Hati Sekar semakin hancur tak berkeping. Setelah dia mengetahui penyakit yang diderita oleh suaminya itu, suatu penyakit yang sangat serius yaitu dia mengidap penyakit kanker otak.Sekar luruh dan berlutut di lantai dengan tangisnya yang pecah begitu memilukan, ia terus terisak. Meratapi keadaan! kenapa sebagai seorang istri ... dia tidak tahu apa yang diderita suaminya selama ini.Ditambah lagi mertua yang selalu memojokkan dirinya. Di cap sebagai menantu yang tidak peka, yang tidak perhatian dan tidak peduli dengan suami. Membuat hatinya semakin luluh lantah, hancur tak berwarna dan tak berbentuk."Kamu itu istrinya, seharusnya kamu tahu. Peka kenapa suami sering sakit kepala. Cari tahu apa penyakit yang dia derita? bukan diam-diam saja dan sekarang kamu tahu apa yang dia derita, kamu hanya bisa menangis. Menyesali? kamu benar-benar mantu yang tidak berguna yang tidak saya inginkan. Ternyata kamu tidak tulus mencintai putra saya." Suara mama mertua berge
Selamat membaca.Sekar mengusap pipinya yang basah, mengambil beberapa lembar tisu untuk mengeringkan wajahnya. Seraya menatap wajah sang suami yang menggunakan alat bantu pernafasan di hidungnya.Orang tua Sanjaya masuk untuk menjenguk putranya yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Sekar menggeser tubuhnya memberi tempat untuk papa dan mama.Mama menatap putranya, dengan tatapan yang penuh rasa sedih. "San ... cepat sembuh. Mama kangen sama kamu, ingin melihat senyum kamu. Mendengar canda kamu." Tangannya mengusap kepala dan mengecup keningnya."Apa belum ada perubahan juga. Kar ..." sapa papa melirik pada Sekar yang duduk di ujung tepi ranjang pasien."Belum, Pah ... malah kata dokter tubuh nya semakin menolak asupan obat." Jawabnya Sekar dengan lirih.Mendengar jawaban Sekar barusan. Papa meriksa urat nadi, lalu duduk kembali sambil mengembuskan nafasnya dengan kasar."Ini semua gara-gara kamu, coba gak menikah sama kamu. Mungkin putra ku tidak sampai seperti ini." Mama dengan
Selamat membaca."Sayang ... aku minta ma-maaf bila selama ini ... belum bisa membahagiakan mu dan anak-anak." Tambah Sanjaya dengan suara nyaris tidak terdengar.Kepala Sekar menggeleng. "Jangan pernah bilang begitu, selama ini aku bahagia sama kamu. Dan anak-anak pun bahagia dan sayang sama papa San." Sekar berusaha mengulas senyumnya walaupun getir. Ia memeluk dada Sanjaya."Aku bahagia. Di akhir hidup ku ini bisa mempersunting wanita yang sangat aku cintai, hanya maaf ... aku tidak bisa membahagiakan mu berlama-lama, bahkan mungkin kamu tidak pernah bahagia selama bersama ku--""Yank, aku bahagia bersama mu. Kamu mencintai ku dengan tulus dan cinta dari dulu sampai sekarang tidak berubah bukan?" Sekar senyum samar sambi menempelkan punggung tangan yang dingin di pipi."Aku, sangat. Sangat mencintai mu sayang. Tidak pernah sedikitpun atau sekejap pun rasa itu hilang dari hati ku, ku sangat mencintai mu!" menggerakan jemarinya menulusuri wajah Sekar. Aku tidak rela bila kamu menderi
Setibanya di rumah. Anak-anak menyambut kepulangan mamanya yang sendu dan berusaha tersenyum, memeluk mereka berdua yang tidak terasa air mata kembali bercucuran. Walau dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk tidak menangis, namun tetap saja pada kenyataannya air mata terus meluncur. Membasahi pipi menghiasi mata yang sudah sembab."Mama jangan nangis terus, nanti Mama sakit! Ridho nggak mau Mama sakit, sudah cukup Papa saja yang kini sudah tiada." Ridho menggeleng sembari mengusap wajah Sekar yang terus banjir dengan air mata."Hooh Mama itu nggak boleh nangis terus, nanti mama sakit terus meninggalkan kita gimana? kita sama siapa!" ocehan anak-anak begitu polos menatap wajah sang mama."Mama tidak menangis terus kok, ini cuman kelilipan saja!" Sekar merasa wajahnya yang basah dengan air mata."Nggak nangis, kok bercucuran air mata. Mama bohong ya! Shasa juga kangen sama Papa, papa sekarang sedang apa ya Mah?" Shasa menatap kosong teringat papa San."Jangan lupa, Abang dan adik doain
Dengan mata yang sembab, Sekar menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria yang kini berjongkok di hadapannya dekat batu nisan Sanjaya! namun dia begitu menundukkan pandangan seraya bibir yang berkomat-kamit. Mungkin dia sedang baca doa."Siapakah pria ini? rasanya aku belum pernah melihatnya! apakah dia teman atau kerabat, selama ini Sanjaya tidak pernah ketemu dengan pria ini." Batin Sekar seraya menundukkan kembali pandangannya ke arah batu nisan sang suami.Pria itu tampak sudah berumur, mungkin usianya sekitar 45 tahun akan tetapi wajahnya masih tersirat tampan dan rupawan! tubuhnya pun tinggi besar dengan dada bidang, perutnya begitu sixpack terlihat walau dari balik kemeja putihnya yang saat ini dia kenakan.Selama di sana tidak ada kata yang terucap hingga pada akhirnya ... Sekar beranjak lebih dulu dan tidak lama kemudian pria itu pun menyusul, menyudahi doanya."Maaf, kalau boleh tahu Anda siapa ya? teman atau kerabat dia kah?" Sekar yang pada akhirnya bertanya juga karena me
Zulfan berdiri dan kembali memegangi tangan Sekar sembari berkata. "Anak-anak ... setuju kan ... kalau papa dan mama menikah lagi? dan dengan itu kita akan bersama lagi setiap hari," Zulfan dengan santainya berkata demikian pada anak-anak.Sekar menggeleng dan menepis tangan Zulfan. "Tidak, itu tidak benar! tidak mungkin kita menikah lagi. Apapun alasannya." Sekar langsung pergi.Zulfan terdiam memandangi punggung Sekar yang pergi meninggalkannya begitu saja, begitupun dengan anak-anak yang langsung menghentikan aktivitasnya yang kemudian saling pandang. Ada dua rasa yang mereka rasakan! rasa senang dan juga tidak. Mereka pun ingin mamanya bahagia, buat apa mama dan papa bersatu kalau harus merasai tersiksa ataupun kecewa.Sekar mendudukan dirinya di tepi tempat tidur, dia merasa teramat kesal. Dan tidak habis pikir dengan pemikiran Zulfan yang ingin kembali padanya bahkan rela melepaskan Lulu dan juga Fitri. "Sudah gila apa kamu Mas! Jangankan kamu beristri dua, beristri 1 atau sekal
Jangan lupa komennya ya ... biar author semangat lagi."Sekalipun harus mengorbankan perasaanku sendiri. Iya? ha! kenapa Mas nggak memikirkan itu dari dulu, sebelum Mas berbuat yang macam-macam dengan wanita lain, seharusnya dulu Mas memikirkan itu gimana akibatnya? kalau Mas melakukan hal yang aneh-aneh! akibatnya berpisah atau gimana? anak-anak nanti gimana! Tidak 'kan? tidak pernah memikirkan itu 'kan?" ucap Sekar dengan jelas namun dengan suara pelan.Zulfan mengangkat tangannya yang di arahkan kepada Ridho dan Shasa yang masih berada di dalam kolam renang. Sebelum kembali menoleh pada Sekar. "Mas harus minta maaf seperti apa lagi agar kamu memaafkan Mas? apa harus aku bersujud di kaki kamu untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah aku lakukan dahulu?""Tidak perlu. Mas, Mas tidak perlu minta maaf sampai segitunya karena tidak akan merubah keputusan aku yang tidak ingin kembali padamu! sekarang pikirkan saja istri kamu, tidak perlu m
Setelah terdiam beberapa saat. Sekar pun mengiyakan untuk di antar pulang oleh Arka yang langsung mengulas senyum nya. Lantas turun lebih dulu."Jalan sini saja!" Arka meminta Sekar keluar dari jalan yang sama dengannya. Dia berdiri sambil memasang jas nya di atas kepala.Sekar turun, berjalan di depannya. Berpayung jas yang sama dengan Arka sampai naik ke dalam mobil yang ia bukakan.Blugh.Arka berjalan kembali mengitari setengah mobilnya, setelah Sekar berada di dalam mobil.Sekar tampak mengigil. Arka menoleh ke belakang mengambil sebuah jaket yang lalu ia berikan pada Sekar. "Pakailah."Sekar pun mengambil dan memakainya. "Terima kasih banyak!""Sama-sama, lumayan dari pada kedinginan." Arka dengan seulas senyum nya.Kemudian, Arka membuka kemeja nya sehingga hanya meninggalkan kaos dalam saja. Memperlihatkan otot-otot nya yang tampak kekar, dada bidang, perut rata. Biarpun usianya dah lebih kepala empat. Tetapi dia terlihat lebih gagah dan Maco.Penglihatan Sekar tertuju ke luar
"Ada apa, Bi?" Sekar menatap heran."Itu, Mbak Lulu datang dengan wajah bonyok." Kata bibi dengan suara tergesa-gesa."Apa?" Sekar langsung melonjak naik setengah berlari ke depan.Sekar menatap sang adik yang memang benar yang dikatakan oleh bibi. Kalau Lulu mukanya bonyok. “Kamu kenapa, Lu?” langsung menegur dan mendekat. Lulu berhambur ke dalam pelukan Sekar dan menangis tersedu dalam pelukan sang kakak. Tangis Lulu terdengar begitu pilu. Membuat hati Sekar Terenyuh dan sedih melihat kondisi sang adik dengan perasaan yang bertanya-tanya. “Kak. Aku mau bercerai dengan mas Zulfan. Di sudah selingkuhi aku dengan baby sitter ku.” Kata-kata itu membuat Sekar terkesiap dan setengah tidak percaya. Kok Zulfan dengan tega melakukan hal yang sama dan parahnya lagi tega main tangan segala, sehingga wajah Lulu bonyok. Sekar mengusap punggung Lulu dengan lembut. “Bercerita Lah pada ku. Ada apa yang sebenarnya.” Kemudian, Lulu menceritakan semua pada Sekar yang sebenarnya terjadi, kalau Zul
Sekitar pukul sepuluh malam. Cece baru pulang dengan langkah yang sedikit mengendap. Kepala celingukan. Lulu yang masih berada di ruag Tengah karena menunggu suaminya yang belum pulang, bahkan nomornya pun tidak aktif. Membuat Lulu merasa khawatir dan cemas. “Dari mana kamu? Bukannya saya sudah bilang cukup satu jam saja keluarnya? Maksimal sebelum pukul sepuluh sudah pulang. ini pukul berapa nih? sepuluh lewat.” Lulu merepet dan menuding ke arah jarum jam. Cece menunduk dalam. Dan juga merasa gugup khawatir ketahuan, akan tetapi Zulfan belum pulang dan dia masih menunggu Cece masuk dulu. “Maaf, Bu … saya kebablasan,” ucapnya. “Lain kali … harus tepat waktu. Sebab kalau ada apa-apa. Saya yang akan kena, sebab kamu tinggal di sini.” Jelas Lulu disertai tatapan yang tajam menelisik ke arah Cece yang menunduk. Tetpi dengan ketajaman mata Lulu. Bisa mendapatkan sebuah kejanggalan dari Indera penglihatannya tersebut. “I-iya, Bu! Saya janji … lain kali akan tepat waktu.” Dengan masih me
"Memang benar. Mereka akan semakin tumbuh dewasa dan mengerti, aku hanya khawatir saja." tambah Arka. Setelah beberapa saat, Arka bangun dan tanpa bicara membawa sang istri di gendongnya. Sekar terkesiap dan langsung merangkul pundak Arka takut jatuh. Arka membawanya ke kamar mandi. Untuk mandi bersama, akan tetapi sebelum membersihkan diri Arka malah melanjutkan pergulatan nya berakhir beberapa waktu lalu. Di dalam bathub pun jadi, mereka bermain cantik.Setelah 30 puluh menit kemudian, mereka pun menyudahi dan gegas membersihkan diri di bawah shower yang hangat.Kini mereka sudah berada di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Sekar. Di Tengah perjalanan mereka mampir di sebuah restoran. Untuk makan malam terlebih dulu, perut terasa sangat lapar apalagi tenaganya sudah terkuras habis dengan permainan tadi.“Aku akan membuat syukuran untuk mendoakan kehamilan ku ini. Apa kau setuju?” Sekar menatap suaminya yang sedang meni
Setelah beberapa saat berada di panti asuhan, pasangan suami istri yang tengah dilanda kebahagiaan menyambut kehamilannya itu pun berpamitan pada penjaga pantai asuhan."Oke, kalau begitu kami pamit dulu!Pak, Bu ... lain kali kami akan datang lagi dan jangan lupa kalau ada keperluan, langsung telepon saja. Insya Allah akan dengan senang hati membantu!" ucap Sekar yang ditambahi oleh sang suami."Insya Allah, kami akan membantu dengan cepat jika memang di panti ini memerlukan suatu ataupun bantuan, kalian bisa datang ke rumah ataupun ke kantor itu sama aja!" Arka mengulurkan tangannya pada pengurus panti asuhan."Iya, kami tidak akan ragu-ragu untuk meminta bantuan jika kami sedang memerlukan, tapi untuk sekarang ini anak-anak sedang membutuhkannya, dan kami mengucapkan sangat banyak-banyak terima kasih! atas semua yang sudah diberikan dan juga tawarannya!" balas seorang lelaki paruh baya."Oke, kalau begitu kami pergi dulu dan mohon doanya untuk kebaikan keluarga kecil kami! Assalamu'
"Aku akan siap sedia menemani istri ku ke bidan dan periksakan kehamilan," ucap Arka dengan nada yang bersungguh-sungguh sebagia suami yang harus bertanggung jawab."Iya, aku tahu kau tidak akan membiarkan ku sendirian. Makasih ya untuk semuanya!" Sekar memeluk mesra suaminya.Kini Sekar sudah berada di kantor menghadapi segudang pekerjaannya yang seharian kemarin terbengkalai begitu saja."Selamat pagi Sekar, saya dengar kemarin kamu tidak masuk kerja?" Tiba-tiba suara itu berada di ruangan Sekar, membuat wanita itu terkesiap."Oh selamat pagi Pak!" Sekar langsung berdiri dan membungkuk hormat kepada pria yang menjadi bosnya itu."Selamat pagi juga! Gimana kabar kamu? Saya dengar kemarin tidak masuk, sakit atau gimana? soalnya tanpa konfirmasi sama saya!" ucap pria yang bernama Alex lantas duduk di kursi yang ada di hadapan meja kerja Sekar."Oh iya, maaf Pak. Saya lupa untuk ngasih konfirmasi bahwa kemarin saya tidak masuk kerja!" Sekar menundukkan kepalanya dengan masih di posisi b
Pagi-pagi Sekar dah deg-degan bagai menunggu sesuatu yang teramat menebarkan. Mondar-mandir di kamar mandi, menanti hasil dari tes peck yang dia gunakan untuk tes kehamilan.Sekar terus mondar-mandir sambil melipat tangannya di dada sesekali mengigit kuku nya. Sambil mengarahkan pandangannya pada wadah kecil yang ada tes peck nya."Ya Allah ... mudah-mudahan ada kabar baik. Semoga aja aku benar hamil!" sesaat wajah Sekar mendongak ke langit-langit.Pada waktu yang diperkirakan sudah tepat, tangan Sekar perlahan mengambil benda kecil tersebut dan mengeceknya, seakan-akan pandangan mata pun tidak ingin berkedip biar jelas sejelas-jelasnya dapat melihat hasil dari usahanya."Bismillah ..." Dalam hati ia berucap. Dan ternyata hasilnya garis 2. Membuat Sekar seakan-akan ingin berjingkrak dan mengucap syukur. Sebab garis 2 itu diyakini kalau memang tanda kehamilan.Lalu Sekar keluar dari kamar mandi dengan sangat tergesa-gesa dan mendatangi suaminya yang sedang nge-gym di ruangannya. Dengan
Sekar terdiam mengingat yang dikatakan oleh suaminya barusan. Teringat dia memang sudah telat 1 minggu, tapi dia pikir ah cuma satu minggu ini. Nggak mungkin juga dia hamil."Kenapa kok diam, sudah telat kan?" Arka kembali bertanya dan penasaran karena istrinya malah diam."Nggak tau juga, perasaan memang telat seminggu! tapi apa mungkin aku hamil?" Sekar menatap sang suami dengan datar."Lho ... mana ku tahu, kan aku belum pernah hamil? Sayang 'kan sudah dua kali hamil masa nggak ngeh. Gitu!" Arka mengusap bahu sang istri dengan lembut."Apa Iya ya, kan?" Sekar bertanya pada dirinya sendiri sembari bengong. Apa mungkin dia sedang mengidam. Apalagi akhir-akhir ini kepala terasa sering pusing sedikit mual juga dan pengennya banyak rebahan, bekerja pun kurang bersemangat."Gimana kalau kita ke bidan aja ya? periksakan biar jelas!" Ajak Arka dengan sangat penasaran dan kalau memang iya, berarti itu kabar yang sangat baik, membahagiakan untuknya dan keluarga."Em ... Jangan dulu deh, nant
"Aku pun ikhlas dan Ridho jika memang ditakdirkan tidak punya anak dari benih ku sendiri dan aku tidak akan pernah mau menikah lagi atau pun berpisah darimu!" ucap Arka dengan sangat serius dan menggenggam kedua tangan Sekar.Bibir Sekar tampak tersenyum getir. Lalu kembali memeluk Arka dengan sangat erat.*****Suatu saat Sekar merasa kurang fit dan bermalas-malasan di rumah. Dan kini dia sedang menemani anak-anak berenang. Setelah dari pagi kerjaan cuma baringan saja."Mama, ayo ke sini berenangnya. Jangan di pinggir malu." Teriak Shasa sambil berenang ke tengah."Hooh. Cemen ... berenangnya di situ Mulu ach. Sini dong yang jauh seperti aku sama kalau dengan papa Arka." Tambah Ridho seraya mencipratkan air ke arah mamanya."Ahc, Mama 'kan cuma nemenin kalian saja. Jadi tak apa lah di pinggir juga kalian yang ke tengahnya tapi jangan sampai ke tempat yang lebih dalam ya takut!" Jawab Sekar sambil naik dan duduk di tepi kolam renang."Aku kemarin renang sama papa Zul, ke tempat yang d
Selamat membaca.Zulfan berlari mendatangi sumber suara yang begitu riuh dan mengagetkan sambil menggendong putranya. Dan ternyata sambil memangku Putri kecilnya, barang yang ada di hadapannya dilempar sehingga di ruangan tersebut seperti tak ubahnya kapal pecah. Lulu berteriak-teriak seiring suara tangisan putrinya.Zulfan langsung memberikan putranya kepada bibi dan dia mendatangi Lulu yang tampak stres. Lantas mengambil putri kecilnya takut kenapa-napa, suasana di sana tidak karuan dengan apa yang harus didengar, teriakan Lulu dan tangisan anak-anak sungguh mengacaukan pendengaran."Bi, tolong bawa anak-anak jauh dari sini. Biar saya mengurus mamanya!" Pinta Zulfan sembari memberikan putri kecilnya kepada Bibi agar membawa balita itu menjauh dari ruangan tersebut.Lantas jawaban kembali mendekati sang istri yang sedang meraung menangis, melemparkan pas foto, vas bunga. "Kamu apa-apaan sih? ini bisa bahaya!" langsung Zulfan merangkul bahu Lulu dan membawanya jauh dari tempat itu."K