Arjuna berbalik, kemudian mendapati bahwa itu adalah Marvin."Jangan ambil hati kata-kata tadi.""Tenang saja, Kak Marvin. Aku tidak ambil hati. Mulut punya mereka, aku tak mungkin menutup mulut mereka satu per satu.""Baguslah kalau kamu bisa berpikir seperti itu."Saat Marvin berbicara, dia mengeluarkan kuas baru dari tas bambunya, kemudian menyerahkannya kepada Arjuna. "Ini hadiah untukmu."Arjuna buru-buru mendorong tangan Marvin. "Kak Marvin, beberapa hari yang lalu kamu sudah memberi kami begitu banyak hadiah, aku tidak bisa menerima lagi.""Beberapa hari yang lalu itu ayahku yang siapkan, sekarang ini dariku.""Kak Ma ....""Ambillah, Pak Guru sudah datang."Begitu Cakra tiba, kelas yang awalnya ramai tiba-tiba menjadi sunyi.Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada hari pertama sekolah, semua orang berlutut untuk memberi hormat kepada orang suci.Setelah memberi penghormatan kepada orang suci, Cakra segera mengumumkan sesuatu.Kepala daerah baru saja mengeluarkan perintah bahwa sem
Hari ini, Shaka mengenakan jubah brokat baru. Dia terlihat sangat murah hati dan elegan.Dia menghampiri Arjuna, kemudian menunjukkan kebaikan dan kemurahan hatinya sebagai paman."Arjuna, kalau kamu memiliki pertanyaan atau tak tahu huruf tertentu, kamu boleh datang ke rumahku untuk bertanya. Aku akan memberitahumu semua yang aku ketahui. Lagi pula, kamu ujian di tahun pertama belajar, wajar kalau kamu tidak lulus. Kamu baru sekolah tak lama, wajar kalau menduduki peringkat terakhir. Jadi, jangan terlalu tertekan."Ujiannya bahkan belum dimulai, tetapi Shaka sudah mengucapkan penghiburan seperti itu.Dia sudah yakin bahwa Arjuna tidak akan lulus, bahkan menduduki peringkat terakhir."Arjuna."Marvin juga berjalan mendekati Arjuna, "Jangan takut. Banyak orang di sekolah ini sama sepertimu, baru pertama kali mengikuti ujian. Bahkan pamanmu, Shaka, juga baru pertama kali mengikuti ujian."Shaka mengibaskan lengan bajunya, berdiri dengan kedua tangan di belakang punggungnya, lalu berkata
"Aduh!"Penduduk desa itu bertepuk tangan dan menghentakkan kakinya dengan cemas. "Aku sudah berlari ke depan kalian. Tentu saja istri kalian yang bertengkar.""Apa? Istriku sedang bertengkar? Bung, matamu tidak bermasalah, 'kan? Apakah kamu salah melihat?"Damar, yang berbicara, adalah orang yang sama munafiknya dengan Shaka.Di hadapan orang luar, dia selalu sopan dan saleh. Namun, dia sangat menuntut istrinya.Istrinya tidak boleh merusak citranya. Jika dia merasa istrinya merusak citranya, dia akan segera menceraikan istrinya.Karena alasan ini, dia telah menceraikan lima istri dalam tiga tahun terakhir.Setelah bercerai, dia langsung pergi ke kantor pemerintah untuk mendapatkan yang baru.Sebenarnya, dia sengaja melakukannya, karena dengan begitu dia bisa terus pergi ke kantor pemerintah untuk mendapatkan istri baru.Istri yang Damar bawa hari ini adalah istri yang dia dapatkan dari kantor pemerintah pada akhir tahun lalu. Damar baru menikahinya selama kurang dari tiga bulan."Ben
Arjuna menjambak rambutnya sendiri sambil menjelaskan, "Kata-kata mereka terlalu kasar. Mereka menyebut Disa dan Dinda sebagai wanita jalang dan menyebutku sebagai bajingan.""Kalau begitu kenapa kamu tidak memberitahuku? Kamu seharusnya meminta Dinda pulang untuk memberitahuku." Suara Daisha seketika menjadi keras."Kalau kami memberitahumu, mereka tak mungkin bertarung lagi," jelas Arjuna."Siapa bilang? Kalau aku diberitahu, aku juga akan datang untuk bertarung!" Daisha mengepalkan tangannya, kelembutannya biasa telah menghilang."???""Ayo!" Daisha menarik tangan Arjuna sambil bergumam pada dirinya sendiri."Bisa-bisanya mengatakan tuanku bajingan, mereka memang pantas dipukul."Tadi saat mendengar Disa dan Dinda disebut wanita jalang, Daisha tidak terlalu marah. Namun, ketika mendengar Arjuna disebut bajingan, mata Daisha tiba-tiba berkobar.Alsava bersaudari sangat melindungi suami mereka."Ah! Kamu menggigitku?""Ya, kenapa? Mentang-mentang wajahmu sedikit cantik, kamu suka berl
"Tuan, apakah itu suara Disa?""Sepertinya ya."Keduanya menoleh ke arah kerumunan penduduk desa yang sedang bersorak.Disa dan Dinda berdiri lebih tinggi daripada siapa pun. Mereka berteriak paling keras saat bersorak dan menyemangati orang untuk bertarung.Ketika Arjuna melihat kedua saudari itu, hatinya tiba-tiba menjadi lega.Sebelum tiba di tempat, ketika dia mendengar jeritan yang begitu tragis, dia masih khawatir uangnya tak cukup untuk memberi kompensasi jika Disa memukul terlalu keras.Bagus.Arjuna menunjukkan ekspresi bangga.Jelas sekali pertarungan di lembah itu dipicu oleh Disa dan Dinda.Tampaknya kedua gadis itu lebih pintar dari yang dia kira.Membuat para wanita itu menghajar satu sama lain memang lebih baik daripada mereka turun tangan sendiri."Tuan!" Naura mendatangi Shaka sambil menggendong anak.Melihat para wanita berkelahi di lembah, dia berpura-pura terkejut. "Astaga, apa yang terjadi? Apakah mereka tidak bisa bicara baik-baik?"Kalimat kedua Naura hanya untuk
"Seperti itu kurang baik ...." Shaka tampak keberatan."Begini saja, Shaka. Aku akan memberi istrimu dua puluh sen per bulan. Biar dia membantu dan belajar dari istrimu."Seseorang menyarankan.Orang yang bisa bersekolah tentu berasal dari keluarga yang lumayan berada.Mereka sekolah demi lulus ujian kekaisaran.Sekarang mereka masih berstatus sebagai pelajar. Istri mereka bertengkar hanya masalah mempermalukan mereka.Kalau suatu hari mereka lulus ujian kekaisaran, lalu menjadi pejabat kecil. Istri mereka bertengkar seperti itu merupakan masalah besar.Mereka bisa saja kehilangan jabatan mereka."Benar, aku juga akan memberi istrimu dua puluh sen.""Aku akan memberi istrimu seratus sen," kata Damar dengan murah hati.Latar belakang keluarga Damar mirip dengan Marvin."Jangan, seorang pelajar mana boleh menerima uang dari orang lain?" Shaka segera menolak."Shaka, itu bukan untukmu, tapi untuk istrimu. Terlebih lagi, uangnya tak diberikan secara gratis. Bisa belajar dengan istrimu adal
"Arjuna!" Shaka tiba-tiba menyela Arjuna."Ya, aku di sini." Arjuna menatap Shaka sembari mengulas senyum.Apakah Shaka mengira Arjuna bodoh?Shaka bisa menjebak dan mengancam Arjuna, apakah Arjuna tidak bisa?"Paman Shaka, apakah kamu setuju untuk mengajariku cara tarik ulur?"Percakapan antara Arjuna dan Shaka menarik perhatian para pelajar.Apa yang sedang Shaka dan Arjuna bicarakan?Apa maksudnya tarik ulur? Menyerahkan uang? Bodoh? Siapa yang tarik ulur?"Arjuna, meskipun kamu sudah mempelajari beberapa kata, kamu tidak menggunakannya sembarangan."Shaka bicara dengan nada khas orang tua yang menasihati anak muda. Ada sedikit kepanikan dalam nadanya.Jika Arjuna bicara lebih lanjut, para pelajar ini mungkin akan menyadari sesuatu.Para pelajar yang awalnya skeptis langsung tenang ketika mendengar ucapan Shaka."Sebenarnya Arjuna cukup hebat bisa mengerti arti dari kata tarik ulur. Shaka, jangan menyalahkannya.""Terima kasih, Kak Damar." Arjuna segera berterima kasih. "Pak Guru ba
Daisha ingin menghentikan mereka karena takut mengganggu istirahat Arjuna, tetapi Arjuna mencegahnya.Semenjak mereka menemani Arjuna ke sekolah, Disa dan Dinda telah menjadi sasaran ejekan dan makian para wanita itu. Mereka telah lama memendam kemarahan mereka.Hari ini mereka akhirnya bisa melampiaskannya, jadi biarkan mereka gembira lebih lama."Tuan." Suara lembut Daisha terdengar.Walaupun sekarang Arjuna dan Alsava bersaudari tidur di sisi yang berbeda, jarak di antara mereka tidak lagi selebar sebelumnya.Jarak antara ketiga saudari itu dan Arjuna hanya sekitar satu meter."Hm?"Arjuna menjawab, tetapi Daisha tidak melanjutkan bicaranya. Tepat saat dia hendak bertanya, dia mendengar suara gemerisik dari sampingnya.Dia menoleh, kemudian mendapati Daisha mencondongkan tubuh ke arahnya.Disa pernah terkunci di dasar sumur kering tanpa cahaya, jadi sekarang dia menderita fobia gelap.Begitu lampu minyak dimatikan, dia akan mengalami mimpi buruk di tengah malam. Karena itu, sejak Di
Ada sejumlah besar barang cacat menumpuk di gudang yang tidak dapat dijual. Pelanggan dari Kota Perai ingin Tamael membayar tiga kali lipat dari harga asli sesuai aturan.Tamael tidak mampu membayar ganti rugi dalam waktu sesingkat itu, jadi dia berharap para pelanggan memberinya waktu.Tidak ada orang sebaik itu di dunia. Tidak peduli seberapa ganas para pelanggan itu berebut barang dan seberapa baik mereka berbicara, mereka tetap saja mendesak Tamael sekarang.Mereka juga mengancam jika Tamael tidak segera memberi ganti rugi, mereka akan menuntut Tamael, bukan di Kabupaten Damai, melainkan ke gubernur Kota Perai.Jika mereka melaporkan hal ini kepada gubernur, Tamael pasti akan masuk penjara kalau dia tidak mampu membayar kompensasi.Sebenarnya, masuk penjara bukan apa-apa bagi Tamael. Jumlah pria di Dinasti Bratajaya lebih sedikit daripada wanita. Sekarang Tamael masih bisa punya anak. Paling lama, dia akan mendekam di penjara selama satu setengah tahun, kemudian dibebaskan.Masalah
Keluarga kaya akan membeli beras, mi dan kain dalam jumlah besar di awal musim semi. Jadi pada saat ini, pengurus rumah keluarga kaya akan pergi ke mana-mana untuk mencari beras dan mi berkualitas tinggi dengan harga murah.Keluarga kaya di Kota Perai memang lebih hebat dari keluarga kaya di Kabupaten Damai. Sekali beli, mereka membeli beberapa, bahkan puluhan muatan beras.Satu muatan beras beratnya lima puluh kilogram, beberapa atau belasan muatan beratnya beberapa ratus hingga ribu kilogram.Dalam membeli kain, lebih banyak lagi. Sekali beli, jumlahnya bisa mencapai belasan sampai dua puluh potong.Setelah satu kelompok orang datang, datanglah satu kelompok lagi.Ketika kelompok orang ketiga tiba, tidak ada cukup beras, mi dan kain di toko Tamael untuk dijual.Para tamu dari Kota Perai mulai berkelahi di toko untuk merebut beras, mi dan kain.Tamael tidak punya pilihan selain turun tangan untuk menengahi, tetapi itu sama sekali tidak ada gunanya. Setelah Tamael setuju untuk mengimpo
"Apakah ada kuda seperti itu?" Daisha memiringkan kepalanya. Kelembutannya disertai dengan sedikit kelucuan.Arjuna tidak bisa menahan diri untuk tidak mengusap kepalanya. "Ya.""Di mana? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.""Di toko pandai besi, baru saja dibuat. Tentu saja kamu belum pernah melihatnya.""Toko pandai besi? Kenapa ada kuda di toko pandai besi? Dan baru dibuat? Apakah kuda bisa dibuat?"Kali ini, bukan hanya Daisha yang terkejut, Disa dan Dinda juga penasaran."Tentu saja," kata Arjuna dengan tegas.Ngomong-ngomong, sesungguhnya tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.Selama Festival Musim Semi, Arjuna bosan di rumah, jadi dia menggambar sesuatu, kemudian meminta pandai besi untuk membuatnya.Pandai besi itu mengirim seseorang untuk memberi tahu Arjuna kemarin bahwa barang yang dia pesan sudah siap. Arjuna bisa mengambilnya kapan saja.Setelah kembali ke kota kabupaten, Arjuna tidak terburu-buru pergi ke rumah kecil tempat dia tinggal, melainkan pergi ke penj
"Sialan!""Disa ...." Sudah terlambat bagi Arjuna untuk menghentikannya.Bersamaan dengan suara Disa yang merdu dan menawan, dia pun muncul di hadapan orang-orang.Arjuna menggelengkan kepalanya. Disa baik dalam segala hal, kecuali sifat impulsifnya. Terutama ketika dia mendengar orang lain mengatakan hal-hal buruk tentang Arjuna. Dia akan seperti ayam betina yang mengepakkan sayapnya untuk melindungi suaminya.Bagaimana dia bisa tahan ketika mendengar Hendra dan yang lainnya mempermalukan Arjuna seperti itu?"Hendra, aku akan mewakili tuanku untuk bertanding denganmu!""Haha!" Hendra tertawa terbahak-bahak. Dia menunjuk Arjuna sembari berkata, "Ternyata kamu benar-benar pengecut! Bisa-bisanya kamu membiarkan seorang wanita mewakilimu bertanding!""Memangnya kenapa kalau wanita? Apakah kamu tidak berani bertanding denganku?" ucap Disa sambil mengangkat kepalanya dengan marah."Bam!"Hendra menepuk meja yang ada di sampingnya, menunjuk Disa lalu berteriak, "Ikut campur apa kamu dalam pe
"Mengubah metode kompetisi?"Eshan dan Sugi, yang biasanya tak cocok satu sama lain, berbicara serempak untuk pertama kalinya."Benar, mari kita adakan lomba kereta di ronde ketiga. Ini adil untuk kalian berdua."Balapan kereta merupakan acara yang populer di kalangan masyarakat Dinasti Bratajaya.Dari ibu kota hingga kabupaten dan kota, setiap tempat menyelenggarakan balap kereta setiap tahun."Oke, balap kereta. Sepakat."Sugi berbicara lebih dulu. Begitu dia selesai berbicara, Hendra segera lanjut berkata, "Aku akan bermain di babak ketiga!"Selain berbisnis, Hendra adalah penggemar balap kereta dan sering berpartisipasi dalam perlombaan tersebut."Yang Mulia, aku akan ikut serta!"Irwan, yang berada di belakang Eshan, melangkah maju. Seperti Hendra, dia menyukai balap kereta dan sering berpartisipasi dalam kompetisi. Levelnya sebanding dengan Hendra.Arjuna mencuri perhatian di dua ronde pertama, dia tidak bisa membiarkan Arjuna mencuri perhatian di ronde ini."Kamu?"Hendra menyer
Tamu bernama Hendra memberi tip lima ratus tael perak.""Bagaimana boleh begini? Ini benar-benar tidak tahu malu.""Demi tidak kalah, mereka menggunakan cara tercela seperti itu.""Tunggu, apakah tip termasuk? Apalagi orang yang memberinya adalah Hendra."Semua pejabat dan pedagang dari Kabupaten Damai melontarkan protes dengan marah."Sugi, bukankah kalian terlalu hina?" Eshan berkata kepada Sugi dengan raut muram."Hina?" Ekspresi Sugi masih setenang sebelumnya, tanpa rasa malu, bahkan sedikit puas diri. "Kak Eshan, apa yang kamu bicarakan? Pelanggan merasa senang memakan masakan Lujain sehingga memberi tip. Apa yang aneh dari itu?""Kak Eshan juga, 'kan? Kalau kamu makan makanan enak, kamu pasti juga akan memberi tip kepada tukang masaknya, 'kan?"Sugi menatap Eshan sembari bertanya balik.Eshan terdiam sesaat.Dia memang punya kebiasaan itu. Setiap kali dia pergi makan dan menyukai makanannya, dia akan memberikan tip kepada si juru masak.Banyak orang tahu tentang kebiasaannya itu.
Hendra dan Bani menatap Sugi secara bersamaan.Mereka gagal mendapatkan Rumah Bordil Prianka, bahkan harus menyerahkan Restoran Kebon Sirih dan toko daging. Hal ini sama saja dengan memotong daging mereka. Bagaimana mungkin mereka rela melakukan itu?Melihat hal ini, pupil mata Eshan mengecil. "Kenapa, Yang Mulia Sugi, apakah kalian ingin bersikap curang?""Tidak, tidak." Sugi melambaikan tangannya berulang kali. "Bagaimana mungkin seorang pejabat mengingkari janjinya? Kalau kalian menang, akta Restoran Kebon Sirih dan toko daging pasti akan segera diserahkan."Eshan mengerutkan kening. "Apa maksudmu, Sugi? Semua orang melihat bahwa sore ini, Restoran Kebon Sirih tidak menerima sepeser pun. Sedangkan cake Arjuna menghasilkan total 539 tael perak hari ini. Pendapatan Restoran Kebon Sirih selama tiga hari kurang dari 300 tael. Pendapatan kami sehari jauh lebih banyak daripada total pendapatan Restoran Kebon Sirih selama tiga hari. Bukankah kami menang?""Menurut perhitunganmu, kalian mem
"Tuhan, kamu sudah menciptakan aku, kenapa menciptakan Arjuna juga?""Lujain, apa maksudmu?""Hahaha! Hahaha!" Lujain tidak menanggapi kata-kata Sugi, tetapi hanya tertawa.Setelah tertawa terbahak-bahak, dia mulai mengulang-ulang kata-katanya. "Tuhan, kamu sudah menciptakan aku, kenapa menciptakan Arjuna juga?"Lujain terus mengulanginya sampai matahari terbenam. Tidak peduli bagaimana Sugi dan yang lainnya memanggil Lujain, dia tidak menjawab.Akhirnya Sugi mencarikan seorang tabib.Dokter mengatakan bahwa Lujain tidak bisa menerima pukulan sehingga menjadi gila.Dengan kata lain, Lujain sudah gila!"Gila? Bagaimana mungkin? Dasar tabib bodong!"Sugi menendang tabib itu keluar dari ruangan dengan kasar."Apa yang kamu lakukan di sana? Cepat panggil tabib!" Sugi berteriak dengan marah kepada bawahannya."Baik, Yang Mulia!" Bawahan itu berlari keluar dengan panik."Tunggu, jangan undang tabib dari Kabupaten Damai, undang tabib dari Kabupaten Sentosa saja."Bawahan Sugi bergegas menjemp
"Yang sudah beli, tolong berikan ke yang belum. Tuan." Eshan tersenyum kepada pemuda yang berada paling dekat dengannya. "Kamu sudah pernah beli sebelumnya. Aku lihat kamu bahkan beli dua.""Dua saja tidak cukup. Total putriku ada dua belas. Dua cake sebelumnya sudah dihabiskan oleh ibu dan putraku, Aku, istri dan putriku belum makan.""Kalau begitu kamu harus beli setidaknya delapan sampai sepuluh cake. Tidak bisa, tidak bisa."Orang-orang di belakang bergegas maju, mendorong pemuda itu ke samping.Setelah beberapa waktu berlalu, Eshan didemo menggunakan uang, orang-orang rebutan kue."Jangan rebutan, jangan rebutan. Semuanya kebagian. Kalau masih kurang, aku akan minta Arjuna menyisakannya untuk dibawa ke sini." Eshan merasa tak berdaya."Sepakat ya. Kalau tidak disisakan, awas saja."Adegan macam apa ini? Orang-orang mengancam kepala daerah, kepala daerah malah tertawa.Raut wajah Sugi begitu muram. Dia melirik Lujain yang berekspresi sama muramnya."Semuanya! Semuanya!" Sugi berdir