Langkah kaki ringan Zha memasuki sebuah kost,an kecil , ruang yang sebenarnya lebih pantas disebut gudang kumuh itu terletak di pinggir rumah susun.Langkahnya terhenti di depan pintu kamar yang terbuat dari asbes itu ketika matanya menangkap bercak darah tercecer di lantai. Zha menyandarkan punggungnya di dinding kayu yang sudah mulai rapuh. Berkali-kali dia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu membuka pintu kamar mandi."Nisa, kamu sudah pulang Nak?" suara lirih diiringi batuk berat itu milik Aisyah. Wanita paruh baya itu segera menoleh sesaat setelah membersihkan sisa darah di ujung bibirnya."Bu, kemari lah jika Ibu sudah selesai." panggilan Zha pada Aisyah menandakan jika wanita itu adalah Ibunya.Aisyah segera menghampiri Zha yang langsung memapahnya dan mendudukkannya di ranjang reyot milik mereka."Bu, lihatlah. Aku membawa pulang uang banyak. Simpanlah, aku akan segera mencari tambahannya." Zha mengulurkan beberapa uang pada Aisyah yang langsung menggenggam erat uang tersebut
Di Rumah Utama Keluarga Albarez.Pemuda yang super Cool dan tampan itu tidak lain adalah Azzero Halilintar yang kini sudah berusia sekitar 26 Tahun.Di ruang tengah Rumah utama yang berwarna putih nan luas itu, pemuda ini terus mendekap seorang wanita yang masih terlihat sangat cantik meskipun usianya sudah bukan muda lagi, ia terus memeluknya dengan tidak mempedulikan kehadiran sosok pria paruh baya yang terlihat masih juga tampan dan gagah, yang sedari tadi hanya menghela nafas menatap mereka di sudut sofa."Lepas Azze! Aku gerah!" seru sang wanita yang sedang dipeluk oleh Halilintar itu."Biarkan dulu Mam, aku merindukanmu." bantah Halilintar."Kamu tidak punya malu, seharusnya kamu itu sudah memeluk kekasihmu bukan aku. Lepas atau aku akan menendangmu!""Kamu tidak akan bisa melakukannya Mam, tenanglah. Sebentar lagi Az akan pergi lagi. " Halilintar masih saja memeluk wanita itu."Lihatlah! Papamu cemburu padamu." wanita itu melirik sang suami yang hanya tersenyum menatap jagoan
Dari ujung sana, terlihat seorang gadis kecil berusia sekitar 16 tahun berjalan sedikit tergesa menghampiri Zha yang saat ini tengah bersandar di pintu mobilnya.Zha yang melihatnya langsung menarik tangan gadis kecil itu dan membawanya masuk ke dalam mobil."Kenapa menemuiku? Sudah ku bilang aku yang akan menemuimu. Aku yang akan menemuimu! Kamu dengar tidak sih?" ucap Zha pada gadis kecil itu."Ibu sakit kak Zha, dia memintaku menemuimu!" bantah gadis itu.Mendengar jawaban gadis itu Zha sedikit terkejut lalu mengerutkan alisnya, "Sakit? Itu pasti gara-gara kamu nakal, sampai Ibumu sakit karena memikirkanmu,""Tidak kak Zha, Lea tidak nakal." lagi-lagi gadis itu membantah sambil menatap wajah Zha, tapi kali ini dengan kening yang berkerut."Kenapa semakin hari penampilan kak Zha seperti seorang mafia? Kak Zha tidak cantik lagi," celetuk polos Lea sang gadis kecil, membuat Elang yang duduk di kursi depan terkekeh."Diamlah. Kamu tidak akan mengerti keadaanku." jawab Zha, kemudian dia
Di Mansion mewah tempat Gadis Beracun tinggal.Seorang pria gagah menghampirinya, "Nona Zha."Zha yang sedang duduk bersantai di ruangan tengah itu menoleh dan menatap tajam pada pria gagah itu, "Edward. Ada apa menemuiku?""Nona Zha. Ada sedikit Masalah di kota X. Sepertinya Tuan Afrizal sedang ingin bermain-main dengan kita. Aku sudah menyelidikinya dan dia adalah penghalang dari bisnis club' malam kita di sana." Erwan menjelaskan dengan detail pada Zha.Senyum tipis bergulir di ujung bibir Zha."Aku akan segera membereskannya, aku paling tidak suka ada seseorang yang mengusik wilayah kekuasaan kita. Aku sudah sering memperingatkannya, tapi dia masih berani bermain di belakangku, dan kali ini tidak akan ada penawaran yang kedua." ucap Zha, kemudian melenggang pergi begitu saja meninggalkan Edward, Pria yang selama ini sudah menemaninya dan diberi kepercayaan penuh untuk mengurus bisnis gelapnya itu.Zha sudah duduk menjadi penumpang yang baik di salah satu mobil miliknya, sementara
Pria itu sejenak menatap cukup serius pada Zha, kemudian melangkah lebih mendekat."Aku bukan siapa-siapa. Tapi aku tahu tentang dirimu, bahkan aku tahu semua tentang keluargamu." pria itu mengulurkan tangannya ke hadapan Zha."Perkenalkan. Namaku Ardogama. Mungkin saja kamu sudah pernah mendengar namaku." Pria itu menyebutkan namanya.Zha melirik tangan Pria itu yang masih menggantung di udara. Dia hanya tersenyum miring dan enggan untuk menyambut tangan pria itu."Ardogama. Tentu saja aku sangat mengenal namamu. Karena namamu begitu menggelegar di dunia Mafia. Kamu ketua Mafia Klan Selatan, bukan?" ucap Zha. Gadis itu menggeser kakinya ke belakang untuk menghindari tangan Pria itu. Baginya, bersalaman dengan orang lain adalah hal yang mustahil ia lakukan.Kemudian Zha menoleh kembali pada Ardogama yang telah menarik tangannya kembali itu dan menyimpannya di belakang punggung."Ada masalah apa, sampai Tuan Ardogama susah payah mengundangku?" tanya Zha.Ardogama menarik nafas panjang,
Pagi ini setelah menghubungi seseorang, Zha kembali menaiki sebuah mobil dan kali ini dia mengendarai mobilnya seorang diri. Hingga beberapa waktu lamanya dalam perjalanan, mobilnya berhenti di depan sebuah markas besar milik Klan Poison Of Death yang kini sudah dikuasai olehnya.Nama Poison Of Death sendiri adalah nama pemberian Zha pada Markas dan kelompok Klannya yang artinya Racun kematian, sesuai dengan keahlian Zha yang sangat ahli dalam membuat racun sekaligus penangkalnya.Dia memasuki ruangan markas dan segera di sambut oleh beberapa pria berpakaian hitam yang langsung menunduk hormat padanya."Nona. Anda sudah datang? Mari silahkan." ucap seseorang mendampingi Zha berjalan memasuki sebuah ruangan khusus di mana di sana telah ada Elang yang sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.Tanpa senyuman atau ekspresi sedikitpun dia melangkah mendekati seorang pria yang tak lain adalah Afrizal yang kedua tangannya terikat dan masih terduduk di atas lantai.Zha mengangkat dagu Afrizal
"Cepatlah naik! Kita akan menemui kak Zha." sang ibu segera menarik lengan Lea, sementara Erwan sudah siap di depan menginjak gas.Mobil itu melesat begitu cepat membawa Riana dan Lea menuju sebuah Mansion megah nan mewah. Tapi itu bukanlah tempat Zha bersama Elang dan anak buahnya melainkan Mansion khusus milik Zha yang sengaja disiapkan untuk ibu dan adik angkatnya itu.Setelah memasuki pagar yang tinggi dan kekar yang terbuat dari besi baja itu, mobil Erwan berhenti dan Erwan segera membukakan pintu untuk Riana dan Lea. Lalu mempersilahkan mereka untuk keluar.Mereka menuruni mobil, mengedarkan pandangannya dengan masih menyimpan sejuta pertanyaan. "Rumah yang megah ini milik siapa? Apa kak Zha bekerja di rumah ini?" Lea nampak melihat banyaknya penjaga yang berjaga di setiap sudut."Ibu juga tidak mengerti." Riana menyahut demikian."Nyonya. Silahkan." Erwan membukakan pintu.Riana belum melangkahkan kaki, dia bertanya dahulu pada Erwan," Dimana anak saya?""Nona Zha sedang menungg
Saat ini Zha sedang berada di Apartemen khusus miliknya yang biasa ia tempati bersama Elang.Wajah Zha terlihat sedikit muram ketika menatap sebuah foto dirinya lengkap dengan seragam sekolah itu, dia duduk bersandar di kursi hitam di dalam kamarnya. Kemudian mata tajamnya menerawang jauh ke masa sulitnya ketika dulu."Heh....Anak pelacur! Sebenarnya kami tidak suka melihatmu bersekolah di sini. Tapi karena kamu pintar, jadi kami akan menerimamu sebagai teman dengan satu catatan, Kamu harus bersedia mengerjakan semua tugas kami!" kata seorang siswi cantik, dia melempar buku tebal ke atas meja Zha.Zha tidak menjawab sedikit pun melainkan melangkah pergi tanpa mempedulikan ocehan mereka padanya."Hei... Sialan kamu ya! Miskin tapi belagu!" teriak siswi itu kesal melihat Zha tidak memperdulikannya.Zha masih saja melangkah, memasuki sebuah ruang perpustakaan.Ia memilih untuk tidak memikirkan ucapan mereka yang setiap saat menghinanya. Tangannya meraih sebuah buku fisika dan memilih ban
Saat Aisyah melihat genggaman tangan Putranya pada jari jemari Alexa, dia sudah dapat mengerti jika kedatangan Elang untuk menemuinya kali ini sepertinya bukan untuk urusan pekerjaan. Tapi ada hal lain.Apalagi ketika mereka menyambutnya di bawah tangga tanpa melepaskan genggaman tangan mereka, Aisyah makin yakin dengan dugaannya.Dia menatap dingin pada mereka, seolah olah meminta penjelasan dari mereka. Padahal dalam hatinya, dia cukup tersenyum senang.Pernah bahkan seringkali malah, Aisyah mengkhawatirkan Putranya itu.Memikirkan Kapan Elang akan menyusul adiknya? Mengkhawatirkan, Apakah ada yang mau menerima Elang yang pernah berada di dunia gelap?Adakah keluarga yang mau dengan tulus menerima Elang, seperti keluarga Albarez yang bisa menerima Zha dengan tulus?Begitu banyak kekhawatiran Aisyah saat merenungkan nasib percintaan Putranya kelak. Tapi ketika melihat apa yang ada di hadapannya itu, hatinya mendadak lega seketika.Alexa!Benar! Gadis itu sangat tepat untuk Putranya.
Pagi berikutnya,Elang mengajak Alexa untuk menemui Ibunya.Sebelum datang berkunjung, Elang terlebih dulu menghubungi Aisyah.Elang sedikit terkejut saat Ibunya mengatakan jika Ibunya sekarang sudah pindah dan tinggal di rumah utama. Memang benar, Aisyah sekarang tinggal bersama beberapa orang pelayan dan anak buahnya di Rumah Besar milik Tuan Glendale.Sudah ada satu bulanan dia tinggal disini. Sebenarnya dia tidak ingin lagi masuk ke rumah ini. Mengingat begitu banyak kenangan pahit yang pernah terjadi di rumah ini. Tetapi entah kenapa, pada akhirnya dia sendiri memutuskan untuk tinggal disini.Atau mungkin Aisyah hanya ingin mengingat semua kenangan masa lalu.Disinilah dia dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan kelembutan oleh kedua orang tuanya. Meskipun pada saat itu dia tahu jika kedua orang tuanya, Ayah dan Ibunya itu bukanlah orang tua biasa seperti orang tua teman temannya. Tapi orang tuanya adalah seorang ketua mafia. Aisyah sadar jika dirinya adalah pu
Ketika mendengar Elang mengatakan kata kencan, Alexa tidak bisa untuk tidak membulatkan kedua matanya. Tentu saja dia terkejut, "Apa yang kamu katakan Elang? Kencan? Siapa yang kencan?"Elang belum menjawab, dia malah tertawa kecil terlebih dahulu, kemudian berkata, "Yang kencan ya kita, memang kenapa? Aku mengajakmu keluar untuk kencan. Kamu keberatan?"Sumpah demi apapun, saat ini wajah Alexa memerah. Jantungnya berdegup keras. Dia langsung merasa gugup.Biasanya dia akan diajak keluar oleh Elang untuk melakukan sebuah pekerjaan. Kalau dulu saat dia masih berada di Klan Selatan, dia hanya tahu, keluar hanya untuk menyelesaikan misi. Jadi bagaimana dia tidak gugup, saat tiba tiba saja Elang mengatakan jika akan berkencan dengan dirinya?Sungguh, hati gadis ini merasa seperti terbang diatas awan."Hei, kenapa malah melamun? Kamu keberatan ku ajak pergi kencan?" Elang bertanya lagi, itu membuat Alexa tersentak dari lamunannya. Wajahnya semakin memerah."Bukan begitu. Tapi aku, aku han
Saat ini Halilintar masih bersama Zha di kamar Mereka. Mereka melepaskan rindu dan keresahan hati mereka yang sempat mereka rasakan tadi. Beberapa saat kemudian Zha menanyakan Zhilan dan Zhelin padq Halilintar."Apa Mereka rewel dan membuatmu kewalahan Hal?" Zha bertanya.Halilintar menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, "Tidak Zha. Apa kamu tahu, Mereka sangatlah pengertian. Mereka sama sekali tidak rewel, seperti tahu jika orang tuanya sedang ada masalah.""Sungguh kah?" Zha senang mendengarnya dan segera menghampiri Ranjang si kembar. Dia menatap dua putri kembarnya yang masih terlelap.Zha mengambil Zhilan dan menggendong bayi itu. Mata Zha berkaca-kaca. Dia bersyukur bisa kembali lagi kesini. Hampir saja dia tidak bisa melihat tumbuh kembang mereka, jika saja Victor membawanya ke kantor polisi dan dia di penjara.Kehidupan Mereka akan jauh lebih menyedihkan dibanding hidup Zha. Mereka akan mendengar jika lahir dari seorang wanita pembunuh dan kini ibunya mendekam di penjara.
Halilintar masih seperti tidak percaya dengan apa yang ia lihat. "Zha! Benarkah ini kamu? Atau aku hanya sedang bermimpi?" Halilintar merasa jika ini mungkin hanyalah mimpi karena dia terlalu memikirkan Zha seharian ini. Tapi dia tersentak dan sadar ketika Zha menyentuh pipinya dan bersuara."Hall! Ini aku. Aku telah kembali untuk kalian." Zha mengusap air mata pria itu yang masih membekas di sana.Halilintar tercengang lalu segera berteriak,"Zha.." Halilintar menarik kasar tubuh Zha dan memeluknya dengan begitu erat."Kamu kembali untuk kami? Benarkah ini?" tanya Halilintar di sela isakannya seperti tidak percaya dengan semua ini."Maafkan aku yang sudah berniat meninggalkan kalian. Aku tidak akan pergi lagi Hall. Mulai sekarang aku akan disisi kalian." jawab Zha juga ikut terisak di pelukan suaminya.Halilintar menarik tubuh Zha yang tampak lemas kedalam kamar. Lalu membawanya duduk di sofa. Berkali kali mengusap wajah istrinya dan menghujaninya dengan kecupan hangat."Ceritakan p
Tidak ada yang tidak terkejut dengan ucapan Aisyah barusan saat dia memerintah Elang untuk mengumpulkan anak buah Zha dari Poison Of Death dan dari anak buah klan Selatan milik almarhum Ardogama dulu.Semua orang terkejut, terlebih lagi Elang. Dia tidak menyangka jika Ibunya akan berkata demikian dan bahkan berpikir hingga sejauh itu.Elang masih merasa tak percaya dan langsung mengguncang bahu ibunya."Ibu, apa yang kamu bicarakan? Ibu tidak boleh melakukan itu. Kita tidak boleh membangun kembali Klan Jangkar Perak. Aku juga tidak mau mengingkari janjiku pada Ayah!" ucap Elang."Tapi keadaan ini terdesak Elang. Kita harus menyelamatkan adikmu. Apa kamu mau adik kamu Zha membusuk di penjara?" tegas Aisyah.Elang menggelengkan kepala, "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan mengeluarkan Zha dari penjara Bu, percayalah. Tapi jika untuk membangun Klan Jangkar Perak kembali, aku tidak setuju. Zha juga pasti akan kecewa pada kita, jika kita melakukan itu." balas Elang. Saat ini,
Kedua pria bapak beranak itu telah melangkah meskipun dengan perasaan yang mulai tidak tenang dengan kedatangan Victor kali ini.Aaron maupun Halilintar sama sama menatap Victor yang sudah berdiri di depan pintu, dan yang membuat mereka semakin tidak tenang adalah kali ini Victor datang tidak sendiri melainkan ada tiga polisi di belakang Victor.Victor memberi salam, mengangguk hormat dan melangkah, "Selamat siang Tuan Aaron Albarez dan Halilintar. Maaf jika kami mengganggu waktu kalian." ucap Victor."Selamat siang juga detektif Victor. Silahkan masuk." sahut Aaron. Meskipun Victor adalah anak dari Kim, tetapi Aaron sangat menghormati karena pria muda yang berdiri di hadapannya itu adalah Seorang Detektif. Victor juga sangat menghormati keluarga ini, mungkin jika bukan karena tugas dan bukan karena tanggung jawabnya mungkin saat ini Victor pun tidak akan ada disini dengan membawa Sebuah kepentingan seperti ini. Sebelum datang kemari hari ini, Victor juga sempat Dilema. Tetapi ini
Setelah beberapa saat Halilintar berbicara pada Zha, Dokter meminta izin untuk memeriksa keadaan Zha kembali guna memastikan keadaan Zha.Mereka menyingkir, memberi ruang untuk dokter dan Tim. Zha diperiksa kembali, pemeriksaan yang sangat teliti. Dan Dokter tidak menemukan hal yang perlu dikhawatirkan lagi. Keadaan kondisi Zha dinyatakan telah membaik.Semua orang bernafas lega sekarang. Dokter juga bernafas lega. Dia merasa seperti telah terlepas dari rantai besi yang membelenggu lehernya. Segera memberi perintah pada tim untuk memindahkan Zha ke ruangan rawat inap.Setelah Zha sudah dipindahkan, Dokter berpamitan. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi pada keadaan Nona Zha. Jadi kalau begitu, saya akan permisi. Saya akan tetap kembali lagi secara rutin untuk memeriksa kembali perkembangan kesehatan Nona Zha dengan berkala." dokter berkata pada mereka khususnya pada Halilintar.Halilintar mengangguk, "Terima kasih Dokter, atas semua usaha kalian. Benar benar terima kasih."Dok
"Dokter..! Dokter.! Apa yang terjadi pada istri ku? Buka .!!!" Halilintar menggedor gedor pintu.Tidak ada yang mempedulikan Halilintar meskipun dia sudah berteriak kencang dan menggedor gedor pintu. Tim Dokter didalam sana sedang bekerja seoptimal mungkin untuk melakukan transfusi darah pada Zha dengan memburu waktu yang tersisa."Hall, tenanglah. Mereka sedang berusaha. Jangan mengganggu konsentrasinya tim dokter. Istrimu pasti baik baik saja. Ayo kembali." Aaron lagi lagi berusaha untuk menenangkan hati Putranya, kemudian menarik tangan Halilintar kembali ke bangku panjang."Pa, pasti terjadi sesuatu pada Zha Pa.! Mereka semua terlihat panik!" kata Halilintar."Tidak Hall, mereka sedang mengejar sisa waktu yang dimiliki Zha. Bisakah kau berpikir jernih dulu dan jangan selalu berprasangka buruk?!!" tegas Aaron, membuat Halilintar mendongak menatap wajah Ayahnya."Maafkan aku Pa, aku sungguh panik." jawab Halilintar mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.Aaron tahu jika H