Nyonya Ruby menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak keruh oleh amarah. Sementara itu, di rumahnya, Arnold menatap ponselnya dengan dahi berkerut. Kenapa Mama terdengar begitu marah? pikirnya. Tanpa berpikir lama, ia mengambil kunci mobil dan bergegas menuju kediaman orang tuanya. Kebetulan sekali, ia juga ingin mengadukan perbuatan Emily kepada Mamanya agar wanita itu tidak lagi mendapat perlindungan. Mobil Arnold melaju dengan kecepatan tinggi, pikirannya dipenuhi bayangan Emily. Rasa frustrasi menyelimutinya. Wanita itu memang tidak tahu diuntung! gerutunya dalam hati. Setibanya di rumah orang tuanya, ia langsung turun dan masuk dengan tergesa-gesa. Di dalam, Nyonya Ruby sudah menunggunya di ruang keluarga. Wajahnya dingin, matanya menatap tajam ke arah putranya. “Duduk!” titah Nyonya Ruby, suaranya penuh wibawa, tetapi tampak jelas bahwa ia menahan emosi. Arnold mengernyit. Apa Emily memutarbalikkan fakta dan menuduh Sarah melukain
Seorang wanita paruh baya dengan tubuh semampai menghampiri Emily, matanya yang tajam memperhatikan gadis itu yang tampak kebingungan. “Kau mencari siapa?” tanyanya ketika melihat Emily menengok ke sana kemari, wajahnya tampak cemas. Emily segera menoleh dan mengangguk sopan sebelum menjawab, “Saya mencari penjaga apartemen ini, Nyonya. Saya ingin menyewa unit.” Wanita itu mengamati Emily sejenak, lalu tersenyum tipis. “Ah, kau mau menyewa unit? Mari, mari ikut denganku!” ucapnya sembari berbalik dan berjalan menyusuri lorong. Emily mengikuti langkahnya dengan hati-hati. Apartemen ini memang terlihat tua, tetapi setidaknya bisa menjadi tempat berlindung sementara. Sesekali, ia melirik ke kanan dan kiri, mengamati dinding yang mulai kusam dan koridor yang agak gelap. Mereka berhenti di depan sebuah pintu yang sudah terbuka. Wanita itu melangkah masuk lebih dulu, lalu mempersilakan Emily masuk. “Silakan, ini kamar saya,” ucapnya sembari berjalan menuju sofa dan duduk dengan santai
Hari Pertama di Kediaman Sebastian Hari pertama bekerja di Kediaman Sebastian, Emily sudah mengenakan seragam khas pelayan berwarna hitam dengan celemek putih. Seragam itu pas di tubuhnya, bahkan terasa sedikit ketat, membingkai lekuk tubuhnya yang berisi. Meski merasa sedikit canggung, Emily berusaha untuk tetap percaya diri. Pagi itu, setelah merapikan diri, ia bergegas keluar dari kamarnya, menuju kamar Nyonya Audrey—nenek dari Arlen—yang terletak di lantai bawah, dekat dengan ruang tengah. Begitu sampai, ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu dengan pelan. Tok... tok... tok... Menunggu sejenak, lalu ia membuka pintu dan masuk dengan langkah penuh kehati-hatian. Semua yang harus dilakukannya telah dituliskan oleh John, kepala pelayan di rumah ini, sehingga Emily tidak merasa ragu dalam bertindak. Di dalam kamar yang luas dengan nuansa klasik elegan, ia melihat Nyonya Audrey sudah duduk di atas tempat tidurnya. Kepala wanita tua itu bersandar pada sandaran tempat t
"Bukankah ini waktunya makan?" tanyanya saat melihat Emily tidak memegang apa pun di tangannya. Nyonya Audrey punya jadwal khusus dan semua itu sudah sesuai arahan Dokter yang menanganinya. Emily langsung berdiri dan membungkuk hormat. Arlen memicingkan matanya, menatap seragam yang dikenakan Emily. Karena langsung bekerja, John memberikannya seragam bekas pengasuh lama, sehingga ukurannya agak sempit di tubuh Emily. Arlen tiba-tiba teringat sesuatu yang dikatakan asistennya semalam. Nama Emily Rose terdengar tidak asing. Asistennya memang belum memberi tahu secara pasti dan meminta Arlen menunggu hingga ada informasi yang valid. Meski demikian, Arlen memiliki firasat buruk. "Ganti pakaianmu!" titahnya, lalu membalikkan badan dan keluar dari kamar neneknya. Emily menatap Nyonya Audrey, meminta kepastian. "Gantilah," ucap Nyonya Audrey dengan lembut. Seragam yang dikenakan Emily memang kurang pas. Bawahannya terlalu pendek karena tubuh Emily lebih tinggi dibandingkan pe
"Kembalikan ke kamar Emily! Apa aku pernah melarangmu berbelanja? Kenapa kau masih saja memakai barang yang bukan milikmu?" tegurnya tajam. Sarah terperanjat mendengar perkataan Arnold. Wajahnya yang tadi ceria berubah menjadi penuh amarah. "Apa barusan kau memarahiku?" Kini, giliran Sarah yang emosi. "Tidak. Aku hanya mengingatkanmu, jangan pernah memakai barang milik orang lain. Siapa pun itu!" tegas Arnold dingin. "Tapi Emily sudah tidak ada lagi, Hon! Dan perhiasan ini hanya dibiarkan begitu saja!" protes Sarah kesal. Sejak awal, Sarah memang ingin mengambil perhiasan Emily. Ia merasa iri karena Nyonya Ruby tidak pernah memberikannya hadiah semacam itu. Baru setelah setahun kepergian Emily, ia memberanikan diri untuk memilikinya. "Sini, aku yang akan mengembalikannya kalau kau tidak mau!" Arnold menarik kotak perhiasan dari tangan Sarah, lalu berlalu pergi, meninggalkan istrinya yang hanya bisa mengumpat dalam hati. Awas saja kau, nanti aku akan mengambilnya saat kau
"Nyonya Sarah yang menyuruh saya membiarkan Nona Muda pergi membawa mobil sendirian. Saya tidak tahu bahwa Nona sedang hamil!"Pasca kejadian, sopir baru mengetahui bahwa Emily hamil dan mengalami keguguran. Hal itu membuatnya merasa sangat bersalah karena telah menuruti perintah Sarah untuk membiarkan Emily membawa mobilnya sendirian."Bukannya Emily yang memaksa membawa mobil?" Arnold teringat bahwa Sarah mengatakan Emily sengaja ingin membunuhnya dengan menabrakkan mobilnya. Itu berarti Emily yang seharusnya mengatur, bukan Sarah."Apa kau yakin Sarah memintamu membiarkan Emily pergi sendirian? Lalu siapa yang pergi lebih dulu pagi itu? Sarah atau Emily?""Saya lupa-lupa ingat, Tuan. Kalau tidak salah, Nona Emily."'Emily?' batinnya. Itu agak berbeda dengan yang ada di bayangannya. Seharusnya Sarah yang pergi lebih dulu karena menurut pengakuan Sarah, dirinya ditabrak dari belakang oleh Emily."Ah sudahlah, untuk apa aku memusingkannya!" gumamnya sambil berlalu.Arnold masuk ke dal
"Sungguh meresahkan!" desah Arlen sambil menuju wastafel, wajahnya mendadak panas. Ia membuka keran dan membasuh wajahnya beberapa kali, berharap air dingin bisa meredakan panas yang tiba-tiba menjalar ke seluruh wajahnya. Ingatan akan kejadian barusan masih segar di benaknya. Pemandangan yang tak sengaja tertangkap oleh matanya membuat jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan diri. Sementara itu, di dalam kamarnya, Emily dengan wajah merah padam segera membetulkan kancing bajunya yang terbuka. Tidak hanya satu, tapi dua! Bisa dibayangkan bagaimana perasaannya saat ini. "Kenapa kamu bodoh sekali, Emily! Jangan-jangan dia berpikir aku sengaja menggodanya? Ya ampun, bagaimana ini? Aku malu sekali!" gerutunya sambil membenamkan wajah ke bantal. Rasa malu itu begitu besar hingga ia ingin bersembunyi selamanya. Tapi sayangnya, ia tak bisa melakukan itu. Sebentar lagi jam makan siang, dan ia harus keluar untuk menyuapi Nyony
Mike meletakkan amplop cokelat besar di atas meja, tepat di hadapan Arlen. Namun, Arlen tidak langsung mengambilnya. Ia hanya menatap benda itu dengan ekspresi penuh tanda tanya. "Bukalah, Tuan. Firasat saya ternyata benar. Anda pasti akan terkejut setelah melihatnya!" ujar Mike dengan nada serius. Mendengar ucapan itu, Arlen akhirnya mengambil map yang ada di hadapannya dan dengan cepat membukanya. Matanya menyipit begitu melihat isi di dalamnya—sebuah foto yang memperlihatkan Emily bersama saingannya, Arnold. Rahangnya mengeras. Tangan yang memegang foto itu sedikit menegang. "Bisa kau jelaskan apa ini, Mike?" tanyanya, rasa penasaran mulai menguasai dirinya. Mike menarik napas sebelum menjawab. "Seperti yang Anda lihat, Nona Emily adalah istri Tuan Arnold. Tapi bukan istri pertama atau satu-satunya. Dia adalah istri kedua." Arlen mengerutkan kening. "Istri kedua? Mereka menikah secara resmi?" Rasa penasaran itu semakin besar, karena setahunya Arnold adalah lelaki yang
"Maafkan aku, tapi jangan memintaku untuk tidak menemuimu selama itu, aku tidak akan sanggup." Seulas senyuman terbit di bibir mungil Emily. Diusapnya rahang kokoh Arnold yang ditumbuhi bulu-bulu halus. "Aku tidak setega itu, tapi bisakah kau berjanji untuk tidak cemburu berlebihan? Cemburumu itu membuatku seperti seseorang yang tidak bisa dipercaya." "Susah!" Arnold menyandarkan kepalanya di pundak Emily, hidung mancungnya bahkan menempel di ceruk leher Emily. Mendekapnya seperti ini rasanya masih seperti mimpi, Arnold benar-benar tidak menyangka. Dan Emily memintanya untuk tidak menemuinya selama tiga hari, bukankah ini hukuman yang berat? "Jalani saja, nanti juga terbiasa. Kau tahu kenapa aku ingin suami yang sabar?" "Kenapa?" "Karena aku ingin bermanja-manja tanpa takut dimarahi." Arnold mengangkat wajahnya dan menatap manik mata bening milik kekasih hatinya. "Apa aku pemarah?" "Ya, kau dulu pemarah," jawabnya pelan. "Sekarang tidak lagi, percaya padaku!" Arnold mendekat
Arnold menggeleng. "Aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi." "Deal!" Emily menyodorkan jari kelingkingnya dan disambut oleh Arnold dengan mengaitkan jari kelingkingnya. "Deal! Mulai malam ini, kau kekasihku!" Arnold memasangkan cincin di jari manis Emily dan mengecupnya singkat. "Aku akan memantaskan diriku agar bisa menjadi suami yang baik untukmu." Keduanya saling menatap penuh cinta, memulai hubungan yang baru tanpa dibayangi gelapnya masa lalu. "Apa boleh aku menciummu?" Emily menggeleng. "Belum satu jam kita berpacaran, kau sudah ingin menciumku? Tahan dulu!" Emily membalikkan tubuh Arnold dan mendorongnya menuju mobilnya. "Pulanglah, sudah malam!" usirnya. Arnold mendadak berhenti. Ia teringat sesuatu dan berbalik. "Berikan nomor handphone-mu. Masa aku tidak punya nomor kekasihku?" Disodorkannya handphone kepada Emily. "Aku lupa." Emily meraih handphone Arnold dan memasukkan nomor barunya. "Sudah." "Ya sudah, kamu masuk dulu, baru aku akan pergi." Emily melamb
Perkataan Arnold terpotong saat handphone Emily berdering. "Tunggu sebentar." Emily beranjak dari duduknya dan mengangkat telponnya. 'Ya, Alex.' Mendengar nama Alex, selera makan Arnold mendadak hilang. Namun demi menghargai Emily yang sudah memasak untuknya, Arnold pun menghabiskan makanannya. Setelah makannya selesai, Arnold bergegas keluar dan mencoba menghidupi mobil Emily. "Bisa?" Entah kapan Emily berdiri di samping pintu. "Tidak mau menyala sama sekali. Kemungkinan besar akinya." Arnold kembali menatap jam di pergelangan tangannya. "Bengkel sudah tutup, besok baru bisa memanggil mereka kesini." Arnold keluar dari mobil dan memberikan kuncinya kembali kepada Emily. "Mau aku antarkan pulang?" Pertanyaan klasik yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan. "Tapi aku takut ada yang marah," sindir Arnold. Mendengar mantan suaminya tampak seperti sedang cemburu, membuat Emily tersenyum simpul. "Aku bebas, tidak ada yang marah!" Seulas senyum terbit di bibir Arn
"Arnold!" Arnold menatapnya dengan tatapan penuh damba. Mantan suaminya terlihat lebih berisi, menandakan dia bahagia saat mereka sudah berpisah, bukankah begitu? "Emily." Arnold berdiri dan mengulurkan tangannya. Sempat bingung, Emily tidak langsung menerima uluran tangan Arnold. Arnold pun menarik kembali tangannya. "Apa kabar? Kau semakin cantik," pujinya. Netranya masih menatap lekat wajah Emily yang semakin cantik. Bercerai darinya ternyata membuat Emily benar-benar bahagia. "Baik, bagaimana kabarmu?" tanya Emily balik. "Seperti yang kau lihat." Setelahnya keduanya tampak canggung karena pikiran jelek mencemari otak masing-masing. Terlebih Arnold, melihat Emily tampak dekat dengan laki-laki yang bernama Alex, membuatnya cemburu tapi apa dia berhak untuk cemburu? Bukankah tadi dia sendiri yang bilang bahwa Emily berhak untuk bahagia. "Silahkan makan, aku kebelakang dulu." Emily tersenyum sebelum berlalu, jantungnya mendadak berdebar kala Arnold balas terseny
Emily menangis tersedu, meratapi kerasnya hatinya selama ini. Nyata benar adanya, setelah kehilangan, barulah ia merasakan bahwa cinta itu masih ada. Hanya saja, selama ini tertutup oleh kebencian. "Emily, tenang dulu, Sayang." Nyonya Ruby mengusap puncak kepalanya dan mengecupnya dengan penuh kasih sayang. "Biarkan Emily menumpahkan kegundahan hatinya, Ma. Biar dia lega," ucap Papa William. Nyonya Ruby mengangguk dan membiarkan Emily menjadikan pundaknya sebagai tempat bersandar. Setelah tangisannya reda, Emily menarik napas dalam-dalam berulang kali, berusaha menenangkan diri. Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya agar detak jantungnya kembali stabil. "Ma, maafkan Emily. Emily terbawa perasaan." "Tidak apa-apa, Sayang. Mama mengerti." Emily memejamkan matanya sesaat sebelum meraih pulpen yang ditinggalkan Arnold. Dengan hati yang mantap, ia menandatangani dokumen itu. "Arnold ingin kamu tetap tinggal di sini. Di luar kurang aman, Sayang." Emily menggeleng. "Tidak bisa, Ma. K
Melihat Emily berhenti, Nyonya Ruby ikut berhenti dan saat menyadari sayup terdengar suara Arnold, Nyonya Ruby langsung mengalihkan perhatian Emily. "Sebelum pulang apa ada yang mau Emily beli? Misalnya makanan atau apa?" Fokus Emily terpecah dan Arnold juga sudah tidak berbicara. Emily menggeleng, "Ma, apa Arnold belum datang? Maksud Emily apa dia tidak ke sini?" Emily akhirnya kembali bertanya. "Arnold belum menghubungi Mama sejak tadi, Nak. Nanti Mama telpon dia." "Jangan, Ma. Tidak usah, mungkin dia sedang sibuk." Emily kembali melanjutkan langkah kakinya menuju lift. Dia membuang jauh pikiran buruknya, 'tidak mungkin Arnold sedang dirawat, dia pasti sedang sibuk,' batinnya. Sesampainya di kediaman Nyonya Ruby. Emily dibawa ke kamar yang sudah di siapkan oleh Nyonya Ruby. Kamar yang seharusnya di tempati oleh Emily dan Arnold. Tapi karena Arnold tadi malam mengisyaratkan perpisahan dengan alasan yang cukup masuk akal, Nyonya Ruby akhirnya pasrah, setidaknya sampai d
Arnold terhuyung, namun tidak jatuh. Matanya tetap menyala penuh kemarahan. "Kau... akan menyesal..." geramnya sambil menahan sakit. Dengan sekuat tenaga, Arnold berbalik dan menghantam preman itu dengan siku hingga tersungkur. Robert melayangkan pukulan telaknya hingga membuat penjahat itu terkapar. Sirene polisi terdengar di kejauhan, setelah memastikan penjahatnya sudah aman di tangan polisi. Robert kembali berlari ke dalam dan mendapati Arnold terduduk sambil memegangi pinggangnya yang berlumuran darah. "Kita harus bertahan sedikit lagi," ujar Robert dengan napas memburu. "Emily, tolong buka ikatannya," pinta Arnold lirih. Robert mengambil pisau yang ada di meja kasir dan memotong ikatan tangan dan kaki Emily. Arnold mencoba berdiri sambil menahan perih. Dia hendak mengangkat Emily namun Robert menahan tangannya. "Biar saya saja, Tuan." Arnold menepis tangan Robert. "Jangan sentuh istriku, aku masih sanggup mengangkatnya!" Beberapa anggota kepolisian masuk dan membo
Guntur bersahutan disertai kilat yang menyambar di langit malam Kota London. Arnold baru saja sampai di hotel ketika hujan lebat mengguyur. "Kenapa perasaanku tidak enak?" gumamnya sambil melepas jas yang basah terkena rintik hujan. Arnold memikirkan Emily, istrinya. Bagaimana dia pulang kalau hujan lebat seperti ini? Biasanya, sepulang kerja, Arnold menunggu Emily hingga rumah makannya tutup dan Emily kembali ke apartemennya yang memang tidak begitu jauh. "Robert, antar aku ke rumah makan Emily. Perasaanku mendadak tidak tenang, aku takut Emily tidak bisa pulang!" Robert menoleh sebentar sebelum mengangguk. "Baik, Tuan." Dia kembali menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya menuju rumah makan. "Kalau masih cinta, sebaiknya dipikir-pikir lagi, Tuan. Nanti menyesal kalau sudah bercerai," kata Robert sambil tetap fokus mengemudi. Arnold tersenyum tipis. "Justru karena cinta makanya aku menceraikannya. Emily menginginkan perceraian itu. Bukankah cinta tidak harus memil
Berikut adalah perbaikan teks sesuai dengani "Baik, Tuan!" Robert pasrah dengan keputusan yang dibuat oleh Arnold. Robert percaya bahwa apa pun yang diputuskan oleh Arnold pasti sudah dipikirkan dengan matang oleh sang bos. "Belajar melepaskannya, walaupun berat. Aku percaya, kalau memang dia jodohku, kami pasti akan bersama lagi." "Yang Tuan katakan benar. Siapa tahu, saat status kalian berubah, cinta itu justru hadir di hati Nyonya." "Semoga saja. Sekarang antarkan aku ke rumah. Aku harus mengambil surat pernikahan kami dan surat perjanjian kontrak. Aku akan memberikan semua haknya sebagai istriku." --- Sementara itu, di rumah makannya, setelah puas menumpahkan kesedihannya, Emily akhirnya keluar dari ruang penyimpanan. Emily duduk di belakang meja kasir sambil mengecek stok bahan yang masih tersedia. Ia mencoba untuk acuh, tetapi perkataan Robert tadi siang cukup membuat mood-nya berantakan. Bukankah Emily tidak bersalah? Arnold yang bersalah. Seharusnya dia yan