LOGIN“In the world full of chaos, two hearts meet.” Dr. Elio Sierra's life falls apart after his wife dies giving birth to their twins. Consumed by grief, he withdraws from his children and career. Desperate to help, his cousin hires Veronikka, a compassionate nurse who eerily resembles Elio's late wife, to care for the twins. Veronikka's presence and nurturing nature slowly break through Elio's emotional barriers, forcing him to confront his pain and begin healing. Will they maintain their professionalism, or will they cross boundaries just to be each other's sunshine in the rain?
View MoreArman sadar bekerja menjadi office boy saja mungkin tidak cukup menyenangkan istrinya.
Bahkan malam ini ia mengurungkan niatnya membeli sebungkus rokok demi membeli martabak kesukaan Keysha. Tidak masalah. Malam ini ia membawa kabar baik yang jauh lebih berharga untuk Keysha. Setelah bertahun-tahun menjadi pekerja alih daya, akhirnya ia diangkat sebagai pegawai tetap. Arman sudah membayangkan wajah Keysha ketika mendengar kabar itu. Mulai bulan depan, pendapatannya akan bertambah lima ratus ribu rupiah. Langkah Arman mendadak terhenti ketika lampu motornya menyorot lima kardus yang bertumpuk di depan pintu kontrakan. “Paket lagi?” bisik Arman pelan. Arman mematikan mesin motor, lalu berjongkok. Jemarinya meraba resi di salah satu kardus untuk memeriksa nama penerima. Keysha Amanda. Alamatnya benar. Nomor telepon istrinya juga tercetak jelas di sana. Dada Arman bergemuruh pelan. Kemarin Keysha baru saja membawa pulang dua kantong pakaian baru. Sebelumnya, ia membelikan ponsel untuk adiknya dan mengirim satu dus besar peralatan dapur mahal kepada ibunya. Arman tidak pernah mempermasalahkan Keysha membantu keluarganya. Namun, selama tiga bulan terakhir, seluruh gaji Arman selalu diserahkan utuh kepada Keysha. Setelah membayar sewa kontrakan, tagihan listrik, dan kebutuhan makan harian, uang yang tersisa di rekening bahkan tidak mencapai satu juta rupiah. Dari mana uang untuk membeli semua kemewahan ini? Arman mengangkat kardus-kardus berat itu ke dalam rumah. Kontrakannya kosong, dingin, dan gelap. Nasi di dalam penanak sudah dingin dan mengeras, sementara lauk di dalam tudung saji tidak tersentuh sedikit pun sejak pagi. Sekarang sudah lewat pukul sepuluh malam. Arman meletakkan kantong martabak di atas meja makan. Keinginan hangat untuk memberikan kejutan bahagia perlahan hilang. Hampir pukul sebelas malam ketika irama ketukan sepatu hak tinggi terdengar menyapu semen lorong luar. Keysha melangkah masuk, dengan balutan blus putih rapi dan rok hitam selutut. Rambutnya ditata halus. Persis seperti orang pekerjaan. Tapi.. sejak kapan istrinya bekerja kantoran? Seketika, aroma parfum mahal yang pekat segera memenuhi ruang kontrakan sempit dan lembab itu. “Mas? Kenapa lampunya enggak dinyalain?” tanya Keysha, suaranya sedikit tersentak. Arman tidak menjawab. Ia mengulurkan tangan, menekan sakelar dan menyalakan lampu meja. Cahaya kuning yang menyala langsung jatuh pada tas kulit kecil berwarna merah yang menggantung di bahu Keysha. Tas itu pun baru. “Kamu dari mana?” tanya Arman datar. Keysha membetulkan posisi tali tasnya dengan gerakan agak canggung. “Acara.” “Acara siapa?” Arman menatap lurus ke matanya. Keysha terdiam. Hanya sesaat, tetapi jeda singkat itu sudah cukup bagi Arman untuk menangkap adanya keraguan dan kebohongan di sana. “Tempat teman aku kamu gak kenal.” lanjut Keysha cepat, mencoba terdengar santai. “Aku bantu-bantu kalau ada acara.” “Dibayar?” tanya Arman lagi. Keysha mendengkus pelan. “Ya dibayar, lah.” “Berapa?” Raut wajah Keysha langsung berubah keruh, tatapannya menajam. “Kenapa jadi interogasi begini?” Arman mengulurkan tangan, menunjuk tumpukan paket yang berjejer di lantai dekat pintu. “Karena gajiku enggak cukup buat beli semua itu.” Keysha membuang muka. “Aku enggak pakai uang kamu.” “Makanya aku tanya berapa kamu dibayar sampe bisa belanja sebanyak ini.” Suara Keysha memantul keras di dinding kontrakan. “Aku capek harus mikir dua kali cuma buat beli baju. Aku capek lihat teman-temanku bisa jalan-jalan, punya rumah, punya mobil, sementara aku masih tinggal di kontrakan sempit!” “Aku sedang mengusahakan semuanya.” “Sampai kapan?” Keysha menunjuk seragam biru muda yang masih melekat di tubuh Arman. “Aku capek hidup begini terus. Masa sampai tua suamiku cuma jadi OB?” Arman menghela napas berat, mencoba menetralkan rasa sesak di dadanya seraya melangkah pelan berniat nyusul Keysha ke kamar. Namun, tepat saat jemarinya baru mau menyentuh gagang pintu, Arman menghentikan langkahnya seketika. Dari balik pintu kamar yang sedikit renggang, terdengar suara Keysha sedang menerima panggilan telepon. "Halo Kakak..." suara Keysha terdengar samar, tapi kali ini nadanya berubah sangat manja dan penurut. Arman perlahan memiringkan posisinya, lalu mengintip melalui celah pintu kamar tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Ia melihat Keysha duduk di tepi kasur sambil mengusap rambutnya, terkekeh pelan dengan senyum yang terus mengembang lebar di wajahnya saat mengobrol di telepon. "Aman kok, Kak... Tadi aku udah dikasih sama si Bunga, katanya harus diminum malam ini sama besok pas sebelum mulai," tutur Keysha renyah seraya tersenyum manis ke arah cermin. Obat? Arman membeku kaku di depan celah pintu. Pekerjaan apa yang mengharuskan Keysha menyembunyikannya dari suami? * Arman berdiri kaku di dekat pintu kamar seraya merapikan seragam kerjanya. Jarum jam dinding sudah menunjukkan waktu yang mengharuskannya segera berangkat, tetapi pikirannya masih tertahan pada pertengkaran semalam. Di depan meja rias, Keysha tampak santai mengoleskan lipstik merah muda ke bibirnya. Gerakannya begitu tenang seolah pertengkaran dan kebohongan semalam tidak pernah terjadi di antara mereka. Arman menghela napas pelan, berusaha meredam gejolak di dadanya sebelum melangkah mendekati istrinya. "Key, kamu pergi lagi hari ini?" tanya Arman pelan, menatap pantulan wajah Keysha dari cermin. Keysha menghentikan gerakan jemarinya sejenak tanpa menoleh sedikit pun. "Iya." Jawaban singkat dan dingin itu membuat Arman terdiam sejenak di tempatnya. Ia ingin bertanya lebih lanjut tentang siapa teman yang dimaksud atau ke mana tujuan Keysha hari ini. Namun, bayangan pertengkaran hebat semalam membuatnya ragu dan memilih menahan diri. “Aku berangkat kerja dulu," ucap Arman singkat. "Iya," sahut Keysha seadanya, kembali fokus merapikan rambutnya di depan cermin. Arman meraih tas kerjanya di atas meja lalu melangkah keluar rumah dengan dada yang terasa sesak. Ia memacu motor matiknya membelah kemacetan pagi, berusaha mengalihkan pikiran dari sikap dingin istrinya. Setibanya di kantor, Arman langsung mengambil peralatan kebersihan dan menyibukkan diri dengan rutinitas. Saat ia sedang menyapu koridor utama, nada dering ponsel di saku celananya bergetar nyaring. Arman merogoh saku, mendapati nama Budi—teman dekatnya yang bekerja sebagai driver ojol—terpampang di layar. "Kenapa, Bud?" sapa Arman santai seraya menjepit ponsel di antara telinga dan bahunya. "Man, Bini lu kerja di gedung ya sekarang? Bohay bener sekarang.” Kerja? “Liat dimana, Bud?” Suara dari seberang bersamaan suara deru jalanan bising membuatnya terdiam. “Nih gue liat di Gedung Altama. Pinter juga lo cari bini.”ELIO BLAZIEL SIERRA I stared at Nika, who had been unconsciously looking at the window. She’s been like that for days, pero gumagalaw naman ito para asikasuhin kami ni Vlad at mga pamangkin niya. Hindi din ito kumakain ng maayos, kaya nag-aalala ako. It’s like she’s here, but her mind is somewhere else, lost in all the pain and worry. And as much as I wanted to reach out, to help her, I didn’t know how. Pero mas lalo akong nag-aalala sa kanya nang hindi ko man lang ito nakitang umiyak, at pagluksahan ang pagkawala ng anak namin. I didn’t know she could be this strong. Stronger than me, even. Or maybe she’s just pretending to be strong—for me, for Vien, for Vlad, and for Harvin, Haven and Harry. I admire her. I admire every fiber of her being, her resilience, her courage in the face of everything we’re going through. She’s the rock holding us all together, and I’m in awe of her strength. “They took Vien for ransom, Elio.” Eros said as he walking towards me holding his phone. Na p
“Nope. She’s fine, Nika. Vien is fine, safe and sound.” Halos mapatumba ako sa sahig nang marinig kong ligtas si Vien. My baby’s safe. Okay na ako nang malaman kong ligtas si Vien.Ramdam ko namang inalalayan ako ni Harvin. Pero kaagad ko ring inilibot ang tingin ko sa paligid nang unti-unti nang lumalapit ang mga Sierra sa amin, ngunit hindi ko nakita si Eros at Elio.“Si... Si Elio? Where is he? Nasaan ang asawa ko? Wala namang nangyaring masama kay Elio, hindi ba?” sunod-sunod kong tanong. Sobrang basa na ng kamay ko dahil sa kaba at takot. Nanlalambot na rin ang mga tuhod ko kung hindi lang ako inaalalayan ni Harvin at ni Ate Lily, paniguradong nasa sahig na ako ngayon.Nagkatinginan sila Kuya Errol at Kuya Reid, huminga naman ng malalim si Kuya Emman tsaka lumakad naman papasok si Kuya Ezekiel kasama si Kuya Ravi para tabihan ang mga asawa nito. Anong nangyayari?Kaagad na nagsialisan na ang mga sasakyan para iparada iyon sa parking lot, pero hindi ko pa rin nakikita si Elio.“
VERONIKKA ELYSE LAURIERI stared unconsciously at the window. The pain... The hurt... The lose of my unborn child... Vienna’s missing... Elio’s got hurt... I got hurt... Harvin and Haven got hurt emotionally... Why? Bakit kailangan namin pagdaanan ang lahat ng ito?Paano... Paano ko tatanggapin ang lahat ng iyon? Ang hirap. Ang hirap dahil ako ang puno’t dulo ng lahat ng mga nangyayari sa pamilya ni Elio.My brother... Kidnapped Vien... His own blood... How... How can he do that? How could he kill his unborn nephew or niece that easily? How could he do that to me? Pagkatapos kong ibigay ang lahat sa kanya? Pagkatapos kong magpakatanga para sa mga luho niya at ng asawa niya, ganito ang ibabalik nila sa akin? How could they? What did I do wrong to be treated this bad? Fvk. Pagod na ako sa buhay ko. Akala ko magiging masaya na ako sa piling ni Elio dahil pinasaya niya naman ako ng tunay at minahal ng labis... Bakit... Bakit sa tuwing masayang-masaya na ako ay doon lang kukunin ng diyos
ELIO BLAZIEL SIERRAI woke up when I heard a loud siren. Pagdilat ko, nakaramdam naman ako ng pananakit ng katawan, but I eventually came back to my senses when I realized that my wife and my daughter is with me.Pero pagtingin ko sa likuran ko ay wala na si Vienna. I panicked.“One... Two... Three!” I heard the rescuers counting before trying to pry open the door where we were trapped. Naririnig ko ang lakas ng pagtulak at paghila nila, pero tila nahihirapan sila. The door creaked, but it wouldn’t budge right away. Kung nahihirapan silang buksan iyon, where’s my daughter? Where’s my Vienna?!“Vien...” my voice cracked as I whispered her name, the fear growing more intense. I didn’t want to believe the worst, but the uncertainty was tearing me apart.Napapikit ako nang mariin nang biglang sumakit ang tagiliran ko. It was sharp, and I couldn't ignore it any longer. I looked down, and there it was—isang malalim na sugat sa tagiliran ko, halos walang tigil iyon sa pagtulo.“Shit...” I m
VERONIKKA ELYSE LAURIERNapagpasyahan ng mag-ama na gumala sa mall. Sobrang saya ng dalawang bata, siguro lalo na kasama ng dalawa ang kanilang ama.Sir Elio spoiled his kids. Kung ano ang tinuturo ng mga bata ay binibigay niya kaagad. Kaya heto kaming tatlo nila Ate Kelly, hirap na hirap na sa pag
VERONIKKA ELYSE LAURIERI woke up early to do my morning exercise and yoga. The sun was just beginning to rise, casting a soft golden glow through the windows. I grabbed my yoga mat and headed to the exercise room, eager to start my routine and clear my mind.As I entered the room, I froze, my eyes
ELIO BLAZIEL SIERRAI was frantically pacing back and forth as Nics was inside the bathroom, testing the pregnancy test. She'd been showing signs of pregnancy, so I bought a test just to be sure.I was too afraid, knowing that my Veronica shouldn't bear a child. Yet we did that, with such caution.
VERONIKKA ELYSE LAURIER Ilang minuto akong nakatitig kay sa kanya nang bumukas ang pintuan ng kwarto niya. Sabay kaming napatingin ni Sir Elio doon at nakita namin ang nakangising si Ate Tri. "Ang tagal niyo, akala ko gumagawa na kayo ng milagro!" "Ate Tri/Tri!" We said in unison. Ramdam ko ata






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviews