Share

42. Pelik

Author: Reyn
last update Huling Na-update: 2024-12-14 00:18:07
Rafif berlari ke kamarnya begitu tiba di rumah.

Dia mencari keberadaan Alea. Dia tahu Alea saat ini pasti sedang terluka dengan adanya kabar palsu tentang dirinya.

Rafif tidak menemukan Alea di kamar, dia melihat lemari yang terbuka seiring dengan menghilangnya baju-baju miliknya Alea.

Hatinya berkecamuk.

Dia lalu berlari menghampiri bi Imas dan menggedor-gedor pintu kamar bi Imas.

“Alea kemana bi?” tanyanya tak sabar sesaat setelah bi Imas membuka pintu.

“Non Alea pulang ke rumah bapak dan ibu den,” ucap bi Imas dengan terus menunduk. Dia tidak berani menatap Rafif.

Tanpa berpikir, Rafif langsung berlari ke mobilnya dan mengendarinya dengan kecepatan penuh menuju ke rumah mertuanya.

Pikirannya benar-benar kacau, bagaimana pandangan mertuanya terhadapnya nanti?

Tapi dia tidak akan menyerah begitu saja, dia tahu dia tidak bersalah.

Rafif sampai di rumah mertuanya, dia menerobos masuk hendak mencari Alea.

Tapi tiba-tiba saja Azfar mencekal langkahnya dan memberikan sebuah tinju keras tep
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Kaugnay na kabanata

  • Jodoh di Tangan Kakek   43. Salah Sasaran

    Di ruang interogasi kantor kepolisian Bali, Rafif menyaksikan tersangka penyebar foto dirinya dengan Selena sedang melakukan pemeriksaan Polisi.Disana juga telah hadir Selena dan Alex kekasihnya.“Saya hanya orang suruhan pak!” ujar tersangka menggema di seluruh ruangan.“Siapa yang menyuruhmu?” tanya pak Polisi.Tersangka tersebut kebingungan, dia tidak berani menyebutkan nama orang yang memberinya perintah.“Cepat katakan!” bentak Polisi.“Jika kau tidak mengatakannya, maka hukumanmu akan lebih berat! Sementara orang yang menyuruhmu sedang menghirup udara bebas diluar sana, apa kau ikhlas menerimanya?” sambung pak Polisi.Tersangka gelisah, dia memikirkan bagaimana jika dirinya mendekam dibalik jeruji, sementara bosnya masih hidup dengan tenang diluar sana.Dengan suara lemah dia menyebutkan sebuah nama.“Dia Edward.”Mendengar nama yang disebut, Selena terkejut.“Hah?” Selena menangkup wajah dengan kedua tangannya.Selena tahu siapa Edward. Seketika dia bergetar ketakutan.“Ada apa

    Huling Na-update : 2024-12-15
  • Jodoh di Tangan Kakek   44. Meluruskan Kesalahpahaman

    “Kamu dimana? Papa harap kamu segera kembali, Alea membutuhkanmu,” ucap Papa dalam panggilan telepon saat Rafif tengah berjalan menuju pesawat.Rafif tercekat, hatinya bergemuruh hebat. Dia mengkhawatirkan keadaan istrinya saat ini.Dia tidak mengetahui kabar Alea lagi sejak tadi siang dia pingsan didepan matanya. Setetes air mata mengalir di wajah Rafif. Dia menyesali semua yang terjadi.“Aku sedang dalam perjalanan, Pa. Tunggulah sebentar lagi,” jawab Rafif dengan suara yang sedikit bergetar.***Rafif duduk bersimpuh dengan dua tangannya mengepal. Dia harus segera menjelaskan apa yang terjadi pada semua orang.Dihadapannya telah hadir Papa, Ayah, Mama, Bunda beserta Azfar.Sementara Cindy menemani Alea di kamar.“Apa yang akan kau sampaikan?” tanya Ayah dengan sorot mata tajam.Rafif lalu menjelaskan semua yang terjadi, tentang fotonya dengan Selena dan semua yang dia temukan di Bali.“Edward?” tanya Ayah saat Rafif menyebutkan sebuah nama.Rafif mengangguk, lalu kembali menjelaskan

    Huling Na-update : 2024-12-15
  • Jodoh di Tangan Kakek   45. Maaf Saja tak Cukup

    Alea terbangun di pagi hari dengan penuh keheranan.Alea mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi pada dirinya kemarin.Seketika dia melihat potongan-potongan ingatan tentang Rafif, Alea mengingat dirinya yang menerima pesan dari nomor tak dikenal, dia juga mengingat foto-foto tentang suaminya dengan seorang wanita.Alea pun mengingat bagaimana dia dan Rafif bertengkar hebat.Dia menghembuskan nafas panjang.Kemudian dia merasakan beban berat di pinggangnya, ternyata sebuah tangan melingkar dari balik badannya.Alea membalikan badannya, dia terkejut dengan keberadaan Rafif disana.Bersamaan dengan itu Rafif membuka matanya, dia tersenyum pada Alea.“Kenapa kamu disini?” tanya Alea sinis.“Aku sudah disini sejak tadi malam, sayang,” jawab Rafif.“Pergi! Aku gak mau ketemu kamu.”Rafif memijat keningnya, dia berusaha mengumpulkan kesadarannya.“Alea, kita sudah baik-baik saja semalam!” ujar Rafif dengan sedikit meninggikan suara.Dia heran dengan sikap Alea, semalam dia begitu baik

    Huling Na-update : 2024-12-16
  • Jodoh di Tangan Kakek   46. Perjuangan Hidup dan Mati

    Pagi hari di sebuah taman di kawasan Jakarta. Alea melakukan aktivitas jalan pagi sebagaimana di anjurkan oleh Cindy. Selama satu bulan ke belakang dia hanya jalan-jalan sendiri di komplek perumahannya. Namun kali ini dia ditemani oleh suami tercintanya. Setelah banyaknya prahara rumah tangga yang datang silih berganti, Alea lagi-lagi memilih untuk menerima dan memaafkan apa yang terjadi. Saat ini dia hanya ingin fokus terhadap kehamilan dan persiapan persalinannya. Rafif berjalan sambil mengenggam tangan Alea, dia ikuti langah demi langkah istrinya. “Aku capek,” keluh Alea karena merasa kelelahan. “Ayo istirahat dulu,” ajak Rafif sambil menuntun Alea untuk duduk di sebuah kursi. “Kamu tunggu disini sebentar,” ucap Rafif lalu meninggalkan Alea. Alea mengikuti kemana Rafif pergi, ternyata dia berlari mengejar tukang dagang asongan yang menjajakan air mineral dan beberapa camilan. Tidak lama kemudian, Rafif kembali dengan sebotol air mineral. “Minum dulu,” ucapnya s

    Huling Na-update : 2024-12-17
  • Jodoh di Tangan Kakek   47. Dear, Zayn!

    “Bayi laki-laki, berat 3,8 kg dan panjang 51 cm. Lahir dengan sempurna dan tampan seperti Papanya! Selamat Alea dan Rafif, kalian telah resmi menjadi orang tua,” ucap Cindy sambil meletakan bayi mungil di atas tubuh Alea. Alea memeluk bayinya dengan senyuman yang tidak pernah pudar, sementara Rafif memandangi dan mengusapnya dengan penuh kasih sayang. “Maaf bu, apakah sudah ada nama untuk bayi ini?” tanya asisten Cindy. Alea dan Rafif saling bertatapan, “Zayn Haris Hadiwinata” ucap mereka bersamaan. Cindy tersenyum lagi, dia melihat mereka berdua sebagai pasangan yang tidak akan terpisahkan. Setelah semuanya selesai, Cindy mengantar Alea dan bayinya kembali ke ruangan mereka. Alea duduk di kursi roda dengan Rafif dibelakangnya, sementara Cindy mendorong kereta bayi. Dia ingin mengantarkan calon ponakannya secara khusus. Di ruangannya telah hadir semua anggota keluarga Alea dan Rafif. Semua orang menyambut kedatangan mereka. Setelah Alea memposisikan diri di ranjang ruma

    Huling Na-update : 2024-12-18
  • Jodoh di Tangan Kakek   48. New Born

    Setelah Zayn lahir, hari-hari Alea dan Rafif menjadi lebih berwarna. Banyak hal yang berubah di antara mereka, termasuk siang jadi malam, malam jadi siang. Seperti bayi pada umumnya, Zayn juga termasuk anak yang sering rewel di malam hari. Hingga tak jarang membuat Rafif dan Alea begadang di malam hari. Sepanjang kehamilan sampai melahirkan, bisa dibilang mulus tanpa banyak hambatan. Tetapi ujian mereka di mulai saat Zayn lahir. Mereka benar-benar dibuat kelelahan sampai kurang tidur, kadang sampai lupa makan karena Zayn. Untungnya, Rafif semakin peka. Dia tidak membiarkan Alea melewatinya sendirian. Juga, support dari keluarga membuat mereka bisa mengatasi semuanya. Dini hari ini, Rafif sedang sibuk menggendong Zayn yang menangis. Sementara Alea yang sudah kelelahan tertidur dengan sangat pulas. “Tidur yuk sayang, Papa sudah mengantuk,” Rafif mengajak Zayn bicara seolah-olah bayi itu mengerti. Setelah berhasil menidurkan Zayn, Rafif meletakannya pada box bayi. Kemudian

    Huling Na-update : 2024-12-21
  • Jodoh di Tangan Kakek   49. Melangkah Maju

    Setelah beberapa waktu sejak kelahiran Zayn, Alea dan Rafif menggelar sebuah acara syukuran di rumah mereka.Mereka mengundang para sahabat dekat mereka.Acara di adakan di sore hari, berlatar di halaman rumah mereka.Banyak tamu yang datang seperti Tomi dan kekasihnya, beberapa teman Alea saat berkuliah, teman-teman mereka dari Bandung, tidak ketinggalan Najwa dan David yang datang bersamaan.“Kalian kesini bareng?” tanya Alea saat Najwa dan David datang bersama.Najwa dan David tersenyum malu.“Jangan bilang kalian?!” tanya Alea menduga-duga.“Iya, kita coba memulai Al!” jawab Najwa.Alea senang sekali akhirnya Najwa ada kemauan untuk menjalin sebuah hubungan baru, dia nyaris tidak pernah membuka hatinya selama bertahun-tahun setelah dikhianati mantan kekasihnya.“Syukurlah, semoga kalian langgeng!” ucap Alea.David hanya malu-malu di belakang Najwa. ‘Aku tidak bisa mendapatkanmu Alea, jadi aku dengan sahabatmu saja,’ batin David.Najwa beralih melihat Zayn di pangkuan Rafif.“Ya amp

    Huling Na-update : 2024-12-23
  • Jodoh di Tangan Kakek   50. Insecure

    “Sayang, aku pergi dulu!” teriak Rafif dari ruang tamu.“Hati-hati mas!” jawab Alea dari lantai dua.Dua bulan telah berhasil mereka lalui sebagai orang tua, kini Rafif telah kembali ke perusahaan.Zayn sudah semakin besar, Alea memutuskan untuk berhenti total dari pekerjaannya dan memilih fokus pada putranya. Saat ini semua urusan perusahaannya berada dibawah pengawasan Rafif, suaminya.Alea menatap putranya yang sedang terlelap, dia mengenggam tangan Zayn penuh cinta.Setelah puas menatap Zayn, Alea beralih melihat pantulan dirinya di cermin. Dia menghembuskan nafas berat.“Jelek banget aku sekarang,” gumamnya.Berat badannya setelah hamil dan melahirkan memang tidak mengalami penurunan yang signifikan membuat lengan, perut, pinggul dan dadanya semakin terlihat lebar.Dia melihat wajahnya yang kusam karena kurang perawatan.Dia mencurahkan semua waktu hanya untuk Zayn, sampai dia melupakan diri sendiri.“Kalau kayak gini, mas Rafif masih suka aku gak sih?” tanyanya pada diri sendiri.

    Huling Na-update : 2024-12-23

Pinakabagong kabanata

  • Jodoh di Tangan Kakek   128. Akhir

    “Good morning sayang,” bisik Rafif di telinga Alea.Perlahan Alea membuka matanya. Hal yang pertama kali dia lihat tentu saja suaminya, Rafif.Alea tersenyum teramat manis, membuat rasa cinta selalu mekar di hati Rafif setiap harinya, meskipun pernikahan mereka telah berlangsung bertahun-tahun.“Anak-anak dimana?” tanya Alea.“Di luar, ayo kesana!” ajak Rafif.Alea mengangguk kemudian bangkit dari tempat tidurnya.“Ternyata sudah siang ya?” tanya Alea melihat jendela kamarnya sudah terbuka dan cahaya matahari masuk menerobos melalui celah-celah gorden yang tertiup angin.Lalu, Alea berjalan mendekati jendela dan menyibak kain gorden yang menghalangi pandangannya.Di depan sana, terdapat hamparan pasir yang luas serta deburan ombak yang suaranya terdengar syahdu dari jendela kamar Alea.Pemandangan indah yang selalu Alea nikmati setiap pagi.Disinilah dia dan Rafif tinggal sekarang, sebuah mansion mewah yang terletak di sebuah pulau yang dikelilingi pepohonan rindang. Dan mansion mereka

  • Jodoh di Tangan Kakek   127. Drama Pagi

    Siang harinya, ayah sudah benar-benar pulang dari rumah sakit.Kejadian salah diagnosa yang sempat membuat terkejut kini hanya berlalu begitu saja. Sebab ketakutan mereka pada akhirnya tidak terjadi.Ayah hanya memerlukan pemeriksaan secara rutin dan mengkonsumsi obat yang disarankan agar kesehatannya bisa kembali seperti sedia kala.Hal ini tentu saja membuat bunda dan Rafif sangat lega. Ini artinya mereka bisa melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.Siang itu, semua urusan di rumah sakit telah selesai dan ayah bisa langsung kembali ke rumah.Bersamaan dengan itu, Zayn bersama dengan mama dan papa ternyata tiba di rumah ayah setelah menempuh perjalanan dari Puncak.“Papa!” panggil Zayn senang melihat Rafif yang baru saja menutup pintu mobil.“Nak!” sahut Rafif, kemudian menangkap Zayn di pelukannya.“Tadi di perjalanan ada yang terus menangis loh!” ucap mama.“Oh ya? Kenapa dia terus menangis oma?” tanya Rafif.“Sstt oma!” sahut Zayn.Rafif sontak tertawa mendengar Zayn yang

  • Jodoh di Tangan Kakek   126. Salah Diagnosa

    “Kondisi om Eddo saat ini cukup stabil dan sama sekali tidak berbahaya, juga jelas bukan karena penyakit jantung. Aku secara pribadi minta maaf karena diagnosa awal yang salah. Tapi, beliau tetap membutuhkan perawatan ekstra,” jelas Azfar pada bunda dan Rafif di ruangannya.“Memang apa yang sebenarnya terjadi?” tanya bunda.“Setelah melalui pemindaian CT Scan tadi aku menemukan sebuah gumpalan di pembuluh darah otak, ini yang menyebabkan om Eddo memejamkan matanya terus menerus.” Jawab Azfar.“Jadi, ayah tidak pingsan?” tanya Rafif.“Tidak, beliau hanya tertidur,” jawab Azfar.“Kondisi ini termasuk salah satu gejala stroke, beruntung beliau bisa langsung mendapatkan penanganan.” Jelas Azfar lagi.“Hhhh,” Rafif dan bunda bernapas dengan lega.“Lalu apa perawatan terbaik yang harus dilakukan?” tanya Rafif.“Besok kita lakukan test lab, setelah hasilnya keluar baru bisa diputuskan,” jawab Azfar.“Tapi apakah jantungnya benar-benar tidak masalah?” tanya bunda.“Sejauh ini, tidak ada tante

  • Jodoh di Tangan Kakek   125. Musibah 2

    “Mas! Ayah..” ucap Alea yang terengah-engah karena berlari.“Ayah kenapa?” tanya Rafif berdiri kemudian menghampiri Alea dan memegang kedua pundaknya. Dia melihat dengan jelas kalau Alea berlari terburu-buru, sehingga dia tidak memakai alas kaki.“Tadi ayah mengeluh dadanya sakit, lalu tiba-tiba ayah pingsan,” jelas Alea.“Apa?” tanya Rafif.Dokter yang juga mendengarnya segera berlari menuju ke ruangan ayah, begitu juga bunda yang baru saja merasa lega mendengar kondisi ayah, tiba-tiba kembali merasakan ketakutan yang begitu nyata.Rafif langsung menoleh ke arah bunda yang masih duduk di kursi depan meja dokter.Bunda hanya terdiam, tidak menangis, terlihat tenang, namun Rafif tahu dibaliknya ada ketakutan yang sangat dahsyat.“Sayang, pakai sandalku! Kamu tolong temani bunda ya, aku mau lihat keadaan ayah,” ucap Rafif.“Baik mas,” ucap Alea, kemudian menerima sandal milik Rafif dan menghampiri bunda.Sementara itu Rafif berlari kencang menyusul dokter yang sedang menangani ayahnya.

  • Jodoh di Tangan Kakek   124. Musibah

    Pasca merayakan ulang tahun Cindy, Alea dan Rafif yang baru saja memasuki kamar Villa untuk beristirahat, menerima sebuah telepon.Rafif yang baru saja merebahkan dirinya di tempat tidur mendengar ponselnya berdering, dia lalu bergegas melihat siapa penelepon tengah malam ini.Baru saja dia akan mengumpat karena merasa terganggu, dia urungkan saat melihat siapa yang menelepon.“Ada apa menelepon jam segini?” gumam Rafif.Perasaan yang semula tenang, mendadak menjadi penuh dengan kekhawatiran.“Halo bunda,” ujar Rafif.Alea yang berbaring disampingnya ikut berdiri sambil merasa heran karena ini hampir tengah malam.Hal yang pertama Rafif dengar adalah tangisan bunda, membuat ketakutan hinggap di sekujur tubuh Rafif.“Ada apa bunda?” tanya Rafif.“Ayahmu tidak sadarkan diri,” ucap bunda lirih.“Apa?” tanya Rafif terkejut.“Sekarang di rumah sakit,” jawab mama lemah.“Oke, aku kesana sekarang.” Jawab Rafif.Sebenarnya Rafif dipenuhi dengan keterkejutan, tetapi berusaha untuk tetap tenang

  • Jodoh di Tangan Kakek   123. Selamat Merayakan

    Cindy terbelalak sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.Bagaimana tidak terkejut? Kedatangannya disambut meriah oleh semua orang yang sangat dia kenal, seluruh keluarganya berkumpul termasuk ibu, bapak dan adik-adiknya dari Surabaya pun turut hadir.“Kalian juga disini? Kapan datang?” tanya Cindy pada keluarganya dan memeluknya satu persatu.“Tadi siang, Azfar juga yang jemput kita di bandara!” jawab bapak.“Jadi kamu bukan ke rumah sakit tadi siang?” tanya Cindy pada Azfar.“Untuk apa ke rumah sakit di akhir pekan?” Azfar balik bertanya.Sontak saja Cindy merasa jengkel karena merasa dikerjai.Jadi, siang tadi saat Azfar menerima telepon. Itu adalah telepon dari Bayu yang mengabari kalau dia dan keluarga sudah sampai di bandara.Azfar bergegas pergi menjemput mertua dna adik iparnya yang kemudian dia antarkan ke rumah mama untuk kemudian pergi ke puncak, tempat dimana mereka berada sekarang.Setelah Cindy menyapa keluarganya, dia juga menyapa mama, papa, Alea, Rafif lengkap den

  • Jodoh di Tangan Kakek   122. Badai telah Berlalu

    Butuh berbulan-bulan sampai Cindy bisa sembuh dan kembali seperti semula. Berdamai dengan diri sendiri dan menjadikan hal yang sudah berlalu sebagai pelajaran yang sangat berharga.Sekarang, Aksa sudah berusia 6 bulan waktu dimana dia mulai MPASI.“Besok Aksa sudah mulai MPASI, anterin aku belanja bahan makanan yuk?” ajak Cindy pada Azfar.“Boleh sayang,” jawab Azfar.“Sekalian kita ajak Aksa main di luar, kayaknya enak bersantai di taman. Biar dia gak jenuh,” ujar Cindy.“Hm, boleh!” jawab Azfar lagi sambil menemani Aksa bermain.“Kok cuma bilang boleh aja?” tanya Cindy.Saat hendak menjawab pertanyaan Cindy, ponsel Azfar berdering.“Maaf sayang, aku ada telepon sebentar.” Jawab Azfar sambil beranjak menjauh dari Cindy.“Telepon siapa? Kenapa harus menghindar?” gumam Cindy.Tapi Cindy tidak peduli, dia memilih sibuk bersama Aksa.“Sayang, belanjanya kita tunda dulu sampai sore ya? Aku ada telepon mendesak dari rumah sakit, ada hal yang harus diselesaikan,” ujar Azfar setelah kembali

  • Jodoh di Tangan Kakek   121. Healing

    “Selain itu, apa lagi yang kamu rasakan?” tanya dokter Mery.Cindy menarik napas perlahan, dia juga membenahi duduknya untuk mencari kenyamanan.“Saya sering merasa takut tidak bisa memenuhi kebutuhan anak saya, dokter,” ucapnya pelan.Dokter Mery mendekati Cindy dan menyentuh tangannya, Azfar menjauh sedikit dan mempersilahkan dokter Mery mendekat.“Sebagai seorang ibu, tentu kita selalu menginginkan yang terbaik untuk anak kita. Tetapi, jangan terlalu memaksakan diri. Tidak semua hal bisa dilakukan sendiri, kamu harus membuka diri pada orang sekitarmu. Kalau kamu butuh bantuan, mintalah pada orang terdekat. Termasuk pada suamimu, atau suamimu selama ini tidak pernah membantumu?” tanya dokter Mery.Cindy menggeleng cepat, dengan kesadaran penuh dia menjawab, “dia sudah sangat membantu dok, saya saja yang selalu mengabaikannya. Saya selalu merasa anak saya tidak boleh disentuh siapapun, termasuk oleh ayahnya sendiri. Hanya saya yang boleh mengurusnya,”Dokter Mery tersenyum hangat sem

  • Jodoh di Tangan Kakek   120. Baby Blues 2

    Keesokan harinya, Azfar kembali mencoba mengajak Cindy keluar rumah untuk sejenak beristirahat dari kegiatannya sebagai istri dan ibu.Tetapi lagi-lagi Azfar menerima penolakan dari Cindy.“Aku gak mau!” ujar Cindy saat menyusui Aksa.“Sebentar aja sayang,” bujuk Azfar.“Kalau gak mau ya gak mau! Kamu main aja sendiri!” jawab Cindy ketus.Azfar merasa, emosi Cindy kian hari kian tidak stabil, dia lebih mudah marah dari sebelumnya. Dia juga semakin jarang bicara, membuat Azfar merasa serba salah.“Tapi kamu gak baik-baik aja!” ucap Azfar dengan nada yang sedikit tinggi.“Siapa maksud kamu? Aku baik-baik saja kok!” sahut Cindy.Azfar semakin kehilangan kesabarannya, sudah seperti ini Cindy bahkan tidak menyadarinya.Dia menarik napas perlahan, kemudian menatap Aksa yang masih menempel pada Cindy. Azfar tertegun melihat Aksa yang berusia 2 bulan, tetapi belum menunjukan kenaikan berat badan yang stabil. Dia masih terlihat sangat kecil.Azfar tentu tahu ini disebabkan karena Cindy terlalu

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status