya lebih kurus daripada dua hari yang lalu.“Kamu mandi dulu, aku siapin makan,” ujar Alea.“Makasih sayang,” ucap Rafif.Alea lalu beranjak ke dapur dan membuatkan Rafif makan malam.Setelah mandi Rafif turun dan makan bersama dengan Alea.“Bagaimana hasil pemeriksaan kemarin?” tanya Rafif.“Hasilnya baik,” jawab Alea. Dia lalu menjelaskan apa yang dikatak
“Kak, apa aku boleh menangis?” tanya Alea pada Cindy.“Ada apa Alea?” tanya Cindy balik. Dia melihat Alea dengan penuh kekhawatiran.Alea lalu menceritakan semua yang terjadi di antara dirinya dan Rafif. Tentang perang dingin yang telah dimulai beberapa waktu lalu, tentang Rafif yang sibuk dengan pekerjaannya, sampai pada dugaan perselingkuhan Rafif.Alea menangis tersedu-sedu. Cindy mengambilkan segelas air putih dan membiarkan Alea meluapkan emosinya dulu sampai dia benar-benar tenang.Setelah sedikit mereda, Cindy memeluk Alea mencoba memberikan kekuatan untuk calon adik iparnya.“Kamu jangan terlalu cepat menyimpulkan, Rafif mungkin benar-benar sedang sibuk saat ini. Dia tidak akan sampai hati menyelingkuhi kamu, perjuangan dia untuk mendapatkanmu itu lebih dari sepuluh tahun,” ucap Cindy mencoba menenangkan.“Baik sepuluh tahun atau lima puluh tahun sekalipun, jika ada orang yang lebih memikat hatinya tetap akan terjadi kak,” jawab Alea.“Apalagi sejak perutku membesar aku tidak b
Rafif berlari ke kamarnya begitu tiba di rumah.Dia mencari keberadaan Alea. Dia tahu Alea saat ini pasti sedang terluka dengan adanya kabar palsu tentang dirinya.Rafif tidak menemukan Alea di kamar, dia melihat lemari yang terbuka seiring dengan menghilangnya baju-baju miliknya Alea.Hatinya berkecamuk.Dia lalu berlari menghampiri bi Imas dan menggedor-gedor pintu kamar bi Imas.“Alea kemana bi?” tanyanya tak sabar sesaat setelah bi Imas membuka pintu.“Non Alea pulang ke rumah bapak dan ibu den,” ucap bi Imas dengan terus menunduk. Dia tidak berani menatap Rafif.Tanpa berpikir, Rafif langsung berlari ke mobilnya dan mengendarinya dengan kecepatan penuh menuju ke rumah mertuanya.Pikirannya benar-benar kacau, bagaimana pandangan mertuanya terhadapnya nanti?Tapi dia tidak akan menyerah begitu saja, dia tahu dia tidak bersalah.Rafif sampai di rumah mertuanya, dia menerobos masuk hendak mencari Alea.Tapi tiba-tiba saja Azfar mencekal langkahnya dan memberikan sebuah tinju keras tep
Di ruang interogasi kantor kepolisian Bali, Rafif menyaksikan tersangka penyebar foto dirinya dengan Selena sedang melakukan pemeriksaan Polisi.Disana juga telah hadir Selena dan Alex kekasihnya.“Saya hanya orang suruhan pak!” ujar tersangka menggema di seluruh ruangan.“Siapa yang menyuruhmu?” tanya pak Polisi.Tersangka tersebut kebingungan, dia tidak berani menyebutkan nama orang yang memberinya perintah.“Cepat katakan!” bentak Polisi.“Jika kau tidak mengatakannya, maka hukumanmu akan lebih berat! Sementara orang yang menyuruhmu sedang menghirup udara bebas diluar sana, apa kau ikhlas menerimanya?” sambung pak Polisi.Tersangka gelisah, dia memikirkan bagaimana jika dirinya mendekam dibalik jeruji, sementara bosnya masih hidup dengan tenang diluar sana.Dengan suara lemah dia menyebutkan sebuah nama.“Dia Edward.”Mendengar nama yang disebut, Selena terkejut.“Hah?” Selena menangkup wajah dengan kedua tangannya.Selena tahu siapa Edward. Seketika dia bergetar ketakutan.“Ada apa
“Kamu dimana? Papa harap kamu segera kembali, Alea membutuhkanmu,” ucap Papa dalam panggilan telepon saat Rafif tengah berjalan menuju pesawat.Rafif tercekat, hatinya bergemuruh hebat. Dia mengkhawatirkan keadaan istrinya saat ini.Dia tidak mengetahui kabar Alea lagi sejak tadi siang dia pingsan didepan matanya. Setetes air mata mengalir di wajah Rafif. Dia menyesali semua yang terjadi.“Aku sedang dalam perjalanan, Pa. Tunggulah sebentar lagi,” jawab Rafif dengan suara yang sedikit bergetar.***Rafif duduk bersimpuh dengan dua tangannya mengepal. Dia harus segera menjelaskan apa yang terjadi pada semua orang.Dihadapannya telah hadir Papa, Ayah, Mama, Bunda beserta Azfar.Sementara Cindy menemani Alea di kamar.“Apa yang akan kau sampaikan?” tanya Ayah dengan sorot mata tajam.Rafif lalu menjelaskan semua yang terjadi, tentang fotonya dengan Selena dan semua yang dia temukan di Bali.“Edward?” tanya Ayah saat Rafif menyebutkan sebuah nama.Rafif mengangguk, lalu kembali menjelaskan
Alea terbangun di pagi hari dengan penuh keheranan.Alea mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi pada dirinya kemarin.Seketika dia melihat potongan-potongan ingatan tentang Rafif, Alea mengingat dirinya yang menerima pesan dari nomor tak dikenal, dia juga mengingat foto-foto tentang suaminya dengan seorang wanita.Alea pun mengingat bagaimana dia dan Rafif bertengkar hebat.Dia menghembuskan nafas panjang.Kemudian dia merasakan beban berat di pinggangnya, ternyata sebuah tangan melingkar dari balik badannya.Alea membalikan badannya, dia terkejut dengan keberadaan Rafif disana.Bersamaan dengan itu Rafif membuka matanya, dia tersenyum pada Alea.“Kenapa kamu disini?” tanya Alea sinis.“Aku sudah disini sejak tadi malam, sayang,” jawab Rafif.“Pergi! Aku gak mau ketemu kamu.”Rafif memijat keningnya, dia berusaha mengumpulkan kesadarannya.“Alea, kita sudah baik-baik saja semalam!” ujar Rafif dengan sedikit meninggikan suara.Dia heran dengan sikap Alea, semalam dia begitu baik
“Good morning sayang,” bisik Rafif di telinga Alea.Perlahan Alea membuka matanya. Hal yang pertama kali dia lihat tentu saja suaminya, Rafif.Alea tersenyum teramat manis, membuat rasa cinta selalu mekar di hati Rafif setiap harinya, meskipun pernikahan mereka telah berlangsung bertahun-tahun.“Anak-anak dimana?” tanya Alea.“Di luar, ayo kesana!” ajak Rafif.Alea mengangguk kemudian bangkit dari tempat tidurnya.“Ternyata sudah siang ya?” tanya Alea melihat jendela kamarnya sudah terbuka dan cahaya matahari masuk menerobos melalui celah-celah gorden yang tertiup angin.Lalu, Alea berjalan mendekati jendela dan menyibak kain gorden yang menghalangi pandangannya.Di depan sana, terdapat hamparan pasir yang luas serta deburan ombak yang suaranya terdengar syahdu dari jendela kamar Alea.Pemandangan indah yang selalu Alea nikmati setiap pagi.Disinilah dia dan Rafif tinggal sekarang, sebuah mansion mewah yang terletak di sebuah pulau yang dikelilingi pepohonan rindang. Dan mansion mereka
Siang harinya, ayah sudah benar-benar pulang dari rumah sakit.Kejadian salah diagnosa yang sempat membuat terkejut kini hanya berlalu begitu saja. Sebab ketakutan mereka pada akhirnya tidak terjadi.Ayah hanya memerlukan pemeriksaan secara rutin dan mengkonsumsi obat yang disarankan agar kesehatannya bisa kembali seperti sedia kala.Hal ini tentu saja membuat bunda dan Rafif sangat lega. Ini artinya mereka bisa melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.Siang itu, semua urusan di rumah sakit telah selesai dan ayah bisa langsung kembali ke rumah.Bersamaan dengan itu, Zayn bersama dengan mama dan papa ternyata tiba di rumah ayah setelah menempuh perjalanan dari Puncak.“Papa!” panggil Zayn senang melihat Rafif yang baru saja menutup pintu mobil.“Nak!” sahut Rafif, kemudian menangkap Zayn di pelukannya.“Tadi di perjalanan ada yang terus menangis loh!” ucap mama.“Oh ya? Kenapa dia terus menangis oma?” tanya Rafif.“Sstt oma!” sahut Zayn.Rafif sontak tertawa mendengar Zayn yang
“Kondisi om Eddo saat ini cukup stabil dan sama sekali tidak berbahaya, juga jelas bukan karena penyakit jantung. Aku secara pribadi minta maaf karena diagnosa awal yang salah. Tapi, beliau tetap membutuhkan perawatan ekstra,” jelas Azfar pada bunda dan Rafif di ruangannya.“Memang apa yang sebenarnya terjadi?” tanya bunda.“Setelah melalui pemindaian CT Scan tadi aku menemukan sebuah gumpalan di pembuluh darah otak, ini yang menyebabkan om Eddo memejamkan matanya terus menerus.” Jawab Azfar.“Jadi, ayah tidak pingsan?” tanya Rafif.“Tidak, beliau hanya tertidur,” jawab Azfar.“Kondisi ini termasuk salah satu gejala stroke, beruntung beliau bisa langsung mendapatkan penanganan.” Jelas Azfar lagi.“Hhhh,” Rafif dan bunda bernapas dengan lega.“Lalu apa perawatan terbaik yang harus dilakukan?” tanya Rafif.“Besok kita lakukan test lab, setelah hasilnya keluar baru bisa diputuskan,” jawab Azfar.“Tapi apakah jantungnya benar-benar tidak masalah?” tanya bunda.“Sejauh ini, tidak ada tante
“Mas! Ayah..” ucap Alea yang terengah-engah karena berlari.“Ayah kenapa?” tanya Rafif berdiri kemudian menghampiri Alea dan memegang kedua pundaknya. Dia melihat dengan jelas kalau Alea berlari terburu-buru, sehingga dia tidak memakai alas kaki.“Tadi ayah mengeluh dadanya sakit, lalu tiba-tiba ayah pingsan,” jelas Alea.“Apa?” tanya Rafif.Dokter yang juga mendengarnya segera berlari menuju ke ruangan ayah, begitu juga bunda yang baru saja merasa lega mendengar kondisi ayah, tiba-tiba kembali merasakan ketakutan yang begitu nyata.Rafif langsung menoleh ke arah bunda yang masih duduk di kursi depan meja dokter.Bunda hanya terdiam, tidak menangis, terlihat tenang, namun Rafif tahu dibaliknya ada ketakutan yang sangat dahsyat.“Sayang, pakai sandalku! Kamu tolong temani bunda ya, aku mau lihat keadaan ayah,” ucap Rafif.“Baik mas,” ucap Alea, kemudian menerima sandal milik Rafif dan menghampiri bunda.Sementara itu Rafif berlari kencang menyusul dokter yang sedang menangani ayahnya.
Pasca merayakan ulang tahun Cindy, Alea dan Rafif yang baru saja memasuki kamar Villa untuk beristirahat, menerima sebuah telepon.Rafif yang baru saja merebahkan dirinya di tempat tidur mendengar ponselnya berdering, dia lalu bergegas melihat siapa penelepon tengah malam ini.Baru saja dia akan mengumpat karena merasa terganggu, dia urungkan saat melihat siapa yang menelepon.“Ada apa menelepon jam segini?” gumam Rafif.Perasaan yang semula tenang, mendadak menjadi penuh dengan kekhawatiran.“Halo bunda,” ujar Rafif.Alea yang berbaring disampingnya ikut berdiri sambil merasa heran karena ini hampir tengah malam.Hal yang pertama Rafif dengar adalah tangisan bunda, membuat ketakutan hinggap di sekujur tubuh Rafif.“Ada apa bunda?” tanya Rafif.“Ayahmu tidak sadarkan diri,” ucap bunda lirih.“Apa?” tanya Rafif terkejut.“Sekarang di rumah sakit,” jawab mama lemah.“Oke, aku kesana sekarang.” Jawab Rafif.Sebenarnya Rafif dipenuhi dengan keterkejutan, tetapi berusaha untuk tetap tenang
Cindy terbelalak sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.Bagaimana tidak terkejut? Kedatangannya disambut meriah oleh semua orang yang sangat dia kenal, seluruh keluarganya berkumpul termasuk ibu, bapak dan adik-adiknya dari Surabaya pun turut hadir.“Kalian juga disini? Kapan datang?” tanya Cindy pada keluarganya dan memeluknya satu persatu.“Tadi siang, Azfar juga yang jemput kita di bandara!” jawab bapak.“Jadi kamu bukan ke rumah sakit tadi siang?” tanya Cindy pada Azfar.“Untuk apa ke rumah sakit di akhir pekan?” Azfar balik bertanya.Sontak saja Cindy merasa jengkel karena merasa dikerjai.Jadi, siang tadi saat Azfar menerima telepon. Itu adalah telepon dari Bayu yang mengabari kalau dia dan keluarga sudah sampai di bandara.Azfar bergegas pergi menjemput mertua dna adik iparnya yang kemudian dia antarkan ke rumah mama untuk kemudian pergi ke puncak, tempat dimana mereka berada sekarang.Setelah Cindy menyapa keluarganya, dia juga menyapa mama, papa, Alea, Rafif lengkap den
Butuh berbulan-bulan sampai Cindy bisa sembuh dan kembali seperti semula. Berdamai dengan diri sendiri dan menjadikan hal yang sudah berlalu sebagai pelajaran yang sangat berharga.Sekarang, Aksa sudah berusia 6 bulan waktu dimana dia mulai MPASI.“Besok Aksa sudah mulai MPASI, anterin aku belanja bahan makanan yuk?” ajak Cindy pada Azfar.“Boleh sayang,” jawab Azfar.“Sekalian kita ajak Aksa main di luar, kayaknya enak bersantai di taman. Biar dia gak jenuh,” ujar Cindy.“Hm, boleh!” jawab Azfar lagi sambil menemani Aksa bermain.“Kok cuma bilang boleh aja?” tanya Cindy.Saat hendak menjawab pertanyaan Cindy, ponsel Azfar berdering.“Maaf sayang, aku ada telepon sebentar.” Jawab Azfar sambil beranjak menjauh dari Cindy.“Telepon siapa? Kenapa harus menghindar?” gumam Cindy.Tapi Cindy tidak peduli, dia memilih sibuk bersama Aksa.“Sayang, belanjanya kita tunda dulu sampai sore ya? Aku ada telepon mendesak dari rumah sakit, ada hal yang harus diselesaikan,” ujar Azfar setelah kembali
“Selain itu, apa lagi yang kamu rasakan?” tanya dokter Mery.Cindy menarik napas perlahan, dia juga membenahi duduknya untuk mencari kenyamanan.“Saya sering merasa takut tidak bisa memenuhi kebutuhan anak saya, dokter,” ucapnya pelan.Dokter Mery mendekati Cindy dan menyentuh tangannya, Azfar menjauh sedikit dan mempersilahkan dokter Mery mendekat.“Sebagai seorang ibu, tentu kita selalu menginginkan yang terbaik untuk anak kita. Tetapi, jangan terlalu memaksakan diri. Tidak semua hal bisa dilakukan sendiri, kamu harus membuka diri pada orang sekitarmu. Kalau kamu butuh bantuan, mintalah pada orang terdekat. Termasuk pada suamimu, atau suamimu selama ini tidak pernah membantumu?” tanya dokter Mery.Cindy menggeleng cepat, dengan kesadaran penuh dia menjawab, “dia sudah sangat membantu dok, saya saja yang selalu mengabaikannya. Saya selalu merasa anak saya tidak boleh disentuh siapapun, termasuk oleh ayahnya sendiri. Hanya saya yang boleh mengurusnya,”Dokter Mery tersenyum hangat sem
Keesokan harinya, Azfar kembali mencoba mengajak Cindy keluar rumah untuk sejenak beristirahat dari kegiatannya sebagai istri dan ibu.Tetapi lagi-lagi Azfar menerima penolakan dari Cindy.“Aku gak mau!” ujar Cindy saat menyusui Aksa.“Sebentar aja sayang,” bujuk Azfar.“Kalau gak mau ya gak mau! Kamu main aja sendiri!” jawab Cindy ketus.Azfar merasa, emosi Cindy kian hari kian tidak stabil, dia lebih mudah marah dari sebelumnya. Dia juga semakin jarang bicara, membuat Azfar merasa serba salah.“Tapi kamu gak baik-baik aja!” ucap Azfar dengan nada yang sedikit tinggi.“Siapa maksud kamu? Aku baik-baik saja kok!” sahut Cindy.Azfar semakin kehilangan kesabarannya, sudah seperti ini Cindy bahkan tidak menyadarinya.Dia menarik napas perlahan, kemudian menatap Aksa yang masih menempel pada Cindy. Azfar tertegun melihat Aksa yang berusia 2 bulan, tetapi belum menunjukan kenaikan berat badan yang stabil. Dia masih terlihat sangat kecil.Azfar tentu tahu ini disebabkan karena Cindy terlalu