Usai pertengkaran hebat itu Mas Raka belum pernah sekalipun pulang. Dan hari ini tepat satu minggu suamiku tidak kembali.
Sekali lagi aku tegaskan aku tidak peduli, aku sudah tidak peduli lagi. Silakan dia berbuat sesuka hatinya asalkan jangan sekalipun merugikan hidupku lagi.Saat aku sedang memulai menulis tiba-tiba suara gedoran pintu yang teramat keras membuatku menghentikan sejenak dari aktivitas menulisku. Aku sedikit mengerutkan kening mencoba untuk menerka siapa sosok orang yang menggedor pintu depan begitu keras.Dalam benakku mengira jika itu adalah suamiku—Mas Raka. Dia memang suka punya hobi seperti itu—membuat keributan.Aku menghela napas, lalu aku pun beranjak dan berjalan menuju pintu depan. Baru saja gagang pintu itu aku buka, dengan sangat tidak sabarannya langsung mendorong pintu hingga aku terjatuh di atas lantai.“Mana Raka!”Suara seseorang yang tidak aku kenali tiba -tiba menanyakan keberadaan suamiku. Jangankan mereka, aku yang memang istrinya saja tidak tahu di mana keberadaan Mas Raka.Aku berusaha berdiri, meskipun bokong ku terasa sakit akibat terjatuh tadi. Aku menatap orang itu, seorang yang bertubuh kekar dengan tato bergambar naga di lengan kanannya. Lalu aku semakin memperhatikan lagi yang ternyata begitu banyak tindik di cuping telinga pria itu.“Mana Raka!”Sekali lagi orang bertato itu menanyakan keberadaan suamiku.“Dia tidak ada! Percuma kalian cari suamiku di sini,” jawabku dengan nada sedikit menantang.Sepertinya langkahku salah, sebab aku malah membuat dia marah. Tatapan matanya serasa menghujam. Bahkan aku merasa kesulitan untuk menelan salivaku sendiri.Tangan kekar dan bertato itu tiba-tiba memegang rahangku. Mencengkeram dengan sangat kuatnya, wajahku sampai terdongak.“Di mana Raka! Jangan coba-coba kamu menyembunyikan pria itu atau... kau tanggung akibatnya.”Tanganku berusaha untuk melepaskan cengkeraman di rahangku ini. Sunggu dia begitu mencengkeram dengan sangat kuat membuat aku kesulitan untuk bicara.“Aku tidak tahu! Jangan tanyakan dia padaku,” ujarku seraya menahan rasa sakit.Dengan sekali sentakan pria bertato itu melepaskan cengkeramannya tubuhku sampai terhuyung saking kerasnya.Aku memegangi rahangku yang terasa begitu sakit. Seraya pikiranku berputar sebenarnya pria bertato itu memiliki niat apa menemui mas Raka.“Untuk apa aku menyembunyiakna dia? Dia memang tidak di rumah, aku saja tidak tahu keberadaan suamiku,” terangku mencoba untuk menjelaskan.“Kalu begitu kamu yang harus tanggung jawab!”Hah! Tanggung jawab apa yang dia maksud?“Maksud kamu apa? Ini urusan kamu dengan suami aku, kenapa aku dibawa-bawa?”“Kamukan istrinya! Berarti kamu yang harus bertanggung jawab untuk membayar utang suamimu.”Aku bergeming dengan bola mata yang membulat dengan sempurna. Utang? Satu kata yang tiba-tiba saja membuat aku syok berat. Karena diam-diam Suamiku memiliki utang. Aku heran padahal setiap minggunya aku selalu memberi dia jatah uang. Rokok, makan bahkan sampai kuota pun sudah aku penuhi. Lalu kenapa dia harus berutang kembali.“Utang apa? Mana mungkin suamiku memiliki utang,” aku berucap dengan nada tidak percaya.“Tapi kenyataannya seperti itu. Jika suami kamu memiliki utang pada majikanku sebesar sepuluh juta.”“A-apaa? Se-sepuluh juta?”Ya Allah.. aku kaget! Uang dari mana sebesar itu? Sedangkan penghasilan jadi dropshiper dan nulis tidaklah sebesar itu? Tega! Mas Raka memang tega. Pantas saja beberapa hari ini dia menghilang. Jadi, ini di balik menghilang dirinya? Ingin melimpahkan semua utang-utangnya padaku.“Aku tidak akan membayar utangnya. Karena aku sama sekali tidak punya sangkut pautnya dengan utang suamiku. Dia yang berhutang jadi dia pula yang melunasi, bukan aku,” aku berucap dengan tegas. Aku tidak peduli jika pria bertato itu marah. Aku sama sekali tidak ingin ikut campur urusan mas Raka.Wajah pria bertato itu sungguh terlihat mengeras, dia sudah mulai tersulut emosi. Tapi, aku tidak akan goyah. Untuk apa aku harus membayar utang suamiku jika dirinya saja tidak pernah menghargai aku sebagai istrinya serta tidak pernah menyayangi Najma anakku.“Kamu berani!” Marah pria itu.Aku tidak takut, sebab aku sudah terbiasa kena marah suamiku. Bahkan bukan hanya sekadar kena marah melainkan kena pukul pun aku sudah terbiasa.“Aku berani, karena di sini aku merasa tidak bersalah. Jika Anda ingin marah dan menagih utang, minta sama suamiku jangan sama aku. Karena mau Anda marah atau apa pun itu. Aku tidak peduli karena aku tidak punya urusan apa pun sama Anda.”Setelah berkata seperti itu aku langsung menutup pintu. Jantungku berdebar-debar tidak karuan. Sungguh sebenarnya aku hanya berpura-pura terlihat berani. Padahal sedari tadi aku menahan rasa takut, aku takut pria bertato itu malah akan berbuat yang macam-macam. Kemungkinan mengancam keselamatanku.Belum juga rasa degupan jantung mereda, pria bertato itu justru terus menggedor -ngedor pintu. Seketika perasaan takut kembali hadir. Aku langsung mengunci pintu dan langsung lari ke kamar menyusul anakku Najma yang sedang tidur.Dalam hati aku lantunkan doa – doa meminta keselamatan dari kejahatan setan yang menyerupai manusia. Bukannya tenang, aku justru semakin dibuat ketakutan saat suara pria bertato itu semakin keras, menggedor pintu membabi buta.Namun tiba-tiba saja suara gedoran dan teriakan pria bertato itu musnah berganti dengan suara banyak orang. Ya, telingaku tidak salah lagi jika di luar sana sepertinya banyak orang.Akhirnya aku beranikan untuk mengintip dari balik jendela. Benar saja di sana sudah berkumpul para warga. Aku yakin mereka datang karena merasa terganggu oleh kebisingan pria bertato itu.Aku tidak hentinya bersyukur, sebab Allah SWT masih memberi aku perlindungan yang datang dari para warga. Sungguh Allah SWT selalu menolong hamba-Nya dalam kesulitan.Aku lihat pria bertato itu pergi karena di usir paksa. Bahkan yang membuat aku bersyukur para warga mengancam pria bertato itu agar tidak datang kembali ke sini. Suatu pertolongan Allah SWT yang tidak terduga.Aku menarik napas lega, setidaknya dengan mendapatkan ancaman seperti itu tidak akan membuat pria bertato mengganguku. Keamananku bisa terjaga. Baru saja aku berniat untuk membuka pintu dan mengucapkan terima kasih, tiba-tiba pintu terdengar digedor dari luar.Aku secepatnya membuka pintu. Sungguh ini serasa jadi plot twist, aku kira mereka ikhlas menolongku ternyata... diluar dugaan ku.“Hai! Kamu gak pernah jera, ya! Kamu sama suami kamu sama saja benalu kampung sini. Gak suami gak istri selalu saja bikin resah warga. Jangan kira kami tidak tahu, ya, pria tadi preman kan? Mau nagih utang kamu?”Orang itu yang aku ketahui bernama Mira mulutnya begitu sangat tajam. Ketajamannya melebihi tajamnya silet ataupun pisau, ini terlalu tajam hingga hatiku luka namun tidak berdarah.“Kalau iya kenapa?” tanyaku. Aku tidak ingin terlihat lemah di mata mereka. Aku buang semua keinginan untuk berlemah lembut kepada mereka.“Tidak kenapa-kenapa. Hanya saja kedatangan mereka sangat meresahkan saja, apalagi saat mereka berteriak-teriak. Menggangu ketenangan kami,” kicau salah seorang warga dan aku tahu dia adalah satu dari sekian banyak yang tidak menyukai keluargaku.Aku paham dan aku akui. Kedatangan para preman ke rumah bukan sekali dua kali tapi sering, dengan maksud dan tujuan berbeda. Tentunya menggangu mereka terlebih saat Mas Raka malah berkelahi.Lantas apa lagi yang harus aku lakukan? Jika boleh jujur aku pun tidak ingin berada dalam posisi seperti ini. Sungguh, aku tidak mau.Malam semakin larut. Kejadian tadi sangat menggangu pikiranku. Aku tidak bisa tidur. Berusaha untuk memejamkan mata tapi tetap saja hasilnya sama. Lalu aku mencoba tidur seraya memeluk Najma, hasilnya pun tetap sama. Tidak bisa tidur.Hingga tiba-tiba terdengar suara gedoran pintu dengan begitu tidak sabaran. Aku melirik jam dan jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Aku pun menyingkap selimut hendak mengintip siapa di balik kegaduhan ini.Baru saja aku membuka pintu kamar secara bersamaan pula terdengar pintu terbuka dengan lebar dan meneriaki namaku.Brak!!“Ayu! Ayunindya!”Aku terlonjak kaget saat mendengar suara pintu terbuka dengan keras ditambah suara melengking memanggil namaku.Aku buru-buru menghampiri suara teriakkan itu. Sebab aku takut suara teriakkan suamiku bisa membangunkan Najma.Saat ini aku melihat suamiku pulang. Namun, air mukanya begitu terlihat penuh amarah.Dalam hati bertanya-tanya apa gerangan yang membuat suamiku pulang-pulang tapi dalam keadaan marah.Aku yang tidak ingin Najma bangun karena terganggu oleh teriakan ayahnya, maka buru-buru aku menghampiri Mas Raka.“Kenapa berteriak, Mas? Najma nanti bangun,” ucapku bersikap setenang mungkin. Lalu mendorong sedikit tubuh suamiku agar tidak dekat dengan kamar.Namun apa yang terjadi? Mas Raka tiba-tiba saja menarik tanganku lalu menjambak rambutku hingga kepalaku mendongak.“Aw, Mas Raka kamu apa-apaan? Lepas, Mas! Sakit!” racauku yang memang sedang kesakitan ini sungguh sakit.“Kenapa kamu tidak mau membayar utangku, hah? Kamu sudah mulai berani samaku?” marah Mas Raka.Jadi ini y
Aku terkejut saat Najma anakku tiba-tiba saja masuk. Sedangkan aku masih berada di posisi yang tidak layak dilihat oleh anak kecil berusia tujuh tahun.Aku secepatnya merapatkan selimutku. Berharap Najma tidak melihat sesuatu yang memang tidak pantas dilihatnya.“Mama kenapa? Kok tumben tidur di kamar Papa?"Pertanyaan itu lolos dari bibir Najma saat dirinya berdiri tepat di samping ranjang.Dan sekarang sepertinya aku harus berpura-pura. Walau hati tidak ingin namun inilah yang terbaik daripada Najma tahu yang sebenarnya.“Mama gak enak badan, Sayang. Takut nular ke kamu jadi Mama memilih tidur di kamar Papa. Oh, iya, Mama bisa minta tolong ke Najma tidak?”“Minta tolong apa, Ma. Katakanlah!”“Mama haus, bisa tolong bawain Mama air.”“Tentu saja, Ma. Sini sekalian saja tempat airnya Najma isi penuh.”Najma mengambil tempat air yang memang selalu ada di setiap kamar. Sengaja aku simpan karena memang setiap malam aku, Mas Raka maupun Nazma selalu terbangun hanya karena ingin minum.Sete
Kejadian semalam sukses membuat aku merenung. Memikirkan langkah apa yang harus aku lakukan ke depannya. Aku tidak mungkin terus hidup bersama suamiku. Yang ada secara perlahan ia sudah membuat aku menjadi gila.Aku sudah memantapkan hati. Ada dan tidak ada dia pun tidak akan berpengaruh apa-apa. Malah meksipun dia masih suamiku aku merasa tidak memiliki suami. Terlebih Najma ia sudah terbiasa hidup bersamaku hidup tanpa sosok papa di sampingnya.Sementara itu untuk ke depannya aku berniat akan membuka usaha toko kue. Karena aku sadar penghasilan dari nulis dan menjadi dropshiper kadang tidak pasti.Memiliki toko setidaknya aku punya investasi jangka panjang. Aku harus dari sekarang memikirkan untuk masa depan anakku. Dia tidak boleh bernasib sama sepertiku, dia harus bahagia cukup sekarang dia menderita di masa depan, jangan!Aku membawa handphone yang ada di atas meja. Niatku ingin melihat saldo di tabungan. Aku butuh perhitungan untuk menyewa toko. Tidak apa-apa sekarang menyewa na
Marvel adalah teman masa SMA ku dulu. Sungguh aku terkejut saat mengetahui jika Marvel adalah seorang pengacara, karena yang aku tahu dia adalah pria pendiam yang tidak pernah berbicara. Dan aku tidak tahu jika pengacara yang dikenalkan temanku adalah Marvel.Adapun ia berbicara hanya ketika tengah melakukan persentasi diskusi di depan kelas. Selebihnya ia diam bak orang bisu.“Maaf, aku terlambat.”Marvel kembali meminta maaf padaku. Saat benar-benar duduk di hadapanku.“Apa kamu sudah lama menungguku?” tanyanya lagi.Aku menggeleng, meskipun memang aku hampir saja membatalkan pertemuan ini karena kesal sendiri sebab Marvel tidak kunjung datang.“Aku maklumi, kamu kan pengacar hebat pasti sibuk karena jam terbangnya sudah tinggi." Ujarku jujur.“Aku hanya pengacara biasa, Ayu. Kamu berlebihan.” Ujarnya seraya ia mengambil lalu menyimpan map warna biru di atas meja.“Aku serius. Marvel yang aku kenal dulu berbeda jauh. Sekang sudah jadi pengacara sukses. Aku sebagai teman SMA mu mera
Aku pasrah, apa pun yang akan dilakukan Mas Raka padaku. Bukankah setiap hari pun aku selalu mendapatkan perlakuan yang tidak baik. Jadi, jika hari ini pun dia akan berbuat kasar padaku, aku sudah siap.Mas Raka terus menatapku. Ia menatap nyalang Seperti seorang harimau yang tengah menatap mangsanya. Aku beranikan diri untuk mendongak menatap balik tatapan Mas Raka."Kamu sekarang mulai berani, ya sama aku." ujarnya dan aku sama sekali tidak mengerti dengan maksud kata berani.Berani apa yang Mas Raka maksud? Karena sungguh aku sama sekali tidak merasa berbuat hal yang menurutku di luar batas kewajaran."Maksud Mas apa?" Tanyaku tidak kalah sewotnya dan sekali lagi aku tahu harusnya aku tidak boleh meninggikan suaraku dihadapan Mas Raka."Kau sudah berselingkuh. Istri macam apa kamu, hah?" Aku terkejut atas tuduhan Mas Raka. Berselingkuh! Lucu! Dia menuduhku yang tidak-tidak. Entah apa yang ada dipikirannya."Aku tidak berselingkuh, Mas. Mas jangan asal menuduh tanpa bukti.""Apa ma
Mas Raka pergi setelah ia berhasil melukaiku. Tubuhku terasa sakit dan ngilu. Dengan kejadian ini aku semakin yakin perpisahan adalah jalan keluarnya. Sudah cukup selama lima tahun ini aku bersabar menghadapinya. Percuma jika pun harus dipertahankan, yang ada jiwaku terancam, batinku menderita, tidak ada keberkahan dan ketenangan. Terlebih aku ingin menjaga psikolog anakku, aku tak mau jika Najma sewaktu-waktu melihat ayahnya tengah menyakitiku. Aku juga tidak mau jika terus berbohong pada Najma. Menutupi keburukan ayahnya.Aku hendak berdiri dengan susah payahnya, setengah jam sudah aku hanya bisa meringkuk di lantai kamar mandi. Tidak pedulikan rasa dingin yang menerpa. Sungguh mendadak aku kehilangan sensor perasanku selain rasa sakit di tubuh.Baru saja aku melangkahkan kaki hendak keluar, tiba-tiba Najma berdiri menatapku dengan sorot mata yang sendu. Bagaimana ini? Jika Najma sudah melihatku dalam keadaan kacau seperti ini, bagaimana aku menjelaskan padanya?"Najma,'' panggilku
Nasib hidup sebatang kara itu seperti ini. Tidak ada tempat untuk bersandar. Setidaknya jika kedua orang tuaku masih ada mungkin aku tidak akan semenyedihkan ini. Ada tempat untuk aku kembali atau mungkin hanya sekadar melihat wajah mereka saja sudah menjadi obat agar aku tetap sabar dan kuat.Setelah semalam berpikir. Aku memutuskan untuk ke rumah mertuaku. Aku akan menceritakan padanya apa yang terjadi dan langkah apa yang akan aku lakukan untuk rumah tanggaku.Memang mertuaku sudah tahu bagaimana kelakuan Mas Raka saat ini. Namun aku selalu bilang, aku masih bisa mengatasi. Jika memang nantinya aku sudah tidak kuat maka aku akan memilih pergi. Dan ternyata Sekarang adalah waktunya. Aku sudah tidak bisa mempertahankan lagi keutuhan rumah tangga ini. Aku mengemasi baju Najma. Karena aku pun memutuskan untuk menitipkan terlebih dahulu Najma sampai masalah antara aku dan Mas Raka usai. Sungguh aku tidak mau kejadian di mana Najma menyaksikan kami bertengkar membuat aku khawatir. Terleb
Aku bisa melihat wajah kecewa sekaligus sedih di wajah ibu mertuaku, setelah aku menceritakan semuanya. Entah apa yang ada dipikiran ibu mertuaku itu. Tatapan matanya tidak mampu aku artikan.Ibu mertuaku lalu beranjak, aku kira ia akan meninggalkan aku kenyataannya ia hanya pindah posisi duduk menjadi bersebalahan dengan ku. Tanpa aku duga ibu mertuaku memelukku dengan tubuh yang bergetar dan terisak. Apakah ibu mertuaku menangis? Hanya itu yang terlintas di kepalaku. Dan tentunya ini membuat aku ikut menangis meskipun aku tidak tahu penyebab aslinya alasan mertuaku menangis."Maafkan anak ibu, menantu. Sungguh ibu pun tidak mengerti dengan sikapnya yang begitu berubah drastis itu. Jika memang sebuah perceraian adalah jalan keluarnya. Ibu tidak akan melarang. Maafkan pula atas tindakan kasar anak ibu."Mertuaku malah meminta maaf padaku disela pelukan kami. Jujur aku datang ke sini bukan untuk meminta kata maaf dari mertuaku karena beliau tidak salah. Hanya anaknya saja yang tidak t
Ayu bicara seperti itu seraya tersenyum malu-malu. Sebab apa yang ia katakan memang benar adanya. Jika ia hanya mencintai Marvel dan sampai kapan pun akan Terus seperti itu. Sedangkan perasaanya pada Rendy, itu hanyalah sebatas suka karena kebaikannya dan ketulusannya pada Najma serta dirinya. Bukan suka karena perasaan cinta. Apa mungkin dia akan menyia-nyiakan orang sebaik Rendy? Terlebih saat itu posisi Najma membutuhkan sosok seperti Rendy. Rendy dan Marvel tidak jauh berbeda. mereka memiliki sifat lembut pada Najma m mereka pun sama-sama menyayangi Najma . Tidak percaya dengan ucap Ayu, membuat Marvel kembali menanyakan hal tersebut. "Apa? tadi kamu bicara apa?" tanya ulang Marvel. "Aku masih mencintaimu, dari dulu sampai sekarang." ucapan Ayu. satu fakta yang selama ini selalu ia sembunyikan. Ayu langsung menutup wajahnya saking malu. Kenapa bisa ia bilang seperti tadi? Ayu yakin Marvel langsung bertanya-tanya maksud ucapannya. mobil pun sengaja ia tepikan, ia ter
Dari sudut berbeda, sebenarnya Marvel pun melihat interaksi antara Ayu dan Rendy. Marvel terus memperhatikan Tanpa berkedip barang sedikitpun. Ia tidak ingin kehilangan pandangan interaksi Ayu dan Rendy. Marvel merasa jika Rendy sangat mencintai Ayu sampai sekarang. Cinta yang begitu tulus dan besar. ia seorang pria pun mampu untuk merasakannya. Sementara untuk Ayu, Marvel bingung arti dari tatapannya itu. Namun yang bisa ia tangkap jika pandangan ayu terlihat seperti seorang wanita yang meminta pada kekasihnya untuk melupakan semua kenangan di antara mereka. Melupakan cinta yang pernah ada dan melupakan apa pun yang berhubungan dengan keduanya. Lalu Marvel berpikir, apakah mungkin Ayu sempat menyukai Rendy? Andai ia tidak bertemu dengan Ayu mungkin selamanya ia tidak akan pernah sembuh. Dan ia tidak akan pernah bisa memiliki Ayu. Melihat ayu yang hendak berlalu, Marvel pun buru-buru pergi sebelum ia melihat dirinya dan ketahuan tengah menguping pembicaraan dengan Rendy. Ma
Setelah dua jam lamanya Ayu diintrogasi oleh keluarga Marvel, akhirnya kini ia bisa bebas. Ia senang pada akhirnya keluarga Marvel setuju dengan hubungan dirinya dengan Marvel. meskipun masih ada perasaan tidak rela di hati Maureen. Ayu tahu karena ia bisa melihat sendiri tatapan Maureen penuh ketidaksukaan. Ayu saat ini tengah berada di balkon, ia sedang menikmati kesendiriannya, sebab saat ini Marvel ingin diberi waktu untuk bicara dengan keluarganya saja. "Apa aku boleh di sini?" tiba-tiba suara seseorang yang sangat ia kenali terdengar. Ayu tidak menjawab, ia malah mencengkeram pagar pembatas balkon. entahlah! ia masih merasa takut jika bertemu Rendy. Ia takut dituduh yang tidak-tidak. ia trauma dengan hal seperti itu. "Ayu...." panggil Rendy saat ayu tidak kunjung merespon ucapannya.. "Pergi! Aku tidak ingin melihat wajahmu!" usir ayu tanpa sedikitpun melihat orangnya. Rendy tahu Ayu seperti ini karena dirinya, karena ia tidak percaya sepenuhnya. Andai waktu itu ia pe
Semua berkumpul di ruang tamu seusai acara akad pernikahan sederhana antara Rendi dan Melly. mereka saling pandang sebab dari setiap orang memiliki pertanyaan di benak mereka. Ayu yang bertanya-tanya kenapa bisa Rendy dan melly menikah, sedangkan yang ia tahu hubungan keduanya begitu sangat renggang bagaikan kucing dan tikus yang saling menjelekkan dan saling menghindari satu sama lain. Melly dan Rendy Yang bertanya-tanya kenapa Ayu bisa bersama dengan Marvel. kemudian Davin dan Mauren pun memiliki pertanyaan yang sama ditambah ke mana saja selama ini selama 8 bulan menghilang. Rendy yang sedari tadi terus saja menatap Ayu, sementara Ayu yang merasa ditatap hanya tertunduk dengan meremas jari jemarinya. hal yang tidak ingin Ia hadapi ini harus terjadi, ia harus bertemu dengan Rendy begitu cepat "Marvel bisa kamu jelaskan ke mana selama ini dan kenapa kamu bisa dengan wanita ini," ucap Maureen memecah keheningan dengan nada sedikit sinis ketika mengucapkan kata wanita ini. "Dia
ayu sudah siap, begitu juga dengan MArvel. sementara najma ia sengaja tidak membawa anak gadisnya itu, ia menitipkan najma pada bu widya, najam lebih anteng jika bersama cicit bu widya. untuk bertemu orang tua Marvel mereka memesan taksi. dikarenakan untuk saat ini marvel tidak memiliki apa-apa. harta bendanya ada di jakarta, sedangkan dompet miliknya yang berisi kartu kredit dan debit hilang saat ia di rampok. sepanjang perjalanan, ayu terus mersa cemas. dalam pikirannya terus terpikirkan bagaimana jika ia bertemu dengan Rendy? apa yang akan dia lakukan? meskipun benar kota cimahi itu luas barang kali orang tua marvel berada di tempat yang jauh dari Rendy. Marvel yang melihat ayu terus gelisah, berusaha untuk menenangkan, memberikan support system. Marvel meraih tangan ayu lalu menggenggamnya dengan sangat erat, "Tenang! jangan khawatir, percayalah kedua orangtuaku sangat bijak, mereka tidak akan membuat kamu merasa canggung." "Tapi,,,," "percayalah sama aku." Ayu mengang
Kini Rendy dan Melly tengah di interogasi oleh Monica. Wanita berusia 50 tahun itu teramat syok. Ia tidak menyangka anak laki-laki bisa berbuat dibatas kewajaran."Harusnya kamu bilang ke ibu, jika kamu ingin secepatnya menikah. Enggak harus kaya gini," tutur Monica dengan tenang. Ia sudah bisa mengontrol diri. "Tidak Bu! Rendy sama sekali tidak ingin secepatnya menikah. Rendy hanya....""Rendy memaksa, Bu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Terlebih malam itu Rendy mabuk. Ibu tahu sendirikan bagaimana sikap orang yang sedang mabuk? Sekeras apa pun aku menghindar tenagaku kalah kuat. Meskipun aku memang menginginkan Rendy, tapi aku tidak segila itu berani menyerahkan kehormatanku.'' Melly sengaja berkata seperti itu untuk menarik simpati dari Monica hingga Monica mendukung dirinya untuk dinikahi oleh Rendy.Kenyataannya, ia memang tidak bisa menghindari pesona Rendy. Ia terbawa suasana hingga dengan sukarela menyerahkan apa yang selama ini ia jaga."Kau mabuk, Ren?" Tanya Monica, ia tid
"Uuh,"Rendy melenguh, tak lupa ia memegangi kepalanya yang terasa berdenyut itu. Sepertinya efek minum minuman beralkohol membuat kepalanya sakit. Saat ia berusaha untuk bangun, ia mulai menyadari sesuatu. Ia merasa ada sesuatu yang menindih tubuhnya. Lalu ia arahkan pandangannya ke arah perutnya. Dan apa yang terjadi? Rendy langsung menutup mulutnya ia hampir berteriak karena terkejut. Ia tak percaya kenapa ia berada di atas ranjang yang sama bersama Melly. Terlebih melihat posisi Melly yang tidur di atas dadanya. Lebih membingungkan lagi, saat ia mendapati dirinya tak berpakaian begitu juga dengan Melly."Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku tidak ingat apapun?" Batin Rendy, ia tidak bisa mengingat apa yang terjadi.Ia berusaha untuk mengingat kembali, apa yang terjadi hingga ia bisa berakhir di atas ranjang bersama Melly. Terakhir yang ia ingat adalah saat ia harus meminum sebotol minuman keras demi menyelamatkan Melly. Lalu setelah itu memorinya sekilas terputar saat dirinya
Satu botol minuman keras sudah habis ditenggak oleh Rendy. Sedangkan kedua pria mabuk itu tersenyum lepas seraya melepaskan cekalan ditangan Melly.Mereka mendorong Melly ke arah Rendy dan dengan sigap Rendy memegangi tubuh Melly agar tidak terjatuh."Nih! kami percaya.Sekarang aku kembalikan padamu dan selamat menikmati malam panas bersama," ucap salah satu dari mereka berdua.Melly Paham maksud pria itu. Karena ia tidaklah terlalu bodoh dalam urusan tersebut. Selepas kepergian mereka, Melly langsung menoleh pada Rendy yang sudah mulai kehilangan setengah kesadarannya. "Kenapa kamu lakuin ini? Padahal kamu tinggal pergi gak usah pedulikan aku. Aku gak tega melihat kamu seperti ini." Ucap Melly ia terisak-isak."Berhenti menangis! Dan jangan terlalu percaya diri, aku menolongmu bukan karena aku peduli apa lagi memaafkan kamu. Tapi karena aku sangat menghargai wanita. Jikapun wanita yang mereka ganggu bukanlah Kamu, aku pun akan melakukan hal sama," ucap Rendy, di tengah usahanya unt
Melly tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan berjuang sekali lagi untuk mengambil hati Rendy. Mungkin dulu perjuangannya kurang maksimal. Karena ia hanya bisa sebatas menatap dari kejauhan. Tapi sekarang, ia akan terus hadir dihadapan Rendy. Sampai Rendy merasa ketulusannya, merasakan cintanya dan merasakan perjuangannya untuk mengambil hatinya.Sejak kejadian di toko ayu malam itu. Melly terus saja mengikuti Rendy. Bahkan malam ini ia terkejut saat mengikuti Rendy tapi Rendy malah masuk ke klub malam. Tentunya membuat Melly takut. Karena sebelumnya Rendy tidak pernah menginjakkan kakinya ke tempat buruk itu.Untuk saat ini, ia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk masuk. Ia takut jika masuk seorang diri meskipun di sana ada Rendy. Selama kurang lebih satu jam lamanya ia menunggu. Rendy masih tidak terlihat, belum ada tanda-tanda Rendy akan pulang. Melly semakin khawatir, ia takut terjadi sesuatu di sana mengingat ini adalah kali pertama Rendy mengunjungi tempat terlaknat sep