Suasana rumah Alea dan Rafif di malam hari sangat sepi, apalagi Zayn saat ini sedang menginap di rumah neneknya. Kebetulan juga bi Imas sang asisten rumah tangga sedang pulang kampung.Jadi, di tengah malam di ruang tengah..Alea dan Rafif hanya berdua, memadu kasih dalam sunyinya malam.Lebur sudah segala pertengkaran dan amarah, semua seolah terhempas tatkala pelukan mereka saling menghangatkan.Dan yang terpenting adalah, Rafif sangat menyadari bahwa yang dia butuhkan hanyalah Alea. Semua kegelisahan dan keraguan hilang seketika ketika dia bertemu dengan Alea.Dari banyaknya waktu tanpa pertemuan dan banyaknya wanita yang sempat mendekatinya, bahkan Melissa yang pernah mencampakannya, Alea tetap menjadi pemenangnya.Wanita yang dia anggap hanya sebagai anak kecil manja dan adik perempuan satu-satunya, ternyata dilahirkan untuk menjadi jodohnya.Begitu pula dengan Alea, seluruh hidupnya hanya dihabiskan bersama Rafif. Meski sempat menolak pernikahan, sekarang dunianya hanya Rafif.S
Mendekati hari persalinan, Alea dan Cindy sudah lebih banyak tinggal di rumah mama.Segala persiapan telah mereka lakukan, mulai dari mempersiapkan perlengkapan untuk dibawa ke rumah sakit, perlengkapan pasca lahiran dan lain-lain.Rencananya, besok mereka akan menuju ke rumah sakit milik keluarga mereka bersama-sama.Alea dan Cindy bahkan telah memesan dua kamar VVIP yang bersebelahan agar mereka tidak berjauhan.“Kak, apa persiapannya sudah selesai semua?” tanya Alea ketika masuk ke dalam kamar Cindy.“Hmm.. aku bawa dua tas ini, satu perlengkapanku, satu perlengkapan bayi. Semoga tidak ada yang terlewat,” jawab Cindy.Alea duduk di tempat tidur Cindy dan memperhatikan kamar yang sedikit berantakan karena Cindy baru saja menyelesaikan packing barang untuk dibawa.“Gimana rasanya kak? Sebentar lagi bertemu dengan buah hati yang sudah kakak nantikan selama ini?” tanya Alea.“Aku sangat tidak sabar rasanya Al, tapi sebetulnya aku juga sedikit deg-degan,” jawab Cindy sambil mendekat dan
Suara tangisan bayi mulai terdengar, seketika kelegaan menghampiri seisi ruangan.Tepat jam 07.30 pagi, seorang bayi perempuan lahir dengan sehat dan selamat. Kehadirannya disambut bahagia oleh Rafif dan Alea, kemudian mereka menyematkan nama Zaline Haris Hadiwinata.Bayi mungil itu terlihat sangat cantik, hidungnya mancung dengan bibir tipis, alis seperti di lukis dan mata bening yang indah.Sejauh apapun Alea berharap dan berusaha, sekalipun anaknya perempuan ternyata wajahnya masih sangat mirip dengan papanya, Rafif.Kemiripan mereka 90%, persis seperti Zayn ketika lahir.“Kok dia gak mirip aku?” keluh Alea saat dokter memberikan bayi mungil itu ke pelukannya.Semua petugas termasuk dokter Leo yang sedang menutup kembali perut Alea pasca operasi tertawa mendengar ocehan Alea.“Mungkin bayi ibu takut gak di akui sama papanya,” ucap salah satu asisten dokter Leo.“Ini lebih ke pesona papanya terlalu kuat, jadi dia tidak mau melewatkan kesempatan sebagai putri dari Rafif Hadiwinata,”
Beberapa hari kemudian..Setelah kedua bayi di perbolehkan pulang, rumah mama yang semula sepi kini berubah ramai. Bertambahnya anggota baru dalam keluarga membuat bertambah pula kebahagiaan di antara mereka.Sesuai rencana, Alea dan Cindy akan tinggal disini beberapa waktu. Sambil menunggu mereka pulih kembali dan siap menjalani hari-hari tanpa bantuan mama.Pagi ini Zaline dan Aksa sedang berjemur di halaman belakang rumah bersama dengan mama dan ibu Cindy.Sementara suasana dapur sudah ramai karena kedatangan banyak keluarga dan saudara yang sedang membantu mempersiapkan acara tasyakur aqiqah.Alea berada di kamar bersama dengan Rafif, luka bekas operasi tentu tidak akan pulih dengan cepat, makanya Rafif melakukan penjagaan 24 jam karena Alea selalu membutuhkan bantuan dalam melakukan aktifitasnya.“Mas, kamu gak bosen dikamar terus bareng aku?” tanya Alea.“Sebenarnya bosan,” jawab Rafif.“Ih! Kok jawabnya gitu?” sahut Alea kesal dengan jawaban Rafif.“Loh, kenapa? Kan aku cuma ja
Disela-sela kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh Alea dan keluarganya, kebahagiaan lain datang lagi.Karena tiba-tiba saja Najwa datang menemui Alea setelah acara selesai.“Loh, kok terlambat?” tanya Alea saat menyambut kedatangan sahabat baiknya.“Iya, tadi masih ada hal yang perlu diselesaikan,” jawab Najwa.Najwa kemudian menyapa dan menyalami keluarga Alea satu persatu.“Kak Azfar, kak Cindy selamat ya atas kelahiran putra pertama,” ujar Najwa.“Terima kasih Najwa,” jawab Azfar.Setelah berbincang singkat dengan keluarga Alea, Najwa menepi bersama Alea dan Rafif yang sedang menggendong Zaline anak mereka. Karena dia bilang ada hal yang ingin disampaikan.“Selamat juga buat kak Rafif dan Alea tentunya,” sambung Najwa.“Makasih,” jawab Rafif singkat.“Al, Zaline cantik banget,” ujar Najwa.“Mirip gue kan?” tanya Alea.“Nggak, mirip kak Rafif.” Jawab Najwa.“Ih, lo liat yang bener deh!” ujar Alea memaksa.Najwa kembali memperhatikan wajah Zaline dan sesekali membandingkan dengan wa
Dua minggu kemudian, acara pernikahan Najwa diselenggarakan.Dua hari sebelumnya, Alea bersama keluarganya telah tiba di Bandung untuk secara khusus menghadiri pernikahan sahabatnya.Alea yang belum pulih sepenuhnya tetap memaksa datang karena tidak ingin sahabatnya kecewa.Pagi ini, tiba waktunya untuk Alea menghadiri akad nikah Najwa dan David.“Mas, aku pakai baju yang mana ya?” tanya Alea sambil memegang dua dress berwarna cream dengan berdiri didepan cermin.“Yang mana aja kamu tetap cantik,” jawab Rafif tanpa menoleh sedikitpun.“Ih, mas! Lihat dulu!” ucap Alea dengan sedikit merengek.“Aku udah lihat Al, itu gak ada bedanya kurasa,” jawab Rafif.“Hhhh,” Alea menarik nafas lemas.Alea menghampiri Rafif dan memperlihatkan kedua baju yang hanya berbeda di kain dan model saja, warna keduanya benar-benar sama.“Nih lihat! Beda tau.” Ujar Alea sedikit kesal.Rafif menyandarkan dirinya di sofa dan menyilangkan kedua tangannya berusaha berpikir.“Kayaknya bagus yang ini,” ujar Rafif sa
Alea sampai di ruang tamu dimana Zayn sudah rapi dengan berpakaian sama persis dengan Rafif. Sementara Zaline juga sudah selesai dimandikan.Untuk acara akad nikah Najwa, Alea hanya hadir bersama Rafif dan Zayn, mengingat Zaline masih sangat kecil. Bahkan untuk dibawa ke Bandung saja sebenarnya Alea sudah memikirkan banyak resiko.Hanya sepuluh menit Alea sampai di tempat acara yang diadakan di pekarangan rumah Najwa.Setibanya disana, Alea langsung mencari keberadaan Najwa yang ternyata masih berada di kamarnya.“Wah! Cantik banget sahabat gue!” ujar Alea begitu bertemu Najwa.“Aaaa! Gue kira lo gak datang!” jawab Najwa girang.”Pernikahan sahabat tercinta, masa gak datang.” sahut Alea.“Thanks ya, padahal lo baru pulih,” ujar Najwa.Alea tersenyum lalu memeluk hangat Najwa.Tepat disaat Alea sampai di kamar Najwa, diluar terdengar acara telah dimulai. Setelah beberapa rangkaian acara, akhirnya Najwa diminta untuk menuju ke meja akad.Alea berjalan mendampingi Najwa.“Rasanya gini te
Satu bulan sejak melahirkan, Cindy akhirnya memilih kembali ke rumahnya untuk memulai hidup bersama Azfar dan Aksa, keluarga kecilnya.Bersamaan dengan itu, ibu juga sudah kembali ke Surabaya.Cindy mulai beradaptasi dengan kehidupan baru sebagai seorang ibu tanpa bantuan mama maupun ibu.Sejak bangun tidur, dia memulai hari dengan membereskan rumahnya sebelum bayi kecilnya bangun. Lanjut memasak sarapan untuknya dan Azfar.Sebenarnya dia telah terbiasa melakukan ini sejak menikah. Aktifitasnya juga tidak banyak berubah, hanya saja ditambah dengan mengurusi bayi kecil tercintanya.“Mas bangun!” teriak Cindy dari dapur meminta Azfar untuk segera bangun.“Kenapa berisik sih? Nanti Aksa bangun!” jawab Azfar sambil berjalan mendekat.“Ini udah siang, kamu gak siap-siap?” tanya Cindy.“Ada yang bisa aku bantu?” tanya Azfar sambil memeluk Cindy dari belakang.Cindy yang sedang memotong buah-buahan merasa sedikit terganggu, “gak ada kok, semua udah siap,” ucapnya sambil sedikit menyingkirkan
“Good morning sayang,” bisik Rafif di telinga Alea.Perlahan Alea membuka matanya. Hal yang pertama kali dia lihat tentu saja suaminya, Rafif.Alea tersenyum teramat manis, membuat rasa cinta selalu mekar di hati Rafif setiap harinya, meskipun pernikahan mereka telah berlangsung bertahun-tahun.“Anak-anak dimana?” tanya Alea.“Di luar, ayo kesana!” ajak Rafif.Alea mengangguk kemudian bangkit dari tempat tidurnya.“Ternyata sudah siang ya?” tanya Alea melihat jendela kamarnya sudah terbuka dan cahaya matahari masuk menerobos melalui celah-celah gorden yang tertiup angin.Lalu, Alea berjalan mendekati jendela dan menyibak kain gorden yang menghalangi pandangannya.Di depan sana, terdapat hamparan pasir yang luas serta deburan ombak yang suaranya terdengar syahdu dari jendela kamar Alea.Pemandangan indah yang selalu Alea nikmati setiap pagi.Disinilah dia dan Rafif tinggal sekarang, sebuah mansion mewah yang terletak di sebuah pulau yang dikelilingi pepohonan rindang. Dan mansion mereka
Siang harinya, ayah sudah benar-benar pulang dari rumah sakit.Kejadian salah diagnosa yang sempat membuat terkejut kini hanya berlalu begitu saja. Sebab ketakutan mereka pada akhirnya tidak terjadi.Ayah hanya memerlukan pemeriksaan secara rutin dan mengkonsumsi obat yang disarankan agar kesehatannya bisa kembali seperti sedia kala.Hal ini tentu saja membuat bunda dan Rafif sangat lega. Ini artinya mereka bisa melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.Siang itu, semua urusan di rumah sakit telah selesai dan ayah bisa langsung kembali ke rumah.Bersamaan dengan itu, Zayn bersama dengan mama dan papa ternyata tiba di rumah ayah setelah menempuh perjalanan dari Puncak.“Papa!” panggil Zayn senang melihat Rafif yang baru saja menutup pintu mobil.“Nak!” sahut Rafif, kemudian menangkap Zayn di pelukannya.“Tadi di perjalanan ada yang terus menangis loh!” ucap mama.“Oh ya? Kenapa dia terus menangis oma?” tanya Rafif.“Sstt oma!” sahut Zayn.Rafif sontak tertawa mendengar Zayn yang
“Kondisi om Eddo saat ini cukup stabil dan sama sekali tidak berbahaya, juga jelas bukan karena penyakit jantung. Aku secara pribadi minta maaf karena diagnosa awal yang salah. Tapi, beliau tetap membutuhkan perawatan ekstra,” jelas Azfar pada bunda dan Rafif di ruangannya.“Memang apa yang sebenarnya terjadi?” tanya bunda.“Setelah melalui pemindaian CT Scan tadi aku menemukan sebuah gumpalan di pembuluh darah otak, ini yang menyebabkan om Eddo memejamkan matanya terus menerus.” Jawab Azfar.“Jadi, ayah tidak pingsan?” tanya Rafif.“Tidak, beliau hanya tertidur,” jawab Azfar.“Kondisi ini termasuk salah satu gejala stroke, beruntung beliau bisa langsung mendapatkan penanganan.” Jelas Azfar lagi.“Hhhh,” Rafif dan bunda bernapas dengan lega.“Lalu apa perawatan terbaik yang harus dilakukan?” tanya Rafif.“Besok kita lakukan test lab, setelah hasilnya keluar baru bisa diputuskan,” jawab Azfar.“Tapi apakah jantungnya benar-benar tidak masalah?” tanya bunda.“Sejauh ini, tidak ada tante
“Mas! Ayah..” ucap Alea yang terengah-engah karena berlari.“Ayah kenapa?” tanya Rafif berdiri kemudian menghampiri Alea dan memegang kedua pundaknya. Dia melihat dengan jelas kalau Alea berlari terburu-buru, sehingga dia tidak memakai alas kaki.“Tadi ayah mengeluh dadanya sakit, lalu tiba-tiba ayah pingsan,” jelas Alea.“Apa?” tanya Rafif.Dokter yang juga mendengarnya segera berlari menuju ke ruangan ayah, begitu juga bunda yang baru saja merasa lega mendengar kondisi ayah, tiba-tiba kembali merasakan ketakutan yang begitu nyata.Rafif langsung menoleh ke arah bunda yang masih duduk di kursi depan meja dokter.Bunda hanya terdiam, tidak menangis, terlihat tenang, namun Rafif tahu dibaliknya ada ketakutan yang sangat dahsyat.“Sayang, pakai sandalku! Kamu tolong temani bunda ya, aku mau lihat keadaan ayah,” ucap Rafif.“Baik mas,” ucap Alea, kemudian menerima sandal milik Rafif dan menghampiri bunda.Sementara itu Rafif berlari kencang menyusul dokter yang sedang menangani ayahnya.
Pasca merayakan ulang tahun Cindy, Alea dan Rafif yang baru saja memasuki kamar Villa untuk beristirahat, menerima sebuah telepon.Rafif yang baru saja merebahkan dirinya di tempat tidur mendengar ponselnya berdering, dia lalu bergegas melihat siapa penelepon tengah malam ini.Baru saja dia akan mengumpat karena merasa terganggu, dia urungkan saat melihat siapa yang menelepon.“Ada apa menelepon jam segini?” gumam Rafif.Perasaan yang semula tenang, mendadak menjadi penuh dengan kekhawatiran.“Halo bunda,” ujar Rafif.Alea yang berbaring disampingnya ikut berdiri sambil merasa heran karena ini hampir tengah malam.Hal yang pertama Rafif dengar adalah tangisan bunda, membuat ketakutan hinggap di sekujur tubuh Rafif.“Ada apa bunda?” tanya Rafif.“Ayahmu tidak sadarkan diri,” ucap bunda lirih.“Apa?” tanya Rafif terkejut.“Sekarang di rumah sakit,” jawab mama lemah.“Oke, aku kesana sekarang.” Jawab Rafif.Sebenarnya Rafif dipenuhi dengan keterkejutan, tetapi berusaha untuk tetap tenang
Cindy terbelalak sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.Bagaimana tidak terkejut? Kedatangannya disambut meriah oleh semua orang yang sangat dia kenal, seluruh keluarganya berkumpul termasuk ibu, bapak dan adik-adiknya dari Surabaya pun turut hadir.“Kalian juga disini? Kapan datang?” tanya Cindy pada keluarganya dan memeluknya satu persatu.“Tadi siang, Azfar juga yang jemput kita di bandara!” jawab bapak.“Jadi kamu bukan ke rumah sakit tadi siang?” tanya Cindy pada Azfar.“Untuk apa ke rumah sakit di akhir pekan?” Azfar balik bertanya.Sontak saja Cindy merasa jengkel karena merasa dikerjai.Jadi, siang tadi saat Azfar menerima telepon. Itu adalah telepon dari Bayu yang mengabari kalau dia dan keluarga sudah sampai di bandara.Azfar bergegas pergi menjemput mertua dna adik iparnya yang kemudian dia antarkan ke rumah mama untuk kemudian pergi ke puncak, tempat dimana mereka berada sekarang.Setelah Cindy menyapa keluarganya, dia juga menyapa mama, papa, Alea, Rafif lengkap den
Butuh berbulan-bulan sampai Cindy bisa sembuh dan kembali seperti semula. Berdamai dengan diri sendiri dan menjadikan hal yang sudah berlalu sebagai pelajaran yang sangat berharga.Sekarang, Aksa sudah berusia 6 bulan waktu dimana dia mulai MPASI.“Besok Aksa sudah mulai MPASI, anterin aku belanja bahan makanan yuk?” ajak Cindy pada Azfar.“Boleh sayang,” jawab Azfar.“Sekalian kita ajak Aksa main di luar, kayaknya enak bersantai di taman. Biar dia gak jenuh,” ujar Cindy.“Hm, boleh!” jawab Azfar lagi sambil menemani Aksa bermain.“Kok cuma bilang boleh aja?” tanya Cindy.Saat hendak menjawab pertanyaan Cindy, ponsel Azfar berdering.“Maaf sayang, aku ada telepon sebentar.” Jawab Azfar sambil beranjak menjauh dari Cindy.“Telepon siapa? Kenapa harus menghindar?” gumam Cindy.Tapi Cindy tidak peduli, dia memilih sibuk bersama Aksa.“Sayang, belanjanya kita tunda dulu sampai sore ya? Aku ada telepon mendesak dari rumah sakit, ada hal yang harus diselesaikan,” ujar Azfar setelah kembali
“Selain itu, apa lagi yang kamu rasakan?” tanya dokter Mery.Cindy menarik napas perlahan, dia juga membenahi duduknya untuk mencari kenyamanan.“Saya sering merasa takut tidak bisa memenuhi kebutuhan anak saya, dokter,” ucapnya pelan.Dokter Mery mendekati Cindy dan menyentuh tangannya, Azfar menjauh sedikit dan mempersilahkan dokter Mery mendekat.“Sebagai seorang ibu, tentu kita selalu menginginkan yang terbaik untuk anak kita. Tetapi, jangan terlalu memaksakan diri. Tidak semua hal bisa dilakukan sendiri, kamu harus membuka diri pada orang sekitarmu. Kalau kamu butuh bantuan, mintalah pada orang terdekat. Termasuk pada suamimu, atau suamimu selama ini tidak pernah membantumu?” tanya dokter Mery.Cindy menggeleng cepat, dengan kesadaran penuh dia menjawab, “dia sudah sangat membantu dok, saya saja yang selalu mengabaikannya. Saya selalu merasa anak saya tidak boleh disentuh siapapun, termasuk oleh ayahnya sendiri. Hanya saya yang boleh mengurusnya,”Dokter Mery tersenyum hangat sem
Keesokan harinya, Azfar kembali mencoba mengajak Cindy keluar rumah untuk sejenak beristirahat dari kegiatannya sebagai istri dan ibu.Tetapi lagi-lagi Azfar menerima penolakan dari Cindy.“Aku gak mau!” ujar Cindy saat menyusui Aksa.“Sebentar aja sayang,” bujuk Azfar.“Kalau gak mau ya gak mau! Kamu main aja sendiri!” jawab Cindy ketus.Azfar merasa, emosi Cindy kian hari kian tidak stabil, dia lebih mudah marah dari sebelumnya. Dia juga semakin jarang bicara, membuat Azfar merasa serba salah.“Tapi kamu gak baik-baik aja!” ucap Azfar dengan nada yang sedikit tinggi.“Siapa maksud kamu? Aku baik-baik saja kok!” sahut Cindy.Azfar semakin kehilangan kesabarannya, sudah seperti ini Cindy bahkan tidak menyadarinya.Dia menarik napas perlahan, kemudian menatap Aksa yang masih menempel pada Cindy. Azfar tertegun melihat Aksa yang berusia 2 bulan, tetapi belum menunjukan kenaikan berat badan yang stabil. Dia masih terlihat sangat kecil.Azfar tentu tahu ini disebabkan karena Cindy terlalu