Mike meletakkan amplop cokelat besar di atas meja, tepat di hadapan Arlen. Namun, Arlen tidak langsung mengambilnya. Ia hanya menatap benda itu dengan ekspresi penuh tanda tanya. "Bukalah, Tuan. Firasat saya ternyata benar. Anda pasti akan terkejut setelah melihatnya!" ujar Mike dengan nada serius. Mendengar ucapan itu, Arlen akhirnya mengambil map yang ada di hadapannya dan dengan cepat membukanya. Matanya menyipit begitu melihat isi di dalamnya—sebuah foto yang memperlihatkan Emily bersama saingannya, Arnold. Rahangnya mengeras. Tangan yang memegang foto itu sedikit menegang. "Bisa kau jelaskan apa ini, Mike?" tanyanya, rasa penasaran mulai menguasai dirinya. Mike menarik napas sebelum menjawab. "Seperti yang Anda lihat, Nona Emily adalah istri Tuan Arnold. Tapi bukan istri pertama atau satu-satunya. Dia adalah istri kedua." Arlen mengerutkan kening. "Istri kedua? Mereka menikah secara resmi?" Rasa penasaran itu semakin besar, karena setahunya Arnold adalah lelaki yang
Arnold memejamkan matanya sejenak, mencoba meredam amarah yang bergelora dalam dadanya. Namun, emosi itu terlalu kuat untuk diabaikan. Dengan gerakan kasar, ia meraih gagang telepon kabel di mejanya dan menekan tombol cepat. "Ke ruanganku sekarang!" perintahnya tanpa basa-basi. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menutup telepon, seolah keberatan mendengar suara siapa pun saat ini. Tak butuh waktu lama, suara ketukan terdengar di pintu. Tok… Tok… "Masuk!" suara Arnold terdengar tajam. Pintu terbuka, dan seorang pria berjas rapi melangkah masuk dengan sikap profesional. Robert, asisten pribadi sekaligus tangan kanan Arnold, berdiri tegap di hadapan bosnya. "Siap, Tuan!" ucapnya, suaranya stabil, tanpa ekspresi berlebihan. Arnold menarik napas dalam, lalu dengan gerakan cepat, ia merapikan kembali surat gugatan cerai yang baru saja ia remas sebelumnya. Matanya masih menatap dokumen itu dengan penuh ketidakpercayaan. Bisa-bisanya Emily yang lemah lembut mengajukan gugatan cerai.
Robert menunduk hormat sebelum keluar dari ruangan Arnold. Sepeninggal Robert, Arnold masih duduk di kursinya, memikirkan kembali perkataan asistennya. "Kenapa aku menahannya? Karena aku menginginkannya melahirkan anak untukku, bukankah itu sudah jelas? Kenapa Robert malah mempertanyakannya?" Arnold menghela napas panjang, berusaha mengabaikan kebingungan yang muncul dalam benaknya. Ia kemudian kembali larut dalam pekerjaannya, mencoba menekan segala pikiran yang mengganggu. --- Sementara itu, di Sebastian Building Corp—atau lebih dikenal dengan nama SBC, perusahaan kontraktor yang dibangun oleh mendiang kakek Arlen—suasana tetap sibuk seperti biasa. SBC adalah perusahaan terbesar kedua di industri konstruksi, hanya berada di bawah Maurer Corp, yang dipimpin oleh Arnold. Kedua perusahaan ini terus bersaing, terutama dalam merebut proyek-proyek besar. Namun, persaingan mereka juga membuat dunia kontraktor semakin kompetitif, menjadikan mereka dua perusahaan terbaik di bidang
"Itu... tadi saya sedang memijat kaki Nyonya dan tidak berani langsung kemari!" jawab Emily terbata, napasnya sedikit tersengal karena tergesa-gesa. "Ya sudah, lupakan saja. Cepat duduk! Ada hal yang ingin aku sampaikan!" Emily segera masuk, diikuti Arlen yang berjalan di belakangnya. Mereka duduk berseberangan, suasana di antara mereka terasa tegang. "Begini, Emily!" Arlen mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya dan menyodorkannya kepada Emily. Emily menatap benda itu dengan ragu. "Apa ini, Tuan?" tanyanya pelan. "Buka saja!" Tangannya sedikit gemetar saat Emily membuka amplop tersebut. Matanya menelusuri isi dokumen di dalamnya, membaca setiap kata dengan perlahan. Setelah selesai, dia menunduk dalam, ekspresinya sulit ditebak. "Kau ingin membalaskan dendammu, bukan? Aku akan membantumu, Emily!" suara Arlen terdengar mantap. Emily menggeleng lemah. "Ini tidak akan berlaku, Tuan. Tuan Arnold memegang surat perjanjian hitam di atas putih tentang pernikahan kontrak kami. Saya
Arlen sudah tahu bagaimana Arnold di dunia bisnis, jadi tidaklah mudah untuknya membantu Emily lepas dari Arnold jika Arnold mempertahankan Emily. "Untuk saat ini kau tidak perlu memikirkan apa-apa, cukup rawat nenekku sebaik mungkin!" Emily mengangguk, di sapunya kedua pipinya yang basah. Emily menegakkan kepalanya dan menatap Arlen yang sedari tadi terus menatapnya. "Terima kasih Tuan Arlen! Saya hanya ingin hidup saya damai. Saya tahu betul tidak mungkin mengembalikan masa lalu yang sudah hancur, terlebih mengembalikan kehadiran kedua orang tua saya." "Ya, kau benar. Aku tidak akan bisa mengembalikan kebahagiaanmu yang dulu, tapi aku akan berusaha membuat ke depannya jauh lebih baik." Tanpa sengaja Arlen mengucapkan janji untuk melindungj Emily. Melihat Emily yang kehilangan kedua orang tuanya dan tidak memiliki siapa siapa lagi ditambah hidupnya yang tragis di tangan Arnold, membuatnya iba. Ya hanya perasaan iba, tidak lebih. "Kembalilah menemani nenek, dia pasti kesep
Arnold kembali ke ruangannya setelah mengantarkan Sarah ke mobilnya. Baru saja ia memasuki ruangan, permintaan Sarah untuk menceraikan Emily kembali berkelebat dalam benaknya. "Apakah aku harus menceraikan Emily?" Arnold menggeleng, ada perasaan tidak rela kalau harus melepaskan wanita itu, tapi apa alasannya Arnold sendiri juga tidak tahu. Arnold urung duduk, ia melangkah menuju lemari penyimpanan berkas dan meraih amplop yang berisi surat gugatan cerai dari pengadilan. Dibukanya amplopnya, Arnold hendak membaca kembali isi surat gugatan itu, tapi saat ia mengeluarkan suratnya, beberapa lembar foto ikut terjatuh. Arnold menunduk, dipungutnya foto-foto tersebut satu per satu. Nafas Arnold rasanya tercekat di tenggorokan saat menatap wajah lugu Emily. Ia sangat cantik bahkan tanpa make up sekalipun. Satu per satu ditatapnya foto istri keduanya tersebut, hampir di semua foto Emily tersenyum manis, Arnold benci mengakuinya tapi Emily memang sangat cantik padahal latar foto itu sa
Napasnya mulai tidak beraturan. Arnold memilih untuk keluar dari kamar Emily saat semuanya terasa membayanginya; kemarahannya, kasarnya dia, dan tangis Emily. Saat Arnold menutup pintu kamar Emily, Sarah datang dan menatapnya dengan tatapan emosi. "Apa yang kamu lakukan di sini, Hon?" tanya Sarah dengan mata berkabut emosi. Alih-alih menjawab pertanyaan Sarah, Arnold justru bertanya balik. "Dari mana saja kamu? Bukankah kamu sudah pergi dari tadi? Kenapa baru kembali?" Pertanyaan Arnold yang bertubi-tubi membuat Sarah kelimpungan. Sarah diam membisu, otaknya blank, bingung harus menjawab apa. "Kenapa hanya diam? Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Arnold dengan tatapan penuh selidik. Arnold terbawa emosi setelah melihat beberapa kebenaran akan Emily, ia menyalahkan dirinya sendiri yang sejak awal mencap Emily sebagai wanita jalang yang hanya ingin uangnya. Terlebih selama ini ia selalu mendengarkan perkataan Sarah. "T-tadi aku pergi mengunjungi sahabatku yang seda
Air matanya bercucuran, Sarah terduduk di lantai dengan tangisan yang semakin pilu. Empat tahun pernikahan mereka, Sarah tidak pernah selemah ini, ia sangat ceria, wajahnya selalu dihiasi oleh senyuman, bahkan tak pernah sekalipun Arnold melihatnya menangis. Melihat Sarah yang terluka karena perbuatannya, sorot mata Arnold mendadak sayu. Bagaimanapun hidupnya hingga hari ini adalah pemberian Sarah, lalu bagaimana bisa ia menyakiti wanita rapuh ini? Arnold merunduk, diraihnya tubuh Sarah dan dibantunya untuk berdiri. Arnold menatap lamat wajah yang penuh dengan air mata itu dan diusapnya kedua pipinya. "Maaf, aku tidak bermaksud melukai hatimu, aku terbawa emosi." Arnold memberi kecupan pada puncak kepalanya. Kepandaian Sarah meratapi kemalangannya membuat Arnold kembali jatuh pada permainan wanita itu. Empat tahun, bukan waktu yang sebentar, Sarah sudah terlatih memanfaatkan kondisinya pasca kejadian waktu itu untuk menarik simpati Arnold. Dan dalam pelukan Arnold, diam-dia
Emily mengabaikan panggilan Arnold. Ia bergegas masuk ke dalam rumah, namun belum sempat menutup pintu, tangan Arnold lebih dulu menahan daun pintu. "Tunggu!" seru Arnold. Emily tak membalas. Ia membatalkan niat menutup pintu dan langsung berjalan menuju kamarnya. "Emily!" panggil Arnold lagi, kali ini berdiri di depan pintu kamar, menahan diri untuk tidak masuk. "Emily, Sayang. Aku ingin bicara. Keluar, Sayang!" serunya sambil mengetuk pintu berulang kali. Namun Emily tetap diam. Rupanya, ia masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri, mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Setelah selesai, ia keluar dengan pakaian rapi dan wajah yang sudah dipoles tipis dengan makeup. Panggilan Arnold masih terdengar samar dari balik pintu. Emily menatap pantulan dirinya di cermin, lalu bergumam pelan, "Kita lihat seberapa sabar kamu kali ini." Satu jam berlalu, dan Arnold masih bertahan. Tak ada suara keras, tak ada bantingan, hanya panggilan lembut dan ketukan sabar. Setelah merasa cukup,
Emily yang kelelahan dan mengantuk cukup terkejut dengan rentetan pertanyaan yang Arnold lontarkan padanya. "Tenang dulu, kau seperti orang kesurupan," ucap Emily, mencoba meredakan ketegangan. Ia berjalan menuju teras rumah, merasakan ngilu di kakinya setelah seharian berdiri saat memasak di rumah makan. Ia duduk dan mulai memijat kakinya yang pegal. "Jelaskan padaku, kenapa Alex baru mengantarkan mu pulang malam-malam begini?" tanya Arnold yang masih berdiri di depannya, tak sabar menunggu penjelasan. "Duduk dulu," pinta Emily tanpa menatapnya. Arnold menarik kursi dan duduk di sampingnya. "Alex hanya mengantarku pulang, lalu aku tertidur di dalam mobilnya. Dia tidak tega membangunkanku karena melihatku kelelahan. Dia baru membangunkan ketika kau meneleponku tadi. Apa jawaban itu cukup membuatmu tenang?" "Kau seharusnya meneleponku. Aku pasti akan menjemputmu!" balas Arnold, masih dengan nada tak puas. "Aku sudah mencoba menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif. Dan kau juga
"Terima kasih, Sayang," ucap Emily lembut. Arnold menatapnya dalam. "Katakan, kau ingin hadiah apa? Aku akan memberikannya untukmu." Emily tersenyum hangat. "Kau adalah kado terindahku." Tanpa aba-aba, Arnold menarik tengkuk Emily perlahan dan menyatukan bibir mereka. Emily memejamkan mata, menikmati momen pertama di mana ciuman mereka bukan lagi karena paksaan atau marah, tapi karena cinta yang tulus. Pagutan lembut dari Arnold membuat Emily tenggelam dalam rasa yang hangat. Saat akhirnya Arnold melepaskan ciuman itu, tangannya mengusap bibir Emily yang kini memerah karena ulahnya sendiri. "Hari pertama jadi kekasihmu... aku sudah gagal. Aku malu pada diriku sendiri," gumam Arnold penuh sesal. Emily terkekeh. Tatapan mata Arnold yang sayu dan menyesal justru membuatnya tampak lebih menawan. "Masih ada waktu sebulan. Ini baru hari pertama. Bagaimana bisa kau sudah menyerah?" katanya dengan nada menggoda. Arnold menghela napas. "Begini saja, bagaimana kalau hari ini kita jalan-
"Maafkan aku, tapi jangan memintaku untuk tidak menemuimu selama itu, aku tidak akan sanggup." Seulas senyuman terbit di bibir mungil Emily. Diusapnya rahang kokoh Arnold yang ditumbuhi bulu-bulu halus. "Aku tidak setega itu, tapi bisakah kau berjanji untuk tidak cemburu berlebihan? Cemburumu itu membuatku seperti seseorang yang tidak bisa dipercaya." "Susah!" Arnold menyandarkan kepalanya di pundak Emily, hidung mancungnya bahkan menempel di ceruk leher Emily. Mendekapnya seperti ini rasanya masih seperti mimpi, Arnold benar-benar tidak menyangka. Dan Emily memintanya untuk tidak menemuinya selama tiga hari, bukankah ini hukuman yang berat? "Jalani saja, nanti juga terbiasa. Kau tahu kenapa aku ingin suami yang sabar?" "Kenapa?" "Karena aku ingin bermanja-manja tanpa takut dimarahi." Arnold mengangkat wajahnya dan menatap manik mata bening milik kekasih hatinya. "Apa aku pemarah?" "Ya, kau dulu pemarah," jawabnya pelan. "Sekarang tidak lagi, percaya padaku!" Arnold mendekat
Arnold menggeleng. "Aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi." "Deal!" Emily menyodorkan jari kelingkingnya dan disambut oleh Arnold dengan mengaitkan jari kelingkingnya. "Deal! Mulai malam ini, kau kekasihku!" Arnold memasangkan cincin di jari manis Emily dan mengecupnya singkat. "Aku akan memantaskan diriku agar bisa menjadi suami yang baik untukmu." Keduanya saling menatap penuh cinta, memulai hubungan yang baru tanpa dibayangi gelapnya masa lalu. "Apa boleh aku menciummu?" Emily menggeleng. "Belum satu jam kita berpacaran, kau sudah ingin menciumku? Tahan dulu!" Emily membalikkan tubuh Arnold dan mendorongnya menuju mobilnya. "Pulanglah, sudah malam!" usirnya. Arnold mendadak berhenti. Ia teringat sesuatu dan berbalik. "Berikan nomor handphone-mu. Masa aku tidak punya nomor kekasihku?" Disodorkannya handphone kepada Emily. "Aku lupa." Emily meraih handphone Arnold dan memasukkan nomor barunya. "Sudah." "Ya sudah, kamu masuk dulu, baru aku akan pergi." Emily melamb
Perkataan Arnold terpotong saat handphone Emily berdering. "Tunggu sebentar." Emily beranjak dari duduknya dan mengangkat telponnya. 'Ya, Alex.' Mendengar nama Alex, selera makan Arnold mendadak hilang. Namun demi menghargai Emily yang sudah memasak untuknya, Arnold pun menghabiskan makanannya. Setelah makannya selesai, Arnold bergegas keluar dan mencoba menghidupi mobil Emily. "Bisa?" Entah kapan Emily berdiri di samping pintu. "Tidak mau menyala sama sekali. Kemungkinan besar akinya." Arnold kembali menatap jam di pergelangan tangannya. "Bengkel sudah tutup, besok baru bisa memanggil mereka kesini." Arnold keluar dari mobil dan memberikan kuncinya kembali kepada Emily. "Mau aku antarkan pulang?" Pertanyaan klasik yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan. "Tapi aku takut ada yang marah," sindir Arnold. Mendengar mantan suaminya tampak seperti sedang cemburu, membuat Emily tersenyum simpul. "Aku bebas, tidak ada yang marah!" Seulas senyum terbit di bibir Arn
"Arnold!" Arnold menatapnya dengan tatapan penuh damba. Mantan suaminya terlihat lebih berisi, menandakan dia bahagia saat mereka sudah berpisah, bukankah begitu? "Emily." Arnold berdiri dan mengulurkan tangannya. Sempat bingung, Emily tidak langsung menerima uluran tangan Arnold. Arnold pun menarik kembali tangannya. "Apa kabar? Kau semakin cantik," pujinya. Netranya masih menatap lekat wajah Emily yang semakin cantik. Bercerai darinya ternyata membuat Emily benar-benar bahagia. "Baik, bagaimana kabarmu?" tanya Emily balik. "Seperti yang kau lihat." Setelahnya keduanya tampak canggung karena pikiran jelek mencemari otak masing-masing. Terlebih Arnold, melihat Emily tampak dekat dengan laki-laki yang bernama Alex, membuatnya cemburu tapi apa dia berhak untuk cemburu? Bukankah tadi dia sendiri yang bilang bahwa Emily berhak untuk bahagia. "Silahkan makan, aku kebelakang dulu." Emily tersenyum sebelum berlalu, jantungnya mendadak berdebar kala Arnold balas terseny
Emily menangis tersedu, meratapi kerasnya hatinya selama ini. Nyata benar adanya, setelah kehilangan, barulah ia merasakan bahwa cinta itu masih ada. Hanya saja, selama ini tertutup oleh kebencian. "Emily, tenang dulu, Sayang." Nyonya Ruby mengusap puncak kepalanya dan mengecupnya dengan penuh kasih sayang. "Biarkan Emily menumpahkan kegundahan hatinya, Ma. Biar dia lega," ucap Papa William. Nyonya Ruby mengangguk dan membiarkan Emily menjadikan pundaknya sebagai tempat bersandar. Setelah tangisannya reda, Emily menarik napas dalam-dalam berulang kali, berusaha menenangkan diri. Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya agar detak jantungnya kembali stabil. "Ma, maafkan Emily. Emily terbawa perasaan." "Tidak apa-apa, Sayang. Mama mengerti." Emily memejamkan matanya sesaat sebelum meraih pulpen yang ditinggalkan Arnold. Dengan hati yang mantap, ia menandatangani dokumen itu. "Arnold ingin kamu tetap tinggal di sini. Di luar kurang aman, Sayang." Emily menggeleng. "Tidak bisa, Ma. K
Melihat Emily berhenti, Nyonya Ruby ikut berhenti dan saat menyadari sayup terdengar suara Arnold, Nyonya Ruby langsung mengalihkan perhatian Emily. "Sebelum pulang apa ada yang mau Emily beli? Misalnya makanan atau apa?" Fokus Emily terpecah dan Arnold juga sudah tidak berbicara. Emily menggeleng, "Ma, apa Arnold belum datang? Maksud Emily apa dia tidak ke sini?" Emily akhirnya kembali bertanya. "Arnold belum menghubungi Mama sejak tadi, Nak. Nanti Mama telpon dia." "Jangan, Ma. Tidak usah, mungkin dia sedang sibuk." Emily kembali melanjutkan langkah kakinya menuju lift. Dia membuang jauh pikiran buruknya, 'tidak mungkin Arnold sedang dirawat, dia pasti sedang sibuk,' batinnya. Sesampainya di kediaman Nyonya Ruby. Emily dibawa ke kamar yang sudah di siapkan oleh Nyonya Ruby. Kamar yang seharusnya di tempati oleh Emily dan Arnold. Tapi karena Arnold tadi malam mengisyaratkan perpisahan dengan alasan yang cukup masuk akal, Nyonya Ruby akhirnya pasrah, setidaknya sampai d