Begitu Disa selesai berbicara, dia mengambil dua selimut dari ranjang. Gerakannya begitu cepat hingga Arjuna tak sempat bereaksi.Disa mengambil selimut dari tempat tidur, lalu membentangkannya di lantai depan kasur."Kamu ...." Arjuna hendak bertanya."Tuan, kamu tidur di kasur, aku tidur di lantai," sela Disa."Hm? Kenapa kamu tidur di lantai? 'Kan ada ranjang."Arjuna mengangkat alisnya. Jangan-jangan tadi gadis ini berpura-pura? Sebenarnya dia sudah tahu apa yang akan Arjuna lakukan."Oh." Disa bahkan tidak mengangkat kepalanya. Dia terus merapikan selimut di lantai. "Sebelum aku pergi, Nenek mengirim seseorang untuk memberitahuku agar tidak tidur satu ranjang denganmu selama ini.""Kenapa? Bukankah kita tidur di atas tungku yang sama di rumah?""Nenek bilang itu beda. Tungku lebih besar, kasur terlalu kecil, jadi terlalu dekat denganmu. Nenek juga bilang, tidak boleh membuat Tuan menghabiskan energi sebelum ujian. Jadi beliau berpesan padaku untuk tidak tidur sekasur denganmu.""N
Kenapa bisa begini?Keluarga Tamael adalah keluarga yang besar dan berkuasa di Kabupaten Damai, jadi Tamael tidak perlu turun tangan melakukan banyak hal."Olahraga" hanya candaan Arjuna.Selama beberapa bulan terakhir kerja sama, Arjuna menemukan bahwa meskipun Tamael adalah pemilik Rumah Bordil Prianka dan dikelilingi oleh wanita cantik setiap hari. Tamael memiliki pikiran yang jernih dan sangat terkendali dalam tindakan dan perilakunya. Dia bukanlah tipe anak orang kaya yang bodoh dan hanya tahu bersenang-senang.Tamael pasti mengalami masalah.Selain itu, masalahnya kemungkinan agak merepotkan.Hal seperti apa yang bisa menyulitkan seorang Tamael?Aish!Arjuna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum meremehkan diri sendiri.Tamael adalah penduduk Kabupaten Damai, sedangkan Arjuna hanya penduduk Desa Embun. Kenapa dia harus mengkhawatirkan Tamael?Sejak kemarin, kamar-kamar di penginapan telah terisi penuh. Sebagian besar adalah pelajar yang sedang mempersiapkan diri menghadapi uji
"Kakak-kakak dan teman-teman sekalian." Seseorang turun dari lantai dua, kemudian berjalan ke depan para pelajar dengan cepat.Orang ini adalah Shaka.Hari ini, dia mengenakan jubah brokat dan tampak sangat anggun. Dia menangkupkan tangan kepada para pelajar."Aku Shaka dari Desa Embun. Arjuna dan istri muda ini adalah keponakan dan keponakan menantuku.""Di sini." Shaka menangkupkan tangan kepada para pelajar lagi. "Aku minta maaf kepada semuanya. Keponakanku dan istrinya biasa menjual ikan. Kalian semua adalah murid Pak Cakra, tentu saja berbeda dengan keponakanku dan istrinya. Semoga kalian jangan perhitungan dengan mereka."Maksud Shaka adalah, Arjuna dan Disa hanyalah penjual ikan yang bodoh, sedangkan para pelajar menguasai kitab suci. Bagaimana mungkin Arjuna dapat dibandingkan dengan mereka?Inilah jahatnya Shaka.Dia tidak hanya menemukan jalan keluar bagi para pelajar, tetapi juga menginjak-injak Arjuna. Namun, Arjuna tidak bisa memarahinya, malah harus berterima kasih padany
Merinding.Mati rasa.Dorongan yang tidak dapat dijelaskan.Dia ingin ....Disa terkejut oleh pikirannya sendiri.Bisa-bisanya dia ingin memeluk Arjuna.Bisa-bisanya dia ingin memeluk Arjuna di depan umum.Gila! Dia benar-benar gila!|"Tuan, aku ....""Kenapa?" tanya Arjuna dengan perhatian. Suaranya rendah, mengandung godaan yang mematikan."Tidak ... tidak apa-apa, a ... aku akan kembali ke kamar dulu."Disa berlari seperti kelinci, dia menghilang dalam sekejap mata.Melihat koridor tempat Disa menghilang, Arjuna tersenyum.Dia melakukannya dengan sengaja. Tujuannya adalah untuk melihat reaksi gadis itu.Arjuna sangat puas dengan reaksi Disa.Siapa tahu dia benar-benar bisa "makan daging" dalam sebulan ini.Arjuna menyentuh perutnya yang rata. Dia benar-benar lapar."Sungguh menghina!""Tidak bermoral!""Abaikan dia. Dia tidak memenuhi standar.""Dia mengikuti ujian musim semi hanya untuk mempermalukan diri."Di tengah makian dan ejekan, Arjuna berjalan melewati lobi menuju dapur res
Orang tua itu melangkah selangkah, lalu seketika mengurung niatnya.Dia berbalik lalu tersenyum. "Kamu benar, abaikan saja para pecundang itu."Lelaki tua itu naik ke kereta, kemudian menatap lantai tiga Restoran Kebon Sirih. "Menurutmu, apakah dia bisa menebak bahwa akulah yang mengusulkan agar semua siswa di Kabupaten Damai mengikuti ujian musim semi?""Kalau ...." Pelayan tersebut juga melihat lantai tiga penginapan. "Dia memang sepintar yang Tuan bilang, dia pasti menyadarinya.""Kalau begitu ...." Orang tua itu mengusap jenggotnya. "Akankah dia menyerahkan kertas kosong?"Pelayan itu mengangkat sebelah alisnya. "Menyerahkan kertas kosong? Bukankah itu sesuai dengan harapan Tuan?""Siapa bilang aku mengharapkannya?"Orang tua itu merasa agak malu karena pikirannya terbaca.Jika Arjuna menyerahkan kertas kosong, dia akan langsung tahu kertas mana milik Arjuna.Tidak peduli apa yang dia katakan atau lakukan, kepala daerah tidak berani menentang.Akan tetapi, dia yang menetapkan perat
Sebelum Arjuna mengatakan sepatah kata pun, Shaka tanpa malu-malu masuk ke dalam kamar Arjuna terlebih dahulu.Selain ingin makan gratis, Shaka juga punya tujuan lain, yaitu ingin melihat kamar khusus di Restoran Kebon Sirih.Kamar khusus di Restoran Kebon Sirih terkenal di Kabupaten Damai, hanya ada lima.Orang-orang yang tinggal di kamar khusus biasanya bangsawan kaya.Pelajar seperti mereka tidak bisa tinggal di kamar khusus seandainya mereka punya uang, kecuali mereka lulus ujian dan menjadi siswa unggul.Dengan kata lain, sekalipun Shaka lulus ujian dan menjadi seorang siswa unggul, dia tidak bisa tinggal di kamar khusus bila tak punya uang.Ketika dia mengetahui bahwa Tamael membiarkan Arjuna tinggal di kamar khusus, dia begitu iri.Saat dia masuk ke kamar khusus, mata Shaka langsung terbelalak.Kemewahan kamar khusus ini seratus kali lebih baik dari yang Shaka bayangkan.Arjuna hanya seorang pedagang ikan. Atas dasar apa dia menerima semua ini?Tamael membiarkan Arjuna tinggal d
Pada saat ini, diaken dikelilingi oleh para pelajar yang akan mengikuti ujian besok.Entah karena tidak ingin merusak kepercayaan diri siswa terhadap ujian atau karena uang sumbangan. Mayoritas orang memperoleh ramalan bagus, bahkan sangat bagus. Hampir tidak ada ramalan buruk, apalagi sangat buruk.Mungkin dua-duanya.Kuil mendapat uang sumbangan, sedangkan para pelajar memperoleh ramalan bagus, menambah kepercayaan diri.Simbiosis mutualisme.Shaka, yang biasanya terlihat lembut dan sopan, tiba-tiba menjadi sangat kuat. Setelah beberapa saat, dia tiba di depan diaken."Ramalan yang sangat bagus! Kali ini, Anda pasti lulus ujian dan menjadi siswa unggul!"...Orang-orang di sekitar memandang Shaka dengan iri.Meskipun mereka juga mendapat ramalan yang bagus atau bahkan sangat terbaik. Diaken itu hanya mengatakan bahwa ujian musim semi mereka akan berjalan lancar, tidak mengatakan bahwa mereka pasti akan lulus ujian dan menjadi siswa unggul."Terima kasih, Pak! Terima kasih, Pak!"Shak
"Tuan."Diaken itu tiba-tiba berdiri, lalu membungkuk kepada Arjuna."Astaga! Apa yang terjadi? Diaken sampai berdiri!""Aku datang ke Kuil Konfusius ini selama sepuluh tahun berturut-turut dan tidak pernah melihat diaken berdiri.""Dia bahkan membungkuk kepada orang itu. Jangan-jangan itu ramalan terbaik sepanjang masa?""Mungkin.""Siapa dia? Dari desa mana dia?"Ketika orang-orang sedang berdiskusi, diaken itu angkat bicara. "Kartu ramalan ini ....""Hei, diamlah, diaken sudah bersuara."Ruang ramalan yang semula riuh, tiba-tiba menjadi sunyi. Semua orang menahan napas untuk mendengarkan dengan saksama.Diaken mengembalikan kartu tersebut kepada Arjuna. "Maaf, aku tidak bisa menafsirkan kartu ramalan ini.""...""!!!""???"Semua orang yang ada di aula ramalan saling memandang dengan bingung. Mereka takut telinga mereka yang bermasalah."Apakah kamu mendengarnya? Diaken bilang dia tidak bisa menafsirkannya.""Aku juga mendengarnya."Selama bertahun-tahun, orang-orang hanya pernah me
"Mengubah metode kompetisi?"Eshan dan Sugi, yang biasanya tak cocok satu sama lain, berbicara serempak untuk pertama kalinya."Benar, mari kita adakan lomba kereta di ronde ketiga. Ini adil untuk kalian berdua."Balapan kereta merupakan acara yang populer di kalangan masyarakat Dinasti Bratajaya.Dari ibu kota hingga kabupaten dan kota, setiap tempat menyelenggarakan balap kereta setiap tahun."Oke, balap kereta. Sepakat."Sugi berbicara lebih dulu. Begitu dia selesai berbicara, Hendra segera lanjut berkata, "Aku akan bermain di babak ketiga!"Selain berbisnis, Hendra adalah penggemar balap kereta dan sering berpartisipasi dalam perlombaan tersebut."Yang Mulia, aku akan ikut serta!"Irwan, yang berada di belakang Eshan, melangkah maju. Seperti Hendra, dia menyukai balap kereta dan sering berpartisipasi dalam kompetisi. Levelnya sebanding dengan Hendra.Arjuna mencuri perhatian di dua ronde pertama, dia tidak bisa membiarkan Arjuna mencuri perhatian di ronde ini."Kamu?"Hendra menyer
Tamu bernama Hendra memberi tip lima ratus tael perak.""Bagaimana boleh begini? Ini benar-benar tidak tahu malu.""Demi tidak kalah, mereka menggunakan cara tercela seperti itu.""Tunggu, apakah tip termasuk? Apalagi orang yang memberinya adalah Hendra."Semua pejabat dan pedagang dari Kabupaten Damai melontarkan protes dengan marah."Sugi, bukankah kalian terlalu hina?" Eshan berkata kepada Sugi dengan raut muram."Hina?" Ekspresi Sugi masih setenang sebelumnya, tanpa rasa malu, bahkan sedikit puas diri. "Kak Eshan, apa yang kamu bicarakan? Pelanggan merasa senang memakan masakan Lujain sehingga memberi tip. Apa yang aneh dari itu?""Kak Eshan juga, 'kan? Kalau kamu makan makanan enak, kamu pasti juga akan memberi tip kepada tukang masaknya, 'kan?"Sugi menatap Eshan sembari bertanya balik.Eshan terdiam sesaat.Dia memang punya kebiasaan itu. Setiap kali dia pergi makan dan menyukai makanannya, dia akan memberikan tip kepada si juru masak.Banyak orang tahu tentang kebiasaannya itu.
Hendra dan Bani menatap Sugi secara bersamaan.Mereka gagal mendapatkan Rumah Bordil Prianka, bahkan harus menyerahkan Restoran Kebon Sirih dan toko daging. Hal ini sama saja dengan memotong daging mereka. Bagaimana mungkin mereka rela melakukan itu?Melihat hal ini, pupil mata Eshan mengecil. "Kenapa, Yang Mulia Sugi, apakah kalian ingin bersikap curang?""Tidak, tidak." Sugi melambaikan tangannya berulang kali. "Bagaimana mungkin seorang pejabat mengingkari janjinya? Kalau kalian menang, akta Restoran Kebon Sirih dan toko daging pasti akan segera diserahkan."Eshan mengerutkan kening. "Apa maksudmu, Sugi? Semua orang melihat bahwa sore ini, Restoran Kebon Sirih tidak menerima sepeser pun. Sedangkan cake Arjuna menghasilkan total 539 tael perak hari ini. Pendapatan Restoran Kebon Sirih selama tiga hari kurang dari 300 tael. Pendapatan kami sehari jauh lebih banyak daripada total pendapatan Restoran Kebon Sirih selama tiga hari. Bukankah kami menang?""Menurut perhitunganmu, kalian mem
"Tuhan, kamu sudah menciptakan aku, kenapa menciptakan Arjuna juga?""Lujain, apa maksudmu?""Hahaha! Hahaha!" Lujain tidak menanggapi kata-kata Sugi, tetapi hanya tertawa.Setelah tertawa terbahak-bahak, dia mulai mengulang-ulang kata-katanya. "Tuhan, kamu sudah menciptakan aku, kenapa menciptakan Arjuna juga?"Lujain terus mengulanginya sampai matahari terbenam. Tidak peduli bagaimana Sugi dan yang lainnya memanggil Lujain, dia tidak menjawab.Akhirnya Sugi mencarikan seorang tabib.Dokter mengatakan bahwa Lujain tidak bisa menerima pukulan sehingga menjadi gila.Dengan kata lain, Lujain sudah gila!"Gila? Bagaimana mungkin? Dasar tabib bodong!"Sugi menendang tabib itu keluar dari ruangan dengan kasar."Apa yang kamu lakukan di sana? Cepat panggil tabib!" Sugi berteriak dengan marah kepada bawahannya."Baik, Yang Mulia!" Bawahan itu berlari keluar dengan panik."Tunggu, jangan undang tabib dari Kabupaten Damai, undang tabib dari Kabupaten Sentosa saja."Bawahan Sugi bergegas menjemp
"Yang sudah beli, tolong berikan ke yang belum. Tuan." Eshan tersenyum kepada pemuda yang berada paling dekat dengannya. "Kamu sudah pernah beli sebelumnya. Aku lihat kamu bahkan beli dua.""Dua saja tidak cukup. Total putriku ada dua belas. Dua cake sebelumnya sudah dihabiskan oleh ibu dan putraku, Aku, istri dan putriku belum makan.""Kalau begitu kamu harus beli setidaknya delapan sampai sepuluh cake. Tidak bisa, tidak bisa."Orang-orang di belakang bergegas maju, mendorong pemuda itu ke samping.Setelah beberapa waktu berlalu, Eshan didemo menggunakan uang, orang-orang rebutan kue."Jangan rebutan, jangan rebutan. Semuanya kebagian. Kalau masih kurang, aku akan minta Arjuna menyisakannya untuk dibawa ke sini." Eshan merasa tak berdaya."Sepakat ya. Kalau tidak disisakan, awas saja."Adegan macam apa ini? Orang-orang mengancam kepala daerah, kepala daerah malah tertawa.Raut wajah Sugi begitu muram. Dia melirik Lujain yang berekspresi sama muramnya."Semuanya! Semuanya!" Sugi berdir
Parahnya lagi, ada yang rela melakukan reservasi dan mengantre selama setengah tahun untuk menyantap hidangan yang Lujain masak.Sekarang orang-orang ini mengatakan bahwa mereka ingin makan kuenya Arjuna, tidak ingin makan masakannya!Apakah kue murahan itu benar-benar seenak itu?Para tamu di aula terus berceloteh."Benar sekali. Benar-benar menyebalkan. Menurutku Lujain hanya terkenal. Aku mencoba masakannya kemarin, rasanya begitu saja.""Aku datang ke sini dua hari lalu. Sejujurnya, rasanya cukup enak. Wajar saja kalau koki istana berminat padanya. Tapi, dibandingkan dengan cake buatan Arjuna, aku lebih menyukai cake Arjuna.""Apakah kalian semua sudah makan cake-nya? Aku sudah pergi ke banyak tempat hari ini dan mengantre lama, tapi tetap saja aku tidak dapat satu pun.""Aku juga tidak sempat makan. Anakku sangat tidak sabar. Katanya kalau aku tidak bisa membelinya hari ini, mereka tidak akan lagi mengakuiku sebagai ayah mereka.""Anakmu mengeluh padamu, kamu bisa saja memarahinya
Ketika Eshan melihat papan di Restoran Kebon Sirih yang bertuliskan "Koki Utama Lujain, diskon 50%," Eshan masih khawatir.Alhasil, tak lama kemudian, orang-orang Sugi pun datang menemuinya dan mengatakan bahwa dia telah bertindak curang dengan melarang pelanggan masuk ke Restoran Kebon Sirih. Dia diminta untuk menjelaskannya kepada Sugi.Eshan yang semula marah karena seorang penasihat hukum tanpa jabatan resmi berani berbicara kepadanya seperti itu. Namun, dia tiba-tiba merasa lebih baik ketika mendengar bahwa Restoran Kebon Sirih tidak ada tamu.Eshan segera membalas penasihat hukum Sugi bahwa dia akan segera menjelaskannya kepada Sugi.Sugi menatap Eshan dengan marah. "Kenapa tidak ada orang di Restoran Kebon Sirih? Sebagai kepala daerah Kabupaten Damai, bukankah kamu mengetahuinya dengan jelas?"Eshan menggelengkan kepalanya dengan sedih. "Benar. Bisa-bisanya Restoran Kebon Sirih tidak ada orang ketika Yang Mulia Sugi dan Koki Utama Lujain yang mengelola. Sebagai kepala daerah, ak
"Beri tahu mereka bahwa orang yang mendesak tidak akan dilayani."Lujain mengucapkan kalimat itu, kemudian membuka pintu menuju halaman belakang dari dapur. Dia lelah setelah membuat begitu banyak saus, jadi dia ingin naik ke lantai atas untuk beristirahat sejenak."Tuan, bukan banyak orang, tapi ... tidak ada orang."Ketika pelayan itu mengucapkan kata "tidak ada orang", suaranya sangat kecil, bahkan bergetar.Nanti dia pasti akan dipukuli."Apa?"Lujain melepaskan gagang pintu, berbalik, lalu menampar wajah pelayan tersebut."Sungguh sia-sia keluargaku menafkahimu selama bertahun-tahun. Apakah kamu bahkan tidak bisa berbicara dengan jelas?"Tidak ada orang?Omongan apa itu? Bagaimana mungkin tidak ada seorang pun yang datang untuk mencicipi masakan seorang Lujain?Pelayan itu memegang sebelah wajahnya yang ditampar sambil berkata dengan takut-takut. "Tuan, benar-benar tidak ada seorang pun di luar.""Sepertinya ibuku sudah terlalu baik padamu. Kamu diberi makan terlalu banyak sehingg
"Yang Mulia Mois." Arjuna tersenyum, dia tampak bodoh lagi. "Masih terlalu awal untuk mengatakan mengalahkan Lujain, hasilnya masih belum diputuskan.""Ayolah, Nak, kamu ini memang sudah menipu orang dengan penampilan bodohmu ini."Suara Eshan terdengar, tubuh besarnya menyelip di antara Arjuna dan Mois."Yang Mulia, bagaimana boleh Anda berkata seperti itu? Hasilnya memang belum diputuskan." Arjuna mengungkapkan keluhannya."Sudah, sudah."Eshan sedikit bersemangat, tetapi karena dia tinggi, gerakannya terlihat sedikit lucu.Dia lanjut berkata, "Setelah selesai mengambil lapisan bawah cake, aku keluar untuk melihat. Ternyata kereta kuda yang datang untuk membeli cake bertambah banyak."Eshan sudah meminta semua istri dan putri petugas pemerintah, termasuk istri dan putrinya sendiri, untuk datang membantu. Namun, sekarang sudah mau kewalahan juga."Ngomong-ngomong ...." Eshan melirik antrean tak berujung di luar toko. "Arjuna, bagaimana pedagang dari daerah lain tahu kamu membuat cake?