Dalam perjalanan kembali ke mansion, Kelly tetap mendesak Brandon untuk memperbolehkannya bicara dengan Kak Dheena. Brandon tetap menggeleng. Menurutnya mereka tidak perlu ikut campur masalah keluarga Kak Dheena.“Tapi, kasihan kalau Kak Dheena butuh teman untuk bicara.”“Kak Dheena sudah didampingi psikolog klinis, Babe.”Tetap saja Kelly tidak puas. Ia berpikir bagaimana caranya bertemu dengan Kak Dheena. Lalu, ia mendapat ide bagus.“Brad, kita undang makan malam keluarga Richmont, yuk. Mereka belum ke mansion baru, ‘kan?”“Nanti saja, Babe. Mansion kita kan belum rampung sepenuhnya.”“Nggak papa. Biar mereka juga bisa melihat prosesnya hingga selesai.” Kelly terus mendesak hingga akhirnya Brandon mengangguk.Sebelum tidur, Kelly mendapat telepon dari Sacha. Mereka berbincang tentang toko dan kelanjutannya. Setelah setengah jam, Kelly lalu bergabung dengan suaminya yang telah lebih dulu naik ke ranjang.“Apa kata Kak Cha?” tanya Brandon.“Terima kasih buat kamu. Kak Cha tidak menya
Brandon tergelak melihat istrinya terkejut. Lalu menjelaskan bahwa ia membeli mansion dengan komisi bagi hasil dari perusahaan Richmont yang tidak pernah ambil."Sebanyak itu komisinya?""Memang bertahun-tahun tidak aku ambil jadi jumlahnya cukup untuk membeli dan merenovasi mansion baru."Kelly mengangguk mengerti. Ia mengembalikan tablet kepada Brandon."Aku pikir kamu betulan bangkrut.""Maaf. Aku suka melihat wajah polosmu.""Tapi, kamu bohong sama aku.""Oke... maaf lagi." Brandon mencium istrinya.Kepala Kelly mengangguk kembali. Hatinya lega karena ternyata sang suami tidak benar-benar kesulitan keuangan."Sungguhan kamu pikir begitu? Ya ampun, Babe. Asal kamu tau, uang kita tidak akan habis sampai beberapa turunan.""Bagus lah.""Eh, memang kenapa kalau aku kehabisan uang?""Nggak mau. Aku mau pulang ke Daddy saja.""Wah ternyata kamu materialistis." Brandon tergelak."Bukan. Tapi aku realistis. Hidup perlu uang." Kelly menyanggah dengan gaya santai.Pembicaraan tentang kekaya
“Jangan salah sangka. Aku selalu profesional dalam bekerja.” Clark berkilah cepat.Brandon mengangguk. “Terserah.”“Ya, sudah. Aku lanjut praktek lagi.” Clark berdiri dan mengendik pada pintu ruang psikolog. “Semoga Kelly bisa lebih tenang setelah konseling.”“Terima kasih.”Melalui sudut mata, Brandon menatap kepergian kakak iparnya. Meski terlihat tidak peduli, Brandon sebenarnya merasa kasihan pada Kak Dheena. Apalagi ia memang paling dekat dengan kakaknya yang satu itu.Meski begitu, Brandon juga tidak suka mencampuri urusan internal keluarga sang kakak. Ia tak tau bagaimana harus membantu.Kelly selesai setelah satu jam konseling. Wajahnya sudah lebih tenang. Psikolog bilang Kelly akan tetap mendapat sesi terapi seminggu dua kali.Kelly dan Brandon melenggang santai keluar dari rumah sakit. Mereka mendengar berbagai komentar saat lewat di depan ruang tunggu pendaftaran pasien yang ramai.“Itu istri Brandom Richmont?”“Aslinya lebih cantik.”“Orang kaya nikah dengan orang kaya. Se
Setelah satu bulan melakukan terapi untuk menangani ketakutannya, Kelly mulai dapat lebih tenang. Ia mengaku masih bermimpi sesekali, namun tidak setakut sebelumnya. Bahkan terkadang, ketika terjaga tengah malam, ia bisa tidur kembali.Seperti pagi ini, Kelly dengan bangga bercerita bahwa semalam ia bermimpi tentang wanita berpakaian hitam itu memandangnya tajam kembali. Tapi ia tidak sampai membangunkan Brandon.“Aku nggak keberatan kamu bangunkan, Babe.” Brandon berkata sambil menyuapi dirinya sandwich.“Aku tau. Tetapi, aku hanya ingin bisa mengendalikan rasa takut ini.”“Pokoknya, kalau ada apa-apa, kamu harus kasih tau aku.”Kelly tidak membalas. Netranya menatap sekeliling. Mansion baru ini tidak sama dengan mansion lama Brandon. Tempat ini lebih besar dan terang karena sebagian besar berjendela lebar hingga sinar matahari masuk ke dalam mansion.Tetapi, kenapa rasanya Kelly masih sangat asing di tempat ini. Apa karena ia jadi kepikiran kata-kata Marc bahwa tempat ini mungkin du
Kak Dheena mengibaskan tangan. “Sudah. Tak perlu dipikirkan.”“Yakin? Kak Dheena sampai menangis begitu, lho.”Dheena tidak menjawab. Ia bercermin dan melakukan touch up pada wajahnya sedikit lalu berdiri. “Ayo, kita temui Kelly dan keluarganya.”Brandon mengekori Kak Dheena. MelihatKakak iparnya dari jauh, Kelly segera berdiri dan menghampiri.“Kak Dheena.” Kelly memeluk akrab Dheena yang langsung membalas.“Hai, adik cantik.” Dheena membalas dengan kecupan di pipi kiri dan kanan.Setelah itu Kak Dheena, Kak Fred dan Marc berbalas kabar. Seperti biasa, Brandon lebih banyak mendengarkan daripada ikut terlibat perbincangan.“Kamu kenapa, Sayang?” Kelly berbisik di telinga Brandon.“Kenapa memangnya?” Brandon membalas dengan berbisik pula.“Wajahmu menyeramkan meski tak mengurangi ketampanan.”Brandon mendengus pelan. “Yang penting tetap tampan.”Kelly hanya terkekeh. Dalam hati, nanti saat di kamar, ia harus mengorek keterangan tentang kenapa Brandon berwajah tegang setelah dari ruang
“Kak Clark.” Kelly menyapa kakak iparnya yang sedang makan di kafe rumah sakit.Lelaki berwajah cerdas itu mengangkat wajah dan tersenyum. “Hai, Kelly. Kok jadi sering melihatmu di sini? Kamu baik-baik saja, kan?”“Baik, dong. Aku ke sini memang ingin bicara sama Kak Clark.” Lalu, Kelly pura-pura tertegun melihat wanita yang duduk di depan Clark. “Eh, maaf. Aku pikir Kak Clark dengan sesama dokter.”“Tak apa.” Wanita cantik itu berkata dengan suara yang aneh. “Tampak belakang aku mirip dokter karena memakai jas putih, ya.”Kelly mengangguk. Lalu berkata pada Clark, bahwa ia akan kembali nanti saja. Tapi, Clark justru menahan Kelly.“Tak apa, Kel.” Clark berdiri. “Ini Agnes, pasienku. Kami sudah selesai bicara, kok.”Agnes ikut berdiri. Kelly mendongak kagum. Wanita itu sudah cantik, tinggi pula. Bahkan lebih tinggi dari Kak Clark.“Wow kakak cantik sekali,” puji Kelly.“Akh, pujian itu lebih cocok untuk Dokter Clark. Perawatan yang dilakukannya sangat cocok untukku.” Tanpa malu wanita
“Ani-ani?” Clark mengerutkan kening tak mengerti.“Pelakor.” Kelly membalas ketus.Clark memandang Kelly tanpa berkedip. Kenapa tiba-tiba, adik iparnya yang biasanya santun dan ramah ini, berwajah judes?“Kamu... menuduhku berselingkuh?” Pelan, Clark menebak isi pikiran Kelly.Bahu Kelly naik turun menanggapi pertanyaan tersebut. Ia lalu berdiri dan membenahi pakaian.“Terima kasih atas bincang-bincangnya. Aku ada janji dengan Kak Gio untuk mengantar Kak Fred dan Marc ke Universitas Teknologi.”Belum sampai tangan Kelly membuka handle pintu, Clark sudah menahan pintu. Lelaki itu berdiri di depan Kelly dengan wajah serius.“Apa yang kamu ketahui? Katakan padaku.” Clark mendesak Kelly.“Justru aku tidak tau apa-apa. Jadi, bingung dan hanya bisa menduga-duga.”“Ayo lah. Jujur padaku.” Kini, Clark terlihat frustasi.Kelly terdiam sejenak. Lalu, ia menatap mata Clark seolah berusaha memahami apa yang terjadi dengan lelaki di depannya ini. Kelly menunduk sedih.“Aku hanya tau kalau Kak Clar
“Ani-ani? Si tikus kejepit? Siapa, sih?” Brandon mengerutkan keningnya mendengar cerita Kelly.Saat Kelly, Frederix dan Marc pulang ke mansion, ternyata Brandon juga ada di sana. Kelly langsung menarik suaminya ke ruang kerja dan bercerita tanpa jeda.“Pokoknya Agnes itu memang cantiikk banget. Kulitnya mulus, wajahnya tanpa pori-pori. Tubuhnya tinggi, langsing.” Sambil bicara, tangan Kelly membentuk tubuh wanita yang seksi.Brandon masih mengerutkan kening. Bagaimana ia bisa berkomentar jika sang istri terus bicara tanpa jeda?“Kamu kalau bertemu pasti setuju kalau Agnes itu cantik banget.”“Oke. Lalu?”Kelly terdiam. “Lalu apa?”“Yaa... kamu menemukan bukti kalau dia ani-ani-nya Kak Clark?”“Tidak. Memangnya aku bilang begitu?”“Astagaa, Babe! Tadi, kamu marah-marah, aku pikir memang ketangkap basah mereka bermesraan.” Brandon menggeleng, menyesali pikiran buruknya.Kelly menyeringai menyadari bahwa ia menggiring pendapat Brandon ke arah sana. Tapi, Kelly mengungkapkan bahwa ia memi
“Paling mirip kamu? Kayanya Arsen. Dia lebih kalem.”Brandon mendekat, lalu berjongkok di samping sang istri yang masih menyusui. “Maksudku bukan wajahnya, Babe. Tapi cara mereka menyusu.” Brandon menyeringai kala melihat istrinya melotot padanya.“Bisa-bisanya bercanda begitu. Kalau kedengeran suster gimana?”“Nggak papa. Pasti mereka paham.” Brandon menyahut tak peduli.Butuh waktu hampir satu jam bagi Kelly untuk memastikan bayi-bayinya telah kenyang. Saat telah selesai dengan Arsen dan Mimi, suster membantu mengembalikan bayi-bayi itu ke box mereka.Brandon sendiri masih belum berani menggendong bayi-bayinya. Ia langsung menggeleng dan mundur satu langkah saat suster ingin membimbingnya cara menggendong bayi.“Jangan sekarang. Aku belum siap. Mereka sepertinya masih rapuh sekali.” Brandon mendesah melihat tubuh bayi-bayinya yang mungil.Saat akan keluar dari ruangan, terdengar bayi menangis. Kelly menoleh dan melihat Reno terbangun.“Kok sebentar banget Reno tidurnya, Sus?” Kelly
Tanpa menoleh, Brandon hapal suara siapa yang bicara dengannya. Ia mengangguk dan membalas, "Terima kasih.""Kamu masih marah padaku?"Brandon menoleh menatap Ian. "Marah?""Kamu jarang bahkan hampir tidak pernah menghubungiku." Ian menghela napas berat. "Bahkan saat istrimu melahirkan pun, kamu tidak mengabariku.""Kupikir kamu sibuk dengan... Audrey."Gantian kini Ian yang menoleh ke samping menatap Brandon. "Aku sibuk mengurusi semua bisnismu!"Brandon mengerutkan kening, lalu membalik tubuhnya ke samping menghadap Ian. "Mulai keberatan dengan pekerjaan? Apa sekarang kamu kekurangan waktu karena telah memiliki tunangan? Mau resign?"Ian menatap tajam mata sahabatnya. "Aku nggak pernah ngomong begitu. Tapi kalau kamu memang mau aku mundur, ya sudah."Hening seketika. Dalam sejarah persahabatan mereka, moment ini adalah yang pertama kalinya mereka bertengkar sengit.Brandon menghela napas panjang, lalu kembali menatap jendela di mana bayi-bayinya sedang tidur. Ian mengikuti apa yang
“Kenalkan, Arsenio Elzhan Richmont, Arvenio Elvert Richmont dan Kyomi Lovella Richmont.” Brandon menunjuk bayi satu, dua dan tiga pada keluarga Richmont dan Dalton.Bayi-bayi mungil itu sekarang berada di dalam inkubator dalam satu ruangan steril. Mereka dapat melihat jelas melalui jendela lebar. Wajah-wajah tampan dan cantik itu menarik perhatian semua anggota keluarga.“Kecil banget, Tuhan.” Sacha menatap ketiga bayi dengan takjub.“Ya kali, bayi lahir langsung gede, Kak.” Louis menyahut sewot. “Kaya nggak pernah lahiran aja komentarnya.”Sacha mencebik pada Louis. Keduanya lalu sibuk mengabadikan keponakan-keponakan mereka dan membagi foto-foto tersebut ke kerabat dan media sosial.Mommy Keyna tampak tak dapat menahan rasa haru. Setelah sebelumnya menyaksikan ketiga anak sambungnya melahirkan, kini ia dapat merasakan putri kandung satu-satunya memiliki anak. Tiga sekaligus.“Akhirnya aku memiliki cucu dari darah dagingku sendiri.” Mommy Keyna bergumam.“Jangan sampai Fred, Sacha da
Netra Ian berputar ke sekeliling kafe, mencari sosok yang ia tunggu. Lalu, lelaki itu melirik arlogi mewahnya.Sudah terlambat lima belas menit dari janji yang ditetapkan.Untuk membuang waktu, Ian menatap ponsel. Beberapa hari ini tidak pernah ada pesan dari Brandon. Padahal sebelumnya, sahabatnya itu bisa mengirim pesan dua sampai lima kali sehari.Apa Brandon semarah itu padanya? Sungguh, Ian merasa cukup tersiksa dengan keadaan ini."Hai, Yan.""Oh." Ian tersentak kaget saat melamun. Ia langsung tersenyum pada wanita yang menyapanya. "Hai, Jasmine.""Maaf menunggu lama." Jasmine membalas dan duduk di depan Ian.Ian tersenyum penuh pengertian. "Itu tandanya, pasienmu banyak, bukan?"Jasmine terkekeh. "Lumayan lah."Ian memandang wanita di depannya yang sedang menyeduh teh. Jasmine lebih kalem saat ini. Boleh dibilang ia telah menjelma menjadi wanita dewasa yang lebih elegan."Terima kasih mau menemuiku, ya." Ian berucap.Jasmine hanya tersenyum dan mengangguk. Ini kali pertama mere
“Tuan Brandon?” Seorang perawat lelaki membangunkan Brandon dengan memberikan aroma menyengat di hidungnya.Brandon mengendus, lalu membuka mata. Ia langsung sadar bahwa sekarang berada di ruang rumah sakit.“Kenapa aku di sini? Mana istriku?” Brandon bertanya panik.“Anda pingsan di ruang operasi, Tuan.”“Sial!” Brandon memijat keningnya dan teringat kala dokter akan membedah perut Kelly, ia langsung merasa lunglai. “Apa istriku sudah melahirkan?”“Nyonya Kelly minta ditunda sampai anda sadar.”Kembali ke ruang operasi, Brandon segera menghampiri Kelly.“Babe, maaf.” Brandon menciumi wajah Kelly. “Kita mulai sekarang agar kamu tidak kesakitan lagi, ya.”Dokter tersenyum dan mengangguk. “Sebaiknya anda fokus pada istri anda saja, Tuan. Proses mengeluarkan bayi ini memang tidak nyaman.”Pernyataan dokter membuat Brandon menatap wajah Kelly. Keduanya berbincang, meski sesekali Kelly meringis kecil.“Sakit, Babe?” Brandon mencium genggaman tangan Kelly.Kelly menggeleng. “Tidak, sih. Han
Tanpa berhenti berjalan, Brandon menjawab pertanyaan kak Fred. “Kelly kontraksi.”Mendengar ucapan Brandon, Frederix membuntuti sang adik ipar. Ia bahkan ikut masuk ke dalam kamar. Kelly sedang berpegangan pada sofa dan mengatur napas.“Babe.”Kelly menoleh dengan wajah agak pucat. “Sakit, Brad.”Brandon menyiapkan bola besar untuk Kelly duduki. Lelaki itu memegangi istrinya yang duduk di atas bola dan ikutan mengatur napas .“Aku panggil Mommy Key, ya.” Frederix kemudian menghilang di balik pintu.“Sudah berapa lama kontraksinya, Babe?” Brandon yang bertanya, sambil mencoba menelepon dokter kandungan.“Sepuluh menit, tidak teratur. Kadang sakit, kadang tidak.”Tangan Brandon tak henti mengusap punggung Kelly. Ia bicara pada teleponnya dan menceritakan situasi Kelly pada dokter.Sambil bicara, Brandon lalu terlihat mengemasi tas dan mengambil dompetnya. Ia juga mengambil sepatu flat dan membantu Kelly menggunakannya.“Kita ke rumah sakit.” Brandon berkata setelah menutup teleponnya. “
Persalinan semakin dekat. Mansion Brandon kembali ramai dengan keluarga yang datang untuk menyambut si kembar tiga. Bahkan kakak-kakak dan keponakan-keponakan Kelly pun datang dan menginap di mansion.Beberapa hari ini para grandpa dan grandma masih sibuk di kamar bayi. Mereka meminta izin untuk mengatur dan menata kamar bayi. Kelly dan Brandon tentu saja tidak keberatan.Kelly duduk di sofa menyusui dan memperhatikan orang tua dan mertuanya. Mommy Keyna dan Mommy Florence sedang berdiskusi tentang aksesoris ranjang bayi tiga. Sementara Daddy William dan Daddy Donald lebih cepat menyelesaikan ranjang bayi satu dan dua.Hingga akhirnya keempatnya berkumpul di depan ranjang bayi tiga. Kelly menggeleng samar saat mereka begitu selektif.“Akh.” Keelly meringis dan mengatur napas.Mommy Keyna langsung mendekat. “Ada apa? Mereka bergerak bersamaan lagi?”“Kontraksi, Mom.” Kelly berdiri dan mencoba berjalan mondar-mandir dibimbing Mommy Keyna.“Bayi-bayi itu aktif sekali.” Daddy William mena
"Pagi, Brandon."Brandon menatap sekilas, lalu mengalihkan pandangan sambil memberi kode pada wanita yang baru datang itu untuk duduk di depannya.Kelly mengizinkannya bertemu Audrey tetapi berpesan untuk tidak berpandang-pandangan lama dengan wanita lain.Wanita cantik dengan tubuh ramping dan harum bunga jasmine itu mengangguk lalu duduk."Kelly bilang kamu mau bertemu?"Brandon tidak langsung menjawab. Ia memilih menu sarapan favorit di kafe untuknya dan Audrey. Bicara sambil makan akan membuatnya tidak perlu bertatapan dengan wanita tersebut."Ian menemuiku dini hari tadi dan menceritakan hubungan kalian." Brandon melirik jari manis Audrey yang terselip cincin berlian."Oh. Oke." Bingung berkomentar apa, Audrey hanya mengangguk dan menjawab singkat."Kamu mencintai Ian?" Kini, Brandon menatap tajam Audrey.Tidak memberi Audrey kesempatan menjawab, Brandon kembali berkata, "Aku rasa tidak, bukan? Rasanya terlalu cepat bagi kalian untuk jatuh cinta.""Tapi, kami serius ingin menikah
"Aku bisa jelaskan!" Ian membuntuti Brandon.Tengah malam, Eros menelepon Brandon dan mengabari bahwa Ian datang. Brandon mengira ada sesuatu yang genting, terpaksa meninggalkan Kelly di kamar.Dan sekarang saat ternyata Ian menemuinya hanya untuk membicarakan hubungannya dengan wanita di ranjangnya, Brandon segera membalik arah kembali ke kamar utama."Nggak perlu. Aku nggak mau tau, kok.""Ish... tapi aku mau cerita.""Nanti saja. Istriku sendirian di kamar."Brandon berjalan lurus meninggalkan Ian. Tapi, sahabatnya itu memang pantang menyerah."Wanita itu... Audrey!" Ian berteriak.Langkah Brandon terhenti. Dahinya berkerut saat membalik tubuh menghadap Ian."Audrey? Wanita yang katamu, sok cantik, sok pinter, sok paling tau, sok keren dan paling sombong di dunia itu?"Ian melipat bibirnya ke dalam dan mengangguk pelan."Wanita yang barusan berada di ranjangmu itu adalah wanita yang kamu benci?"Sekali lagi, Ian mengangguk.Hening sejenak. Brandon tampak berpikir sambil mengamati s