Share

Bos Rangga!

Author: Pinter Man
last update Last Updated: 2024-03-07 01:34:10

“Mana mungkin nyaingin Roy, mereka nikah juga pasti karen Nisa sakit hati enggak jadi nikah sama Roy, makannya desak mau nikah sama siapa aja yang datang,” cela Buk Sari, mama Bang Roy.

Suara gemerincing gelang yang hampir memenuhi kedua tangan itu tak kalah berisik dari mulutnya. Setiap berbicara ia pasti mengguncang tangannya agar gelang-gelang itu terus berdenting. Entah apa maksudnya, mungkin agar terlihat lawan bicaranya, padahal tanpa melakukan itu semua orang juga tahu keluarganya terpandang di desa kami.

Aku berusaha tak menggubris ucapannya, asyik memilah sayur di gerobak Mang Jaka, penjual sayur yang selalu setia berkeliling di depan rumah setiap pagi.

“Eh, Neng Nisa, denger-denger udah nikah yak, kok enggak ngundang sih?” goda Mang Jaka, aku hanya tersenyum ramah menanggapinya.

“Gimana mau ngundang sih Mang, dia aja enggak ngadain pesta. Malu lah, takut kali nanti nikahnya gagal lagi, atau mungkin calonnya enggak punya duit makannya cuma akad aja. Aku denger juga maharnya cuma seratus ribu. Ya ampun, hari gini anak gadis dihargain seratus ribu, dapat apa?”

Aku menatap wanita yang baru tiba dan menyahut ucapan Mang Jaka tersebut, Bik Sri menghampiri besannya, keduanya menatapku tak suka. Entah kerasukan setan apa tiba-tiba wanita itu berubah total, padahal kemarin dia masih datang dengan penuh penyesalan ke rumah, masih memohon maaf kepadaku dan ibu.

“Mbak Nisa, udah belum belanjanya?”

Aku beralih menatap Danu yang berjalan menghampiriku sambil mendorong sepeda butut warisan dari bapak.

“Tuh lihat, masak iya sama istrinya manggil mbak.”

Gelak tawa ibu-ibu yang berkumpul dengan Bik Sri dan Bu Sari terdengar menghina, membuatku semakin kesal.

Kutarik cepat tangan Danu menjauh. “Jangan panggil aku Mbak, lihat itu diketawain orang,” omelku, membuat Danu menggaruk kepalanya.

“Terus aku manggil apa Mbak?” tanyanya masih tak mengerti.

“Panggil aku Dek, atau apalah terserah kamu aja,” ketusku.

Kutinggalkan Danu yang terus mengekor di belakang. Padahal, semalam kita sudah sepakat jika di depan orang harus berperilaku layaknya suami istri meski semalam ia tak menyentuhku karena dia memilih tidur di bawah sementara aku di atas dipan.

“Ya wes Dek Nisa, jangan ngambek ini masih pagi,” godanya.

Aku tak menghiraukan Danu dan terus berjalan tanpa sedikitpun menoleh membiarkan dia terus memanggilku.

“Eh, manten anyar, kok jalan enggak gandengan, kayak musuh aja.” Bik Dewi yang baru saja keluar dari rumah menyapa.

“Kalau gandengan terus, nanti luntur cintanya,” jawabku asal. Tak ingin meladeni Bik Dewi gegas aku masuk rumah.

“Danu, kenapa itu istrimu? Pagi-pagi udah sewot,” tanya Bik Dewi yang masih kudengar.

Danu menggedikkan bahu sepertianya ia pun enggan meladeni Bik Dewi. Secepatnya ia menyusul masuk ke rumah.

“Loh ndak jadi pergi?” tanya bapak melihat Danu dibelakangku.

Ditaruhnya teh yang baru ia seruput, menatapku dan Danu bergantian.

“Ini… em… anu Pak Mbak Nisa, maksudnya Dek Nisa kan baru belanja tadi mau ganti baju dulu,” jawab Danu.

Aku mengernyitkan dahi. Tadi ia tak mengatakan apapun, pikirku bingung.

Kutaruh sayur di dapur lalu menghampiri Danu. "Mau kemana Mas?” tanyaku.

Sedikit kikuk ketika mendengar sebutanku kepadanya, padahal semalam sudah kukatakan mulai malam itu, aku akan memanggil Mas Danu sepantasnya seorang istri.

“Anu loh Dek, tadinya mau ngajak kamu ke pasar, beli baju.” Kembali pemuda itu menggaruk kepalanya, gerakan yang tak pernah terlewat ketika ia gugup.

“Ya udah tunggu sebentar.” Aku segera bersiap.

Meski sebenarnya malas untuk pergi keluar, tetapi demi melihat senyum di wajah bapak dan ibu semua pasti akan kulakukan.

Tak lama kemudian aku kembali keluar, Danu masih berbincang dengan bapak, ibu baru saja keluar dengan cemilan.

“Dua minggu lagi jadi rencana kita buat ngadain resepsi buat Nisa sama Danu, Pak?” tanya ibu.

Bapak mengangguk lemah, padahal aku sudah bilang untuk tidak perlu mengadakan resepsi, tetapi bapak ingin sekali saja melihatku mengenakan gaun pengantin.

“Bapak udah siapin semuanya, untungnya dekorasi yang kita sewa mau kita tunda Buk, jadi enggak kehilangan uang, kan sayang kalau enggak dipakai kita tetep bayar,” ungkap bapak.

Aku sampai lupa jika kemarin sudah memberikan DP kepada wedding organizer saat akan menikah dengan Bang Roy. Beruntungnya mereka memberikan toleransi setelah bapak menceritakan semuanya.

“Ya udah, pamit dulu Pak.” Danu berpamitan, bergantian menyalami ibu dan bapak begitu juga denganku.

Kami pergi ke pasar besar yang ada di ujung desa dekat kota menggunakan motor butut milik bapak. Sebenarnya ada satu motor baru milik bapak yang kubelikan saat aku masih bekerja, tetapi Danu memilih menggunakan motor butut. Dia bilang, itu motor bapak pemberian putrinya, bapak aja enggan untuk menggunakan. Nanti, kalau ada rezeki dia yang akan membelikan untukku.

Alasan kecil itu sebenarnya mampu menggetarkan hatiku, entahlah mulai ada perasaan aneh yang menggelitik.

Baru saja turun dari motor Bik Ratna yang memiliki kios sembako terbesar di desa menghampiri.

“Eh Nisa, bilangin sama ibukmu ya, hutangnya kapan mau bayar? Janjinya kalau kamu udah nikah, tapi kan kamu enggak jadi nikah sama anaknya juragan Reno,” ucapnya sedikit berteriak tanpa melihat tempat membuat orang memandangku.

“Iya Bik nanti aku bilang ke Ibu, emangnya berapa hutang Ibu?” tanyaku.

Aku memang tak tahu jika ibu memiliki hutang kepada Bik Ratna. Apa kurang uang yang kukirim kepada ibu setiap aku gajian dulu, sehingga ibu memiliki hutang? Karena setahuku saat aku berhenti bekerja dan dirumah tak pernah ia pergi ke kios Bik Ratna, selalu menyuruhku ketika hendak membeli sesuatu.

“Sebenernya sih ibumu enggak ngebolehin kamu tahu, tapi bagaimana nanti enggak dibayar-bayar,” cetusnya lagi, tangan melipat di dada dengan bibir mencebik.

“Emangnya berapa Buk hutang mertua saya?” tanya Danu yang sudah berdiri di sampingku setelah memarkir motor.

“Oh ini mantunya.” Bik Ratna menatap Danu dari atas hingga bawah, tatapan meremehkan membuatku tak suka. Bagaimanapun sekarang dia suamiku, rasa sakit menusuk hati ketika ada yang merendahkan.

“Dari tadi kami tanya loh Bik, berapa hutang Ibu ibuk.” Aku sudah mulai kesal.

“Emangnya kamu udah punya uang? Nikah juga seadanya. Makanya, kalau punya uang, jangan resepsi, tapi bayar hutang ibukmu, totalnya 4 juta!” jawabnya dengan nada menghina.

Hanya empat juta, pikirku. Untung aku masih memiliki simpanan.

“Nanti sore aku anter ya, Bik. Sekarang aku belanja dulu.” Aku menarik tangan Danu meninggalkan Bik Ratna yang masih terus mengumpat.

“Dasar sombong, awas ya, kalau nanti enggak kamu anter uangnya!” seru Bik Ratna membuatku benar-benar malu.

Kenapa Harus menagih di tempat umum? Sedang beberapa hari lalu aku datang ke kiosnya dan dia tak memberitahu pasal hutang ibu.

Aku menghela nafas berat, berhenti sejenak. “Kita pulang aja yuk, Mas?” Aku memutar badan setelah beberapa saat tak ada jawaban.

Kemana perginya Mas Danu? Lelaki itu semakin membuatku pusing. Tak berselang lama kulihat Mas Danu sedikit berlari menghampiriku.

“Dari mana sih?” tanyaku kesal.

“Tadi lupa ngambil kunci motor, nanti diambil orang,” jawabnya dengan nafas ngos-ngosan.

Aku menggeleng lemah. “Nggak diambil juga gak papa, lagian mana ada yang mau sama motor butut.”

“Hari apes enggak ada di kalender, butut juga masih bisa kita pakai Dek,” jawabnya lembut.

“Ya udah ayuk,” aku berjalan di samping Mas Danu.

“Kamu mau beli apa? Beli apapun yang kamu mau,” ujarnya membuatku menatapnya.

Bukan aku ingin meremehkannya, tapi apa dia memiliki uang? Pasalnya, ia hanya bekerja dengan bapak, sedang bapak memberinya uang ketika panen dan aku tahu hasilnya pun tak begitu banyak.

“Enggak usah natap aku kayak gitu, nanti aku gerogi,” cetusnya tanpa melihatku.

“Ge-er banget.” Kutahan senyum dan berjalan lebih dulu.

Kami berjalan mengelilingi pasar, mencari apa yang kubutuhkan. Benar saja, semua yang aku mau dia yang membayar, padahal aku sudah membawa uang sendiri. Setelah membeli beberapa potong baju untukku dan dirinya, tak lupa ia membelikan juga untuk bapak dan ibu.

“Kita makan dulu Dek,” ajaknya.

Aku hanya menurut. Kami berjalan menuju sebuah warung sate yang tidak terlalu jauh.

Namun, baru saja hendak masuk ke dalam warung teriakan seseorang menghentikan langkahku dan Mas Danu.

“Itu bos Rangga!” seru salah seorang sembari menunjuk ke arah Mas Danu.

Melihat dua orang berpakaian hitam lengkap dengan kacamata dan sepatu yang mengkilap, Mas Danu terlihat begitu panik, tanpa aba-aba ia menarik tanganku.

“Lari!” serunya sembari terus menggandeng tanganku.

Tergagap aku mengikuti langkahnya yang begitu cepat, bahkan aku tak sempat bertanya siapa mereka.

'Bos Rangga? Siapa maksudnya?'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Siapa Sebenarnya Dia?

    “Siapa mereka?” tanyaku setelah kami berhasil bersembunyi di kebun pisang.Alih-alih menjawab, Danu membekap mulutku agar aku tak mengeluarkan suara, rupanya dua orang itu masih berada di sekitar persembunyian kami.Mas Danu melihat sekeliling setelah beberapa saat. Pikiranku mulai tak tenang, melayang entah kemana. Apa dia musuhnya, apa dia pencuri? Apalagi... setelah Mas Danu membelikanku banyak hal di pasar tadi, jangan-jangan uangnya bukan punya dia!? Ah, jiwa penasaranku sudah memberontak tak karuan meminta jawaban, ingin aku pertanyakan banyak hal kepadanya.“Udah aman,” ujarnya sambil menarik perlahan tanganku agar mengikutinya.“Siapa mereka, Mas? Kenapa kita lari?” tanyaku, dadaku masih berdegup kencang, nafas tersengal tak beraturan.“Bukan siapa-siapa, kamu enggak usah khawatir,” jawab Mas Danu enteng, ia terus berjalan pelan menggandeng tanganku sembari melihat kanan dan kiri.Memintaku untuk tidak khawatir, tetapi jelas ia sendiri merasa khawatir jika ditemukan oleh merek

    Last Updated : 2024-03-07
  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Hinaan

    “Mas,” kupanggil Mas Danu yang masih asyik mencangkul di tengah sawah. Berulang kupanggil sepertinya lelaki itu tak mendengar. Hati-hati berjalan di pinggiran sawah menghampiri Mas Danu, kutepuk perlahan pundaknya, terkejut melihatku hampir saja membuatnya terjungkal.“Loh Mbak, ngapain panas-panas kesini,” ujarnya.“Mbak-mbak, aku ini bukan mbakmu,” sungutku kesal. Menggaruk kepala yang jelas terlihat tak gatal itu, meringis memperlihatkan baris giginya yang rapi. Mas Danu salah tingkah, gegas keluar dari sawah dan mengikutiku yang berjalan lebih dulu menuju saung tempat biasanya dia beristirahat.“Jujur sama aku Mas, kamu dapat uang darimana buat lunasin hutang Ibuk? Itu enggak sedikit, terus Bik Ratna juga bilang katanya kamu kasih uang lebih. Jangan bilang kamu ngutang Mas,” cecarku tanpa menunggu ia duduk lebih dulu.“Ngutang apa sih Dek, itu uang hasil kerja aku,” jawabnya meyakinkan.Aku menyipitkan mata, kerja? Aku tahu apa pekerjaanya, mana mungkin tiga bulan dia bisa mendap

    Last Updated : 2024-03-14
  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Pengen Cucu

    Aku terdiam beberapa saat setelah mendengar ucapan Mas Danu. Lelaki di depanku itu memang tak pernah kutahu asal usulnya, tak pernah kutanya bagaimana kisah hidupnya. Entah dia benar-benar kehilangan ingatan atau enggan memberitahukan kehidupannya lantaran ada suatu masalah, serta bapak tak pernah mendapatkan kepastian medis kalau Mas Danu benar-benar kehilangan ingatan. Namun, mendengar ucapannya sedikit ada yang mengiris hatiku. Dia mau menikahiku yang sudah terbilang tak lagi muda, jika dibanding dirinya yang tampan dan pasti umurnya lebih muda dariku harusnya dia yang malu. Terlebih, jika dilihat bukan seperti dari kalangan orang desa. Kulit lelaki yang lebih halus dariku, aku tahu betul dia bukanlah lelaki yang pernah bekerja keras.“Ngapain aku malu, bukannya bapak yang milih kamu, udah pasti bagi bapak kamu terbaik buat aku,” jawabku.Hening, tak ada lagi pembicaraan diantara kami, aku bergelut dengan pikiranku sendiri sementara Mas Danu entah sedang fokus menyetir sepedanya at

    Last Updated : 2024-03-15
  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Lampu Hijau

    Mas Danu menautkan alisnya. “Beneran enggak papa?” tanyanya memastikan.Aku mengangguk lemah, lekas menuju ranjang dan merebahkan tubuh, menarik selimut hingga menutup seluruh tubuhku, menyisakan wajah. Kutarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan secara perlahan.“Dek,” panggilnya.Tak ingin memutar badan, aku berdehem menjawab ucapanya.“Hem, ada apa?”“Soal tadi, kamu jangan ambil hati ya, aku enggak mungkin jujur sama Bapak,”Mas Danu duduk di bawah ranjang.Karena kamarku yang tidak terlalu luas membuatnya tidur tepat di samping ranjangku dengan alas kasur lantai.Aku mengangguk lemah. “Lagi pula itu hak kamu Mas, aku udah jadi istrimu,” lirihku. Aku tak mungkin egois, bagaimanapun dia sudah suamiku, sepantasnya meminta haknya dan aku tidak boleh menolak.“Aiu enggak mungkin ngelakuin itu kalau kamu enggak rela, nanti aku dituduh kasus pemerkosaan,” candanya diikuti tawa.Aku terdiam. Jaman sekarang mana ada lelaki yang tahan, pikirku. Dulu, saat hari pernikahanku dengan Bang Roy

    Last Updated : 2024-03-15
  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Siapa Sebenarnya Suamiku?

    DUA TAHUN BERLALU“Tuh kan, untung aja anakku nikah sama orang lain, kalau nikah sam Anisa udah pasti enggak punya anak,” caci Bu Sari.“Nisa kok belum ngisi sih? Kalian enggak ada rencana buat periksa gitu ke dokter? Nih lihat, aku aja udh hamil anak kedua.” Ranti mengelus perutnya meski masih rata, tetapi sepertinya ia memang sedang hamil terlihat dari wajah pucatnya. Senyum mengejek ia sunggingkan.“Iya sih, itu anakku juga udah ngisi,” timpal Bik Santi. Beberapa ibu-ibu lain hanya tersenyum menanggapi ucapan mereka.Aku menghela nafas dan tetap menebar senyum. “Enggak papa, mungkin memang belum waktunya. Yang penting enggak hamil duluan,” balasku.Kulirik Ranti, ia memalingkan pandangan sesekali mentapku penuh kekesalan. “Ya udah aku pamit duluan ya Buk, udah siang mau buatin makanan buat Mas Danu.” Aku berlalu dari kerumunan ibu-ibu yang sedang berbelanja.Sudah dua tahun pernikahanku dengan Mas Danu, tetapi sepertinya Tuhan memang belum mempercayakan kepada kami seorang anak. Ak

    Last Updated : 2024-03-16
  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   DANU POV

    Danu Pov Flash Back…“Jangan sampai dia lepas.” Dari balik rimbunnya pohon aku mendengar suara Andara, adik tiriku itu memberi perintah untuk anak buahnya. Menendang batu yang ada di bawah kakinya,kesal karena gagal membunuhku hari ini, sepertinya tak menyurutkan akal untuk menghabisiku dilain waktu.Dadaku terasa sesak, nafas susah sekali keluar, tertatih aku berjalan menuju gudang belakang rumah ditambah penerangan yang hanya mengandalkan temaram dari lampu di rumah utama membuatku harus benar-benar berhati-hati melangkah agar tak menimbulkan banyak suara, gudang itu telah lama tak terpakai. Aroma kayu lapuk memenuhi indra penciumanku setelah berhasil masuk. Terus menyusuri gudang besar tepat dulu almarhum mama menggunakannya untuk membuat banyak pakaian.“Aku harus pergi malam ini juga,” gumamku seorang diri.Sepeninggal papa, Mama Clara yang kupikir menyayangiku dengan tulus, tapi tak ubahnya hanya seekor srigala berbulu domba. Sepupu mama itu menikahi papa setelah mama kandungk

    Last Updated : 2024-03-16
  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Dnu POV (Gadis Yang Menyimpan Lara)

    Duduk seorang diri di rumah yang tak terlalu besar, rumah kayu yang hanya tersedia tempat tidur dan ruang tamu sempit, berbanding terbalik dengan istana yang selalu kutempati. Namun, disini aku merasa aman, udara segar pedesaan membuatku sedikit merasa tenang. Aku tinggal di rumah milik Bapak Artha, lelaki yang menyelamatkanku. Sementara ini aku bisa istirahat untuk memulihkan tubuh lebih dulu, setelah itu akan mencari gubuk di tengah hutan seperti yang dikatakan Bik Icha.Ketukan di pintu menyadarkan lamunan, kembali kusimpan surat dari Bik Icha yang belum sempat kubuka, lantas membuka pintu. Seorang gadis berdiri dengan mangkuk di tangannya. “Disuruh Bapak ngantar makanan,” ucapnya sembari menyodorkan mangkuk yang ia pegang. Gadis ayu dengan rambut panjang lurus tergerai, semerbak aroma parfum strawberry tercium. Terlihat ada kesedihan di matanya. Aku mengambil mangkuk dari tangannya, “Makasih Mbak, enggak perlu repot-repot,” ucapku. Tak menjawab, ia pergi begitu saja. Bisa aku

    Last Updated : 2024-03-17
  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Danu Pov(Video)

    Setelah berbincang sedikit dengan Pak Artha gegas aku menuju sungai tempat dimana banyak orang mandi, tak terbiasa dengan keadaan desa membuatku berulang kali terpeleset di pinggir sungai. Kuamati sekeliling, tak ada penutup, mau tak mau aku harus mandi di tempat terbuka seperti ini. Diseberang yang tak terlalu jauh terlihat banyak ibu-ibu sedang mencuci pakaian, kulihat pula Nisa datang membawa pakaian kotor. Bisik-bisik ibu-ibu yang ada di sebelahnya membuatnya gegas menyelesaikan pekerjaan tanpa berlama-lama. Aku hanya bisa mengamati gadis itu pergi dengan wajah menunduk. Miris sekali, padahal bukan dirinya yang salah.Setelah menyelesaikan mandi gegas aku pergi, berniat mencari pondok di tengah hutan. Aku sempat bertanya kepada Pak Artha mengenai hutan yang tak jauh dari desa. Kata Pak Artha, tak ada yang berani masuk hutan tersebut, selain semak belukar warga desa enggan berurusan dengan binatang buas. Nyaliku sedikit menciut, tetapi demi mengetahui semuanya kukumpulkan tekad unt

    Last Updated : 2024-03-18

Latest chapter

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   kenyataannya

    Aroma kayu putih memenuhi penciumanku. Tepukan di pipi mulai kurasa.“Mbak, Mbak Nisa gak papa? Ya ampun, Mbak.” Bik Hanum terlihat begitu khawatir berusaha menyadarkanku sepenuhnya.Kulihat sekeliling, foto-foto itu sudah tak berserakan mungkin mereka sudah membereskannya.“Pelan-pelan Mbak.” Bik Hanum membantuku terbangun. “Tri ambilkan minum,” perintahnya kepada Bik Lastri yang duduk di sampingnya memijat kakiku.“Ini Mbak minum dulu.” Menyodorkan segelas air kepadaku. Gegas kuteguk air dalam gelas hingga tandas.“Antar aku ke tempat Mas Danu, Bik,” pintaku. Otakku mulai memutar semua gambar-gambar kejadian yang baru saja terjadi, untaian kata-kata dari Deswa kembali terngiang. Aku harus menyaksikan sendiri.“Tapi Mbak, maaf apa enggak sebaiknya nunggu Den Rangga dulu?”Bik Hanum menunduk, sepertinya menyembunyikan sesuatu. Apa orang-orang bawaan Mas Danu semua tahu akulah yang dia sembunyikan?Aku menatap tajam Bik Hanum yang masih menunduk.“Iya Mbak, sebaiknya nunggu Den Rangga

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Undangan Biru

    “kabarnya sih kalau enggak dibalikin secepatnya dia mau dipenjara,” sambung Bik Dewi.“Kasihan ya, bik. Anaknya masih kecil-kecil,” ucapku tulus.“Halah, ngapain kamu kasihan sama dia, dulu juga dia enggak kasihan sama kamu. Itu namanya karma Nis,” cetus Bik Dewi kembali mengingatkanku kelakuannya yang membuat keluargaku malu dan menjadi bahan gibah sekampung.Tak ingin terlalu lama menggosip dengan Bik Dewi, gegas kucari alasan untuk segera pergi.“He, iya udahlah bik, namanya juga hidup. Aku pergi dulu ya, bik. Mau jalan-jalan biar sehat.”“Iya, bener tuh. Lagi hamil harus banyak gerak jangan ndekem aja di rumah,” tuturnya. Aku tersenyum dan mengangguk. Kembali melanjutkan langkah yang tertunda. Mendung sore di penghujung bulan, rintik hujan tiba-tiba datang. Gegas kuputar badan, mempercepat langkah kembali ke rumah. “Duh, mbak kok ujan-ujanan sih, nanti kalau mbak sakit kami yang dimarah Den Rangga,” Bik Ratih berlari tergopoh setelah melihatku di depan pagar, membawakan payung

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Loh. Pinjam Uang?

    ….Aku duduk di teras rumah, menyesap secangkir susu ibu hamil dilengkapi dengan buah buahan. Kuusap perut yang telah membuncit. Sudah empat bulan Mas Danu tidak pulang, kerinduan kami hanya bisa tersalurkan melalui panggilan video call. Rumah yang kini telah berdiri megah terasa begitu sepi meski ada dua orang pembantu dan beberapa satpam yang diminta Mas danu untuk menjaga. Padahal aku tak perlu mendapatkan penjagaan yang begitu ketat tetapi suamiku itu memaksa. Bahkan di setiap sudut rumah terpasang CCTV, entah apa yang dia khawatirkan padahal disini tak mungkin ada orang yang akan berniat jahat.Ponsel disampingku bergetar, kulihat layar dan segera menggeser tombol hijau. Memperlihatkan wajah Mas Danu. Aku tersenyum menyambutnya.“Udah sarapan Sayang?” tanyanya.Aku mengangguk. “Mas dikantor? Udah sarapan?”Ingin sekali aku menjadi istri sepenuhnya seperti dulu, menyiapkan makanan untuknya, menyiapkan pakaiannya. Namun, aku harus bersabar, setelah mengatakan alasannya tak ingin me

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Suamiku Banyak Duit

    “150 juta, apa kamu punya uang sebanyak itu untuk membayar rumah Mbah?” tanya Tante Diana, menatap Mas Danu merendahkan, tatapan sinis jelas sekali ia tak suka suamiku bertanya.Mas Danu tersenyum, menunduk sesaat. Lantas mengangkat wajah menatap Tante Diana. “Cuma segitu?”Tante Diana melotot bersiap menjawab ucapan Mas Danu, tetapi Om Herman lebih dulu maju.“Kamu enggak usah sok belagu, daripada banyak tanya lebih baik cepet kasih uangnya. Lagipula ini juga gara-gara mertuamu itu.”Aku memegang lengan Mas Danu, lalu menggeleng lemah, memintanya untuk tidak menuruti kemauan saudara-saudara bapak.Pakde Tarno tertawa keras. “Udah pasti dia itu enggak punya duit, mobil itu mungkin punya bos atau majikannya, bangun rumah juga pasti hasil ngutang. Orang miskin mana mampu dapat orang kaya. Apalagi Nisa dulu sering gagal nikah sampai delapan kali, orang kaya mana yang mau menikah sama dia, juga pasti mikir-mikir,” caci Pakde tarno.Bapak keluar dengan wajah merah padam, menggertakan gigi

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Tamu Tak Diundang

    “Bagaimana pekerjaanmu Nu?” tanya bapak, kami sednag berbincang sambil menonton televisi.“Lancar Pak. Besok aku berangkat ke kota, mungkin kali ini sedikit lama karena memang pekerjaan lebih banyak,” jawab Mas Danu.Ah, rasanya berat sekali melepas kepergiannya, tetapi aku tak bisa berbuat apa-apa.“Berapa hari Mas disana?” Aku menyahut.Mas Danu mengedikkan bahu. “Kalau pekerjaan udah selesai nanti secepatnya aku pulang Dek.”Aku mengangguk lemah. Sebenarnya aku ingin tahu lebih detail apa pekerjaan suamiku di kota, tetapi setiap kutanyakan ia selalu menjawab sekenanya. Buruh, sopir, dan yang lainnya, entah mana pekerjaan tetapnya, dan lebih membingungkan bagaimana seorang buruh bisa memberiku banyak barang mahal. Aku pernah mencecar Mas Danu dari mana uang untuk membeli semuanya, dia menjawab itu uang halal, aku tak perlu khawatir. Jika sudah waktunya ia akan mengajakku ke kota. Aku sendiri tak tahu kapan waktu yang tak pasti itu.Suara deru mesin mobil membuatku beranjak, melihat

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Pilihan Bapak Terbaik

    “Mas, keluarga mas di kota gimana? Maksudku apa mereka enggak ….”“Yang penting aku cinta kamu,” sela Mas Danu sebelum aku selessi bicara.Aku menatap kesal, ia masih terus asyik mencuci ubi yang baru saja kita ambil dari kebun belakang. Karena terlalu sibuk mengurus bapak, kebun kecil peninggalan ibu itu telah lama tak terurus. Bunga-bunga kesayangan ibu banyak yang telah mati, rencana aku akan merawatnya kembali nanti setelah bapak sudah betul-betul sehat.“Bukan gitu Mas, maksudku nanti mereka apa enggak keberatan kalau tahu mantunya ini orang desa.” Kupertegas kata tanpa basa-basi.“Yang penting aku cinta kamu,” jawabnya, mengulang jawaban yang sebelumnya.“Mas, aku serius,” rajukku. Baginya mungkin bukan masalah, tetapi bagi seorang perempuan respon keluarga besar akan sangat mempengaruhi kehidupan setelah menikah, walaupun terpenting adalah sikap dan kebijakan suami.“Aku juga serius Dek.” Mas Danu menghentikan aktivitasnya, lalu menatapku dengan senyuman.Aku menghela nafas. “

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Tragedi Sebidang Tanah

    Aku dan Mas Danu berjalan beriringan setelah mencuci dari sungai, sesekali tertawa berserita bagaimana dulu aku sok jual mahal kepadanya. Alhasil aku pula yang harus merayu untuk melakukan ritual malam pertama. Jika mengingat hal itu aku seperti ingin menyembunyikan wajah dari Mas Danu.“Udahlah Mas, jangan diinget-inget terus.” Aku berjalan lebih dulu, ngambek menjadi salah satu jurus pamungkas menyembunyikan rasa amalu.Mas Danu mempercepat lengakh mengejarku. “Nanti kita ceritain ke anak-anak,” ledeknya di sela tawa.“Awas aja kalau sampai bocor ke anakku.” Aku mengacungkan jari mengancam. mas danu tertawa, terus menggodaku. Di depan rumah kami berpapasan dengan Bik Dewi yang sedang menyapu halaman. “Dih, makin mesra aja kalian,” cetusnya.“Eh Bik, pagi-pagi udah nyapu, rajin banget. biasanya nunggu Indah.” Aku tersenyum ramah, sudah pasti ucapanku itu akan membautnya kesal. Memang bukan rahasia umum lagi Bik Dewi akan menunggu menantunya untuk beberes rumah. Terkadang masak pu

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Rindu

    Bapak tersenyum melihat menantu kesayangannya, memeluk erat seakan enggan melepas. Kusiapkan teh hangat dan cemilan. Singkong rebus, apa mungkin Mas Danu masih mau memakan makanan desa itu? Kembali kutaruh singkong rebus yang ada di dalam nampan, urung kubawa keluar.Sedikit kikuk, karena aku seperti tak menghadapi orang lain. Aku hanya menunduk duduk di depan Mas Danu dan lelaki yang mengenalkan dirinya candra tersebut.Mas Danu beralih, kini ia telah duduk disampingku, mengusap lembut perutku yang masih rata. Senyum mengembang sempurna disudut bibirnya, lesung pipi menambah manis wajahnya. Jantungku berdetak lima kali lebih cepat. Setelah satu minggu, wajah yang kurindu kini terpampang jelas di depan mata, tapi anehnya aku merasa kikuk sebab dia seperti orang lain, apa hanya karena penampilannya?“Papa datang,” lirihnya. Berulang diciumnya perutku.“Ehem.” Aku berdehem, melihat Candra dan bapak senyum-senyum sendiri memperhatikan tingkah Mas Danu, tetapi sepertinya pria itu tak kun

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Katanya Minggat!

    Kubuka dompet yang tak terlalu besar, menghela nafas berat melihat isinya yang hanya tinggal uang pecahan lima ribuan.“Nis,” panggil bapak. Gegas kututup kembali dompetku lalu menghampiri bapak, tak ingin bapak tahu kesusahan yang sedang kualami.“Iya Pak, ada apa?” Aku bersimpuh di bawah bapak yang sedang duduk di kursi roda. Bapak mengeluarkan uang seratus ribuan, lalu meraih tanganku dan meletakkan uang itu.“Ini bayar arisanmu, jangan pakai mas kawinmu,” titahnya.Aku menghitung uang tersebut. “Bapak dapat uang sebanyak ini dari mana? Kalau ada uang, lebih baik buat kontrol Bapak besok.” Aku mengembaikan uang tersebut.Kalaupun ada uang memang seharusnya digunakan untuk kontrol bapak besok pagi, karena memang sudah jadwalnya.“Danu kasih ini buat pegangan bapak, kamu pakai aja dulu buat bayar arisan. Enggak usah mikirin bapak, itu kewajibanmu lebih penting Nduk.” Bapak mengusap pucuk kepalaku. Tak kuasa kutahan tangis. “Ya udah Nisa pakai dulu, besok untuk berobat Bapak, aku j

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status