Frederix, Sacha dan Louis jadi ikut-ikutan gelisah. Daddy William baru saja memberitahu mereka bahwa Kelly sedang mencoba alat tes kehamilan. Pantas saja Mommy Keyna sangat gusar.Louis meminta izin sang daddy untuk menenangkan ibu sambungnya. William tersenyum dan mengangguk. Ia sendiri pasrah saja ikut merasakan Kenapa yang sama.Lengan Louis melingkari bahu Keyna. Lelaki itu mengajak Keyna duduk agak jauh dari keluarga hingga memungkinkan untuk bicara tanpa terdengar.“Apa ini lebih menyeramkan daripada berada di ruang operasi?” Louis bertanya dengan nada bercanda.“Tidak juga. Hanya saja adikmu menularkan kegalauannya.”“Bisa-bisanya mahluk cantik yang menggemaskan itu akhir-akhir ini membuat kita jantungan.”Louis menggeleng. Sejak bayi hingga sebelum berangkat ke luar negeri untuk bekerja, Kelly hampir tidak pernah membuat keluarga susah. Prilaku manisnya malah membuat keluarga tidak bisa move on kalau Kelly telah dewasa.Lalu, Kelly berkeras ingin berkarir di luar negeri. Kejut
Baru kali ini, Brandon merasa tak enak hati pada kedua ornag tuanya. Kak Della bilang, Mommy Florence dan Daddy Donald mendapat peringatan keras saat pergi tanpa kordinasi dengan pemerintah.Della sempat mendengar Daddy Donald bertengkar di telepon. Daddy Donald mengatakan bahwa seumur hidupnya telah ia dedikasikan untuk pemerintah. Kini, saat putranya butuh tak mungkin mereka diam saja.Hingga malam hari, Brandon tidak dapat tidur lagi. Sebenarnya sejak ia menikah, hubungannya dengan orang tua mulai mencair. Tidak seperti dulu yang kaku dan bicara basa basi.“Kamu nggak bisa tidur lagi?” Kelly menggumam dalam pelukan Brandon.“Tidur lah, Babe.”Kepala Kelly mendongak. “Bagaimana bisa tidur jika sesekali kamu mengembuskan napas panjang seperti mengeluh?”“Ya Tuhan. Aku nggak sadar. Maaf.” Brandon mencium istrinya.“Makanya aku tanya kamu mikirin apa?”“Nama bayi kita.”“Hah?” Kelly sampai berteriak. “Kamu sudah memikirkan nama bayi?”“Bukan hanya nama bayi, kok.”Dengan cepat, Brandon
Saking seringnya muntah, Kelly akhirnya tak tahan. Ia meminta Brandon membawanya ke rumah sakit. Tentu saja, Brandon langsung menuruti kemauan sang istri.Bukan keluarga Dalton jika tidak heboh mendengar Kelly akan memeriksakan diri ke dokter kandungan. Semua ikut tanpa terkecuali.“Baru kali ini aku risih dengan sikap keluargaku.” Kelly geleng-geleng kepala melihat rombongan yang menyertainya ke rumah sakit.“Tak apa, Babe. Mumpung mereka di sini. Kamu akan rindu mereka jika satu persatu pulang ke negaramu, bukan?”Pernyataan Brandon membuat Kelly mengangguk. Kenapa ia jadi tidak bersyukur didukung keluarganya?Meskipun tidak dapat masuk ke dalam ruang pemeriksaan, keluarga Dalton dan orang tua Brandon tetap antusias menunggu di depan pintu. Mereka membicarakan kemungkinan yang terjadi.“Kelly melakukan hal yang benar dengan pergi ke dokter.”“Syukur lah.”“Semoga mual dan muntahnya tidak bertambah parah.”“Semoga kali ini janinnya sehat.”Berbagai ucapan dan doa terbaik dipanjatkan
Kelly masih mual dan muntah-muntah. Tidak ada jam pasti, hampir sesudah makan, Kelly akan mengeluarkan makanan yang baru ia makan. Untungnya, wanita cantik itu tidak trauma makan.“Coba makan sedikit tapi sering.” Mommy Keyna menyarankan.Kelly mengangguk. Di rumah makan yang biasanya hanya ada dirinya dan Brandon kini selalu ramai. Kelly berpikir, apa yang dirasakan Brandon saat ini.“Mommy nggak papa izin lama tidak praktek?”Mommy Keyna tersenyum. “Kamu segala-galanya bagi kami. Jadwal praktek bisa diurus Auntie Ferina.”Pernyataan itu tidak sepenuhnya benar. Pasien-pasien Mommy Keyna kerapkali mengeluh jika dokter mereka cuti terlalu lama. Tapi kali ini, Mommy Keyna memang merasa harus menemani putri satu-satunya melewati masa kehamilan terutama di awal semester.Selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga. Frederix, Sacha dan Louis akan kemballi ke negara mereka besok malam. Namun begitu, mereka juga akan datang lagi dua bulan lagi untuk merayakan kehamilan Kelly.Ya, Kelly
Jika Kelly akhir-akhir ini sudah tenang, Brandon malah gelisah. Bukan karena lukanya yang masih menghambat gerakan, namun karena ia memikirkan bagaimana cara yang aman melakukan aktifitas ranjang dengan sang istri.“Menurut internet, aman saja kok, Babe. Yang penting tidak terlalu keras.”“Nggak enak, dong.” Kelly bercanda, namun Brandon menganggapnya serius.“Yaa... selama kamu hamil, mau tak mau, kita main pelan-pelan. OK?”“Kenapa kamu nggak tanya keluarga kita yang dokter, sih? Kan banyak. Mommy Florence, Mommy Keyna, Daddy Donald, Kak Cedric, Kak Clark atau Jasmine dan Edzard.” Keyna mengusulkan.Brandon menggeleng tegas. “Aku nggak mau jadi bahan gunjingan. Mereka pasti menertawakan pertanyaanku.”Memang sudah seminggu setelah Kelly hamil, mereka belum berani bercinta. Brandon yang biasanya dapat melakukannya kapan dan di mana pun, sepertinya sedikit tersiksa.Baru akan menelepon Ian, Brandon melihat Kelly berlari ke kamar mandi. Kelly muntah-muntah lagi. Padahal perutnya belum
“Nggak papa?” Ian melirik Kelly yang tertidur di sofa ruang kerja Brandon.“Memang ngantukan setelah hamil.” Brandon membalas sambil ikut melirik sang istri. “Itu sebabnya, aku ingin minta tolong padamu.”Ian mendengus pelan. “Kaya sama siapa aja pakai minta tolong, biasanya juga langsung merintah.”Brandon terdiam. Betul juga. Kenapa ia jadi santun begini sama Ian?Mengabaikan pernyataan Ian, Brandon menjelaskan keinginannya. Ian mengerutkan kening melihat gambar yang disodorkan sang sahabat, lalu menggeleng samar.“Ruangan ini baru saja selesai, mau kamu renovasi lagi.”“Agar sesuai dengan kebutuhanku.”Sambil menghela napas panjang, Ian mengamati gambar lalu menatap sekeliling. Sejak Brandon tidak protes dengan desain ruangan baru ini, ia sudah merasa heran. Dan benar saja, sekarang setelah sudah selesai, sahabatnya ini baru memberikan revisi.“Kontrak dengan para desainer bangunan sudah selesai, Brad. Mau buka kontrak baru?”“Itu hanya proyek kecil. Tawarkan saja pada Darrel.”Pro
“Sekali lagi, aku ingatkan. Rahasiakan ini dari istriku. Aku ingin memberi kejutan.” Brandon berkata pada Darrell dengan nada datar.“Baiklah. Meski terus-terang, aku tidak suka berbohong. Terutama pada Kelly.”Brandon mendengus kasar. Apa-apaan Darrell ini. Kenapa semua lelaki yang kenal Kelly saat ini malah menyumbang rasa cemburu di hatinya.Untungnya saat ini, Kelly sedang mengobrol dengan Ria. Jadi, ia tidak bertemu dengan Darrell.“Aku dengar dari Kelly kamu pacaran dengan Jasmine?” Brandon berucap sambil melirik Ian yang sedang duduk sambil membaca tablet.“Iya.” Darrell menyahut singkat sambil menggambar sketsa ruangan yang diinginkan Brandon.“Kamu tau, istriku dan Jasmine bersahabat. Jika terjadi sesuatu antara dirimu dan Jasmine mungkin akan berpengaruh pada istriku.”“Tenang saja. Hubungan kami positif.”Brandon tidak merespon lagi. Ia kembali melirik Ian yang tetap tanpa ekspresi mendengar pembicaraannya dengan Darrell.Beberapa menit kemudian, Darrel memberikan coretanny
Sudah dua minggu, Kelly mual dan muntah. Berat badannya pun turun dua kilo. Mommy Keyna menggeleng lemah.“Kamu harus diinfus, Princess. Kita ke rumah sakit sekarang, ya?” rayu Mommy Keyna.Kelly hanya meringkuk lemas. Ia baru saja memuntahkan makanannya. Yang lebih parah, beberapa minggu ini, ia kehilangan nafsu makan.“Babe.” Brandon mengusap sayang kepala istrinya.“Hem.”“Ke rumah sakit, ya?”Kelly lalu duduk dengan lemas. Ia menatap perutnya yang datar. Lalu, kepalanya mengangguk pelan.Di rumah sakit, Kelly langsung ditangani. Ia wajib dirawat dan mendapatkan perhatian intensif. Brandon berusaha sekuat tenang untuk terlihat tegar meski ia sangat khawatir.“Nggak papa, ya, Babe. Kita jadi impas. Bulan lalu aku yang di rawat. Sekarang kamu dan si kembar tiga.”Tidak ada respon dari Kelly atas pernyataan suaminya. Wanita cantik itu hanya bersandar lemah. Brandon mengelus perut sang istri lalu menciuminya.“Cup, cup, cup. Satu untuk bayi number one, number two dan number three.” Set
“Ini ruangan untukmu.” Kelly tersenyum pada sang suami. Tangannya menghapus cepat air mata yang jatuh ke pipi.Kelly merapatkan tubuh pada Brandon yang berdiri kaku di tengah ruangan. Sadar, suaminya masih tercengang mendapati kejutan darinya, Kelly menangkup wajah tampan Brandon.“Terima kasih untuk kesabaranmu selama ini. Aku tau kamu masih berjuang untuk berada di antara keramaian keluargaku. Di mansion ini, bahkan kamar kita bukan lagi tempat privatemu.”Setelah melahirkan dan kembali ke mansion, Kelly menyadari bahwa mansion Brandon tidak pernah sepi. Keluarganya selalu datang berbondong-bondong, bahkan menginap.“Aku tidak keberatan, Babe.” Brandon berkata pelan.“Aku tau.” Kelly menatap mata Brandon dalam-dalam. “Tapi, aku mau menjadi istri pengertian yang paham kalau sesekali, suaminya butuh kesunyian.”Brandon mengangkat kedua alisnya sedikit. Ia kembali mengamati sekitar. Berusaha mencerna bagaimana ruangan ini bisa ada.“Aku belajar dari ahlinya.” Kelly berkata seolah menja
Brandon tidak langsung menjawab. Ia tau pasti ada seseorang yang memposting keberadaannya di supermarket barusan.“Belanja.” Brandon menjawab singkat.“Kamu tau? Aku sedang sibuk memblokir berita tentang si kembar tiga. Sekarang aku harus menghapus lagi foto-fotomu di supermarket.” Ian terdengar mengeluh.“Ya sudah. Tidak perlu dihapus. Biarkan saja.”Hening sejenak. Brandon tau sahabatnya pasti sedang mengerutkan kening karena bingung dengan pernyataannya barusan.“Yakin?”“Apa ada yang aneh dengan foto-foto itu?”“Tidak juga.”“Foto-foto si kembar?”“Buram. Tapi terlihat wajah.”“Tidak perlu juga kamu take down. Minggu depan, Granny Eliza juga akan mengumumkan kelahiran kembar tiga ke media kok.”Brandon menutup komunikasi setelah Ian mengerti. Ia merasa sudah tidak penting lagi mengurusi media sosial. Sudah saatnya ia pasrah jika oang-orang penasaran pada keluarganya.“Kenapa, Brad? Kelly bertanya saat naik ke ranjang.“Ian lapor ada yang posting foto-foto kita barusan juga foto-fo
"Kenapa kamu ngadu-ngadu pada Daddy kalau aku sering kesal padamu?" Kelly memberengut pada Brandon."Aku hanya minta nasehat, Babe." Brandon menjawab lemah. Ada sedikit rasa penyesalan sekarang. "Please, jangan marah. Maafkan aku."Kelly menghela napas panjang. Kalau Brandon sampai minta nasehat pada Daddy, itu memang artinya ia cukup frustasi pada sikapnya.Kepala Kelly akhirnya mengangguk. Ia berbalik badan untuk pergi dari kamar, namun Brandon memegang lengannya."Babe." Tanpa banyak bicara, Brandon memeluk erat istrinya.Hanya sejenak, karena Kelly mendorong dada suaminya dengan kencang. "Dadaku sakit kamu peluk begitu.""Maaf." Sekali lagi, Brandon memohon."Aku mau ke ruang bayi." Kelly berucap datar."Tapi kamu baru dari sana, Babe.""Memang kenapa?""Aku... aku juga butuh kamu."Kelly mendengus pelan. "Sudah kubilang aku sedang tidak ingin ada di dekatmu."Brandon memejamkan mata sejenak lalu berkata, " Tolong katakan apa salahku.""Aku sudah bilang ini bukan salahmu. Aku hany
Demi melihat istrinya senang, Brandon mulai belajar menggendong bayi. Perawat memberi Brandon bayi Arsen yang terlihat paling tenang. Meski begitu, Brandon hanya memegangnya selama tiga detik.“Sudah, Sust. Tanganku mulai gemetaran.”Kelly yang sedang menggendong Reno menggeleng samar. Meski begitu, paling tidak, Brandon mencoba. Reno telah tidur di dekapan Kelly.“Sayang, pangku Reno sebentar.” Kelly meletakkan bantal besar di pangkuan Brandon dan membaringkan Reno di atas bantal tersebut. “Aku mau pipis dan ganti pembalut.”Dengan kaku, Brandon duduk menatap putranya. Ia sama sekali tidak berani bergerak karena takut membangunkan Reno. Tapi, jarinya perlahan mengelus pipir Reno.Brandon tersenyum merasakan betapa halus kulit bayinya. Lama-kelamaan, Brandon mengelus rambut halus Reno, jari-jari tangan dan kaki.“Hatchii!” Tiba-tiba, Brandon bersin. Detik berikutnya, Reno tersentak dan menjerit.“Babe!” teriak Brandon kalut. “Babe, Reno bangun!"“Sebentar, sayang. Aku belum selesai.”
Setelah satu minggu, Kelly dan Brandon bolak-balik ke rumah sakit untuk mengunjungi bayi-bayi mereka, akhirnya si kembar tiga diperbolehkan pulang. Mommy Keyna menggendong Mimi, sementara si kembar Arsen dan Reno duduk di kereta dorong.Kelly dan Brandon mengucapkan terima kasih pada tim dokter dan perawat yang telah membantu mereka. Brandon tentu saja menolak keinginan direktur rumah sakit yang ingin foto keluarganya dipajang di dinding rumah sakit.“Maaf. Demi privasi keluarga Brandon Richmont, saya tidak dapat menuruti permintaan anda.” Ian menolak tegas.“Apa anda sudah mengatakannya pada Nyonya Kelly? Saya pikir Nyonya Kelly tidak akan keberatan.” Tetap saja, direktur memaksa.“Untuk urusan ini, saya yang bertanggung jawab.”Ian melunasi biaya rumah sakit, lalu keluar dari ruang direktur. Audrey yang sejak tadi menemani kagum pada ketegasan Ian.“Memangnya, Brandon sudah bilang tidak mau didokumentasikan?” Audrey bertanya seraya mengiringi langkah Ian.“Tidak. Tapi, aku tau watak
"Iihhh... jangan disentuh! Sakit!" Kelly memindahkan tangan suaminya yang mengenai dada."Sakit?" Spontan, Brandon mengamati dada Kelly."Ini sedang bengkak. Perlu dipompa ASI-nya." Kelly berkata santai sambil menatap langit malam yang dihiasi gemerlap kembang api."Kenapa nggak dipompa sekarang kalau sakit?""Aku tunggu Mommy Key.""Mau aku bantu?"Kelly menggeleng. Bukan membantu namanya jika Brandon yang membimbing. Yang ada suaminya itu malah khawatir berlebihan."Nanti kalau aku sudah mahir, kamu boleh lihat. Sekarang, masih belajar.""Kenapa masih belajar aku nggak boleh lihat?""Aku malu, Brad."Meskipun masih ingin membahas masalah pompa ASI ini, Brandon memilih diam. Salah bicara bisa berakibat istrinya ngambek dan Brandon tidak ingin itu terjadi.Entah berapa uang yang dihabiskan Marc malam ini untuk pesta kembang api. Kalau dipikir-pikir, keluarga Dalton memang sering merayakan moment bahagia dengan cara seperti ini.Sambil memeluk pinggang Kelly, Brandon mengamati sekitar.
“Kak Dheena , kakak itu lagi... hamil?” Kelly bertanya lembut sambil menatap mata kakak ipar-nya.Dheena tersentak sedikit. Ia dan Della berpandangan, hingga Della memberi Kelly senyum.“Beneran, Kak?” Brandon mendesak jawaban.“Nggak papa. Sudah terlanjur ketauan.” Della terkekeh pada Dheena.Detik berikut Kelly menjerit dan memeluk Kak Dheena. Membuat semua anggota keluarga menatap mereka. Tentu saja akhirnya, kini mereka dikerubungi keluarga.“Kak Dheena hamil!” Kelly berteriak membuat semua orang melongo terutama Daddy Donald dan Mommy Florence.“Dheena! Kenapa kamu tidak bilang-bilang? Sudah berapa bulan?” Mommy Florence menghampiri putrinya dan mengelus perutnya. “Ya Tuhan, ini sudah cukup besar.”Dheena tersenyum lalu mengusap perutnya. Clark mendampingi istrinya dan mengusap-usap punggung Dheena.“Usia kandungannya sudah hampir enam bulan, Mom.” Clark yang menjawab pertanyaan Mommy Florence.Detik berikutnya, banyak pelukan yang didapat Dheena dan jabatan tangan yang harus dib
Dengan raut bahagia, Kelly menunjukkan pada keluarganya tentang hadiah dari Brandon. Mommy Florence menatap putranya dan mengacungkan jempol karena bangga sang putra begjtu menyayangi istrinya."Meski bentuknya berbeda, aku harap semua cincin itu memiliki harga yang sama." William berbisik pada Keyna.Cepat, Keyna menyikut pinggang sang suami. "Kenapa kamu mempermasalahkan nilai-nya? Yang penting adalah makna-nya."Namun, William tetap membalas, "Takut nanti anak-anak itu merasa dibedakan.""Pasti sebelum cincin itu diserahkan, Arsen, Reno dan Mimi sudah diberi pengertian." Keyna balas berbisik."Apa yang kalian bicarakan?" Daddy Donald tiba-tiba mencondongkan tubuh dan ikut berbisik pada William dan Keyna.Tanpa malu, Keyna bertanya pada Donald. Tak lama kemudian, lelaki itu permisi untuk menelepon.Tak lama kemudian, Donald kembali. Ia memperlihatkan layar ponselnya kepada William. Lalu ponselnya berpindah ke Keyna, terakhir ke Florence."Aku tau putraku memesan perhiasan dari RichJ
“Paling mirip kamu? Kayanya Arsen. Dia lebih kalem.”Brandon mendekat, lalu berjongkok di samping sang istri yang masih menyusui. “Maksudku bukan wajahnya, Babe. Tapi cara mereka menyusu.” Brandon menyeringai kala melihat istrinya melotot padanya.“Bisa-bisanya bercanda begitu. Kalau kedengeran suster gimana?”“Nggak papa. Pasti mereka paham.” Brandon menyahut tak peduli.Butuh waktu hampir satu jam bagi Kelly untuk memastikan bayi-bayinya telah kenyang. Saat telah selesai dengan Arsen dan Mimi, suster membantu mengembalikan bayi-bayi itu ke box mereka.Brandon sendiri masih belum berani menggendong bayi-bayinya. Ia langsung menggeleng dan mundur satu langkah saat suster ingin membimbingnya cara menggendong bayi.“Jangan sekarang. Aku belum siap. Mereka sepertinya masih rapuh sekali.” Brandon mendesah melihat tubuh bayi-bayinya yang mungil.Saat akan keluar dari ruangan, terdengar bayi menangis. Kelly menoleh dan melihat Reno terbangun.“Kok sebentar banget Reno tidurnya, Sus?” Kelly