“Mommy, ini sudah dua jam lebih. Kenapa Brandon belum siuman?” Kelly merengek pada Mommy Florence.“Tunggu sebentar, ya. Semua organ menunjang baik, kok. Ginjalnya juga sudah bekerja.” Daddy Donald yang menjawab pertanyaan Kelly.“Kamu tunggu di sini. Bicara lah pada Brandon.” Mommy memberikan kursi untuk Kelly di sisi ranjang.Mommy Florence dan Daddy Donald keluar untuk memberi waktu bagi Kelly berduaan dengan Brandon. Kelly duduk di kursi yang siapkan mommy mertuanya. Tangannya mencbit-cubit kecil lengan Brandon.“Brad, bangun, dong.” Kelly memberengut. “Aku marah ya, kalau kamu nggak bangun.”Tetap tidak ada pergerakan. Brandon tetap menutup mata dengan napas teratur. Kelly mendengus kasar.Seperti kebiasaan Kelly jika sedang gusar, ia berjanaln mondar-mandir di depan ranjang hidrolik. Sesekali melirik Brandon yang tidak juga terjaga.Kembali duduk di kursi, Kelly menekan nomer di ponselnya. Ia langsung menjawab saat teleponnya terbalas.“Ed.” Kelly menyapa manja.“Iya, Brandon be
Brandon bersikeras Kelly tidak boleh pergi sendirian. Meskipun ke kamar mandi. Akhirnya Kelly menunggu Jasmine untuk menemaninya.“Brandon pasti trauma kamu menghilang.” Jasmine berkata saat menunggu Kelly. “Kamu maklumi saja.”Kelly keluar dari kamar mandi dan mencuci tangan. “Setelah pulang liburan, kamu banyak berubah. Biasanya jika keadaan begini kamu akan mengatakan Brandon lebay.”Kepala Jasmine menggeleng tegas. “Tidak untuk kasus ini. Agnes itu gila. Jelas-jelas percobaan pembunuhan.”Sambil berjalan kembali ke ruang isolasi, Kelly dan Jasmine mengobrol. Jasmine bilang ia dan Edzard tidak bisa berlama-lama di negara ini. Kelly mengerti jadwal para sahabatnya padat dengan praktek dan kuliah.“Aku ingin cepat-cepat selesai kuliah.”“Bagus. Jadi, kalau aku hamil, kamu bisa menjadi dokterku.”Cepat, Jasmine menoleh. “Kamu hamil?”“Belum.”Jasmine mendesah. Kuliahnya baru akan selesai satu tahun lagi. Jika Kelly hamil sekarang. sudah pasti sahabat ini tidak bisa menjadi pasiennya.
Hari ini ruang perawatan VIP sangat ramai. Brandon baru saja bersandar di punggung ranjang saat Mommy Keyna dan Daddy William masuk."Brandon." Mommy Keyna langsung memeluk Brandon hati-hati.Seketika Brandon tau dari mana asal keramaian tersebut. Pasti keluarga Dalton telah datang."Mom, Dad." Brandon mengangguk santun.Mommy Keyna tetap memeluk Brandon, lalu berbisik, "Terima kasih kamu menyelamatkan Kelly, menantu tampan.""Seratus kali terjadi pun, aku akan melakukan hal yang sama untuk Kelly, Mom."Keyna melepas pelukannya. Mata wanita yang melahirkan Kelly itu sembab. Brandon menduga sepanjang perjalanan, Mommy Keyna menangis."Bagaimana keadaanmu sekarang, Brad?" Daddy William bertanya serius."Sudah tidak sakit, Dad.""Kamu masih minum anti nyeri?""Mommy Florence bilang iya sampai tiga hari."Daddy William mengangguk. Sama seperti Mommy Keyna, lelaki itu mengucapkan terima kasih karena Brandon melindungi Kelly."Meski Daddy juga sedikit kesal karena kamu tidak langsung member
“Taruhannya apa?”Kelly berpikir sejenak. “Aku belum memikirkannya.”“Ya, sudah. Anggap saja kamu menang.” Brandon terkekeh.“Akh... nggak seru main sama kamu.” Kelly malah mencebik.Mereka lalu membicarakan hal-hal randon. Mulai pekerjaan, desain mansion, pengawal Kelly, kedatangan keluarga Dalton hingga rujuknya Kak Dheena dan Clark yang saat ini terlihat semakin mesra.Namun, tidak ada pembicaraan tentang kehamilan dan anak. Brandon hanya mengikuti alur topik dari Kelly. Ia sangat tau kehamilan mungkin masih menjadi obrolan yang sensitif bagi sang istri.“Brad.”“Hem.”“Aku cerita sama Mommy Keyna kalau aku sudah terlambat menstruasi.”“Mommy pasti senang.”“Tidak, biasa saja. Cuma senyum sambil usap-usap kepalaku.”“Mommy tidak ingin kamu jadi terbebani, Babe. Tidak masalah bagi kami kamu hamil atau tidak saat ini.”Kelly menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Ia bilang Mommy Keyna akan membawakan alat tes besok.“Aku jadi gugup.”“Kenapa? Kamu belum mau hamil?”“Bukan ituu.”
Frederix, Sacha dan Louis jadi ikut-ikutan gelisah. Daddy William baru saja memberitahu mereka bahwa Kelly sedang mencoba alat tes kehamilan. Pantas saja Mommy Keyna sangat gusar.Louis meminta izin sang daddy untuk menenangkan ibu sambungnya. William tersenyum dan mengangguk. Ia sendiri pasrah saja ikut merasakan Kenapa yang sama.Lengan Louis melingkari bahu Keyna. Lelaki itu mengajak Keyna duduk agak jauh dari keluarga hingga memungkinkan untuk bicara tanpa terdengar.“Apa ini lebih menyeramkan daripada berada di ruang operasi?” Louis bertanya dengan nada bercanda.“Tidak juga. Hanya saja adikmu menularkan kegalauannya.”“Bisa-bisanya mahluk cantik yang menggemaskan itu akhir-akhir ini membuat kita jantungan.”Louis menggeleng. Sejak bayi hingga sebelum berangkat ke luar negeri untuk bekerja, Kelly hampir tidak pernah membuat keluarga susah. Prilaku manisnya malah membuat keluarga tidak bisa move on kalau Kelly telah dewasa.Lalu, Kelly berkeras ingin berkarir di luar negeri. Kejut
Baru kali ini, Brandon merasa tak enak hati pada kedua ornag tuanya. Kak Della bilang, Mommy Florence dan Daddy Donald mendapat peringatan keras saat pergi tanpa kordinasi dengan pemerintah.Della sempat mendengar Daddy Donald bertengkar di telepon. Daddy Donald mengatakan bahwa seumur hidupnya telah ia dedikasikan untuk pemerintah. Kini, saat putranya butuh tak mungkin mereka diam saja.Hingga malam hari, Brandon tidak dapat tidur lagi. Sebenarnya sejak ia menikah, hubungannya dengan orang tua mulai mencair. Tidak seperti dulu yang kaku dan bicara basa basi.“Kamu nggak bisa tidur lagi?” Kelly menggumam dalam pelukan Brandon.“Tidur lah, Babe.”Kepala Kelly mendongak. “Bagaimana bisa tidur jika sesekali kamu mengembuskan napas panjang seperti mengeluh?”“Ya Tuhan. Aku nggak sadar. Maaf.” Brandon mencium istrinya.“Makanya aku tanya kamu mikirin apa?”“Nama bayi kita.”“Hah?” Kelly sampai berteriak. “Kamu sudah memikirkan nama bayi?”“Bukan hanya nama bayi, kok.”Dengan cepat, Brandon
Saking seringnya muntah, Kelly akhirnya tak tahan. Ia meminta Brandon membawanya ke rumah sakit. Tentu saja, Brandon langsung menuruti kemauan sang istri.Bukan keluarga Dalton jika tidak heboh mendengar Kelly akan memeriksakan diri ke dokter kandungan. Semua ikut tanpa terkecuali.“Baru kali ini aku risih dengan sikap keluargaku.” Kelly geleng-geleng kepala melihat rombongan yang menyertainya ke rumah sakit.“Tak apa, Babe. Mumpung mereka di sini. Kamu akan rindu mereka jika satu persatu pulang ke negaramu, bukan?”Pernyataan Brandon membuat Kelly mengangguk. Kenapa ia jadi tidak bersyukur didukung keluarganya?Meskipun tidak dapat masuk ke dalam ruang pemeriksaan, keluarga Dalton dan orang tua Brandon tetap antusias menunggu di depan pintu. Mereka membicarakan kemungkinan yang terjadi.“Kelly melakukan hal yang benar dengan pergi ke dokter.”“Syukur lah.”“Semoga mual dan muntahnya tidak bertambah parah.”“Semoga kali ini janinnya sehat.”Berbagai ucapan dan doa terbaik dipanjatkan
Kelly masih mual dan muntah-muntah. Tidak ada jam pasti, hampir sesudah makan, Kelly akan mengeluarkan makanan yang baru ia makan. Untungnya, wanita cantik itu tidak trauma makan.“Coba makan sedikit tapi sering.” Mommy Keyna menyarankan.Kelly mengangguk. Di rumah makan yang biasanya hanya ada dirinya dan Brandon kini selalu ramai. Kelly berpikir, apa yang dirasakan Brandon saat ini.“Mommy nggak papa izin lama tidak praktek?”Mommy Keyna tersenyum. “Kamu segala-galanya bagi kami. Jadwal praktek bisa diurus Auntie Ferina.”Pernyataan itu tidak sepenuhnya benar. Pasien-pasien Mommy Keyna kerapkali mengeluh jika dokter mereka cuti terlalu lama. Tapi kali ini, Mommy Keyna memang merasa harus menemani putri satu-satunya melewati masa kehamilan terutama di awal semester.Selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga. Frederix, Sacha dan Louis akan kemballi ke negara mereka besok malam. Namun begitu, mereka juga akan datang lagi dua bulan lagi untuk merayakan kehamilan Kelly.Ya, Kelly
“Paling mirip kamu? Kayanya Arsen. Dia lebih kalem.”Brandon mendekat, lalu berjongkok di samping sang istri yang masih menyusui. “Maksudku bukan wajahnya, Babe. Tapi cara mereka menyusu.” Brandon menyeringai kala melihat istrinya melotot padanya.“Bisa-bisanya bercanda begitu. Kalau kedengeran suster gimana?”“Nggak papa. Pasti mereka paham.” Brandon menyahut tak peduli.Butuh waktu hampir satu jam bagi Kelly untuk memastikan bayi-bayinya telah kenyang. Saat telah selesai dengan Arsen dan Mimi, suster membantu mengembalikan bayi-bayi itu ke box mereka.Brandon sendiri masih belum berani menggendong bayi-bayinya. Ia langsung menggeleng dan mundur satu langkah saat suster ingin membimbingnya cara menggendong bayi.“Jangan sekarang. Aku belum siap. Mereka sepertinya masih rapuh sekali.” Brandon mendesah melihat tubuh bayi-bayinya yang mungil.Saat akan keluar dari ruangan, terdengar bayi menangis. Kelly menoleh dan melihat Reno terbangun.“Kok sebentar banget Reno tidurnya, Sus?” Kelly
Tanpa menoleh, Brandon hapal suara siapa yang bicara dengannya. Ia mengangguk dan membalas, "Terima kasih.""Kamu masih marah padaku?"Brandon menoleh menatap Ian. "Marah?""Kamu jarang bahkan hampir tidak pernah menghubungiku." Ian menghela napas berat. "Bahkan saat istrimu melahirkan pun, kamu tidak mengabariku.""Kupikir kamu sibuk dengan... Audrey."Gantian kini Ian yang menoleh ke samping menatap Brandon. "Aku sibuk mengurusi semua bisnismu!"Brandon mengerutkan kening, lalu membalik tubuhnya ke samping menghadap Ian. "Mulai keberatan dengan pekerjaan? Apa sekarang kamu kekurangan waktu karena telah memiliki tunangan? Mau resign?"Ian menatap tajam mata sahabatnya. "Aku nggak pernah ngomong begitu. Tapi kalau kamu memang mau aku mundur, ya sudah."Hening seketika. Dalam sejarah persahabatan mereka, moment ini adalah yang pertama kalinya mereka bertengkar sengit.Brandon menghela napas panjang, lalu kembali menatap jendela di mana bayi-bayinya sedang tidur. Ian mengikuti apa yang
“Kenalkan, Arsenio Elzhan Richmont, Arvenio Elvert Richmont dan Kyomi Lovella Richmont.” Brandon menunjuk bayi satu, dua dan tiga pada keluarga Richmont dan Dalton.Bayi-bayi mungil itu sekarang berada di dalam inkubator dalam satu ruangan steril. Mereka dapat melihat jelas melalui jendela lebar. Wajah-wajah tampan dan cantik itu menarik perhatian semua anggota keluarga.“Kecil banget, Tuhan.” Sacha menatap ketiga bayi dengan takjub.“Ya kali, bayi lahir langsung gede, Kak.” Louis menyahut sewot. “Kaya nggak pernah lahiran aja komentarnya.”Sacha mencebik pada Louis. Keduanya lalu sibuk mengabadikan keponakan-keponakan mereka dan membagi foto-foto tersebut ke kerabat dan media sosial.Mommy Keyna tampak tak dapat menahan rasa haru. Setelah sebelumnya menyaksikan ketiga anak sambungnya melahirkan, kini ia dapat merasakan putri kandung satu-satunya memiliki anak. Tiga sekaligus.“Akhirnya aku memiliki cucu dari darah dagingku sendiri.” Mommy Keyna bergumam.“Jangan sampai Fred, Sacha da
Netra Ian berputar ke sekeliling kafe, mencari sosok yang ia tunggu. Lalu, lelaki itu melirik arlogi mewahnya.Sudah terlambat lima belas menit dari janji yang ditetapkan.Untuk membuang waktu, Ian menatap ponsel. Beberapa hari ini tidak pernah ada pesan dari Brandon. Padahal sebelumnya, sahabatnya itu bisa mengirim pesan dua sampai lima kali sehari.Apa Brandon semarah itu padanya? Sungguh, Ian merasa cukup tersiksa dengan keadaan ini."Hai, Yan.""Oh." Ian tersentak kaget saat melamun. Ia langsung tersenyum pada wanita yang menyapanya. "Hai, Jasmine.""Maaf menunggu lama." Jasmine membalas dan duduk di depan Ian.Ian tersenyum penuh pengertian. "Itu tandanya, pasienmu banyak, bukan?"Jasmine terkekeh. "Lumayan lah."Ian memandang wanita di depannya yang sedang menyeduh teh. Jasmine lebih kalem saat ini. Boleh dibilang ia telah menjelma menjadi wanita dewasa yang lebih elegan."Terima kasih mau menemuiku, ya." Ian berucap.Jasmine hanya tersenyum dan mengangguk. Ini kali pertama mere
“Tuan Brandon?” Seorang perawat lelaki membangunkan Brandon dengan memberikan aroma menyengat di hidungnya.Brandon mengendus, lalu membuka mata. Ia langsung sadar bahwa sekarang berada di ruang rumah sakit.“Kenapa aku di sini? Mana istriku?” Brandon bertanya panik.“Anda pingsan di ruang operasi, Tuan.”“Sial!” Brandon memijat keningnya dan teringat kala dokter akan membedah perut Kelly, ia langsung merasa lunglai. “Apa istriku sudah melahirkan?”“Nyonya Kelly minta ditunda sampai anda sadar.”Kembali ke ruang operasi, Brandon segera menghampiri Kelly.“Babe, maaf.” Brandon menciumi wajah Kelly. “Kita mulai sekarang agar kamu tidak kesakitan lagi, ya.”Dokter tersenyum dan mengangguk. “Sebaiknya anda fokus pada istri anda saja, Tuan. Proses mengeluarkan bayi ini memang tidak nyaman.”Pernyataan dokter membuat Brandon menatap wajah Kelly. Keduanya berbincang, meski sesekali Kelly meringis kecil.“Sakit, Babe?” Brandon mencium genggaman tangan Kelly.Kelly menggeleng. “Tidak, sih. Han
Tanpa berhenti berjalan, Brandon menjawab pertanyaan kak Fred. “Kelly kontraksi.”Mendengar ucapan Brandon, Frederix membuntuti sang adik ipar. Ia bahkan ikut masuk ke dalam kamar. Kelly sedang berpegangan pada sofa dan mengatur napas.“Babe.”Kelly menoleh dengan wajah agak pucat. “Sakit, Brad.”Brandon menyiapkan bola besar untuk Kelly duduki. Lelaki itu memegangi istrinya yang duduk di atas bola dan ikutan mengatur napas .“Aku panggil Mommy Key, ya.” Frederix kemudian menghilang di balik pintu.“Sudah berapa lama kontraksinya, Babe?” Brandon yang bertanya, sambil mencoba menelepon dokter kandungan.“Sepuluh menit, tidak teratur. Kadang sakit, kadang tidak.”Tangan Brandon tak henti mengusap punggung Kelly. Ia bicara pada teleponnya dan menceritakan situasi Kelly pada dokter.Sambil bicara, Brandon lalu terlihat mengemasi tas dan mengambil dompetnya. Ia juga mengambil sepatu flat dan membantu Kelly menggunakannya.“Kita ke rumah sakit.” Brandon berkata setelah menutup teleponnya. “
Persalinan semakin dekat. Mansion Brandon kembali ramai dengan keluarga yang datang untuk menyambut si kembar tiga. Bahkan kakak-kakak dan keponakan-keponakan Kelly pun datang dan menginap di mansion.Beberapa hari ini para grandpa dan grandma masih sibuk di kamar bayi. Mereka meminta izin untuk mengatur dan menata kamar bayi. Kelly dan Brandon tentu saja tidak keberatan.Kelly duduk di sofa menyusui dan memperhatikan orang tua dan mertuanya. Mommy Keyna dan Mommy Florence sedang berdiskusi tentang aksesoris ranjang bayi tiga. Sementara Daddy William dan Daddy Donald lebih cepat menyelesaikan ranjang bayi satu dan dua.Hingga akhirnya keempatnya berkumpul di depan ranjang bayi tiga. Kelly menggeleng samar saat mereka begitu selektif.“Akh.” Keelly meringis dan mengatur napas.Mommy Keyna langsung mendekat. “Ada apa? Mereka bergerak bersamaan lagi?”“Kontraksi, Mom.” Kelly berdiri dan mencoba berjalan mondar-mandir dibimbing Mommy Keyna.“Bayi-bayi itu aktif sekali.” Daddy William mena
"Pagi, Brandon."Brandon menatap sekilas, lalu mengalihkan pandangan sambil memberi kode pada wanita yang baru datang itu untuk duduk di depannya.Kelly mengizinkannya bertemu Audrey tetapi berpesan untuk tidak berpandang-pandangan lama dengan wanita lain.Wanita cantik dengan tubuh ramping dan harum bunga jasmine itu mengangguk lalu duduk."Kelly bilang kamu mau bertemu?"Brandon tidak langsung menjawab. Ia memilih menu sarapan favorit di kafe untuknya dan Audrey. Bicara sambil makan akan membuatnya tidak perlu bertatapan dengan wanita tersebut."Ian menemuiku dini hari tadi dan menceritakan hubungan kalian." Brandon melirik jari manis Audrey yang terselip cincin berlian."Oh. Oke." Bingung berkomentar apa, Audrey hanya mengangguk dan menjawab singkat."Kamu mencintai Ian?" Kini, Brandon menatap tajam Audrey.Tidak memberi Audrey kesempatan menjawab, Brandon kembali berkata, "Aku rasa tidak, bukan? Rasanya terlalu cepat bagi kalian untuk jatuh cinta.""Tapi, kami serius ingin menikah
"Aku bisa jelaskan!" Ian membuntuti Brandon.Tengah malam, Eros menelepon Brandon dan mengabari bahwa Ian datang. Brandon mengira ada sesuatu yang genting, terpaksa meninggalkan Kelly di kamar.Dan sekarang saat ternyata Ian menemuinya hanya untuk membicarakan hubungannya dengan wanita di ranjangnya, Brandon segera membalik arah kembali ke kamar utama."Nggak perlu. Aku nggak mau tau, kok.""Ish... tapi aku mau cerita.""Nanti saja. Istriku sendirian di kamar."Brandon berjalan lurus meninggalkan Ian. Tapi, sahabatnya itu memang pantang menyerah."Wanita itu... Audrey!" Ian berteriak.Langkah Brandon terhenti. Dahinya berkerut saat membalik tubuh menghadap Ian."Audrey? Wanita yang katamu, sok cantik, sok pinter, sok paling tau, sok keren dan paling sombong di dunia itu?"Ian melipat bibirnya ke dalam dan mengangguk pelan."Wanita yang barusan berada di ranjangmu itu adalah wanita yang kamu benci?"Sekali lagi, Ian mengangguk.Hening sejenak. Brandon tampak berpikir sambil mengamati s