INHERITED HUSBAND
03 – LELAKI WARISAN
Cerita mengenai email yang dikirimkan Tante Nirmala sebelum berita kematiannya datang, menyebar dengan cepat di W******p Group keluarga. Semua orang bertanya-tanya bagaimana bisa Nirmala seakan sudah meramalkan kematiannya sendiri.
‘Dia ‘kan memang orangnya aneh, suka sama yang berbau klenik, gitu. Jadi kayanya dia udah tau kalau mau meninggal…’ tulis seorang Uwa yang memang hobinya gosipin orang.
‘Trus sekarang semua hartanya dikasih ke Ganis, ya?’ tanya seorang Tante yang kelihatan berharap kecipratan warisan Nirmala.
‘Wah, mendadak kaya kamu, Nis! Selamat, ya!’
‘Traktir dong, Nisss…!’
‘Aseekk, tau-tau dapet rumah sama deposito aja, nih!’
‘Mau diapain warisannya, Nis?’
‘Jual aja rumahnya, beli yang deket kantor, Nis. Deposito bisa dibeliin mobil dan liburan ke LN. Yuhuuu…! Gue ikutan, yaakk!’
‘Nis, gimana ceritanya kamu bisa dapat warisan? Wah, diem-diem kamu suka ketemuan sama Nirmala, ya?’
‘Nis, kaya gimana sih rumah warisannya? Kamu udah tau?’
Duuh, Rengganis pusing sendiri dengan banyaknya pertanyaan dari saudara-saudara yang kepo. Dia mengetik dengan cepat.
‘Maaf, sodara-sodara, Uwa, Om dan Tante, saya juga enggak tau kenapa Tante Nirmala ngasih warisan ke saya aja, bukan ke anggota keluarganya yang lain. Bagi kalian yang kepo, sumpah beneran saya enggak ada main belakang sama Tante Nirmala. Saya enggak pernah ketemu sama beliau, sumpah suer, deh!
Ini aja kaget tiba-tiba dapat Surat Wasiat. Jadi tolong jangan berpikir yang macam-macam soal saya dan Almarhum Tante Nirmala. Mendingan kita doain aja supaya Tante Nirmala tenang di sana. Sekian dan terima kasih. Salam, Rengganis yang lagi kaget dan berduka.’
Send.
Rengganis tersenyum puas membaca pesan yang ditujukkan pada semua anggota keluarga di WAG. Tuh, jangan suudzon aja sama orang!
Iri bilang, bos!
Tapi sejujurnya semua pertanyaan yang diajukan oleh keluarganya memang sempat mampir di pikiran Rengganis.
Dia juga penasaran seperti apa rumah warisan dari Almarhumah Tante Nirmala?
*
Berbekal alamat yang diberikan oleh Pak Tomi, Rengganis nekat pergi untuk melihat seperti apa rumah warisannya.
Ternyata, rumah Tante Nirmala lebih jauh dari pada bayangannya. Ia harus tiga kali ganti angkutan umum dan dua kali naik ojek untuk sampai tempat tujuannya.
Langit sudah menggelap saat ojek yang ia tumpangi akhirnya berhenti di depan sebuah pagar hitam tinggi.
“Di sini, Mang?” tanya Rengganis sangsi. Dia melepaskan helm bau apek yang dipakainya.
Ojek itu mengangguk, dia menerima helm dari tangan Rengganis, “Iya, Neng. Masuk aja ke dalem. Saya langsung pergi, ya. Udah kemaleman!”
Tanpa ba-bi-bu, sang Ojek pengkolan itu langsung ngacir dari sana.
Tinggal Rengganis berdiri mematung di depan pagar besi yang terkesan angker itu.
“Jadi, ini rumahnya?” gadis bermata jernih dengan tubuh berisi itu menatap rumah megah di hadapannya. Alisnya bertaut, mempertanyakan sesuatu yang belakangan ini menghantui dirinya dan keluarganya, ‘Aku tahu Tante Nirmala kaya, tapi … kenapa dia … malah mewariskan semua ini padaku?’
Kerlip cahaya terlihat dari kejauhan, Rengganis menyipitkan matanya.
Apa itu? batinnya penasaran. Perlahan dia melangkah mendekat menuju gerbang besi itu. Tak ada papan nama, tak ada nomor rumah, apalagi penerangan jalan.
Jantungnya bertalu-talu di dada. Mendadak saja bulu romanya berdiri, suhu udara mulai menurun, angin berhembus membuatnya bergidik.
Rengganis memeluk kedua lengan dan menggosok-gosokkan telapak tangannya, berusaha mengusir dingin yang menggigit. Dia mengecek jam tangannya, baru pukul tujuh saja dinginnya sudah membuat giginya gemeletukan.
Tangannya mendorong pagar itu, suara berderit terdengar saat pagar bergeser membuka, memberinya jalan untuk masuk ke dalam halaman rumah warisannya.
Pak Tomi berpesan untuk menelepon si penjaga rumah, memberitahu kedatangannya. Tapi Rengganis sudah berkali-kali menelepon nomor yang diberikan Pak Tomi, tapi tak kunjung mendapatkan jawaban.
Rasa penasaran dan sukacita yang menggebu membuatnya nekat untuk jalan sendiri ke sini. Sekarang, dia menyesali kenapa tidak minta ditemani Papa untuk melihat rumah warisannya.
Kaok burung yang pulang ke sangkar membuat suasana makin mencekam, Rengganis mempercepat langkahnya menyeberangi halaman rumah yang luas. Dia menaiki tangga teras dan mengatur napasnya.
Rumah itu bertingkat dua, terbuat dari batu dan kayu. Walaupun terkesan tua, rumah itu masih terawat. Pintu ganda yang menjadi pintu masuk berwarna cokelat tua dengan gantungan dari kuningan. Rengganis meraih gantungan dan mengetuk tiga kali.
Tidak ada jawaban.
Dia menunggu sesaat, kemudian mengetuk lagi.
Lagi-lagi tak ada sahutan.
Rengganis mengerutkan keningnya, dia berdeham, suaranya serak saat ia berseru, “Assalamulaikuuum ….! Halo ….! Ada orang di sini?!”
Dia mulai celingukan, berusaha mengintip dari balik jendela yang tertutup rapat. Sayup-sayup terdengar suara berdentum dari dalam rumah.
Rengganis mendekat ke arah pintu, dia yakin mendengar suara dari balik pintu. Dentuman itu terdengar makin keras sampai-sampai dia menempelkan sebelah telinganya di dekat daun pintu.
Dum. Dum. Dum.
Ha? Apa itu, ya? Apa ada yang sedang bermain musik? Pikir Rengganis heran. Dia merasa ada yang sedang berpesta di dalam sana.
Siapa orang yang berpesta di tengah hutan begini?
Pak Tomi bilang kalau rumah ini hanya ditempati oleh Tante Nirmala dan beberapa pembantunya. Tapi semenjak Tante Nirmala dirawat di RS, pembantunya hanya tersisa satu orang.
“Namanya Pak Eman, beliau bertugas membersihkan rumah dan mengurus tanaman. Rumahnya tidak jauh di belakang kebun, jadi nanti kalau Mbak Rengganis ada perlu, bisa langsung komunikasikan pada beliau.” kalimat Pak Tomi terngiang di telinga Rengganis.
Ah, ya. Mendingan cari Pak Eman aja. Bisa jadi tidak bisa dihubungi karena susah sinyal. Maklum lokasi rumah ini di antah berantah.
Namun, Rengganis masih penasaran, dia merunduk dan sekali lagi membuka telinganya lebar-lebar, mendengarkan dengan saksama apa yang sedang terjadi di balik pintu itu.
Dum. Dum. Dum.
Suara itu masih terdengar. Dia yakin ada orang di dalam rumah. Siapa yang berpesta di rumah orang yang baru saja wafat?
Dasar enggak sopan!
Rengganis menarik napasnya kesal, dia merasa orang ini kurang ajar karena pesta di rumah orang tanpa izin dari pemiliknya!
Dum! Dum! Dum!
Deg. Deg. Deg.
Rengganis mengerutkan keningnya saat suara yang ia dengar berubah. Tiba-tiba saja rasa hangat menjalar dari telinganya. Daun pintu terasa lebih hangat dari pada tadi. Sudut matanya menangkap bayangan.
Perlahan, Rengganis mendongakkan kepalanya, matanya melebar saat bayangan itu menjelma menjadi sesuatu yang tinggi, padat dan hangat.
Mulut Rengganis terbuka, suaranya tercekat di tenggorokan saat ia berdiri berhadapan dengan seseorang yang menatapnya tajam.
“A …. A ….” Tangannya gemetar menunjuk orang yang berdiri di ambang pintu.
“Siapa kamu?”
Rasanya ada yang menyiramkan air dingin di atas kepalanya saat mereka berdiri berhadapan. Mata Rengganis yang membelalak perlahan menyusuri setiap jengkal wajahnya. Mata gelap yang bersinar tajam, dahi tinggi dengan kedua alis tebal, rahang yang terlihat kuat dan dagu yang terbelah.
Alisnya berkerut, tatapan matanya yang tajam mengingatkan Rengganis pada tatapan mata singa yang siap menerkam.
Rengganis mundur selangkah, lelaki itu maju mendekat.
Uh. Jantungnya langsung jumpalitan. Apalagi lelaki itu sama sekali tidak memakai baju atasan. Dadanya yang bidang dengan otot yang liat terlihat jelas di hadapannya.
“Ka-kamu siapa?” Rengganis balas bertanya dengan terbata. Dia berusaha tetap tenang walaupun rasanya mau pingsan.
“Narendra dari Pajajaran.” Suaranya yang dalam diikuti dengan gerakan tubuhnya yang berubah menjadi posisi siap saat menyebutkan namanya. Sikapnya seperti seorang prajurit.
“Ha?” Rengganis bertanya heran, “nga-ngapain kamu di-di rumah ini?”
“Ini rumah Nirmala.” jawabnya tenang, “kamu siapa?”
“A-aku …. Aku Rengganis, ponakannya Tante Nirmala.”
Kali ini mata lelaki yang bernama Narendra yang membelalak sembari menatapnya, “Kamu ….”
Rengganis mengangguk, “Y-ya, Tante Nirmala mewariskan rumah ini untukku.”
Perlahan, senyum merayap di wajah Narendra, sorot matanya melembut saat ia mengucapkan satu kalimat yang mengubah hidup Rengganis, selamanya, “Wilujèng Sumping, Nyai Rengganis. Mulai saat ini, saya adalah suamimu.”
*
INHERITED HUSBAND04 – PENGHUNI RUMAH MISTERIUSSeumur hidup, Rengganis jarang berlari.Berat tubuhnya menghalangi kecepatan larinya. Baru beberapa meter saja, dia sudah ngos-ngosan. Tapi saat ini, kedua tungkainya berlari secepat kilat. Napasnya berembus di udara saat mulutnya terbuka, dia memacu kakinya agar segera pergi dari sana.Dari lelaki aneh dan rumah menyeramkan itu.Sepertinya dia tersesat. Sepertinya dia salah alamat. Sepertinya dia tidak sengaja masuk ke alam gaib yang ada di hutan ini.Rengganis menelan ludahnya, kembali memacu kakinya agar berlari secepat mungkin. Dia bisa melihat gerbang besi hitam yang terbuka. Dia terengah, jantungnya bertalu-talu di dada, berdenging di telinganya, adrenalin menderas dalam aliran darahnya, dia hampir oleng, tapi ketakutan dan kengeriannya mengalahkan segalanya.Di otaknya saat ini hanya ada satu tujuan: LARI.Langkahnya semakin mendekat, tangannya menggapai
INHERITED HUSBAND05 – SAH SUAMI-ISTRIGila. Gila. Gila. Ini enggak mungkin terjadi. Ini pasti halusinasi. Rengganis berusaha mengeyahkan bayangan lelaki kekar yang sedang mencumbu para perempuan itu. Dia seperti ‘menggilir’ mereka. Memberikan pelukan dan ciuman panas.Situasi macam apa ini?!Siapa Narendra dari Pajajaran ini? Siapa para perempuan ini?Apa mereka tadinya hendak mengadakan pesta seks sebelum kedatangannya? Rengganis langsung membanting pintu kamar dan bergelung dalam selimut di atas kasur. Tubuhnya menggigil hebat. Shock yang menyerangnya bertubi-tubi membuat kepalanya pusing. Ia perlu berbaring.“Maaf Nyai harus melihat itu.”Tubuhnya langsung menegang begitu mendengar suara dalam dari lelaki yang berdiri di ambang pintu.Rengganis tergeragap bangun, dia berseru pada Narendra, &ldquo
INHERITED HUSBAND06 – MEMUTAR WAKTU“Nis …. Ganis …. Bangun, Nak. Ayo, katanya kamu mau berangkat lihat rumah Tante Nirmala ….” sayup-sayup Rengganis mendengar suara ibunya bicara.Ha? Lihat rumah? Masih berada di antara mimpi dan bangun, Rengganis mengerutkan keningnya.“Ganis?” panggilan itu terdengar lagi.“Hmmm ….” Rengganis menggeliat dari tidurnya. Dia membuka sebelah matanya dan melihat ibunya berdiri di ambang pintu.Kesadarannya mulai pulih saat ia terduduk, “Hah! Di mana ini?”Ibunya mengerutkan kening melihat tingkah anaknya yang baru bangun tidur, “Di mana apaan? Ya, di rumah, lah! Kamu masih ngigo, ya?!”Rengganis menoleh pada ibunya, ngigau? Rasanya dia sudah bangun sepenuhnya. Matanya nyalang memandang sekeliling.Kenapa dia ada di kamarnya?Bukankah kemarin ia tidur di
INHERITED HUSBAND07 – PERTEMUAN KEDUAKali ini Rengganis pergi ke lokasi rumah warisannya menggunakan sepeda motor.Kalau gue dateng pake motor sendiri, gue bisa segera pergi dari rumah itu. Biar enggak kaya kemarin, tau-tau terjebak di sana sama lelaki aneh itu. Uh, siapa lagi namanya? Kok bisa lupa, sih?! gerutu Rengganis dalam hati.Entah kenapa Rengganis bisa mengingat kejadian tapi lupa nama. Apa karena kebiasaannya yang ingat wajah, lupa nama?Tapi enggak mungkin, lelaki itu punya kesan tersendiri. Enggak mungkin dia lupa namanya. Wajahnya masih terpatri jelas dalam ingatannya.Pokoknya, nyampe sana, gue harus, HARUS tau siapa dia dan kenapa dia ada di rumah Tante Nirmala? Eh, rumah gue. Sekarang itu rumah punya gue!Walau tanda tangannya masih basah di atas kertas yang ditanda tanganinya – dan sekarang berada di tangan Pak Tomi – rumah itu secara legal telah jadi miliknya.
INHERITED HUSBAND08 – PERTEMUAN DI WAKTU YANG SALAH“Saya ingin pertemuan kita menjadi pertemuan yang sempurna.”Deg!Tanpa alasan yang jelas, Rengganis jadi geer. Pipinya bersemu saat pandangannya merunduk, terlalu malu untuk berpandangan dengan lelaki paling tampan yang pernah dia lihat.“Kenapa?” bisiknya.“Bukankah sudah jelas? Pertemuan antara suami dan istri, sudah seharusnya sempurna dan romantis. Itu yang selalu Nirmala tekankan padaku.”“Tunggu…!” Rengganis mendongak memandang lelaki yang tinggi besar itu, “Dari kemarin kamu ngomongin Tante Nirmala terus. Kalau kamu belum move on dari beliau, kenapa bilang kalau kamu adalah suamiku? Lagian ya, Mas… eh, Kang… eh…”“Nama saya Narendra dari Pajajaran, Nyai.” Lelaki itu memandang Rengganis sambil menahan senyumnya.“Ah, ya…. Narendra.
SUAMI WARISAN09 – ORANG KAYA BARUJadi begini rasanya jadi Orang Kaya Baru.Rengganis tersenyum dalam hati saat ia menerima pesan balasan dari Ibu Pemilik Kontrakan.Makasih, Neng Anis, transferannya udah diterima. Silakan masuk lagi ke dalam rumah – Ibu Kontrakan.Biasanya Rengganis memilih untuk masuk ke dalam rumahnya di malam hari, agar tidak ada tetangga yang melihat dan menyapanya. Tapi kali ini berbeda, ia bergegas pergi ke rumahnya dengan mengendarai sepeda motor baru.Saat melaju di dalam gang sempit yang penuh dengan anak-anak yang bermain, Rengganis sedikit kesulitan mengendarai motornya, maklum masih baru, jadi masih kagok. Dia takut menabrak atau menggores motornya yang masih gres.Bocah-bocah yang tidak punya tempat untuk bermain itu berlarian di sepanjang jalan sempit dan padat. Orang berjalan lalu lalang sementara Rengganis berusaha berkonsentrasi untuk berkendara. Ya ampun, hendak masu
SUAMI WARISAN10 – Pertemuan yang SempurnaSenja kala turun perlahan, untaian kidung dari kicauan burung-burung yang terbang rendah dari satu pohon ke pohon lain membelai sukma.Mata Rengganis memandang berkeliling. Secara teknis, ini pertama kalinya ia melangkahkan kaki di rumah ini, tapi sebenarnya dia sudah pernah ke sini.Dua kali malah.Tapi setiap kali suasananya terasa berbeda; yang pertama terasa mencekam, yang kedua terasa membingungkan dan yang sekarang, dia berharap semuanya berjalan lancar kali ini.Rengganis mengalihkan pandang dari suasana di luar teras saat langkah-langkah kaki terdengar mendekat. Punggungnya menegang, ditariknya tulang belakangnya hingga berdiri tegak.Rengganis bersiap-siap akan kedatangan orang itu.“Nyai.”Panggilan itu terdengar akrab di telinganya. Ini hari ketiga pengulangan waktu tanggal 5. Sekali lagi lelaki ini membawanya memutar waktu, ia akan mem
SUAMI WARISAN 11 – Rahasia Sehidup-Semati Sebuah kelebatan di halaman depan teras menarik perhatiannya. Narendra membuka matanya, kedua tangannya masih memegangi wajah Rengganis yang larut dalam ciuman mereka. Dia mengerjap dan bayangan itu menjelma menjadi seseorang. Narendra tersentak. Refleks, dia melepaskan ciumannya. Sebelah tangannya menarik Rengganis mendekat padanya dengan sikap protektif. Perempuan itu kaget saat Narendra menariknya ke dalam pelukan. Tangan Narendra yang besar dan hangat memegangi kepalanya. Walau kebingungan, Rengganis tetap tak bergerak, dia bisa merasakan perubahan atmosfer dalam ruangan, juga sikap dari Narendra. Semua otot-ototnya menegang, lelaki itu berdiri tegak dengan sikap sempurna. “Sampurasun ….” Tubuh Rengganis tersentak, semua bulu romanya menegang, jantungnya bertalu-talu di dada. Suara itu melayang memasuki gendang telinganya dan membuat semua sar
KEKASIH AKHIR PEKAN Sekuel of Suami Warisan by Serafina Di umurnya yang telah menginjak angka 25 tahun, Sasikirana belum pernah pacaran. Dulu dia bersekolah di rumah karena sering berpindah-pindah hingga membuatnya kesulitan untuk bersosialisasi. Namun sekarang, Sasi seorang kurator galeri seni yang andal. Suatu hari, Sasi diminta Direktur Galeri untuk membuat pameran seorang pelukis misterius. Sasi berhasil menemukan alamatnya di pedesaan yang terpencil. Di sana dia bertemu sang pelukis. Tak disangka, di pertemuan pertama mereka, lelaki itu malah menawarinya untuk jadi kekasihnya setiap akhir pekan. Apakah Sasi menerima tawarannya? “Aku tau kamu kesepian, aku juga. Jadi maukah kamu jadi kekasihku setiap akhir pekan?” -SNIPPET KEKASIH AKHIR PEKAN- “Aku tau kamu kesepian, aku juga. Jadi maukah kamu menjadi kekasihku setiap akhir pekan?” Sasi memandang lelaki yang berdiri di ha
SUAMI WARISAN 175 – Sailendra [TAMAT] -EMPAT TAHUN KEMUDIAN- Diri kita bisa pulih sekaligus merasa hancur di waktu yang bersamaan. Pulih adalah perjalanan yang melibatkan penerimaan atas diri selagi kita hancur, berbenah kemudian membangun kembali diri kita. Waktu menjadi satu-satunya obat bagi Rengganis. Menit berganti jam, kemudian hari berubah jadi minggu sampai tak terasa tiga tahun sudah berlalu. Bayi mungil itu kini tumbuh menjadi balita yang menggemaskan. Celotehannya menceriakan ruangan, derap langkah kakinya menggemakan keriuhan yang hanya berjeda ketika dia memejamkan mata. “Gimana kabarnya?” pertanyaan itu tidak pernah alpa ditanyakan Mahesa setiap kali dia menelepon Rengganis. “Baik.” Rengganis tersenyum sambil melirik lelaki kecilnya yang berlarian di sekeliling ruangan “makasih kadonya, ya. Dia seneng banget…” Terdengar tawa Mahesa di seberang telepon, “Ya, begitu liha
SUAMI WARISAN 174 – Lembaran Baru Gemuruh guntur terdengar di kejauhan. Kilatan cahaya memantul di atas kaca jendela. Rengganis buru-buru menutup tirai jendela, udara terasa pengap ketika awan hitam menggumpal di atas langit Jakarta. Bayinya terbangun, matanya yang bulat mengerjap-ngerjap sementara badannya bergerak-gerak gelisah. Rengganis tersenyum kemudian mengangkat bayinya dari boks “Cup, cup, Sayang …. Kaget, ya?” Bayinya tak banyak menangis. Hanya sesekali gelisah dan merengek ketika popoknya basah. Dia begitu tenang, begitu mirip dengan ayahnya. Rengganis menimang-nimang bayinya, matanya lekat memandangi setiap inci wajah bayi lelaki yang paling tampan itu. Semakin dilihat, semakin terlihat jelas kemiripan antara buah hatinya dan Narendra. Hidungnya …. Matanya …. Caranya menatap mengingatkannya pada lelaki itu. Bayi yang baru berusia beberapa bulan itu bagaikan pinang dibelah dua dengan lelaki yan
SUAMI WARISAN173 – Terputus KutukanMak Saadah yang sudah renta masih mampu naik ke gunung untuk mencari kayu bakar. Tubuhnya yang kurus terbakar matahari tidak pernah meninggalkan gunung yang selama ini menjadi sumber penghidupannya.Walaupun anak-anaknya kerap kali mengingatkan untuk berhenti mencari kayu bakar karena di rumah sudah ada kompor gas, namun Mak Saadah tidak menghiraukan omongan anak-anaknya. Ada kesenangan sendiri berada di hutan gunung.Hidup di desa yang berubah sangat cepat membuat Mak Saadah kewalahan. Cucu-cucunya tidak mau diajak ke kebun apalagi ke hutan, mereka lebih senang diam di rumah dengan hapenya, bermain game dan marah-marah jika kuotanya habis.Daripada pusing mendengar cucu dan menantunya bertengkar soal kuota internet yang tak dimengerti olehnya, Mak Saadah memilih pergi ke hutan. Perasaannya mengatakan bahwa di sana ada sesuatu yang sedang menunggunya.“Mau kemana, Mak?” tan
SUAMI WARISAN 172 – Perpisahan & Kebenaran Tak pernah sekalipun terlintas dalam benak Rengganis – begitu pun dengan orang tuanya – bahwa dia akan bercerai secepat ini, padahal pernikahan mereka masih seumur jagung. “Tapi masih mending lu, Kak. Daripada Kim Kardashian yang cuma nikah 72 hari.” Maya berusaha membesarkan hati Rengganis, namun tidak mempan. Rengganis masih mellow. Dulu dia memang berniat untuk menceraikan Mahesa dan memilih Narendra, namun sekarang Narendra tak tentu rimbanya. Dia ingin marah, namun tidak tau diarahkan kemana amarahnya itu. Sejak kepulangannya dari RS, kemudian tinggal kembali di kamarnya, tak sehari pun Rengganis melewatkan sehari tanpa menangis. Papa dan Mama jadi serba salah. Mereka sudah berusaha menghibur Rengganis, namun masih suka mendengar isak lirih anaknya itu di malam hari. Walau pada pagi dan siang harinya Rengganis bisa menutupi kesedihannya, tapi di malam ya
SUAMI WARISAN171 – Binasa-FLASHBACK-Mobil yang dikendarai Narendra seolah tidak punya rem. Lelaki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, terburu-buru seperti dikejar setan.Dia keluar dari rumah sakit, terus masuk ke tol kemudian ngebut menuju hutan. Menurunkan kecepatan jika lalu lintas padat, namun setiap ada kesempatan, Narendra terus menginjak gas.Sang Akang baru berhenti ketika sampai di depan rumah warisan.Lelaki itu masuk ke dalam rumah, menaruh beberapa barang di kamarnya, kemudian kembali melanjutkan perjalanan.Kali ini dia pergi menuju hutan. Masuk ke dalam, terus ke tengah, meleburkan diri di antara rapatnya pepohonan. Tanpa bekal, tanpa persiapan. Hanya baju yang melekat di badan.Ingatannya yang masih segar menjadi modalnya untuk menyusuri jalan setapak yang dahulu mudah dia susuri. Sekarang, setelah kekuatannya menghilang, Narendra hampir kehabisan napas untuk mencapai tujuan.
SUAMI WARISAN170 – Hiduplah, Berbahagialah Beberapa saat yang lalu, di ruang operasi ….Sekelompok orang yang terdiri dari dokter utama, dokter anestesi, asisten dan perawat mengelilingi meja operasi.Tubuh Rengganis tergolek di atasnya. Tak sadarkan diri namun sedang berjuang untuk melahirkan bayinya.Sementara itu di balik kaca jendela, berdesakan dokter-dokter muda yang menonton proses kelahiran. Mereka mengamati setiap tindakan dengan cermat, tak lupa mencatat untuk laporan.Semua orang gugup, juga bersemangat.“Coba perhatikan tekanan darahnya, kelihatannya normal, kaya orang tidur gitu, ya?” bisik seorang calon dokter spesialis, dia menyenggol temannya agar melihat angka yang menunjukkan tekanan darah Rengganis.“Iya, luar biasa. Kekuatan seorang perempuan yang melewati masa kritis kemudian melahirkan dalam keadaan koma. Ini jarang banget di Indonesia!”&ld
SUAMI WARISAN 169 – Kelahiran -Beberapa Bulan Kemudian- “Pa, uangnya masih ada untuk biaya lahiran Rengganis?” tanya Mama dengan suara khawatir. Papa yang baru saja masuk ke kamar dengan handuk terlilit di pinggangnya mengangguk, “Masih banyak. Cukup untuk biaya Rengganis lahiran dan biaya hidup mereka.” Terdengar helaan napas lega dari Mama yang duduk di atas ranjang. Di sekitarnya tersebar tagihan rumah sakit, laptop dan kalkulator. Mama sedang sibuk menghitung biaya rumah sakit Rengganis dan biaya hidup mereka. “Untung saja si Narendra ini ngasih uang ya, Pa. Kalau enggak, aduh… Mama enggak tau apa jadinya nasib Rengganis sama bayinya.” Mama membetulkan letak kacamatanya kemudian menyipit memandang layar monitor laptop “ini gimana sih bikin rumusnya?” Papa membuka pintu lemari untuk mengambil baju. Pikirannya melayang kembali pada peristiwa sepeninggal Narendra. Kondisi Rengganis
SUAMI WARISAN 168 – Satu Menit Saja Sepeninggal Papa, Narendra menunggu dengan jantung berdebar sampai waktu bezuk tiba. Dia duduk di kursi panjang, terpisah dari orang-orang yang juga menunggui anggota keluarga mereka yang dirawat di ICU. Lelaki itu tertunduk memandang kedua tangannya di atas lutut. Matanya terpejam sementara bibirnya komat-komit. Pak Wawan yang penasaran dengan sosok lelaki yang terasa familiar itu tidak bisa lepas memandangi Narendra. Lelaki paruh baya yang mendengar cerita mengenai keributan tempo hari yang melibatkan keluarga Rengganis dan Narendra, tidak habis pikir kenapa lelaki yang bukan suami wanita yang terbaring koma di ICU itu bertahan terus di RS sementara lelaki yang katanya suaminya malah datang dan pergi dengan penampilan perlente. Seakan tenang-tenang saja dengan keadaan istrinya yang sedang koma. “Sepertinya cerita mereka lebih daripada perselingkuhan biasa…” gumam Pak Wawan tanpa sada