“Ani-ani?” Clark mengerutkan kening tak mengerti.“Pelakor.” Kelly membalas ketus.Clark memandang Kelly tanpa berkedip. Kenapa tiba-tiba, adik iparnya yang biasanya santun dan ramah ini, berwajah judes?“Kamu... menuduhku berselingkuh?” Pelan, Clark menebak isi pikiran Kelly.Bahu Kelly naik turun menanggapi pertanyaan tersebut. Ia lalu berdiri dan membenahi pakaian.“Terima kasih atas bincang-bincangnya. Aku ada janji dengan Kak Gio untuk mengantar Kak Fred dan Marc ke Universitas Teknologi.”Belum sampai tangan Kelly membuka handle pintu, Clark sudah menahan pintu. Lelaki itu berdiri di depan Kelly dengan wajah serius.“Apa yang kamu ketahui? Katakan padaku.” Clark mendesak Kelly.“Justru aku tidak tau apa-apa. Jadi, bingung dan hanya bisa menduga-duga.”“Ayo lah. Jujur padaku.” Kini, Clark terlihat frustasi.Kelly terdiam sejenak. Lalu, ia menatap mata Clark seolah berusaha memahami apa yang terjadi dengan lelaki di depannya ini. Kelly menunduk sedih.“Aku hanya tau kalau Kak Clar
“Ani-ani? Si tikus kejepit? Siapa, sih?” Brandon mengerutkan keningnya mendengar cerita Kelly.Saat Kelly, Frederix dan Marc pulang ke mansion, ternyata Brandon juga ada di sana. Kelly langsung menarik suaminya ke ruang kerja dan bercerita tanpa jeda.“Pokoknya Agnes itu memang cantiikk banget. Kulitnya mulus, wajahnya tanpa pori-pori. Tubuhnya tinggi, langsing.” Sambil bicara, tangan Kelly membentuk tubuh wanita yang seksi.Brandon masih mengerutkan kening. Bagaimana ia bisa berkomentar jika sang istri terus bicara tanpa jeda?“Kamu kalau bertemu pasti setuju kalau Agnes itu cantik banget.”“Oke. Lalu?”Kelly terdiam. “Lalu apa?”“Yaa... kamu menemukan bukti kalau dia ani-ani-nya Kak Clark?”“Tidak. Memangnya aku bilang begitu?”“Astagaa, Babe! Tadi, kamu marah-marah, aku pikir memang ketangkap basah mereka bermesraan.” Brandon menggeleng, menyesali pikiran buruknya.Kelly menyeringai menyadari bahwa ia menggiring pendapat Brandon ke arah sana. Tapi, Kelly mengungkapkan bahwa ia memi
Clark mendengus pelan melihat Kelly yang keras kepala. Namun entah mengapa ia tidak bisa marah pada wanita di depannya ini. Clark melirik jas dokter yang disampirkan di lengan kursi.“Kalau kamu diminta untuk berganti profesi setelah menikah, apa kamu mau?” Clark melempar pertanyaan pada Kelly.Kelly diam sejenak lalu, menjawab, “Mungkin... tergantung profesinya. Jika mash sejalan dan bisa kulakukan, kenapa tidak?”“Bagaimana jika profesinya jauh dari apa yang kamu lakukan sekarang? Misalnya sekarang, kamu model dan pebisnis, lalu keluarga memintamu berganti profesi menjadi dokter. Apa kamu bersedia?”Dahi Kelly langsung berkerut dalam. “Waah itu jauh sekali. Untuk menjadi dokter, aku harus mulai dari awal... dan belum tentu juga aku bisa.”“Tepat!” Clark mengangguk tegas. “Itu yang terjadi padaku. Keluarga Richmont memintaku beralih profesi menjadi pengusaha dan meninggalkan dunia kedokteran.”Dari dokter menjadi pengusaha? Sebenarnya tidak mustahil. Daddy William dulu juga mengawali
Selesai berkeliling kantor baru, Kelly mengajak Kakak dan keponakannya pergi. Brandon menatap punggung istrinya sambil menghela napas panjang.Bukannya tidak senang sang istri dikunjungi keluarganya. Namun, ia merasa waktu dan perhatian Kelly jadi terbagi. Dan ia jadi orang yang tersisih.“Kamu kenapa? Kelihatannya lemas banget?” Ian mengamati sahabatnya yang terlihat termenung sambil memainkan pulpen di tangan.“Nggak papa.” Brandon tersadar dari lamunan.“Oh ya. Bagaimana pendapatmu tentang ruangan ini? Apa ada yang kurang?”Brandon merespon pertanyaan Ian dengan menatap sekeliling. Terus terang saja, tadi saat masuk, ia sama sekali tidak memperhatikan ruangan ini karena langsung bermesraan dengan Kelly.“Ok.” Brandon menjawab singkat, membuat Ian mengerutkan kening.“Ok? Yakin? Biasanya selalu ada saja yang tidak berkenan atau membuatmu tak nyaman.” Ian berdiri dan mendekati sofa. “Contohnya sofa ini. Aku pikir kamu tidak akan setuju dengan model ini.”Brandon menatap sofa. Tetapi,
“Aku pulangg.” Kelly langsung masuk ke dalam dekapan Brandon saat tiba di mansion.Brandon diam saja saat Kelly bercerita bahwa Marc tiba-tiba merasa pusing dan ingin istirahat. Kak Fred juga setuju mereka langsung pulang ke mansion karena besok Marc masih ada ujian.“Kamu kenapa pulang cepat?” Kelly mendongak menatap wajah tampan suaminya.“Kangen kamu.”“Masa? Baru juga bertemu.”Lelaki itu mengabaikan pertanyaan istrinya. Ia juga bingung kenapa resah sekali jika tidak melihat istrinya. Berpisah sebentar saja membuat ia seperti tersiksa.“Besok jadi ke mansion Kak Dheena?”“Jadi, dong. Aku sudah janjian.”“Kak Dheena tidak curiga?”“Aku bilangnya minta ajarin masak. Jadi, besok kita akan masak makanan kesukaanmu.”Brandon menggeleng samar. “Ngapain sih, Babe. Kita kan ada koki. Kamu nggak perlu repot masak.”“Aku masak buat kamu!”Pernyataan tegas ini membuat Brandon menutup mulut. Alamat besok ia bad mood lagi di kantor karena tidak ada Kelly.“Jangan lama-lama, Babe. Nanti aku tan
"Ingat. Angkat telepon!" Brandon berkata tegas pada istrinya saat ia memgantar Kelly ke mansion Kak Dheena.Kelly menyeringai dan mengangguk berbarengan. Ia mengangkat ponselnya yang dipegang sejak mereka berangkat."Jangan lama-lama." Brandon kembali memgingatkan Kelly."Tidak. Setelah selesai masak, aku akan ke kantormu dan mempresentasikan masakanku.""Ya, sudah." Brandon mengelus sayang kepala sang istri.Keduanya masuk ke mansion Kak Dheena. Kediaman cantik itu berhiasa banyak bunga di berbagai sudut. Harum aroma jasmine memanjakan pemciuman mereka."Hai, Kel, Brad." Kak Dheena menyapa adik-adiknya dengan senyum manis.Kelly langsung memghampiri dan memeluk Dheena."Siap masak hari ini?"Kelly terkekeh lalu mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan kakak iparnya."Kamu mau ikut masak, Brad?" Dheena lalu beralih pada adik bungsunya."Tidak. Aku mau meeting." Brandon menggeleng pelan. "Titip Kelly, ya, Kak."Setelah mencium kedua pipi Kelly, Brandon pamit ke kantor. Kelly menganta
Clark tidak menjawab. Ia mengambil kotak itu dari tangan Dheena lalu dengan cepat memasukkannya ke dalam tas.Setelah itu, keadaan lebih canggung lagi. Dheena tampak sesekali mengembuskan napas panjang."Kelly, sebaiknya kita ke kantor Brad sekarang." Dheena mengambil tasnya dan berdiri.Tanpa berpamitan, Dheena keluar. Kakinya melangkah cepat. Kelly buru-buru menyusul."Kak. Tungguin." Kelly berusaha mengejar Dheena.Begitu dekat, Kelly melihat Dheena menghapus air mata. Pasti sedih karena melihat Kak Clark mendapat hadiah yang ia tebak adalah dari Agnes.Di dalam mobil, Dheena membuang pandangan ke luar jendela. Kelly tau kakak iparnya sedang berusaha tidak melakukan kontak mata dengannya.“Kak, maaf, ya. Sebenarnya, aku tau apa yang terjadi pada Kak Dheena dan Kak Clark.” Kelly menyentuh tangan Dheena dan berkata dengan nada menyesal.“Dan sekarang kamu tau, bahwa itu bukan sekedar rumor saja.” Dheena membalas tanpa menatap Kelly.“Agnes hanya pasien saja, Kak.”“Mana ada pasien be
Kelly seringkali melihat Marc tersenyum-senyum sendiri pada ponselnya. Ia sampai curiga keponakannya telah memiliki kekasih. Mungkin salah satu mahasiswi yang ia temui di kampus.Malam itu saat Brandon dan Kelly sedang bersantai di ruanng keluarga, Marc menghampiri mereka dengan pakaian rapi. Kelly bahkan dapat mencium aroma parfum mahal yang jarang sekali dikenakan Marc.“Mau ke mana?” Kelly langsung menginterogasi.“Aku mau ke gedung tinggi. Mau foto-foto.” Marc memperlihatkan tas kameranya.Namun, Kelly tidak percaya begitu saja. Masalahnya, penampilan Marc lebih rapi dan wangi dari biasanya.“Dengan siapa?”“Mmm.... “Marc melirik Brandon yang ternyata juga sedang menunggu jawabannya.“Dengan objek foto.”“Wanita?”“Iya.”Karena Marc jujur, Brandon mengangguk mengizinkan. Mata Marc bersinar cerah, apalagi setelah Brandon juga memperbolehkan Marc membawa salah satu mobil sport miliknya.“Jangan sembarangan sama wanita. Harus pulang, tidak boleh menginap.” Kelly berkacak pinggang pad
“Paling mirip kamu? Kayanya Arsen. Dia lebih kalem.”Brandon mendekat, lalu berjongkok di samping sang istri yang masih menyusui. “Maksudku bukan wajahnya, Babe. Tapi cara mereka menyusu.” Brandon menyeringai kala melihat istrinya melotot padanya.“Bisa-bisanya bercanda begitu. Kalau kedengeran suster gimana?”“Nggak papa. Pasti mereka paham.” Brandon menyahut tak peduli.Butuh waktu hampir satu jam bagi Kelly untuk memastikan bayi-bayinya telah kenyang. Saat telah selesai dengan Arsen dan Mimi, suster membantu mengembalikan bayi-bayi itu ke box mereka.Brandon sendiri masih belum berani menggendong bayi-bayinya. Ia langsung menggeleng dan mundur satu langkah saat suster ingin membimbingnya cara menggendong bayi.“Jangan sekarang. Aku belum siap. Mereka sepertinya masih rapuh sekali.” Brandon mendesah melihat tubuh bayi-bayinya yang mungil.Saat akan keluar dari ruangan, terdengar bayi menangis. Kelly menoleh dan melihat Reno terbangun.“Kok sebentar banget Reno tidurnya, Sus?” Kelly
Tanpa menoleh, Brandon hapal suara siapa yang bicara dengannya. Ia mengangguk dan membalas, "Terima kasih.""Kamu masih marah padaku?"Brandon menoleh menatap Ian. "Marah?""Kamu jarang bahkan hampir tidak pernah menghubungiku." Ian menghela napas berat. "Bahkan saat istrimu melahirkan pun, kamu tidak mengabariku.""Kupikir kamu sibuk dengan... Audrey."Gantian kini Ian yang menoleh ke samping menatap Brandon. "Aku sibuk mengurusi semua bisnismu!"Brandon mengerutkan kening, lalu membalik tubuhnya ke samping menghadap Ian. "Mulai keberatan dengan pekerjaan? Apa sekarang kamu kekurangan waktu karena telah memiliki tunangan? Mau resign?"Ian menatap tajam mata sahabatnya. "Aku nggak pernah ngomong begitu. Tapi kalau kamu memang mau aku mundur, ya sudah."Hening seketika. Dalam sejarah persahabatan mereka, moment ini adalah yang pertama kalinya mereka bertengkar sengit.Brandon menghela napas panjang, lalu kembali menatap jendela di mana bayi-bayinya sedang tidur. Ian mengikuti apa yang
“Kenalkan, Arsenio Elzhan Richmont, Arvenio Elvert Richmont dan Kyomi Lovella Richmont.” Brandon menunjuk bayi satu, dua dan tiga pada keluarga Richmont dan Dalton.Bayi-bayi mungil itu sekarang berada di dalam inkubator dalam satu ruangan steril. Mereka dapat melihat jelas melalui jendela lebar. Wajah-wajah tampan dan cantik itu menarik perhatian semua anggota keluarga.“Kecil banget, Tuhan.” Sacha menatap ketiga bayi dengan takjub.“Ya kali, bayi lahir langsung gede, Kak.” Louis menyahut sewot. “Kaya nggak pernah lahiran aja komentarnya.”Sacha mencebik pada Louis. Keduanya lalu sibuk mengabadikan keponakan-keponakan mereka dan membagi foto-foto tersebut ke kerabat dan media sosial.Mommy Keyna tampak tak dapat menahan rasa haru. Setelah sebelumnya menyaksikan ketiga anak sambungnya melahirkan, kini ia dapat merasakan putri kandung satu-satunya memiliki anak. Tiga sekaligus.“Akhirnya aku memiliki cucu dari darah dagingku sendiri.” Mommy Keyna bergumam.“Jangan sampai Fred, Sacha da
Netra Ian berputar ke sekeliling kafe, mencari sosok yang ia tunggu. Lalu, lelaki itu melirik arlogi mewahnya.Sudah terlambat lima belas menit dari janji yang ditetapkan.Untuk membuang waktu, Ian menatap ponsel. Beberapa hari ini tidak pernah ada pesan dari Brandon. Padahal sebelumnya, sahabatnya itu bisa mengirim pesan dua sampai lima kali sehari.Apa Brandon semarah itu padanya? Sungguh, Ian merasa cukup tersiksa dengan keadaan ini."Hai, Yan.""Oh." Ian tersentak kaget saat melamun. Ia langsung tersenyum pada wanita yang menyapanya. "Hai, Jasmine.""Maaf menunggu lama." Jasmine membalas dan duduk di depan Ian.Ian tersenyum penuh pengertian. "Itu tandanya, pasienmu banyak, bukan?"Jasmine terkekeh. "Lumayan lah."Ian memandang wanita di depannya yang sedang menyeduh teh. Jasmine lebih kalem saat ini. Boleh dibilang ia telah menjelma menjadi wanita dewasa yang lebih elegan."Terima kasih mau menemuiku, ya." Ian berucap.Jasmine hanya tersenyum dan mengangguk. Ini kali pertama mere
“Tuan Brandon?” Seorang perawat lelaki membangunkan Brandon dengan memberikan aroma menyengat di hidungnya.Brandon mengendus, lalu membuka mata. Ia langsung sadar bahwa sekarang berada di ruang rumah sakit.“Kenapa aku di sini? Mana istriku?” Brandon bertanya panik.“Anda pingsan di ruang operasi, Tuan.”“Sial!” Brandon memijat keningnya dan teringat kala dokter akan membedah perut Kelly, ia langsung merasa lunglai. “Apa istriku sudah melahirkan?”“Nyonya Kelly minta ditunda sampai anda sadar.”Kembali ke ruang operasi, Brandon segera menghampiri Kelly.“Babe, maaf.” Brandon menciumi wajah Kelly. “Kita mulai sekarang agar kamu tidak kesakitan lagi, ya.”Dokter tersenyum dan mengangguk. “Sebaiknya anda fokus pada istri anda saja, Tuan. Proses mengeluarkan bayi ini memang tidak nyaman.”Pernyataan dokter membuat Brandon menatap wajah Kelly. Keduanya berbincang, meski sesekali Kelly meringis kecil.“Sakit, Babe?” Brandon mencium genggaman tangan Kelly.Kelly menggeleng. “Tidak, sih. Han
Tanpa berhenti berjalan, Brandon menjawab pertanyaan kak Fred. “Kelly kontraksi.”Mendengar ucapan Brandon, Frederix membuntuti sang adik ipar. Ia bahkan ikut masuk ke dalam kamar. Kelly sedang berpegangan pada sofa dan mengatur napas.“Babe.”Kelly menoleh dengan wajah agak pucat. “Sakit, Brad.”Brandon menyiapkan bola besar untuk Kelly duduki. Lelaki itu memegangi istrinya yang duduk di atas bola dan ikutan mengatur napas .“Aku panggil Mommy Key, ya.” Frederix kemudian menghilang di balik pintu.“Sudah berapa lama kontraksinya, Babe?” Brandon yang bertanya, sambil mencoba menelepon dokter kandungan.“Sepuluh menit, tidak teratur. Kadang sakit, kadang tidak.”Tangan Brandon tak henti mengusap punggung Kelly. Ia bicara pada teleponnya dan menceritakan situasi Kelly pada dokter.Sambil bicara, Brandon lalu terlihat mengemasi tas dan mengambil dompetnya. Ia juga mengambil sepatu flat dan membantu Kelly menggunakannya.“Kita ke rumah sakit.” Brandon berkata setelah menutup teleponnya. “
Persalinan semakin dekat. Mansion Brandon kembali ramai dengan keluarga yang datang untuk menyambut si kembar tiga. Bahkan kakak-kakak dan keponakan-keponakan Kelly pun datang dan menginap di mansion.Beberapa hari ini para grandpa dan grandma masih sibuk di kamar bayi. Mereka meminta izin untuk mengatur dan menata kamar bayi. Kelly dan Brandon tentu saja tidak keberatan.Kelly duduk di sofa menyusui dan memperhatikan orang tua dan mertuanya. Mommy Keyna dan Mommy Florence sedang berdiskusi tentang aksesoris ranjang bayi tiga. Sementara Daddy William dan Daddy Donald lebih cepat menyelesaikan ranjang bayi satu dan dua.Hingga akhirnya keempatnya berkumpul di depan ranjang bayi tiga. Kelly menggeleng samar saat mereka begitu selektif.“Akh.” Keelly meringis dan mengatur napas.Mommy Keyna langsung mendekat. “Ada apa? Mereka bergerak bersamaan lagi?”“Kontraksi, Mom.” Kelly berdiri dan mencoba berjalan mondar-mandir dibimbing Mommy Keyna.“Bayi-bayi itu aktif sekali.” Daddy William mena
"Pagi, Brandon."Brandon menatap sekilas, lalu mengalihkan pandangan sambil memberi kode pada wanita yang baru datang itu untuk duduk di depannya.Kelly mengizinkannya bertemu Audrey tetapi berpesan untuk tidak berpandang-pandangan lama dengan wanita lain.Wanita cantik dengan tubuh ramping dan harum bunga jasmine itu mengangguk lalu duduk."Kelly bilang kamu mau bertemu?"Brandon tidak langsung menjawab. Ia memilih menu sarapan favorit di kafe untuknya dan Audrey. Bicara sambil makan akan membuatnya tidak perlu bertatapan dengan wanita tersebut."Ian menemuiku dini hari tadi dan menceritakan hubungan kalian." Brandon melirik jari manis Audrey yang terselip cincin berlian."Oh. Oke." Bingung berkomentar apa, Audrey hanya mengangguk dan menjawab singkat."Kamu mencintai Ian?" Kini, Brandon menatap tajam Audrey.Tidak memberi Audrey kesempatan menjawab, Brandon kembali berkata, "Aku rasa tidak, bukan? Rasanya terlalu cepat bagi kalian untuk jatuh cinta.""Tapi, kami serius ingin menikah
"Aku bisa jelaskan!" Ian membuntuti Brandon.Tengah malam, Eros menelepon Brandon dan mengabari bahwa Ian datang. Brandon mengira ada sesuatu yang genting, terpaksa meninggalkan Kelly di kamar.Dan sekarang saat ternyata Ian menemuinya hanya untuk membicarakan hubungannya dengan wanita di ranjangnya, Brandon segera membalik arah kembali ke kamar utama."Nggak perlu. Aku nggak mau tau, kok.""Ish... tapi aku mau cerita.""Nanti saja. Istriku sendirian di kamar."Brandon berjalan lurus meninggalkan Ian. Tapi, sahabatnya itu memang pantang menyerah."Wanita itu... Audrey!" Ian berteriak.Langkah Brandon terhenti. Dahinya berkerut saat membalik tubuh menghadap Ian."Audrey? Wanita yang katamu, sok cantik, sok pinter, sok paling tau, sok keren dan paling sombong di dunia itu?"Ian melipat bibirnya ke dalam dan mengangguk pelan."Wanita yang barusan berada di ranjangmu itu adalah wanita yang kamu benci?"Sekali lagi, Ian mengangguk.Hening sejenak. Brandon tampak berpikir sambil mengamati s