Regantara menatap perempuan yang kini berdiri di hadapannya. Perempuan yang masih terbalut dalam setelan blazer coklat itu tampak jelas menyembunyikan kekalutan pikirannya di wajahnya.“Aku tahu, cepat atau lambat kamu bakal mengetahui semua kebusukan yang disimpan oleh suamimu,” ucap Regantara dengan keangkuhannya yang khas, “dia bukan lelaki baik-baik.” “Bagaimana Bapak tahu jika dia mengkhianatiku?” tanya Vania. Ia merasa heran karena Regantara bisa menebak sebelum semuanya terjadi.Tiba-tiba saja Vania merasakan kengerian melingkupinya. Bagaimana mungkin ahli waris satu-satunya perusahaan tempatnya bekerja, mengetahui kehidupannya secara detail seolah sengaja mengorek semua informasi pribadinya. Vania berusaha menepiskan kecurigaannya, untuk apa lelaki seperti Regantara mencari tahu kehidupan perempuan sepertinya. Tapi nalurinya sebagai perempuan begitu yakin mengatakan bahwa sisi mengerikan atasannya itu kembali muncul. Ia bahkan seperti paranormal, mengatakan Martin mengkhiana
Tubuh Vania terasa kaku seperti membeku. Sama sekali berbeda dengan kakinya yang terasa lemas saking takutnya, ia hampir tak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Ia sudah membayangkan betapa murkanya atasannya itu. Bahkan ia sudah membuat ulah di malam pertamanya menginap di apartemen Regantara. “Kalau mie instan yang kamu cari, aku tidak punya makanan seperti itu.” Suara Regantara terdengar begitu dekat, bahkan membuat Vania merinding. “Tapi aku bisa membuatkan sesuatu agar kamu tidak kelaparan. Jadi minggirlah dari meja dapurku.” Vania membuka matanya. Ia melihat dada lebar lelaki itu tepat di depan wajahnya, sementara Regantara terlihat sibuk mencari sesuatu dari lemari kitchen set yang menempel di dinding, di atasnya.Perlahan ia melangkah ke samping, mengikuti perintah atasannya agar menyingkir dari tempat itu. Perasaan bersalahnya semakin besar karena membuat Regantara terbangun bahkan merepotkannya dengan masalah perutnya yang memang terakhir diisinya siang tadi. Ia sangat ke
Regantara berteriak saking terkejutnya saat dilihatnya wajah cantik si pemilik tubuh bagai biola spanyol itu, tiba-tiba berubah menjadi wajah seseorang yang sangat dikenalinya. Pak Agus!Bruak! Tubuh Regantara jatuh dari atas ranjangnya. Lelaki itu langsung terbangun dari tidurnya. Dinginnya lantai membuatnya segera memutuskan untuk berdiri.“Mimpi macam apa itu,” gumamnya sambil membebaskan kakinya dari belitan selimutnya, “mungkin aku sudah gila.” Umpatnya setelah menyadari bahwa ini bukan kali pertama baginya mengimpikan perempuan yang sama dalam waktu yang berdekatan, seperti terobsesi. Dan celakanya perempuan itu masih berstatus suami orang!Suasana di meja makan pagi itu sangatlah tenang. Mereka seakan enggan untuk sekedar membuka sebuah percakapan. Hanya denting peralatan makan dan piring yang terdengar saat beradu dalam ruangan itu. Regantara meraih serbet di pangkuannya dan mengusap bibirnya. Tepat saat itu, suara ponsel berdering memecah keheningan.“Regan, jangan lupa … h
Vania benar-benar tak percaya pada apa yang dilihatnya. Ia tak bisa mempercayai bahwa sepanjang pernikahannya dengan Martin, ia telah diperdaya habis-habisan. Bagaimana bisa ia bertindak naif dan mempercayai apapun yang dikatakan oleh suaminya itu. Cepat-cepat ia memfoto kontak dan merekam chat percakapan Martin dengan perempuan bernama Andini itu dengan ponselnya. Ia bahkan tak tahu sejak kapan suaminya mengenal perempuan itu. Perempuan yang tersenyum manis dengan memperlihatkan seorang bayi yang sedang asyik menyusu di dadanya yang terbuka lebar.“Mas, jangan lupa nanti temani aku belanja keperluan princess kita, sekaligus beberapa perabot untuk rumah baru kita.” Kalimat itulah yang membuat Vania langsung merasa hancur. Kenapa Martin justru menghamili perempuan lain, alih-alih istrinya sendiri. Vania segera meletakkan kembali ponsel suaminya, saat melihat lelaki itu melangkah kembali menghampirinya. Tekadnya sudah bulat, ia tak mungkin melepaskan suaminya dan pelakor itu dan men
Regantara mengusap wajahnya sambil menghela napas panjang. Ia berusaha mati-matian menahan agar kalimat-kalimat itu tak meluncur dari bibirnya. Sungguh, ia merasa kesal melihat sekretarisnya itu terus memikirkan Martin, suami yang tak berguna itu. Ia bahkan tidak tahu bagaimana cara merebut hati perempuan itu. Perempuan yang bahkan membuatnya tertarik dalam pertemuan pertama mereka. “Maaf, Pak. Saya akan perbaiki sekarang.” Rasanya ingin sekali Vania menghilang dari dunia ini. Ia merasa semua orang ingin melihat kehancurannya. Seakan seluruh dunia ingin melihatnya menangis dan menyerah, hingga sengaja menimpakan semua hal buruk kepadanya. Bukan hanya tentang kehancuran pernikahannya, tetapi juga kehancuran dalam pekerjaannya.Regantara meletakkan sebuah dokumen di atas meja. Ditatapnya perempuan di hadapannya dengan tajam. Ia tahu seberapa dalam luka yang dirasakan oleh Vania saat ini. Ia tahu bahwa perempuan di depannya sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Dan … ini adal
“Kemasi beberapa pakaianmu. Kita harus menghadiri acara peresmian resort kita yang terbaru,” perintah Regantara sepulang dari pekerjaannya. “Tapi … bukankah Bapak ada janji makan malam dengan keluarga Bapak malam ini?” tanya Vania. Ia merasa heran mendengar perintah Regantara yang begitu mendadak. Matanya menatap lelaki yang melangkah menuju lemari es dan memenuhi gelasnya dengan air sejuk. “Aku sudah membatalkannya. Setidaknya mereka bisa mengerti mana yang harus aku prioritaskan,” sahutnya sembari melonggarkan dasi yang masih melingkar di lehernya.Vania merasa lega. Bagaimanapun ia masih belum siap untuk bersandiwara di hadapan keluarga Regantara. Setidaknya ia harus tahu beberapa hal tentangnya agar dapat menjawab sebuah pertanyaan sederhana sekalipun. “Baik.” Vania baru saja berbalik hendak kembali ke kamarnya ketika Regantara menyampaikan sebuah berita lainnya. “Dan satu hal lagi, aku sudah menyewa seorang pengacara untuk segera memproses perceraian kalian.”Vania menghentik
“Maksudmu?”“Aku mengatakan omong kosong itu padanya, hanya karena ingin tahu apakah dia benar-benar mencintaiku. Tapi nyatanya ….” Vania menggelengkan kepalanya. “Dia justru merasa jijik dan tidak pernah berusaha menyentuhku lagi.” Regantara mengerutkan keningnya. “Jadi bagaimana kalian bisa bertahan hidup selama tiga tahun sebagai suami istri?”“Dia pergi dan pulang ke rumah sesuka hatinya. Aku disibukkan oleh pekerjaanku. Dan … hubungan kami semakin jauh,” sahut Vania, “tapi dia tak pernah menyebut kata cerai sekalipun. Walaupun ia selalu memperlakukan aku dengan kasar. Yaah … kami lebih seperti tinggal serumah, tapi hanya sebagai formalitas.”“Lalu bagaimana denganmu? Kenapa kamu tetap bertahan selama bertahun-tahun?” “Itu karena … aku nggak mau menyandang predikat sebagai seorang janda. Aku tahu betapa buruknya image seorang janda di mata orang-orang,” sahut Vania, “walau ibuku sudah memperingatkan aku, tapi aku begitu bodoh mempertahankan sesuatu yang tak bisa dipertahankan se
Vania benar-benar tak percaya jika Regantara berhasil mendaftarkan perceraiannya hingga surat resmi berhasil diterbitkan. Tapi bagaimanapun juga ia sangat bersyukur atas segala kemudahan yang diterimanya. Karena itulah, Vania berniat untuk memberikan sesuatu sebagai balasannya. Namun Regantara sudah memiliki semuanya. Lelaki itu seakan tak membutuhkan apa-apa lagi.Hal itu membuat Vania merasa sangat risau. Dalam satu sisi, ia tidak ingin berhutang terlalu banyak, karena Regantara bahkan sudah menyediakan tempat tinggal yang layak untuknya. Tapi di sisi lain, ia tak tahu apa yang bisa diberikannya. Tiba-tiba ia teringat pada sebuah file kertas kerja yang diberikannya pada atasannya itu sebelum mereka berangkat ke acara peresmian resort. Ia menyadari sebuah kesalahan yang sudah dilakukannya. Vania mengetuk pintu kamar yang berada tak jauh dari kamarnya. Namun ia tak mendengar jawaban. Dengan sedikit keraguan, diputarnya kenop pintu untuk melihat ke dalam. Kosong! Tak ada siapapun d