"Tahan amarahmu, aku akan jelaskan semuanya," kata Ki Lemur yang mulai merasakan kekuatan besar dari Ki Resta."Jelaskan, atau kau akan jadi kambing hitam bagi amarah ini," kata Ki Resta dan lepaskan kerah baju Ki Lemur."Pembunuh kedua muridmu adalah orang kau percayakan membawa mereka ke perguruan naga hitam," kata Ki Lemur."Arya!" desis Ki Resta."Benar, dia juga sudah membunuh Ki Unda. Alasan dia membunuh muridmu adalah untuk tutupi identitas dirinya," kata Ki Lemur memutusakn sendiri.BAMMMMMMM!Ki Resta tidak dapat lagi menahan amarahnya, dan tanah yang berada di bawah kakinya, jadi sasaran kemarahan dari Ki Resta."Kurang ajar! Dia mencari masalah denganku, baik. Aku akan berikan dia masalah," kata Ki Resta dengan marah yang tak tertahan.Api dendam sudah merasuki jiwa Ki Resta, dendam pada Arya."Aku akan mencari bocah itu, aku pastikan dia akan tewas," kata Ki Resta."Jangan sekarang Ki, sebaiknya semayamkan dulu mayat kedua muridmu ini, setelah itu kita cari sama-sama anak
Arya secara diam-diam ikuti Ki Lemur dan nyai Sri yang membawa mayat Banda dan Ratih. "Sialan, apa aku akan dapatkan masalah besar dari seluruh perguruan? Jika ini terjadi aku akan jadi pelarian," ucap Arya.Dan di hadapan Arya juga terlihat bagaimana terpukulnya Ki Resta dengan kematian dua murid yang sudah dia didik dari kecil itu."Ki Resta seseorang yang baik, aku tidak ingin membuat masalah ataupun bertarung dengan dia, tapi sepertinya tidak mungkin terhindarkan," kata Arya dalam hatinya."Sebaiknya aku mencari jalan keluar dari negeri ini, itu jalan terbaik. Aku akan kembali ke pulau ular." Huppppp.Arya meninggalkan hutan di kegelapan malam. Tinggalkan hutan yang dipenuhi dengan amarah.Di hutan itu, suasana memang sangat panas, udara yang dingin tidak mampu menutupi api amarah yang keluar dari tubuh Ki Resta."Sebaiknya tenangkan dirimu, Resta. Kita cari cara untuk menangkap pemuda itu," kata guru Harada."Dia kuat!" kata nyai Sri."Tidak, dia tidak sekuat itu, aku akan tang
"Apa yang terjadi guru?" tanya salah satu murid Ki Resta.Mata Ki Resta merah menatap muridnya, tidak suka dengan pertanyaan itu, dan itu membuat murid Ki Resta bergidik ketakutan. Belum pernah mereka melihat mata tajam seperti yang baru saja di perlihatkan Ki Resta pada mereka."Guru! Kami ingin jawaban, apa yang terjadi sesungguhnya? Apa terjadi pada Ratih dan Banda?" tanya murid Ki resta lagi.Ki Resta menatap muridnya yang bertanya. Dan seperti sebelumnya, tatapan Ki Resta sanga tajam menakutkan."Saudara kalian dibunuh oleh orang yang aku percayai, dan aku akan membunuh dia," ucap Ki Resta.Ketiga murid Ki Resta yang tersisa kaget. Tapi mereka tidak mungkin dapat berbuat apa-apa."Kalian semua kembalilah ke rumah kalian. Mulai hari ini perguruan ini aku bubarkan, aku akan melakukan apapun yang ingin aku lakukan," kata Ki Resta."Kapan kami akan kembali?" "Kembali? Tidak akan ada kata kembali, kalian bukan muridku lagi," kata Ki Resta."Tapi guru!""Jangan panggil aku guru lagi,
"Aku tidak paham maksud Ki Bonggol?" ucap Arya."Tidak perlu kau tahu untuk saat ini, nanti kau akan tahu sendiri," jawab Ki Bonggol."Jadi apa yang harus kau lakukan untuk membersihkan namaku?" tanya Arya."Itu juga akan kau tahu jika saatnya tiba," ucap Ki Bonggol.Tok tok tok.Saat mereka bicara cukup serius, pintu rumah Ki Bonggol diketuk, dan itu membuat Arya menjadi tegang."Sebaiknya kau bersembunyi," kata Ki Bonggol.Arya angguk kepala, dan memilih untuk ikuti saran ki Bonggol. Ki Bonggol membuka pintu, dan menyuruh masuk orang yang mengetuk pintu rumahnya."Ki Barong, ada apa?" tanya Ki Bonggol."Ada masalah yang lebih besar lagi," kata Ki Barong."Masalah yang lebih besar, apa itu? Mari kita bicara di dalam," ajak Ki Bonggol.Orang yang di panggil Ki Barong itu masuk, meskipun dia tidak ingin masuk tapi dia tetap menerima ajakan Ki Bonggol."Ada apa? Masalah apa yang kau katakan itu?" tanya Ki Bonggol."Si tangan maut sudah kembali," kata Ki Barong."Apa? Kau jangan asal bic
Ki Barata mencoba mundur, dan menenangkan Ki Resta yang sudah kalap setelah kematian dua muridnya.Ki Resta yang sempat jadi harapan di golongan putih kini sudah kembali pada dirinya di masa lalu. Si tangan maut.Bammmmmmm!Terjadi benturan keras antara Ki Barata dan si tangan maut, dan itu cukup kuat, bahkan sampai mengguncang perguruan naga hitam.Ki Barata terpukul mundur, sementara Ki Resta mampu bertahan."Tidak salah memang kau dianggap pendekar nomor satu saat ini Ki Barata, kau mampu menahan jurus pukulan maut dari ku!" kata si tangan maut."Pukulan maut! Itukah pukulan yang sempat gemparkan dunia persilatan tiga puluh tahun yang lalu?" gumam Ki Barata.Ki Resta kembali berbuat menyerang, tapi Ki Barata mencoba menahan ki Resta."Tahan Ki! Apa kau pikir aku diam saja dengan kematian muridmu, aku terluka karena pemuda itu," kata Ki Barata berbohong."Benarkah itu?" ucap Ki Resta sangat sinis."Untuk apa kau berbohong Ki," kata Ki Barata mencoba untuk tidak meneruskan pertarunga
"Apa yang kau lakukan?" bentak Arya sambil pegang kepalanya yang menerima hantaman dari kayu di tangan gadis itu."Sebaiknya kau pergi dari sini, aku tidak ingin kau berada di rumah ini," usir gadis itu."Intan! Apa yang kau katakan, dia tamu nenek," kata nyai Rara dan menarik tangan gadis itu untuk duduk di sampingnya."Tamu? Kenapa nenek mau menerima tamu, dia pembunuh nek, Intan sudah lihat lihat sketsa wajahnya bersebaran di desa," ucap gadis itu."Sebaiknya kau duduk, dia bukan pembunuh," kata Ki Bonggol dengan suara yang tertahan di tenggorokannya.Intan mengalah, dia tidak tahu kenapa dia mengalah pada lelaki tua yang bicara itu, seolah ada ikatan bathin antara dia dengan Ki Bonggol."Nek! Siapa dia?" tanya Intan berbisik pada nyai Rara."Tanyakan saja sendiri, dia pasti akan jawab," jawab nyai Rara."Aku adalah kakekmu intan, ayah dari ibumu," jawab Ki Bonggol menjawab pertanyaan Intan yang bertanya pada nyai Rara."Kakek? Ayah ibu?" tanya Intan tidak yakin dan dia malah mena
Arya merasa jika perkataan Intan sangat membingungkan bagi dirinya, dia tidak percaya dengan ucapan Intan."Aku tidak mengerti yang kau katakan, Intan?" tanya Arya."Kakek sudah katakan jika kau bersedia membawa aku ke negeri lingga, dan kau bersedia menjagaku, aku berpikir itu sama dengan kita dijodohkan," kata Intan."Aku harap jangan berpikir terlalu jauh, saat ini pikiranku bukan itu, tapi hal yang lain," kata Arya."Hal lain? Apa itu?" tanya Intan."Yang paling utama adalah membereskan masalah di desa Hursa ini," ucap Arya."Terus?""Menyelesaikan semua masalah yang aku buat di negeri ini."Intan tidak teruskan lagi, gadis berusia muda itu memahami semua alasan Arya dan tidak memaksakan kehendaknya pada Arya."Sekarang kau keluarlah dari kamar ini, aku mau istirahat, dan akan cari siapa dalang dari semua masalah di desa ini," kata Arya mengusir intan dengan tegas.Dengan wajah menunduk, Intan keluar dari kamar yang harusnya menjadi kamar dia dan Arya, tapi dia paham alasan Arya.
Juragan Barsah, dua tahun yang lalu. Desa Hursa. Kala itu desa Hursa masih memiliki hutan yang luas di seluruh dan sekeliling desa itu.Di tengah kota Hursa itu tumbuh dan besar dua orang yang bersaudara. Seorang gadis dan seorang pemuda yatim piatu.Si gadis bernama Rodia dan si pemuda bernama Guntur. Keduanya merupakan saudara kandung yang hidup miskin di desa itu.Suatu hari, Juragan Barsah mendatangi rumah kecil mereka dan mau tidak mau mereka harus memberikan waktu untuk Juragan itu bicara."Guntur! Aku tahu jika kau dan Rodia adalah saudara kandung, dan aku dengan hati yang bersih ingin membebaskan kalian dari kemiskinan," kata juragan Barsah.Guntur diam, dia dalam hati tahu apa yang dipikirkan oleh juragan Barsah, dan dia jelas akan menolak apa yang diinginkan oleh juragan itu."Aku ingin menjadikan adikmu menjadi istriku, apakah kau akan berikan padaku?" tanya Juragan Barsah pada Guntur.Seperti yang sudah dalam tebakan Guntur, Juragan Barsah akan meminta adiknya, dan dia jel
Satu tubuh dengan pakaian kuning emas melesat dengan cepat menuju kota Kuala, dia sudah berlari dengan langkah dan kekuatan yang sempurna.Kadang dia terbang untuk mempercepat gerakannya, tapi saat dia merasa kekuatan yang dia miliki menurun, saat itulah dia memilih untuk berlari.Dia adalah Arya, Arya saat ini sudah dalam perjalanan menuju kota Kuala, untuk membebaskan Intan, seperti permintaan Ki Bonggol untuk menjaga gadis itu."Maafkan aku Ki, aku sepertinya gagal mengemban tugas yang kau berikan," kata Arya.Arya mulai menyesal karena tidak membawa Intan menuju bukit kijang, Arya yang merasa Intan lebih aman di desa Hursa ternyata salah, kini keselamatan gadis itu berada di ujung tanduk.Hupppp!!Arya melihat sebuah jalan besar yang akan membawa dirinya menuju kota Kuala, tapi bukan itu tujuan Arya, tapi mencari kelompok bintang hitam yang sudah menculik Intan."Aku yakin mereka tidak akan di kota Kuala, pasti mereka membuat markas di suatu tempat," kata Arya.Whusssssssss!!Saa
"Apa yang kau inginkan?" tanya Ki reksa pada Ki Barata.Hehehehe!"Ki reksa. Kau mengundang semua golongan hitam untuk bergabung dengan dirimu, tapi kau tidak undang diriku, apakah itu sebuah kesengajaan?" tanya Ki Barata."Maksudmu? Apakah kau mau bergabung jika aku ajak Ki Barata?" tanya Ki reksa."Jika tujuanmu untuk membawa golongan hitam ke puncak dunia persilatan, sudah jelas aku bersedia Ki," jawab Ki Barata."Benarkah itu?""Iya, aku bersedia," jawab Ki Barata."Tapi kau masih belum melakukan apa yang aku minta Ki Barata, kau belum temukan pembunuh kedua muridku," kata Ki reksa."Aku sudah mencarinya, tapi aku tidak temukan dia," kata Ki Barata.Ki reksa menatap sinis pada Ki Barata, Ki reksa ingin melihat kesungguhan dari ucapan Ki Barata, tapi dia tidak melihat sesuatu yang berbohong di mata ku Barata."Apa kau sungguh ingin bergabung dengan kelompok bintang hitam?" tanya Ki reksa."Iya, tapi aku ingin memberikan sebuah syarat," kata Ki Barata."Katakan, apa yang kau inginka
Arya sungguh kaget saat tahu yang membawa Intan adalah Ki reksa, dia tidak tahu apa maksud Ki reksa membawa Intan."Apa Ki reksa mengatakan sesuatu nyai?" tanya Arya."Kota Kuala!" jawab nyai Rara lirih.Setelah ucapkan itu nyai Rara jatuh dan tewas di pelukan Arya."Kota Kuala?" ucap Arya.***Beberapa hari sebelum Arya sampai di desa Hursa, Ki Reksa terus mencari keberadaan Arya, dan saat itulah dia sampai di desa Hursa.Dari penduduk desa Hursa, Ki reksa tahu tentang hubungan Arya dan Ki Bonggol, dan itu membuat Ki reksa gelap mata.Ki reksa memberikan kode pada anak buahnya, kelompok bintang hitam yang sudah dia kumpulkan dalam waktu yang singkat.Dan saat warga desa Hursa terlena dalam tidur yang indah, anak buah Ki reksa datang dan porak-poranda seluruh desa itu.Brakkkkkkk!Ki reksa masuk ke rumah nyai Rara, dan itu mengejutkan nyai Rara maupun Intan yang ada dalam rumah itu."Apa yang kau inginkan?" tanya nyai Rara."Gadis itu!" jawab Ki reksa."Jangan harap kau akan dapatkan
Arya, setelah dapatkan pusaka kijang dewa, dia meninggalkan puncak bukit kijang, setelah itu melesat menuju kota Kuala."Apa saja yang sudah terjadi?" gumam Arya saat dia melewati kota bangau.Begitu banyak yang terjadi di kota itu, ada beberapa rumah yang hancur, seolah kota itu baru saja di terpa gempa yang besar."Ada apa ini Ki?" tanya Arya pada seorang lelaki yang berhasil selamat dari kehancuran kota itu."Kelompok bintang hitam!"Whusssssssss!!Crasssssss!Aaaaaaaaaaaaaaaaa!!Belum juga Arya dapatkan jawaban yang jelas, sebuah bintang hitam sudah menancap dalam di leher lelaki tua itu."Apa-apaan ini?" gumam Arya.Arya melihat ke arah datangnya serangan itu, dan melihat seorang lelaki dengan pakaian hitam dan wajah tertutup."Hei apa yang kau lakukan?" teriak Arya.Tapi jawaban untuk Arya adalah sebuah pukulan jarak jauh yang cukup keras.Bammmmmmm!!Arya memukul balik pukulan jarak jauh itu, dan pukulan itu mentah di tengah jalan."Jangan kabur kau!" teriak Arya dan melompat k
Arya kaget, untuk kedua kalinya Arya merasakan bau bunga mawar itu, dan yang pertama adalah saat Arya sampai di negeri Malaya.Selain itu, yang membuat Arya heran adalah, belasan serigala yang sudah bersiap menyerang Arya dengan cakaran dan taring tajamnya menghentikan gerakan mereka. Wajah dari belasan serigala itu terhenti dan tak melanjutkan serangan pada Arya."Apa sesungguhnya yang ada di balik bau bunga mawar ini?" gumam Arya.Arya berpikir keras, tapi dia tidak menemukan jawaban yang dia harapkan, sampai cahaya kuning menyilaukan terlihat dari bawah lembah bukit kijang.Arya ingin melangkah ke sana, tapi keberadaan para serigala itu membuat Arya urungkan niatnya, dia tidak ingin mayat dari empat orang yang sudah dia kumpulkan jadi santapan serigala ganas itu.Tapi keadaan sepertinya sangat mendukung Arya, saat Arya dalam dilema, dilema antara ingin melihat keberadaan cahaya kuning emas itu dan menjaga para Mayat-mayat, saat itu juga para serigala memilih tinggalkan puncak bukit
Seorang pemuda dengan rambut panjang dan pakaian kuning emas berjalan ke arah hutan yang cukup lebat.Pemuda itu memakai caping bambu yang cukup lebar, dan itu sengaja dia pakai untuk menutupi wajah tampannya.Huppppp!!Dengan gerakan cepat dia melesat, meninggalkan desa terakhir sebelum dia mendekati hutan itu."Kau mau kemana anak muda?" Seorang perempuan tua dengan pakaian yang bermotif lipan menahan langkah pemuda itu."Tidak ada nyai, hanya ingin melihat hasil buruan jerat yang aku pasang di hutan," jawab pemuda itu."Hati-hati di hutan ini, sangat banyak hewan buas," "Terima kasih nyai," kata pemuda itu.Perempuan itu merasa jika pemuda itu cukup misterius, itu terlihat karena pemusa itu menutupi wajahnya dengan caping bambu yang lebar."Siapa namamu anak muda?" tanya perempuan itu.Pemuda itu tidak menjawab, tapi dia malah berjalan tinggalkan perempuan itu masuk ke dalam hutan."Hei .. apa kau acuhkan aku?" teriak perempuan itu membentak pemuda yang sudah masuk ke dalam hutan
Ki Bonggol ingin berlari ke arah guru Harada, tapi lagi-lagi gerakan Ki Bonggol ditahan oleh Ki jalak dan Ki Taga."Kau juga akan mati, Ki Bonggol!"Ki Reksa setelah membunuh guru Harada mendekati Ki Bonggol, dan berjalan ke arah Ki Bonggol yang sudah ditahan oleh Ki jalak dan Ki Taga."Kau itu sudah menjadi hitam dari hitam Ki reksa, sungguh tidak aku percaya," kata Ki Bonggol."Apa aku terlihat perduli dengan ucapanmu itu Ki Bonggol!" Kata Ki Reksa.Ki Bonggol tidak menjawab, dia jelas berada di ujung tombak, nyawanya kemungkinan tidak mungkin dapat di selamatkan lagi, dan kemungkinan dia akan mati di bukit kijang.Hiatttttt!Ki Bonggol tidak terima, dan menyerang ke arah Ki Reksa. Ki jalak dan Ki Taga ingin menahan tapi Ki Reksa memberikan kode pada keduanya untuk menjauh."Biarkan aku yang membunuh dia!" Ucap Ki Reksa.Ki jalak dan Ki Taga memilih menerima perkataan Ki reksa, dan mereka mendekati nyai lipan. Whusssssssss!!Ki reksa tidak anggap serangan dari Ki Bonggol. Itu karen
"Apa yang terjadi? Tidak mungkin!"Guru Harada yang bertahan dari setiap serangan Ki jalak dan Ki Taga masih sempat mendengar suara jeritan kematian Ki Indang, dan itu menjatuhkan semangat juangnya.Pukulan pemburu nyawa!Whusssssssss!Guru Harada melepaskan satu pukulan jarak jauh yang kuat, dan itu mengarah kepada Ki Reksa yang baru saja membunuh Ki Indang.Ki Reksa memutar tubuhnya, dan menahan pukulan jarak jauh guru Harada dengan tangan kanannya, dan pukulan itu mentah di tengah jalan."Kurang ajar! Kau tidak akan aku maafkan," ucap guru Harada dan melompat ke arah Ki reksa."Jangan anggap kami tidak ada!" Ki jalak menghalangi gerakan guru Harada, dan menahan pergerakan dari guru dari raja Adnan, penguasa negeri Malaya.Di belakang guru Harada, juga sudah ada Ki Taga, sehingga guru Harada berada di antara dua orang yang memiliki kekuatan hitam yang tidak dapat diremehkan.Haaaaaaaaaaa!Guru Harada memukul Ki jalak, tapi dengan enteng Ki jalak menahan dengan telapak tangannya, ta
Meskipun tidak mereka susun secara langsung, tapi rencana menguras tenaga dalam Ki Reksa langsung diketahui oleh Ki Reksa, dan itu semakin membuat Ki Reksa naik darah."Kalian! Apa kalian hanya ingin menyaksikan saja? Kalian golongan hitam, apa kalian tidak akan membantu diriku?" ucap Ki reksa ke arah Ki jalak dan dua rekan golongan hitam lainnya.Ki jalak menatap nyai lipan dan Ki Taga. "Bagaimana menurut kalian?" tanya Ki jalak."Terserah padamu tapi jika kita membantu dia, apa nyawa kita terselamatkan? Apa ada jaminan?" tanya nyai Lipan."Bodoh! Aku sekarang berada di pihak golongan hitam! Jangankan kalian, Ki Barata saja mampu aku bunuh bagaikan lalat kecil!" bentak Ki reksa yang secara tidak sengaja mendengar pembicaraan tiga golongan hitam yang ada di sana."Baik, kami akan membantu dirimu, tapi kami ingin kau juga jangan membunuh kami, tangan maut," pinta Ki jalak."Bagus, kalian memilih pihak yang tepat," kata Ki Reksa.Haaaaaaaaaaa!!Ki Reksa tanpa banyak bicara lagi langsun