Setelah Elizabeth berhasil membuat Tania bertahan bekerja di rumahnya, wanita itu ingin mendekati Tania secara perlahan-lahan. Seperti sing ini, mereka berdua tengah berada di dapur dan sedang membuat kue kering untuk Pauline. "Tan, bila hari minggu kau pulang menjenguk ibumu, bagaimana kalau aku dan suamiku ikut? Aku juga ingin menjenguk dan bertemu dengan ibumu," ujar Elizabeth menatap Tania di sampingnya. Kegiatan Tania memotong buah-buahan kering pun terhenti, dia terlihat seperti sejenak diam berpikir.Elizabeth tersenyum meraih sebuah mangkuk kecil di hadapan Tania hingga sukses membuat lamunan Tania buyar. "Kita kan sudah kenal, kau juga sudah bekerja di sini cukup lama. Sesekali saja aku ingin tahu di mana rumahmu," imbuh Elizabeth melirik Tania. "Ti-tidak perlu Nyonya. Rumah saya sangat kecil, dan saya takut Nyonya tidak nyaman dengan rumah saya yang rasanya tidak pantas dikunjungi oleh Tuan dan Nyonya," jawab Tania, tentu saja dia beralasan. Elizabeth menyergah napasny
Dua hari kemudian...Elizabeth membawa banyak barang-barang, dan kue yang ia beli dari luar bersama dengan suaminya siang ini. Setelah mengajak anak-anak pergi jalan-jalan, mereka menyempatkan berbelanja banyak makanan, minuman, dan barang-barang lainnya. "Wahh, Nyonya berbelanja banyak sekali?" tanya Tania saat Elizabeth meminta bantuannya untuk membawakan barang ke belakang. "Iya, Tan. Ada tamu hari ini, jadi aku sengaja membeli banyak cemilan, kue, dan buah-buahan," jawab Elizabeth sembari membukakan tutup botol minuman milik Pauline. "Oh, begitu ya, Nyonya..." Tania tersenyum manis. Muncul Evan yang kini masuk ke dalam ruang makan yang bersebelahan dengan dapur. Laki-laki itu membawa buket bunga yang tadi Elizabeth beli di toko bunga Bibi Meria. "Sayang, buket bungamu tertinggal," ujar Evan."Oh ya ampun, aku lupa..." Elizabeth meraih buket bunga itu, sebelum dia menatap Evan. "Orang-orang ke sini jam berapa, Sayang?" "Entahlah, sepertinya sore," jawab Evan mendekati Paulin
"Seseorang yang kau kenal? Siapa, Patricia?" Suara sahutan itu terdengar dari Elizabeth yang kini masih memperhatikan Patricia bersama dengan Tania. Nampak Patricia berpikir-pikir dan wanita itu menggelengkan kepalanya. "Emmm, ada. Tapi, jelas-jelas wajahnya berbeda," jawab Patricia masih terkekeh, sebelum dia menatap Tania lagi. "Maaf ya, Tania. Kau mirip dengan mantan temanku. Tapi tidak terlalu mirip karena kau itu orang yang baik dan pemalu, sedangkan mantan temanku itu wanita sialan! Dia bernama Clarisa." Tania tidak menjawab apapun, selain hanya diam meremas nampan yang ia bawa dan semakin menundukkan kepalanya.Di sana, Elizabeth memperhatikan wajah Tania yang terlihat pucat. "Sudahlah, kembalikan ke belakang, Tan. Siapkan dan ambilkan cemilan di atas meja belakang ya. Setelah itu bantu Bibi Lidia menyiapkan makan malam," ujar Elizabeth menatap Tania. "Baik Nyonya," jawab Tania mengangguk. Wanita itu pun berjalan ke belakang, dan Patricia kembali duduk bersama Elizabeth
Keesokan harinya, seperti yang sudah dibicarakan semalam. Patricia dan Catrine datang ke kediaman Evan setelah mereka menyelesaikan meeting di kantor.Elizabeth menyambut kedatangan mereka dengan sangat senang. Ketiga wanita itu duduk di teras samping rumah, dan membicarakan banyak hal yang menyenangkan. "Apa suamiku masih ada di kantor?" tanya Elizabeth menatap Patricia. "Masih Nyonya. Tadi, Tuan Evan sedang ada tamu penting," jawab Patricia sembari meletakkan tas kerjanya. "Oh baiklah." Elizabeth mengangguk, wanita itu berdiri dari duduknya dan ia melambaikan tangan saat melihat Tania. Pembantu muda itu melangkah mendekati Elizabeth dan ketiga tamu wanita di sana. Tania menundukkan kepalanya dan ia sama sekali tidak berani menatap Catrine maupun Patricia. "Ada apa, Nyonya?" tanya Tania."Tan, tolong buatkan teh chamomile dan ambilkan biskuit di dalam lemari kayu di samping lemari es, bawa semua biskuitnya ke sini," ujar Elizabeth. "Baik, Nyonya." "Oh, tunggu!" Suara Patricia
Tania mengatupkan bibirnya rapat, wanita itu meremas ujung lengan jaket hitam yang ia pakai saat Jericho menatapnya penuh intimidasi. Jericho tersenyum miring dengan tatapan tak lepas dari Tania. "Kenapa kau hanya diam? Apa mulutmu tidak bisa berkata-kata lagi?" Jericho meremehkannya. Mendengar apa yang Jericho ucapkan, Tania lantas menipiskan bibirnya dan wanita itu tersenyum tipis. "Mau ke manapun aku pergi, itu bukan urusanmu!" seru Tania. Ekspresinya berubah, tak ada lagi gentar di raut wajahnya.Wanita itu hendak melenggang pergi, namun Jericho menghadangnya dan sengaja membuat Tania tak bisa melewatinya. "Tidak semudah itu, Tania. Kau bekerja di sini bersama Tuan Evan dan Nyonya Elizabeth, bila terjadi sesuatu denganmu di luaran sana, maka Tuan dan Nyonya yang akan repot. Apa kau tidak menggunakan akal sehatmu untuk berpikir, heh?!" Jericho menatapnya dengan jarak yang sangat dekat. "Tindakanmu yang sering keluar malam sembunyi-sembunyi seperti seekor ular, kau pikir tidak
Beberapa hari kemudian, waktu yang ditunggu oleh Pauline dan Exel telah datang, yaitu hari libur. Di mana Mama dan Papanya akan mengajak dua anak itu pergi jalan-jalan ke sebuah game zone setelah mereka pergi ke sebuah restoran untuk makan siang. "Kalian main di sini saja, Paman James akan menjaga kalian. Mama dan Papa mau berbelanja dulu ya, Sayang..." Elizabeth menatap dua buah hatinya yang kini terlihat tak sabaran ingin segera bermain. "Iya Mama." Pauline mengacungkan jempolnya. "Jaga adik baik-baik, Sayang," ucap Evan sembari mengusap pucuk kepala Exel. "Iya Pa, tidak usah dinasehati juga Exel tahu. Kan Exel, Kakak yang sudah dewasa," jawab anak itu dengan sangat percaya diri. Elizabeth tersenyum mendengar jawaban putranya. Berbeda dengan Evan yang tertawa pelan dan tambah mengusap gemas pucuk kepala Exel. "Ya sudah, sana main," ujar Evan pada dua anaknya tersebut. Dengan ekspresi wajah yang ceria dan senang, Pauline pun langsung menarik lengan sang Kakak dan mengajaknya
Usai mengikuti Tania sejak siang hingga sore, Elizabeth dan Evan pun kini memutuskan untuk pulang ke rumah. Elizabeth berjalan masuk ke dalam kamar, wanita itu meletakkan tas miliknya dan melirik sebuah kalender di atas meja. 'Besok masih tanggal merah, dan aku mengizinkan Tania untuk libur dua hari ... kenapa hari terasa semakin lama saat aku mulai penasaran dengan sesuatu,' batin Elizabeth kacau. Pintu kamar pun kembali terbuka, muncul Evan yang berjalan masuk ke dalam kamar tersebut. Laki-laki itu memperhatikan Elizabeth yang terlihat sedikit murung. Evan tidak menyukai Elizabeth yang memasang wajah sedih seperti ini. "Sayang, kau tidak papa?" tanya Evan sembari melepaskan mantel hangatnya. Istri cantiknya itu hanya melirik sebentar sebelum kembali menatap ke arah luar. "Evan, aku ... aku sekarang merasa sangat menyesal," ujar Elizabeth tertunduk dan meremas jemari kedua tangannya. Kedua alis tebal laki-laki itu mengerut. Evan menarik kursi di depan meja rias dan meletakkan
Elizabeth dan Evan mengajak dua anak mereka untuk datang ke sebuah restoran berbintang milik keluarga Winston.Mereka berdua sudah melihat ada Daniel di dalam sana yang sepertinya baru saja datang. Dan Pauline, anak itu terlihat kaget melihat ada Daniel di sana. Dia menatap Daniel dengan kedua pupil matanya yang lebar. "Om Baik-ku!" teriak Pauline keras-keras. Mendengar suara keras dan mungil milik Pauline, sontak, pemilik nama itu langsung menoleh dengan cepat. Dapat terlihat perubahan ekspresi Daniel begitu cepat saat Pauline berlari ke arahnya. Daniel pun langsung menangkap dan menggendong Pauline, memeluknya dengan sangat erat. "Ya ampun, Nak ... Papa rindu padamu," ujar Daniel mengecupi pucuk kepala Pauline. Evan dan Elizabeth pun ikut tersenyum melihat kedekatan mereka. "Dia terus mencarimu," ujar Evan terkekeh sembari menjabat tangan Daniel. "Hehh, kalian saja yang tidak mau menghubungiku! Aku kan juga kangen dengan Princess Kecilku ini," ujar Daniel menatap wajah Pauli
Setelah pergi jalan-jalan, Xander mengajak Pauline dan Alicia ke rumahnya. Pauline pikir Xander tetap tinggal di rumah lamanya, tapi ternyata ia salah, Xander telah memiliki rumah sendiri yang jauh lebih megah. Kini, Pauline melangkah masuk ke dalam rumah. Ia berjalan di belakang Xander yang melangkah di depannya sembari menggendong Alicia yang terlelap dalam dekapannya. "Kak, tidurkan di sofa saja, tidak apa-apa," ujar Pauline tidak enak hati. "Kenapa harus di sofa? Di lantai satu banyak kamar, lantai dua juga ada," jawab Xander sambil berjalan menaiki anak tangga. "Tapi kan—""Anggap saja rumah ini rumahmu sendiri, Sayang," sela Xander. Panggilan Sayang yang Xander lontarkan membuat Pauline terdiam. Ia teringat saat beberapa tahun lalu, Xander memanggilnya dengan panggilan itu dan terdengar sangat romantis. Sampai akhirnya Pauline kembali melangkah naik mengikuti Xander. Mereka masuk ke dalam sebuah kamar. Kamar bernuansa abu-abu dan putih, memiliki ranjang king size di teng
Pauline terus merenung setelah ia mendapatkan nasihat dari sang Papa. Diamnya membuat Xander yang kini bersamanya pun tampak tak biasa. Laki-laki itu memperhatikannya dan ikut merasakan ada yang lain dengan Pauline. "Kenapa diam saja?" tanya Xander menatapnya dan menarik lengan Pauline sambil memangku Alicia. Pauline menoleh cepat dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Emm ... hanya berpikir cuacanya semakin dingin." "Ya, tapi Alicia tidak mau pulang," jawab Xander menahan Alicia yang ada di pangkuannya dan tampak masih ingin bermain lagi di taman. Anak kecil perempuan itu mendongak dan menggelengkan kepalanya. "Ma, Alicia masih mau main sama Papa, nanti kalau Papa pulang, biar Alicia tidak menangis lagi," ujar anak itu. Pauline tersenyum dan mengangguk. "Iya, Sayang. Main sepuasnya di taman, ditemani Papa. Mama akan di sini memperhatikan kalian." Jawaban yang Pauline berikan membuat Xander terdiam dan menatapnya dengan dalam. Rasanya seperti tidak biasa melihat ekspres
Suara gema tangisan Alicia menggelegar di dalam rumah Evan. Alicia marah saat ia bangun tidur, Xander tidak ada di sana, hingga membuat anak itu menangis mencari sosok yang ia panggil 'Papa' tersebut. Tangisannya membuat semua orang heboh pagi ini. Sampai Evan dan Elizabeth ikut berusaha menenangkannya cucu kesayangannya. "Sayang, sudah jangan menangis ... nanti Papa Xander akan ke sini, kok," bujuk Elizabeth menggendong Cucunya. "Huwaa ... maunya sekarang, Oma! Alicia maunya sekarang! Huwaa ... Papamu di mana?!" jerit Alicia menangis. Sedangkan Pauline kini berada di lantai dua, gadis itu tengah mencoba menghubungi Xander. Namun hingga berkali-kali panggilannya tidak dijawab oleh Xander meskipun terhubung. Pauline sampai mondar-mandir dengan kepala pening. Sejak petang dia menggendong Alicia yang rewel mencari Xander. "Mama!" pekik Alicia dari lantai satu. "Huwaa ... Mama!" Gegas Pauline turun ke lantai satu dan segera mendekati putrinya yang kini berjalan ke arahnya sambil me
Pauline dan Xander sampai di wahana akuarium raksasa. Di sana, Alicia terlihat sangat senang. Bahkan anak itu tidak mau turun dari gendongan Xander sejak mereka sampai. Tak hanya diam, Pauline pun sesekali mengambil momen dengan membuat video tentang Alicia yang digendong oleh Xander. "Wahh ... Papa! Itu ikannya besar!" pekik anak perempuan itu menunjuk seekor ikan di dalam akuarium raksasa. "Itu ikan apa, Papa?" "Itu ikan paus, Sayang," jawab Xander. "Ikan paus juga punya Mama dan Papa, juga?" tanyanya dengan polos. "Tentu saja punya," jawab Xander terkekeh. Pauline berdiri di samping Xander dan wanita itu menunjukkan gerombolan ikan-ikan cantik di sana. "Itu bagus ya," ujarnya. "Hm." Xander mengangguk. "Apa kau tidak pernah jalan-jalan saat Prancis?" "Tidak pernah. Alicia sangat nakal. Aku pernah mengajaknya ke taman bermain saat itu, hanya berdua, tapi aku awalnya ingin membiarkannya mendapatkan teman, tapi baru beberapa menit, belum ada satu jam sudah jat
Pauline menuruti keinginan Alicia yang meminta jalan-jalan bersama Xander pagi ini. Meskipun situasi tampak canggung yang terjadi antara Xander dan Pauline saat ini, namun justru Pauline lah yang banyak diam, karena Xander sibuk berbincang dengan Alicia. "Papa, jadi lihat ikan lumba-lumba kan, Papa?" Anak perempuan kecil itu duduk di pangkuan sang Mama dan menoleh pada Xander yang tengah mengemudi. "Jadi dong, Sayang. Papa kan sudah janji dengan Alicia," jawab Xander terkekeh. "Asikk...! Nanti pulangnya kita beli es krim ya, Pa..." "Iya, Sayang." Xander tersenyum manis menatap wajah Alicia yang terlihat begitu berbinar berbunga-bunga. Anak perempuan itu menyandarkan kepalanya di dada sang Mama. Pauline menoleh pada Xander yang kini tampak begitu bahagia. Ia tidak tahu banyak tentang laki-laki ini selama lima tahun terakhir. Hanya saja, setahu Pauline kalau Xander memang belum menikah atau memiliki pasangan. "Kau tidak sibuk kan, hari ini?" tanya Pauline memecah keheningan. "Sa
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Alicia tampak sudah bangun dan anak itu terlihat jauh sangat bersemangat. Pauline tidak tahu apa yang membuat anaknya begitu antusias, di sisi lain ia hanya pandai menebak kalau kemungkinan besar Xander lah yang membuat Alicia begitu senang."Mama ... ayo cepat, Alicia mau mandi!" pekik anak itu memanggil Pauline yang masih sibuk di dapur. "Mama...!" "Iya, Sayang sebentar!" Elizabeth terdengar menyahuti teriakan cucu kesayangannya. Sampai tak lama kemudian barulah Pauline muncul dan wanita muda itu naik ke lantai dua menemui si kecil yang langsung memasang wajah protes karena Mamanya terlalu lama. "Kenapa, Sayang? Tumben jam segini sudah bangun, hm?" Pauline langsung mengangkat tubuh Alicia dan mengecupi pipinya."Mama, Alicia mau mandi, terus ganti baju yang bagus warna merah muda!" serunya, antusias. "Alicia juga mau pakai sepatu yang merah muda, pakai jepit yang lucu, Mama..." Pauline terkekeh mendengarnya. "Memangnya Alicia mau ke mana, Saya
Sementara di dalam kamar, Pauline panik saat ia terbangun dari tidurnya, wanita muda itu tidak menemukan putrinya. Padahal sudah jelas-jelas tadi saat ia tertidur, Alicia ada di sampingnya. "Ya ampun, ke mana Alicia malam-malam begini!" pekik Pauline kebingungan. Wanita muda bertubuh langsing itu berjalan membuka pintu kamar mandi, dan anaknya tidak ada. Pauline menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Buru-buru Pauline keluar dan ia berjalan ke lantai satu. Di sana sepi, hanya ada suara beberapa orang di ruang tamu. Sampai Pauline berjalan ke depan dan kemunculannya disambut oleh Papa dan Kakaknya, juga rekan-rekannya. "Pa ... Papa melihat Alicia?" tanya Pauline panik.Evan menunjuk ke arah depan dengan dagunya. Laki-laki itu tampak tidak ragu dengan Xander, apalagi saat Evan tahu, selama Pauline pergi, Xander masih setia sendiri dan dia bilang kalau suatu saat dia kukuh ingin menemukan Pauline. Evan benar-benar melihat kesungguhan itu, hingga ia tidak membuat jarak antara
Hari sudah malam, Pauline tertidur nyenyak memeluk Alicia. Tetapi anak kecil itu belum juga terlelap. Alicia memeluk botol susunya dan diam menatap ke arah langit-langit kamarnya sambil mengoceh sendiri. "Mama capek, Alicia nakal terus, jadi Mama bobo cepat-cepat..." Anak itu mengerucutkan bibirnya. "Alicia mau punya Papa yang baik, biar seperti Kakak kembar. Emmm, Papanya Alicia pergi jauh dibawa Tuhan," ocehnya dengan mata lebarnya yang mengerjap. Anak bertubuh mungil dengan balutan piyama hangat berwarna ungu muda itupun perlahan-lahan merangkak turun dari atas ranjang. Alicia berjalan membawa botol susunya dan keluar dari dalam kamar, setelah ia tahu pintu kamar tidak ditutup rapat. Dengan langkah kecilnya, anak itu berjalan menuruni anak tangga. "Aduh ... aduh ... anak tangganya sangat banyak. Alicia harus hati-hati. Satu, dua, satu, dua!" seru anak itu dengan suara mungilnya. Tampak di ruang tamu, beberapa orang laki-laki yang tengah berada di sana, sibuk membahas pekerja
Napas Pauline tercekat saat ia melihat sosok Xander berdiri di depannya dengan ekspresi yang sama kagetnya dengan Pauline. Belum lagi Alicia yang kini memeluk kaku Xander dan anak itu berisik terus meminta gendong. "Om, itu Mamaku, ayo ... Alicia mau gendong. Katanya kalau bertemu Alicia mau digendong lagi! Ayoo, gendong!" pekik Alicia berjinjit-jinjit mengulurkan tangannya pada Xander.Lamunan Xander buyar karena anak itu, ia menunduk dan tersenyum pada Alicia. "Iya, Sayang..." Xander langsung menggendong Alicia dan mengangkat tubuh mungil itu dalam pelukannya sebelum ia berjalan mendekati Pauline yang masih diam membeku di tempatnya. Alicia tersenyum lebar memeluk leher Xander dan menyandarkan kepalanya di sana. "Om, Alicia kok tahu kalau Alicia di sini?" tanya anak itu. "Tentu saja Om tahu, Sayang," jawab Xander. Pauline mengerjapkan kedua matanya dan napasnya terengah tiba-tiba. Ia tercengang melihat pemandangan di hadapannya saat ini. Sejak kapan Alicia dekat dengan Xand