Home / Romansa / TAWANAN HASRAT SANG MAFIA / Bab 2 - Alvaro Moretti

Share

Bab 2 - Alvaro Moretti

Author: Farsheed Mo
last update Last Updated: 2024-12-13 23:03:35

Saat mobil jemputan itu mulai berjalan, dada Elena terasa sesak. Perasaan ini membuatnya merasa seperti sapi yang hendak dibawa untuk disembelih.

Menuju ke akhir hidupnya sendiri.

Diam-diam, Elena tersenyum miris memikirkan setiap detail hidupnya yang tak pernah berjalan dengan baik.

Sejak ayahnya pergi bersama wanita lain, ibunya harus berjuang keras untuk menghidupi hidup mereka.

Oleh karena itu, Elena harus memohon pada Vincent untuk membantunya. Namun, siapa sangka kalau di masa depan dia akan dijual demi menebus hutang pria itu?!

Mobil itu terus berjalan dan baru berhenti saat tiba di mansion milik Moretti yang bergerbang tinggi dan dikelilingi oleh pagar berduri.

Rumah itu sangat besar dan bergaya arsitektur Eropa yang mewah, tapi elegan. Namun, entah kenapa rumah ini terasa begitu dingin seakan tak berkehidupan.

Membuat Elena merasa tak nyaman.

Elena melangkah ragu, mengikuti arahan yang diberikan oleh pria itu untuk menuju ke ruang tamu.

Sesampainya di sana, Elena menegang karena matanya langsung bertatapan dengan pria tanpa ekspresi, Alvaro Moretti.

Pria itu adalah bos mafia yang tidak hanya berkuasa di dunia bisnis kelas atas, tetapi juga di dunia hitam.

Raut wajahnya tajam, tegas, dengan garis rahang yang kuat. Rambut hitamnya tersisir rapi ke belakang, sementara dua kancing kemeja hitam yang dikenakan pria itu terbuka di bagian atas.

Menampilkan sebagian tulang selangka dan kulit tan-nya yang menawan.

Di sofa itu, Alvaro duduk dengan kaki yang disilangkan, sedangkan sorot mata tajam milik pria itu terus mengarah pada Elena.

“Mendekatlah.” Alvaro menyapa dengan suaranya yang berat dan tegas.

Tanpa menjawab, Elena mendekat hingga kemudian berhenti di hadapan pria itu. Masih dengan tatapan tajamnya, Alvaro memindai tubuh Elena hingga sang empunya tubuh merasa merinding.

Seperti ditelanjangi.

“Buka bajumu dan duduk di sebelahku.” ujar Alvaro tiba-tiba.

Seakan paham apa maksud Alvaro, Elena membelalak dan buru-buru menggeleng sebelum mengambil satu langkah mundur.

“Saya kesini bukan untuk itu, Tuan.” balas Elena cepat.

Vincent memang menyuruhnya untuk menjadi penggoda dan pemuas Alvaro, tapi dia ingin mencoba–memulai peruntungannya untuk bernegosiasi lebih dulu dengan pria itu.

Permintaan Elena membuat Alvaro tertawa. Kemudian, pria itu bersandar ke sofa, tapi matanya tetap terpaku ke arah Elena dengan dingin.

“Begitu? Lalu, katakan alasanmu datang ke sini kalau bukan untuk menjadi pemuas pribadiku.” desak Alvaro. “Bukannya itu yang disanggupi oleh Vincent?”

“Me–memang begitu, Tuan! Namun, s-saya yakin bisa melunasi hutang Vincent kepada Anda. Jadi… saya ingin meminta tambahan wa–”.

“Dengan apa?” Potong Alvaro.

“Ya?” Elena membeo.

“Dengan apa kamu akan membayar hutang itu?” jawab Alvaro lagi. “Total hutang Vincent adalah 20 miliar, dan itu belum termasuk bunganya.”

Mendengar itu, Elena menegang seakan jantungnya berhenti berdetak. Dua puluh miliar katanya?! Meski tertekan, Elena menggeleng dan berusaha untuk memantapkan hati.

“Sa– saya dapat bekerja dan menyisihkan gaji..”

“Lalu, apa yang akan kudapatkan sebagai gantinya?”

Alvaro mengubah posisi duduknya dan mencondongkan tubuh ke depan. Sorot matanya semakin tajam ke arah Elena.

Elena terdiam, bingung harus menjawab apa. Seharusnya, sejak awal dia tahu kalau pria itu tak akan memberi sesuatu secara cuma-cuma.

Apalagi untuk membayar hutang sebesar 20 miliar.

Elena yang termenung tiba-tiba merasa semakin panik saat melihat Alvaro bangkit dari sofa dan berjalan pelan ke arahnya.

“Aku memang bisa memberikan suamimu waktu tambahan, Elena.” kata Alvaro, suaranya rendah dan penuh kendali. “Tapi, ada syaratnya,” lanjut pria itu lagi.

“Apa syaratnya, Tuan?” kata Elena spontan. Dia merasa memiliki harapan sehingga mampu memberanikan diri untuk menatap pria itu.

Mendengar itu, Alvaro tidak segera menjawab.

Sebaliknya, dia mengambil satu langkah kecil untuk mengurangi jarak di antara mereka dan menarik paksa tangan Elena sebelum meraih pinggang gadis itu, mendekapnya posesif.

“Ah!” Elena memekik tertahan.

Dalam jarak ini, Elena bisa mencium wangi parfum pria itu yang maskulin dan memabukkan, tapi dia menolak untuk tunduk.

“T-tuan Alvaro! Tolong lepaskan saya,” bisik Elena dengan nada memohon, tetapi suaranya hanya membuat seringai Alvaro semakin lebar.

Pria itu perlahan menurunkan kepalanya untuk mendekati telinga Elena. Nafasnya yang hangat menyentuh kulit leher Elena dan membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.

“Aku menginginkan tubuhmu sebagai jaminannya.” Suara Alvaro membuat Elena tertohok. “Bagaimana? Setiap hari. Di mana pun dan kapan pun.”

Permintaan Vincent membuat Elena tercengang. Bukankah itu sama saja dengan Alvaro yang tak mau memberinya kelonggaran waktu?!

Elena lantas berusaha mendorong tubuh Alvaro menjauh. Namun, pelukan pria itu di tubuhnya begitu erat, tak memberinya kesempatan untuk bebas sedikitpun.

"Tuan Alvaro, saya mohon. Pasti ada cara lain. Tolong beri saya waktu tanpa harus menjadi.." suaranya tercekat, tak sanggup melanjutkan.

Alvaro terkekeh dingin. Kali ini, tangan pria itu yang melingkar di pinggang Elena mulai bergerak naik turun.

Bahkan, dia sengaja berlama-lama berada di punggung Elena hingga membuat sang empunya menahan diri untuk tak bersuara.

Tangan Alvaro lantas mencengkram dagu Elena dan mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu. Perlahan, pria itu berbicara dengan kalimat yang menusuk. “Berani bernegosiasi, padahal tak punya hak untuk itu.”

Elena menggigit bibir, berusaha menahan tangis yang sudah hampir meledak. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, seolah tak bisa terbendung lagi.

"Kamu datang ke sini karena suamimu yang mengirimmu padaku. Biarkan aku hanya mengambil apa yang menjadi milikku. Mengerti?!” 

Related chapters

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 3 - Negosiasi

    Air mata Elena akhirnya jatuh juga. “Jangan menangis, karena air matamu tidak akan mengubah apapun.” tangan pria itu terulur mengusap bulir air mata yang turun di pipinya. Elena terdiam sedangkan tubuhnya gemetar menahan isakan. Ucapan Alvaro membuat Elena teringat akan posisinya yang serba salah. Ancaman Vincent membawa ibunya, sedangkan perbuatan Alvaro melecehkannya. Setelah ini, apakah dia masih punya kesempatan untuk menyelamatkan harga dirinya? Melihat Elena yang tak lagi membantah, Alvaro tersenyum tipis. “Bagus! Sekarang jadilah wanita yang baik.” Alvaro kembali mendekat, wajahnya hanya beberapa inci dari Elena. Tatapannya tajam, tapi ada senyum kecil di sudut bibirnya yang membuat Elena semakin tegang. Dia mengulurkan tangannya, menyentuh dagu Elena dengan lembut, lalu memiringkan wajahnya sehingga mata mereka bertemu. Elena menelan ludah, tubuhnya terasa kaku. Ia ingin mundur, tapi langkahnya tertahan. Ketika Alvaro mulai mengecup leher dan pundaknya sebel

    Last Updated : 2024-12-13
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 4 - Berbohong

    A–aku berhasil mendapatkan tambahan waktu…” Elena mencoba menjelaskan."Apa kamu tidak punya otak?! Bodoh!" bentaknya lagi. “Aku menyuruhmu untuk menebus hutang itu secara total! Bukan meminta tambahan waktu!”“Namun, Vincent! Kita bisa membayar hutang itu tanpa–”“Aku tidak peduli!! Pokoknya, ikuti apa kata Alvaro dan buat dia menghapus hutangku!”Elena terdiam. Meski marah, tapi dia tahu, membalas hanya akan memperburuk keadaan. Elena memejamkan mata, menahan air mata yang hampir tumpah.“Kau dengar, Elena?! Aku ingin hutangku segera lunas!!” Elena tercekat. “Vincent, aku tidak bisa—” Tut…Tut…TutSuara Elena terputus ketika panggilan dimatikan sepihak oleh suaminya. Elena menatap kosong ponsel di tangannya dan terduduk lemas. Ia tak mengerti kenapa Vincent berusaha keras untuk menyingkirkannya. Bukankah selama ini hubungan mereka baik-baik saja?Merasakan kepalanya pusing, Elena berjalan keluar kamar untuk mengambil segelas air.Namun, ternyata semua lampu telah dimatikan sehingg

    Last Updated : 2024-12-13
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 5 - Ketahuan

    Elena kemudian memilih untuk duduk di sofa sambil membaca majalah di atas meja. Terbiasa melayani Vincent dan melakukan semua pekerjaan sendiri, membuatnya merasa bosan. “Ini teh untuk anda,” kata seorang pelan yang datang menyodorkan secangkir teh. Mendengar itu, Elena pun mengangguk mengerti dan berterima kasih. “Tuan Alvaro belum pernah sama sekali membawa wanita ke rumah ini. Anda tentu wanita spesial untuk Tuan.” Elena menatap pelayan itu bingung. Kata ‘spesial’ mungkin kurang tepat untuk menggambarkan kondisinya saat ini. Karena dirinya di rumah ini hanyalah seorang tawanan Alvaro yang dipersiapkan untuk menjadi pemuas hasrat pria itu. Namun, belum sempat Elena menjawab, seorang pelayan lain tiba-tiba datang dari belakang dan melapor dengan wajah pucat. “Ada masalah di belakang.” “Coba selesaikan sendiri, karena aku harus mengirim teh ini ke ruang kerja Tuan Alvaro.” Jawab pelayan yang berada di depan Elena dengan bingung. Tatapannya lantas tertuju pada nampan dan

    Last Updated : 2024-12-13
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 6 - Kamu Tidak Menstruasi?

    “Kamu tidak menstruasi?” Tatapan Alvaro berubah tidak lagi menatap penuh gairah, tetapi telah berubah menjadi penuh amarah. “Beraninya kamu!!” Dia menarik diri dan menatap langsung ke matanya, memastikan Elena tak punya ruang untuk mengelak. Terlihat jelas bahwa dia sangat membenci kebohongan yang dilakukan wanita di depannya. “T-tuan, saya…” “Diam !” potong Alvaro kencang. “T-tidak, Tuan. Saya hanya…” “Berhenti bicara!” Alvaro meraih kedua bahu Elena dan mencengkeramnya kuat-kuat. “Berani mempermainkanku?” desisnya, setengah mengancam. “Kau lupa siapa aku?!” “Saya tidak berniat mempermainkan Anda, Tuan,” jawab Elena dengan suara gemetar. Namun, Alvaro tidak berhenti. Dalam satu gerakan cepat, ia meraih syal yang tergeletak di kursi. Elena mencoba mundur, tetapi ruangnya terbatas. Sebelum ia sempat bergerak lebih jauh, syal itu sudah melilit pergelangan tangannya. “Tuan, apa yang akan Anda lakukan? lepaskan saya!” jerit Elena, ketakutan.. Dengan satu tar

    Last Updated : 2024-12-18
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 7- Mau Pergi? Jangan Harap!

    Elena duduk di tepi ranjangnya, memandang kosong ke arah kaca besar di kamar yang menghadap taman. Bayangan Alvaro dan apa yang telah dia lakukan tadi terus berputar di pikirannya. Tubuhnya menggigil, karena rasa jijik dan takut. Dia selalu menjaga kesuciannya, tetapi pria itu menginjak-injak harga dirinya. Mungkin kedatangannya memang sebagai pelunas hutang, tetapi dia tak berhak bersikap kasar seperti yang dilakukannya tadi. Dia pun sadar jika dirinya salah telah berbohong, tetapi itu kan karena dia terus mengancam kesuciannya. Hingga terpaksa dia harus berbohong. “Aku tidak akan membiarkan ini terus terjadi,” bisiknya dengan penuh tekad. Selama ini Elena sudah terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Vincent, yang tak segan menyerahkan dirinya ke pria seperti Alvaro. Jika dia terus terjebak di sini, entah apa yang bisa dilakukan pria itu kepadanya. Mengingat pria itu sangat berkuasa. Elena bergidik. Elena berdiri dan melangkah ke kaca besar itu. Dia memperhatikan pan

    Last Updated : 2024-12-18
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 8 - Tak Ada Jalan

    Keesokan harinya, Elena terbangun karena suara berisik dari jendela kamarnya. “Sudah bangun?” kata Alvaro yang sudah duduk di samping tempat tidurnya. Elena terkejut, dia langsung menutup tubuhnya dan bergeser menjauh dari pria itu. Alvaro melirik wanita itu, senyum tipis terbit di bibirnya. “Bisakan Anda tidak keluar masuk ke kamarku seenaknya?” protes Elena. Matanya mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi, suara benda dipukul masih terdengar begitu jelas. “Ini rumahku! Ingat?” Suaranya pelan, dengan penekanan di setiap katanya. Seolah ingin mengingatkan posisinya di Mansion ini. Elena beringsut turun dari tempat tidur dan melihat ke arah jendela. Dia melihat beberapa pelayan sedang memasang palang di jendela kamarnya. Elena berusaha membuka jendela itu, tetapi tidak bisa. “Kenapa Anda melakukan ini? Apakah Anda mencoba mengurungku disini?” teriak Elena. Tetapi Alvaro hanya diam, pria itu dengan tenang menyesap cangkir berisi kopi kesukaannya. “Tuan Alvaro,

    Last Updated : 2024-12-18
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 9- Pulang Sekarang!

    Netra Elena terbelalak, begitu melihat siapa yang kini berdiri di depannya. Viviana, ibu mertuanya kini menatapnya dengan jijik seolah dirinya barang kotor yang tak seharusnya ada di tempat ini. “Kenapa kamu di sini? Oh aku tahu, kamu pasti sedang menghabiskan uang anakku ya?” “Tidak Bu, aku…” Elena bingung, dia tak tahu harus menjawab apa di depan ibu mertuanya itu. Dia tak mungkin mengatakan jika dia menemani Alvaro. Pasti Viviana akan berpikir macam-macam mengingat temperamennya yang buruk. “Dasar menantu tak tahu diri. Hidup di atas belas kasihan anakku, tapi tidak pernah tahu cara berterima kasih!” Dengan cepat Viviana sudah menjambak rambut Elena, “Pergi dari sini! Pulang!” “Aduh sakit Bu! Lepaskan!” kata Elena, sambil menghentak tangan ibu mertuanya. Elena menggosok rambutnya yang terasa sakit karena jambakan ibu mertuanya. “Beraninya kamu melawan aku! Aku akan bilang ke Vincent, untuk menceraikanmu!” Elena muak sekali dengan ucapan Viviana, Ibu mertuanya

    Last Updated : 2025-01-13
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 10 - Calon Istri

    Alvaro turun dari mobil sport-nya dengan langkah santai, begitu membuka pintu rumah besar bergaya klasik itu, suara berat penuh amarah langsung menyambutnya.“Alvaro! Sampai kapan kamu mau jadi bujang lapuk?! Apa kamu menunggu aku mati dulu baru bawa calon istrimu?!”Ayahnya, Don Moretti, berdiri di tengah ruang tamu dengan tangan berkacak pinggang. Wajahnya merah padam.“Ayah, tenanglah, Kau mau memberitahu semua orang?”Pria tua itu berjalan tertatih dengan tongkatnya, disampingnya kepala pelayan setia mendampingi.“Aku bisa sendiri,” katanya pada kepala pelayan, saat ingin membantunya duduk. Kepala pelayan terlihat membungkuk dan kembali ke sudut ruangan. “Tanpa kuberitahu, semua orang sudah tahu! Apa gunanya uangmu itu, jika menikah saja tidak! Apa kamu mau mempermalukan keluarga Moretti? Hah?!” lanjut Tuan Moretti, suaranya menggema seluruh ruangan. Alvaro menghela nafas panjang, berusaha menahan diri. “Ayah, tenang dulu. Aku hanya tidak mau asal pilih wanita. Ini soal masa de

    Last Updated : 2025-01-13

Latest chapter

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 56 - Tuduhan Palsu

    “Apa? Tidak mungkin!” sanggah Alvaro. Dalam beberapa bulan terakhir ini, hanya Elena wanita yang dia sentuh. Bagaimana bisa Delisa hamil. Alvaro memejamkan mata, mencoba mengingat siapa saja wanita yang dekat dengannya. Tetapi tak ada dalam ingatannya dia pernah menyentuh Delisa sekalipun. Yang ada, wanita itu yang agresif mendekatinya tetapi selalu berhasil dia gagalkan. “Jangan berkelit lagi, nikahi Delisa.” Alvaro tertawa sinis, “sampai kapanpun, tidak!” Alvaro masih teguh dengan pendiriannya. Terlebih lagi dia tidak pernah merasa menyentuh Delisa. Jelas ada sesuatu yang tidak beres. Wanita itu pasti ingin menjebaknya. “Beraninya dia,” gumamnya. “Kepala pelayan, tunjukkan video itu.” Kepala pelayan mengambil sebuah ponsel di atas meja dan kemudian mendekat ke Alvaro. Lalu dia memberikan ponsel itu pada Alvaro. Garis bibir Alvaro tertarik ke dalam. Sekarang dia benar-benar merasa yakin bahwa ini salah satu akal bulus Delisa untuk menjebaknya. “Video ini sudah di edit.” “Apakah

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 55 - Ternyata pernikahan palsu

    “Apa isi dokumen itu?” kata Kakek. Pria tua itu berdiri, dan menarik dokumen dari tangan Vincent. Elena sendiri hanya bisa menatap kedua orang yang sedang saling berebut dokumen itu. Sesaat wanita itu melirik Alvaro yang sedang menahan senyum di sampingnya. “Kira-kira apa isi dokumen itu?” batin Elena.“Lepaskan Vincent!” teriak Kakek. Tangannya menarik paksa dokumen dari tangan Vincent, terlihat jelas bahwa Vincent sangat tidak ingin Kakek mengetahui isi dokumen itu. Begitu Kakek melihat dokumen yang ada di map itu, dia seperti terpukul. Dia mundur satu langkah, dan terduduk lemas. “Vincent beraninya kau! Kau membohongiku selama ini?” Wajah Kakek sudah merah karena amarah. “Ampun Kek, ini semua bohong. Ini hanya rekayasa bajingan ini.”Vincent masih saja berkelit, dan tidak mengakui kesalahannya. “Maaf Kek, bisa saya lihat dokumen itu?” tanya Elena, penasaran. Bagaimanapun juga ini berhubungan dengan hidupnya. Dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Kau tidak tahu tent

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 54 - Bajingan, Kau!

    Keesokan paginya, Elena sudah di dapur. Dia memang sengaja bangun lebih dulu karena dia ingin menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Alvaro. Berbeda dengan di Mansion, di Penthouse ini tidak ada satu pun pelayan. Tetapi, entah kenapa Elena merasa senang di sini. Di Mansion dia merasa seperti tahanan. Elena memasak dengan sesekali bergumam lagu kesukaannya. Sampai kemudian…“Ah!” pekik Elena, kaget. Saat Alvaro memeluknya dari belakang. Kepalanya menyusup di leher Elena. “Kau membuatku kaget, untung aku tidak memukulmu pakai ini.”Elena mengangkat alat untuk menggoreng ke atas. Tetapi sepertinya ucapannya tak berpengaruh pada pria ini. Alvaro memutar tubuh Elena menghadapnya, lalu menatapnya dengan kedua tangan mengukung tubuh wanita itu. “Kenapa tak membangunkanku?” tanya Alvaro, wajahnya menunjukkan rasa tidak suka. Alvaro mengubah posisi kepalanya yang semula miring ke kiri jadi ke kanan. Seolah menuntut penjelasan atas pertanyaannya itu. Tetapi tatapannya masih intens ke Elena.

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 53 - Makan Malam

    Bug! Pukulan demi pukulan diberikan Alvaro pada Vincent. Hingga pria itu tak sempat berdiri. Pria itu terlihat begitu marah. Kini Alvaro sudah diatas tubuh Vincent, bersiap untuk memberikan bogem mentah kembali. Vincent sudah terkapar tak berdaya di lantai, wajahnya babak belur.Elena berusaha bangkit, meskipun dia sangat membenci Vincent, dia tak mau melihat siapapun mati karenanya. Elena menahan tangan Alvaro.“Hentikan,” kata Elena, sembari menggelengkan kepalanya.Alvaro menoleh, melihat Elena yang terlihat lemas. Dia berdiri, lalu menatap Elena dengan cemas.“Bagaimana keadaanmu?” tanya Alvaro. Kedua tangannya dan netranya melihat seluruh tubuh Elena. Seolah memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja.Elena mengangguk. “Aku ingin pulang,” kata Elena, suaranya lemah. “Jose bereskan sisanya.”“Baik Tuan.”Alvaro segera mengangkat tubuh Elena ala bridal style dan membawanya ke mobil. Dia perlahan menurunkan Elena ke jok penumpang. Lalu duduk di sebelahnya. Dia mengambil kotak obat

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 52 - Seribu Kali Lebih Baik

    Tetapi Elena memikirkan ancaman Vincent, meskipun sekarang ibunya dalam penjagaan anak buah Alvaro. Tetapi, Vincent orang yang licik. Dia bisa saja melakukan apapun untuk menyakiti ibunya. Tangan Elena terkepal. “Aku harus menemuinya, dan mengetahui apa maunya.”Elena melihat sekitarnya, Alvaro sudah pergi beberapa saat yang lalu. Bagaimana jika Vincent memaksanya ikut dengannya. Elena segera bangkit. Dia menuju dapur, dia mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai pelindung. “Sepertinya ini cukup,” kata Elena, tangannya menggenggam pisau dapur kecil. Lalu dia kembali ke kamar dan menyimpan pisau itu di tasnya. Dia membawa tas itu bersamanya, dan pergi keluar untuk menemui Vincent. Tidak perlu waktu lama, Elena sudah sampai di alamat yang diberikan Vincent padanya. Di depannya sebuah rumah makan mewah yang tidak jauh dari kawasan Penthouse Alvaro. Elena tetap waspada, dia kenal betul watak suaminya itu. Elena masuk ke rumah makan itu, dia melihat sekitar. Hanya ada beberapa tam

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 51 - Apa Maumu?

    “Aku harus berpisah dulu, untuk itu,” batin Elena. Tetapi dia tak ingin memprovokasi pria disebelahnya. Karena itu, dia memilih diam. Selain itu, bayangan wajah Don yang terlihat sangat marah terus menghantui benaknya. Pria tua itu jelas kecewa setelah Alvaro menolak permintaannya untuk menikahi Delisa. Sejak meninggalkan rumah Don, Elena tak banyak bicara, bahkan setelah mereka sampai di gedung penthouse Alvaro. Alvaro, yang sejak tadi memperhatikan Elena, akhirnya tak tahan untuk bertanya. "Ada yang mengganggumu?" suaranya dalam, penuh ketertarikan. Elena tersentak saat merasakan sentuhan hangat di pundaknya. Dia menoleh, menatap pria itu dengan ragu. "Aku hanya kepikiran dengan ayahmu... apakah sikap kita tadi tidak membuatnya semakin sakit?" Alvaro menarik sudut bibirnya ke dalam, lalu memegang kedua pundak Elena dengan lembut. "Tenanglah, dia pasti baik-baik saja," katanya, seolah ingin menghapus keraguan dari mata Elena. "Syukurlah kalau begitu," gumam Elena pelan. Mereka

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 50 - Menikahimu

    Elena melihat kontrak perjanjian yang ditawarkan Alvaro saat di Penthouse tadi. Tetapi hatinya masih sedikit ragu, dia mungkin akan bisa lepas dari genggaman Vincent tapi hidupnya akan terikat dengan pria di depannya sekarang entah sampai kapan. “Tanda tangani, dia tak akan mengganggumu lagi.” Nada bicara Alvaro terdengar memaksa, tetapi juga sangat serius. “Tapi…haruskah aku?” Elena mencoba mengatakan sesuatu tetapi sebelum dia menyelesaikan bicaranya, Alvaro berbicara. “Menikah denganku, sebagai imbalannya.” Kepala Alvaro mengangguk, seolah mengerti apa yang akan dia bicarakan. Elena terdiam, menatap kontrak di tangannya. Dia memikirkan segala yang mungkin bisa terjadi. Alvaro terlihat menghela napas, lalu berkata dengan nada dingin. “Aku pilihan terbaikmu.” Elena mengangkat wajahnya, menatap pria itu. “Kenapa kau begitu yakin?” Alvaro mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap Elena tanpa ragu. “Aku bisa melindungimu dari Vincent.” Elena terdiam, merem

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 49 - Vincent Brengsek

    Elena menegang saat melihat layar ponselnya. Video call dari Vincent membuat nafasnya tercekat, tetapi yang benar-benar membuat darahnya membeku adalah pemandangan di balik layar. Vincent berdiri di kamar rumah sakit ibunya, jari-jarinya dengan santai menyentuh alat bantu pernapasan yang menopang hidup wanita itu. “Apa yang kau lakukan?!” suara Elena bergetar, panik. Vincent hanya menyeringai. "Kau tahu, Elena, aku bisa membuat semuanya berakhir sekarang juga," katanya santai, sementara jemarinya melayang di atas alat bantu itu, seolah siap mencabutnya kapan saja. Elena hendak berteriak, tetapi panggilan itu tiba-tiba terputus. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia melompat dari tempat duduknya dengan napas terengah-engah. "Aku harus pergi!" Alvaro yang duduk di sofa, menatapnya tajam. "Ada apa?" “Vincent—dia—dia mengancam akan membunuh ibuku sekarang!” suara Elena nyaris putus asa. "Aku harus ke rumah sakit!" Tanpa banyak bertanya lagi, Alvaro berdiri. "Aku antar." Mereka be

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 48 - Menikah Denganku

    Siapa yang tidak kenal dengan kawasan elite di pusat kota ini. Kawasan bisnis di jantung kota yang letaknya sangat strategis, dekat dengan rumah sakit, perusahaan besar dan hunian prestige yang mewah. Dulu Elena ingin sekali tinggal di salah satu apartemen kawasan ini, karena dia tidak perlu jauh dari ibunya yang sedang dirawat di rumah sakit. Tetapi Vincent selalu menolak, bukan dengan alasan harga apartemen yang mahal. Tetapi lebih karena Vincent menganggap Elena tak pantas tinggal di sana. Tetapi hari ini dia bahkan menginjakkan kakinya di penthouse termahal di gedung ini karena Alvaro. Hal ini membuat Elena semakin menyadari kebodohannya selama ini. Karena selalu tulis melayani Vincent dengan harapan pria itu akan menganggapnya sebagai seorang istri. Tetapi ternyata, bagi Vincent, dia tak lebih dari barang dagangan yang bisa dilempar kesana kemari. Karena itu, tekadnya semakin bulat untuk berpisah dengan bajingan itu. “Silakan Nyonya Elena,” kata Jose. Elena tersadar dari lam

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status