Home / Thriller / THE DEAD WALK / PERBURUAN DI KOTA MATI

Share

PERBURUAN DI KOTA MATI

Author: Agung Nugraha
last update Last Updated: 2025-03-20 08:15:09

Pagi datang dengan langit kelabu. Matahari hanya samar-samar menembus kabut tipis yang menyelimuti kota yang hancur.

Aldric membuka matanya dan langsung siaga. Malam ini mereka selamat, tapi itu tidak berarti bahaya sudah berlalu.

Di sudut ruangan, Lyra masih terjaga, menggenggam pistolnya erat. Marco tidur meringkuk di pojok dengan napas berat, sementara Finn menguap panjang saat bangun dari tidurnya yang tidak nyaman.

“Sudah pagi?” Finn bergumam, mengusap matanya yang masih mengantuk.

Aldric mengangguk. “Kita harus bergerak. Stok makanan kita habis. Kota ini luas, pasti ada sesuatu yang bisa kita temukan.”

Lyra menghela napas, mengamati Marco yang masih terlelap. “Apa kita benar-benar bisa percaya dia?”

Aldric menatap Marco sejenak. “Dia lemah, kelaparan, dan sendirian. Aku tidak melihat alasan dia berbohong.”

Finn berdiri, meregangkan tubuhnya. “Kalau begitu, ayo kita mulai berburu. Aku tidak m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • THE DEAD WALK   Dikejar di kota mati

    Aldric, Marco, dan Rhea berlari keluar dari pintu belakang gudang. Udara dingin menerpa wajah mereka, tetapi mereka tidak bisa berhenti. Di belakang, suara langkah kaki bergema di dalam supermarket. Orang-orang itu sudah masuk. Rhea berbisik tajam, “Ikut aku!” Tanpa pikir panjang, Aldric dan Marco mengikutinya menelusuri gang sempit di belakang gedung. Aroma busuk dari mayat yang membusuk di dekat tempat sampah menyengat hidung mereka, tapi mereka tetap melangkah cepat. “Siapa mereka?” Aldric bertanya sambil berlari. “Kelompok pemburu. Mereka bukan penyintas biasa. Mereka memburu orang lain untuk bertahan hidup.” Marco menoleh dengan wajah ngeri. “Mereka… kanibal?” Rhea tidak menjawab, tetapi ekspresinya sudah cukup untuk memberi jawaban. Sial. Langkah kaki di belakang mereka semakin dekat. Suara-suara kasar terdengar jelas. “Di sana! Mereka lari ke gang belakang!”

    Last Updated : 2025-03-21
  • THE DEAD WALK   Tak ada tempat untuk bersembunyi

    Gagang pintu berputar perlahan. Aldric, Marco, dan Rhea menahan napas. Di luar, langkah kaki berat terdengar jelas. Aldric meraih belati di ikat pinggangnya. Jika seseorang masuk, ia harus bertindak cepat. Pintu sedikit terbuka. Sebuah mata mengintip dari celah. Aldric bersiap melompat. Tapi kemudian… “Tidak ada di sini,” suara serak itu berkata. Pintu kembali tertutup. Mereka bertiga tetap diam, tidak bergerak sedikit pun. Langkah kaki di luar semakin menjauh. Butuh beberapa menit sebelum Rhea berani berbicara dengan suara pelan, “Kita harus keluar dari sini.” Marco mengangguk cepat. “Aku setuju. Aku tidak mau mati di tempat ini.” Aldric mendekati jendela dan mengintip ke luar. Kota mati terbentang di depan mata mereka, sepi dan mencekam. “Bagaimana kalau kita keluar lewat belakang?” usulnya. Rhea menggeleng.

    Last Updated : 2025-03-22
  • THE DEAD WALK   Kota yg di kuasai mayat hidup

    *GRAAAAAKKKK!* Suara geraman dari bawah semakin nyaring. Aldric, Rhea, dan Marco menatap jalanan di bawah dengan napas tertahan. Ratusan zombie bergerak lambat, tetapi jumlah mereka terlalu banyak. Tubuh-tubuh membusuk itu berjalan terseok-seok, beberapa menyeret kakinya yang hampir putus. Marco menelan ludah. “Aku lebih baik ditembak daripada jatuh ke bawah sana.” “Kita tidak boleh membuat suara,” bisik Rhea. Mereka bertiga merangkak di atas atap, berusaha tidak menimbulkan bunyi sekecil apa pun. Namun… *Brak!* Sebuah batu lepas dari tepi atap dan jatuh ke jalanan. Suara itu menggema di antara bangunan-bangunan kosong. Seluruh zombie di bawah serentak menoleh. Kemudian— *GRAAAAAHHHH!* Mereka mulai berlari. Aldric membeku. “Sejak kapan mereka bisa berlari?!” “LARI!” Rhea menarik tangan mereka. Mereka

    Last Updated : 2025-03-23
  • THE DEAD WALK   Perlawanan terakhir

    Aldric menatap sekeliling dengan cepat. Mereka terjebak di tangga darurat. Di atas, para pemburu sudah mengokang senjata. Di bawah, zombie terus bergerak naik, siap merobek daging mereka kapan saja. Tidak ada jalan keluar. “Kalau harus mati, aku ingin membawa satu orang bersama,” gumam Marco sambil mengencangkan genggaman pada parangnya. Rhea menarik napas dalam, masih berusaha berdiri setelah kakinya tertindih zombie tadi. “Kita tidak akan mati di sini.” Aldric mengangguk. “Kita lawan.” Tanpa peringatan, dia meraih sebuah kursi kayu yang terbengkalai di sudut tangga dan melemparkannya ke arah para pemburu. *BRAK!* Salah satu dari mereka kehilangan keseimbangan dan terjatuh menimpa zombie di bawah. Yang lain terkejut. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Marco dan Rhea yang langsung berlari maju. *Tembak!* Dor! Dor! Dor! Peluru menghantam di

    Last Updated : 2025-03-24
  • THE DEAD WALK   Neraka di bawa tanah

    Aldric membeku di tempat. Di hadapan mereka, puluhan mayat yang berserakan mulai bergerak. Tangan-tangan kurus dengan kulit mengelupas berusaha bangkit, mulut-mulut membusuk terbuka, mengeluarkan geraman mengerikan. “Kita harus keluar dari sini,” bisik Marco, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Rhea menyalakan senter kecilnya dan menyapu ruangan. Tidak ada pintu lain. Satu-satunya jalan adalah kembali ke atas, tapi itu berarti kembali ke tempat para pemburu berada. “Aldric, keputusanmu!” Rhea menarik pisau dari sarungnya, bersiap bertarung jika diperlukan. Aldric berpikir cepat. Jika mereka bertahan di sini, mereka akan dikepung. Jika kembali ke atas, mereka bisa langsung ditembak. Tiba-tiba, dia melihat sesuatu di sudut ruangan. “Ke sana!” Dia menunjuk ke sebuah lubang ventilasi di sisi kanan ruangan. Besarnya cukup untuk mereka bertiga masuk satu per satu. Tapi sebelum

    Last Updated : 2025-03-25
  • THE DEAD WALK   Sarang Para Pemburu

    Langkah kaki di luar semakin mendekat. Aldric langsung menarik pisau dari sarungnya, sementara Marco menggenggam senjatanya erat-erat. Rhea melirik Wallace dengan tatapan tajam. “Apa mereka tahu kita ada di sini?” Wallace mengangguk pelan. “Mereka tahu.” Aldric merasakan amarah membuncah di dadanya. “Jadi kau benar-benar menjebak kami?” Wallace menghela napas. “Aku tidak punya pilihan.” Sebelum ada yang sempat bereaksi, suara ketukan terdengar dari pintu besi. *Tok... tok... tok.* Diikuti suara berat seseorang dari luar. “Aku tahu kalian di dalam.” Suara itu terdengar serak dan dalam, seperti seseorang yang sudah lama hidup di tengah kekacauan. “Buka pintunya… atau kami akan masuk dengan cara kami sendiri.” Rhea mencengkeram lengan Aldric. “Kita harus pergi sekarang!” bisiknya panik. Tapi sebelum mereka bisa bergerak, suara benturan

    Last Updated : 2025-03-26
  • THE DEAD WALK   KOTA YG HILANG

    Angin malam bertiup dingin, membawa aroma busuk yang semakin menusuk hidung. Aldric, Marco, dan Rhea berdiri di tengah jalanan yang gelap. Cahaya bulan samar-samar menerangi bangunan runtuh di sekitar mereka. Dari kejauhan, puluhan sosok berjalan terseok-seok. “Banyak sekali…” gumam Rhea dengan suara gemetar. Aldric menggenggam senjatanya erat-erat. “Kita harus segera pergi dari sini.” Mereka mulai berjalan perlahan, berusaha menghindari perhatian para zombie. Tapi saat mereka berbelok di sebuah gang sempit, mereka melihat sesuatu yang lebih buruk. Sebuah papan besar dengan tulisan pudar: **"SELAMAT DATANG DI RAVENWOOD."** Marco menelan ludah. “Kita di Ravenwood?” Aldric mengangguk pelan. “Ya. Dan itu kabar buruk.” Ravenwood dulunya adalah sebuah kota besar yang dipenuhi gedung pencakar langit. Tapi setelah wabah menyebar, kota ini berubah menjadi neraka

    Last Updated : 2025-03-27
  • THE DEAD WALK   perburuan di kota mati

    Langkah-langkah berat menggema di jalanan yang hancur. Dari ujung gang yang gelap, puluhan sosok mulai muncul satu per satu. Mata mereka kosong. Gerakan mereka lamban, tetapi jumlah mereka… terlalu banyak. Marco menggertakkan giginya. “Mereka datang.” Aldric menarik napas dalam-dalam. “Kita harus pergi sekarang.” Mereka bertiga segera berlari ke arah berlawanan, melewati jalanan yang dipenuhi mobil-mobil terbengkalai. Di belakang mereka, gerombolan zombie mulai bergerak lebih cepat. Beberapa dari mereka **berlari.** Rhea melirik ke belakang. “Kenapa mereka bisa berlari?! Sejak kapan?!” Aldric tidak menjawab. Dia tahu jawabannya, tapi dia tidak ingin mengatakannya sekarang. Wabah ini… berevolusi. Zombie tidak lagi sekadar mayat hidup yang berjalan lambat. Beberapa dari mereka menjadi lebih kuat, lebih cepat, dan lebih pintar. Mereka sampai di s

    Last Updated : 2025-03-28

Latest chapter

  • THE DEAD WALK   perburuan di kota mati

    Langkah-langkah berat menggema di jalanan yang hancur. Dari ujung gang yang gelap, puluhan sosok mulai muncul satu per satu. Mata mereka kosong. Gerakan mereka lamban, tetapi jumlah mereka… terlalu banyak. Marco menggertakkan giginya. “Mereka datang.” Aldric menarik napas dalam-dalam. “Kita harus pergi sekarang.” Mereka bertiga segera berlari ke arah berlawanan, melewati jalanan yang dipenuhi mobil-mobil terbengkalai. Di belakang mereka, gerombolan zombie mulai bergerak lebih cepat. Beberapa dari mereka **berlari.** Rhea melirik ke belakang. “Kenapa mereka bisa berlari?! Sejak kapan?!” Aldric tidak menjawab. Dia tahu jawabannya, tapi dia tidak ingin mengatakannya sekarang. Wabah ini… berevolusi. Zombie tidak lagi sekadar mayat hidup yang berjalan lambat. Beberapa dari mereka menjadi lebih kuat, lebih cepat, dan lebih pintar. Mereka sampai di s

  • THE DEAD WALK   KOTA YG HILANG

    Angin malam bertiup dingin, membawa aroma busuk yang semakin menusuk hidung. Aldric, Marco, dan Rhea berdiri di tengah jalanan yang gelap. Cahaya bulan samar-samar menerangi bangunan runtuh di sekitar mereka. Dari kejauhan, puluhan sosok berjalan terseok-seok. “Banyak sekali…” gumam Rhea dengan suara gemetar. Aldric menggenggam senjatanya erat-erat. “Kita harus segera pergi dari sini.” Mereka mulai berjalan perlahan, berusaha menghindari perhatian para zombie. Tapi saat mereka berbelok di sebuah gang sempit, mereka melihat sesuatu yang lebih buruk. Sebuah papan besar dengan tulisan pudar: **"SELAMAT DATANG DI RAVENWOOD."** Marco menelan ludah. “Kita di Ravenwood?” Aldric mengangguk pelan. “Ya. Dan itu kabar buruk.” Ravenwood dulunya adalah sebuah kota besar yang dipenuhi gedung pencakar langit. Tapi setelah wabah menyebar, kota ini berubah menjadi neraka

  • THE DEAD WALK   Sarang Para Pemburu

    Langkah kaki di luar semakin mendekat. Aldric langsung menarik pisau dari sarungnya, sementara Marco menggenggam senjatanya erat-erat. Rhea melirik Wallace dengan tatapan tajam. “Apa mereka tahu kita ada di sini?” Wallace mengangguk pelan. “Mereka tahu.” Aldric merasakan amarah membuncah di dadanya. “Jadi kau benar-benar menjebak kami?” Wallace menghela napas. “Aku tidak punya pilihan.” Sebelum ada yang sempat bereaksi, suara ketukan terdengar dari pintu besi. *Tok... tok... tok.* Diikuti suara berat seseorang dari luar. “Aku tahu kalian di dalam.” Suara itu terdengar serak dan dalam, seperti seseorang yang sudah lama hidup di tengah kekacauan. “Buka pintunya… atau kami akan masuk dengan cara kami sendiri.” Rhea mencengkeram lengan Aldric. “Kita harus pergi sekarang!” bisiknya panik. Tapi sebelum mereka bisa bergerak, suara benturan

  • THE DEAD WALK   Neraka di bawa tanah

    Aldric membeku di tempat. Di hadapan mereka, puluhan mayat yang berserakan mulai bergerak. Tangan-tangan kurus dengan kulit mengelupas berusaha bangkit, mulut-mulut membusuk terbuka, mengeluarkan geraman mengerikan. “Kita harus keluar dari sini,” bisik Marco, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Rhea menyalakan senter kecilnya dan menyapu ruangan. Tidak ada pintu lain. Satu-satunya jalan adalah kembali ke atas, tapi itu berarti kembali ke tempat para pemburu berada. “Aldric, keputusanmu!” Rhea menarik pisau dari sarungnya, bersiap bertarung jika diperlukan. Aldric berpikir cepat. Jika mereka bertahan di sini, mereka akan dikepung. Jika kembali ke atas, mereka bisa langsung ditembak. Tiba-tiba, dia melihat sesuatu di sudut ruangan. “Ke sana!” Dia menunjuk ke sebuah lubang ventilasi di sisi kanan ruangan. Besarnya cukup untuk mereka bertiga masuk satu per satu. Tapi sebelum

  • THE DEAD WALK   Perlawanan terakhir

    Aldric menatap sekeliling dengan cepat. Mereka terjebak di tangga darurat. Di atas, para pemburu sudah mengokang senjata. Di bawah, zombie terus bergerak naik, siap merobek daging mereka kapan saja. Tidak ada jalan keluar. “Kalau harus mati, aku ingin membawa satu orang bersama,” gumam Marco sambil mengencangkan genggaman pada parangnya. Rhea menarik napas dalam, masih berusaha berdiri setelah kakinya tertindih zombie tadi. “Kita tidak akan mati di sini.” Aldric mengangguk. “Kita lawan.” Tanpa peringatan, dia meraih sebuah kursi kayu yang terbengkalai di sudut tangga dan melemparkannya ke arah para pemburu. *BRAK!* Salah satu dari mereka kehilangan keseimbangan dan terjatuh menimpa zombie di bawah. Yang lain terkejut. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Marco dan Rhea yang langsung berlari maju. *Tembak!* Dor! Dor! Dor! Peluru menghantam di

  • THE DEAD WALK   Kota yg di kuasai mayat hidup

    *GRAAAAAKKKK!* Suara geraman dari bawah semakin nyaring. Aldric, Rhea, dan Marco menatap jalanan di bawah dengan napas tertahan. Ratusan zombie bergerak lambat, tetapi jumlah mereka terlalu banyak. Tubuh-tubuh membusuk itu berjalan terseok-seok, beberapa menyeret kakinya yang hampir putus. Marco menelan ludah. “Aku lebih baik ditembak daripada jatuh ke bawah sana.” “Kita tidak boleh membuat suara,” bisik Rhea. Mereka bertiga merangkak di atas atap, berusaha tidak menimbulkan bunyi sekecil apa pun. Namun… *Brak!* Sebuah batu lepas dari tepi atap dan jatuh ke jalanan. Suara itu menggema di antara bangunan-bangunan kosong. Seluruh zombie di bawah serentak menoleh. Kemudian— *GRAAAAAHHHH!* Mereka mulai berlari. Aldric membeku. “Sejak kapan mereka bisa berlari?!” “LARI!” Rhea menarik tangan mereka. Mereka

  • THE DEAD WALK   Tak ada tempat untuk bersembunyi

    Gagang pintu berputar perlahan. Aldric, Marco, dan Rhea menahan napas. Di luar, langkah kaki berat terdengar jelas. Aldric meraih belati di ikat pinggangnya. Jika seseorang masuk, ia harus bertindak cepat. Pintu sedikit terbuka. Sebuah mata mengintip dari celah. Aldric bersiap melompat. Tapi kemudian… “Tidak ada di sini,” suara serak itu berkata. Pintu kembali tertutup. Mereka bertiga tetap diam, tidak bergerak sedikit pun. Langkah kaki di luar semakin menjauh. Butuh beberapa menit sebelum Rhea berani berbicara dengan suara pelan, “Kita harus keluar dari sini.” Marco mengangguk cepat. “Aku setuju. Aku tidak mau mati di tempat ini.” Aldric mendekati jendela dan mengintip ke luar. Kota mati terbentang di depan mata mereka, sepi dan mencekam. “Bagaimana kalau kita keluar lewat belakang?” usulnya. Rhea menggeleng.

  • THE DEAD WALK   Dikejar di kota mati

    Aldric, Marco, dan Rhea berlari keluar dari pintu belakang gudang. Udara dingin menerpa wajah mereka, tetapi mereka tidak bisa berhenti. Di belakang, suara langkah kaki bergema di dalam supermarket. Orang-orang itu sudah masuk. Rhea berbisik tajam, “Ikut aku!” Tanpa pikir panjang, Aldric dan Marco mengikutinya menelusuri gang sempit di belakang gedung. Aroma busuk dari mayat yang membusuk di dekat tempat sampah menyengat hidung mereka, tapi mereka tetap melangkah cepat. “Siapa mereka?” Aldric bertanya sambil berlari. “Kelompok pemburu. Mereka bukan penyintas biasa. Mereka memburu orang lain untuk bertahan hidup.” Marco menoleh dengan wajah ngeri. “Mereka… kanibal?” Rhea tidak menjawab, tetapi ekspresinya sudah cukup untuk memberi jawaban. Sial. Langkah kaki di belakang mereka semakin dekat. Suara-suara kasar terdengar jelas. “Di sana! Mereka lari ke gang belakang!”

  • THE DEAD WALK   PERBURUAN DI KOTA MATI

    Pagi datang dengan langit kelabu. Matahari hanya samar-samar menembus kabut tipis yang menyelimuti kota yang hancur. Aldric membuka matanya dan langsung siaga. Malam ini mereka selamat, tapi itu tidak berarti bahaya sudah berlalu. Di sudut ruangan, Lyra masih terjaga, menggenggam pistolnya erat. Marco tidur meringkuk di pojok dengan napas berat, sementara Finn menguap panjang saat bangun dari tidurnya yang tidak nyaman. “Sudah pagi?” Finn bergumam, mengusap matanya yang masih mengantuk. Aldric mengangguk. “Kita harus bergerak. Stok makanan kita habis. Kota ini luas, pasti ada sesuatu yang bisa kita temukan.” Lyra menghela napas, mengamati Marco yang masih terlelap. “Apa kita benar-benar bisa percaya dia?” Aldric menatap Marco sejenak. “Dia lemah, kelaparan, dan sendirian. Aku tidak melihat alasan dia berbohong.” Finn berdiri, meregangkan tubuhnya. “Kalau begitu, ayo kita mulai berburu. Aku tidak m

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status