Share

Pengen Cucu

Author: Pinter Man
last update Last Updated: 2024-03-15 00:07:19

Aku terdiam beberapa saat setelah mendengar ucapan Mas Danu. Lelaki di depanku itu memang tak pernah kutahu asal usulnya, tak pernah kutanya bagaimana kisah hidupnya. Entah dia benar-benar kehilangan ingatan atau enggan memberitahukan kehidupannya lantaran ada suatu masalah, serta bapak tak pernah mendapatkan kepastian medis kalau Mas Danu benar-benar kehilangan ingatan. Namun, mendengar ucapannya sedikit ada yang mengiris hatiku. Dia mau menikahiku yang sudah terbilang tak lagi muda, jika dibanding dirinya yang tampan dan pasti umurnya lebih muda dariku harusnya dia yang malu. Terlebih, jika dilihat bukan seperti dari kalangan orang desa. Kulit lelaki yang lebih halus dariku, aku tahu betul dia bukanlah lelaki yang pernah bekerja keras.

“Ngapain aku malu, bukannya bapak yang milih kamu, udah pasti bagi bapak kamu terbaik buat aku,” jawabku.

Hening, tak ada lagi pembicaraan diantara kami, aku bergelut dengan pikiranku sendiri sementara Mas Danu entah sedang fokus menyetir sepedanya atau sama denganku. Hingga tanpa terasa roda sepeda terus berputar sampai berhenti di halaman rumah. Gegas aku turun, dan menghampiri ibu yang sedang menanam sayur di pekarangan belakang. Sayuran hijau tumbuh subur dalam polybag, halaman yang tidak terlalu luas itu dimanfaatkan ibu untuk menanam bahan pangan yang bisa kami gunakan sendiri. Terkadang jika terlalu banyak panen ibu sering membagikan kepada tetangga yang mau saja.

“Buk,” panggilku.

Ibu menghentikan aktivitasnya, memutar badan dan tersenyum padaku.

Sekarang, bisa kulihat wajahnya tak lagi pucat, senyum sumringah seirng terukir di bibirnya saat kami sedang berkumpul, terlebih Mas Danu selalu pandai menghibur kedua orang tuaku. Lelaki itu sudah bisa merebut hati ibu, bahkan terkadang dia justru lebih seperti anaknya ketimbang aku.

“Gimana Nisa, apa kata Mang Udin?” tanya ibu, kini tanganya kembali sibuk memasukkan tanah kedalam polybag.

“Katanya sore mau diambil Mang Tono, Buk.” Aku mengikuti ibu, berjongkok di sampingnya, ikut membantu mengisi sisa polybag yang ada.

“Baguslah, nanti uangnya bisa buat bekal ongkos ke rumah bibikmu, bibikmu mau buat selametan anaknya Rini,” tutur ibu.

Sebenarnya aku malas sekali datang ke rumah Bibi Arum, adik bungsu ayah. Toh, jika ibu sedang repot atau ada acara mereka hanya datang untuk makan, tetapi jika mereka yang memiliki hajat ibu orang pertama yang diharuskan datang membantu ini itu. Bukan karena ibu datang hanya badan saja, tak sedikit barang yang ibu bawa untuk mereka, tetap saja mereka selalu memandang rendah ibu.

“Ngapain kita kesana Buk, palingan juga cuma jadi babu cuci piring,” keluhku.

Aku sudah hafal dengan sikap mereka, mereka terlalu memandang rendah orang tuaku, jelas karena keadaan sosial kami jauh lebih rendah.

Mungkin mereka melupakan jasa besar bapak yang membuat adik-adiknya bisma berpangkat dan hidup mewah sehingga bapak hanya menjadi petani yang kebunnya tak ada seperempat dari milik mereka.

Aku ingat betul saat bapak hendak meminjam uang untuk pendaftaran kuliahku. Bukannya membantu, mereka justru menghina bapak. Mengatakan, orang miskin seperti kami tak usah memiliki mimpi tinggi untuk menguliahkan anaknya. Kata-kata itu yang membuatku gigih bekerja hingga lupa umurku tak lagi muda, aku tidak ingin mereka terus menghina kedua orang tuaku.

“Gak boleh gitu, inget pesan nenekmu. Keluarga harus tetap tolong menolong,” tutur ibu dengan penuh senyuman

.

Ah, entah terbuat dari apa hati wanita yang telah melahirkanku itu. Meski selalu dihina dan dibeda-bedakan ia tetap berlapang dada membantu saudara bapak. Tak seperti saudara ibu yang memang selalu membantu setiap kali ibu kerepotan. Meski ibu tak sekaya saudara-saudaranya, tetapi mereka selalu menghormati ibu, tetap menghargai ibu meski ibu anak bungsu diantara mereka. Hal itu yang membuatku lebih nyaman berada di lingkup keluarga dari ibu.

Aku mencebik. “Merek aja nggak pernah ada simpatinya sama kita. Cuma jadi babu geratisan.”

“Enggak papa, kan kita bisanya bantuin hal begitu.” Ibu mengusap lembut rambut panjangku.

Ibu memang keras kepala, setiap kali aku larang untuk datang kesana selalu saja punya alasan untuk membuatku tak tega membiarkannya datang seorang diri. Begitu pula bapak, aku tak akan tega melihat tubuh tuanya seperti tukang kebun di rumah mewah adik-adiknya.

Aku menghela nafas berat. Ibu melihatku yang terlihat kesal.

“Kebaikan yang kita tanam pasti akan ada imbal balasnya, Nak. Enggak usah khawatir kalau sekarang kita sering dihina,” tuturnya lagi membuatku hanya bisa terdiam.

“Udah sana buatin kopi suamimu, tadi ibu juga udah bikin adonan bakwan, belum sempat ibuk goreng. Kamu goreng sekalian, ya,” pinta ibu yang membuatku gegas melaksanakannya tanpa menunggu lama.

Berjalan menuju dapur yang tak terlalu besar, kubuka tirai jendela agar cahaya masuk lebih terang. Kulihat adonan bakwan yang ada di meja, lantas menggorengnya setelah minyak yang dipanaskan mendidih. Tak lupa kopi dan teh sudah tersedia, setelah matang kusajikan untuk ayah dan Mas Danu yang sedang berbincang di teras depan, ibu ikut duduk bersama, aku pun duduk disamping ibu.

Dersik angin membelai kulit, rintik hujan mulai turun satu persatu semakin lama semakin sering hingga tanpa jeda.

“Ibu harap bisa gendong cucu, sebelum ibu pergi,” ucap ibu disela perbincangan kami.

Aku diam menunduk, senyum di bibirku yang semula terukir sempurna kini berubah ciut. Jangankan untuk memberikan cucu secepatnya, aku dan Mas Danu saja masih tidur terpisah, kami tidak tahu akan memulai darimana ritual itu.

“Bapak pun pengennya gitu, lihat temen-temen bapak malah udah gendong cicit,” balas bapak disertai tawa.

“Bapak sama ibuk punya cucu berapa?” jawab Mas Danu. Ia pun ikut tertawa memecah kecanggungan diantara kami.

“Kalau ibuk sih maunya yang banyak, biar rame. Annisa Enggak punya saudara.” Ibu begitu antusias menanggapi ucapan Mas Danu, wajahnya begitu bahagia mungkin membayangkan keadaan rumah yang begitu ramai dengan jeritan anak-anak.

“Empat aja cukup, biar kalian enggak repot ngurusnya, iya kalau bapak sama ibuk panjang umur bisa bantuin ngurus anak kalian,” bapak menimpali.

Tak kalah antusias dengan ibu, keduanya tertawa riang begitu pun Mas Danu, sekilas ia menatapku, sementara aku hanya tersenyum mendengar ucapan mereka.

Ingin sekali rasanya aku kabulkan permintaan bapak dan ibu, tapi mana mungkin aku bisa membuat anak sendiri.

….

Malam disertai rintik hujan, hawa dingin menyelimuti. Aku berdiam diri di kamar seorang diri, keinginan bapak dan ibu terus terngiang di kepala. Berjalan mondar-mandir seperti setrika. Bagaimana aku mengatakan kepada Mas Danu, lagi pula bagaimana aku bisa melakukannya tanpa cinta, apa aku mampu? Kuacak rambut frustasi.

“Loh, kamu kenapa Dek?”

Aku tersentak, Mas Danu mengagetkanku. Entah sejak kapan dia sudah berdiri di sampingku. Padahal beberapa saat lalu masih kudengar ia bercanda dengan bapak di ruang depan.

“Anu … ini …”

Aku gelagapan, entah kenapa jantungku berdegup tidak karuan.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Suryanieck
suka ceritanya semoga cepat dpt momongan
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Lampu Hijau

    Mas Danu menautkan alisnya. “Beneran enggak papa?” tanyanya memastikan.Aku mengangguk lemah, lekas menuju ranjang dan merebahkan tubuh, menarik selimut hingga menutup seluruh tubuhku, menyisakan wajah. Kutarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan secara perlahan.“Dek,” panggilnya.Tak ingin memutar badan, aku berdehem menjawab ucapanya.“Hem, ada apa?”“Soal tadi, kamu jangan ambil hati ya, aku enggak mungkin jujur sama Bapak,”Mas Danu duduk di bawah ranjang.Karena kamarku yang tidak terlalu luas membuatnya tidur tepat di samping ranjangku dengan alas kasur lantai.Aku mengangguk lemah. “Lagi pula itu hak kamu Mas, aku udah jadi istrimu,” lirihku. Aku tak mungkin egois, bagaimanapun dia sudah suamiku, sepantasnya meminta haknya dan aku tidak boleh menolak.“Aiu enggak mungkin ngelakuin itu kalau kamu enggak rela, nanti aku dituduh kasus pemerkosaan,” candanya diikuti tawa.Aku terdiam. Jaman sekarang mana ada lelaki yang tahan, pikirku. Dulu, saat hari pernikahanku dengan Bang Roy

    Last Updated : 2024-03-15
  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Siapa Sebenarnya Suamiku?

    DUA TAHUN BERLALU“Tuh kan, untung aja anakku nikah sama orang lain, kalau nikah sam Anisa udah pasti enggak punya anak,” caci Bu Sari.“Nisa kok belum ngisi sih? Kalian enggak ada rencana buat periksa gitu ke dokter? Nih lihat, aku aja udh hamil anak kedua.” Ranti mengelus perutnya meski masih rata, tetapi sepertinya ia memang sedang hamil terlihat dari wajah pucatnya. Senyum mengejek ia sunggingkan.“Iya sih, itu anakku juga udah ngisi,” timpal Bik Santi. Beberapa ibu-ibu lain hanya tersenyum menanggapi ucapan mereka.Aku menghela nafas dan tetap menebar senyum. “Enggak papa, mungkin memang belum waktunya. Yang penting enggak hamil duluan,” balasku.Kulirik Ranti, ia memalingkan pandangan sesekali mentapku penuh kekesalan. “Ya udah aku pamit duluan ya Buk, udah siang mau buatin makanan buat Mas Danu.” Aku berlalu dari kerumunan ibu-ibu yang sedang berbelanja.Sudah dua tahun pernikahanku dengan Mas Danu, tetapi sepertinya Tuhan memang belum mempercayakan kepada kami seorang anak. Ak

    Last Updated : 2024-03-16
  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   DANU POV

    Danu Pov Flash Back…“Jangan sampai dia lepas.” Dari balik rimbunnya pohon aku mendengar suara Andara, adik tiriku itu memberi perintah untuk anak buahnya. Menendang batu yang ada di bawah kakinya,kesal karena gagal membunuhku hari ini, sepertinya tak menyurutkan akal untuk menghabisiku dilain waktu.Dadaku terasa sesak, nafas susah sekali keluar, tertatih aku berjalan menuju gudang belakang rumah ditambah penerangan yang hanya mengandalkan temaram dari lampu di rumah utama membuatku harus benar-benar berhati-hati melangkah agar tak menimbulkan banyak suara, gudang itu telah lama tak terpakai. Aroma kayu lapuk memenuhi indra penciumanku setelah berhasil masuk. Terus menyusuri gudang besar tepat dulu almarhum mama menggunakannya untuk membuat banyak pakaian.“Aku harus pergi malam ini juga,” gumamku seorang diri.Sepeninggal papa, Mama Clara yang kupikir menyayangiku dengan tulus, tapi tak ubahnya hanya seekor srigala berbulu domba. Sepupu mama itu menikahi papa setelah mama kandungk

    Last Updated : 2024-03-16
  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Dnu POV (Gadis Yang Menyimpan Lara)

    Duduk seorang diri di rumah yang tak terlalu besar, rumah kayu yang hanya tersedia tempat tidur dan ruang tamu sempit, berbanding terbalik dengan istana yang selalu kutempati. Namun, disini aku merasa aman, udara segar pedesaan membuatku sedikit merasa tenang. Aku tinggal di rumah milik Bapak Artha, lelaki yang menyelamatkanku. Sementara ini aku bisa istirahat untuk memulihkan tubuh lebih dulu, setelah itu akan mencari gubuk di tengah hutan seperti yang dikatakan Bik Icha.Ketukan di pintu menyadarkan lamunan, kembali kusimpan surat dari Bik Icha yang belum sempat kubuka, lantas membuka pintu. Seorang gadis berdiri dengan mangkuk di tangannya. “Disuruh Bapak ngantar makanan,” ucapnya sembari menyodorkan mangkuk yang ia pegang. Gadis ayu dengan rambut panjang lurus tergerai, semerbak aroma parfum strawberry tercium. Terlihat ada kesedihan di matanya. Aku mengambil mangkuk dari tangannya, “Makasih Mbak, enggak perlu repot-repot,” ucapku. Tak menjawab, ia pergi begitu saja. Bisa aku

    Last Updated : 2024-03-17
  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Danu Pov(Video)

    Setelah berbincang sedikit dengan Pak Artha gegas aku menuju sungai tempat dimana banyak orang mandi, tak terbiasa dengan keadaan desa membuatku berulang kali terpeleset di pinggir sungai. Kuamati sekeliling, tak ada penutup, mau tak mau aku harus mandi di tempat terbuka seperti ini. Diseberang yang tak terlalu jauh terlihat banyak ibu-ibu sedang mencuci pakaian, kulihat pula Nisa datang membawa pakaian kotor. Bisik-bisik ibu-ibu yang ada di sebelahnya membuatnya gegas menyelesaikan pekerjaan tanpa berlama-lama. Aku hanya bisa mengamati gadis itu pergi dengan wajah menunduk. Miris sekali, padahal bukan dirinya yang salah.Setelah menyelesaikan mandi gegas aku pergi, berniat mencari pondok di tengah hutan. Aku sempat bertanya kepada Pak Artha mengenai hutan yang tak jauh dari desa. Kata Pak Artha, tak ada yang berani masuk hutan tersebut, selain semak belukar warga desa enggan berurusan dengan binatang buas. Nyaliku sedikit menciut, tetapi demi mengetahui semuanya kukumpulkan tekad unt

    Last Updated : 2024-03-18
  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Danu POV(Saatnya Kembali)

    Duduk termenung menatap rindangnya pohon liar, sesekali tatapanku beralih pada diri sendiri. Kulit yang dulu putih bersih kini telah berubah menghitam. Sembari mengumpulkan rencana, aku memilih tetap bersembunyi. Kepada siapa lagi aku harus meminta bantuan, sedang orang-orang kepercayaan papa yang selalu kuanggap baik mereka semua bersekongkol dengan Mama Clara.Sudah tiga bulan aku tinggal di rumah Pak Artha, setiap ada waktu aku selalu pergi ke gubuk tua itu untuk menyusun rencana, memulai permainan balas dendam dengan mereka. Aku tak peduli jika hanya aku yang haru menghadapi mereka, tetapi nyawa tetaplah harus dibalas nyawa.Ponsel di tanganku bergetar, aku tidak tahu siapa yang menelpon dengan nomor baru. Kugeser tombol hijau tanpa mengeluarkan suara.“Halo, Bos Rangga,” ucapnya dari seberang telepon. Aku kenal sekali dengan suara itu. Revan, pemuda itu apa masih bernyawa? Terakhir ia menghadang anak buah Andara untuk menyelamatkanku.“Revan,” panggilku cepat.“Syukurlah, Bos. D

    Last Updated : 2024-03-18
  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Danu Pov (Perpisahan)

    “Siapa mereka Mas?” tanya Nisa setelah kami sampai di rumah sakit, bapak pun terlihat menagih jawaban dariku. Pertanyaan berulang itu belum kujawab sejak di rumah tadi.Aku membawa Nisa berjalan di taman rumah sakit, sementara bapak beristirah di temani dua pengawalku.“Aku harus pergi ke kota sebentar Dek,” ucapku membuatnya menghentikan langkah, menatapku tanpa sepatah katapun.Ia menunduk, tapi bisa kulihat matanya mengembun. Kuraih kedua tangannya menggenggam erat. “Cuma sebentar, nanti kalau udah selesai urusanku pasti aku pulang.” Aku meyakinkan.“Apa Mas udah inget semuanya? Apa ingatan Mas udah kembali?” Mengangkat wajah dengan suara parau. Aku mengangguk lemah, tetap berpura-pura jika selama ini aku hilang ingatan.“Cuma sebentar, aku pasti kembali setelah semua urusanku selesai,” kembali kuulang kata-kata itu agar ia tak perlu khawatir.Kami duduk di bangku taman rumah sakit, dersik angin malam membelai kulit. Kubelai lembut rambut panjangnya. Dia telah menerimaku apa adany

    Last Updated : 2024-03-19
  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Dia Pergi

    (Nisa Pov)“Kirimkan aku uang dan datanglah ke alamat yang telah kukirim.” Tak sengaja kudengar Mas Danu berbicara dengan seseorang, siapa yang dia perintahkan untuk mengirim uang? Rasa ingin tahu dan penasaran menyeruak ingin segera menuntut jawab. Siapa sebenarnya lelaki yang telah menikahiku dua tahun lalu itu? Apa sekarang ingatannya telah kembali? Semua pertanyaan telah kussun sempurna’. Jangan sampai kali ini Mas Danu mengelak, mungkin mengatakan orang itu gila atau kurang kerjaan, karena jelas-jelas aku dengar pembicaraan mereka, dan Mas Danu lah yang mengirim perintah.Namun semua pertanyaan belum sempat kukeluarkan karena sibuk mengurus bapak. Sehari setelahnya datang seorang pria dengan setelan jas lengkap, jelaslah lelaki itu bukan lelaki biasa, dan lebih mengejutkan lagi dia memanggil Mas Danu bos. Tepat, seperti yang aku pikirkan, selama ini kecurigaanku tak salah. Sepertinya suamiku bukanlah orang biasa, tapi kenapa? Kenapa Ia tak pernah jujur? Aku semakin takut, takut

    Last Updated : 2024-03-20

Latest chapter

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   kenyataannya

    Aroma kayu putih memenuhi penciumanku. Tepukan di pipi mulai kurasa.“Mbak, Mbak Nisa gak papa? Ya ampun, Mbak.” Bik Hanum terlihat begitu khawatir berusaha menyadarkanku sepenuhnya.Kulihat sekeliling, foto-foto itu sudah tak berserakan mungkin mereka sudah membereskannya.“Pelan-pelan Mbak.” Bik Hanum membantuku terbangun. “Tri ambilkan minum,” perintahnya kepada Bik Lastri yang duduk di sampingnya memijat kakiku.“Ini Mbak minum dulu.” Menyodorkan segelas air kepadaku. Gegas kuteguk air dalam gelas hingga tandas.“Antar aku ke tempat Mas Danu, Bik,” pintaku. Otakku mulai memutar semua gambar-gambar kejadian yang baru saja terjadi, untaian kata-kata dari Deswa kembali terngiang. Aku harus menyaksikan sendiri.“Tapi Mbak, maaf apa enggak sebaiknya nunggu Den Rangga dulu?”Bik Hanum menunduk, sepertinya menyembunyikan sesuatu. Apa orang-orang bawaan Mas Danu semua tahu akulah yang dia sembunyikan?Aku menatap tajam Bik Hanum yang masih menunduk.“Iya Mbak, sebaiknya nunggu Den Rangga

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Undangan Biru

    “kabarnya sih kalau enggak dibalikin secepatnya dia mau dipenjara,” sambung Bik Dewi.“Kasihan ya, bik. Anaknya masih kecil-kecil,” ucapku tulus.“Halah, ngapain kamu kasihan sama dia, dulu juga dia enggak kasihan sama kamu. Itu namanya karma Nis,” cetus Bik Dewi kembali mengingatkanku kelakuannya yang membuat keluargaku malu dan menjadi bahan gibah sekampung.Tak ingin terlalu lama menggosip dengan Bik Dewi, gegas kucari alasan untuk segera pergi.“He, iya udahlah bik, namanya juga hidup. Aku pergi dulu ya, bik. Mau jalan-jalan biar sehat.”“Iya, bener tuh. Lagi hamil harus banyak gerak jangan ndekem aja di rumah,” tuturnya. Aku tersenyum dan mengangguk. Kembali melanjutkan langkah yang tertunda. Mendung sore di penghujung bulan, rintik hujan tiba-tiba datang. Gegas kuputar badan, mempercepat langkah kembali ke rumah. “Duh, mbak kok ujan-ujanan sih, nanti kalau mbak sakit kami yang dimarah Den Rangga,” Bik Ratih berlari tergopoh setelah melihatku di depan pagar, membawakan payung

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Loh. Pinjam Uang?

    ….Aku duduk di teras rumah, menyesap secangkir susu ibu hamil dilengkapi dengan buah buahan. Kuusap perut yang telah membuncit. Sudah empat bulan Mas Danu tidak pulang, kerinduan kami hanya bisa tersalurkan melalui panggilan video call. Rumah yang kini telah berdiri megah terasa begitu sepi meski ada dua orang pembantu dan beberapa satpam yang diminta Mas danu untuk menjaga. Padahal aku tak perlu mendapatkan penjagaan yang begitu ketat tetapi suamiku itu memaksa. Bahkan di setiap sudut rumah terpasang CCTV, entah apa yang dia khawatirkan padahal disini tak mungkin ada orang yang akan berniat jahat.Ponsel disampingku bergetar, kulihat layar dan segera menggeser tombol hijau. Memperlihatkan wajah Mas Danu. Aku tersenyum menyambutnya.“Udah sarapan Sayang?” tanyanya.Aku mengangguk. “Mas dikantor? Udah sarapan?”Ingin sekali aku menjadi istri sepenuhnya seperti dulu, menyiapkan makanan untuknya, menyiapkan pakaiannya. Namun, aku harus bersabar, setelah mengatakan alasannya tak ingin me

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Suamiku Banyak Duit

    “150 juta, apa kamu punya uang sebanyak itu untuk membayar rumah Mbah?” tanya Tante Diana, menatap Mas Danu merendahkan, tatapan sinis jelas sekali ia tak suka suamiku bertanya.Mas Danu tersenyum, menunduk sesaat. Lantas mengangkat wajah menatap Tante Diana. “Cuma segitu?”Tante Diana melotot bersiap menjawab ucapan Mas Danu, tetapi Om Herman lebih dulu maju.“Kamu enggak usah sok belagu, daripada banyak tanya lebih baik cepet kasih uangnya. Lagipula ini juga gara-gara mertuamu itu.”Aku memegang lengan Mas Danu, lalu menggeleng lemah, memintanya untuk tidak menuruti kemauan saudara-saudara bapak.Pakde Tarno tertawa keras. “Udah pasti dia itu enggak punya duit, mobil itu mungkin punya bos atau majikannya, bangun rumah juga pasti hasil ngutang. Orang miskin mana mampu dapat orang kaya. Apalagi Nisa dulu sering gagal nikah sampai delapan kali, orang kaya mana yang mau menikah sama dia, juga pasti mikir-mikir,” caci Pakde tarno.Bapak keluar dengan wajah merah padam, menggertakan gigi

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Tamu Tak Diundang

    “Bagaimana pekerjaanmu Nu?” tanya bapak, kami sednag berbincang sambil menonton televisi.“Lancar Pak. Besok aku berangkat ke kota, mungkin kali ini sedikit lama karena memang pekerjaan lebih banyak,” jawab Mas Danu.Ah, rasanya berat sekali melepas kepergiannya, tetapi aku tak bisa berbuat apa-apa.“Berapa hari Mas disana?” Aku menyahut.Mas Danu mengedikkan bahu. “Kalau pekerjaan udah selesai nanti secepatnya aku pulang Dek.”Aku mengangguk lemah. Sebenarnya aku ingin tahu lebih detail apa pekerjaan suamiku di kota, tetapi setiap kutanyakan ia selalu menjawab sekenanya. Buruh, sopir, dan yang lainnya, entah mana pekerjaan tetapnya, dan lebih membingungkan bagaimana seorang buruh bisa memberiku banyak barang mahal. Aku pernah mencecar Mas Danu dari mana uang untuk membeli semuanya, dia menjawab itu uang halal, aku tak perlu khawatir. Jika sudah waktunya ia akan mengajakku ke kota. Aku sendiri tak tahu kapan waktu yang tak pasti itu.Suara deru mesin mobil membuatku beranjak, melihat

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Pilihan Bapak Terbaik

    “Mas, keluarga mas di kota gimana? Maksudku apa mereka enggak ….”“Yang penting aku cinta kamu,” sela Mas Danu sebelum aku selessi bicara.Aku menatap kesal, ia masih terus asyik mencuci ubi yang baru saja kita ambil dari kebun belakang. Karena terlalu sibuk mengurus bapak, kebun kecil peninggalan ibu itu telah lama tak terurus. Bunga-bunga kesayangan ibu banyak yang telah mati, rencana aku akan merawatnya kembali nanti setelah bapak sudah betul-betul sehat.“Bukan gitu Mas, maksudku nanti mereka apa enggak keberatan kalau tahu mantunya ini orang desa.” Kupertegas kata tanpa basa-basi.“Yang penting aku cinta kamu,” jawabnya, mengulang jawaban yang sebelumnya.“Mas, aku serius,” rajukku. Baginya mungkin bukan masalah, tetapi bagi seorang perempuan respon keluarga besar akan sangat mempengaruhi kehidupan setelah menikah, walaupun terpenting adalah sikap dan kebijakan suami.“Aku juga serius Dek.” Mas Danu menghentikan aktivitasnya, lalu menatapku dengan senyuman.Aku menghela nafas. “

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Tragedi Sebidang Tanah

    Aku dan Mas Danu berjalan beriringan setelah mencuci dari sungai, sesekali tertawa berserita bagaimana dulu aku sok jual mahal kepadanya. Alhasil aku pula yang harus merayu untuk melakukan ritual malam pertama. Jika mengingat hal itu aku seperti ingin menyembunyikan wajah dari Mas Danu.“Udahlah Mas, jangan diinget-inget terus.” Aku berjalan lebih dulu, ngambek menjadi salah satu jurus pamungkas menyembunyikan rasa amalu.Mas Danu mempercepat lengakh mengejarku. “Nanti kita ceritain ke anak-anak,” ledeknya di sela tawa.“Awas aja kalau sampai bocor ke anakku.” Aku mengacungkan jari mengancam. mas danu tertawa, terus menggodaku. Di depan rumah kami berpapasan dengan Bik Dewi yang sedang menyapu halaman. “Dih, makin mesra aja kalian,” cetusnya.“Eh Bik, pagi-pagi udah nyapu, rajin banget. biasanya nunggu Indah.” Aku tersenyum ramah, sudah pasti ucapanku itu akan membautnya kesal. Memang bukan rahasia umum lagi Bik Dewi akan menunggu menantunya untuk beberes rumah. Terkadang masak pu

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Rindu

    Bapak tersenyum melihat menantu kesayangannya, memeluk erat seakan enggan melepas. Kusiapkan teh hangat dan cemilan. Singkong rebus, apa mungkin Mas Danu masih mau memakan makanan desa itu? Kembali kutaruh singkong rebus yang ada di dalam nampan, urung kubawa keluar.Sedikit kikuk, karena aku seperti tak menghadapi orang lain. Aku hanya menunduk duduk di depan Mas Danu dan lelaki yang mengenalkan dirinya candra tersebut.Mas Danu beralih, kini ia telah duduk disampingku, mengusap lembut perutku yang masih rata. Senyum mengembang sempurna disudut bibirnya, lesung pipi menambah manis wajahnya. Jantungku berdetak lima kali lebih cepat. Setelah satu minggu, wajah yang kurindu kini terpampang jelas di depan mata, tapi anehnya aku merasa kikuk sebab dia seperti orang lain, apa hanya karena penampilannya?“Papa datang,” lirihnya. Berulang diciumnya perutku.“Ehem.” Aku berdehem, melihat Candra dan bapak senyum-senyum sendiri memperhatikan tingkah Mas Danu, tetapi sepertinya pria itu tak kun

  • Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya   Katanya Minggat!

    Kubuka dompet yang tak terlalu besar, menghela nafas berat melihat isinya yang hanya tinggal uang pecahan lima ribuan.“Nis,” panggil bapak. Gegas kututup kembali dompetku lalu menghampiri bapak, tak ingin bapak tahu kesusahan yang sedang kualami.“Iya Pak, ada apa?” Aku bersimpuh di bawah bapak yang sedang duduk di kursi roda. Bapak mengeluarkan uang seratus ribuan, lalu meraih tanganku dan meletakkan uang itu.“Ini bayar arisanmu, jangan pakai mas kawinmu,” titahnya.Aku menghitung uang tersebut. “Bapak dapat uang sebanyak ini dari mana? Kalau ada uang, lebih baik buat kontrol Bapak besok.” Aku mengembaikan uang tersebut.Kalaupun ada uang memang seharusnya digunakan untuk kontrol bapak besok pagi, karena memang sudah jadwalnya.“Danu kasih ini buat pegangan bapak, kamu pakai aja dulu buat bayar arisan. Enggak usah mikirin bapak, itu kewajibanmu lebih penting Nduk.” Bapak mengusap pucuk kepalaku. Tak kuasa kutahan tangis. “Ya udah Nisa pakai dulu, besok untuk berobat Bapak, aku j

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status