Share

Bab 294

Penulis: Benjamin
Briana dengan cepat menendang punggung Camilla, membuatnya kehilangan keseimbangan dan meluncur dengan cepat ke tanah. Namun, Briana masih memeganginya, jadi setengah badan Camilla berada di tanah sementara setengah badan lainnya berada di udara.

Kemudian, dua barang pun terjatuh dari sakunya, menarik perhatian semua orang.

Daffa terus mengamati Camilla. Dia masih memiliki beberapa pertanyaan padanya dan dia mengerutkan dahinya saat dia melihat hal-hal yang terjatuh dari sakunya. Dia berjalan menghampirinya dan mengambil mereka, raut wajah yang buruk rupa terbentuk di wajahnya ketika dia menyadari itu apa.

Briana merasa sudah lama sejak dia terakhir melihat Daffa seperti ini. Dia ingin melihat apa yang sedang dia genggam, tapi dia tidak bisa karena dia masih menahan Camilla. Dia tidak bisa membiarkan dirinya lengah di sekitar wanita selicik Camilla.

Untungnya, Daffa menunjukkan barang-barang itu padanya. “Ini adalah perlengkapan kamera pengawas. Semua hal yang terjadi sebelumnya te
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 295

    Camilla berbaring dengan dadanya di tanah, matanya membelalak saat dia mencoba menolehkan kepalanya, ingin mengerutkan keningnya pada Daffa tapi tidak berhasil. Lehernya terlalu sakit untuk melihat Daffa. Namun, itu tidak menghentikan amarah yang mendidih menggelora di dalam dirinya.Keluarga Aruna tiba-tiba menunjukkan kemarahan mereka saat Daffa hendak memasuki vila.Dia sudah lama belum berurusan dengan kekacauan seperti itu, jadi itu membuatnya berhenti, memasukkan jarinya ke dalam telinganya, dan menghela napas. Rasa jijik melintas di matanya yang sekarang dingin saat dia menggeram, “Walaupun Camilla sudah tidak lagi berbicara untuk menggantikan kalian, aku mau tidak mau bertanya-tanya apakah dia selalu menjadi pemimpin kalian dalam beberapa tahun belakang.”Kegelapan menyelimuti wajah para anggota Keluarga Aruna saat itu juga. Mereka tidak bisa mengkonfirmasi dugaan Daffa karena itu bukanlah kebenarannya.Melihat bagaimana semua orang terdiam, Benji angkat bicara. “Kami belum

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 296

    Briana telah mengantar Edward dan Erin ke suatu tempat yang lebih aman sebelumnya. Setelah dia pergi, kedua orang itu menemukan kedai kopi di sekitar, berlindung sampai permasalahan di antara Daffa dan Grup Ganendra berakhir.Mereka duduk, tapi sebelum mereka bisa memesan minuman apa pun, mereka mendengar beberapa orang berbisik dari meja di samping mereka.“Astaga, untuk apa seseorang mengunggah video seperti ini di internet? Duh! Mataku sakit menontonnya,” ujar seorang pria sambil menggelengkan kepalanya melihat ponselnya.Orang yang kedua dengan bernafsu menatap ponsel itu dan berseru, “Mungkin itu karena kedua orang di dalam video itu sangat terkenal! Pria itu adalah Daffa Halim, orang teratas di Universitas Praharsa. Yang lebih mengejutkan adalah dia dulunya mahasiswa termiskin di sana. Entah bagaimana, dia menjadi kaya dalam satu malam.”Setelah mendengarnya, mulut pria yang pertama menganga lebar.“Wah,” jawabnya, “aku tidak tahu itu. Yah, bagaimana dengan wanita di dalam v

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 297

    Edward berkerut dan bergegas membanting setir mobil sambil menjelaskan pada Erin, “Kita akan bertabrakan dengan mobil lain. Ini tidak bisa dihindari, tapi tenang saja, kita tidak akan terluka.”Berdasarkan beberapa kejar-kejaran mobil yang pernah dia alami, dia tahu pengemudi mobil-mobil itu tidak ingin melukai mereka. Tetap saja, apa yang terjadi selanjutnya membuatnya terkejut. Erin menggelengkan kepalanya, berkata, “Tidak. Yang paling kukhawatirkan sekarang adalah keselamatan Tuan Halim. Aku tidak memedulikan apa pun atau siapa pun. Tabrakan mobil pun tidak akan membuatku terkejut selama aku bisa mendatangi Tuan Halim.”Untungnya, situasinya berjalan sesuai dengan perkiraan Edward. Tidak ada yang terluka dan tidak ada mobil yang mengalami kerusakan.Edward tetap terduduk di kursinya, memijat pelipisnya. Sakit kepala yang hebat menyerang pelipisnya saat dia melihat banyak mobil sport melaju kencang ke arah lain. Bukan hanya itu, semua pengemudi itu remaja dengan rambut yang dicat

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 298

    “Kamu adalah anak-anak, jadi aku tidak ingin mengacungkan pistolku ke arahmu. Anggap ini kesempatan terakhirmu untuk menurunkan pistolmu,” komentar Edward dengan nada bicara yang datar seraya berdiri dengan tenang.Namun, Moris menganggap ketenangan Edward sebagai rasa takut. Dia menarik kembali pistolnya, dengan santai menyandarkannya ke pundaknya sambil menengadahkan dagunya.Dia duduk di dalam mobilnya, menutup pintu mobil sambil mengejek Edward melalui jendelanya yang terbuka, “Tidakkah menurutmu caramu berbicara padaku bertentangan dengan apa yang kamu inginkan dariku?”Edward tetap tidak bergerak tapi sudah menyipitkan matanya. Tidak ada yang tahu apa yang dia rasakan karena dia terus berbicara dengan datar sepanjang waktu. “Aku penasaran—apa maksudmu? Aku ingin tahu menurutmu motifku itu apa.”Mata Moris membelalak. Dia ingin tahu apakah Edward sungguh penasaran atau apakah dia hanya mencoba mempermalukannya. Wajahnya lalu berubah mengerikan dibandingkan dengan wajah orang l

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 299

    Terkejut, Edward menoleh-noleh ke sekitar untuk menatap Erin. Dia langsung paham saat dia melihat butiran keringat di kening Erin dan tangannya yang merinding. Bibir mengerucut, dia kembali ke sisi Erin.Waktu tidak pernah terasa selama ini bagi Erin sebelumnya. Situasinya sudah terasa seolah mereka berjalan beberapa saat, tapi Edward yang lambat membuatnya makin buruk bagi Erin. Erin memelototi Edward dengan tajam ketika dia berhenti untuk melirik kumpulan anak-anak itu untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya kembali berlari ke mobil.Tatapan Erin sama dinginnya seperti suaranya saat itu. Dia dengan cepat menggeram pada Edward, “Masuk.”Itu adalah pertama kalinya Edward melihat sisi dingin Erin. Namun, dia tahu kenapa Erin kesal, jadi dia tetap diam dan dengan patuh memasuki kursi pengemudi. Edward membutuhkan waktu yang lebih lama dari yang dia kira, tidak tahu bagaimana harus merespons anak-anak yang telah membuat masalah dengannya.Dia tahu beberapa remaja di kelompok itu benar

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 300

    Aidan terkapar di tanah, memperhatikan Daffa yang larut dalam pikirannya. Dia tidak tahan untuk tidak menengadahkan dagunya dengan puas, berkata, “Oh? Apakah kamu sekarang takut setelah mendengar namaku? Biar kuberi tahu, sudah terlambat bagimu untuk meminta maaf padaku! Sebagai satu-satunya ahli waris Keluarga Aruna, aku tidak akan membiarkanmu begitu saja dengan mudah!”Dia secara bersamaan memegang kaki Daffa, mencoba mendorongnya dari dadanya. Namun, tidak lama, dia mengatupkan rahangnya dan mengerutkan alisnya menjadi huruf ‘V’ tajam ketika dia gagal membuat Daffa bergerak.Kaki Daffa tetap tidak bergerak dari badannya seperti sebuah batu besar dan Aidan tidak bisa melakukan apa-apa mengenai itu. Kehabisan tenaga, dia berhenti memberontak. Lengannya jatuh ke tanah seraya dia menggertakkan giginya.“Aku peringatkan! Singkirkan kakimu dariku sekarang dan berlututlah untuk membuktikan rasa terima kasihmu padaku karena telah mengampunimu! Karena dalam dua hari, aku mungkin akan men

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 301

    “Lalu, kenapa belum ada yang mencoba mengkonfirmasi apakah dia sudah mati atau masih hidup? Sebagian besar keluargamu terburu-buru mengumumkan kematiannya ke publik setelah mereka tidak bisa menghubunginya. Belum lagi, kamu dan anggota keluargamu tidak membuang-buang waktu untuk memperebutkan warisan keluargamu,” tambah Daffa.Dia bersandar ke mobil, matanya menusuk Aidan dengan penuh tanya.Hanya Aidan yang bisa melihat ekspresi wajah Daffa karena dia berbaring di tanah, menghadap tepat ke arah Daffa yang sedang memandangnya. Matanya bergerak ke kanan dan kiri seraya berpikir, “Sial. Aku dalam masalah besar sekarang. Pria ini benar. Tidak ada yang repot-repot mencari ayah nominalku walaupun sudah beberapa saat sejak dia menghilang. Satu-satunya orang yang mencarinya adalah kakak tiriku yang bodoh dan orang ini. Namun, aku yakin Kate tidak mengenal orang ini karena dia adalah orang yang bodoh. Sebaliknya, orang ini jelas-jelas memiliki kekayaan dan kemampuan yang besar. Orang-orang s

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 302

    Aidan masih terkapar di tanah, matanya berkaca-kaca oleh rasa takut. Edward telah menebak setiap kata yang ingin dia katakan. Namun, cara Edward mengatakan kata-kata itu membuatnya terdengar kurang mengancam.“Kecuali … dia dan pria sebelumnya tidak pernah takut pada keluargaku dari awal,” pikir Aidan. Menyadari hal itu, dia dengan cepat menoleh untuk memandang Daffa yang sekarang sedang duduk di dalam mobil.Dia terus berpikir, “Pria ini memiliki pistol model terbaru yang harganya sangat mahal. Itu sudah cukup untuk membeli setidaknya seperempat dari saham Grup Aruna! Jika aku tidak kebetulan melihat pistolnya tadi, aku tidak akan menyadari itu adalah model yang sangat mahal!”Dia lalu bangkit dari tanah, duduk dengan tegak walaupun masih gemetar. Ketika dia melakukannya, dia dengan hati-hati memperhatikan Edward. Dia tahu Edward adalah petarung yang terampil dan khawatir dia akan menghentikannya mencoba berbicara dengan Daffa.Jika itu terjadi, dia tidak akan mendapatkan kesempat

Bab terbaru

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 592

    Kemudian, Shelvin merasa seperti dia telah membeku. Dia tidak dapat bersuara. Dia ingin melihat ke arah Daffa untuk meminta bantuan, tapi dia tidak lama mengetahui bahwa mustahil baginya untuk melakukannya—dia bahkan tidak bisa mengedip! Itu membuatnya ingin menangis.Pada saat ini, suara Brian yang tenang terdengar. “Jangan segugup itu. Ayahku, Yarlin Weis, adalah pria yang baik. Jika bukan karena itu, kamu tidak akan hidup sekarang maupun bisa mengambil alih tubuhnya.Mata Shelvin membelalak. Dia kira Yarlin sudah tidak ada lagi ketika dia memilih untuk menyelamatkannya.Daffa menatap Brian. “Jadi, apa yang sedang terjadi sekarang?”Brian mengangkat bahunya. “Dia ingin mengatakan sesuatu yang jahat padaku. Tidak mungkin ayahku akan membiarkannya.” Ada ekspresi senang di wajahnya, tapi itu dengan cepat menghilang.“Ini menyedihkan. Aku tahu kalau ayahku masih hidup, tapi aku juga tahu bahwa tidak ada kemungkinan bagiku untuk melihatnya lagi.” Dia berjongkok dan membenamkan wajahn

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 591

    Bimo tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya. Dia melongo ke arah Daffa, pada akhirnya menutup mulutnya dan memejamkan matanya dengan pasrah.Daffa menghela napas. Begitu dia merasa sedikit lebih memiliki kendali atas situasi dan tidak setidak berdaya itu, teriakan kesakitan keluar dari bibir Umar.“Daffa, tolong, aku memohonmu untuk membunuh tunanganku secepat kamu membunuhku sekarang jika dia masih bersikap seabsurd sebelumnya,” teriak Umar. Kemudian, dia memalingkan kepalanya ke samping dan memegang jarum perak Shelvin, menusuk jarum itu ke dalam lehernya.Itu bukanlah apa yang Daffa ataupun Shelvin sangka. Meski begitu, Shelvin tidak sekaget Daffa. Dia menghampiri sisi Daffa dan meletakkan tangannya di pundak Daffa.“Tuan Halim, jangan gundah. Melakukannya adalah pilihan terbaik bagi Umar.”Situasi yang tidak diduga itu membuatnya menggigit bibirnya dengan sangat keras hingga berdarah saat dia berbicara.Daffa menatap Shelvin pada saat itu. Di

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 590

    Bimo memucat, lututnya lemas begitu dia mendengar orang yang berbicara di telepon—itu adalah atasannya.“Ini nomor Brian Weis. Siapa, ya?”Bimo jatuh berlutut hampir seketika, memandang Daffa dengan gugup. Dia tidak dapat terus berdiri saat itu juga. Matanya gemetar begitu hebat hingga hampir copot dari tempatnya.Merasakan kecemasan Bimo, Daffa menyeringai dan menjawab, “Ini Daffa.”Suara di telepon itu langsung berubah menjadi penuh hormat. “Oh! Saya merasa terhormat berbicara dengan Anda, Tuan Halim! Bolehkah saya tahu kenapa Anda menelepon saya?”Senyuman terukir di wajah Daffa, tapi itu hanya karena formalitas dibandingkan untuk menunjukkan kegembiraan yang tulus. Dia berputar badan untuk menatap Bimo dan membentak, “Kurasa kamu dan aku perlu mendiskusikan investasiku ke kepolisianmu.”Keheningan selama dua detik berlalu sebelum Brian terkekeh dengan malu-malu. Ingin menyenangkan Daffa, dia bertanya dengan nada menjilat, “Apakah Anda ingin mendiskusikannya melalui telepon at

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 589

    Daffa terkekeh, tidak dapat menyembunyikan bahwa dia terhibur. Situasi itu sangat mengherankan hingga tawanya kian membesar setiap detiknya.Bimo mengernyit, berputar badan, dan menatap Daffa. Dia ingin mempertanyakan Daffa, tapi Umar berbicara mendahuluinya.“Apakah kamu sudah kehilangan akalmu, Daffa? Kamu tidak akan pernah menjadi kaya karena kamu adalah seonggok samp*h yang keji! Apa pun yang sudah kamu bayar untuk menyamar dirimu sebagai ‘orang kaya’ ini, uang itu sudah terbuang sia-sia sekarang! Kami tidak memercayaimu sedikit pun!” teriak Umar sekencang mungkin meskipun dia kehabisan napas dan kesakitan.Daffa menatap Shelvin yang mengangkat bahunya dan berkata, “Aku harus menyingkirkan jarum-jarumku. Kalau tidak, dia akan kehilangan suaranya secara permanen. Lagi pula, kita selalu bisa membungkamnya beberapa menit kemudian.Setelah mengangguk, Daffa menoleh ke arah Bimo lagi.Pada tiitk itu, Bimo mengernyit karena dia tidak memahami apa yang disiratkan oleh Umar. Namun, di

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 588

    Aku tidak membunuh dia karena kurasa kesalahannya tidak membutuhkan hukuman sekeras itu,” kata Daffa yang tangannya diletakkan di balik punggungnya seraya dia berjalan ke arah Umar. Kemudian, dia tersenyum dan menambahkan, “Akan tetapi, terlihat jelas bahwa kamu tidak senang dengan keputusanku.”Umar terbaring di lantai, memejamkan matanya dan akhirnya menyadari bagaimana dia telah mengambil pihak yang salah selama ini. Bahkan bisa dikatakan bahwa dia salah sedari awal karena telah meragukan Daffa.Meskipun demikian, Umar tidak dapat menahan skeptisismenya terhadap segala hal. Lagi pula, Umar merasa hal-hal berjalan dengan lancar sebelum momen ini. Berbaring di lantai, dia mengendurkan rahangnya yang terkatup dan memandang udara dengan ekspresi kosong.Umar mulai mempertanyakan segala hal di sekitarnya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa tentang itu. Keheningan mengisi ruangan seraya dia memikirkan kapan hal-hal berbalik melawannya. Saat itulah tatapan Daffa dengan singkat menyap

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 587

    Tidak peduli setakut apa Bimo, dia tidak berani bergerak dan hanya mengangguk dengan kaku dan patuh.Dengan bibir yang melengkung menjadi senyuman puas, Daffa berkata, “Aku sudah beberapa kali bertukar pikiran dengan salah satu petugas polisimu yang bernama Umar dan aku tidak memiliki pengalaman yang terbaik dengannya. Bukan hanya itu, dia telah memperjelas bahwa dia berpihak pada Grup Ganendra. Meskipun dia gagal memenuhi janjinya, aku masih memastikan kamu tahu setiap tindakan dan rencanaku di Kota Almiron. Bukankah itu benar?”Dengan kening yang basah oleh keringat, dia dengan cepat melirik Umar. Dia lalu kembali fokus pada Daffa dengan senyuman sambil membujuk Daffa. “Tuan Halim yang terhormat, saya rasa ini tidak perlu.”Meletakkan kedua tangannya di sisinya, dia menunjukkan ketulusannya. Dia menghindari tatapan Daffa dan berkata, “Kita bisa menegosiasikan kembali syarat-syarat kolaborasi kita.”Bimo mau tidak mau gemetar ketakutan. Yang dia lihat hanyalah bibir Daffa yang mel

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 586

    Saat kening Umar basah oleh keringat, dia mendengar tawa yang familier dari lorong. Seketika, dia memasang seringai sombong dan berkata, “Hah! Terima itu, Daffa! Apakah kamu akhirnya menyadari betapa bodohnya kamu? Apakah kamu tahu siapa orang yang tertawa di luar kamar hotelmu?Tatapan angkuhnya mendarat di Daffa selama waktu yang singkat sebelum menghilang sepenuhnya. Tidak lama, dia mengerutkan bibirnya ketakutan ketika dia mendengar jawaban Daffa.“Bosmu. Omong-omong, untunglah kamu senang bertemu dengannya. Kuharap kamu bisa terus bahagia seperti ini.” Dengan begitu, Daffa mengalihkan tatapannya yang tegas ke arah pintu.Demikian pula, Umar terbaring di lantai dan menatap pintu dengan tidak sabar sambil menggumam pelan, “Tunggu saja, Daffa! Kematian akan mendatangimu sebentar lagi!”Tatapan Daffa tiba-tiba melesat ke arah Umar. Meskipun Daffa tidak mengatakan atau melakukan apa-apa, tatapannya sudah cukup untuk membuat rambut di punggung Umar berdiri tegak.Takut, Umar menutu

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 585

    Dengan pandangan yang gemetar karena rasa takut, Umar berseru, “Sebaiknya kamu pikirkan dengan baik-baik sebelum melakukan apa yang akan kamu lakukan, Daffa Halim! Pikirkan tentang apakah kamu bisa menanggung konsekuensinya!”Daffa menaikkan sebelah alisnya sambil memamerkan giginya yang putih. “Sejujurnya, perkataanmu membuatku terhibur.”Dia lalu mengeluarkan tangannya untuk mencengkeram kerah baju Umar. Akan tetapi, kali ini, dia menarik Umar keluar dari lekukan di tembok dan melempar Umar ke ruang di belakangnya. Hanya permusuhan yang terlihat di matanya yang berbinar pada saat itu. Hal itu terus bertahan hingga Umar mendarat di tanah dengan suara dentuman yang keras.Satu-satunya yang berbeda adalah kali ini Umar tidak berteriak kesakitan. Dia terus terdiam setelah dia terbanting ke lantai.Daffa berputar badan, hidungnya berkerut menjadi cibiran kepada Umar sambil dia berbicara dengan santai, “Oh? Aku terkesan. Kamu masih hidup.”Di lantai, Umar berusaha sebisa mungkin untuk

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 584

    Daffa menahan napasnya ketika dia melihat kondisi Danar. Mungkin dia keliru sedari awal. Dia seharusnya tidak pernah membiarkan Umar membawa Danar ke sel tahanan. Mungkin dengan begitu, Danar tidak akan terluka separah ini.Tenggelam dalam rasa bersalah, Daffa membenci dirinya sendiri karena telah memercayai Umar dan tidak melakukan apa-apa terhadap kekerasan Umar terhadap Danar. Semua itu memicu kemarahan yang lain dalam diri Daffa.Maka, ketika Umar menunjuk ke arah Erin dengan tidak sopan, Daffa tidak ragu-ragu untuk menembakkan kekuatan jiwanya ke arah Umar. Meskipun demikian, dia tidak mengerahkan banyak kekuatan jiwa karena dia tidak ingin memberikan Umar kematian secepat itu.Umar tidak yakin tentang apa yang telah terjadi, tapi dia merasakan angin kencang mengenai tubuhnya, membuatnya memuntahkan darah. Pada saat yang sama, benturan itu membuat tubuhnya melayang jauh.Dia bisa merasakan angin itu bertiup mengenai kulitnya dengan sangat kasar hingga angin itu menyayat seluru

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status