Share

Bab 6

last update Last Updated: 2024-12-10 16:45:29

Cakra menarik napas panjang, mencoba menenangkan emosinya. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ibunya. "Ma—"

“Untuk apa mempertahankan pernikahan dengan wanita yang tidak bisa memberikan keturunan?" Suara Ambar terdengar meninggi, matanya menyala penuh emosi. "Kalian lebih baik urus perceraian saja!"

Bola mata Saira mulai berkaca-kaca, namun ia tetap diam.

Sebagai istri sah Ragamas Cakra Wiradana, mengapa ia begitu tak berdaya?

Saat dihina, ia hanya bisa menahan perih. Ketika mertuanya terang-terangan meminta mereka bercerai, ia kembali menelan sakit hati.

Cakra mencoba tetap tenang. Ia menggeleng pelan, suaranya tegas tapi tenang. “Kita sudah punya kesepakatan dengan Kakek Saira,” jawabnya, mengingatkan sang ibu.

Dua tahun lalu, Cakra berjanji pada Prawirya, kakek Saira, untuk menikahi cucunya sebagai bentuk tanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi. Prawirya hanya meminta satu hal: Cakra tidak boleh menceraikan Saira, apa pun yang terjadi.

Ambar mendengus kesal. “Mama akan bicara dengan Pak Tua itu! Cucunya jelas—”

“Mama tahu, keluarga kita tidak pernah melanggar janji,” potong Cakra dengan suara lebih tegas.

Ambar langsung terdiam. Namun, respons itu membuat Saira menoleh pada suaminya yang tetap dengan ekspresi datar.

Saira merasa bingung. Seharusnya ia senang mendengar Cakra tak ingin bercerai, tapi di sisi lain, ia tahu bahwa Cakra melakukan itu hanya untuk memenuhi janjinya.

“Mama sebenarnya juga tidak ingin ada perceraian. Reputasi keluarga Wiradana harus tetap dijaga. Tapi, kalau pernikahan ini tidak membawa keuntungan, buat apa diteruskan?” Ambar bersandar di kursinya, memijat pelipisnya.

"Kalau Kak Cakra nggak bisa cerai karena janji, masih ada cara lain," timpal Sandrina, seolah tak takut dengan teguran yang diberikan Ambar sebelumnya. 

Mata gadis berusia dua puluhan itu menyipit, bibirnya melengkung sedikit. "Kebetulan Kak Indira sudah kembali ke Jogja. Mungkin ini saat yang tepat kalau dia memang jodoh Kakak?"

Cakra hanya menghela napas panjang, tak berminat melanjutkan pembicaraan. Padahal Saira tahu, yang membuat Cakra terganggu hari ini adalah mantan kekasihnya itu. "Indira tidak ada hubungannya dengan ini."

"Tapi Kak," Sandrina terus mendesak, "kalau Mbak Saira nggak bisa punya anak, kenapa nggak menikah lagi dengan Kak Indira? Dia wanita baik, pasti bisa memberikan Kakak keturunan!"

Sandrina menatap Saira, penuh tantangan. "Mbak Saira, bagaimana kalau Kak Cakra menikah lagi dengan Kak Indira?"

Pertanyaan itu membuat darah Saira mendidih. Betapa lancangnya gadis itu merendahkan dirinya.

"Jawab, Mbak! Jangan cuma diam saja!" desak Sandrina.

Ruangan menjadi hening. Semua mata tertuju pada Saira.

Perlahan, Saira mengangkat kepala, meletakkan alat makannya, lalu menatap Sandrina dengan sorot mata tajam. Ia tersenyum tipis sejenak.

"Sandrina, kamu ini mahasiswa, tapi cara berpikirmu dangkal sekali, dan pertanyaanmu tadi benar-benar nggak sopan!" kata Saira dengan nada tegas, matanya tajam menatap adik iparnya.

Rahang Sandrina hampir jatuh mendengar keberanian Saira. Ambar, yang sejak tadi diam, melirik menantunya dengan pandangan tak percaya. Mereka tidak menyangka Saira yang biasanya pendiam, kali ini berani berbicara.

"Pertanyaanmu tadi nggak hanya merendahkan aku, tapi juga semua perempuan yang mungkin sedang menghadapi situasi serupa. Belum bisa punya anak bukan berarti hina dan bukan alasan agar suami menikah lagi!" tambah Saira.

Sandrina tersenyum sinis. “Tapi kenyataannya begitu, kan, Mbak? Setelah menikah, tugas seorang wanita itu jelas—melahirkan anak. Kalau kamu belum juga bisa, apa salah kalau keluarga kami mempertimbangkan Kak Cakra menikah lagi?”

“Kalau begitu, kamu juga siap jawab kalau keluarga suamimu meminta hal yang sama?”

Bibir Sandrina membulat. “Kamu—”

“Apa kamu nggak berpikir, kamu juga perempuan? Nggak menutup kemungkinan kamu akan mengalami hal yang sama suatu saat nanti, kan?”

“Saira!” tegur Cakra, memperingatkan istrinya. Ia melemparkan tatapan tajam pada Saira, mencoba mencegah masalah ini semakin besar.

Sayangnya, Saira yang dulu gentar dengan tatapan itu, kini membalasnya dengan sorot mata yang sama.

“Kenapa? Kamu juga keberatan istrimu yang mandul ini membela diri?” cemoohnya penuh emosi. Namun, Cakra tidak sempat menjawab.

Ambar, yang tidak mau kalah, langsung menyela, "Kamu sendiri sudah mengakuinya, apa salahnya membiarkan Cakra mencari kesempatan dengan orang lain? Lagipula hubungan Cakra dan Indira sudah ada jauh sebelum dia bertemu kamu."

"Baik," jawab Saira sambil menatap Ambar, "kalau memang keluarga ini merasa dia lebih pantas jadi istri Cakra, aku nggak akan menghalangi dia menikah lagi. Tapi biarkan Cakra yang memutuskan dan menjelaskan pada Kakekku!"

Kata-kata Saira menggema di ruangan itu. Semua terdiam. Saira berdiri perlahan, menatap semua orang dengan sorot tajam sebelum melangkah keluar tanpa berkata apa-apa lagi.

Setelah Saira pergi, Ambar dan Sandrina mendengus kesal.

“Kamu lihat itu, Cakra? Istrimu sudah berani bersikap tidak sopan! Bahkan berani sama Mama!” Ambar berkata marah.

Sandrina melipat tangannya dan mendengkus, “Dasar ipar nggak tahu diri!”

“Sandrina, cukup!” potong Cakra dengan tegas.

“Tapi dia keterlaluan, Kak—”

“Dia nggak akan begitu kalau kamu nggak sopan!”

Teguran Cakra membuat Sandrina menutup mulutnya. Gadis itu mengamati wajah kakaknya. Sepertinya ada yang berubah. Cakra tidak suka jika Saira direndahkan.

Cakra berdiri dan berkata sebelum pergi, “Aku ke atas dulu, kalau Mama dan Sandrina masih ingin melanjutkan makan malamnya, silakan.”

Makan malam itu berakhir buruk. Ambar dan Sandrina pulang dengan kecewa karena tak mendapat hasil yang diinginkan.

Ambar mungkin masih berharap masalah ini bisa dibicarakan lagi, namun tidak dengan Sandrina. Ia masih kesal karena Cakra sempat menegurnya.

Sepanjang perjalanan pulang, dadanya bergejolak menahan amarah. Ia tidak akan diam saja setelah ini.

“Aku akan cari cara supaya Kakak bisa dekat lagi dengan Kak Indira!”

Related chapters

  • Suami Dinginku Menyesal Setelah Berpisah   Bab 7

    Setelah makan malam yang penuh ketegangan, Saira memilih menghindari semua orang dan mengunci diri di kamar. Ia duduk di pinggir ranjang, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah juga. Keinginannya dalam hidup sederhana saja—hanya ingin dicintai. Namun, entah kesalahan apa yang telah ia perbuat di masa lalu, sehingga takdir membawanya masuk ke keluarga Wiradana ini.Keluarga terpandang itu tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai bagian dari mereka. Setiap kata yang diucapkan Ambar dan Sandrina selalu melukai hatinya. Dan, yang paling menyakitkan adalah sikap Cakra, yang tetap dingin, bahkan tak pernah sekalipun membelanya. Bahkan ketika adiknya bertindak di luar batas seperti malam ini, Cakra—suaminya, yang seharusnya melindungi dan menjaga nama baiknya—tetap diam tanpa melakukan apa-apa.Saira tahu, sejak awal dia bukanlah istri yang diinginkan Cakra. Namun, setelah dua tahun pernikahan, apakah hati Cakra benar-benar tidak sedikit pun tergerak untuknya? Apakah tid

    Last Updated : 2024-12-10
  • Suami Dinginku Menyesal Setelah Berpisah   Bab 8

    Saat matahari mulai merayap naik, Saira sudah rapi dengan kemeja putih beraksen brokat dan celana panjang senada. Meski berusaha tampil sempurna, nyatanya sapuan bedak tebal tak mampu menutupi bekas tangis semalam yang tetap kentara di wajahnya.Di dapur, denting panci dan piring menjadi latar suasana pagi itu. Saira membantu Bi Surti menyusun sarapan, berusaha mengalihkan pikirannya dari kekosongan hatinya. Namun, ketenangan itu pecah oleh bunyi bel rumah yang nyaring, berkali-kali.“Siapa yang datang sepagi ini?” gumam Saira, alisnya berkerut tipis. Namun, sebelum sempat melangkah, Bi Surti sudah lebih sigap. “Biar saya saja, Bu,” ujarnya sambil bergegas ke pintu.Saira kembali ke pekerjaannya, rasa penasaran mulai mengusik. Samar-samar, ia mendengar percakapan singkat di depan pintu sebelum Bi Surti kembali dengan sebuah kantong kain merah muda di tangannya.“Siapa yang datang, Bi? Apa itu?” tanya Saira, pandangannya tertuju pada benda tersebut. “Mbak Indira, Bu. Mengantar beka

    Last Updated : 2025-01-06
  • Suami Dinginku Menyesal Setelah Berpisah   Bab 9

    Kini, masalah bekal sudah selesai, tak ada lagi hal yang hanya membuat kepalanya pening.Saira menarik napas panjang, mencoba meredakan gemuruh di dadanya.Setelah merasa cukup tenang, ia mengambil tas dan melangkah keluar rumah.Hari ini, ia harus menjemput kakeknya, Prawirya, untuk menepati janjinya semalam.Semoga saja, ini menjadi alasan yang sempurna untuk sejenak melarikan diri dari kerumitan yang memenuhi pikirannya***Rumah kembali lengang setelah kepergian Saira. Satu jam berlalu, dan suasana mulai berubah saat Cakra memulai aktivitasnya.Setelan jas hitam mahal melekat sempurna pada tubuh tegapn

    Last Updated : 2025-01-06
  • Suami Dinginku Menyesal Setelah Berpisah   Bab 10

    Di waktu yang sama, Saira menepati janjinya mengantar sang kakek tercinta ke rumah sakit. Ruang tunggu itu terasa dingin. Beberapa kali Saira mengusap lengannya, mencoba mengusir hawa beku yang membekap kulitnya.Ia duduk di samping kursi roda sang kakek, tapi pandangannya kosong. Mata cokelat itu menatap dinding kaca beberapa meter di depannya, namun pikirannya melayang entah ke mana.“Saira.” Suara Prawirya yang berat nan lembut mengoyak lamunan, diikuti dengan sentuhan hangat di bahu.Saira tersentak kecil. “Kakek?” Refleks ia menoleh, cepat, seperti ketakutan tertangkap basah. “Ada apa?”Pria tua itu tidak langsung menjawab. Tatapan matanya lembut tapi tajam, seakan mampu menembus lapisan pura-pura ceria yang dipasang cucunya. &ldq

    Last Updated : 2025-01-07
  • Suami Dinginku Menyesal Setelah Berpisah   Bab 11

    Saira melirik layar ponsel di tangan suaminya. Terpampang foto sebuah kotak bekal yang tergeletak di jalan depan rumah mereka—kotak makan milik Indira, wanita yang pagi tadi dengan percaya diri mengantarkan makanan untuk Cakra.Saira sudah menduga, Indira pasti mengadu."Tadi pagi Indira ke sini antar bekal. Tapi kenapa kamu nggak kasih ke aku dan malah kamu buang?" Suara Cakra menggelegar, memenuhi ruangan. Matanya menyala seperti kobaran api.Alih-alih gentar, Saira tersenyum miring. Ada kepahitan di balik tatapannya. "Kesal karena bekal dari wanita kesayanganmu dibuang begitu saja?""Jawab pertanyaanku!" bentak Cakra lagi.Saira menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan emosi. Ia bersedekap, menatap Cakra tajam. "Ak

    Last Updated : 2025-01-08
  • Suami Dinginku Menyesal Setelah Berpisah   Bab 1

    “Dua tahun menikah, belum bisa hamil juga?” Ambar Wiradana menggeram saat melihat satu garis tunggal pada alat uji kehamilan di tangannya. Sesaat kemudian, benda pipih berwarna putih biru itu dilempar ke meja, memantul sekali sebelum jatuh dengan bunyi ringan.Saira menelan ludah, menundukkan kepala seperti anak kecil yang tertangkap basah. “Jawab!”“Mungkin belum waktunya, Ma,” jawabnya lirih, nyaris tak terdengar.“Lalu kapan? Sampai kapan aku harus menunggu?” Saira mendongak sedikit, berusaha menata suaranya agar tetap tenang. “Saira dan Cakra sudah berusaha yang terbaik.”“Kalau memang sudah berusaha, setidaknya sudah membuahkan hasil!”Suara Ambar kembali menggema di ruangan. Tatapan wanita paruh baya itu penuh amarah, membuat nyali Saira ciut. Hasil pemeriksaan kesehatan Saira menunjukkan dirinya sehat dan subur, tapi bagaimana mungkin ada kehidupan tumbuh di rahimnya jika sang suami bahkan tak pernah menyentuhnya?Saira ingin sekali berteriak, ingin membuka semua kenyataan pa

    Last Updated : 2024-12-10
  • Suami Dinginku Menyesal Setelah Berpisah   Bab 2

    Malam itu, setelah perdebatan kecil dengan suaminya, Saira tidak lagi melihat Cakra. Pria itu pergi begitu saja, tanpa memedulikan perasaannya.Pagi tiba, namun Cakra belum juga menampakkan dirinya. Bi Surti, yang sedang membantu di dapur, memberi tahu Saira bahwa suaminya baru pulang menjelang subuh.“Subuh?” Saira mengulang dengan nada terkejut. Bi Surti mengangguk cepat.“Kata sopir, Pak Cakra semalam ke bandara, nyetir sendiri, Bu,” ujar Bi Surti pelan.Tangan Saira yang sedang menata piring terhenti. Ia tahu betul karakter suaminya. Cakra tidak akan repot-repot pergi ke bandara jika bukan untuk seseorang yang sangat penting baginya. Bahkan, perhatian seperti itu tak pernah diberikan kepada dirinya.Lalu, siapa yang dijemput Cakra semalam? Pikiran itu membuat hatinya resah.“Mungkin Sandrina? Kan dia libur semester bulan ini?” gumam Saira, mencoba berpikir logis. Sandrina adalah adik perempuan Cakra, yang kuliah di Bali dan hanya pulang ke Jogja sesekali.Namun, Bi Surti menggeleng

    Last Updated : 2024-12-10
  • Suami Dinginku Menyesal Setelah Berpisah   Bab 3

    “Hai, Sophia cantik!” Cakra menyapa gadis kecil itu dengan senyuman lebar. Ia mengulurkan tangan untuk membalas pelukan Sophia dan menggendongnya.“Bagaimana tidur tadi malam? Kasur di sini nyaman seperti di rumahmu, kan?” tanyanya.Anak kecil berkuncir dua itu mengangguk antusias. “Sophia mimpi indah, Papa!” jawabnya ceria.Kepala Saira mendadak pening. Panggilan Sophia kepada Cakra itu membuat darahnya seolah berhenti mengalir. Ia menyaksikan sendiri bagaimana lembutnya sikap suaminya kepada gadis kecil itu.Indira, wanita yang berdiri di dekat mereka, tetap terlihat tenang tanpa menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun.“Sophia, turun, sayang,” pinta Indira lembut.Namun, Cakra mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Indira membiarkan Sophia tetap di gendongannya. “Biarkan saja,” ujarnya sambil tersenyum kepada Sophia. Tapi, ketika matanya beralih ke arah Saira, sorotnya berubah dingin. “Kenapa kamu tidak mempersilakan mereka masuk dan malah membuat keributan?”“Cakra, ini cuma

    Last Updated : 2024-12-10

Latest chapter

  • Suami Dinginku Menyesal Setelah Berpisah   Bab 11

    Saira melirik layar ponsel di tangan suaminya. Terpampang foto sebuah kotak bekal yang tergeletak di jalan depan rumah mereka—kotak makan milik Indira, wanita yang pagi tadi dengan percaya diri mengantarkan makanan untuk Cakra.Saira sudah menduga, Indira pasti mengadu."Tadi pagi Indira ke sini antar bekal. Tapi kenapa kamu nggak kasih ke aku dan malah kamu buang?" Suara Cakra menggelegar, memenuhi ruangan. Matanya menyala seperti kobaran api.Alih-alih gentar, Saira tersenyum miring. Ada kepahitan di balik tatapannya. "Kesal karena bekal dari wanita kesayanganmu dibuang begitu saja?""Jawab pertanyaanku!" bentak Cakra lagi.Saira menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan emosi. Ia bersedekap, menatap Cakra tajam. "Ak

  • Suami Dinginku Menyesal Setelah Berpisah   Bab 10

    Di waktu yang sama, Saira menepati janjinya mengantar sang kakek tercinta ke rumah sakit. Ruang tunggu itu terasa dingin. Beberapa kali Saira mengusap lengannya, mencoba mengusir hawa beku yang membekap kulitnya.Ia duduk di samping kursi roda sang kakek, tapi pandangannya kosong. Mata cokelat itu menatap dinding kaca beberapa meter di depannya, namun pikirannya melayang entah ke mana.“Saira.” Suara Prawirya yang berat nan lembut mengoyak lamunan, diikuti dengan sentuhan hangat di bahu.Saira tersentak kecil. “Kakek?” Refleks ia menoleh, cepat, seperti ketakutan tertangkap basah. “Ada apa?”Pria tua itu tidak langsung menjawab. Tatapan matanya lembut tapi tajam, seakan mampu menembus lapisan pura-pura ceria yang dipasang cucunya. &ldq

  • Suami Dinginku Menyesal Setelah Berpisah   Bab 9

    Kini, masalah bekal sudah selesai, tak ada lagi hal yang hanya membuat kepalanya pening.Saira menarik napas panjang, mencoba meredakan gemuruh di dadanya.Setelah merasa cukup tenang, ia mengambil tas dan melangkah keluar rumah.Hari ini, ia harus menjemput kakeknya, Prawirya, untuk menepati janjinya semalam.Semoga saja, ini menjadi alasan yang sempurna untuk sejenak melarikan diri dari kerumitan yang memenuhi pikirannya***Rumah kembali lengang setelah kepergian Saira. Satu jam berlalu, dan suasana mulai berubah saat Cakra memulai aktivitasnya.Setelan jas hitam mahal melekat sempurna pada tubuh tegapn

  • Suami Dinginku Menyesal Setelah Berpisah   Bab 8

    Saat matahari mulai merayap naik, Saira sudah rapi dengan kemeja putih beraksen brokat dan celana panjang senada. Meski berusaha tampil sempurna, nyatanya sapuan bedak tebal tak mampu menutupi bekas tangis semalam yang tetap kentara di wajahnya.Di dapur, denting panci dan piring menjadi latar suasana pagi itu. Saira membantu Bi Surti menyusun sarapan, berusaha mengalihkan pikirannya dari kekosongan hatinya. Namun, ketenangan itu pecah oleh bunyi bel rumah yang nyaring, berkali-kali.“Siapa yang datang sepagi ini?” gumam Saira, alisnya berkerut tipis. Namun, sebelum sempat melangkah, Bi Surti sudah lebih sigap. “Biar saya saja, Bu,” ujarnya sambil bergegas ke pintu.Saira kembali ke pekerjaannya, rasa penasaran mulai mengusik. Samar-samar, ia mendengar percakapan singkat di depan pintu sebelum Bi Surti kembali dengan sebuah kantong kain merah muda di tangannya.“Siapa yang datang, Bi? Apa itu?” tanya Saira, pandangannya tertuju pada benda tersebut. “Mbak Indira, Bu. Mengantar beka

  • Suami Dinginku Menyesal Setelah Berpisah   Bab 7

    Setelah makan malam yang penuh ketegangan, Saira memilih menghindari semua orang dan mengunci diri di kamar. Ia duduk di pinggir ranjang, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah juga. Keinginannya dalam hidup sederhana saja—hanya ingin dicintai. Namun, entah kesalahan apa yang telah ia perbuat di masa lalu, sehingga takdir membawanya masuk ke keluarga Wiradana ini.Keluarga terpandang itu tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai bagian dari mereka. Setiap kata yang diucapkan Ambar dan Sandrina selalu melukai hatinya. Dan, yang paling menyakitkan adalah sikap Cakra, yang tetap dingin, bahkan tak pernah sekalipun membelanya. Bahkan ketika adiknya bertindak di luar batas seperti malam ini, Cakra—suaminya, yang seharusnya melindungi dan menjaga nama baiknya—tetap diam tanpa melakukan apa-apa.Saira tahu, sejak awal dia bukanlah istri yang diinginkan Cakra. Namun, setelah dua tahun pernikahan, apakah hati Cakra benar-benar tidak sedikit pun tergerak untuknya? Apakah tid

  • Suami Dinginku Menyesal Setelah Berpisah   Bab 6

    Cakra menarik napas panjang, mencoba menenangkan emosinya. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ibunya. "Ma—"“Untuk apa mempertahankan pernikahan dengan wanita yang tidak bisa memberikan keturunan?" Suara Ambar terdengar meninggi, matanya menyala penuh emosi. "Kalian lebih baik urus perceraian saja!"Bola mata Saira mulai berkaca-kaca, namun ia tetap diam.Sebagai istri sah Ragamas Cakra Wiradana, mengapa ia begitu tak berdaya?Saat dihina, ia hanya bisa menahan perih. Ketika mertuanya terang-terangan meminta mereka bercerai, ia kembali menelan sakit hati.Cakra mencoba tetap tenang. Ia menggeleng pelan, suaranya tegas tapi tenang. “Kita sudah punya kesepakatan dengan Kakek Saira,” jawabnya, mengingatkan sang ibu.Dua tahun lalu, Cakra berjanji pada Prawirya, kakek Saira, untuk menikahi cucunya sebagai bentuk tanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi. Prawirya hanya meminta satu hal: Cakra tidak boleh menceraikan Saira, apa pun yang terjadi.Ambar mendengus kesal. “Mama akan bicar

  • Suami Dinginku Menyesal Setelah Berpisah   Bab 5

    “Cakra ….”Saira meremas ujung rok yang ia gunakan berusaha keras menemukan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan sang Mama. Namun, sebelum ia sempat melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba suara maskulin yang familiar mengambil alih perhatian.Aliran hangat menyusuri nadi Saira, sedikit lega sebab akhirnya pria itu pulang tepat waktu. Setidaknya, Saira tidak perlu merangkai alasan untuk menutupi kepergiannya malam ini.“Aku di sini!” seru Cakra sambil melangkah masuk, membuat semua orang secara serempak menoleh ke arahnya. Pria itu tampak menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. “Maaf, tadi ada urusan mendadak di kantor.”“Apa ada masalah?” Ambar segera melayangkan kekhawatirannya pada sang putra, tetapi Cakra hanya menanggapinya dengan gelengan kepala. Dengan santai Cakra mengambil kursi di sebelah Saira dan mendaratkan tubuhnya di sana. “Enggak, Ma. Cuma ada berkas yang harus aku tanda tangani.” “Serius? Kalau ada apa-apa, bilang ke Mama. Nanti Mama bantu,” desak Ambar tak m

  • Suami Dinginku Menyesal Setelah Berpisah   Bab 4

    Seharian penuh, di sela-sela pekerjaannya, Saira terus memikirkan berbagai kemungkinan jawaban atas semua pertanyaan yang mengusik benaknya. Namun, hingga petang tiba, semuanya tetap menggantung tanpa jawaban.Saat tiba di rumah, mobil Cakra sudah terparkir rapi di garasi. Ini bukan kebiasaan pria itu; biasanya ia bisa pulang lebih larut.“Nanti Mama dan Sandrina makan malam di sini.”Suara bariton Cakra menyambutnya begitu ia melangkah ke ruang tengah. Pria itu tampak sibuk menggulung lengan kemejanya, gerakannya tergesa-gesa.“Kenapa nggak bilang dari tadi siang?” tanya Saira, menatapnya tajam. “Kalau kamu kasih tahu lebih awal, aku bisa pulang cepat dan menyiapkan semuanya.”“Nggak sempat,” jawab Cakra singkat tanpa menoleh. “Kalau nggak ada waktu masak, beli aja di luar.”Saira menahan napas, kecewa. Kalau nanti Mama mertua melihat rumah belum sepenuhnya rapi atau tahu makanannya beli dari luar, siapa yang akan disalahkan? Tentu saja dirinya.Saira si menantu tak becus, tak pandai

  • Suami Dinginku Menyesal Setelah Berpisah   Bab 3

    “Hai, Sophia cantik!” Cakra menyapa gadis kecil itu dengan senyuman lebar. Ia mengulurkan tangan untuk membalas pelukan Sophia dan menggendongnya.“Bagaimana tidur tadi malam? Kasur di sini nyaman seperti di rumahmu, kan?” tanyanya.Anak kecil berkuncir dua itu mengangguk antusias. “Sophia mimpi indah, Papa!” jawabnya ceria.Kepala Saira mendadak pening. Panggilan Sophia kepada Cakra itu membuat darahnya seolah berhenti mengalir. Ia menyaksikan sendiri bagaimana lembutnya sikap suaminya kepada gadis kecil itu.Indira, wanita yang berdiri di dekat mereka, tetap terlihat tenang tanpa menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun.“Sophia, turun, sayang,” pinta Indira lembut.Namun, Cakra mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Indira membiarkan Sophia tetap di gendongannya. “Biarkan saja,” ujarnya sambil tersenyum kepada Sophia. Tapi, ketika matanya beralih ke arah Saira, sorotnya berubah dingin. “Kenapa kamu tidak mempersilakan mereka masuk dan malah membuat keributan?”“Cakra, ini cuma

DMCA.com Protection Status